Toxic Masculinity: Sudahkah kita memperlakukan pria dengan baik?


Maaf-maaf-maaf, terjadi banyak kekacauan dan kesibukan di dunia nyata yang membuat tante harus undur diri sejenak dari dunia maya 😀

Baiklah, mari kita bahas hal-hal yang menarik dan agak-agak nampol di kepala. Jadi beberapa waktu yang lalu saya baru selesai membaca, eh denger deh, sebuah buku yang judulnya “For the Love of Men” tulisan seorang wartawan bernama Liz Plank. Cukup menarik sih, karena membantu kita untuk melihat dari berbagai perspektif.

Nah jika kalian para wanita suka merasa “Duh kok ini cowok-cowok kok sulit banget dipahami.” Mungkin emang benar, dan itu semua karena lingkungan membuat stigma bahwa share the feeling, berbagi perasaan, curhat, adalah hal yang lebih feminim dibandingkan maskulin. Padahal, kebutuhan akan validasi perasaan dan pemikiran itu adalah kebutuhan manusia, tidak peduli gendernya apa.

Nah, stigma-stigma yang seperti inilah yang kemudian disebut: Toxic Masculinty.

Nah, sebelum kita tersesat lebih jauh, apa sih toxic masculinity? Dilansir dari healtline.com, …“toxic masculinity is an adherence to the limiting and potentially dangerous societal standards set for men and masculine-identifying people.” Intinya, standar-standar sosial yang mendefinisikan maskulinitas. Gak boleh nangis, gak boleh terlalu warm, gak boleh terlalu ramah, gak boleh curhat, gak boleh suka warna pink, gak usah masak ato belajar masak, dan sebagainya. Pokoknya, pria, diharuskan untuk selalu kuat secara mental dan fisik. Kalau kemudian capek dan nangis langsung dijudge “waaah lemah lo!” padahal kan sedih, dan aneka pergolakan emosi lainnya, bisa dirasakan oleh siapa aja.

Hal itulah yang membuat WHO sampai turun tangan dan bilang bahwa angka harapan hidup pria lebih rendah dibandingkan wanita. Saya kemudian membaca blog tulisan Dr. Robert H. Shmerling, MD, Senior Faculty Editor, Harvard Health Publishing, dan Beliau udah bilang ke istrinya kalau dia kayaknya bakal mangkat lebih duluan dari istrinya:

“I knew that, on average, women live longer than men. In fact, 57% of all those ages 65 and older are female. By age 85, 67% are women. The average lifespan is about 5 years longer for women than men in the U.S., and about 7 years longer worldwide.”

Pertanyaannya kenapa? Karena pria lebih mudah terserang stress, lalu akhirnya ada yang sakit, ada yang cari pelarian dari hal-hal ekstrim, dan ada juga yang bunuh diri. Sound stupid, apalagi bagi saya, karena saya sih tau banget hidup ini sulit dan gila ya. Tapi when life gives you lemon…. yaaaa udah nangis dulu sehari-dua hari, curhat ke random friends, atau main sama kucing, lalu kemudian maju jalan lagi! Apakah curhat dan nangis-nangis sampe ingusan itu menyelesaikan masalah? tidak! Tapi itu rupanya membuat mental kita lebih siap aja menghadapi realita. Dan ketika kita lebih siap, kita menjadi lebih kuat. That’s how strong women could be.

Nah ini yang seringkali tidak dinikmati oleh para pria yang boro-boro curhat, untuk nangis aja kadang gengsi. Nah seketikanya harus curhat, sukur-sukur ada yang mendengarkan dengan baik dan sungguh-sungguh. Kebanyakan malah “Ah elo…. gitu doang aja. Cupu ah.”

Hal itu rupanya semakin merembet ke hal-hal yang lebih besar. Dalam buku “For the Love of Men”, si penulis bilang bahwa selama proses dia menulis buku, dia mewawancara beberap orang pria dan para pria ini banyak sekali yang menyembunyikan fakta ketika mereka merasa dilecehkan secara seksual. Mengapa? Karena ketika mereka kemudian curhat tentang ketidaknyamanan yang mereka rasakan, termasuk pelecehan seksual yang mereka alami, mayoritas respon yang mereka dapatkan adalah “Ah gitu aja, kamu kan cowok, lawan lah.”, “Masa’ gak bisa lawan?”

Padahal sih harusnya speak up, biar yang melakukan tuh sadar yang mereka lakukan itu busuk. Jadi inget kasus “rahim anget”, yang mohon maaf, menurut saya kok jijik ya. Kita sebagai wanita kan lebih bangga ketika dilihat secara pemikiran, secara kecerdasan emosional dan intelektual. Saya sih males banget kalau saya achieve sesuatu, terus penghargaan yang saya dapatkan menjurus ke hal-hal seksual. Naaaah…. dulu pernah nih ada pebulu tangkis yang kece sih emang, dan staminanya emang kuda. Namun alih-alih penghargaan pada kekuatan fisik dan kecerdasan strateginya, yang banyak muncul malah kaum-kaum “rahim anget.” Dan pada gak terima kalau kemudian ditegur.

Oh ya, kasus pelecehan seksual yang terjadi di sebuah instansi baru-baru ini juga, sama….
Ketika melapor malah kembali dipertanyakan “Loh kenapa gak bilang dari dulu-dulu?” dan malah kemudian diancam untuk dirumahkan.

Hal ini kemudian semakin rumit, karena, kalau kata buku ini, pria cenderung punya ekspektasi dan pengharapan yang tinggi pada dirinya. Nah, ketika kemudian dia gagal, maka orang yang pertama kali menyalahkan mereka adalah…. siapa lagi kalau bukan… diri mereka sendiri. Jika kemudian orang lain ikutan menyudutkan dan menyalahkan si Mas-Mas malang ini, maka itu akan jadi semacam validasi “Tuh kan gw salah.”

Hmmmm…. pendek kata, selain keras kepala… kayaknya para pria ini juga keras hati :’)

Hal ini yang mungkin menjelaskan kenapa sosok “ayah” di dalam keluarga selalu menjadi salah satu yang bikin kita suka naik darah. Berulang kali saya selalu dapat curhatan
“Bapak gue udah sakit-sakitan, Mon… udah gue suruh berhenti kerja aja. Diem deh diem di rumah. Apa susahnya sih?”
“Ya ampun Mon, ya masuk rumah sakit lah, wong maksain diri. Pake acara gak bilang-bilang kalo ada penyakit pula.”

Dan berulang kali juga saya bilang “Udah…. sabar, biarin aja Beliau mau nyobain apa. Tapi lebih dijagain aja.”
Dan berulang kali juga itu menjadi boomerang, dan mereka pasti akan bilang “Mon, gak gitu… lo gak ngerti…..”

Mungkin iya, tapi jangan lupa juga kalau pride seorang ayah adalah menjaga keluarganya sebaik mungkin.
Dan percayalah, saya juga pernah mengalami hal serupa ketika dulu ayah saya sakit.

Saya sedih, laki-laki yang paling saya sayangi di muka bumi ini terkesan memaksakan diri. Padahal saat itu, di kepala saya “udah…udah…. hidup aja, selama mungkin.” Saya kesal juga karena saya merasa ayah saya tidak memahami rasa khawatir dan sedih saya. Yang saya belum pahami saat itu, mungkin orang yang paling sedih adalah Beliau, karena merasa tidak berdaya dan malah membuat orang-orang disekitarnya sedih dan khawatir.

Semua orang bersedih, dan tidak ada gunanya untuk saling keras kepala memperdebatkan siapa yang paling terluka.

Nah, jadi, untuk kalian yang masih punya ayah, biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau. Support them. Ingatkan untuk hati-hati dan jaga diri. Puji mereka ketika mereka bikin sesuatu, seremeh temeh apapun itu.

Dan buat kalian yang mau jadi atau udah jadi ayah, jangan biarkan keras hati dan kepala kalian menyakiti orang-orang yang sayang kalian. Di muka bumi yang kejam ini, ada manusia yang kemudian memilih kalian jadi kepala keluarga. Maka mereka, sudah pasti, orang-orang yang siap mendengar dan berjuang bersama ketika ada suatu permasalahan. Jangan dipendam sendiri.

Kembali lagi ke topik kita. Saya sungguh mendukung kesetaraan gender, namun kesetaraan gender itu apa? Feminisme itu apa? Mengagung-agungkan wanita namun kemudian mengesampingkan keadilan dan perasaan para pria? Kan lucu dan blunder jika mencap diri sebagai feminis, namun malah lupa tentang hak asasi manusia. Dulu pernah, di sebuah grup yang saya ikuti, ada perdebatan panjang maha tidak berguna tentang sebuah lowongan pekerjaan yang hanya meminta satu orang pria untuk posisi tersebut. Pengirim lowongan sudah menjelaskan, bahwa di divisinya, hampir semua anggotanya wanita, sedangkan ada beberapa pekerjaan yang mungkin lebih efisien jika dibantu pria. Yang namanya emak-emak kan sore mungkin harus pulang cepet untuk masak, jemput anak, dsb. Sesuatu yang saya rasa bisa dipahami.
Dan kemudian perkara itu diperdebatkan sampai mati antara feminis vs non-feminis.
Pertarungan silat lidah dan argumentasi itu hanya berputar-putar di perkara “Kok gak boleh perempuan.” yang bagi kami yang malas “Lah, kan sudah dijelaskan.”
Dibalas dengan jawaban jitu “Memangnya wanita tidak layik bekerja.”
Kalau mau adu bodoh-bodohan, maka bisa saja kita balik pertanyaan tersebut “Memangnya pria tidak layik bekerja?”

Bukankah beban sosiologis dan antropologis pria, setidaknya pada masyarakat kita, lebih berat karena dituntut untuk membiayai keluarga, punya pekerjaan tetap, dsb dsb dsb dsb dsb. Dan jika mau sedikit berbaik sangka, bagaimana jika pria yang diterima untuk posisi tersebut adalah anak baik, yang uang gajinya diberikan untuk ibunya di rumah…. atau untuk keluarga kecil barunya?

Mengapa, sungguh sulit, bagi manusia untuk berbaik hati dan berbaik sangka?

Tidak ada yang tahu akhir pertarungan tersebut, karena pada akhirnya mayoritas keluar grup atau ganti e-mail. Jadi mohon maaf, memang ceritanya berakhir di situ saja.

Akhirul kalam, Mama saya selalu bilang “Orang itu bisa jahat mungkin karena pernah diperlakukan tidak adil atau tidak menyenangkan. Hati mereka luka, terus mereka jadi tidak percaya pada orang lain dan tidak peduli ketika menyakiti orang lain. Jadi, ketika kita ketemu orang yang baru, senyum aja…. berbuat baik aja…. karena siapa tau itu bisa melembutkan hati mereka.”

Maka bukankah pria, sama halnya seperti wanita, adalah manusia? Maka bukankah kita perlu memperlakukan pria sebagaimana kita wanita ingin diperlakukan. Dilihat serta diperlakukan dengan penuh rasa hormat.

Saya Tante Emon, ketemu lagi di cerita lainnya.
terima kasih.

Melawan Radikalisme Sekte Covidiotism


Halo saya tante emon, dan saya ingin mengajak kalian semua untuk berghibah tentang para covidiots di Indonesia

Sebelum membedah perkara covidiots ini, saya mau cerita sedikit dulu deh. Jadi buat yang kalian belum tahu, saya saat ini menjadi peneliti di sebuah research center di Jepang. Nah presiden di reseach center ini adalah mantan epidemiologist. Jadi Beliau tau banget lah dunia persilatan ini. Ketika Tokyo dan sekitarnya punya 500 kasus dan langsung status darurat, Beliau langsung kirim pesan di milist dan isinya kira-kira

“….Kita tahu bahwa dengan teknologi saat ini, kita bisa dengan cepat membuat obat atau vaksin apapun. Sayangnya yang paling sulit bukanlah mengalahkan virus apapun, namun mengalahkan ego manusia. Saya paham betapa berat situasi ini. Namun ingat pula bahwa kebijaksanaan manusia diukur dari seberapa kita bisa kita menahan keegoisan kita, seberapa bisa kita berpikir jernih Ketika terdapat suata masalah.
Tidak ada diantara kita ingin sakit, terpisah atau bahkan kehilangan keluarga atau teman, maka mari kita percaya dan mematuhi segala anjuran yang diberikan oleh para petugas Kesehatan dan pemerintah. Mari kita bekerjasama. Semoga setelah ini,  kita menjadi manusia yang sehat secara jasmani dan rohani.

Gilaaaa! Rasanya kayak dibasuh pakai air Zamzam gak lo!
Mungkin kata-katanya lebih dalam dari itu ya, soalnya saya kan level Bahasa Jepangnya kore-kore, dan ini semua hasil olah kata google translate. Tapi itu menggambarkan segalanya sih. Seluruh chaos ini, bukan serta merta karena virusnya sendiri, tapi karena keegoisan manusia.

Oh ada yang kurang, ke-sotoy-an manusia.

Saya rasa masyarakat Jepang layak lah “naik level” secara kualitas. Kalian harus tau ya, tingkat vaksinasi di Jepang itu busuk banget, bahkan kalau dibandingkan sama Indonesia. Tapi tingkat penularan mereka terjaga banget. Kenapa? Karena taat prokes! Karena semua orang bersih, pakai masker, cuci tangan, makan makanan sehat dan bergizi.

Sementara negara berflower, mohon maaf, beberapa boro-boro naik harkatnya sebagai manusia, naik kelas ke SMA aja saya ragu loh AHAHHAHAHAHAHA… ini loh, ini lah mengapa kalian wahai manusia Indonesia yang hebat, Ketika kalian di bangku sekolah menengah, jangan cuman kejar nilai tapi serap semua ilmu yang ada.

Saya mohon izin ya untuk teman-teman yang nakes, kalian kan baik, jadi kalian gak usah bikin konten-konten nge-gas. Biar saya yang wakilkan.


Gini ya, kalau kalian buka buku teks biologi kelas X, kalo Angkatan lama SMA kelas 1.  Tidak ada obat untuk  bunuh virus. Seinget tante, antiviral drugs itu tidak membunuh virus, tapi mengurangi daya replikasi si virus. Itu pun kalau virusnya udah ketahuan.

Makanya, kalau lawannya virus, cara paling ideal yang tubuh kita bisa lakukan adalah memperkuat antibody tubuh kita. Jadi defense kita nih yang harus sip. Nah, supaya antibody kita bisa menang melawan si virus, maka antibody kita harus sudah punya kisi-kisi lawan mereka siapa? Jadi mereka tahu, alat tempurnya apa saja.
Masalahnyaaaa~~~ covid ini virus baru, jadi antibody umat manusia di muka bumi ini masih kaget “Waduh ini apaan nih?”.Antibodi ini jadi bingung cara lawannya gimana.
 Sebagai ikhtiar agar antibody kita bisa mengenal virus baru ini, maka diberikanlah vaksin. Vaksin ini virus yang sudah dilemahkan. Harapannya, tubuh kita jadi lebih siap untuk menghadapi si virus ini. Jadi kebal? Ya gak! Gak gitu cara berpikirnya.

Kalau kalian lemah di kalkulus, terus kalian dikasih bimbel khusus kalkulus, apakah Ketika tes kalkulus selanjutkan kalian langsung dapet nilai 100? Ya gak~~~~tapi setidaknya gak dapet nol-nol banget.

Sama, sama, vaksin pun begitu. Apalagi, vaksin covid ini dibuat awal banget ya karena status darurat. Idealnya tidak begitu, karena virus itu akan terus bermutasi. Proses pembuatan vaksin biasanya cukup lama karena menunggu mutasi si virusnya stabil. Jadi bagian farmasi jelas nih, dia berubahnya sampe delta kah? Sampe gamma kah? Atau gimana? Nah, vaksin yang ada sekarang belum sepenuhnya diujikan untuk varian-varian yang mutasi. Jadi pun kalian sudah vaksin, tapi kemudian pongah tidak taat prokes lagi, lalu apes kena virus varian baru, terus kalian lagi gak fit. Ya kena juga.

Alhamdulillah kalau setelah itu kalian cuman mengetuk pintu rumah sakit, kalau kalian mengetuk pintu akhirat?Hayo? gimana?  Apakah amal perbuatan kalian cukup untuk menyelamatkan diri  dari azab menjadi BBQ di neraka Jahannam? Belum tentu.

Jadi kalian masih harus tuh pake masker dan cuci tangan pake sabun atau at least pake hand sanitizer. Apa sih susahnya pake masker? Kalian mati gitu setelah pake masker? Apa sih? Sesak? Kalau kalian jalan 3 langkah pakai masker lalu sesak nafas, itu bukan salah maskernya, itu mungkin kalian ada masalah jantung atau paru-paru. Mohon maaf, kalian harus ke spesialis penyakit dalam.

Yang lebih “blokgoblokgoblok” adalah yang bilang vaksin dipasang chip.

Itu bagaimanaaaaaaa ya Allah~~~~~~ ini benda cair ya, mau ditempelin chip gimana? Yang kayak gitu tuh tau bedanya zat cair, padat, dan gas gak sih?

Apalagi? Ah virus doang, masa’ gak percaya sama Allah. Permisi, ini kalau di kisah di agama saya, khalifah Umar bin Khattab, khalifah paling sangar sepanjang sejarah Islam, pas ada wabah Tha’un sekitar tahun 18 Hijriah, doi juga cabut bro! Ini khalifar Umar yang sehat, kuat, dan tidak terpapar fast food dan micin.
Maka Andaaaaaaa~~~ ya ahli kubuuuuuuur~ yang sudah dihajar tahu bulat, cimol, cireng, boba, dan aneka fastfood, dan bahkan untuk beli makanan aja pake order ojek. masa’ Anda PD banget sih. Gaya hidup kita itu sesungguhnya telah membuat kita lebih lemah dan lembek dari. Jadi ya sadar diri aja. Jangan gila deh.  Udah Lemot Lemah otot kan harus dijaga jangan sampai Lemot Lemah otak juga ya AHAHAHHAHAHAHAHAHAHA.

Atau kalian bersikukuh, virus ini gak ada, ya udah telan dan nikmati itu semua sendiri. Gak usah ngajak orang.

———

Duh kalau inget jadi emosi banget. Emosi gak sih kalian?
Saya sih emosi tingkat dewa dewi ya. Karena rasanya kita udah begitu patuh, patuh hingga banyak hal yang dikorbankan. Eh terus, stuck aja gitu karena banyak orang blokgolblokgoblok dan membuat situasi kayak reset seperti awal lagi. Gak ada proses belajar sama sekali. Gak ada! Sedih gak?

Oh kalian pikir saya tidak merasa kesal karena saya di Jepang. Wah kalian salah banget, saya korban psikologis dari covid di Indonesia. Satu, saya gak bisa pulang-pulang nih karena kalau saya pulang, Jepang enggan mempersilakan saya masuk lagi karena Indonesia dianggap berbahaya. Bukan hanya saya ya, banyak loh pelajar, peneliti, dan pekerja magang yang stuck di tanah air
 Dua, Mama saya yang diabetes sempat harus terhenti untuk check up karena RS penuh sama pasien covid dan covidiots yang gak ngaku klo mereka covid. Jadi ke RS bilang meriang biasa, eh padahal covid. Ya nular kemana-mana.
Tiga, ini personal sih, saya mau memperkenalkan seseorang ke Mama dan adik saya. Dan itu semua ambyaaaaaaar karena covid. OMG OMG I am getting old, I cannot make any kind of plan delayed anymore.

Jadi kalau saya mau kasar, hey covidiots, Anda BIADAAAAB!

Tapi sudahlah ya

Semua cerita dan complain ini saya ceritakan kepada seorang teman saya, dan dia malah ketawa “You know what, Marissa. You cannot fight ignorance. We can’t. Don’t waste your energy.”

Dan iya juga sih. Mungkin saya sudah harus mulai memaafkan para biadab-biadab ini.
Susah sih.
Tapi

Mengapa kita harus menuntut orang-orang yang sudah terlanjut covidiots ini untuk berubah?
Saya kemudian sampai pada suatu pemikiran bahwa, jangan-jangan para covidiot ini sudah mengimani loh. Mereka sudah bersyahadat, sudah membaptiskan diri, dengan seluruh kerangka pemikiran covidiotism dan secara sadar sudah membentuk sekte covidiotism. Kita kan gak bisa memaksa untuk mengubah “iman” seseorang. Mau gimana coba? Mereka pasti tidak rela untuk serta merta, dalam tanda kutip, murtad dari keimanan mereka sekarang. Di mata mereka,  kita nih yang mengimani keberadaan covid ini yang menjadikan prokes adalah bagian dari rukun iman kita, adalah orang-orang kafir.

Mereka kemudian mau mengajak kita semua untuk untuk menganut covidiotism. Mayoritas tidak mampu untuk bertarung secara logika dan pemikiran ilmiah, maka mereka menggencarkan terror! Ya! Mereka adalah teroris modern, yang secara sadar melakukan bom bunuh diri dengan cara menyebarkan virus, hoax, dan teori konspirasi terkait covid ini kepada kita semua. Mereka sebuah organisasi baru! ICIS: Ingin Covid Infeksi Semua.

Apa lagi yang bisa kita harapkan dari orang-orang seperti itu, apa? Kalian tunjukin video apa yang terjadi di India, di RS-RS yang penuh, apakah mempan? Tidaaaaak? karena penderitaan karena covid itu sepertinya mmmmm…. Tidak masuk ya ke aqidah mereka. Covidiotism adalah bentuk radikalisme baru, sehingga apa lagi yang bisa kita harapkan dari orang-orang yang radikal ini. Sekarang, perkara kita, apakah iman kita cukup kuat untuk menjaga diri dari sekte covidiotism ini?
Semoga kita kuat ya, semoga yang masih punya keluarga yang terjebak di sekte covidiotism, bisa diberi kesabaran dan kekuatan untuk membawa mereka hijrah. Kalau tidak, setidaknya semoga kita yang kuat dan bertahan. Dan inget, Ketika kondisi darurat, pasangkan masker oksigen ke diri sendiri dulu sebelum ke orang lain. Sehat-sehat ya semuanya.  Saling mendoakan.