Menjadi dewasa… : Sebuah renungan untuk diri sendiri


Once you’ve met someone, you never really forget them.
It just takes a while for your memorize to return
-Spirited Away-

“…. Dan sehebat apapun kamu, kamu bukan siapa-siapa tanpa bantuan siapapun”

Kemarin sore, sebuah amplop besar dari Tokyo Institute of Technology melayang ke rumah saya. Isinya mungkin hanya beberapa lembar kertas tapi lembaran kertas itu mungkin yang akan mengubah kehidupan saya untuk beberapa hal. Mungkin lembaran kertas itulah tangga-tangga kecil menuju impian saya. Singkat kata, secara resmi saya diterima di universitas tersebut. Saya sudah katakan sebelumnya bahwa untuk masalah pendidikan saya kali ini, saya merasa Allah memudahkan segalanya. Saya tidak akan bercerita mengenai hal itu lebih banyak, karena bukan itu yang ingin saya bicarakan kali ini… bukan, ada hal yang lebih dari ini semua.

Saya yang hari ini, bukanlah siapa-siapa tanpa bantuan banyak orang.
Ketika saya menyadari itu saya tahu bahwa terima kasih saja tidak pernah cukup.
Tidak pernah cukup….

——————————-
Saya teringat ketika saya masih kecil, saya pernah terpana dengan kata-kata dari guru mengaji saya,
“Jadi begini ya anak-anak… kita tidak boleh sombong atau merasa lebih hebat dibandingkan siapapun. Ketika kita berhasil, yang perlu kita lakukan cuman dua: Bersyukur karena Allah sudah begitu baik, dan berdoa agar Allah menjaga diri kita dari sifat-sifat buruk. Kalian tahu kenapa sombong itu tidak boleh?”

Seperti biasa… tipikal anak Indonesia, kalau ditanya pasti pada diem hahahhaa… tapi saya ingat ada juga yang nyeletuk “Karena dosa, Pak!”…. “Karena buruk, Pak”…. dan lain sebagainya.

“Iya semua jawabannya benar. Tapi yang terpenting adalah…. karena kita hidup di bumi ini tidak lepas dari bantuan orang lain”

Guru mengaji saya tersebut kemudian menjelaskan bagaimana orang tua yang susah payah membesarkan anaknya…. bagaimana petani yang betul-betul lelah menggarap sawahnya… bagaimana buruh tekstil harus bekerja overtime untuk memenuhi target produksi pakaian jadi di pasaran. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, seluruh kebutuhan kita terpenuhi karena “keringat” orang lain.

Begitu melekatnya cerita guru saya tersebut hingga tumben-tumbennya saya menceritakan ini kepada kakek saya karena tempat mengaji saya dulu sangat dekat dengan rumah kakek saya. Saya ingat jawaban kakek saya “Benar itu, manusia kadang terlalu sombong. Manusia terkadang lupa banyak hal, bahkan ketika manusia itu masuk liang lahat, manusia masih tetap membutuhkan bantuan orang lain… hargailah semua orang, karena kita tidak pernah tahu kepada siapa kelak kita memerlukan bantuan”

Saya tidak memahami hal itu untuk beberapa saat, mungkin baru memahaminya sekarang!
—————————-
Beberapa tahun kemudian, ayah saya meninggal dunia. Saya melihat begitu banyak orang yang menangis, kecuali adik saya yang belum paham apa-apa. Kecuali saya… yang juga belum memahami apa-apa. Saya hanya sedikit patah hati karena saya merasa kehilangan Beliau begitu cepat.

Untungnya saya adalah orang yang beruntung, Allah berbuat baik… luar biasa baik kepada saya.

Saya punya Mama yang selalu menyemangati saya. 23 tahun lebih saya hidup menuju 24 tahun, saya nyaris tidak pernah melihat Mama mengeluh, setidaknya di depan kami anak-anaknya. Mama selalu menyemangati saya untuk sekolah yang benar, belajar yang benar, dan melakukan yang terbaik yang saya bisa. Ketika saya gagal, Mama selalu menjadi orang pertama yang bilang “Gak apa, Kak… Allah pasti mau ngasih yang lebih baik” sejak saya pertama kali tahu sakitnya kegagalan, hingga hari ini… Mama tetap supporter barisan VVIP bagi saya, Mama selalu yang paling mempercayai saya lebih dari siapapun.

Saya bersekolah di daerah ketika SD, saya ingat pada hari kelulusan saya saat SD… guru saya mengatakan “Sebagai anak daerah, bukan berarti pemikiran dan cita-cita kamu harus terbatas. Pergi kemana yang kamu mau, tuntut ilmu setinggi-tingginya karena ilmu tidak hanya ada di satu tempat” saya pegang kata-kata Beliau hingga saat ini. Salah satu alasan untuk terus berjuang!

Bukan hal yang mudah bagi saya untuk melanjutkan sekolah. Sebagai anak yatim dan Mama yang hanya guru les, maka biaya pendidikan saya sebenarnya sangat berat untuk Mama. Namun, saya punya uwak yang sangat baik… mereka yang membantu menyekolahkan saya hingga saya berhasil menyelesaikan kuliah S1 saya.

Saya sadar…. hingga kapanpun saya tidak akan pernah bisa membalas kebaikan Beliau. Tanpa Beliau mungkin saya belum memegang gelar akademik seperti saat ini, tanpa Beliau mungkin saya bukanlah Marissa yang bisa bermimpi lebih tinggi daripada langit. Karena saya tahu hal itu, maka saya berjuang belajar gila-gilaan. Kapasitas otak saya memang terbatas, saya bukan anak yang pintar… tapi setidaknya saya tidak pernah kesulitan memilih sekolah. Saya diterima di dua PTN bahkan sebelum saya melaksanakan Ujian Nasional, lalu memilih untuk berkuliah di univ.dekat rumah. Impian saya sih tidak muluk-muluk, mbok ya sudah dibantuin orang lain jangan bodoh-bodoh banget lah.

Sekali lagi, saya tidak pintar, tapi saya harus berjuang mati-matian untuk setidaknya “tidak mengecewakan.” Ketika saya memenangkan beberapa lomba, ketika saya menjadi mahasiswa berprestasi, maka itu bukanlah hanya sekadar suatu pencapaian… itu adalah terima kasih saya kepada Beliau dan juga kepada Mama yang sudah berjuang mati-matian kepada saya.  Terima kasih pula kepada dosen-dosen saya yang sangat baik, karena atas jasa mereka semua saya berhasil melalui level ini dengan cukup baik. Saya bahkan merasa memiliki guru sekaligus sahabat ketika saya bertemu dengan dosen pembimbing saya.

Orang lain mungkin melihat saya sebagai sosok yang ambisius, tapi mereka tidak tahu… saya harus ambisius untuk menyatakan terima kasih saya yang tidak bisa saya sampaikan dengan kata-kata.

Orang lain mungkin hanya melihat beberapa keberhasilan saya, tapi mereka mungkin tidak pernah tahu bahwa kegagalan saya lebih banyak dibandingkan keberhasilan saya. Saya hanya berhasil bangkit berkali-kali setelah berkali-kali jatuh.

Hingga saat itu, saya masih merasa enggan untuk berkunjung ke makam ayah saya terlalu sering. Bagi saya, saya belum memberikan apa-apa untuk ayah saya. Ayah meninggalkan saya terlalu cepat sebelum saya membuat Beliau bangga. Saya ingat satu impian ayah saya yang belum kesampaian, Melanjutkan Studi ke Jenjang yg Lebih Tinggi. Saya bersumpah… cepat atau lambat saya akan penuhi impian ayah saya. Saya harus bersekolah lagi.

Seperti perkataan Anton Ego dalam film Ratatouille “Terkadang dunia terlalu sinis pada gagasan-gagasan baru…” saya nyaris putus asa karena mayoritas orang di lingkungan saya meragukan keinginan saya untuk bersekolah lagi. “Buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi? Nanti jodohnya susah”, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi, yang penting kerja dulu… kumpulin uang yang banyak” dsb dsb dsb….Saya menangis beberapa kali… tapi lagi-lagi Mama saya tetap mendukung saya ketika orang lain meragukan saya. Padahal Beliau yang paling berhak mengatakan “Kamu gak usah mimpi deh, Nak”…. kalau Beliau tidak ridha saya sekolah lagi, saya pasti akan menurutinya. Saya bukan tipe anak yang tega melawan orang yang sudah berjuang dan berkorban banyak untuk saya. Tapi rupanya Beliau tidak pernah lelah mendukung saya dan mendoakan saya.

Ketika saya tidak percaya dengan diri saya sendiri, adik saya yang selalu bercanda kemudian berkata “Kakak… ini tentang hidup kakak, kakak harus pilih yang paling bikin kakak senang”

Ketika saya mulai ragu untuk melangkah lagi, saya mempunyai seorang sahabat yang luar biasa… yang akhirnya bisa mengatakan “Lakukan apa saja yang kamu mau, selama itu bisa membuat kamu bahagia”

Saya tidaklah sekuat yang semua orang lihat, tapi banyak orang yang bisa menguatkan saya. Seketika saya merasa seperti seekor kucing yang sudah kehilangan satu nyawanya, tapi masih memiliki delapan nyawa cadangan. Dengan terengah-engah saya mencoba memanfaatkan nyawa-nyawa yang tersisa.

Saya teringat, ketika kemudian saya ditanya oleh pewawancara saya saat wawancara beasiswa,
“Apa yang kamu harapkan dari diri kamu?” saya tidak menjawab hal lain selain “Saya ingin menjadi orang yang bisa berterima kasih”
“Terima kasih, kenapa?” tanya si bapak pewawancara dengan dahi berkerut.
“Karena saya yang saat ini bukan apa-apa, bukan siapa-siapa tanpa bantuan orang lain”
“Baik saya mengerti. Lalu apa yang kamu harapkan dari diri kamu dihadapan adik kamu kelak?”
“Saya ingin melakukan yang saya bisa sebaik mungkin, saya ingin begitu kelihatan amazing di depan adik saya. Hingga suatu hari kelak, jika dia menceritakan tentang saya di hadapan orang lain nanti dia bisa bilang ‘Saya bangga pada kakak saya’ sama seperti ketika saya mengatakan kepada semua orang ‘Saya bangga pada ayah saya, pada mama saya’ “

Lalu kemudian pada hari ini, saya kemudian mengatakan hal yang hampir serupa kepada salah satu sahabat saya, “Kalau kelak kamu jadi ayah, jadi ayah yang amazing di depan anak kamu, apapun yang terjadi. Biar dia bangga dengan apa yang kamu lakukan, biar dia terpacu untuk bisa berbuat lebih baik dari kamu” pada saat yang sama sebenarnya saya sedang menasehati diri saya sendiri, setidaknya mengingat kata-kata saya pada diri saya sendiri.

Bagi saya hidup tidaklah mudah…apalagi sekolah!
Untuk ikut tes iBT TOEFL saja saya harus menabung cukup lama, saya bahkan tidak punya cukup uang untuk ikut berbagai les. Tapi melihat begitu banyak orang yang sudah mendukung saya, saya tidak mau terlalu kejam dan menjadi orang yang menyerah sebelum berjuang.

Kalian mungkin tidak tahu, tapi saya seperti Simba yang memandang bintang-bintang di langit setiap malam untuk mengingat ayahnya,Mufasa. Saya rindu ayah saya, tapi saya merasa belum begitu pantas untuk datang ke hadapan makamnya dan bilang “Yuph! here I am, Yah… membanggakan kan seperti ayah membanggakan saya” tapi saya percaya pasti ada waktu ketika saya benar-benar bisa menjadi anak perempuan yang senantiasa Beliau banggakan.

Bagi saya sekolah itu tidaklah mudah, maka jika boleh bersekolah di dalam negeri saja itu sudah anugerah yang luar biasa…
Ketika mendapat beasiswa, saya tidak terlalu ambil pusing mau bersekolah dimana, mau dikasih uang berapa… Who’s care??! Jika saya harus mati karena meraih impian saya, it’ll be okay. Lagipula saya punya Tuhan yang pasti akan memberikan jalan keluar untuk segala hal. Saya sudah terlalu lelah, bahkan untuk sekadar mengeluh.

Lalu kemudian dosen saya membantu saya, memperkenalkan saya dengan guru-guru yang hebat. Dosen saya yang kini menjadi bos saya pernah bilang “Hidup ini pilihan, maka kamu harus perjuangkan pilihan yang menurut kamu paling baik. Ini pilihan kamu, bukan urusan orang lain”

Lalu saya memperoleh Sensei yang luar biasa baik hati, yang membantu saya untuk banyak hal… yang mau mendengarkan saya dengan baik bahkan ketika saya belum resmi bersekolah di universitas tempat Beliau mengajar.

Lalu saya memperoleh sahabat-sahabat baru yang satu perjuangan. Yang berbagi banyak hal… yang menyemangati saya setiap saat, yang berbagi impian-impiannya yang luar biasa dengan saya. Yang tanpa sungkan mengajak saya untuk berjuang bersama tanpa mempedulikan suara-suara sumbang yang ada. Sahabat-sahabat yang satu visi dengan saya.

Jelas sudah, terima kasih saja tidak akan cukup. TIDAK AKAN PERNAH CUKUP!
—————————-
Jutaan tahun ibadah mungkin tidak cukup untuk menyampaikan terima kasih saya pada Tuhan, mungkin jika Allah memiliki sebuah superkomputer yang bisa menghitung setiap remah mikron pahala saya, maka selama apapun proses komputer itu berjalan maka monitornya tetap akan menunukan “Pahala tidak cukup, coba lagi nanti” Hffffft…
Saya bahkan tidak akan pernah bisa membalas jasa-jasa Mama
Saya juga belum bisa sebijaksana ayah,
belum bisa sebaik uwak saya…
belum bisa seceria adik saya…
saya juga belum bisa mengalahkan pengetahuan dosen-dosen, guru-guru, serta banyak orang yang sudah menunjukan betapa dunia ini dipenuhi pengetahuan, misteri, atau hal-hal unik.
Saya bahkan tidak akan sanggup mengembalikan kuota internet, pulsa telepon, dan waktu sahabat terbaik saya yang sempat terbuang percuma hanya untuk mendengarkan saya.
Saya butuh waktu seumur hidup untuk mendengarkan semangat dan cita-cita sahabat-sahabat baru saya yang sangat visioner.

Ketika saya semakin dewasa, saya makin menyadari bahwa terima kasih saja tidak akan pernah cukup.

Saya tidak memiliki apa-apa, saya masih kalah hebat dengan banyak orang.
Maka oleh karena itu, maka izinkan saya membuktikan bahwa saya bisa menjadi anak yang baik, adik yang baik, saudara yang baik, teman yang baik, murid yang baik, lalu kelak bisa menjadi istri yang baik, ibu yang baik, guru yang baik, bahkan jika ada waktu menjadi nenek yang baik.

Saya bukan siapa-siapa dan bukan manusia yang terlahir jenius, karena itulah saya berjuang lebih keras dari siapapun…hingga kelak tidak ada yang menyesal pernah mengenal saya. Saya berjuang dengan keras, karena hanya itu yang bisa saya lakukan untuk saat ini.

Terima kasih saja tidak pernah cukup,
tapi izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada kalian semua.

Percayalah, saya… kamu… kita semua bisa berkali-kali bangkit setelah jatuh.

A little notes from Japan: Part 3 (last part); Welcome to science city, Tsukuba….


Sewaktu saya masih kecil, hingga saya sebesar ini hobi saya adalah nonton film kartun, dan salah satu kartun favorit saya adalah ASTRO BOY. Saking gilanya saya sampai punya tuh binder, kontak pensil, dan aneka pernak pernik astro boy. Ya ampunnn parah banget kan -.-

kalau kalian berada pada masa kecil yang serupa dengan saya, jika kalian juga generasi beruntung yang waktu kecil suguhan kartunnya berkualitas banget, dijamin pasti pernah nonton Astro Boy… apalagi astro boy 2003 yang nyanyi soundtracknya duo favorit saya Chemistry! Arggggghhhhh~~~~ Keren parah! Adik saya aja sampai ngefans banget sama astro boy yang versi Jepang tentunya.

Dalam film itu, diceritakan kalau Atom (pemeran utama di astro boy) itu tinggal di sebuah kota yang full with science banget…namanya Metro City.

Memandang Metro City

Saya selalu membayangkan, ada gak yaaa kota di Jepang yang se-science Metro city di film ini. Dasar bocah, kayaknya waktu itu saya sempat komat-kamit “Ya Allah… bawa hamba ke Metro City” hahahahaha bocaaaaaah! Ampuuun!

Mungkin karena pas itu doa-nya masih polos-polosnya kali ya, lalu diijabah… taraaaaa, Allah lalu memberikan saya kesempatan untuk ke science city-nya Jepang: Tsukuba.

Memang belum seheboh yang ada di film astro boy, tapi Tsukuba benar-benar sebuah kota yang secara default di setting scientific banget. bahkan di pedestarian area aja ada robot zone! Wuaduuuuh….!

Image and video hosting by TinyPic

Hargailah hak para robot!

 

Tsukuba sendiri menurut keterangan dari dosen saya merupakan kota di Jepang yang rasio antara doktor dan rakyat jelatanya 4:1. Jadi dari setiap 4 orang penduduk di Tsukuba, 1 orang pasti doktor. Sisa 3-nya lagi, mayoritas master atau lagi lanjut master, dsb. Keren kan?

Selain itu, mayoritas research center di Jepang itu ada di Tsukuba. Kalau di Tokyo nyawa transportasinya adalah kereta, kalau di Tsukuba pakai bus. Hati-hati juga kalau naik bus, salah naik… salah juga tujuan kita. Dan Tsukuba ini isinya research center semua, jadi kalau kalian ke sini mohon ingat baik-baik seluruh informasi mengenai tujuan kalian, jangan cuman inget “Pokoknya gw mau ke research center..” Huwaaaaa ada buaaaanyak banget di sini hahaha… tiap renteng jalan pasti ada research center.

Saya sendiri menginap di sebuah hotel di Tsukuba center.
Di depan hotel saya mall-mall berderet rapi hahaha. Tapi rupanyaaaaa…. Mall ini kalau jam 8 malem ditutup. Ya amploooop! Jadi pas jam 8 kurang 15 aja udah kena usir kalau main-main cuci mata ke si mall hahaha. Tapi Alhamdulillah sempet beli jam tangan… lumayan, 1000 yen! Segitu kan standar ya untuk jam tangan, dan betapa kagetnya saya ketika Mbak Kasirnya juga ngasih kartu garansi segala buat jam tangan saya. Haaah… ya ampun, 1000 yen kan paling 100 ribuan ya, pakai garansi segala :’D sungguh mengharukan hehehe.

Saya suka pemandangan Tsukuba di pagi hari. Walau musim dingin, tapi pas saya datang alhamdulillah cukup cerah. Cerah kaaaan? Ceraaaah… tapi anginnyaaaaa Ya Allah…. gak kuat deh. Dingin banget. Hari pertama datang suhunya -2 derajat celcius. Padahal saya udah happy melihat matahari yang cerah tersenyum, errrr… tricky sunshine.

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

Saya sendiri diundang pelatihan oleh Sensei saya di National Institute of Environmental Studies (NIES), tempat sensei saya bekerja. Huwaaaaa…. ya ampun kurang baik apa sih Beliau. Kalau kelak saya sekolah terus jadi anak bodoh kayaknya Mega Combo durhaka deh sama Beliau.

Image and video hosting by TinyPic

Tempat kerja Sensei saya…. tempat berkumpulnya scientist-scientist pintar yang super duper ramah! Nice place for work

 

Jujur saya jiper banget ikut pelatihan ini. Yang ikut dua dosen saya. Pak dosen dari ITB malah kepala departemen pula. Terus dari negara lain, waduuuuh ada anak S3, ada orang dari kementerian lingkungan hidup…. Ya Allah… mana laptop saya hang! Ihhh kaco pisan lah.
Tapi senang karena saya jadi belajar banyaaaaaaak hal dari mereka.
Hufffttt I should study hard… harder… hardest!
Diantosan ya, Sensei…
Sebenarnya bukan masalah sih kalau saya mau seenaknya aja dalam hidup ini, tapi lagi-lagi… menerima begitu banyak kebaikan dari banyak orang baik, rasanya saya gak tega tuh untuk tidak melakukan yang terbaik untuk mereka. Hanya itu kan yang bisa saya lakukan! Eh eh… jadi curcol. Mari lupakan hahahha.

Kembali ke scientific-nya Tsukuba hahahaha… sebagai penyuka bunga, saya kemudian ngeh juga kalau di beberapa spot publik, mayoritas tanamannya di kasih tag keterangan. Jadi kita bisa tau ini pohon apa aja.
Image and video hosting by TinyPic

Saya tidak tahu apa di semua tempat seperti itu, tapi di sekitar kantor sensei saya sampai di pinggir jalan pun semua pohonnya dikasih name tag. Waduuuh keren banget. Saking cintanya dengan tanaman, bahkan katanya ada tanaman yang “di amankan” dulu selama musim dingin di rumah kaca dan baru akan ditanam lagi pas musim semi atau panas.

Hal unik lainnya, banyak lampu di tempat publik yang baru nyala kalau ada orang di sekitar area tersebut. Pas orangnya sudah gak ada… si lampu mati. Di suatu malam saya sempat iseng melototin lampu jenis ini di sebuah tempat pemarkiran sepeda di depan hotel saya, sampai sekarang saya masih bingung si lampu itu pakai sensor apa. Mungkin sensor gerak *Iyaaaah… sok tau deh gw ahahahaha*

Karena siang full pelatihan, maka jalan-jalan cuman bisa pas malam. Dan itu pun terbatas karena lagi-lagi: Mall tutup jam 8 malam, ada beberapa yang buka sampai jam 9 malam tapi hufffttt jarang. Eh tapi ada juga loh yang buka 24 jam hehehe tapi yaaaa 1-2 toko. Alasan ini yang membuat saya jadi gak bisa bertemu teman saya di Tsukuba, padahal pengen banget! Secara dia pasti lebih paham kan tentang ke-oke-an si Metro City eh… Tsukuba city hehehe.

Image and video hosting by TinyPic

Hiyaaaa Narsis… :p lumayan lah…

Image and video hosting by TinyPic

Ini masih satu set medium boneka Hinamatsuri

Jadi kalau mau narsis juga bisanya malem hahahaha….

Oiya…. kalau jeli, di beberapa tempat kalian bisa liat toko atau hotel majang hiasan boneka satu set lengkap. kayak begini nih:

Itu adalah boneka Hinamatsuri….Ini penjelasannya
Image and video hosting by TinyPic

Kebetulan tanggal 3 Maret akan dilaksanakan hari Hinamatsuri itu, makanya banyak yang pasang hiasan boneka ini.
Sensei saya sempat bercerita sedikit tentang Hinamatsuri. Katanya hari anak perempuan ini doanya simple, supaya si anak perempuan di keluarga tumbuh sehat dan menjadi anak yang baik. Naaaah, si boneka ini biasanya gak beli tapi memang warisan turun menurun.

Kalau kalian ngerasa “Wah kece berat nih dipajang di rumah gw, beli ah… satu set” Waaaah… boleh banget, tapi siap-siap rogoh kocek agak dalam. Harga boneka ini minimal sekitar 90.000 Yen, itu minimal yaaaa… MINIMAL! hahaha…. yaaaah 9 juta-an. Ih kalau saya mending beli laptop baru hahahaha. Tapi memang worthed sih. Mungkin ini juga jawaban kenapa boneka ini gak gampang rusak walau udah diwariskan turun menurun.
Hmmmmm…. menarik.

Image and video hosting by TinyPic

And Indonesia welcoming me again!

Saya pikir cukup sekian dari saya hehehe…
Capek juga ngetiknya.
See you in another posting. Sebenarnya cerita ttng Tsukuba masih puaaaaanjaaaaang banget tapi sudahlah, gak beres-beres kalau saya cerita hahaha.
Hmmmm… semoga kita bisa bertemu lagi Jepang 😀 I Love you so much!

See you!

A little notes from Japan: Part 1, arrived in Japan–> go to ueno


And life is a road and I want to keep going
Love is a river I want to keep flowing
Life is a road, now and forever
Wonderful journey
-At the beginning; Donna Lewis-

Hmmm… I have very limited time to write this blog actually, so I make it in several parts 😀

For some reasons, I think I’m very lucky because surrounded by very kind people. Kind family, kind friends, kind lecture, and kind future sensei hehehe.

Loh ini kok jadi pakai bahasa inggris, okay, let’s use bahasa hehehehe.
Tepat tanggal 22 Februari kemarin, dengan pesawat Japan Airlines JL 726, saya dan dua orang dosen saya (satu dari IPB which is my lovely undergraduate supervisor, dan satu lagi adalah dosen ITB…) membelah awan lalu terbang menuju Tokyo. Kalau ada yang mau tanya seoke apa sih Japan Airlines…. well sebenarnya sih biasa aja, gak se-wah apa gitu… cuman mereka sangat tepat waktu. Makanannya enak (dipesenin moslem meal… nyummm enak). Di samping kami duduk ada anak ITB yang ramah dan baik hati yang rupanya anak nuklir yang akan ikut conference yang diadakan TIT (Tokyo Institute of Technology). Seperti biasa saya sih pendiam hahahha dan gak pernah ngomong, tapi saya suka aja sama anak itu karena dia sopan, kalau ditanya membalas dengan senyuman, apa karena di sampingnya dosen ya ahahahaha… Lupa nanya siapa namanya, but I wish him a good luck.

Yang mau tanya kenapa kok saya bisa terdampar begitu saja dibawa ke Jepang… 1. Karena sensei saya baik hati. Rasanya mau meneteskan air mata kalau inget kebaikan Beliau huhuhuhu. Beliau mengundang saya ikut pelatihan karena my future research will be related to it, jadi biar dapet basic knowledgenya. Coba…. coba…. ada gak sih guru sebaik itu. 2. Of course karena saya juga beruntung punya bos yang baik hati dan dosen yang baik hati juga. Siapa coba yang rela mengizinkan anak ingusan seperti saya boleh ke Jepang begitu saja hahahaha…. 3. Saya punya keluarga yang baik, punya Mama yang rajin puasa dan shalat malam…. wuusssshhh langsung lancar deh segala urusan. Plus uwak saya yang untuk keberangkatan saya yang singkat aja preparationnya udah standar keberangkatan kunjungan kenegaraan. Huwaaaaa I love my family. 4. Allah baik banget, makin kesini saya merasa segala sesuatu yang berkaitan dengan studi saya rasanya selalu dilancarkan…. Subhanallah.

Setuju kan, how lucky I am….

Sampai di Narita pagi buta, jam 6 pagi  JST (Japan Standard Time)….berarti 04.00 WIB.
Check in di Tsukuba baru bisa jam 14.00 JST. Akhirnya dosen saya yang notabene-nya alumni Todai ngajak saya ngeliat-liat tokyo dulu. Biar mata rada terbuka gitu.

Agak takjub dengan Jepang, public transportationnya integrated banget. Bandara Narita rupanya integrated dengan bus dan kereta… jadi mau kemana-mana gampang.
Sesampainya di Narita, yang duluan dicari adalah: TOILET hahahaha…. adik saya udah dari jauh hari bilang “Kak, nanti liatin toilet di Jepang, bener gak seheboh kayak di film Cars 2?” Hahahahhaa… aduuuh nasib deh, gini ceritanya kalau kakak sama adik kebanyakan nonton film kartun -.-
But I check! hahahahah Ya Allah… kurang kerjaan banget kan? Eh tapi biar kalian tau juga.
Toilet di Jepang itu ada dua macem, ada yang western style *macam toilet duduk kita* dan yang japan style. Naaaah…. sebenarnya sih sama-sama aja, cuman….seperti kayak di film cars2… memang toilet di Jepang banyak tombol2nya hehehehe. Tapi gak heboh-heboh banget sih… biasa aja. Gak tau kalau ada yang lebih canggih lagi. Tapi yang saya temui sejauh ini yaaa standar lah. Oiya itu ada flushing sound, mohon jangan mengira sound yang keluar adalah lagu-lagu barat atau lagu klasik… apalagi lagu dangdut hahahhaa! Gak gak… itu cuman untuk menyamarkan suara kalau kita lagi flushing atau apa lah itu. Aduh please masa harus saya bahas juga :p

Image and video hosting by TinyPic

Dasar Jepang, semuanya well prepared. Di beberapa toilet ada juga yang disediakan tempat khusus buat gantiin popok bayi. Bahkan ada juga yang nyediain tempat duduk buat balita hehehe.

Image and video hosting by TinyPic

Kalau yang udah pada punya baby… bisa nih disimpen di sini dulu baby-nya sambil digantiin baju/ popoknya 😀 seru kan

Ah kok jadi ngomongin toilet hahahaha, come on, Mon!

Dengan nenteng koper segonjreng *koper gw sih… errrr….hahahhaa* berangkatlah kami ke Ueno. Ueno itu apa ya, mungkin kalo di commuter line JABODETABEK kayak stasiun Jakarta Kota kali ya. Tapi gak bisa disamain sih, ini lebih…lebih… lebih waaaaah!. Jujur aja, saya yang udah khatam dan fasih dengan rute Commuter Line Jabodetabek dan udah berani dijajal mau berangkat kemana pun pakai kereta di Indonesia, di tokyo mah…. bubye hahahhaha…. rutenya banyak bangeeeeet dan di mata saya kayak sphagetti hahahaha. Kalau sekarang disuruh ngulang lagi sendiri kayaknya masih lieur deh, salah gate dan sebagainya salah arah dan tujuan….

Gak percaya? Oh boleh-boleh…. monggo disaksikan…. hahahaha

Image and video hosting by TinyPic

Aduuuuh… lewat mana ya…mmmmm….

Pusing kan? Pusing kan? hahahhaha….
Okay, I should find very nice and great friend for next trip (Ayo…ayo… yang di Tokyo, Tsukuba, Kyoto, mohon bantuannya nanti buat jadi guide :D).
Oiya… semuanya pake mesin loh ya.
Beli tiket pake mesin…
Beli minum juga pake mesin…

Image and video hosting by TinyPic

Kesan saya pada semua mesin-mesin itu adalah “Whoaaaa pintar banget si mesin.” Habis mereka bisa ngitung juga kembalian dan sebagainya dengan tepat hahahahha sumpah saya lebay banget. Tapi saya sih jujur aja agak pusing dengan receh di Jepang. Apalagi ukuran 10 yen lebih gede dari 100 yen dan 50 yen hahahaha, jadi kalau ke toko saya suka give up dan bilang “sumimasen… so many coins” *sambil dengan noraknya mengeluarkan semua koin yang ada… terus biarkan kasirnya yang ngitung hahahahha. Eh tapi tenang, di Jepang mah pada jujur… jadi gak masalah lah. Pernah beberapa kali di toko 100 yen, kasirnya sampai ketawa cekikikan ngeliat saya ngitungin receh. Abis sayang juga kan mecahin uang kertas, pasti di balik tawanya si kasir bilang “Ya ampun pelit banget nih si mbak-mbak” hahahhaa…

Tapi ini mengagumkan banget, mereka tetep berusaha berkomunikasi walau jelas tatapan mata saya kosong dan gak ngerti apa yang mereka bicarakan. Berlajar bahasa jepang bertahun-tahun, sampai di Jepangnya mah teori tinggalah teori hahahahaha… pada cepet banget ngomongnya. Terus karena kemampuan saya baca kanji itu nol besar, kalau ada yang gak bisa dibaca kanjinya bisa juga minta tolong dibacain sama kasirnya hahahaha… terutama kalau makanan kan, naaah buat yang muslim kan suka heboh tuh sama komposisi di kemasannya, daripada super rempong nelpon ke perusahaannya kan, selama masih punya mulut dan sedikit kemampuan nerka-nerka mah tanya aja ke kasirnya… bilang aja “Watashi wa kanji wo wakaranai bla bla bla…” terus tunjuk bagian komposisi dan pake gesture dan bahasa isyarat yang kece. Saya sempet iseng nanya komposisi kitkat green tea soalnya, fiuuuh… dan terjawab  tanpa berkicau terlalu banyak :’D

Ueno sendiri kata dosen saya adalah Asian Market di Jepang, jadi di sini saya beli toppoki (rice cake) buat acara masak-masak bareng saudara sepupu saya nanti. Di Ueno karena stasiun gede, maka kami nitip koper dulu di loker. Eh lokernya juga pake mesin hahahaha *yaeyalah,Mon…* untuk yang ukuran jumbo harganya 500 yen buat seharian penuh. ya murah lah daripada ngejinjing itu kemana-mana. Eh jangan lupa sediakan koin hahahaha… itu penting! catat.. itu penting! kalo bisa sih si koin 100 yen kumpulin yang banyak. Gak kayak receh 100 perak di Indonesia, 100 yen di Jepang itu berharga hahahhaa…. mesin-mesin agak lahap memakan koin. Kalau yang receh 1 yen, 5 yen, naaah itu sih kalau bisa dibelanjain kapanpun ada kesempatan… mesin-mesin pada gak suka makan tuh receh -.-.

Dari Ueno, kami berangsut dulu ke shibuya… nah di sini yang seru.
Tapi BERSAMBUNG….
I should go to the office soalnya, nanti lanjut ya ^O^/
hehehehe….
2 Part lagi menyusul…

BANZAAAAAI!!!!!

Buku bersampul merah dari Mama….


Kemarin, sambil beres-beres koper untuk berangkat ke negeri sakura, seperti biasa rumah pasti ramai dengan percakapan antara saya dan Mama saya.

Mama (M): Waaaah… anak Mama bener ya kesampaian ke luar negeri. Mama bangga deh. Inget ya musim dingin loh jangan kambuh pileknya, packing yang rapi…. eeeeh itu gimana ngelipetnya? aduuuh… jangan berantakan biar kopernya cukup.

SKIP
SKIP
SKIP
jadi ketahuan deh saya berantakan ahahahaha….

M: Nanti sepi dong. Rumah ini kan orangnya cuman sedikit… kalau kakak pergi sepi banget ya. Mama cuman sama kucing terus sama kiki.

Saya (S): Ih cuman bentar lagi, nanti juga pulang. Hehehehe… saya juga kangen sama rumah.

M: Nanti kalau kakak sekolah, sepinya lebih lama.

S: Saya pulang nanti Ma, masa saya gak kangen rumah.

M: Iya ya.. Eh Kak, katanya kakak mau jadi penulis. Nih, kakak lupa ya Mama beliin ini dulu
Kata Mama sambil menyodorkan buku tebal dengan cover merah yang dulu pernah Mama belikan untuk saya. Belum pernah dipakai karena lebih sering menulis di komputer.

CAM01011Buku catatan bercover merah dari Mama [emoji black heart suit]

M: Nulis itu kak, lebih lengkap dan lebih diingat kalau ditulis tangan. Bisa dibawa kemana-mana juga. Mulai sekarang, tulis semua pengalaman kamu setiap hari di buku ini. Nanti pas kamu mau nulis buku, kamu tinggal liat ulang catatan kamu.

S: Iya Ma, nanti saya jadi penulis ya.

M: Iya… kan kamu yang bilang, pengalaman kamu harus jadi pelajaran bagi orang lain. Nulis yang bener ya… waktu cuman 24 jam, mungkin kamu harus luangkan setiap hari minimal satu lembar.

S: Tapi saya gak tahu apa tulisan saya bisa bagus… apa akan dibaca orang… apa akan menarik…. apa gak apa, Ma

M: Loh… kalau melakukan sesuatu itu jangan pikirkan persepsi orang lain dulu, pikirkan bagaimana kamu bisa melakukan semuanya dengan baik. Udaaaah…. kalau kamu sudah melakukan yang terbaik, hasilnya gak akan jelek. Setidaknya Mama pasti mau baca.

Untuk beberapa hal, rasanya bahagia banget… saya yang biasa-biasa ini, punya Mama yang luar biasa, mau mendukung segala hal yang dilakukan anaknya. Kalau saya menjadi seorang Mama nanti, saya belum tau apakah saya akan bisa sebaik itu atau gak. Untuk beberapa hal, rasanya nyesel banget sering ngomel-ngomel ke Mama… huhuhuhuhu~ she is very kind woman.

Kalian tahu bagaimana rasanya ketika tahu bahwa di alam semesta ini ada satu orang yang secara tulus dan sungguh-sungguh terus mendukung kita, satu orang yang selalu bilang “Oh come on… kamu pasti bisa! Kamu pasti berhasil!” Saat kalian tahu itu, apapun alasannya rasanya ingin bangkit berkali-kali setelah jatuh… rasanya tidak mau membuat dukungan itu sia-sia. Ada resonansi antara dukungan itu dengan semangat untuk terus berjuang, sebuah resonansi yang tidak bisa dijelaskan dengan rentetan ilmu pengetahuan. Dan dukungan setia itu saya peroleh dari Mama.

Apapun yang akan terjadi, I’ll make my mom proud!
Mungkin tidak akan bisa membayar semua jasa Mama, tapi mungkin itu bisa bikin Mama happy.
And if someday I write a book, it must be very great book… supaya bisa banyak yang baca dan semua bisa baca cover depannya “Special for the best Mom in the world 🙂 ”

Ah semoga~

 

Pleaseeee…Jangan jadi mahasiswa nyebelin!


” Tempa diri dengan budi pekerti luhur, untuk Indonesia pasti bisa”
(dicukil dari Mars LPDP angkatan 7)

Mama saya selalu bilang, “Kak, Mama ini guru… untuk beberapa alasan sepertinya budi pekerti anak sekarang agak turun ya” Tentu saya berusaha menyanggah hal itu, masa mau sih generasi makin modern dibilang makin gak sopan, iya kan? Beberapa waktu kemudian, dosen saya menulis twit ke saya “Andai masih punya mahasiswa yang sopan seperti kalian” lalu mention ke saya dan salah seorang kakak kelas saya yang kini kuliah di Australia. Lalu seperti dapat tuah, sepertinya Allah kayak bilang “Gak percaya? Cobain sendiri nih….” ketika saya kembali ke kampus saya agak shock karena beberapa mahasiswa yang jatuhnya malah nyebelin!

Saya sedang uring-uringan beberapa hari ini, jadi saya ingin melepas semua unek-unek saya. Biarlah… biarlah… dunia akan menerima pendapat saya ini atau tidak, namun setidaknya saya sudah berusaha untuk jujur kan?

Saya me-list beberapa tipe mahasiswa nyebelin yang saya temui, semoga Anda tidak termasuk salah satu dari tipe ini:

1. Tipe Sok Ngetop
Tipe ini punya ciri yang sangat kentara, kalau nelpon atau SMS GAK PAKE NAMA! errrrr… kalau orang sibuk kan tentu malas balas kan? Naaaah… kalau gak di balas si tipe sok ngetop ini akan terus pantang mundur kirim sms, hebatnya masih tanpa meyebutkan nama. Ya Allah…. kau siapa, Nak? Cucu-nya Ratu Elizabeth sampai saya harus berusaha keras menerka nama Anda. Please deh… capex http://eemoticons.net

Saya pernah dapat sms tanpa nama yang sangat gak sopan! Saya diomel-omelin oleh si sms tanpa nama ini karena saya tidak pernah masuk kelas *dan jujur saja karena saya juga tidak dapat jadwalnya dari Departemen*. “Kakak itu gimana sih? Kakak tahu tidak jadwal kakak apa.” Kampret… dia bahkan tidak tanya sebab musababnya dulu. Saya telpon dia dan saya balik semprot hahahahaha, wanita lebih mengerikan dan lebih cerewet ketika ngamuk, Nak.

2. Tipe Drama Queen/King
Saya heran, kok mahasiswa jaman sekarang pada berani ya mengemis nilai? “Kak nilai UTS saya xx, saya ingin masuk oxford, mau masuk MIT, mau jadi asisten, mau jadi dosen, tapi nilai saya jelek, kakak bisa nggak maksimalin nilai saya?” Hah, siapa? SIAPA YANG NANYA? hahahahahahhaa….. http://eemoticons.net

Nilai kalian jelek? Sama saya juga pernah! Tapi saya nggak nyali tuh ngemis-ngemis nilai, karena saya tahu bahwa itu jelas kesalahan saya. Prinsip saya dulu cuman satu, saya nggak boleh ngulang! Itu aja dulu. Saya belajar! Dengan kapasitas otak saya yang pas-pasan… Saya toh belajar. Belajar masih nggak ngerti juga? Ya baca lagi… nggak ngerti juga? Mungkin yang salah bukan belajarnya, tapi level keimanan :p udah deh kalau udah stuck mohon bantuan Tuhan aja. Saya kalau udah ngawang-ngawang pasti shalat dan menyendiri di Masjid Al-Hurriyah. Setelah itu tentu cari makan enak…. biar happy. Tara selesai!

3. Tipe Kopedh/ Tipe Malas
Saya bukan manusia kaya raya di dunia persilatan ini, ehmm maaf maksud saya di dunia akademis ini, tapi saya rela membongkar celengan untuk beli buku bahkan jika itu cuman fotokopian. At least lu baca, man!

Tipe kopedh ini ditandai dengan kemampuan finansial dia yang sebenarnya gak syusah-syusah banget…. tapiiiiiiii…. dia gak mau beli buku referensi apapun!

Ini membuat tipe ini kalau udah sampai level advance akan meningkat jadi tipe malas! Malas baca buku… malas cari literatur…. malas ngerjain soal *iyalah, apa yang mau dikerjain juga? Wong dia gak pernah baca apa-apa juga* dan akhirnya jadi ngerepotin asisten atau dosennya! Oya? Ya!

Contoh kasus:
A: Kak, kenapa ya kurva AD itu slopenya negatif?
B: Oh, biar jelas coba kamu cek aja pakai kurva IS-LM.
A: IS-LM itu apa ya, kak?
B: Lha… kan udah saya jelaskan. dicatet gak?
A: Gak kak, saya ketiduran waktu itu.
B: Okay.. ada kok di buku baca aja.
A: Saya gak punya buku, kak.
B: Kalau gitu pinjam temannya.
A: Saya malas baca, kak… maunya dijelasin aja sama kakak.
B: Sama, saya juga malas baca… baca sms kamu. Bye! http://eemoticons.net

Jangan ketawa, itu kisah nyata! Ada loh di muka bumi ini orang se-annoying itu!

4, Tipe nggak sabaran
Namanya manusia ya, pasti punya kesibukan masing-masing. Tipe nggak sabaran ini adalah manusia2 yang ingin diperlakukan layaknya tamu VVIP. Setelah sms satu kali, belum dibalas… sms lagi 15 menit kemudian… nggak dibalas lagi…. sms lagi 15 menit kemudian…. gak dibales lagi? telpon 15 menit kemudian. Lalu taraaaa 10 sms yang belum dibaca, 10 missed calls *___* capeeeeee deeeeeeh. Yang diladenin juga bukan dia aja kaleeee.

5. Tipe Pikun.
Gak ada yang salah dengan tipe ini, kecuali kepikunannya.
“Kak… ketemuan jam XX ya”…. lalu ketika ditunggu di tempat dan jam yang telah ditentukan taraaaaa no one comes! 1/2 jam kemudian baru sms lagi “Maaf kak, saya lupa… lalu ketiduran, besok aja ya” Sial… kau kira gw apa? penjaga ronda? http://eemoticons.net

Saya pikir saya saja yang sial. Rupanya dosen saya toh pernah merasakan hal serupa, malah lebih banyak. “Loh ini bimbingan saya mana, kan janjian hari ini? Saya udah nunggu 1 jam lebih loh, Mon” Waduuuuuh… ada lagi yang sengawur itu.

Saya pikir cukup dulu tipe 5 mahasiswa nyebelin yang saya rangkum kali ini.
Saya tidak bermaksud menganggap satu pihak lebih buruk dibandingkan pihak yang lain. Gak lah! Saya juga gak baik-baik amat… saya galak dan keras kepala banget. Tapi yang ingin saya tekankan adalah bahwa sekolah itu gak mudah! Gak mudah…! Kalian harus tahu bahwa untuk sampai kalian sekolah aja sudah banyaaaaaaaak seeeeekaaaaaliiiiii yang berkorban untuk kalian, maka hargai setiap pihak itu. Saya ini orang yang sangat logis, logika saya selalu menjunjung hukum Newton aksi=reaksi. Harusnya setiap jerih payah itu kalian balas dengan jerih payah kalian, dan jangan kotori dengan budi pekerti yang tidak baik. Saya pernah kok nyebelin… saya pernah ngelawan ke Guru… ke Dosen… ke banyak orang…. tapi ketika saya harus mengakuinya akan saya akui. Ketika saya harus memperbaiki kesalahan saya maka akan saya lakukan. Saya juga pernah gagal… tapi kemenangan juga bukan berarti kita selalu berhasil kan? Kemenangan adalah ketika kita bisa bangkit berkali-kali setelah kalian jatuh.

Pahami itu, sebelum terlambat.