Pulih: Karena trauma itu ada dan nyata


Setelah sekian lama saya membiarkan blog dan podcast berdebu, saya kembali.
Beberapa minggu kebelakang, saya memang sedang tidak karuan, mentally.

Jika kalian melihat saya, orang yang sangat ceria, nothing to lose, selalu ketawa, menikmati hidup…. itu memang saya. Tapi di balik itu semua, saya juga manusia biasa. Punya masalah, punya hal-hal yang saya pilih untuk kubur dalam-dalam dan kalo perlu, gak usah dibuka-buka dan diinget-inget lagi deh. Belakangan, setelah banyak baca buku dan denger podcast, saya menyadari kalau jangan-jangan saya punya trauma. Dan itu menjawab begitu banyak hal “aneh” yang selama ini saya rasakan.

Saya menulis ini (atau saya bicara ini kalau kalian denger versi podcast) bukan untuk mengais-ngais belas kasihan atau simpati dari siapapun. Dengan berbagai warna-warni kehidupan, saya kuat dan bertahan sejauh ini ya. I am so damn cool! Saya berbicara ini karena mau share aja kalau permasalahan trauma atau kalau bahasa yang rada kerennya Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) itu nyata, dan mungkin dialami banyak banget orang. Tapi orang yang punya trauma ini gak ngerasa, atau gak mau tau karena itu terlalu mmmmm terlalu dark, dan sedih. Sedangkan orang-orang di sekitar si trauma gak punya persiapan apa-apa menghadapi hal-hal “ajaib” yang terjadi ketika si trauma ini tiba-tiba “meledak”, tiba-tiba triggered. Lalu akhirnya semua saling menjauh, saling sepi. Padahal, itu semua bisa diatasi. Dengan banyak kesabaran sih… banyaaaaaaak banget….
Seperti cerita saya kali ini.


Untuk yang belum tahu, saya ini walau anak mami banget, nget, nget, nget, tapi sesungguhnya saya ini anak papi banget. Sewaktu saya kecil, saya jauh lebih dekat dengan ayah saya dibandingkan Mama. Yah sama aja lah, biasanya kan anak perempuan kan memang lebih dekat dengan ayah ya. Father is always a daughter’s first love.
Sayangnya, ayah saya meninggal dunia saat saya baru menginjak SMP.

Saya nggak akan cerita detil mengenai wafatnya Beliau, tapi yang pasti Beliau sudah sakit cukup lama, dan salah satu penyebab Beliau meninggal dunia adalah jatuh.

Saya ingat betul, betul-betul ingat, saya bahkan tidak menangis sama sekali saat Beliau meninggal. Adik saya masih keciiiiiiiil sekali saat itu, dan Mama saya sedih setengah mati. Di pikiran saya saat itu “Kalo gw cengeng, kalo gw gak kuat, keluarga ini selesai. Siapa yang akan lap-in air mata Mama dan adik gw kalau gw sendiri sibuk peres sapu tangan sendiri.”

Gileeee, Emoooon…. sungguh Anda keren sekali! Saya pikir begitu. Saya pikir perkara di dunia persilatan kelar!
Dan jika kalian liat “Wah Emon itu gils ya, tangguh banget.” I am, dan itu Emon sejak h+1 jam ayah dikebumikan.

Tapi ada satu yang rupanya ikutan terkubur saat itu: Rasa percaya saya pada orang lain.


Singkat cerita, saya pun beranjak dewasa dan mulai tua ya ahahahahhahaa…
Emon terus menggila, saya gagal lebih banyak daripada saya berhasil, tapi tetap optimis dan ceria menatap masa depan. Jeng jeng jeeeeeeng!

Eits, tunggu dulu! Ada satu yang masih janggal. Saya enggan berteman dengan banyak orang.
Dulu mikirnya, karena saya memang introvert garis keras, karena saya malas dengan gosip-gosip tidak bermutu, dan sebagainya. Dan itu gak jelek-jelek amat, karena teman yang saya punya sudah pasti yang teruji dan terbukti paling top, berkualitas, dan tahan banting. Dan saya santai aja, everything seems normal lalalalalala.

Eh tapi tunggu-tunggu-tunggu… kenapa saya jomblo terus ya? Sebagai orang yang pernah di-kick dari grup mentoring, tentu saja saya bukan anggota tim Indonesia tanpa Pacaran. Saya sih bodo amat orang mau pacaran atau gak, tapi emang intimacy itu segitu pentingnya? Kalau butuh temen, kan ada temen yang lain, atau piara kucing… anjing… hamster…kura-kura…. banyak solusi.
Untuk bantuin ngerjain tugas, helooowww…. di era teknologi digital geneeee bisa keleeeus semua dicari di google.
Untuk apa sih?

Saya pikir saya mungkin terlalu mandiri, atau jangan-jangan…. aseksual?

Nah! Gak juga! Karena saya seperti remaja dan wanita ababil lainnya, pernah juga naksir-naksir orang. Saya menikmati proses berlari, mengejar, manarik, mengulur, apapun itu. MASALAHNYA, ketika kemudian objek telah terkunci lalu mendekat…. saya yang kabur, dengan kecepatan penuh.

Ini out of record ya, ada juga orang-orang bernasib malang yang kemudian bilang dengan cheesy-nya “Mon, gw tuh mau mengenal lo lebih dalam loh.” Baru mau kenal loh padahal.
Per-sekian-detik setelah itu, saya akan lari. Block kontak orang itu. Dan kalau aneka jimat bisa membuat orang itu mental dari sekitar saya, pasti saya pakai deh.

Saya tidak ingat betul alasan kenapa saya sejahat itu. Tapi setelah sekarang diingat-ingat lagi, dari dalam hati “Gak… gak boleh sayang banyak-banyak ke orang lain, nanti orang itu pergi.”

Bagi saya, lebih baik gak perlu kenal dekat dengan orang, daripada kemudian sedih kalau orang itu harus pergi.
If you can’t have it, or if you know that you will lose it, it is better to never have it.

Dan hari-hari pun berjalan seperti biasa, tanpa memperdulikan catatan kriminal yang telah saya torehkan di muka bumi.

Hingga suatu ketika negara api menyerang. Saya bertemu seseorang, di blog emonikova saya sering sebut dia “Mamas.” yes! Mamas favorit semua pembaca blog emonikova. Dia masih ada, dan kami masih bercengkrama. Hanya saja beberapa minggu lalu dia nyaris…. nyaris saja…. meninggalkan saya.
Dia sempat tidak sadarkan diri beberapa hari.

Dan kali ini saya seperti ditampar habis-habisan Tuhan.


Untuk yang belum tahu tentang Mamas, hmmmm… he is my best friend, super duper best friend.

Saya punya beberapa ekor sahabat, tapi Mamas ini spesial, karena dia sudah beberapa kali saya buat repot, dan masih cukup gigih untuk selalu ada. Oh… fyi, kami berbeda passport.

Mamas itu gimana ya? Orang yang sangat supel, easy going, tapi sulit untuk dikupas tuntas setajam sileeeet! ahahhahaha. Long story short, anehnya kami tuh bertahan untuk saling ngobrol dan tukar cerita hingga hari ini.
Lancar-lancar saja? tentu tidaaaaaak! Seperti biasanya, saya berperan jadi pemeran antagonis. Dia punya beberapa hal yang saya sebel, dan seiring dengan hubungan kami yang semakin akrab, saya jadikan itu jadi tameng.
“Aku tuh gak suka kamu gini…gini…gini…. kayaknya udahlah kita gak usah temenan lagi.”
Gileeee… kayak anak SD Inpres lagi maen bekel gak sih? childish banget!
Dan jawaban dia selalu saya “I am sorry, but calm first, I will reach you again.”

Terus begitu. Duh kok ini orang bebal banget ya.

Dia juga orang yang selalu minta kabar tentang Mama dan adik. Bahkan inget jadwal check up Mama yang saya sendiri aja sering lupa.
“How is your mom goin’? I remember she has her medcheck right? How is her leg now?”
Dan karena saya lemah dengan orang-orang yang bertanya tentang keluarga saya, maka tentu harus defensif dong! Iya dong! Maka tentu saya harus ketus “Kenapa lo harus tanya-tanya tentang keluarga guweeeeh!?”
Dan jawaban dia pasti cuman ketawa-ketawa dan “Ya gak apa-apa, emangnya salah?”

Pernah juga “Nanti kalau ke Indonesia, saya boleh ketemu Mama sama adik kamu ya?”

Pertanyaan yang mungkin bikin meleleh para wanita! Bikin baper! Tapi untuk saya, itu aroma bahaya.
Bahkan Mama dan adik saya sudah antusias loh karena mereka juga ingin kenalan langsung sama si Mamas-Mamas.
Tapi tentu saja, saya insecure ahahahhahahahaha….
Semua jurus sudah saya kerahkan “Duuuh buat apa sih?”, “Gak usah lah jauh, abis-abisin ongkos,” “Mau apa sih, di rumah tuh banyak kucing, nanti kamu alergi lah, batuk-batuk lah, perlu ke rumah sakit lagi. Duh repot!”

Mama saya sampai “Loh, mana? Katanya mau kenalan sama Mama?” Gak ada Maaaaaa…. gak usah ditunggu-tunggu lah.

Kejam gak? Saya baru sadar itu kejam sekarang.
Dan jawaban si Mamas brekele ini “Ok, but I will keep make time to meet them.”

Hingga akhirnya koronce datang. Saya yang tahu kalau international flight pasti stop hingga beberapa tahun kedepan, mulai PD “Oh ya udah, boleh kok. Orang rumah juga nanyain sih.”

Dalam hati “Lalalallalalala…. tapi pasti kamu gak mungkin mengayuh sampan bukhaaaaan…. syalalalalalalalalala.”
Dia yang udah mulai cerita-cerita tentang keluarga dia, saya cuek aja “Waaaah keren” tapi entah kenapa ada upaya defensif untuk lebih dekat lagi dengan orang ini dan seluruh hal di sekitarnya.

Lalu kemudian sebuah kecelakaan terjadi.


Beberapa minggu yang lalu, saya gelisah. Kayak merasa kok ada yang salah ya. Tiba-tiba gak mau makan, konsentrasi buyar. Apakah ini efek vaksin? Oh atau karena mau PMS kali ya? Perubahan iklim?
Gak paham, tapi yang pasti saya merasa ada yang gak beres dengan Mamas. So I tried to reach him. Dan gak ada balesan.

Karena sudah terlanjur goblok kan, saya sadar kalau saya tidak punya kontak orang-orang terdekat dia. Dan ingat, kami berbeda passport. Jadi tentu saja saya hanya terdiam, bingung, cemas, panik. Ini ada apa? Ada apa?

2 hari…. 3 hari…. seminggu…. 10 hari…. dua minggu… dua minggu lewat 2 hari

TING! Aha! Akhirnya ada balesan.

Dengan santainya dia bilang kalau dia harus bed-rest beberapa hari, tidak sadarkan diri beberapa hari, karena dia jatuh dan terkena benturan keras di kepala.
“But I am fine, hehehe”

Dan itu udah gak lucu sama sekali lagi. Semua jadi gelap….
Tiba-tiba saya ingat apa yang terjadi pada ayah, mereka ulang semua rentetan peristiwa yang ada, dan itu rasanya sakit banget.

Rupanya nangis histeris sendirian di pojokan itu gak kayak romantisasi nangis di pojokan sambil showeran. It hurts.
Rasanya gimana ya, mungkin perpaduan antara marah dan takut.
I don’t understand why I be angry, tapi yang pasti rupanya saya takut…. rupanya saya takut kehilangan Mamas keras kepala yang satu ini.

Saya yakin malam itu saya histeris, agak lupa sih…. tapi yang pasti manusia yang masih hidup itu cuma bilang “Hei, hei, it’s okay, I am fine, look I am fine.”

Rupanya selama ini, saya aja yang terlalu pengecut untuk menyayangi orang lain dengan cara yang seharusnya. I don’t want to lose this person. Dan rasa-rasanya, Tuhan bilang “Jadi gimana? Hah? Mau begini terus?”

Malam-malam selanjutnya tidak sedramatis yang kalian duga, karena mungkin HP Mamasnya udah hang karena dihujani aneka spam yang intinya cuman “Maaf.”

Dan jawaban dia selalu sama, “I understand, it’s okay. Just remember you are stronger than you think.”

Gengs, ini chessy dan geli banget sih, tapi…. gw mau pulih.


Udah sedih-sedihnya….
poin yang mau saya garis bawahi kali ini adalah, trauma itu ada. Orang yang memiliki trauma itu ada dan nyata, mungkin lebih banyak daripada yang kita kira. Mungkin orang-orang di sekitar kita yang gak pernah kita duga-duga. Akan ada saat orang itu terpuruk, layu, atau bahkan ada yang meledak. Wajar sih kalau kita yang gak tau apa-apa tiba-tiba kaget, lalu memilih pergi dan menjauh. Manusiawi…. daripada nanti kebawa-bawa kan ya.
Tapi rupanya, orang yang memilih untuk bertahan, tidak menyerah, dan terus bilang “Come on, it’s gonna be alright”, “You always have me” sangat menolong. Rupanya hal-hal kecil seperti itu bener-bener seperti plester untuk aneka luka gores. Dan seperti layiknya luka gores, beberapa luka akan terus membekas, tapi setidaknya luka itu bisa kering dan tidak sakit lagi. Dan jika luka itu di luar jangkauan tangan kita, kita butuh perawat yang sabar, ulet, dan cekatan untuk membantu mengobati luka-luka itu.

Semoga, kita menemukan perawat itu. Dan moga-moga perawat itu selalu sehat dan baik-baik saja.

Aamiin.

Berani tidak sempurna…


Saya punya tekad untuk menjadi emon yang produktif. Bukannya apa-apa, tapi karena sebagai manusia… sungguh sebuah hal lumrah kalau saya galau, sedih, stress, dan hal-hal manusiawi lainnya. Bagi saya, tidak ada hal yang paling baik untuk melupakan hal-hal yang pedih, selain dengan cara move on, being busy….

Kalian tidak tahu kan betapa penatnya jadi peneliti. Deg-deg-an nunggu keputusan reviewer jurnal, pusing analisis data, terus baca hal yang serupa berjuta-juta kali, belum lagi kehidupan sosial yang agak-agak terombang-ambing. Banyak banget suka dan dukanya. Yang semoga aja, terbayar tunai sama Yang Mahakuasa. Kalo gak, kayaknya bakalan saya tagih terus deh. I am doing everything more than what people can imagine.

Nah, di penghujung bulan Mei ini, saya yang nyambi jadi pengajar online sebuah univ harus mulai menyelesaikan tugas memeriksa PR mahasiswa. Saya tidak bisa membayangkan betapa luas jiwa dan hati para guru dan dosen di saat pandemi seperti ini. Pintar akademis saja gak cukup loh gengs! Harus pandai dengan komputer, aneka software, dan yang harus lebih lihai lagi “MEMBACA MAHASISWA” yang bagi saya sih “Wah…. drama sekaleeeee…”

Ada yang tidak mengumpulkan tugas yang deadlinennya sudah sebulan yang lalu terus tiba-tiba kontak “Bu, waktu itu internet saya mati.” Laaaah kan bisa di hari selanjutnya :’)
Ada lagi yang salah upload tugas, dan setelah dikontak berjuta-juta kali, gak ada balesan.
Belum lagi banyak jawaban yang kopas plak-plek-plak-plek-plak. Yang kayaknya pas dikopas, otaknya lagi pada diistirahatkan di kulkas. Wallahu’alam.
Sungguh begitu banyak hal ajaib, yang kalau saya tatap muka sama mereka sih, mungkin saya udah banting microphone.

Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya….
Ada sebuah tugas yang sebenarnya begitu sederhana sih. Mahasiswa diminta untuk menuliskan dampak negatif dan positif dari globalisasi.

Yang dampak positif sih yaaaa standar lah ya….
Nah yang dampak negatif ini MENARIK!

Lebih dari 50% jawaban mahasiswa, pasti menuliskan “Globalisasi akan membuat tenaga kerja asing masuk ke Indonesia.” bahkan ada yang langsung to the point “… akan membuat tenaga kerja dari Cina semakin banyak.” Loh, kenapa emangnya sama tenaga kerja dari Cina. Moon maaph, kalo etnis Cina, toh yang WNI juga sudah banyaaaaaaaaak, dan mereka orang-orang yang baik. Mana masakannya enak-enak pula, ya Allah~~terima kasih, karena ada akulturasi Tionghoa, masakan Indonesia jadi makin beragam dan enak-enak ya Allah~~~~~~ m(T^T)m

Belum lagi jawaban, “Tenaga kerja Indonesia akan semakin sulit bersaing baik secara nasional maupun global.”

Ada lagi “Membawa kultur yang buruk”, versi religius “Bisa berdampak buruk pada kultur dan iman masyarakat Indonesia, karena tidak sama dengan budaya dan agama mayoritas.”

Saya tentu misuh-misuh, namun apa gunanya misuh-misuh di dunia onlen-onlen yang rasa-rasanya kurang greget, kurang dramatis, dan mungkin kurang mantap kalau kepala belum pada dikeramas dan diberi pijatan-pijatan microphone.

Terlepas itu karena kasus “kopas” yang…yang…. yang tadi itu, yang pas dipake kopas, otaknya lagi hibernate mode di dalam freezer.

Tapi saya kemudian jadi berpikir, kenapa setakut itu sih? KENAPA?

Mari kita mulai dari perkara budaya dan keyakinan. Se-insecure apa, selemah apa, dan sebodoh apa kita hingga kita harus khawatir akan langsung, secara serta merta, terpengaruh kebudayaan dan keyakinan orang lain.

Jadi belajar ngaji dari level iqra sampai ubanan ini, apa faedahnya, kalau kemudian luntur karena, misalnya globalisasi.
Masa iya ada bule, kiclik-kiclik-kiclik, datang sebagai turis misalnya… terus gaya hidup kita langsung jadi sok-sok bule gitu. Kayaknya temen-temen kita yang orang Bali tetep dengan harkat dan martabatnya sebagai orang Bali. Itulah kemudian Tuhan menganugerahkan tempat mereka jadi obyek wisata laris…. dan jangan lupa, dulu setiap UN, nilai UN tertinggi itu pasti punya anak Bali. Mama saya tuh dulu sampai bilang “Ini jangan-jangan Allah pun jadi sayang sama Bali, abis orang-orangnya gak ribet.”

Tapi well, baiklah….
Sebagai suku dan penganut agama mayoritas, saya emang ngerasa beberapa oknum dari kita mmmmm memang secemen itu sih. Lah, puasa aja manja sampe harus tutup-tutup warung. Kenapa? Liat orang haus terus jadi pengen buka gitu? Ish~ yaaaaa ampuuuuun anak TK nol kecil banget.

Tapi ya sudahlah ya… mau gimana lagi coba. Konon, kita cuman bakalan naek kolestrol darah kalau mikirin orang-orang yang ignorant. Karena lagi koronce gini kan kesehatan mahal yang bok, mending kalem-kalem aja.

Tapi saya lagi-lagi terganggu dengan jawaban takut pada tenaga kerja asing, warga negara asing, dan produk impor. Kenapa?

Tanpa menampik bahwa, memang…. dan seringkali, pemerintah kita kurang bijak dalam memperhitungkan kesiapan sumber daya manusia dan industri dalam negeri (ini emang greget sih)
Tapi… apa jangan jangan kita juga merasa bahwa kualitas kita memang masih “meh” aja. Atau akhlak kita yang memang masih harus ditadaburi dulu :’D

Bayangkan jika kalian di dalam suatu kelas, terus kedatangan murid baru, dari luar negeri. Atmosfer sekolah dan kelas yang baik tentunya akan penuh dengan antusiasme. Semua murid veteran akan mencoba membuat si murid baru nyaman, kemudian saling ngobrol, rumpi, kenalan, dan tanya-tanya.

Tapi bisa juga, si anak baru ini kemudian kena bully habis! Tidak ada yang berteman dengan si anak baru.
Setidaknya ada 3 alasan.
1. si anak baru ini memang nyebelin, gak mau kerja-sama. Yaaaaa…. kita-kita kan jadi males juga ya nemenin yang model gini.
2. anak-anak di kelas memang pada dasarnya badung-badung, dan gak suka aja sama orang yang “bukan golongan kami.”
3. si anak baru ini rupanya pintar, lalu menarik perhatian bapak ibu guru! Anak-anak lama mulai geram dan iri “Cih, anak baru…. bisanya cuman cari perhatian aja!”

Masalahnya, kita ada di kasus yang mana? Apa jangan-jangan… jangan-jangan…. kita cuman iri dengki aja dengan orang-orang yang kayaknya kemampuannya lebih aduhai daripada kita.

Jujur saja, saya pribadi sering loh merasa iri AHAHAHHAHAHAHA.
Karena sejak sekolah saya bukan anak yang pintar, dan “B” aja, terus sering kena terapi “Jambak rambut kribo” sama Mama saya, saya tuh suka meratapi kebodohan-kebodohan saya. Saya kerapkali membandingkan diri saya dengan orang lain.

Nah… sejak saya SMA, saya selalu kagum dengan sebuah sekolah katolik yang tetanggaan dengan SMA saya dulu. Kok ya anak-anak di sekolah itu menang olimpiade sains terus ya. Ini apa harus pindah agama biar bisa pintar berhitung. Mereka makan apa ya kok bisa pada pinter, kayak pula. Ya Allah…. saya ini loh, itu 9+ 7 aja kadang mesti pake kalkulator.

Sampai S3 kelar, saya masih terperanjat dan suka sedih sendiri, “Ini kok saya gak pinter-pinter ya.” Kalian suka denger dong, Asian are so good in Math! Ini kayaknya “Asian”nya para East-Asian ya, soalnya… yang model-model kayak saya kayaknya gak masuk sample. Nah, riset saya ini kebetulan erat kaitannya dengan ekonomi, matematika, dan statistik. Dan tentu saja…. rasanya dikuasai oleh rekan-rekan saya yang dari Cina, Singapura, Malaysian Chinese, Korea, dan Jepang. Tinggalah tante emon yang bagaikan Timon di sarang hyena…

But they are so smart! Dan secara fair, dan kalau saya bisa… kayaknya saya mau standing applause. They are really really really really really smart. Dan saya berani untuk memuji mereka terang-terangan loh.
Dan itu titik dimana saya percaya bahwa perjalanan saya untuk belajar masih panjang. Kalau saya kebanyakan galau, sedih, menyalahkan diri sendiri, saya tetep disini-sini aja. Malah mental health yang kena. Sedangkan mereka moving forward, getting greater and awesome.

Saya selalu bilang “Okay Emon, jangan kalah. Suatu waktu, harus mencapai kualitas yang lebih baik dari mereka-mereka yang lo bilang keren.”

Bisa gak ya? Ya gak tau… tapi toh, harus dicoba kan ya. Karena iri, misuh-misuh, gamang, dan aneka toxic positivity itu rupanya…. rupanya gak bawa kita kemana-mana.

Dulu, salah seorang teman saya bilang “Mon, suatu hari kamu akan ‘ngeh’ dan bilang ‘Ooooooooh gini toh’ sama hal-hal yang ditakdirkan Allah buat kamu.”

Dan itu benar! Cuman terkadang kita tidak cukup sabar. Terkadang, menyalahkan itu memang lebih gampang aja.

Menyalahkan keadaan, sampai kemudian menyalahkan Tuhan, “kenapa harus gini sih? kenapa harus gitu sih?”

Kembali lagi ke topik kita semula.
Kenapa ya kita begitu phobia pada banyak hal.

In my personal case, mungkin karena memang banyak yang blurry aja kedepannya bakalan gimana sih? Duh ini aja udah seberliku-liku ini…. jangan-jangan kedepannya makin ribet.
Wajar kok, karena di muka bumi ini tidak ada yang pasti, selain ketidakpastian itu sendiri.

Eh… tapi…siapa tahu kita pun tidak seremeh yang selama ini kita duga. Siapa tahu, rupanya pemikiran kita, mental kita, fisik kita, lebih kuat dari yang siapapun tahu. Kata Mama, kalau masih sama-sama manusia, masih di planet yang sama, pasti sama-sama punya waktu 24 jam dan liat matahari yang sama.

Maka kita bisa melakukan apa yang orang lain bisa.
Maka kita bisa melakukan sesuatu di luar ekspektasi dan batas-batas yang kita buat sendiri.

Jangan meremehkan Tuhan dengan meremehkan kemampuan diri kita sendiri.

————-

Tsukuba, Akhir Mei 2021.

Catatan Akhir Ramadan


Ramadan tahun ini lagi-lagi masih kurang lengkap, karena lagi-lagi…. gara-gara pandemi… saya gagal kembali ke rumah. Untuk membuat saya terdistraksi, Allah menyibukan saya dengan komentar reviewer yang pedas, sepedas keripik Mak Icih level 100. Mungkin kalau kalian bukan peneliti, kalian tidak tahu betapa getirnya mendapat kritik reviewer. Dan kritik itu harus dibaca berkali-kali karena kalau kita mau karya kita publish, kita harus membuat komentar detil poin per poin. Membaca hal menyakitkan layiknya berzikir itu: Sakyiiiiiit!

Ramadan tahun ini, yang sulit bukan menahan lapar dan dahaga, tapi emosi yang naik dan turun.

Jangan tanya khatam Quran atau tidak, tarawih saja bolong-bolong.
Sahur saja tidak pernah, jadi modalnya Cuma minuman ion yang bisa mengganti ion tubuh dan kulit bening seperti adek-adek JKT48.
Jeleknya lagi, alih-alih ibadah yang khusyu’, kalau sudah capek saya malah marathon nonton drakor. Dari Vincenzo, Navillera, sampai Mouse. Gila! Yang kayak saya-saya gini nih yang bisa bikin drakor jadi “haram.” Bukan drakornya yang salah, saya yang dodol dan terlalu mudah luluh lantak dengan pesona Oppa Vin dan termakan penasaran gara-gara oppa Jung Ba-Reum. Tersesat oh tersesaaaaat~~~ astagfirullah!

Tapi dua minggu terakhir, saya bertekad “Gak bisa gini, Mon. Lo harus bisa merevisi sesuatu dari ibadah lo selain revisi paper lo.”
Dipikir-pikir, revisi paper, walau itu penting banget untuk karir dan tanggung jawab saya. Tapi pun ditolak (walau jangan dong please), masih bisa submit di jurnal lain. Tapi ibadah di bulan Ramadan, waduuuh… belum tentu umur sampai Ramadan tahun depan.

Tapi karena waktu sudah mepet, impian saya tidak muluk-muluk: Saya mau dengar bacaan shalat saya sendiri. Terutama saat shalat di rumah. Saya penasaran.

Ramadan hari ke-17, nuzulul Quran. Untuk kalian yang non-Muslim, jadi Ramadan hari ke-17 itu adalah saat Al-Quran diwahyukan kepada Rasulullah SAW. Pokoknya sakral banget deh.
Nah, kebetulan! Sebagai orang yang belajar music, saya tentu punya voice recorder dan clip on. Saya rekam bacaan shalat tarawih saya.

Dan setelah saya dengar lagi…. rasanya mau nangis!
Bacaannya terkesan terburu-buru, dan ayat-ayat yang dipanjatkan mandek di Al-Ikhlas dan An-Naas. Untuk Allah itu baik loh, kalau tidak! Rasanya saya sudah dapat komentar lebih pedas daripada komentar reviewer untuk paper saya.

“Gila lo, Mon… masa buat Tuhan eh lo kayak gini.”

Maka malam-malam selanjutnya saya bertekad, pokoknya pakai ayat-ayat lain dalam Quran. Pokoknya tiap rakaat shalat harus beda bacaannya.

Kalian tahu apa yang terjadi? Saya baru ngeh kalau saya sudah banyak lupa dengan ayat-ayat pendek pada Quran.

Saya loh! Saya berani diadu perkara etos kerja dan etos belajar. Pagi saya paksa diri diri saya mengerjakan riset. Malam saya belajar Bahasa. Akhir pekan? Saya belajar musik, masak, menggambar, membantuk koreksi tugas mahasiswa secara online. Saya bahkan lari dan kejar medali event-event lari!
Eh, tapi saya lupa kalau perkara ibadah itu harus dikejar juga.
Duuuuh… ayah saya penghapal Al-Quran loh, saya juga hampir sempat hapal juz 30. Tapi kemudian menunda-nunda untuk menuntaskan hapalan, eh akhirnya sampai sekarang deh.
Terlena itu rupanya memang memabukan loh.

Arghhhh…. Malu banget.
karena saya tipe yang sangat keras pada diri sendiri, saya sempat down. Saya merasa kok saya tidak pintar dunia akhirat ya. Kenapa sih, kenapa Allah harus menciptakan seorang emon dengan begitu banyak kekurangan yang meh banget. Saya sampai dengar kursus bahasa Arab online hanya karena saya merasa tengsin dengan kualitas ibadah saya sendiri.

Kalian pernah gak sih, berkontemplasi…. Terus kalian tiba-tiba sampai pada suatu poin dimana kalian tuh malu dengan kompetensi kalian sendiri. Kayak “Hei, kemana aja gue selama ini.”

Proses kontemplasi belum kelar, eh dunia heboh dengan banyak hal.
Ada feminis julid lah, ada roket jatuh lah, ada bipang lah, ada tsunami pandemi lah, kebijakan mudik gak jelas, ada pemuka agama yang sudah bagus-bagus mengayom anak muda eh tiba-tiba dihujat karena dianggap penganut aliran Islam yang berbeda.
Yang lebih panas lagi!  konflik yang kemudian meledak lagi di Palestina. Sudahlah panas, eeeeh… di negeri Nirmala masih ada yang heboh saling menyalahkan ketika ada public figure yang belum atau tidak bersuara terkait kasus ini. Mereka itu siapaaaaa? Duta perdamaian PBB? Lempar lembing cap tarkam di media sosial tidak akan menyelesaikan dan membantu apa-apa. Ada loh fund raiser-fund raiser resmi yang mengumpulkan dana untuk proyek-proyek kemanusiaan. Sisihkan sedikit tabungan kita untuk itu. Semoga semua bisa tenang di hari Idul Fitri, semoga semua manusia di muka bumi ini bisa merasakan khidmatnya hari raya.

Jujur saja, saya pribadi kayak…. “Ini manusia pada ngapain sih?”
Apa sih yang ada di benak umat manusia yang ada di planet ini sampai kemudian sibuk menciptakan konflik  dan menghujat orang lain. Yang model-model begitu, kalau muslim, apa pernah denger bacaan shalatnya sendiri? Shalat yang hanya dilakukan untuk menggugurkan kewajiban, bukan sebagai media kontemplasi, meditasi, dan memperbaiki diri. Yang jangan-jangan, arti dan maknanya apa saja tidak paham. Yang jangan-jangan kalau ditanya “Tadi baca apa pas shalat?” terus blank “Hah apa ya?”

Manusia yang sibuk merusak hubungan dengan manusia lain dan makhluk lain itu sadar gak sih kalau jangan-jangan, yang perlu dihujat itu yaaaa diri kita sendiri.

Setidaknya bagi saya, saya merasa seperti tangkai cabe rawit di bungkus gorengan. Masih begitu remeh. Jangankan energi untuk meladeni orang lain. Untuk mengurusi kekurangan diri sendiri aja masih repot. Duh ini umat manusia tuh sedang apa? Mau apa?

Perkara Idul Fitri bertepatan dengan hari kenaikan Isa Al-Masih saja heboh.

Apa sih… apa yang ada di benak manusia-manusia ribet seperti itu?

Saya jarang berbicara hal-hal terkait agama karena itu bukan kompetensi saya. Ayah saya yang hapal Quran saja selalu bilang “Ayah hanya hapal, untuk memahami dan membuat tafsir, itu ilmunya lebih tinggi lagi.” Jikalau antum-antum yang bacaannya hanya Qulhu sama An-Naas, itupun makhraj-nya blunder, percayalah bahwa kompetensi Anda begitu minim sehingga tidak sepantasnya menjustifikasi perkara dunia dan akhirat orang lain. Jangankan yang berbeda akidah, pemahaman untuk kepercayaan sendiri saja masih bobrok.

Apa jangan-jangan mengoyok-oyok orang lain itu adalah manifestasi dari ketidakpiawaan dalam berilmu dan beragama.

Saya punya teori, kenapa ada orang yang sedikit-sedikit marah meminta dihargai Ketika berpuasa, marah-marah Ketika ada warung yang buka, mengamuk Ketika ada yang beda dengan mereka.

Karena jangan-jangan keteguhan jiwa dan iman mereka ya segitu saja, namun enggan mengakui dan enggan memperbaiki diri. Kalau jiwa dan pendirian seseorang teguh, secara logika, harusnya tidak mudah goncang diterpa ujian apapun. Mengapa orang lain harus repot dengan ke-cemen-an diri kita? Kenapa?

Tapi iya sih, lagi-lagi mengeksternalkan kesalahan memang nikmat rasanya. Menjadi tidak tahu diri, memang terasa begitu ringan dan menenangkan -.-

Saya kemudian punya pertanyaan yang baru. Apa sih yang salah dengan beragam perbedaan yang ada di hadapan kita?

Kita punya impian-impian yang besar, bahkan perdamaian di muka bumi. Bahkan mimpi untuk melihat keadilan di bumi Palestina. Sebuah impian yang luar biasa mulia.
Saya pun ingin melihat suatu Ketika, kita bisa tenang berkunjung ke sana. Seluruh umat baik muslim dan non muslim bisa ibadah tenang tanpa khawatir perkara apapun.

Tapi kita bahkan belum selesai menyelesaikan konflik pada diri kita sendiri, pada metode berpikir kita. Kita bahkan belum selesai berdamai dengan konflik yang ada di sekitar kita sendiri.
Kita bahkan belum selesai berdamai dengan aneka perbedaan yang ada.

Bisakah kita memecahkan soal limit trigonometri, jikalau perkara tambah-kurang-kali-bagi saja masih sering salah. Mampukah kita menyelesaikan persoalan-persoalan yang rumit dan kompleks, ketikda permasalahan remeh temeh saja kita gelagapan?

Bisakah? Waduh saya tidak tahu dan tidak punya kapasitas untuk menjawab hal tersebut.

Sebelum saya menutup podcast kali ini, kalian tahu keputusan saya berhijab sesungguhnya karena dukungan dan perkataan teman saya yang Nasrani? Begini ceritanya.

Saya sempat kesal luar biasa dengan beberapa oknum saudara seiman saya yang bagi saya, begitu merepotkan, ribet, dan bisa membuat frustasi.

Sedikit-sedikit kristenisasi… sedikit-sedikit kafir…. Sedikit-sedikit haram… sedikit-sedikit sunni, syiah. Woi, maen jauhan dikit. Mahzab dalam Islam aja ada macem-macem. Ilmu antum kalau masih baru sampai ngetik di google sebaiknya kalem saja lah. Bayangkan! Kesal gak sih, ada sekelompok orang yang begitu percaya diri dengan pengetahuan mereka yang cetek. Itu luar biasa loh, tingkat kepercayaan diri yang patut diacungi jempol.

Puncaknya, saya begitu marah karena saya yang dulu belum berhijab, berulang kali disindir dan dibilang “Duh kalau belum berhijab kan kasihan nanti ayahnya dimasukan ke neraka.”

Saya saat itu geram! Bagi saya “Lo boleh mencaci gue, tapi jangan sekali-kali hina orang tua gue.” Saya saat itu merasa, kalau saya busuk, brengsek, apapun itu… saya berani mempertanggungjawabkan itu, bahkan jika harus dipanggang di neraka sekali pun. Oke! Jika saya yang salah, maka saya yang harus bertanggung jawab. Main yang fair lah. Kalau tidak bisa beradu argumentasi, jangan permainkan psikologis seseorang dong.

Kesal dengan itu semua, dan merasa tidak “aman” untuk curhat dengan teman sesama Muslim, saya pun akhirnya menceritakan keluh kesah saya pada teman saya yang seorang Kristen. Kenapa bukan ke sesama Muslim?  Karena saat itu saya sempat berpikir…. siapa tahu saya sial, terus malah digosipin penodaan agama. Waduuuuh, masuk koran deh.

Dengan kondisi selabil itu, teman saya bisa saja loh… bisa saja… bilang “Yok Mon, gabung klub domba tersesat.” Tapi tidak kawan… tidak. Dengan bijaknya teman saya itu bilang

“Bukan agama lo yang salah. Bukan Tuhan lo yang salah. Yang salah adalah pemahaman beberapa orang terhadap seluruh konsep agama lo yang mulia.”

Saya ingat betul, itu jawaban paling bijak yang pernah saya dengar dan ingin saya dengar. Saya ingat betul dia juga tanya

“Mon, gw bisa liat loh, lo begitu bangga pada Tuhan lo, pada agama lo. Lo cuman keliatan sewotan aja, tapi hati lo penuh kasih. Semoga lo bisa menjalani keimanan lo dengan lebih baik ya. Islam butuh orang-orang seperti lo. Dunia, butuh orang seperti lo. Semoga Tuhan menuntun jalan lo ya.”

Hal itu cemen dan sederhana banget, tapi itu hal yang saya tunggu datang dari mulut temen-temen Rohis saya. Orang-orang yang malah sibuk mengurus metode berpikir saya, yang sering dibilang, terlalu liberal.

Saya kemudian berhijab sejak 25 Desember 2012. Dan kalau kalian tanya kenapa seorang Emon begitu ambisius untuk jadi peneliti yang Go internasional dan gak kalah sama tante Agnez-Mo… Itu karena saya ingin membuktikan apa yang teman saya bilang, kalau dunia ini butuh juga manusia saya seperti saya. Saya ingin sempat memperkenalkan diri pada dunia, sebagai wanita, sebagai Indonesia, sebagai Muslimah.

Gak tau kapan… tapi itu jalan ninja yang sudah kupilih AHAHHAHAHAHAHA.

Jika saja… jika saja saya terjebak pada pola pikir sempit yang terlalu berfokus pada perbedaan. Mungkin saya tidak pernah bertemu dengan teman saya tersebut. Mungkin… saya bukanlah emon yang setangguh ini.

Semoga kalian, lebih beruntung dari saya. Menemukan hal-hal ajaib yang mengubah kita jadi lebih baik.

Saya tante emon, selama hari raya Idul Fitri. Semoga kita bertemu dengan aneka cerita di lain hari.

Saya dan Puisi: sebuah kilas balik


Image and video hosting by TinyPic
“Lain kali…
Kita main lagi,
Kala matahari lebih tinggi,
Kala hari tak lagi dingin.
Moga saat itu, pilek tidak iseng mendatangi kita lagi.

Jika tidak, mari menepi.
Menikmati secangkir teh atau kopi.
Toh kita sama-sama tidak suka dingin.

Biar nanti kuterka, cerita apa lagi yang nanti kita bagi.”
-Copenhagen, ’18

“Wah, emon kini bisa berpuisi…ini kode tersembunyi apa?”
Weits, Anda belum tahu seorang emon yang sebenarnya. Puisi dan sastra adalah seni pertama yang saya pelajari, lebih dulu dari apapun.
Kali ini tiba-tiba ini kembali gara-gara: 1.) Melihat Mbak Najwa yang narasinya selalu punya ritme. Karena ngefans, jadi tentu obsesi di dalam hati bergejolak. 2.) Melihat foto yang secara “ajaib” bagus dari sebuah suduh di Copenhagen. Butuh waktu mencuci film, dan kemudian menerka-nerka “Ini dimana ya? Ini sedang apa ya? “Eh iya, waktu itu kan….”

Kamera film membuat kita terhanyut pada nostalgia, mendekati kita dengan sisi humanis tersendiri. Dan rupanya membuat kita satu level lebih puitis.

Kita akan kembali ke puisi di atas, tapi sebelumnya mari bicara tentang puisi dan saya sejenak!

Mengapa saya berhenti berpuisi?

Saya ingat betul saya berhenti menulis puisi gara-gara “patah hati”! Bukan sembarang patah hati, ini patah hati dengan Pak Arswendo Atmowiloto.

Bagaimana tidak! Saat masih SD, berulang kali saya menulis puisi untuk Majalah Bobo dan tidak kunjung dimuat! Saya ingat sekali, “komentator” puisi yang dimuat saat itu adalah Pak Arswendo.
Hati ini mangkel juga, mulai ragu dengan kepiawaian Pak Arswendo untuk menilai karya sastra yang mumpuni. Dengan keangkuhan khas anak-anak, hati saya bergumam “Saya ini loh,Pak…. juara lomba baca puisi se-Leuwiliang!”

Hish, jika Leuwiliang bukanlah level yang cukup meyakinkan maka beberapa tahun setelahnya saya naik level! saya jadi juara lomba baca puisi se-Kabupaten Bogor. Saya makin besar kepala, namun puisi tak juga dimuat…. “Sungguh Pak Arswendo ini tidak kompeten dalam menilai sebuah karya sastra!”
Pak Arswendo sungguh tidak tahu menahu bahwa kekecewaan itu lahir karena saya sesungguhnya fans Beliau. Saya yang masih bocah sudah senang membaca novel Beliau karena kakek dan ayah saya sama-sama pecinta karya sastra. “Aduh, Pak… ini fans loh, fans saja tidak dipilih! Apa gerangan?”
Saya baca betul alasan-alasan Beliau memilih puisi yang dimuat, seringkali alasannya sepele “Puisi ini beritme, sulit membuat puisi dengan ritme.”
Loh, Bung! Ini sastra… bukan kontes pantun, apa spesialnya puisi 5 baris dengan ritme seluruh kata terakhir berakhiran huruf “a”.
Sepertinya saya masih ingat puisi yang terpilih itu kira-kira.

“Kucingku sayang
Kuberi pita merah
Diberikan oleh Bunda
Akan selalu aku jaga
Agar kita bisa bermain bersama”
-XXXX–TK-A xxxxxx

hah? Begitu saja?
Aish, hati mana yang tidak kesal ketika kalah berkompetisi dengan si pemilik kucing berpita merah (untuk Mas/Mbak pemiliki kucing berpita merah yang pernah menulis puisi untuk majalah Bobo saat bocah, peace loh :’D tak ada dendam lagi antara kita). Kucing saya bahkan lebih banyak dibanding bocah ini!

Dari diksi saja, saya pikir ini jangan-jangan Bunda-nya yang memilihkan! Anak TK berpikir seperti itu, wah… itu terlalu piawai agaknya. Itulah saudara-saudara, contoh isi hati yang dipenuhi iri dengki :’D

Lalu setelah itu, saya ingat… saya berhenti berpuisi. Patah hati! Sejak dini! Mungkin enggan kembali!

Ya! Pak Arswendo, Anda memang perlu sedikit bertanggung jawab untuk masalah ini :’D

Setelah kisah patah hati di usia dini pada puisi,
Tiba-tiba Indonesia diguncang oleh romansa “Ada Apa Dengan Cinta.” Cinta yang tergila-gila pada Rangga gara-gara puisi. Ah, jangan lupa si buku catatan Rangga yang ditinggalkannya untuk Cinta, yang isinya membuat remaja kala itu “baper.”

(PS: Nah! Asal kalian tahu saja, di usia saya yang sekarang… meninggalkan surat dan catatan sebelum lepas landas itu TIDAK SEROMANTIS ITU. Yang kemudian membaca notes itu kemudian dengan piawai merusak sisi romantis-dramatis dan akhirnya membuka telepon genggam, “Eh… ini masa’ sih? Gak, aku gak setuju sama bagian ini.” Dan ending ala-ala AADC itu sungguh fiksi belaka di era modern seperti sekarang. Jadi ayo… ayo… remaja dan pemuda Indonesia, bangkit, bangkit dari kebaperan! BANGKIIIIT!!!! ALLAHUAKBAR! Inilah jihad kita!)

Saya menjadi korban, dan membeli lalu membaca “Aku” karangan Sjuman Djaya. Bahagia rasanya ketika bacaan remaja saat itu “naik kasta.” Tidak mudah membaca karya sastra… butuh jiwa dan pemikiran yang tenang.

Saya pun jadi pembaca majalah “Horison”, biarlah Bobo menolak karya saya mentah-mentah, namun majalah sastra pasti lebih paham makna seni. Ini saat yang tepat! Biar dunia tahu bahwa remaja puitis bukan hanya Rangga dan Cinta, ada juga Marissa! Iya Marissa… saya ini!

Nah! Rupanya level majalah Horison terlalu tinggi! Saya tahu diri, manut jadi pembaca setia saja.

Tak kalah akal, “Oh mungkin kompas lah ya…. “ Saya ini pembaca setia kompas saat itu. Terutama setiap akhir pekan, ada cerpen untuk anak-anak (ya, saya suka membaca cerpen dan dongeng untuk anak-anak), dan ada juga kolom khusus untuk puisi. Ini! Ini! Ini kesempatan emas! Siapa tahu tulisan saya memang lebih cocok untuk kompas yang, pastinya, mengedepankan kualitas dan akal sehat.

Namun hati saya bukan hanya patah, saat itu remuk redam!
Penulis yang mengisi kolom puisi itu ya orang-orang sekelas Pak KH Mustafa Bisri, Pak Arswendo, dan tokoh-tokoh kawakan yang rasanya levelnya beda sekali dibandingkan rakyat jelata.

Untuk level Kompas, jangankan menulis puisi, atau prosa….menyelesaikan TTS-nya saja tidak mampu! TTS loh! Teka-teki silang!

Saya berakhir menjadi pembaca setia sastra, namun menulis? Ah mungkin bukan lapak saya.
—-

Sisi manis humanis manusia pun perlahan memudar, seiring dengan waktu.
Saya pun begitu
Saya lupa dengan puisi. Bukan hanya puisi, tapi juga musik dan aneka seni murni lainnya.
Rangga tidak lagi terlihat romantis! Tidak masuk logika Cinta perlu menunggu Rangga hingga 7 kali purnama. Apalagi hanya karena ditinggal secarik puisi. Apa hebatnya?
Cinta layik jatuh cinta pada Rangga jika dia berhasil tembus jurnal internasional terindex scopus dengan impact factor 10+!
Nah, monggo mbak Cinta, yang seperti itu boleh lah ditunggu 1 komet halley sekalipun.

Waktu rupanya membuat saya mendewakan seluruh faktor logika, lupa bahwa beberapa faktor yang bersifat humanis kadang membuat kita mengambil jeda sejenak, menghangatkan hati, mendinginkan pikiran.

Saya merasa menjadi orang yang terlalu “dingin”, lalu berpikir…. mungkin harus kembali mengingat yang dulu-dulu sempat dilupakan: Puisi, sastra, musik…

—-
Mengapa kembali?

Ada 2 alasan: 1.) Karena manusia mulai tidak menghargai esensi seni dan sastra. 2.) Karena beberapa memori dan nostalgia rupanya terlalu sayang untuk digambarkan secara “biasa”, butuh bumbu tambahan, butuh aksesori, dan saya yakin perlu ada sentuhan seni disana.

Untuk alasan pertama…. ketika saya ingin kembali menekuni seni, musik, prosa, dan puisi….rupanya dunia sudah kadung berubah!
Puisi dan Musik jadi bahan memaki, jadi ajang mencaci, jadi sarana menghakimi.
Saya tentu marah! “Ini loh! Ini! Ini yang membuat seni jadi haram!”
Kakek saya mengatakan “Sastra ada untuk memperindah bahasa.” saya percaya musik pun demikian. Loh, ini… mengapa ada banyak sekali yang mendiskriditkan seni dengan cara yang tidak elegan! Ini manusia-manusia apakah lupa menamatkan 12 pupuh yang isinya semua mengenai nasihat yang mengajak manusia berpikir secara bijak.
Apa tidak pernah piknik menonton pentas puisi? Atau yaaah wayang kulit atau wayang golek? Atau sendratari? Yang mayoritas filosofinya penuh makna.
Ini sejak kapan terjadi? Apa yang terjadi?
Saya hingga tidak menyadari itu semua.

Oh, ini tidak bisa dibiarkan! Jika ada yang perlu menyelamatkan keluhuran bahasa dan sastra, maka saya harus masuk ke dalam poros itu.
Setidaknya, jika kelak saya menjadi orang tua… rasa-rasanya saya masih ingin membiarkan anak-anak saya untuk menikmati mahakarya, Setidaknya sastra dan puisi.
Tunjukan pada saya, hari ini, anak Indonesia mana yang bisa se-level dengan si pemilik kucing berpita merah yang sudah berani menulis puisi di majalah?

NOL!

Saya memang masih dendam dan jengkel sekali dengan si pemilik kucing berpita merah, namun memori tentang “persaingan kasat mata” kami ini lucu, manis, dan menyenangkan. Diam-diam saya berdoa, semoga generasi setelah saya merasakan pengalaman serupa. Menemukan “pemiliki kucing berpita merah” mereka masing-masing.

Untuk alasan kedua….
Ah, ini tentu lebih personal, begitu personal hingga akhirnya saya bisa menulis puisi di buku harian saya sebelum kembali ke Jepan.

Saya, saya memang tidak terlalu suka bepergian. Packing! Melihat tempat baru! Bertemu orang baru! Makanan baru! Duh, terlintas saja sudah membuat encok. Jika saja saya tidak suka fotografi, mungkin tidak ada tempat yang membuat saya berdecak. Tidak ada tempat senyaman kasur saya yang sudah ditata sedemikian rupa dengan selimut berlapir dan boneka-boneka empuk serta tumpukan buku!

Namun konon, kita bukan merindukan tempat, kita merindukan pengalaman.
Merindukan ingatan yang mungkin tidak akan kembali.

Saya menemui seseorang.
Saya tahu betul orang ini merasa saya lakukan seluruh hal ajaib di muka bumi.
Tapi bagi saya, dia orang yang paling ajaib di semesta raya.
Dimana lagi ada orang yang perlu memarkir mobil tepat 180 derajat? Ia akan kembali ke mobilnya ketika dia menyadari roda mobil membentuk sudut 179 derajat! “Ah! Kurang 1 derajat!”

Seseorang yang bagi saya kikuk setengah mati.
“Loh jadi selama ini orang ini…. se-ajaib ini?” setidaknya itu yang ada di benak saya saat itu.
Kami bicara beberapa hal aneh yang tidak penting-penting amat.
Kami yang memang jarang bicara satu sama lain selama ini, rupanya bisa juga menertawakan hal-hal konyol yang kami lakukan sendiri.

Saya yang benci hiruk pikuk dan bising kota, yang merasa makan malam perlu disudahi dengan cepat tanpa perlu basa-basi, yang sudah manjadi begitu “kaku” karena terbiasa membaca dan mengerjakan aneka karya tulis ilmiah bahkan saat senggang, tiba-tiba seperti kembali bertemu “teman main.”

Hal termenyedihkan ketika pesawat lepas landas dari Copenhagen bukanlah rindu pada kota itu, tapi lebih pada setiap topik pembicaraan yang terpilih secara acak saat makan malam… “Oh, rupanya punya teman ngobrol saat makan malam itu seru ya!”

Andai… andai saja… saya bertemu dia lebih awal, di usia ketika saya masih membaca majalah Bobo… Mungkin daripada saya kerap meragukan keobjektifan para editor dan komentator kolom puisi pada majalah itu, saya akan keluar rumah… menjulurkan tangan pada orang ini lalu bilang “Ayo, kita pergi main.”

Sederhana sekali, tapi kok rasanya menyenangkan ya.
Lagi-lagi, kakek saya berkata “Sastra ada untuk mempercantik bahasa.”
Saya meyakini beberapa kenangan tidak cukup dituliskan secara biasa.
Saya merasa hal ini kemudian pantas ditulis dalam bahasa puisi. Yang sederhana saja, toh yang penting memorinya yang mengena.Dan biarkan sastra mengingatkan saya bahwa hal-hal seperti ini justru istimewa.

Ya, begitu saja…

Dan (semoga) dunia pun berpuisi lagi….

Cerita dari sebuah masjid kecil di pojok Tokyo: Catatan tentang toleransi dan saling menghargai


Entah kenapa Allah memang suka memberikan saya kisah-kisah baru yang mungkin jarang orang lain alami. Padahal kalau dipikir-pikir, saya kan kurang suka dengan keramaian ya. Mungkin karena saya punya blog yang masih hidup, dan saya percaya Allah mempercayai saya untuk menuliskan pengalaman menarik yang saya alami.

Kali ini ada berton-ton kisah dari sebuah masjid kecil yang sering saya kunjungi di Tokyo. Namanya As-Salam mosque. Ada beberapa alasan mengapa saya lebih sering ke masjid ini.

1.) Line kereta, karena letaknya yang dekat stasiun shin-okachimachi dan alhamdulillah terlintas tsukuba ekspress, jadi ketika saya beres latihan musik (yes, I am a music player too 🙂 gini-gini saya pemain koto loh) saya lebih memilih ke tempat ini. Kenapa tidak ke Tsukuba mosque, karena jatuhnya sama saja! Bagi saya yang tidak punya kendaraan pribadi, posisi masjid Tsukuba keterlaluan makan waktu. Apalagi untuk shalat Ied, hampir pasti saya tidak akan sempat mengejar waktu kesana.

2) tempatnya cukup strategis. Ada tempat yakiniku halal tepat di belakang masjid, lalu di sekitarnya ada toko makanan halal yang cukup murah meriah, belum lagi klo bosen makanan halal ada resto vegan juga 😀 I love foods!

3) Lebih sepi, bagi saya masjid itu untuk ibadah. Wong orang lagi galau kok, kan mau pembicaraan dua arah ya sama Tuhan. Jadi memilih tempat yang rada sepi lah.

Selain itu, khusus untuk shalat Ied, saya lebih suka tempat ini karena saya ingin menghindar dari sebuah fenomena kericuhan mahadahsyat yang seringkali terjadi ketika banyak jamaah dari Indonesia “FENOMENA SAJADAH”. Yang belum tau skandal sajadah, maka izinkan saya jelaskan terlebih dahulu.

Fenomena Sajadah : Sebuah fenomena dimana jamaah akhwat akan menyuruh seluruh jamaah lain untuk maju dan merapatkan shaf di baris paling depan, namun yang menyuruh biasanya tidak inisiatif untuk maju juga, disebabkan sudah telanjur gelar sajadah atau kadang hanya perkara penempatan kipas angin yang tidak ramah untuk penderita masuk angin.

Gak maen deh mamen kayak gitu-gituan…. Kadang lagi asik-asik mau doa loh, langsung lupa karena disuruh maju atau mundur atau apapun lah itu.
Image and video hosting by TinyPic

Tapi lebih dari itu, ada hal lain yang membuat saya jatuh cinta pada tempat ini.

Bertemu Saudara-Saudara Muslim dari negeri yang berkonflik

Nah! terdengar seru kan. Kalau kata Sudjiwo Tedjo, Tuhan itu Mahabercanda… kayaknya ini saya rasakan. Entah kenapa saya yang malas ngobrol ini ketemu aja orang-orang yang suka mengajak saya ngobrol ngalor ngidul, lha… saya kan jadi keasikan juga ngobrol.

Pernah ketika saya disini, pas sedang membaca Quran karena ceritanya lagi galau, tiba-tiba ada mbak-mbak yang nyapa dan bertanya asal saya dari mana. Entah apa dasarnya banyak yang salah mengira saya berasal dari negara-negara Asia Tengah, lalu kemudian kaget ketika tahu kalau saya tulen orang Indonesia mix Aceh dan Madura.

“So, you come from Indonesia? Oh sister…. I am from Myanmar. You know Rohingya, I am Rohingya”

Waduh! Biasanya kan cuman denger di berita ya, ini ketemu langsung loh.
Dengan bahasa Inggris yang terbata, dia bercerita tentang kondisi keluarga dan juga etnisnya.

“Masha Allah Sister, I really want to live in your country, I want to learn your language, I want to spend a whole life in your country. It such a beautiful place, and food…food are good very good. Allah bless your country very much.”

Terus baper, dan rasanya mau nangis kalau inget kondisi di tanah air sekarang ini. Mau nangis karena bagi saya sih, kita harus mulai mengakui bahwa kita tidak se-“heterogen” yang kita banggakan. Wong beda partai aja bisa saling ngafir-ngafirin. Wong di media sosial aja bisa perang cuman perkara mau ganti presiden atau gak. Sorry, saya pribadi sih malu dengan sikap childish beberapa orang yang seperti itu. Asal kalian tahu aja ya, keluarga Mama saya itu lebih “Muhammadiyyah” sedangkan ayah saya karena asli orang Jatim yaaaaaaa…. NU banget. Walau sama-sama Muslim ya ada beberapa hal yang berbeda ya, tapi apa kemudian perang? Gak tuh! Hingga ayah saya meninggal dunia tidak pernah ada piring terbang melayang dsb dalam keluarga kami.
Sekarang? Pret! Seakan semuanya percaya diri akan masuk surga, helooowwww… siapa tau bareng-bareng di BBQ di neraka.

Back to the topic,
Mbak ini kemudian bercerita bagaimana diskriminasi yang terjadi di Rohingya. “Sister, I can’t use hijab there, can’t… can’t…” Dia cerita bahwa ketika dia mengunjungi Ibunya, tetangganya terus nyinyir karena dia berani untuk pakai hijab. Dan bahkan ada yang ekstrim dan meludahi dia, aduuuuh kasian ya 🙁 terus mereka akan bilang “Go…go… not your home land”

Khawatir gak kalian semua denger kisah mbak ini? Serem kan!
Makanya saya tanya kok Ibunya tetep tinggal di sana? Bumi Allah kan luas ya, Cuy… kalau gak aman di satu titik, ya hijrah lah kemana.Rupanya ibunya udah rada sepuh gitu, dan yaaaah biasa lah, nostalgia kan susah di lawan ya. Suaminya meninggal di sana, dan itu rumah sudah didiami turun menurun. Rumah yang punya banyak cerita memang sulit untuk ditinggalkan. Sedangkan saudara-saudara yang lainnya sudah mengungsi ke Thailand. Eh tapi Thailand emang makanannya enak sih dan orangnya baik-baik (Mon, fokus…fokus…fokus….).

Nah! Kalian juga pasti nyinyir parah dong sama Oma aung san suu kyi? Mumpung ada orang dari sananya langsung kan mending sekalian ditanya kan. Nah, kalo kata mbak ini sih Oma Aung susah untuk melawan orang-orang yang diskriminatif di sana. Karena sejak awal, orang-orang yang diskriminatif ini nih yang mengusung dan mengangkat nama Beliau. Nah udah gitu, mereka suka-suka deh. Yaaaa…. kalo oma Aung niat sih, harusnya doi berani ya untuk kehilangan jabatannya. Tapi tahta kan rada susah ya dilepas. Walaupun begitu, mbak ini gak terlalu menyalahkan oma Aung loh. Dia bilang “But, then she decided to be more open to the world. Before, you… Asia… never know Myanmar, never sister… never”
Dari situ saya jadi tahu kalau konflik ini sebetulnya sudah lamaaaaaaaaaaaaaa banget terjadi, cuman dulu Myanmar lebih tertutup aja. Ini menohok sih, karena sebelum ke Jepang saya pernah kerja dan bergelut di bidang yang mengurusi ASEAN, dan memang Myanmar itu semacam….semacam…. semacam  dicuekin.

Sudahlah jiwa saya berkobar setelah mendengar kisah Mbak dari Rohingya ini, kemudian saya pernah bertemu dengan mbak lain di tempat yang sama, namun kini dengan mbak-mbak cantik dari Palestina. Ya ampun, kalau nanti saya dapat suami keturunan Timur Tengah, kayaknya hal pertama yang perlu saya tanyakan ke dia sih kesehatan mata, orang daerah sana kok ya kebangetan ya cantik-cantik gitu.

Aduh ini pun penuh air mata sih.
Jadi perkara kirim paket ke Palestina ini juga gak gampang, kawan! Setiap paket secara semena-mena harus melewati Israel terlebih dahulu dan mereka “berhak” ngebongkar isi paket itu. Jadi kata dia, kadang sedih karena pengen ngirim baju baru buat adik-adiknya aja pas nyampe bisa jadi udah kucel karena butuh waktu lama dan udah diubek-ubek sama penjaga di Israel. Ingin kuberkata kasar…..
Dia bilang, dia pun ada trauma kalau denger suara yang kenceng sedikit aja dia bisa teriak-teriak.

“Sister, we know Indonesia. I keep pray Allah bless your country”

Oke, mari kita langsung pada kesimpulan. Kalian-kalian yang kebanyakan nyari ribut karena perbedaan dikit-dikit aja kayaknya emang kurang ngopi. Itupun kalau masih sempet karena sebelum ngopi rasanya saya mau nimpuk mereka dengan bakiak 17 agustusan. Karena orang yang kayak gitu sih Juanc*k tenan!

Mendengar orang lain dari negara lain berdoa untuk Indonesia itu “nyesssss” banget di hati. Rasanya hangat….
Rasanya ingin berterima kasih.

Pulang ke rumah biasanya kalau udah baper, saya nelpon Mama “Ma, makasih ya”
“Loh kenapa kak? Kakak sakit?”
“Makasih, Ma… karena Mama ngajarin kita gak macem-macem. Ngajarin untuk jadi baik aja udah lumayan. Gak usah sok baik, sok bijak, sok wow, gak usah beda-bedain SARA”
“Ih apa sih?”
“Mama sehat-sehat aja ya di sana”
“Ih sereeeemmm…. kamu lapar kali? Makan deh sana.”

Dan biasanya begitu terus :p tanpa Mama tahu apa yang anaknya alami di hari itu.

Ketemu Muslim yang beraneka ragam

Sebagai blogger pengamat Ibu-Ibu di mushala, saya sering kena tegur emak-emak di Mushala karena banyak hal. Bukan hanya perkara sajadah…. tapi juga perkara apakah rukuk saya 90 derajat, atau jempol kaki dilipet atau tidak saat tahiyat. Walau kadang Mama saya suka komentar juga “Loh, kalau Ibunya sempat komentarin, mata doi kemana pas shalat? Ahahahahaha…. ini kocak sih, Kak.”

Kalian pernah ketemu yang nyinyir-nyinyir gitu gak?

Yang pasti kenyinyiran kayak gitu gak akan kepake kalau kalian shalat di masjid yang isinya bukan cuman orang Indonesia dan sekitarnya :’D

Shalat Ied tahun ini karena saya telat kejar kereta, saya terpaksa ikut gelombang 2. Tentu gelombang dua itu lebih ramai daripada gelombang 1 ya. Inilah saat saya gagal fokus lihat “Kostum” para jamaah. Walau jamaahnya memang jaauuuuuuuh lebih sedikit dari masjid-masjid besar, saya kemudian menyadari bahwa “standar” aurat itu bisa jadi beda-beda bagi semua bangsa.

Ada yang tidak memakai kaus kaki.
Ada yang semua tertutup tapi hanya memakai turban, jadi leher masih kelihatan.
Ada juga membiarkan poni masih terlihat
Ada yang baru masuk islam, dan mungkin belum terlalu paham dengan aurat ya, jadi bajunya masih transparan di bagian lengan.
Pokoknya macam-macam.
Fashion juga beda-beda ya gengs, ada yang polos dan suka warna-warna pastel sampai ada yang bajunya loreng-loren macan! Itupun pakai warna orange stabilo.
Allah ya Rabb :’D

Memang jadi macam-macam yang kedengaran di kuping.
Dan jadi lihat macam-macam di mata.

Namun, kalian tahu gak? Selalu ada cara untuk mendeteksi keberadaan emak-emak Indonesia di tengah keramaian apapun!

Carilah yang heboh foto-foto, bahkan bawa tongsis! Naaaaaahhhhhh! Itu hampir pasti deh bisa diajak ngobrol bahasa Indonesia 😀 silakan coba tips ampuh ini.

Eh, tapi terlepas dari apapun, selalu ada yang menarik dari setiap shalat Ied.
Ada mbak Jepang yang bilang baru masuk Islam beberapa bulan lalu, beres doa setelah Eid, dia nangis sesenggukan dong!!! Emak-emak Indonesia asik fofotoan, emak-emak India ngerumpi, emak-emak timur tengah biasanya ngomelin anaknya “la….la….la!” (cuman itu kosakata yang saya tahu 🙂 ), lha ini mbak Jepang satu nangis kan kita panik ya. Saya samperin dan sok-sok-an salaman, terus dia bilang “Saya malu, saya malu pada Allah karena saya dulu banyak salah”
Waduh, Mbak…. saya kan juga berlumuran dosa (dan lemak) ya, tapi gak segitunya sih.
Lagi-lagi saya tengsin sih kalau nemu yang gini-gini. Udah ya, Mbak…. puk-puk-puk.

Bertemu orang-orang yang tertarik dengan Islam

Ini juga sebenarnya rada-rada, aduuuuh…. kalau boleh request ke Allah, saya rasanya gak mau ketemu yang kayak gini, kawan. Tanggung jawabnya berat. Secara saya kan aduuuuuuhhhh…. shalat subuh aja kadang di waktu shalat dhuha loh, itupun masih ngelaba dan bilang “Ya Allah… maaf ya bangun kesiangan.”

Kalau sudah seperti ini biasanya saya suka “random” memilih orang yang saya pikir lebih baik daripada saya.

Walau ya, gak selalu orang-orang itu pada menjadi Muslim loh ya. Tapi yaaa mereka senang aja gitu diajak ngobrol-ngobrol. Dulu pernah ada teman di lab, mbak ini suka cari waktu ketika gak ada orang lain di lab… terus tiba-tiba ngajak ngobrol gitu. Pertanyaannya suka filosofis-filosofis gitu “Marissa-san, why you always smiling?” sampai “What Islam is?”
Waduh, kan gak nyali ya jawab-jawabin kayak gitu. Udah lah pusing, saya bawa aja dia ke masjid.
Dan itu saat pertama dia bilang “I love your praying place, it is very quiet and peaceful. It is like I can stay there for hour and close my eyes and feel comfortable with that”

Ada juga kisah kocak, saya pernah didatangin mbak-mbak misionaris dan saya gak paham juga kan… Dia kemudian memberi saya Bible, saya sih senang tapi kan tengsin kalau gak ngasih balik ya? Ya saya kasih juga dia Quran dan dia happy banget gitu. Masih sering komunikasi sih, tapi suami mbak ini pindah kerja gitu, dan dia bilang di tempat yang baru dia juga sering ke masjid dan dia bilang dia suka mendengar “Song for God”, aduh itu apa pulaaaaaaa? Setelah di cermati lagi, rupanya adzan dong, pemirsa! Hahahahhaha….
Buat saya sih, saya happy ketika orang bisa menikmati agama saya bahkan jika orang tersebut bukan Muslim sekalipun.
Saya juga happy ketika ke Paris dan masuk ke katedral-katedral yang cantik banget, lalu rasanya gak tega bikin berisik. Karena ketika manusia mencoba dekat dengan pencipta-Nya kan itu sakral banget ya. Bikin merinding gitu.

Dan jangan lupa, saya ini berhijab karena diingetin sama teman saya yang Nasrani loh “Mon, kalau lo bangga sama Tuhan lo, tunjukan itu! Kalau lo marah sama orang-orang yang menurut lo stupid, itu salah mereka dan bukan salah Tuhan lo! Ini childish kalau lo gak melaksanakan perintah Tuhan lo karena kesalahan manusia. Itu bukan teman gw yang kayak gitu! Dan itu bukan lo yang mikir sedangkal itu” PLAK! Akhirnya saya berhijab loh pas Natal 2012. Sampai kapanpun, saya sih gak akan lepas hijab ini… karena selain ini masalah komitmen saya, ini juga mengingatkan saya pada teman saya tsb dan bagaimana menjadi toleran. Merinding gak lo!

Namun tetap saja, kalau ada yang bertanya masalah Islam pada saya, saya hanya akan bawa orang-orang ini melihat “kulit-kulit”nya saja. Kalau lainnya, aduuuh gak nyali, Cin. Kan tau sendiri saya rebel. Aduh udah deh, sama teman yang jauh lebih jago aja masalah ginian.

Mungkin Allah merasa saya “tidak lulus” masalah ini.
Di masjid yang sama, beberapa waktu yang lalu, ada mbak yang tiba-tiba menarik tangan saya “Mau ke masjid itu ya?”
“Loh iya”
“Kalau bukan Muslim boleh masuk?”
“Ya boleh lah”
Karena saya mah bodo amat kan ya, jadi saya ajakin aja. Lagian apa salahnya kan?

Sudah itu sih saya cuekin…. (maaf loh, Mbak)
Terus mbaknya entah kenapa iseng banget, dan nanya lagi “Sering ke sini?”
“Mmm… gak sih, cuman kalau lagi beres latihan koto aja. “
“Ya ampun, koto?!!!! itu kan susah banget. Saya juga main musik. Kamu tinggal dimana?”
“Di Tsukuba”
“Pacar saya juga dulu tinggal di Tsukuba loh!”
“Oh”
“Saya boleh ketemu kamu lagi?”
WUUUUUT! Aduh ini siapa sih?
dan dasar orang Indonesia “Boleh, kenapa?’
“Saya mau belajar Islam lebih banyak, saya boleh kan berteman sama kamu?”
WUUUT? Wah, off-side sih nih Mbak. Masa iya orang ngajak temenan gak boleh. Ini pertanyaan paling menjebak di belahan dunia manapun.
“Boleh sih, Mbak why not?”
“Ini pertama kali ada orang yang ngajak saya masuk masjid. Terima kasih ya, saya senang sekali”
“Iya sama-sama.”

Saya pikir ini Mbak basa-basi busuk. Rupanya dia beneran loh kadang ke Tsukuba dan ngajak ngobrol. Terus dia bilang, dia tuh udah nyobain segala macem keyakinan. Tapi pas mau tahu Islam, suka ngerasa ragu karena gak ada temen untuk diajak ngobrol. Owalaaaaaaaah, Mbak…..

Pertanyaan Mbak ini saya pikir  bakal super filosofis, rupanya kadang cuman nanya “Makanan halal itu yang kayak gimana? Jadi kamu boleh makan daging?” Ya keles, hati boleh lah yaaaa gak tegaan sama binatang, namun apa daya…. tabula rasa masih sadis untuk melumat daging yang memang enak itu :’)

Entah random people mana lagi yang harus saya hubungi untuk Mbak yang satu ini. Lalu kemudian saya kontak Mamas Smiley yang random nun jauh di sana “Mas, ini gimana nih? Ada Mbak-mbak lagi coba yang kasusnya gini loh”
Kali ini jawaban dia sederhana “Marissa, this time she wants you to be her friend, she wants to talk with you not with the other people. I think this time you just need to tell her what you know.”
Luluh karena perkataan Mamas, mungkin sementara ini saya biarkan Mbak ini curhat sama saya. Saya lupa kalau Mamas ini terlalu positif dan dia tidak tau bahwa saya pernah “jahiliyah” juga di masa lampau. Arghhhhh terjepit!!!!!!

Eh, tapi kalau sama saya sih… saya gak akan gile nyuruh seseorang masuk Islam sih. Bagi saya, keyakinan itu hal privat semua orang. Saya fine apapun keyakinan yang kelak Mbak ini pilih. Ngarep sih, siapa yang gak seneng sih nambah saudara se-iman yang baru, iya gak sih? Tapi ini hidup Mbaknya, saya ingin dia memilih sesuatu yang benar-benar nyaman di hati dia. Sampai dia belajar semua agama kan berarti ada sesuatu yang benar-benar serius dia cari. Saya pikir, saya tidak berhak untuk mengetahui apa itu…. tugas saya hanya sebatas menjadi Muslim yang (semoga) baik.

Oleh karena itu, untuk Mamas Smiley dan seluruh umat manusia yang ada di muka bumi, jangan salahkan karena pada akhirnya obrolan kami hanya berkisar tentang…… TADAAAAAA
Image and video hosting by TinyPic

Mbaknya ketawa-ketawa aja, mungkin dari sekian banyak orang yang dia tanya-tanya masalah filosofis, cuman saya yang malah ngajakin liat kucing tetangga. Ini bukan cuman ngegodain kucing tetangga loh, ini pelajaran mensyukuri karunia Allah bernama kucing yang gendut dan lucu. Subhanallah…..

(kalau Mama baca ini pasti Beliau akan langsung WA, “Mungkin benar… anak Mama terlambat dewasa :’) ” Mama… masih ngakuin kakak sebagain anak kan? )