Tentang orang-orang [luar] biasa…: Pengalaman Bertemu Anak-Anak berkebutuhan khusus


Dan perdebatan hari ini berkisar tentangΒ  paslon mana yang paling oke…
Siapa yang paling hits dan berprestasi…
Siapa yang paling hebat? Siapa yang paling benar? Siapa yang paling segalanya?

Well…

Kadang saya merasa bahwa kita lupa, lupa hal terpenting dalam hidup kita…. secara fair dan rendah hati mengakui bahwa kita tidak sempurna. Akan selalu ada orang yang lebih baik dari kita dalam suatu hal, dan sebaliknya akan ada pula yang lebih kurang dari kita dalam suatu hal.
Intinya, tidak perlu terlalu menepuk dada… dan tidak perlu juga terlalu mengagung-agungkan orang lain. Setidaknya itu menurut saya.

Mungkin saya yang kolot, dan Mama saya selalu bilang “Nah kamu itu ya, Kak… kalau orang gak kenal pasti bilang kamu jutek. Yang deket sama kamu cuman binatang, anak kecil, orang tua, atau yaaa teman-teman yang entah terlalu sabar atau terlanjur basah teman sama kamu. Lainnya? Konflik! Konflik! Konflik!”

Saya mengira saya terlalu emosional dan temperamental, lalu berusaha mencari cara untuk jadi lebih baik dan penyabar sedikit saja. Sudahlah saya tempuh jalan musik, yang sayangnya dosisnya hanya bertahan beberapa jam.

Harus ada obat yang lebih canggih nih. Duh apa ya!?

Hingga akhirnya, secara tak sengaja salah satu teman baik saya bilang “Eh, gue mau nari…. lo bantu foto-foto ya! Nari di panti jompo nih gw.”

Karena saya sih senang-senang aja bantu foto-foto dan liat tempat baru, ya saya iyakan. Siapa tahu kan merontokan keangkuhan hati, menjernihkan pikiran yang butek.

Berbekal tripod dan kamera seadanya (karena teman saya bilang pakai kamera dia saja), saya melaju ke TKP. Di tengah perjalanan, teman saya baru bilang “Eh salah deng, gw nari di depan teman-teman berkebutuhan khusus dan keluarganya.”
Dalam hati “Kok ya jauh bangeeeeet bedanya.” Agak gusar, karena jangan-jangan salah tempat juga, mana saya tinggal jauh di planet lain, waduuuuh…. nyaris saya berpikir kalau koto yang 180 cm menimpa manusia bisa menyebabkan cedera seberapa parah ya. Tapi untungnya, tempat tetap sama. Wis… fotografer sih gak ada urusan siapapun audience-nya dong πŸ˜€

***

Tibalah saya di panti anak-anak berkebutuhan khusus tersebut. Pertama kali ke panti di Jepang, langsung berasa anak kampung “Ya Allah ini tempat gede banget!”
Sebagai anak yang introvert parah, setelah melangkah ke dalam, tentu dengan mengucapkan bismillah dan pakai kaki kanan…. saya masuk dan seperti pengunjung lainnya, nunggu di lobi.
Jangan lupa, di pojokan, dan jauh dari orang-orang.

Saya tahu bahwa teman saya dan para penari lainnya pasti sedang rempong dengan kostum dan alat make-upnya. Gosh! Sori geng, kalau main musik sih yang penting tuning alat musik dan gak salah ambil alat musik orang. Gak bisa goyang-goyang banyak, karena takut hapalan note tumpah dari otak.

Cepot yang membuat saya bersosialisasi

Seperti biasa, dimanapun saya berada, saya pasti di pojok ruangan.
Eh tapi dasar, karena saya mudah sekali terdistraksi… ada wayang golek “cepot” yang menarik perhatian.
Saya samperin lah, ada juga gamelan kecil disekitarnya… dan secara otomatis saya mainkan karena saya masih ingat lagu yang pernah saya mainkan kala SD dulu.

Gara-gara cepot dan miniatur gamelan, beberapa anak kemudian merubungi saya. Mereka senyum, tepuk tangan, dan mengajak bersalaman.
Ya ampun ramah banget….
Mereka mengajak saya bicara, sayangnya saya tidak bisa paham. Pengen nangis sih sebenarnya, karena rasanya dosa banget loh ada orang yang tulus ngajak kita ngobrol tapi kita gak ngerti. Saya yang biasanya bodo amat dengan skill bahasa jepang saya, saat itu memaki diri sendiri.

Seorang anak kemudian lari ke gurunya, dan gurunya kemudian menyapa saya….
“Oh ingin lihat tari Indonesia juga ya?”
“Iya, saya janjian sama teman saya.”
“Oh gitu, ya… ya… ya… tunggu saja ya, belum mulai.”

Beberapa anak kemudian menunjuk-nunjuk sebuah ruangan dan saya hanya mendengar itu sebagai ceracau yang tidak jelas. Duh apa maksudnya sih, Dek πŸ™
Barulah beberapa menit setelah itu, teman saya keluar dari ruangan tersebut, mencari temannya ini…. dia pasti khawatir temannya ini salah belok kanan atau kiri seperti yang terjadi di Shinjuku.
Barulah kemudian saya paham! Anak tadi ingin menunjukan bahwa teman saya ada di ruangan itu!
Sediiiiiiiiihhhhh bangeeeeeeeeeet……. banget banget banget…. karena rasanya kok jahat banget gak paham apa yang anak tadi bilang. Maaf ya, Dek.

Mulailah gw bekerja sesuai SOP fotografer lainnya….
pasang tripod!
Dan ini adalah acara pasang tripod dan pasang kamera terusuh yang pernah saya alami….
Karena banyak anak yang kemudian datang, dan mereka minta dipeluk….
Dalam hati, “WHAT! DEK! BENERAN? Oh come in!” tapi saya loh, saya yang bagi sebagian orang bisa menatap dengan tatapan membunuh.
Beberapa kali tripod oleng, agak deg-deg-an, bukan karena tripod tapi karena kamera yang dipasang adalah kamera mirrorless kesayangan teman saya. Karena dia dokter hewan yang biasa mengembala sapi berton-ton, kalau dia marah kan, nyawa juga ya….
Namun apa daya, saya pun luluh lantak ketika bersama anak-anak yang saya bisa rasakan tulus luar biasa. Yang saya bisa rasa ingin bilang “Let’s be friend.” Tulus sekali, tanpa ada pikiran macam-macam.
Mereka mengajak bersalaman….
Berusaha keras memperkenalkan diri…
Segala hal yang membuat saya tertohok sendiri, kok saya tidak bisa sebaik mereka ya?

Bahkan kemudian, ada seorang nenek penderita alzheimer yang kemudian ingin di dekat saya. Mas-mas pendamping Beliau bilang “Neneknya mau di sini gak apa ya?”
Ya ampun Maaaaaas…. gak apa-apa dong! Pake ijin segala.
Sambil pegang tripod, saya melihat si nenek yang senantiasa senyum ketika melihat saya. Kaki dan tangannya berusaha sebisa mungkin mengitu irama musik. Terus jadi kangen Nenek…. :'(

Audience nih, tapi foto sengaja saya blemish gitu ya, untuk menghargai privasi mereka πŸ™‚

Mereka benar-benar menghargai pertunjukan. Berbeda dengan saya yang memang suka “julid”, “Hwarakadah! Apa tuh? Aduuuh salah deh pasti itu gerakannya!” Padahal saya juga gak bisa nari. Mirip supporter bulu tangkis yang teriak-teriak tapi smash aja tak mampu (well… ini saya juga sebenarnya hahahahhaha).

Saya senang mereka antusias ketika dibilang akan diajari menari Indonesia sedikit.
Image and video hosting by TinyPic

Antusias banget! Kalau saya sih…. pasti beralasan “Ya ampun… cabe deh! Encok ah encok.”
Duh, Emon! Anda sungguh…. sungguh grumpy! ahahahahhah

Pulangnya…
Semua penari dikasih kenang-kenangan dong, biasalah japanese style. Karena saya pendatang gelap, saya gak ngarep lah.
Eh dapeeeeet jugaaaaaaaa! Kalian mau liat dong?
Tadaaaaaaaa!!!

Lucu kaaaan ! Mereka bikin sendiri loh

Jadi para penghuni panti ini rupanya diajari untuk membuat kerajian sendiri, salah satunya membuat gerabah pisin kecil-kecil ini. Mereka juga diajari membuat kue, melukis (dan mereka jago banget sih ngegambarnya. Paraaaaaah…. bagi saya yang lumayan paham lukisan aja mengakui kok bagus banget), dan hasilnya kemudian dijual dan uangnya untuk mereka. Tadaaa! Jadi mereka bisa memperoleh uang saku juga. Kalau kalian mau lihat karya-karyanya, bisa diintip loh, akun instagram mereka:Β  https://www.instagram.com/pomamori/
Dijamin berdecak kagums! (pake “s” karena ceritanya jamak ahahahahahha)

Kita kadang kasihan melihat para penyandang disabilitas….
Kasihan melihat orang-orang berkebutuhan khusus…..
Padahal, mereka tidak perlu dikasihani, mereka perlu diperlakukan secara adil dan setara dengan kita-kita yang mengaku “normal”.
Mereka butuh diakui bahwa mereka mampu melakukan sesuatu dan berkontribusi.

Malamnya saya “teror” semua orang yang saya tahu, pokoknya mereka harus denger deh pengalaman saya di hari itu. Walaupun saya yakin, yang di-teror pun gak paham-paham banget kenapa saya tumben bisa se-excited itu! Pokoknya harus heboh!!!!

=============
“Mas, tau gak… aku udah dapet harta berharga di Jepang.”
“Oya? Apa tuh?
“Ini…. ini dibikin sama adek-adek yang berkebutuhan khusus loh….”
“Wow… Mashaallah”

***
“Ma… liat dong saya dapet apa?”
“Apa itu? Dodol Cina menjelang Imlek?”
“Ih Mama, piring kecil gitu loh Ma…. cantik ya? Yang bikin orang-orang di panti untuk orang-orang berkebutuhan khusus,Ma. Hebat ya mereka.”
“Hah? Masa sih? Ya ampun…. mereka bakat nih. Bagus ya!”

=============

Saya itu tipe orang yang paling sulit impressed dengan seseorang, sulit banget. Well… banyak orang hebat di muka bumi ini, mau bikin saya seterperangah apa sih? Apa? Apa?
Rupanya pada hari itu, saya berhasil dibuat terperangah.

Saya kagum habis-habisan, dengan para guru dan perawat di panti tersebut yang sabar dan bisa mengajari mereka dengan sangat baik.
Saya ingin bertepuk tangan untuk keluarga mereka. Bukan hal yang mudah menerima kenyataan bahwa ada anggota keluarga mereka yang berkebutuhan khusus. Bukan hal yang mudah untuk terus maju dan tidak menyerah. Bukan hal yang mudah menumbuhkan “unconditional love” yang sehebat itu.
Saya ingin memeluk satu persatu penghuni panti tersebut, ingin bilang “terima kasih”. Terima kasih untuk tidak menyerah, untuk terus berjuang, untuk terus hidup. Untuk menjadi bagian dari planet yang makin menua ini.

Terima kasih….
banget!

Diam-diam saya mengucapkan terima kasih pada Allah, pada Tuhan yang baik sekali memberikan pengalaman seperti ini dalam hidup saya.
Saya ini keras kepala, kadang…. bahkan sehabis shalat, doa saya lebih pada menantang daripada memohon, terkadang mempertanyakan “policy” yang saya pikir tidak masuk di akal.

Pada malam itu, saya bisa tersenyum…. “Ya Allah, terima kasih karena telah menjadi yang Mahaadil. Dibalik kekurangan mereka, mereka punya hati yang begitu jernih. Aku mohon, jaga mereka seperti biasa… bahkan jika boleh, jaga mereka lebih dari biasanya.”

Hari itu, saya tidak memberikan bantuan apa-apa pada siapapun.
Hari itu, orang-orang luar biasa yang telah membantu saya untuk sadar bahwa kita tidak boleh menyerah, untuk terus bertahan dan melakukan hal terbaik yang kita bisa.

Terima kasih…
Lagi
lagi
dan lagi….

=========
P.S:
Saya juga sempat mengaku pada teman saya betapa merasa berdosanya saya ketika saya tidak paham apa yang dikatakan anak-anak tsb pada saya

“Ya ampuuuuun! Gw ngerasa dosa deh! Mereka baik bangeeeet. Tapi gw gak ngerti mereka ngomong apa!!!”
“Mon… semua pun gak ada yang ngerti! Lo pikir gw ngerti?”
“Loh, tapi lo bisa jawab pertanyaan mereka.”
“Ya karena ada ibu gurunya laaaah.”

Tetap sedih sih, tapi… oh ya sudah, tidak sendirian rupanya :p
========

 

 

Cerita dari sebuah masjid kecil di pojok Tokyo: Catatan tentang toleransi dan saling menghargai


Entah kenapa Allah memang suka memberikan saya kisah-kisah baru yang mungkin jarang orang lain alami. Padahal kalau dipikir-pikir, saya kan kurang suka dengan keramaian ya. Mungkin karena saya punya blog yang masih hidup, dan saya percaya Allah mempercayai saya untuk menuliskan pengalaman menarik yang saya alami.

Kali ini ada berton-ton kisah dari sebuah masjid kecil yang sering saya kunjungi di Tokyo. Namanya As-Salam mosque. Ada beberapa alasan mengapa saya lebih sering ke masjid ini.

1.) Line kereta, karena letaknya yang dekat stasiun shin-okachimachi dan alhamdulillah terlintas tsukuba ekspress, jadi ketika saya beres latihan musik (yes, I am a music player too πŸ™‚ gini-gini saya pemain koto loh) saya lebih memilih ke tempat ini. Kenapa tidak ke Tsukuba mosque, karena jatuhnya sama saja! Bagi saya yang tidak punya kendaraan pribadi, posisi masjid Tsukuba keterlaluan makan waktu. Apalagi untuk shalat Ied, hampir pasti saya tidak akan sempat mengejar waktu kesana.

2) tempatnya cukup strategis. Ada tempat yakiniku halal tepat di belakang masjid, lalu di sekitarnya ada toko makanan halal yang cukup murah meriah, belum lagi klo bosen makanan halal ada resto vegan juga πŸ˜€ I love foods!

3) Lebih sepi, bagi saya masjid itu untuk ibadah. Wong orang lagi galau kok, kan mau pembicaraan dua arah ya sama Tuhan. Jadi memilih tempat yang rada sepi lah.

Selain itu, khusus untuk shalat Ied, saya lebih suka tempat ini karena saya ingin menghindar dari sebuah fenomena kericuhan mahadahsyat yang seringkali terjadi ketika banyak jamaah dari Indonesia “FENOMENA SAJADAH”. Yang belum tau skandal sajadah, maka izinkan saya jelaskan terlebih dahulu.

Fenomena Sajadah : Sebuah fenomena dimana jamaah akhwat akan menyuruh seluruh jamaah lain untuk maju dan merapatkan shaf di baris paling depan, namun yang menyuruh biasanya tidak inisiatif untuk maju juga, disebabkan sudah telanjur gelar sajadah atau kadang hanya perkara penempatan kipas angin yang tidak ramah untuk penderita masuk angin.

Gak maen deh mamen kayak gitu-gituan…. Kadang lagi asik-asik mau doa loh, langsung lupa karena disuruh maju atau mundur atau apapun lah itu.
Image and video hosting by TinyPic

Tapi lebih dari itu, ada hal lain yang membuat saya jatuh cinta pada tempat ini.

Bertemu Saudara-Saudara Muslim dari negeri yang berkonflik

Nah! terdengar seru kan. Kalau kata Sudjiwo Tedjo, Tuhan itu Mahabercanda… kayaknya ini saya rasakan. Entah kenapa saya yang malas ngobrol ini ketemu aja orang-orang yang suka mengajak saya ngobrol ngalor ngidul, lha… saya kan jadi keasikan juga ngobrol.

Pernah ketika saya disini, pas sedang membaca Quran karena ceritanya lagi galau, tiba-tiba ada mbak-mbak yang nyapa dan bertanya asal saya dari mana. Entah apa dasarnya banyak yang salah mengira saya berasal dari negara-negara Asia Tengah, lalu kemudian kaget ketika tahu kalau saya tulen orang Indonesia mix Aceh dan Madura.

“So, you come from Indonesia? Oh sister…. I am from Myanmar. You know Rohingya, I am Rohingya”

Waduh! Biasanya kan cuman denger di berita ya, ini ketemu langsung loh.
Dengan bahasa Inggris yang terbata, dia bercerita tentang kondisi keluarga dan juga etnisnya.

“Masha Allah Sister, I really want to live in your country, I want to learn your language, I want to spend a whole life in your country. It such a beautiful place, and food…food are good very good. Allah bless your country very much.”

Terus baper, dan rasanya mau nangis kalau inget kondisi di tanah air sekarang ini. Mau nangis karena bagi saya sih, kita harus mulai mengakui bahwa kita tidak se-“heterogen” yang kita banggakan. Wong beda partai aja bisa saling ngafir-ngafirin. Wong di media sosial aja bisa perang cuman perkara mau ganti presiden atau gak. Sorry, saya pribadi sih malu dengan sikap childish beberapa orang yang seperti itu. Asal kalian tahu aja ya, keluarga Mama saya itu lebih “Muhammadiyyah” sedangkan ayah saya karena asli orang Jatim yaaaaaaa…. NU banget. Walau sama-sama Muslim ya ada beberapa hal yang berbeda ya, tapi apa kemudian perang? Gak tuh! Hingga ayah saya meninggal dunia tidak pernah ada piring terbang melayang dsb dalam keluarga kami.
Sekarang? Pret! Seakan semuanya percaya diri akan masuk surga, helooowwww… siapa tau bareng-bareng di BBQ di neraka.

Back to the topic,
Mbak ini kemudian bercerita bagaimana diskriminasi yang terjadi di Rohingya. “Sister, I can’t use hijab there, can’t… can’t…” Dia cerita bahwa ketika dia mengunjungi Ibunya, tetangganya terus nyinyir karena dia berani untuk pakai hijab. Dan bahkan ada yang ekstrim dan meludahi dia, aduuuuh kasian ya πŸ™ terus mereka akan bilang “Go…go… not your home land”

Khawatir gak kalian semua denger kisah mbak ini? Serem kan!
Makanya saya tanya kok Ibunya tetep tinggal di sana? Bumi Allah kan luas ya, Cuy… kalau gak aman di satu titik, ya hijrah lah kemana.Rupanya ibunya udah rada sepuh gitu, dan yaaaah biasa lah, nostalgia kan susah di lawan ya. Suaminya meninggal di sana, dan itu rumah sudah didiami turun menurun. Rumah yang punya banyak cerita memang sulit untuk ditinggalkan. Sedangkan saudara-saudara yang lainnya sudah mengungsi ke Thailand. Eh tapi Thailand emang makanannya enak sih dan orangnya baik-baik (Mon, fokus…fokus…fokus….).

Nah! Kalian juga pasti nyinyir parah dong sama Oma aung san suu kyi? Mumpung ada orang dari sananya langsung kan mending sekalian ditanya kan. Nah, kalo kata mbak ini sih Oma Aung susah untuk melawan orang-orang yang diskriminatif di sana. Karena sejak awal, orang-orang yang diskriminatif ini nih yang mengusung dan mengangkat nama Beliau. Nah udah gitu, mereka suka-suka deh. Yaaaa…. kalo oma Aung niat sih, harusnya doi berani ya untuk kehilangan jabatannya. Tapi tahta kan rada susah ya dilepas. Walaupun begitu, mbak ini gak terlalu menyalahkan oma Aung loh. Dia bilang “But, then she decided to be more open to the world. Before, you… Asia… never know Myanmar, never sister… never”
Dari situ saya jadi tahu kalau konflik ini sebetulnya sudah lamaaaaaaaaaaaaaa banget terjadi, cuman dulu Myanmar lebih tertutup aja. Ini menohok sih, karena sebelum ke Jepang saya pernah kerja dan bergelut di bidang yang mengurusi ASEAN, dan memang Myanmar itu semacam….semacam…. semacamΒ  dicuekin.

Sudahlah jiwa saya berkobar setelah mendengar kisah Mbak dari Rohingya ini, kemudian saya pernah bertemu dengan mbak lain di tempat yang sama, namun kini dengan mbak-mbak cantik dari Palestina. Ya ampun, kalau nanti saya dapat suami keturunan Timur Tengah, kayaknya hal pertama yang perlu saya tanyakan ke dia sih kesehatan mata, orang daerah sana kok ya kebangetan ya cantik-cantik gitu.

Aduh ini pun penuh air mata sih.
Jadi perkara kirim paket ke Palestina ini juga gak gampang, kawan! Setiap paket secara semena-mena harus melewati Israel terlebih dahulu dan mereka “berhak” ngebongkar isi paket itu. Jadi kata dia, kadang sedih karena pengen ngirim baju baru buat adik-adiknya aja pas nyampe bisa jadi udah kucel karena butuh waktu lama dan udah diubek-ubek sama penjaga di Israel. Ingin kuberkata kasar…..
Dia bilang, dia pun ada trauma kalau denger suara yang kenceng sedikit aja dia bisa teriak-teriak.

“Sister, we know Indonesia. I keep pray Allah bless your country”

Oke, mari kita langsung pada kesimpulan. Kalian-kalian yang kebanyakan nyari ribut karena perbedaan dikit-dikit aja kayaknya emang kurang ngopi. Itupun kalau masih sempet karena sebelum ngopi rasanya saya mau nimpuk mereka dengan bakiak 17 agustusan. Karena orang yang kayak gitu sih Juanc*k tenan!

Mendengar orang lain dari negara lain berdoa untuk Indonesia itu “nyesssss” banget di hati. Rasanya hangat….
Rasanya ingin berterima kasih.

Pulang ke rumah biasanya kalau udah baper, saya nelpon Mama “Ma, makasih ya”
“Loh kenapa kak? Kakak sakit?”
“Makasih, Ma… karena Mama ngajarin kita gak macem-macem. Ngajarin untuk jadi baik aja udah lumayan. Gak usah sok baik, sok bijak, sok wow, gak usah beda-bedain SARA”
“Ih apa sih?”
“Mama sehat-sehat aja ya di sana”
“Ih sereeeemmm…. kamu lapar kali? Makan deh sana.”

Dan biasanya begitu terus :p tanpa Mama tahu apa yang anaknya alami di hari itu.

Ketemu Muslim yang beraneka ragam

Sebagai blogger pengamat Ibu-Ibu di mushala, saya sering kena tegur emak-emak di Mushala karena banyak hal. Bukan hanya perkara sajadah…. tapi juga perkara apakah rukuk saya 90 derajat, atau jempol kaki dilipet atau tidak saat tahiyat. Walau kadang Mama saya suka komentar juga “Loh, kalau Ibunya sempat komentarin, mata doi kemana pas shalat? Ahahahahaha…. ini kocak sih, Kak.”

Kalian pernah ketemu yang nyinyir-nyinyir gitu gak?

Yang pasti kenyinyiran kayak gitu gak akan kepake kalau kalian shalat di masjid yang isinya bukan cuman orang Indonesia dan sekitarnya :’D

Shalat Ied tahun ini karena saya telat kejar kereta, saya terpaksa ikut gelombang 2. Tentu gelombang dua itu lebih ramai daripada gelombang 1 ya. Inilah saat saya gagal fokus lihat “Kostum” para jamaah. Walau jamaahnya memang jaauuuuuuuh lebih sedikit dari masjid-masjid besar, saya kemudian menyadari bahwa “standar” aurat itu bisa jadi beda-beda bagi semua bangsa.

Ada yang tidak memakai kaus kaki.
Ada yang semua tertutup tapi hanya memakai turban, jadi leher masih kelihatan.
Ada juga membiarkan poni masih terlihat
Ada yang baru masuk islam, dan mungkin belum terlalu paham dengan aurat ya, jadi bajunya masih transparan di bagian lengan.
Pokoknya macam-macam.
Fashion juga beda-beda ya gengs, ada yang polos dan suka warna-warna pastel sampai ada yang bajunya loreng-loren macan! Itupun pakai warna orange stabilo.
Allah ya Rabb :’D

Memang jadi macam-macam yang kedengaran di kuping.
Dan jadi lihat macam-macam di mata.

Namun, kalian tahu gak? Selalu ada cara untuk mendeteksi keberadaan emak-emak Indonesia di tengah keramaian apapun!

Carilah yang heboh foto-foto, bahkan bawa tongsis! Naaaaaahhhhhh! Itu hampir pasti deh bisa diajak ngobrol bahasa Indonesia πŸ˜€ silakan coba tips ampuh ini.

Eh, tapi terlepas dari apapun, selalu ada yang menarik dari setiap shalat Ied.
Ada mbak Jepang yang bilang baru masuk Islam beberapa bulan lalu, beres doa setelah Eid, dia nangis sesenggukan dong!!! Emak-emak Indonesia asik fofotoan, emak-emak India ngerumpi, emak-emak timur tengah biasanya ngomelin anaknya “la….la….la!” (cuman itu kosakata yang saya tahu πŸ™‚ ), lha ini mbak Jepang satu nangis kan kita panik ya. Saya samperin dan sok-sok-an salaman, terus dia bilang “Saya malu, saya malu pada Allah karena saya dulu banyak salah”
Waduh, Mbak…. saya kan juga berlumuran dosa (dan lemak) ya, tapi gak segitunya sih.
Lagi-lagi saya tengsin sih kalau nemu yang gini-gini. Udah ya, Mbak…. puk-puk-puk.

Bertemu orang-orang yang tertarik dengan Islam

Ini juga sebenarnya rada-rada, aduuuuh…. kalau boleh request ke Allah, saya rasanya gak mau ketemu yang kayak gini, kawan. Tanggung jawabnya berat. Secara saya kan aduuuuuuhhhh…. shalat subuh aja kadang di waktu shalat dhuha loh, itupun masih ngelaba dan bilang “Ya Allah… maaf ya bangun kesiangan.”

Kalau sudah seperti ini biasanya saya suka “random” memilih orang yang saya pikir lebih baik daripada saya.

Walau ya, gak selalu orang-orang itu pada menjadi Muslim loh ya. Tapi yaaa mereka senang aja gitu diajak ngobrol-ngobrol. Dulu pernah ada teman di lab, mbak ini suka cari waktu ketika gak ada orang lain di lab… terus tiba-tiba ngajak ngobrol gitu. Pertanyaannya suka filosofis-filosofis gitu “Marissa-san, why you always smiling?” sampai “What Islam is?”
Waduh, kan gak nyali ya jawab-jawabin kayak gitu. Udah lah pusing, saya bawa aja dia ke masjid.
Dan itu saat pertama dia bilang “I love your praying place, it is very quiet and peaceful. It is like I can stay there for hour and close my eyes and feel comfortable with that”

Ada juga kisah kocak, saya pernah didatangin mbak-mbak misionaris dan saya gak paham juga kan… Dia kemudian memberi saya Bible, saya sih senang tapi kan tengsin kalau gak ngasih balik ya? Ya saya kasih juga dia Quran dan dia happy banget gitu. Masih sering komunikasi sih, tapi suami mbak ini pindah kerja gitu, dan dia bilang di tempat yang baru dia juga sering ke masjid dan dia bilang dia suka mendengar “Song for God”, aduh itu apa pulaaaaaaa? Setelah di cermati lagi, rupanya adzan dong, pemirsa! Hahahahhaha….
Buat saya sih, saya happy ketika orang bisa menikmati agama saya bahkan jika orang tersebut bukan Muslim sekalipun.
Saya juga happy ketika ke Paris dan masuk ke katedral-katedral yang cantik banget, lalu rasanya gak tega bikin berisik. Karena ketika manusia mencoba dekat dengan pencipta-Nya kan itu sakral banget ya. Bikin merinding gitu.

Dan jangan lupa, saya ini berhijab karena diingetin sama teman saya yang Nasrani loh “Mon, kalau lo bangga sama Tuhan lo, tunjukan itu! Kalau lo marah sama orang-orang yang menurut lo stupid, itu salah mereka dan bukan salah Tuhan lo! Ini childish kalau lo gak melaksanakan perintah Tuhan lo karena kesalahan manusia. Itu bukan teman gw yang kayak gitu! Dan itu bukan lo yang mikir sedangkal itu” PLAK! Akhirnya saya berhijab loh pas Natal 2012. Sampai kapanpun, saya sih gak akan lepas hijab ini… karena selain ini masalah komitmen saya, ini juga mengingatkan saya pada teman saya tsb dan bagaimana menjadi toleran. Merinding gak lo!

Namun tetap saja, kalau ada yang bertanya masalah Islam pada saya, saya hanya akan bawa orang-orang ini melihat “kulit-kulit”nya saja. Kalau lainnya, aduuuh gak nyali, Cin. Kan tau sendiri saya rebel. Aduh udah deh, sama teman yang jauh lebih jago aja masalah ginian.

Mungkin Allah merasa saya “tidak lulus” masalah ini.
Di masjid yang sama, beberapa waktu yang lalu, ada mbak yang tiba-tiba menarik tangan saya “Mau ke masjid itu ya?”
“Loh iya”
“Kalau bukan Muslim boleh masuk?”
“Ya boleh lah”
Karena saya mah bodo amat kan ya, jadi saya ajakin aja. Lagian apa salahnya kan?

Sudah itu sih saya cuekin…. (maaf loh, Mbak)
Terus mbaknya entah kenapa iseng banget, dan nanya lagi “Sering ke sini?”
“Mmm… gak sih, cuman kalau lagi beres latihan koto aja. “
“Ya ampun, koto?!!!! itu kan susah banget. Saya juga main musik. Kamu tinggal dimana?”
“Di Tsukuba”
“Pacar saya juga dulu tinggal di Tsukuba loh!”
“Oh”
“Saya boleh ketemu kamu lagi?”
WUUUUUT! Aduh ini siapa sih?
dan dasar orang Indonesia “Boleh, kenapa?’
“Saya mau belajar Islam lebih banyak, saya boleh kan berteman sama kamu?”
WUUUT? Wah, off-side sih nih Mbak. Masa iya orang ngajak temenan gak boleh. Ini pertanyaan paling menjebak di belahan dunia manapun.
“Boleh sih, Mbak why not?”
“Ini pertama kali ada orang yang ngajak saya masuk masjid. Terima kasih ya, saya senang sekali”
“Iya sama-sama.”

Saya pikir ini Mbak basa-basi busuk. Rupanya dia beneran loh kadang ke Tsukuba dan ngajak ngobrol. Terus dia bilang, dia tuh udah nyobain segala macem keyakinan. Tapi pas mau tahu Islam, suka ngerasa ragu karena gak ada temen untuk diajak ngobrol. Owalaaaaaaaah, Mbak…..

Pertanyaan Mbak ini saya pikirΒ  bakal super filosofis, rupanya kadang cuman nanya “Makanan halal itu yang kayak gimana? Jadi kamu boleh makan daging?” Ya keles, hati boleh lah yaaaa gak tegaan sama binatang, namun apa daya…. tabula rasa masih sadis untuk melumat daging yang memang enak itu :’)

Entah random people mana lagi yang harus saya hubungi untuk Mbak yang satu ini. Lalu kemudian saya kontak Mamas Smiley yang random nun jauh di sana “Mas, ini gimana nih? Ada Mbak-mbak lagi coba yang kasusnya gini loh”
Kali ini jawaban dia sederhana “Marissa, this time she wants you to be her friend, she wants to talk with you not with the other people. I think this time you just need to tell her what you know.”
Luluh karena perkataan Mamas, mungkin sementara ini saya biarkan Mbak ini curhat sama saya. Saya lupa kalau Mamas ini terlalu positif dan dia tidak tau bahwa saya pernah “jahiliyah” juga di masa lampau. Arghhhhh terjepit!!!!!!

Eh, tapi kalau sama saya sih… saya gak akan gile nyuruh seseorang masuk Islam sih. Bagi saya, keyakinan itu hal privat semua orang. Saya fine apapun keyakinan yang kelak Mbak ini pilih. Ngarep sih, siapa yang gak seneng sih nambah saudara se-iman yang baru, iya gak sih? Tapi ini hidup Mbaknya, saya ingin dia memilih sesuatu yang benar-benar nyaman di hati dia. Sampai dia belajar semua agama kan berarti ada sesuatu yang benar-benar serius dia cari. Saya pikir, saya tidak berhak untuk mengetahui apa itu…. tugas saya hanya sebatas menjadi Muslim yang (semoga) baik.

Oleh karena itu, untuk Mamas Smiley dan seluruh umat manusia yang ada di muka bumi, jangan salahkan karena pada akhirnya obrolan kami hanya berkisar tentang…… TADAAAAAA
Image and video hosting by TinyPic

Mbaknya ketawa-ketawa aja, mungkin dari sekian banyak orang yang dia tanya-tanya masalah filosofis, cuman saya yang malah ngajakin liat kucing tetangga. Ini bukan cuman ngegodain kucing tetangga loh, ini pelajaran mensyukuri karunia Allah bernama kucing yang gendut dan lucu. Subhanallah…..

(kalau Mama baca ini pasti Beliau akan langsung WA, “Mungkin benar… anak Mama terlambat dewasa :’) ” Mama… masih ngakuin kakak sebagain anak kan? )

 

 

Belajar menjadi manusia seutuhnya: Catatan seorang PhD newbie


Tidak pernah terlintas dalam hidup saya bahwa saya akan menjadi seorang PhD candidate. Sampai bisa sekolah master di luar negeri saja sudah begitu “Wah” untuk saya. Wong saya ini anak ndeso kok! Lahir boleh di Jakarta, tapi sekolah SD di Leuwiliang… namanya saja tidak bonafid!
Setelah itu pindah dan tinggal di kawasan Ciomas… lagi-lagi namanya kok ya agak ndeso gitu ya, dan memang ndeso karena pizza h*t saja enggan delivery ke kampung ini :’) untungnya sekarang sudah ada g*jek dkk… jadi tidak terpencil-pencil banget lah. Tapi tetap angkot 32 hanya mau mengantar sampai ke “dusun” saya pada jam kerja. Jangan harap dapat angkot yang mengantarkan Anda ke area dusun saya jika sudah lewat jam 6 sore.

Kuliah pun di kampus IPB Dramaga. Wuaduuuh rek! Boleh lah kampus ini jadi salah satu kampus terbaik di Indonesia,tapi posisi si Dramaga ini jauh dari peradaban. Sungguh, kami para mahasiswa kere ini sesungguhnya memendam keirian mendalam pada kampus diploma dan pasca sarjana yang punya posisi lebih elit. Namun kami pun sadar, kalau toh kampus kami dipindah ke daerah yang lebih elit, sesungguhnya uang jajan kami yang hanya cukup untuk beli nasi uduk plus telor penyet (itu pun masih mencari warung yang paling murah) tentu tidak akan sanggup menggapai kemewahan pusat kota. Yo wis lah mau bagaimana lagi.

Belum lagi saya ini orangnya kuper. Hobi: Tidur, makan, dan uwel-uwel kucing.
Bahasa Inggris saya juga yaaaah gitu-gitu aja. Bahasa Jepang cuman bisa kore-kore. Bahasa perancis, cuman bisa baca, listening dan speaking sih wassalam  :’D.
Kemampuan matematis so-so
Kemampuan menghapal lebih parah
Loooh, mau jadi apa toh, Nduk?

Ketika saya terbang dan menempuh studi di Jepang,di Tokyo Institute of Technology pula, banyak pesan yang masuk ke mailbox saya. Beberapa tentu memberi selamat. Beberapa ada yang keceplosan “Kok bisa, Mon?” sampai “Lo beneran sekolah? Bukan exchange? pasti pake uang lo sendiri kan?”
Saya kok paham kenapa banyak yang bilang begitu hahahhahaa.

Saya berangkat bukan serta merta membawa senyuman loh kawan-kawan. Saya membawa beban berat. Mungkin Allah menyeret saya dengan cara yang cukup ekstrim. Sebelum saya berangkat, saya sudah menuai banyak kontroversi (Hish! Bukan Pak Super aja yang bisa menuai kontroversi, gw juga!). Saya dianggap cukup “durhaka” meninggalkan mama saya yang memang kondisi kesehatannya tidak se-fit dulu dan meninggalkan adik kecil saya yang masih sekolah. Saya dianggap sombong… dan jangan salah, ada juga loh yang sampai bilang saya bakal “seret jodoh” itu agak sedih sih.

Di tengah konflik batin itu, tiba-tiba Dosen saya menawarkan saya untuk studi di luar negeri. Tiba-tiba juga LPDP mengabulkan permohonan perpindahan universitas saya yang sebelumnya sudah ditolak mentah-mentah. Dan pada puncaknya adik saya yang dingin, tidak romantis, garing, dsb dsb dsb “datang dan bilang “Kak, you should go! Study hard there, and I want to see you happy”
Karena sesungguhnya tiada hal paling romantis selain kata-kata sweet dari orang yang dingin!
Pernah suatu saat adik saya membawa celengan kesayangannya “Kak, tell me how much you should pay to go abroad?”
Mungkin… ini mungkin… jika saya tidak memiliki adik seperti adik saya, saya tidak akan ada di sini. Di posisi ini.

Saya… si anak “biasa-biasa” ini kemudian terbang ke Jepang. Sekolah lagi! Di Tokyo Institute of Technology hahahaha asa keren ada technology-nya hahahah anak dusun jadi lebih “melek” teknologi

Image and video hosting by TinyPic

Menempuh jenjang master di luar negeri itu pun tidak semudah yang kalian bayangkan. Selfie mungkin cantik dan ceria, namun di balik itu? Saya shock karena saya merasa otak saya kosong!  Saya shock dengan kendala bahasa, saya putus asa karena mata kuliah yang ingin saya kuasai dalam bahasa Jepang, saya kaget dengan budaya kerja di negeri ini yang tidak kenal ampun. Saya lelah… saya lapar… dan sesampainya di rumah? Di apato mungil saya hanya ada kulkas kosong. Ketika emosi, saya menjadi garang dan membunuh para kecoa dengan membabi buta. Pernah suatu hari petugas dari Tokyo Gas sampai datang ke rumah karena alarm gas saya berbunyi… padahal itu hanya efek saya menghabiskan satu kaleng insektisida untuk memusnahkan para kecoa hingga ke anak, cucu, dan cicit.
Yah tapi  alhamdulillah lulus juga :’D

Image and video hosting by TinyPic

Namun di balik itu semua, saya menemukan hidup yang baru.
Saya bekerja sama dengan Sensei-sensei yang humble dan bijaksana.
Saya menemukan teman-teman baru.
Saya melihat tempat-tempat baru.
Saya jatuh cinta.
dan yang pasti saya mulai menemukan diri saya yang sebenarnya. Sebuah sisi manusiawi yang paling nyaman saya “kenakan” saat ini.

Lalu kemudian saya sampai di titik yang sekarang. Saya menempuh jenjang doktoral.
Sungguh tidak ada yang mahakeren dari ini semua. Menjadi seorang PhD mungkin hanya sebuah cara yang tidak biasa untuk menjadi lebih manusiawi dan rendah hati.

Marissa, si PhD candidate ini toh masih jadi orang yang wara-wiri ke semua orang hanya untuk revisi proposalnya yang masih busuk (dan ditolak LPDP hahaha #curhat).
masih menjadi orang yang kikuk ketika bicara tentang orang asing,
masih menjadi orang yang bermasalah dengan percaya diri namun kemudian berusaha untuk lebih menerima diri sendiri, untuk tidak terlalu keras kepala terhadap diri sendiri.
Masih menjadi mahasiswa bloon yang kena omel sensei “Loh… ini loooh kok ndak dibaca. Udah berapa kali saya bilang” hehe
Masih bodoh di matematika dan pada akhirnya semakin muka tebal mengunjungi anak bachelor dan master untuk di ajari matematika :’D ini kisah nyata loh.
Saya tetap mahasiswa ngirit yang pergi ke toko sayur pun hanya jelalatan melihat sayuran diskon.

Beberapa kali saya katakan kepada setiap orang, sungguh tidak pantas pendidikan yang tinggi membuat kita menepuk dada terlalu keras. Pertama, karena itu kan sakit ya, Bok. Pertama, karena sesungguhnya pendidikan yang semakin tinggi membuat kita semakin sadar bahwa kita ini yaaa belum tau apa-apa. Kedua, pendidikan yang semakin tinggi membuat kita sadar bahwa kita butuh bantuan orang lain. Pada intinya, pendidikan membuat kita sadar bahwa kita adalah MANUSIA.

Kepada kalian pembaca blog ini, terutama yang masih muda-muda, adik-adik saya….
Kalian masih muda, you are still young! Jadi berkelanalah jemput impian-impian kalian. Bumi Allah ini luas, maka explore bumi ini. Temukan pengalaman dan teman-teman baru. Jangan takut dengan kelemahan-kelemahan yang kalian punya. Saya toh bukti nyata dan hidup kalau si manusia dusun yang biasa-biasa saja ini bisa lohhh sampai ke level ini. Kalian mungkin akan ragu, minder, takut, tapi jangan lupa tetap maju…hanya dengan melangkah maju kita bisa tahu apakah kita bisa mengatasi setiap kelemahan kita. Semoga setiap langkah itu membuat kalian, kita semua, menjadi manusia yang jauh lebih kuat dan lebih mengenal diri kita sendiri. Insha Allah πŸ™‚ * Kalau udah umur segini emang omongannya lebih emak-emak*

Kepada teman-teman yang sedang melanjutkan studinya semoga Allah melimpahkan kekuatan dan berkah dari ilmu yang kalian tuntut. Hingga kelak kalian bisa memastikan ilmu kalian berguna bagi khalayak banyak. Dan semoga Allah juga melindungi kita dari sifat sombong. Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk πŸ™‚ Okay.

Terima kasih kepada keluarga dan guru-guru saya, saya tidak bisa membalas apa-apa namun semoga setiap jerih payah saya kali ini dan kelak akan menjadi alasan kecil untuk membuat mereka semua tersenyum

Terima kasih kepada teman-teman saya, hidup ini sepi loh tanpa kalian… dan apapun alasannya, tetap perlakukan seorang Marissa seperti Marissa yang biasa πŸ˜€ seorang pecinta kucing sejati.

Dan mungkin terima kasih kepada semesta dan Sangpencipta semesta… karena caranya untuk mengajarkan saya tentang banyak hal begitu Indah.

Sedikit Mengintip Kehidupan di Lab.: Karena hidup kami tidak seindah foto-foto selfie kami


Kadang gemes juga ya kalau ada yang bilang “Aduuuuh….enak banget sih sekolah di luar, selfie terus… fotonya bagus-bagus. Kayaknya happy-happy semua ya?” ahahahhahaa iya sih, namun tak jarang di balik layar kami semua hampa dan galau. Yang ngomong gitu tuh belum tau rasanya ketika stuck, sensei bilang lo harus ulang semuanya dari awal, pusing, laper, lembur di lab, nyampe rumah yang menyapa cuman seonggok kulkas kosong! That’s hurt, Bray! huhuhuhuhu… jauh dari rumah, apalagi untuk family person seperti saya ini sesungguhnya berat bgt. Saya kan tuan putri manja, kalau ada apa-apa di Indonesia pasti nguwel-nguwel adik saya dan curhat macem-macem ke Mama. Di sini? Gak ada, bahkan kucing pun gak ada. Ada kucing tetangga, tapi gak bisa ngomong bahasa Indonesia. Hiks.

Walau gak seburuk itu sih, saya happy dan bersyukur juga karena banyak hal πŸ™‚ Tapi kalau dibilang “Wah sepele banget ya rupanya sekolah di luar” wowowowowow…. hold on a second! Baiklah, karena saya sering nginep di lab. pada kesempatan kali ini saya akan perkenalkan isi lab saya πŸ˜€ semoga bisa menjawab rasa penasaran kehidupan ngelab di Jepang ini seperti apa. Mumpung lagi gak ada siapa-siapa.

Waktu menunjukan jam 4 subuh
Image and video hosting by TinyPic

Entah kebetulan atau bagaimana, namun memang di lab saya ini seperti ada zona Ikhwan-Akhwat ahahahaha…. ada zona terpisah antara mahasiswa cowok dan cewek. Gak sengaja sih. Cuman ini juga karena pertimbangan anak-anak lab kan suka pada tidur atau bahkan nginep di lab, nah kan gak kece kalau kita yang cewek ngiler keliatan yang cowok-cowok begitu pula sebaliknya fufufufufufu.

Untuk yang belum tahu, saya ini mengidap dyslexia ringan… Saya tidak bisa membedakan dengan cepat antara kanan dan kiri, plus saya susah banget menghapal nama orang. Untuk memudahkan saya, dibuatlah denah tempat duduk ini. Karena saya iseng, jadi sekalian saya tambah doodle buatan saya ahahahhaaa…. sengaja biar saya ingat sifat dan hobi masing-masing teman saya di lab ini πŸ™‚

Image and video hosting by TinyPic

Zona cowok memang lebih chaos hahahaha… tentu karena mereka lebih sering menginap di lab daripada kami para wanita-wanita lugu ini.
Di bagian tengah sih rapi…apalagi zona ini didominasi oleh pria-pria rapi.
Image and video hosting by TinyPic
tapi di bagian pojok…. pffffft :p kasur lipat, sleeping bag, dan selimut merajalela
Image and video hosting by TinyPic

Dan asal tahu saja, tiap laci penuh! Penuh dengan cemilan. Bukan untuk gempa atau bencana alam, tapi lebih untuk bertahan ketika begadang.

Untuk zona akhwat…uhuk…. ambil sudut pandang agak jauh lah biar gak malu. Lihat kursi paling berantakan dan penuh bantal itu? Naaaah itu meja saya! hahahahaha berantakaaaan. Kalau para pria punya kasur dan sleeping bag, saya punya bantal. Salah satu bantal bisa dibuka dan jadi selimut… kadang bisa jadi sajadah juga. terus si kucing item bisa jadi bantal. Jadi peralatan perang saya sesungguhnya tidak kalah lengkap.
Image and video hosting by TinyPic

dan karena kadang pengen ngopi (atau dapat voucher starbuck gratis), maka koleksi tumblr saya pun siap sedia di lab. Siapa tau khaaaaan…. rezeki nomplok.
Image and video hosting by TinyPic

Nah… di sebuah lab, selalu ada Asisten Professor yang menurut saya lebih intens berkomunikasi dengan mahasiswa dibandingkan dengan professornya sendiri. Saya punya asprof yang baiiiiiik banget (over malah), dan setiap kali kami stuck dan buntu… doski akan siap membantu. Kalau kemudian Beliau juga stuck… oh ne vous inquiΓ©tez pas πŸ˜€ Dia akan langsung mengecek literatur yang ada… widiiiih, cek dulu dong rak buku Beliau, cadazzzz!
Image and video hosting by TinyPic

Sedangkan kami, pemuda-pemudi negeri….
Ketika kami stuck, lemah, tak berdaya, dan gak ngerti harus apa… kami juga baca buku. Buku komik :p ya habis bagaimana, daripada semakin menggila kan πŸ˜€ tapi buku non fiction juga banyak kok di meja masing-masing.
Image and video hosting by TinyPic

Asprof saya juga beberapa kali bilang, minat baca pemuda Jepang menurun. Pffttt… belum ke Indonesia aja doi ahahhaahaha… lebih parah lagi :p

Lab itu semacam rumah kedua bagi mahasiswa di sini, apalagi untuk anak-anak yang menggunakan eksperimen untuk penelitiannya… wah handuk, sikat gigi, sabun, juga mungkin udah pindah semua ke lab. Saya juga ke lab sampai semalam ini karena saya agak malas bertemu manusia di siang hari hahhahaa. Some people love to work alone. Rasanya lebih baik bekerja saat malam hari di banding siang entah kenapa. Tapi jangan terlalu ditiru sih, kelak di dunia kerja bakal repot.

Kadang menginap di lab itu karena faktor kepraktisan juga sih… sudah menyimpan semua data dan sudah merun program semuanya di komputer lab, jadi kagok kalau harus menyambungnya dengan laptop di rumah πŸ™‚ tapi saya juga pernah punya teman yang tidak bisa lepas dari laptopnya, dan sekalinya dia lupa bawa kabel, dia pun langsung pulang “My life is not complete without my laptop” dan orang macam ini asal memeluk laptopnya dia sudah happy dan bisa kerja.

Semua orang punya style masing-masing dalam mengerjakan penelitiannya. Saya pribadi sih paling males ya mengomentari “Ih si A kok jarang ke lab….”, “Eh si B kok gini ya…” bla bla bla…
Kita tidak pernah tahu seberapa keras seseorang berjuang di balik layar.
Biasanya saya pula setelah shalat subuh dan setelah mengecek jadwal kereta πŸ™‚
Hal paling keren yang bikin saya betah kerja malam sampai pagi adalah: lihat matahari pagi.
Semua orang mungkin melihat matahari tenggelam dari jendela lab mereka hampir setiap hari, tapi tidak semua melihat matahari yang terbit dan perlahan menyorot Honkan πŸ™‚
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

selain itu karena saya cinta banget star gazing, kalau mulai mengantuk dan bosan saya bisa keluar dan lihat bintang, and no one disturb me, no one said I am weird… I am alone, me and nature. Terakhir kali saya melihat bintang sebebas ini adalah ketika ayah masih ada, jadi ketika kesempatan seperti ini datang lagi, I can’t miss it.

Di balik dinding universitas….
Di balik dinding lab…
Tersimpan impian dan harapan mahasiswa-mahasiswa yang sedang berjuang menempuh pendidikan mereka.
Di balik dinding ini semua, saya mengalunkan doa-doa terbaik yang saya miliki, meyakinkan Tuhan bahwa Dia tidak salah mengamanahi saya untuk berada di sini.

Dan percayalah, semuanya sedang berjuang sebaik yang kami bisa dengan cara kami masing-masing πŸ™‚

One of my favorite things in Tokyo: TRAIN!


Jumlah orang Indonesia yang datang ke Jepang makin banyak nih. Tiket murah ke Jepang juga makin sering disediakan maskapai-maskapai penerbangan nasional. Yes! Come and enjoy Japan! Datang juga ke Tokyo, The safest city in the world!

Sebagai pendatang di negeri ini, kalian mungkin punya kendala bahasa. But don`t worry! Kalian tetap bisa mengelilingi Jepang, terutama my favorite city: Tokyo dengan senang riang dan gembira. Kalian hanya perlu menjadi ahli dalam naik: KERETA!

Exactly! Pertama kali saya ke Tokyo, sensei saya hanya kasih rute kereta dari Narita ke Tokyotech dengan surat cinta “If you want to survive in Tokyo, have a nice life in Tokyo, first of all you should be advance in using train”

Bagi seorang gadis polos yang cuman tau kereta api Indonesia yang cuman tiga jalur utama di Bogor (Bogor-Jakarta Kota, Bogor-Jatinegara, Bogor-Sukabumi), disuruh langsung menghadapi rute kereta api di Tokyo itu… rasanya….rasanya… mau shalat istikharah di tengah stasiun!

Hah…. apa sih susahnya? Oh come on! Nih..nih… liat rutenya
Image and video hosting by TinyPic
Ganas gak tuh… oiya ini hanya sekitar Tokyo ya! Ingat hanya sekitar Tokyo!

Masya Allah… terus nasib gw kalau gw anak baru gimana, Mon?
Tanyalah sebuah penemuan luar biasa di planet ini bernama: GOOGLE MAPS!

Tokyo walau kota gede, tapi jangan harap kalian bisa dapet wifi semudah membalikan telapak tangan, tips dari saya kalau kalian bener2 lonely traveler, siap-siap cari rute menuju tempat2 inceran kalian dari google maps sebelum sampai Tokyo.
Kalau persenjataan sudah lengkap, insya Allah semua lancar.
Jika kalian stuck! Setidaknya tulis tujuan kalian terus kalian tinggal tunjukin tempat tujuan kalian itu ke petugas stasiun, mereka mungkin gak bisa bahasa Inggris, tapi mereka akan bantu sebaik mungkin. Japanese people always very helpful πŸ™‚

Tokyo sepertinya menyadari itu, dan bukan Jepang namanya kalau bukan well prepared.
Ingat-ingat rute yang kalian lalui, dan setelah kalian temukan inget-inget warnanya! Yeph… semua jalur diberi tanda warna yang berbeda

Contoh, kampus saya dekat dengan Oookayama station (Nih… stasiun kesayangan saya)

Image and video hosting by TinyPic

Banyak yang ngetawain stasiun favorit saya ini :`D katanya huruf “O”nya dibaca dengan 3 harakat. Iya dan harus! Karena Okayama bener-bener tempat yang berbeda lagi hahahaha.

Sebagai stasiun yang agak besar, ada dua line di stasiun ini. Ooimachi line (dengan warna orange) dan Meguro line (dengan warna biru).
Just remember orange itu ooimachi line, biru itu meguro line.

Image and video hosting by TinyPic

Ex: Orange: Ooimachi, Biru: Meguro

Nah pas kalian turun, nanti kalian akan liat dari jauh… ada plang yang dikasih warna orange dan biru. Yeph! Berdiri di yang warna biru kalau kalian mau naik meguro line, atau orange kalau mau naik Ooimachi line

Image and video hosting by TinyPic

Masih inget ya πŸ˜€

Tunggu-tunggu perjuangan berlum berakhir, kalian harus pastikan apakah kalian sudah berada di jalan yang benar atau belum.
Ingat-ingat lagi tujuan kalian, lalu lihat simple little things called MAPS

Image and video hosting by TinyPic

Cek lagi apakah kalian sudah berdiri di jalur yang tepat

Alhamdulillah.. finish!

EITS belum!
Dengan sistem perkeretaapian Tokyo yang rada rumit, di sini udah biasa banget “Norikae” alias pindah kereta untuk mengambil kereta ke line lainnya. Kenapa? Karena penyedia jasa railways di Jepang itu macem-macem. Jadi kadang kalau kita ke suatu tempat kita harus pindah kereta karena jalur yang dilewati dikelola dua perusahaan yang berbeda.

Image and video hosting by TinyPic

Ini agak nyebelin sih -.-

Lebih gemesnya lagi! Kadang tricky! Satu jalur bisa bercabang ke jalur-jalur lain.
Sebagai contoh:
Jalur Meguro Line yang bisa bercabang ke jadi Mita Line. kalau gak hati-hati denger, yo wes blasss… entah kemana πŸ˜€

kalau menemui hal seperti ini, gak ada solusi lain selain denger baik-baik pengumuman dan liat jadwal kereta. jadwal ini jarang meleset! Masinis di Jepang perhitungannya detik ya… detik! jadi cerita kereta telat it jarang lah.

Image and video hosting by TinyPic

Jadi yang mau ke tempat tujuan gw jam berapa????

Huft! Tough isn`t it!
tapi sebagai penggemar berat kereta, saya tetap enjoy menggunakan kereta apalagi di Tokyo!
1st it is cheap
2nd it is fast
3rd nyaman *I know how it feels in Jabodetabek train :p jadi kereta jepang bahkan di rush hour, SANGAT NYAMAN*
4th jarang telat
5th pak masinisnya gak pernah salah ngeberhentiin kereta.
Semua stasiun di Tokyo udah jelas kita harus berdiri di belah mana, dan itu juga gak pernah meleset. Gak ada cerita di sini lari-lari ngejar pintu gerbong kereta. Nehi-nehi layaw!

Image and video hosting by TinyPic

Nih berdiri di sini ya… Ini tempat untuk gerbong 6 bagi kereta ekspress atau gerbong 5 untuk kereta lokal (kayaknya gitu mwahahahaha…).

Terus sebagai pecinta kereta, saya suka pegel deh kalau ada yang mencaci maki “Hish! Kereta telat nih, pasti ada orang yang bunuh diri. Bodoh banget sih tuh orang, ngerepotin! Pake bunuh diri segala!” ITU TIDAK SEPENUHNYA BENAR.
Yeph, tingkat kematian ketabrak kereta emang cukup tinggi di Jepang, tapiiii… gak semuanya karena bunuh diri. Bunuh diri dengan nabrakin diri ke kereta itu gak solving any problems lagi karena nanti keluarga yang bunuh diri harus bayar ganti rugi ke perusahaan kereta apinya! Halooow… saya nih, saya… kalau saya bunuh diri, mungkin lebih baik gantung diri ya daripada keluarga saya harus bayar denda gila-gila karena saya loncat ke rel. Iya kan?
Nah, faktanya 70% kematian karena kereta itu karena orang yang mabok! Yeph! Mereka mabok, oleng, gak ada batas di jalur kereta api, terus GUBRAAAAK jatuh, lalu kereta datang tanpa tendeng aling-aling. Kalian bisa mengira akhir kisahnya.

Sisanya yang 30% itu, ada yang heelsnya nyangkut di jalur kereta, jatuh kepleset, dan tentu yang bunuh diri.
“Ah mon… sok tau banget lo” iya sih… tapi dengan kemampuan nihongo saya yang kelas TK ini, saya bisa ngerti poster-poster yang ada di stasiun.

Jepang tentu menyadari hal ini, makanya dibikin pintu pembatas di stasiun… kayak yang ada di Oookayama. Yah setidaknya mahasiswa yang mabok karena party atau yang stress ujian gak akan meninggal di sini lah.

Image and video hosting by TinyPic

Jangan pada loncat ya

Hal lain yang paling saya suka adalah IC PREPAID CARD! Mukyaaaaaaa…. ini keren banget!
kalau kalian pusing beli-beli tiket, kalian beli aja IC card ini, 1500 yen dengan saldo awal 500 yen. Setelah itu kalian bisa isi sesuka hati. Oiya! dengan IC card, harga tiket juga jadi lebih murah loh 4-6 yen πŸ˜‰ mayan kan.
Sahabat saya ketawa-ketawa karena saya punya obsesi koleksi IC card. hahahaa… tapi ini beneran, beda wilayah beda pula desain IC cardnya. Berikut pembagiannya:

Saya pengguna Pasmo, sensei saya Suica… kalau ke kyoto orang akan pakai Icoca atau Pitapa.

Sebenarnya gak penting sih ngoleksi IC card, karena IC card ini berfungsi dimanapun kalian berada. Saya sebagai pengguna pasmo bisa aja pake pasmo saya di Osaka, Kyoto, Nagoya, dimanaaaa ajaaaa… Tapi kan lucu ya koleksi IC card dengan motif yang beda-beda.

Oiya! IC card ini juga bisa dipake buat bayar bus, kantin, convenient store, etc etc selama ada alat tapping IC card-nya.
Seru banget kan!

You`ll love Tokyo very much!

Tapi ini belum cukup, sebagai pecinta kereta saya punya ambisi kelak saya harus merasakan sistem kereta api yang lebih rumit dari ini dan mengunjungi stasiun-stasiun paling indah di dunia. Hahahahaha….

Okey! Fixed! I want to go around the world using train! πŸ˜€ pasti keren!

Salam cinta dari anak kereta!