Dear para pemalas… tahukah kamu apa itu “googling”?: Omelan untuk yang masih malas berjuang


Mbak syarat buat S2 itu apa ya?”
“Syarat buat S3 itu apa ya?”
“Kalau TOEFL itu tesnya dimana”
“Kalau jurusan x di univ A ada gak ya?”
Dan jutaan pertanyaan *maaf* para pemalas lainnya bertebaran di dunia nyata dan dunia maya.

Apa, mon? Pemalas kata lu?
Itu sudah diperhalus…jadi terima aja.
Jujur gw kagum pada orang2 yg pada sabar menjawab pertanyaan2 seperti itu. Kalau gw? Beuh….. udah ngamuk-ngamuk.

Mungkin gw judes ya, buaaaaangeeeeet. Tapi kalian harus tahu… ketika gw memutuskan sekolah lagi. Dari gw lulus sampai gw dapat beasiswa gw memakan waktu 2 tahun! Gw berjuang 2 tahun! gw korbankan waktu gw 2 tahun! Usia gw ilang gitu aja selama 2 tahun! Gw berjuang mati-matian, kerja serabutan buat nambah2 uang, ikut tes iBT, beli buku, cari info sana-sini, selama 2 tahun gw juga bertahan dengan omongan orang yang bilang gw tukang ngehayal dsb.

Lalu sekarang bayangkan betapa mengkel dan jengkelnya gw ketika ngeliat di sosial media atau dimanapun ada yang nanya “Tolong dong saya minta info syarat masuk univ A gimana. Kira-kira saya sesuai gak ya?” Excuse me dan dengan segala hormat… kamu mau sekolah lagi dengan mental setempe itu? Kamu mau mencoba tantangan baru dengan perjuangan semurah itu? Go home you’re drunk!

Bukannya saya pelit ya saudara-saudara. Tapi bukankah kalian wahai manusia-manusia intelektual yang sudah dilahirkan dari berbagai universitas di tanah air, sudah menghadapi stage menjadi mahasiswa…. menghadapi banyak persoalan yang lebih kompleks daripada ketika kalian di SD, SMP, dan SMA? Bukankah kalian seharusnya sudah bisa terlatih berusaha memecahkan pertanyaan-pertanyaan kalian terlebih dahulu secara mandiri?

sudah menghadapi ujian ekonometrika misalnya…
ganasnya kalkulus….
menegangkannya sidang….
dan sebagainya….
dan apakah intelegensia yang sudah dilatih sedemikian rupa itu tidak bisa mengetik di google “Syarat beasiswa X” atau “Syarat masuk universitas ABC”
Tidak bisa? Jika tidak bisa…. jangan coba-coba deh sekolah atau berkarir di luar negeri. Sorry to say.

Kalian tahu? Hidup sendiri… jauh dari keluarga…. apalagi di luar negeri, itu gak gampang.
Gw aja, minggu ini udah hampr gak tidur selama seminggu hanya untuk menaklukan game theory. Ada puluhan jurnal yang harus gw search sendiri dan gw baca sendiri untuk memecahkan soal-soal ujian dan PR gw. Sendiri! Ya….. kalian punya teman, exactly! Tapi teman gw juga sibuk dengan persoalan mereka masing-masing, dan jikapun ada yang ngambil course serupa mereka juga mengalami kesulitan yang gw alami, yang berarti apa? Yang berarti kemampuan yang harus paling kalian andalkan adalah kemampuan kalian sendiri!

Percayalah…. semuanya pasti ada jika kita mau mencarinya

Jika kalian, bahkan untuk sekadar meluangkan waktu 1-2 jam untuk mencari informasi mengenai bagian dari impian kalian aja gak sanggup, apa kalian mampu jika kelak harus menembus perjalanan udara berjam-jam lalu menghadapi PR-PR dengan bahasa yang berbeda, dengan tingkat kompleksitas yang jauh lebih tinggi, dan dengan kondisi psikologis yang berbeda? Gak! Kalian cuman akan nangis. Dan siapa yang mau bantu orang yang cengeng? Semua orang bergerak…. terburu-buru mengejar target mereka, terlalu sibuk untuk mengurus orang yang bahkan tidak bisa memotivasi dirinya sendiri.

Kalian harus menjadi orang-orang yang bukan hanya cerdas, tapi tangguh….
Kalian harus perjuangkan yang kalian impikan, sesulit apapun itu. Dan awal perjuangan ini dimulai dari sekadar berjuang mencari informasi. Jika kalian sudah googling lalu “Ah…. stuck!” ya mungkin kalian akan stuck, tapi pada titik itu kalian akan tahu “Apa sih sebenarnya yang perlu gw perdalam dan perjelas”

Gw kesal sekali ketika ada yang kemudian menge-mail saya “Kak, syarat masuk Tokodai apa ya?”
Gw mencoba bersabar “Ada, Nak…. di websitenya” lalu saya kasih webnya.
Terus dibales lagi, “Oh… bisa daftar beasiswa juga ya. Daftarnya gimana ya?”
Dan gw  jawab “Kalau kamu benar-benar mau sekolah… kamu…. ya! kamu! seharusnya sudah lebih banyak tahu dibandingkan saya. Nak, saya bukan pendiri Tokodai apapun pekerja di rektoratnya. Ini webnya.. ini web alternatif beasiswanya… jika ada yang belum jelas di setiap link ada contact person dan jika kamu teliti membaca kamu akan tahu siapa saja contact personnya.”

Sewot banget kan.
Jadi buat yang mau ngechat atau nge e-mail gw. Sekarang kalian tahu pertanyaan terlarang macam apa yang gak perlu kalian tanyakan ke gw dan menyulut emosi gw.

Begini….
Di Islam, kalian tahu kan ayat pertama itu apa? “IQRA”  yang artinya: Bacalah!
Maka bisakah prinsip sekeeeeeeeciiiiiiiiilllllll itu diterapkan dalam kehidupan kita, ketika kita tidak mengerti maka first to do is “Baca”
Ketika kalian mau ngerebus mie dan kalian gak tau cara bikinnya maka baca cara memasaknya
Ketika kalian gak tau cara bikin omelet, baca resepnya
Ketika kalian gak tau cara ngerakit lemari dan di depan kalian ada seonggok rangka lemari, pastikan ada manual perakitan di situ dan kalian hanya perlu membacanya.
Ketika kalian sakit dan harus minum obat, baca aturan pemakaiannya biar kalian gak mati over dosis.

Lalu apa saya salah jika mengatakan, jika kalian misalnya ingin sekolah ke Jepang, untuk jurusan ekonomi misalnya. Maka pertama kalian harus membaca dan membandingkan universitas-universitas incaran kalian, membaca publikasi calon profesor kalian agar kalian tau tujuan kalian match atau tidak dengan impian kalian, sreg atau gak, lalu baca syarat masuknya, lalu baca kalau butuh beasiswa harus bagaimana.
Yaaaaa…. lama sekali…lamaaaaa sekali….
Tapi itu yang akan membentuk kepribadian kalian. Membentuk kalian menjadi orang dengan pemikiran yang taktis, optimis, tangguh, tahan banting, punya rasa ingin tahu.
Kalau di awal aja kualitas kalian loyo, maka maaf saja di dunia ini ada banyak orang yang mungkin tidak sepintar kalian tapi lebih tangguh dan lebih gigih dari kalian. Dan kalian yang loyo-loyo dan malas berjuang lebih jauh ini siap-siap aja ketinggalan dengan mereka yang tangguh-tangguh ini.

Kalian sadar gak, bumi ini berotasi dan berevolusi…. waktu berlalu…. semua bergerak.
Jika kalian hanya diam… pikirkan lagi apa kalian masih bangga menjadi makhluk planet ini?

Membongkar cinta-cinta dalam kardus *)


Dan perlukah kita mengungkapkan cinta?

Waduh… pertanyaan macam apa ini. Kalau gw ditanya, jujur gw jawab: tidak, setidaknya itu jawaban seorang wanita gengsian seperti gw. Tapi perjalanan selalu membuat kita berpikir lebih baik, dengan perspektif yang berbeda. Ketika gw bertemu salah satu sohib gw di kyoto gw jadi berpikir, mungkin in some cases kita perlu mengungkapkan cinta, namun bagaimana cara yang baik dan waktu yang baik itu semua masih diproses dalam otak gw yang masih semrawut dan perlu dibersihin pakai vacuum cleaner ini.

Mulai dari mana ya?

Mulai dari mmm….

Pernah gak sih waktu kalian masih keciiiiil banget, terus mama kalian tanya “Sayang gak sama Mama?”, “Sayang gak sama ayah?”, “Hayooooo anak Mama atau anak Papa”, dan sejenisnya.
Percayalah gw ingat ketika gw masih balita mama gw pernah tanya itu sambil gendong gw. Mungkin mama di seluruh dunia melakukan itu. Jawaban standarnya pasti “Sayang dong” atau jawaban sejenis itu. Lalu semakin gw menua… *haish* gw merasa bahwa pertanyaan seperti itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, itu kayak nanya “Apakah matahari bersinar” oh come on…. how stupid. Tapi semakin usia gw bertambah juga, semakin banyak orang yang gw sayang meninggalkan gw. Tragisnya, gw belum sempat bilang dengan lafal yang jelas dan tegas “I love you, so much” not a big deal, tapi ada saat ketika lu teringat dan “Auwch… I miss you so much, and do you know how much I love you. I wish you know it”

Tapi pengalama itu toh tidak membuat gw kapok, gw tetap merasa…. “Apa yang sudah gw lakukan ini belum menunjukan kalau gw…. gw, Marissa Malahayati, sayang banget ke kalian”
Gw gak pernah bilang sayang ke adik gw, mama gw, keluarga gw, temen-temen gw, bahkan cowok yang gw suka. Lagi-lagi itu bukan masalah, apaan juga sih… kalau baik yaaaa baik aja, kalau sayang ya sayang aja, kalau cinta ya cinta aja….pamrih banget sih sampai harus diungkapkan segala? COME ON!

Lalu ting….whatsapp dari adik gw. Dia baru baca tulisan gw di salah satu buku. Awalnya cuman saling ledek seperti biasa. Tapi setelah itu “Kiki sayang sama kakak, belajar yang bener ya kak, oleh-oleh jangan lupa” kalian tau rasanya? Mungkin harus ada kata di atas kata bahagia untuk menggambarkan itu. Mungkin super mega combo happy. Dan rupanya hal sesederhana itu bikin gw bener-bener bahagia.

Lalu ting… whatsapp dari mama gw, “Mama juga sayang ke kakak dan kiki” of course….itu sih gw tau, seperti tau kalau matahari terbit dari timur. Without any doubt. Tapi entah kenapa ketika itu semua terucap, it cheers you up…more than anything else in this world.

Ketika ayah masih ada, setiap gw ulang tahun ayah selalu ngasih kado ke gw, I love presents. Tapi yang lebih gw suka lagi adalah membaca notes yang selalu Beliau tinggalkan di dalam bungkus kado itu. When you know someone you love, love you back…. don’t you think it’s awesome?

Tapi lagi-lagi karena gw ini cewek gengsian  ya… kalo kata temen gw yang dodol,  “watashi wa watashi desu” alias gw ya gw…. style gw, sok cool, mencintai segalanya diam-diam. Untuk keluarga sih mungkin gak terlalu masalah ya, mereka selalu jadi orang nomer satu yang tau style dan segala keanehan gw. Tapi ke sahabat, temen, atau orang yang lu taksir, aaaah… it such a big deal. Ketika kalian menyembunyikan cinta-cinta kalian dalam kardus, kalian selotip, lalu ditimpa sama tumpukan koran, maka dia tetap tersimpan di dalam kardus.

Orang yang gak kenal-kenal banget ke gw pasti berpikir gw ini jutek *iya sih… itu gak salah-salah banget*, berdarah dingin *alhamdulillah gw belum jadi amfibi kok*, suka menggigit *errrr….-.-*. Tapi gw gak sejahat itu *ngaku-ngaku*. Gw sebenarnya mau jaim aja sih jadi cewek sok cool gitu :p, namun daya kebablasan. Mungkin cara gw yang berbeda untuk mendekripsikan itu. Gw memang aneh…. aneh banget.

Kalian tahu kenapa gw gak pernah pake ojek payung? Karena gw gak tega saat gw pake payung dia dan dia kehujanan.
Kalian tahu kenapa kalau gw lagi sedih gw gak jarang bilang? Karena gw tidak mau menambah masalah buat orang lain dengan masalah gw.
Kalian tahu kenapa gw ketika ketemu teman gw, gw hanya sekadar menyapa terus langsung pergi? Karena gw berpikir mungkin mereka punya agenda lain yang jauh lebih penting dari sekadar chit-chat basa basi sama gw
Kalian tahu kenapa kalau naik angkot gw selalu memilih paling pojok walau itu tempat paling panas sekalipun? Karena gw terlalu malas buat geser, dan gw gak mau orang lain repot masuk jauh-jauh sampai ke pojok saat naik angkot.
Gw lalu jadi kayak bocah pelit, ansos, introvert, dan gaje. Emang bener sih… tapi errrr… sebenarnya gw tidak bermaksud seperti itu. Itu membuat gw tidak punya terlalu banyak teman, tapi ketika gw punya sahabat, mereka orang-orang terbaik yang pernah ada di planet ini.

Lalu ketika gw suka sama seseorang, hal yang gak jauh beda terjadi. kalaupun kelepasan gw kan jago nulis dan berkelit gw bisa nulis atau bilang “Hahahaha…. becanda lagi” gw kayak gak pernah nonton film pocong juga pocong aja hahahahahaha. Ini juga salah, karena gw terlalu “minder” untuk banyak hal. Gimana gak minder ya -.- stereotype gw di mata beberapa orang kan udah terlanjur “aneh” jadi gw takut orang yang gw suka juga menganggap hal yang serupa. Mungkin dia lebih baik gw tinggal, menemukan orang yang gak seaneh gw lalu have a happy-normal life. Gw juga agak trauma ketika gw ditinggal ayah dan kakek gw dalam waktu yang berdekatan, man I love…leave me so fast, why should I love the other one except my brother. Itu juga alasan kenapa sebenarnya gw gak excited banget buat nikah, gw cuman mau mama bahagia…liat adik gw punya pekerjaan yang baik dan keluarga yang bahagia and I think my tasks in this world just finish. Tapi mungkin gw salah.

Gw butuh orang lain yang bisa menemani gw…
Ketika mama nanti gak ada, adik gw udah punya keluarga, semua teman-teman gw udah punya kehidupan dan keluarga masing-masing, ketika gw makin tua dan menua. Harus ada orang yang bisa selalu ada di samping gw dan jadi orang yang ngingetin gw banyak hal dan jadi teman gw bertukar pikiran, yang akan ada untuk gw dan gw ada untuk dia. Yang seiring dengan keriput gw nambah, gw bisa bersama dia dan denger cerita dia sampai tiap lembar rambutnya berubah warna. Gw bisa sih piara kucing, tapi kucing gak bisa telpon 911 kalau ada apa-apa sama gw.

Terpisah jarak ratusan kilometer dari Indonesia, gw membawa cinta gw dalam beberapa kardus. Beberapa cinta retak, dan sudah gw perbaiki dengan lakban dan selotip kardus plus sedikit lem besi, it is stronger now. Tapi tetap gw simpan di dalam kardus, membiarkannya berdebu. Mungkin sekarang saatnya, gw unpacking kardus-kardus itu, bersihin semua cinta yang udah berdebu, beberapa harus digosok minyak kayu putih biar semakin mengkilat… lalu membungkusnya lagi dalam kemasan yang lebih cantik, mengirimkan cinta itu kepada orang-orang yang seharusnya menerimanya, membiarkan mereka tahu… dan membiarkan mereka berpikir apa yang seharusnya mereka lakukan setelah menerima itu. Ini sudah bukan masalah lagi jika kemudian mereka reject paket cinta yang gw kirim, atau lupa siapa nama gw yang tertulis di space “pengirim”, tapi sebelum semuanya terlambat. Karena gw gak mau mati sesak  napas tertimpa kardus-kardus.

 

—————————————————————-

*) Judul terinspirasi dari film “Cinta dalam Kardus” Raditya Dika

ketika kesepian di tengah keramaian….


Mumpung hujan, mari ngegalau sedikit hehehe… sekaligus konferensi pers kenapa kalau ada kumpul-kumpul dengan teman lama saya jadi pendiam dan kudet banget *emmm… bukan rahasia sih, saya emang kuper :’D hahahaha hiks*

Berawal di suatu hari yang cerah, bos besar saya bercerita dengan tamunya yang dari Jepang… Beliau menceritakan sedikit tentang masa lalunya. Katanya, Beliau menikah ketika S3 itu pun sebenarnya ingin nanti-nanti aja hanya saja kemudian Beliau ngerasa semua teman-temannya sudah menikah dan taraaa setelah dipikir-pikir kok jadi sepi ya. Karena kesepian itulah akhirnya Beliau memutuskan menikah. Taraaaa the end dan happy ending.

Tapi saat dengar itu saya ketawa-ketawa, ya ampuuuuun masa sih segitunya. Masa sih sampe segalau itu dan masa sih sampe kesepian di tengah keramaian gitu. Wkwkwkwkw… oh come on, Pak.

Tapi semua berubah ketika negara api menyerang
Tapi semua berubah ketika kalian merasakan hal itu sendiri, perlahan-lahan, tapi mematikan *haish*

Ada masa ketika teman-teman lu ada di sekitar lu… ada! They totally exist and of course still become your friends, tapi lu sebagai seorang manusia yang mendadak gak nyambung dengan dunia mereka. Ah masa sih? Entahlah… mungkin saya aja sih. But let me tell you.

Saya merasa beruntung, di kantor… walau ada beberapa yang sudah berumah tangga… tapi mereka juga kebanyakan mahasiswa dan tentu kerjaan yang kami hadapi serupa. Jadi di kantor pembicaraan kami rasanya masih dalam ranah nyambung senyambung-nyambungnya. Pokoknya happy banget, suka duka semuanya bisa ditertawakan bersama.

Tapi dengan teman kuliah? Teman SMA? Dan sebelum itu…? mmmm
Ketika kalian sampai di usia seperti saya, ketika kalian dapat undangan nikahan lebih banyak dibandingkan undangan ulang tahun apalagi buka puasa bersama, kalian akan sampai pada sebuah deduksi bahwa semuanya sudah tidak sama lagi seperti dulu.

Mayoritas teman kuliah saya sudah menikah ataupun jika belum, mereka berfokus pada karir mereka yang menurut saya sudah bagus-bagus. Sungguh saya bangga pada mereka… tapi ketika harus berkumpul, saya mulai merasa saya tidak terlalu paham dengan apa yang mereka bicarakan.

Saya hanya bisa tersenyum simpul ketika para banker berkumpul, mebicarakan karir mereka, target mereka, sistem bekerja di kantor mereka masing-masing, masalah keinginan resign dan kantor lain yang akan menjadi tujuan mereka selanjutnya.

Saya hanya bisa mengerutkan dahi, ketika beberapa dari mereka sudah mulai membicarakan cicilan rumah, tabungan masa depan, pernikahan, dan lain sebagainya.

Saya hanya bisa turut bahagia ketika teman-teman saya yang sedang hamil atau yang sudah memiliki anak saling sapa dan bercengkrama di baik di dunia nyata maupun di dunia maya… ketika mereka membicarakan tentang pengalaman morning sick mereka, ngidam, test pack, kontraksi, atau perkembangan anak-anak mereka dari bulan ke bulan… dari hari ke hari.

Saya bahagia mendengar itu semua, namun sayangnya saya tidak bisa masuk dalam ruang lingkup pembicaraan mereka karena saya… saya… saya tidak paham apa-apa kecuali sebagian kecil.

Saya harus bicara apa ya? Climate change? Aduh emon -.- pasti saat saya mengajukan topik pembicaraan itu semuanya langsung gelar kasur terus tidur.

Aduuuh… paham gak sih perasaan gw? huhuhuhuu….. *peluk tembok, tembok meluk balik*

Percayalah… jokes dan pembicaraan antara orang yang sudah berkeluarga, sudah fokus pada karir, dan yang sedang sekolah itu bedaaaaaa banget… sehingga memang harus menjadi bunglon jika ingin berbaur dengan semuanya. Masalahnya saya buruk sekali masalah “membunglon” seperti itu. Ah poor you emon.

Bayangkan! Di saat orang heboh dengan ruang dan waktu mereka sendiri, saya masih heboh dengan gimana ngurus visa, gimana nanti hidup saya di negeri antah berantah, gimana memahami satu bundel tebel tentang Computer general equilibrium, variabel-variabel apa yang kelak akan masuk ke dalam penelitian saya, apa kabar kucing-kucing saya di rumah…. dsb dsb…

Bayangkan! Teman-teman saya sudah berpikir nanti nikah konsepnya mau apa…. dekor kamar anaknya mau gimana…. dan saya? Saya masih kayak bocah aja, mengurus kucing-kucing saya yang sedang naksir kucing angora tetangga, dan saat ini sedang membayangkan bagaimana anak hasil perkawinan kucing saya dengan kucing tetangga.

Luar biasa, emon….

Tapi itu bukan masalah besar, setidaknya saya berpikir demikian.
Tapi ketika sahabat-sahabat saya satu per satu mulai menapaki kehidupannya sendiri, kesepian itu semakin terasa.

Ketika salah satu sahabat saya saat SMA menikah, saya mulai berpikir ya ampuuuun dulu kan kami teman segeng yang sama-sama jomblo kekal semua, dan waaaw she finally get married. Saya terharu banget 😀

Ketika salah seorang teman baik saya memberika surat undangan “Mon, dateng ya… nikahan gw sehabis lebaran ini”, waaah banyak juga yang ngasih undangan sehabis lebaran…. lalu saya bertanya lagi kenapa kok cepet banget nikahnya dan gak bilang-bilang sejak awal “Gw juga nemu dia belum lama ini, Mon… sepertinya cocok, sudahlah gw nikah aja biar ada yang ngurus gw setiap kali pulang kerja” ah hopefully…. that’s good for you.

Bahkan ketika lu melihat salah satu sahabat terbaik lu sepertinya lebih bahagia dan lebih berbinar-binar ketika dia bergaul dengan teman-teman sebaya yang profesinya sejalan dengan dia.

Saat itu kalian akan sadar, akan tiba masa ketika teman-teman terdekat kalian saat ini akan fokus pada kehidupannya masing-masing. Mereka akan memiliki pekerjaan masing-masing, keluarga masing-masing, dsb…. dsb….mereka akan begitu sibukd engan lingkup kehidupan mereka sendiri.

Hah…. well, that escalated quickly.
Sedih? Gak terlalu sih… sedihnya dikit karena ngerasa baru sadar sekarang.
Perjalanan dan waktu toh akan mempertemukan kita dengan orang-orang baru, teman-teman baru, kerabat-kerabat baru… dan saya percaya itu.

Saya hanya merasa sedikit menyesal karena kuper, saya tidak banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman saya dulu 🙁 actually I love them, walau keliatannya saya galak dan jutek…. gendut pula…. jadi keliatan serem, but I do love them and happy for them for everything they achieve.

Ah rupanya begini kesepian di tengah keramaian :’D

Yang galak yang meracau: catatan wanita cerewet tentang kampanye di social media


Mungkin seharusnya saya ketik topik ini jauuuuuuuuh jauuuuuuuh hari. Tapi ah biarlah, saya khawatir pas saya nulis lagi agak ekstrim tiba-tiba rame, dan saya dilemparin puluhan botol air mineral. Aw…Aw…Aw… ogah ah.

Sungguh, jika kalian warga negara Indonesia atau orang Indonesia asli, mungkin kehidupan kalian akan jauh lebih baik tanpa keberadaan social media. Bagaimana tidak, menjelang pemilu presiden yang bertepatan dengan semifinal piala dunia ini everybody goin’ crazy! Kasihan otak saya dan juga rambut saya yang sudah mulai rontok dan kini mulai tumbuh uban walau paling cuman 1-2 lembar, liat TV susah cari yang netral, beralih ke sosial media wuaduuuuuhhh lebih rame lagi…..kalau dunia maya mendadak menjelma jadi dunia nyata, pasti isinya dua pihak yang lagi saling lempar. Ada yang lempar tomat busuk, piring, sandal, panci, semuanya ada! Alhasil kalau mau lewat, secara apes yang terencana, benjol tidak akan terlelakan menimpa kepala kita. Begitu pula dengan saya. Saya mungkin orang yang sebenarnya paling benci dengan kampanye membabi buta di media apapun. Kampanye itu dibutuhkan, JELAS! Tapi kalau sampai memecah negeri yang awalnya adem ayem gemah ripah lohjinawi ini menjadi dua kelompok yang saling tanduk menanduk, ahahaha… sorry deh bray.

Saya kecewa ketika ada dosen yang malah lebih berfokus memaparkan kelebihan-kelebihan salah satu capres daripada memerhatikan mahasiswa-mahasiswa mereka
Saya kecewa ketika ratusan pemuda yang konon berpotensi memiliki jutaan gagasan dan ide baru yang bisa digunakan untuk membangun bangsa, bukannya sibuk membuat inovasi-inovasi baru atau heboh berjuang dalam karir dan ilmu pengetahuan, malah sibuk perang badar di social media.
DSB
DSB
DSB

Saya terkekeh-kekeh ketika di social media, orang-orang yang sama jengkelnya dengan saya sampai menulis: Pekerjaan sia-sia: menasehati para pendukung dan simpatisan capres.
Setujuuuuu! Ada juga yang senantiasa komat-kamit meminta agar 9 Juli segera berlalu, walau mungkin banyak yang sedih juga karena itu berarti salah satu antara Jerman atau Brazil harus pulkam dari piala dunia #lohkok.

Tapi ini blog saya, rugi kalau saya gak marah-marah dan mengeluarkan semua kejengkelan saya di sini.
Hei kalian para simpatisan capres dan cawapres, jika kalian mau kampanye… setidaknya jadilah orang yang memiliki pemahaman dan tata krama yang baik terlebih dahulu. Saya tipe orang yang keras kepala, semakin saya ditentang… saya semakin galak -.- jadi permisi, sekarang giliran kalian dengar saya.

Jika kalian suka membaca hal-hal tentang sufi atau yang nyerempet-nyerempet dengan itu lah, kalian mungkin kenal atau pernah dengan nama Emha Ainun Najib, saya hapal sekali dengan Beliau karena ayah saya punya puluhan buku tulisan Beliau. Dalam salah satu sarasehan dengan orang-orang di pondok pesantren yang kebetulan pernah diliput TV, Emha pernah berkata yang kira-kira seingat saya “Apa pentingnya orang-orang kok tanya saya ini masuk partai mana, ikut mahzab mana,  lha…saya bingung jawabnya. Saya mencoba berkali-kali meminta wangsit pada Gusti Allah saya harus pilih yang mana, tapi setelah dipikir-pikir ya ndak ada gunanya…. memangnya pas masuk surga Malaikat dan Gusti Allah tanya saya ikut politik dan mahzab apa, terus pintu masuk surganya akan beda gitu? Ndak tha” yah kira-kira begitu lah…

WAINI! Yak… ini dia. Hei kalian simpatisan yang udah totally lose your mind. Memangnya dengan membabi buta memberikan dukungan kepada salah satu capres yang kalian idolakan kalian akan masuk pintu surga yang berbeda dengan simpatisan capres yang lain? Memangnya nanti di akhirat sana, malaikat iseng menanyakan pas pemilu 2014 kalian pilih 1 atau pilih 2? Memangnya dengan kampanye dengan semangat 45 di social media tanpa henti, catatan amal kalian mendadak langsung berat dan siap angkat koper ke surga. Oh come on~~~~ gak gitu keleeeeuuuuz. Justru mungkin Allah lagi jengkel sama Indonesia “Ih… ini apa-apain sih hamba-Ku bukannya ngaji dan berbuat baik pas bulan ramadhan, malah berantem dan sibuk kampanye gak jelas, awas kalian semua….” Untung Allah baik kan, kalau gak? atau kemudian Allah makin jengkel? Oh sorry saya sih gak mau ngebayangin deh. Tapi hei manusia… selama kalian masih jadi makhluk Tuhan, maka bisakah kalian sopan sedikit kepada Tuhan dengan cara berbuat baik dan sebaik mungkin dalam kehidupan?

Saya juga jengah, karena semua orang kemudian mendadak menjadi komentator, syukur Alhamdulillah kalau komentarnya sesuai dengan sisi keilmuan yang mereka miliki masing-masing, lha ini kadang asal ada yang kopipas artikel2 di internet, asal cablak, atau kalau udah gak ada ide mau kandidatnya bener atau salah… huwaaaaaaa tetap dipuja puji. Lagi-lagi, sia-sia menasehati para simpatisan capres dan cawapres.

Berbulan-bulan, negeri ini menjalani hari-hari yang useless hanya karena terlalu banyak orang yang lebih sibuk mengurusi masalah copras-copres ini. Kenapa gak ada yang mikir, bagaimana cara membuat spanduk dan baliho dengan bahan yang degradable setelah 30 hari, jadi kalau masa kampanye selesai kan si baliho2 itu bisa luruh sendiri, atau mungkin bagaimana menciptakan suatu sistem intensifikasi dan mekanisasi pertanian yang aduhai sehingga bisa mengatasi masalah keterbatasan lahan pertanian di Indonesia, kalau udah ada yang punya konsep bagus kayak gini kan siapapun yang jadi presidennya kalian bisa ngasih gagasan itu DAN HEIIIII… itu jauh lebih berguna dan membantu. Atau bisa juga kalian malah mikirin bisnis yang baru, yang lebih tahan inflasi karena pas kalian memperhatikan Indonesia rupanya fluktuasi inflasinya luar biasa, capres yang kepilih sih siapa aja tapi at least kalian jadi udah punya bisnis yang oke syukur-syukur bisa membuka lapangan pekerjaan, itu lebih memecahkan masalah kan?

Lalu… manusia-manusia di Indonesia malah banyak yang hanya asik berkampanye ria di socmed, dan taraaaaaaa…. Indonesia pun tetap gitu-gitu aja, karena effort untuk memajukan negeri ini cuman segitu-gitu aja. Wah Mon, lu su’udzon banget! Mungkin, tapi coba berikan saya bukti bahwa masyarakat Indonesia sekarang, saat ini, detik ini, sedang bersemangat membangun negeri ini dengan cara yang produktif. Kalau saya hanya diberikan screenshoot social media yang penuh kampanye baik white, black, atau grey campaign hahahaha itu sih saya mau memuji juga gak, apalagi terkesan?

Saya juga benci ketika yang berkampanye malah saling menjelek-jelekan, siapapun yang terpilih nanti dia akan memimpin kita semua, dan lu mau menjelek-jelekan orang yang akan memimpin bangsa ini? Gimana kelak ketika pemimpin itu maju dia mau peduli sama Anda-Anda… sama kita semua… kalau saat ini dia melihat calon-calon rakyatnya juga banyak yang ngejelek-jelekin dia. Ya mungkin pola pikir pemimpin sejati gak sedangkal itu sih, tapiiiii…. pemimpin juga manusia, kawan! Mereka juga bisa mengkel, bisa kesel, bisa BT, bisa sakit hati, bisa! Selama kalian masih menjadi manusia dan masih memiliki sisi manusiawi, maka saya mohon dengan sangat mari memperlakukan manusia selayaknya manusia. Kalaupun gak mikir kayak gitu, setidaknya eling-eling deh kita sebagai manusia ini Tuhan ciptakan baik-baik punya akal dan pikiran untuk menjaga bumi beserta isinya dengan baik, termasuk menjaga hubungan baik antara sesama manusia.

Saya tidak melarang kampanye,
tidak melarang kalian memiliki pandangan politik,
tapi mbok ya yang agak dewasa sedikit gitu loh cara berpikirnya.

bagi kalian yang masih khusyu’ berkampanye, ini wejangan terakhir saya. Kalian jangan egois dan jangan pernah menganggap semua orang bodoh dan begitu tolol sehingga harus kalian cekoki hal-hal yang itu-itu saja setiap saat. Semua orang sudah memiliki cukup informasi dan beri mereka ruang untuk berpikir secara jernih dan objektif. Pun jika masih ada yang swing voters, biarlah ini menjadi salah satu fase mereka untuk semakin dewasa dan bijaksana… biarkan mereka mencari jalan mereka sendiri untuk menentukan pilihan, mungkin dengan shalat istikharah… mungkin dengan cap cip cup…. mungkin dengan liat mana yang paling ganteng… mungkin liat mana yang bajunya paling oke… senyumnya paling lebar… loh biarkan saja, itu fase dimana semua orang, dimana rakyat Indonesia, sedang dididik untuk semakin dewasa dalam memecahkan masalah dan menentukan pilihan.

tapi, Mon… masa’ pemilu buat coba-coba.
Okelah! terserah! Tapi jangan coba-coba merusak mindset rakyat di negeri saya yang saya cintai ini dengan kampanye-kampanye tidak bermutu dari Anda.

Saya ngomel-ngomel terus ya, hahaha iya maklum lah jomblo #eh #malahcurhat

 

Habis Gelap Terbitlah Terang [dengan cahaya lilin]: Apakah wanita tidak boleh sekolah tinggi?


“Jika kau mencintai sesuatu, seharusnya engkau berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan dan mempertahankannya bukan?Seharusnya begitu pula jika kau mencintai seseorang”

Entah ada angin apa sambil nonton film India saya bisa nulis topik sebenarnya sih udah banyak yang membicarakan ini tapi rasa2nya tetap menggelitik untuk ditulis.
Pernah denger dong konon katanya wanita yang sekolah tinggi itu susah dapat jodoh, bla…bla,,,bla…dan jujur saja saya sebenarnya tidak percaya tentang itu semua. Tapi aish… memang tidak boleh yang naif-naif banget dalam memandang sesuatu.

Suatu hari di sebuah pojok muka bumi, seorang pria dengan mata menengadah ke langit bercakap-cakap dengan temannya, “Gw jujur ada minder deketin X, gw tahu dia baik, dia perhatian ke gw, tapi pendidikannya itu loh skrng dia S2 gw masih S1 aja, apalagi kalau dia lanjut lagi waaaah makin jauh aja gw. Gw nyerah aja, dia terlalu baik untuk gw”

Di sudut lain muka bumi, seorang gadis dengan mata berkaca-kaca sudah tidak bisa berkata apa-apa, pria yang dia percaya selama ini akhirnya mengatakan “Aku gak sanggup jika pisah terlalu lama dan terlalu jauh sama kamu, aku juga jujur aja minder kalau pendidikan kamu lebih tinggi dari aku. Kamu bisa cari pria lain yang lebih baik dari aku”

Tidak jauh dari situ ada muda-mudi yang bertengkar cukup hebat, “Buat apa sih kamu sekolah tinggi-tinggi? Sampai harus ke luar negeri segala… aku ini serius. Aku cuman mau kamu gak usah jauh-jauh, cukup di rumah urus anak-anak kita nanti”

Di pojokan lain planet bumi ini, seorang wanita mengetik di blognya…merasa hal-hal seperti itu sudah tidak masuk akal lagi, dan orang itu adalah saya sendiri.

Apakah salah jika wanita ingin melanjutkan sekolah hingga ke jenjang yang tertinggi sekalipun?

Jujur saja, jika Allah mengizinkan saya ingin melanjutkan studi saya hingga jenjang tertinggi sekalipun. Saya punya banyak alasan, 1.) Ini salah satu impian ayah saya yang belum kesampaian, 2.) I’m stupid -,- karena bodoh itu saya harus terus belajar. Jujur aja saya merasa otak saya semakin lama semakin menurun kemampuannya, jadi selagi masih mau dijejelin ilmu maka mengapa tidak, 3.) I want to be a bloody cool mother for my future son and/or daughter. Alasan ketika ini juga yang membuat saya berdoa semoga di masa depan nanti ada pria yang sangat baik dan sangat pintar mau menjadi suami saya. Hahaha…. pria yang beruntung bgt kan :p beruntung karena saya gak akan berpaling tapi sial karena saya gak jago masak dan benci nyetrika :p

Saya pernah berdebat dengan seorang cowok mengenai masalah ini, saya katakan “yang akan mengurus anak itu nanti perempuan lagi, maka perempuan harus pintar sehingga kalau anaknya nanya kenapa ada pelangi maka si ibu bisa jawab proses terjadinya pelangi secara fisika bukan cuman bilang ‘yaaaa emang Allah bikinnya gitu, Nak… bagus kan’ maka masuk akal jika perempuan bersekolah lebih tinggi dan gak masalah dong jika pendidikan wanita lebih tinggi” dan tebak jawaban teman saya itu… “Yaelah, Mon… pemikiran lu itu yang terlalu jauh”

Errr… -.-

Saya juga ingin suami yang gak lemot. Bayangkan jika kemudian si anak bermain bersama ayahnya, lalu kemudian melihat roda mobil yang ada ulirnya dan gak halus mulus gitu aja. Bayangkan dia kemudian bertanya “Yah, boleh gak rodanya aku ratain aja pake apa gitu, aku gak suka bentuknya kok gak rata gini ya”…. setidaknya si ayah harus bisa menjawab dengan teori dasar gaya gesek yang mudah dimengerti bukan kemudian malah sewot dan teriak “Ehhhh jangaaaaaaaan…. kamu apa sih Nak, iseng banget”

Fair kan?
begini ya wahai para pria di muka bumi terutama yang masih lajang, oh come on… buka mata lebar-lebar… luaskan perspektif.

When a woman choose a man…. itu bukan hal mudah loh. Bayangkan seorang putri yang disayang sama Mama dan Papanya udah dapet best services di rumah, bahagia dengan keluarganya. And taraaaa she is fall in love tapi di saat yang sama dia mau meraih cita-citanya untuk menapaki jenjang pendidikan dari satu level ke level lainnya. Di tahap seorang cewek udah jatuh cinta dan menerima seorang cowok aja menurut saya itu sudah hal yang luar biasa, betapa egoisnya ketika si cowok kemudian melarang si cewek meraih apa hal yang diidam-idamkannya. Mungkin impian itu sudah lebih lama hidup bersama si cewek dibandingkan jangka waktu si cowok mengenal si cewek. Helow, Boys… please deh ah.

Dan emmm hellow girls, jika cinta itu buta maka janganlah dibutakan cinta. Tuntun cinta ke arah yang benar.. serahkan hanya pada orang-orang yang bisa memelihara itu dengan baik *gile kan kapan lagi gw nulis kayak gini*

Jujur saya muak ketika ada cowok yang bilang “Aku gak mau sama X, karena X jauh lebih baik dari aku” APAAAAAAAA????? ada beberapa kesalahan besar di sini… 1. Si cowok bagi saya keliatan loser banget, kalau memang cinta perjuangkan dong masa nyerah gitu aja. Oh jujur saja di media-media sosial banyak yang menulis status “mari memantaskan diri bla…bla…bla”, apa wanita saja yang perlu memantaskan diri? bagaimana dengan pria? gak usah memantaskan diri? ahahaa… fair play, men! fair play. 2. Jelas sudah si cowok toh gak cinta-cinta banget sama si cewek dengan alasan lihat poin pertama. Mungkin menyedihkan dan terlihat kejam, tapi mari tinggalka pria jenis ini. Hidup ini melelahkan jangan lelah dengan hal-hal lain yang tidak terlalu krusial.

Ketika wanita punya pendidikan yang lebih tinggi, bukan berarti dia jadi mahajenius untuk segala hal. Saya merasa mau belajar sampai S30 sekalipun saya masih punya penyakit gak teliti dengan eksakta, saya kalau udah malas gak bisa bergerak kayak kukang, saya bodoh setengah mati dengan aneka hapalan, zzzzz… tetap manusia penuh kekurangan. Tapi sekali lagi, ini bukan masalah menjadi paling pintar atau paling jenius… ini masalah memperluas cakrawala. Setiap orang berbeda-beda dalam memperdalam khazanah pemikiran mereka dan memperluas cakrawala mereka, beberapa langsung terjun ke bidang teknis, beberapa memilih memperdalam pendidikan mereka, dsb. saya memilih jalan kedua… saya hidup di lingkungan akademis, maka wajar jika saya kelak ingin memilih jalan akademis. Apa kemudian saya pantas sombong lalu meruntuhkan dominasi pria? Ah come on…. saya toh gak mau memusingkan itu. Saya punya ayah, saya tahu betapa berat dan luar biasanya perjuangan seorang pria dari ayah saya… maka saya tidak pantas merendahkan setiap perjuangan pria karena saya paham bahwa setiap detil perjuangan dan kerja keras pria harus dihargai.

Ketika wanita punya pendidikan yang lebih tinggi, dia akan menjadi guru yang baik untuk anak-anaknya.

Ketika wanita punya pendidikan yang lebih tinggi, mereka akan punya bargaining posisition di keluarga maupun dalam lingkup kehidupan sosial. pentingkah? Penting, untuk mempertahankan prinsip dan harga diri tanpa perlu menjatuhkan jati diri dan meremehkan kemampuan orang lain.
Intinya, itu semua untuk kebaikan banyak orang.

Baik! mungkin ada wanita yang malah jadinya sombong atau gimanaaaa~ gitu. Ya memang ada, tapi kan tidak semua. Cari yang ada iman-imannya juga lah -,-
Saya pikir selama masih punya iman dan pola pikirnya terawat dengan baik, seorang wanita sehebat apapun dia akan tetap menjadi orang yang rendah hati tapi pendidikan bisa menjaganya dari sifat rendah diri. Ah catat itu! dengan tinta emas! 😀

Jika saya bisa menulis langit, maka dengan tinta hitam legam saya akan tuliskan sekali lagi, “Jika kau mencintai sesuatu, seharusnya engkau berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan dan mempertahankannya bukan?Seharusnya begitu pula jika kau mencintai seseorang”
Jika kalian wahai pria rupanya di tengah jalan sudah menyerah mengejar wanita yang kalian sukai, well… mungkin memang benar kalian terlalu cupu untuk wanita tersebut and please stop bilang “Saya berhenti karena dia jauh lebih baik dari saya bla bla bla” ZZZZzzzzz beneran deh itu basi banget.

Mari kita tidur kalau begitu. Semoga muka bumi ini esok sudah lebih banyak dipenuhi manusia-manusia penuh semangat dan percaya diri, ah.. semoga