Mendefinisikan kembali makna PERTEMANAN


Saya punya satu pertanyaan krusial untuk kalian semua yang tersasar membaca kalimat ini..
“Apa makna Cinta dan Pertemanan menurut kalian?”
dan jika kemudian saya boleh melanjutkan pertanyaan ini ke jenjang yang lebih filosofis, “Sudah layakah kalian untuk mendapatkan Cinta dan Pertemanan yang tulus dari orang-orang sekitar kalian?”
“Apakah kita sudah cukup dewasa mengelola emosi dan psikis kita?”

Hah apa ini, Mon? apa?
Apa yaaa…. mmmm udah pernah liat video stand up comedy-nya Raditya Dika yang ini?

It is true… Ini fakta, kita, terutama wanita, kadang terlalu emosional ketika ngegosip. Bahkan ketika yang digosipin itu mereka sebut TEMAN sendiri!

Gak percaya? Hei… jika tidak ada pertemanan yang “sesadis” ini (maaf saya harus bilang ini memang sadis), maka kita tidak akan melihat kasus “Wanita yang tewas setelah meminum kopi bersama sahabat-sahabatnya”. Sahabat macam apa ya yang bisa saling bunuh-bunuhan? apalagi konon motifnya hanya karena “cinta segitiga”yang menurut saya ya ampuuuuun meh banget!

Jika kalian ingat lagi beberapa tahun yang lalu, sekitar awal 2014, ada kasus Ade Sara. Dua sejoli yang sebenarnya teman Mbak Ade Sara ini tega menghabisi nyawa gadis belia ini. Motifnya? Yang Cowok sakit hati karena pernah diputusin, yang cewek? Ikutan gemes karena merasa cowonya belum move on dan atas nama cinta apapun yang dilakukan si cowok akan doi support. Ini ke temen loh… TEMEN. Gila gak?

Dan saya masih punya ratusan catatan kasus kejahatan yang dilakukan seorang teman atau sahabat. Pertemanan seperti apa sih yang kalian maksud? Apa? Apa? dan Apa?

Saya hanya berpikir mungkin kasus-kasus ini bisa diminimalisir jika kita mendefinisikan pertemanan dan persahabatan dalam definisi yang lebih baik dan tentunya lebih TULUS.

===========================
Saya tidak tahu, tapi bagi saya beberapa pertemanan di lingkup sosial kita ini terlalu sadis dan kejam…

Lingkup sosial kita mulai tidak bisa mentolerir sakit hati, kekecewaan, dan kemarahan. Which is very childish in my opinion. Apalagi jika kalian sudah ada di area usia seperempat abad ke atas. Tau kan satu abad itu berapa? 100 tahun…. jika kalian udah Alhamdulillah mencapai usia ini maka bersyukurlah salah satunya dengan cara menjali hubungan yang lebih baik dengan orang sekitar.
Ini beneran, untung Allah baik, masih mau merawat kalian…
Kalau saya yang kemudian diberi kepercayaan untuk mengatur lama hidup manusia, waaaah kacau
“Aduuh… orang ini drama deh, udah ah ganti aja sama Tyranosaurus, klo sadis tuh mbok ya sekalian. Ah yang ini juga…ganti sama Panda ah lebih imut. Nah ini, wah yang ini nyebelin, ganti aja deh sama Rafflesia Arnoldi, mayaaan memperbanyak spesies bunga langka”

Ya kawan, bersyukurlah atas usia kalian.

Pernah gak sih kalian lagi ngumpul sama temen kalian… terus kalian saling ngobrol cantik. Nah, terus ada aja nih satu atau dua orang yang kemudian ngomongin aib-aib temen yang lain. Dan bener kata Raditya Dika, nanti pas yang diomongin dateng, yang ngomongin akan bertindak layaknya bidadari baik hati dari khayangan.

Atau pernah gak sih, ada temen kamu yang emang salah… banget banget salah, daaaaan selalu ada sekelompok atau beberapa kelompok yang ngomongin kesalahan itu entah sampai kapan. Prediksi saya mungkin sampai hari kiamat tiba.

Saya pernah dulu saya melakukan sebuah kesalahan fatal ke guru saya… saya akui itu. Saya salah. Personally saya kemudian belajar untuk memanage sifat rebel dan kurang ajar saya. Tapi siapa peduli dengan proses transformasi psikis lo? PFFFFTTTT BULLSHIT! Selalu ada orang yang ungkit-ungkit kesalahan saya. Saya marah? Tidak, tapi saya jengkel. Jika saya salah maka dengan segala hormat, jika Anda teman saya, mohon beri saya solusi dan nasehat sebaiknya harus bagaimana. Loh emang olok-olok itu membuat orang lain jadi  better off? Gak kan?
Sama halnya dengan apa yang seringkali saya lihat sekarang… saya pikir manusia akan berubah secara revolusioner sesuai dengan peningkatan kedewasaan, rupanya tidak! selalu ada beberapa orang yang minim toleransi terhadap kesalahan, dan sindiran… nyinyiran… dsb masih tersebar di planet bumi hingga detik ini dan mungkin akan terus berlangsung hingga anaconda betulan ditemukan di video klip Nicki Minaj.

Dan jika itu tidak menyeramkan… ah mungkin kalian belum tahu hal yang satu ini:

Listen carefully to how a person speaks about other people to you….

Yuph, jika seseorang bisa ngomong hal-hal jelek dengan tega tentang orang lain ke kalian, dia juga bisa melakukan hal yang SERUPA ke orang lain. Dan topiknya, ya tentang kamu laaah…. 😀 selamat ya, Guys.

Atau ada juga ketika kalian saling adu argumentasi dengan temen kalian… dua-duanya gak mau saling ngalah yang bisa disebabkan dua hal: dua-duanya sama sama benar, atau dua-duanya sama-sama salah, cuman beda perspektif. Alih-alih saling menghargai pendapat satu sama lain, yang ada malah terjadi puasa ngomong, puasa mutih, puasa weton, puasa daud, dan puasa-puasa lainnya. Yang kemudian bisa membuat kita berpikir “Oh kualitas pertemanan kita segini ini aja toh” beda pendapat dikit aja bisa saling diem-dieman.

Nih ini nih salah satu bukti gaul bocah-bocah era 90-an sekaligus bisa jadi pemicu konflik antar bocah-bocah kolektor Tato stiker pada masa itu (hayooo inget gak?)

Bahkan waktu TK, ketika saya kehabisan permen jagoan neon dengan hadiah tato kupu-kupu yang saya belum punya karena keduluan oleh teman saya, owwwh kami berantem dong… saya nangis sejadi-jadinya. Tapi itu paling cuman 15 menit… setelah itu kami makan es krim dan pulang bareng ke rumah dengan hati riang. Wait! Masa hal kayak gini aja kalah sama bocah TK di tahun 90-an, yang rupanya lebih cerdas secara emosional ketika menghadapi konflik saat itu. Think again, guys!

Jujur saya kecewa jika hal-hal seperti ini justru dilakukan oleh orang-orang dengan level pendidikan yang tinggi, dengan kondisi sosial ekonomi yang gak jelek, yaaah pokoknya di posisi yang perlu disyukuri lah. Salah satu sahabat saya selalu bilang begini kalau dia denger kasus-kasus macam ini “Yah, Mon… jadi kemana ilmu lo ampe mati ngerjain skripsi? Lo belajar berpikir kritis, sistematis dan runut berdasarkan fakta! Secara mental lo juga dididik gimana ngehadapin kritik dan saran pembimbing lo, gimana ngehadapin ketika lo stuck, gimana cari solusi. Kalau lo gak bisa implement itu di hidup lo, yaaaah… gak ada gunanya tuh skripsi dsb… kecuali sekadar bikin lo lulus tapi gak bikin lo jadi better human” (Yang ngerasa pernah bilang ini ke gw, ahahahha… lo emang bisa lebih antagonis dari gw ketika lo berapi-api)

Ya! Itulah mengapa menurut saya, pendidikan bukan membuat kita menjadi lebih jenius. NOPE! Pendidikan seharusnya membentuk pola sikap dan perilaku. Kita udah belajar bahwa dalam riset misalnya ada berbagai metode penelitian, dan berbagai metode itu bisa baik untuk menyelesaikan suatu permasalahan namun belum tentu baik dan bisa menyelesaikan masalah lainnya. Ya begitu… dalam kehidupan sosial kita juga akan nemu banyak-banyak masalah, dan kita harus bisa menerima kenyataan bahwa setiap orang itu punya preferensi, sikap, dan masalah yang beda-beda… dan mungkin memang pola perlakuannya harus berbeda-beda pula.

Saya pun sama, saya ini nyebelin… saya orangnya suka pukul rata, kejam, gemesan kalau liat orang yang saya kira nyebelin, kritikus, waaaah pokoknya nyebelin banget. Tapi saya sadar tidak semua orang bisa mentolerir sifat buruk saya itu. Sedikit demi sedikit sahabat-sahabat terbaik saya, nurani saya, guru-guru saya, buku-buku yang saya baca, mengikis sifat-sifat buruk saya itu. I have a brand new life… and I love it.
Saya tidak berharap apa-apa selain, saya merasa saya sudah menjadi the best version of me now… dan saya ingin seperti ini tanpa perlu mengotori hati dan pikiran saya with negativity.

Saya tidak memiliki banyak sahabat, tapi saya percaya sahabat saya adalah orang-orang terbaik dalam bidang mereka, dan mereka saya pilih bukan karena mereka perfect… tapi karena mereka NO-DRAMA. Bagi saya hal terpenting dalam suatu persahabatan adalah ketika kita bisa berargumentasi secara rasional, sehat, dan masuk akal.
===========================

Saya punya seorang sahabat, kami sering berdebat mengenai beberapa masalah, misalnya tentang jodoh. Dia lebih pada mahzab “It is better, Mon untuk gak nunda-nunda pernikahan dsb” sedangkan saya… saya lebih pada “Ahay! mumpung masih single, gw bisa keliling dan ngapa2in sendiri, selama beli tiket masih cuman buat satu orang”. Kami berdebat, kami saling mengingatkan satu sama lain, dan pada akhirnya kami malah jadi diskusi…. dan seperti biasa berakhir dengan ketawa, menertawakan kekonyolan kami masing-masing sambil kemudian nyeletuk “Yaaaah…. pantes aja kita berdua jomblo“. Pembicaraan kami yang Mahaserius bisa mendadak banting stir menjadi pembicaraan tentang wabah panu, kadas, kurap di era 90-an.

Itu yang jomblo, yang semi jomblo ada lagi. Walau sama-sama di Tokyo, tapi yaaa gak sampe kalau saya mau hang out sendiri dia harus ikut, begitu sebaliknya. Kami saling menghargai kesibukan masing-masing. Dan kalau salah satu ada yang stress, ya baru deh chattingan atau telpon-telponan sampai kuping panas. Udah gitu, ya udaaaaah…. life keeps turning on. Apa saya bilang dia sombong? Apa dia bilang saya yang sombong? Gak…
Pun kami kirim-kiriman pesan, pesan kami tuh aduuuuh…. “Mon ini ganteng kan” dan yang dia kirim adalah foto domba didikannya :’) Lalu pembicaraan kami nothing but about DOMBA dan SAPI!

Untuk yang beda gender, saya punya juga. Apa dia sempurna? Pfffft…. ya gak lah! Gak tau cara milih kado, imajinasinya minim, pengetahuan atas popular tale nyaris nol, sense fashionnya standar. Tapi dia baik! Gak pernah marah dan tersinggung walau saya bilang dia gak kreatif lah, jeansnya kegedean lah, jambangnya terlalu lebat lah,… dsb dsb dsb. Dan ketika saya marah-marah ketika curhat ke dia, dia bisa berpikir jernih dan selalu jadi orang yang menenangkan saya, yang bisa ngasih tau kalau saya salah dan memberikan solusi kira-kira saya harus bersikap seperti apa. Ketika dia gak tahu akan sesuatu dan dia merasa salah dia akan bilang itu, gak kemudian mencoba membela diri dengan aneka alibi untuk membuat dia terlihat keren, manly, dan bener. Dari dia saya belajar untuk jadi orang yang lebih humble yang berani bilang “I am really stupid in this case” dengan lapang dada.

Hal-hal yang hebat dari sahabat-sahabat saya adalah… ketika saya salah, ketika saya bermasalah, mereka gak ngomong ke orang lain… mereka langsung menghubungi saya. Complain segala hal tentang saya. Persahabatan kami sederhana namun gurih layaknya Rumah Makan Masakan Padang. Punya aneka rasa dan punya motto “Gak enak bilang ke kami, enak beri tahu yang lain”
kami saling mengkritik
saling menertawakan
saling complain
saling menyemangati
saling mendukung
saling memahami kekurangan dan kelebihan kami masing-masing.

Dan apa dunia perlu tahu segala persoalan dan keburukan kami? Gak, kawan… gak perlu.
Saya ingin kami menua bersama, mendewasa bersama.
Saya ingin anak-anak kami kelak juga memperoleh persahabatan dengan kualitas yang serupa atau bahkan lebih baik, yang anti-drama, yang siap dengan segala konsekuensi pertemanan. Yang open minded dengan perbedaan orang lain.

Saya juga percaya bahwa bahkan jika kelak saya menikah, cinta itu paling hanya bertahan beberapa bulan atau kalau beruntung beberapa tahun. Saya dan dia akan menua, getting ugly and uglier. Saya menjadi gendut setelah punya beberapa anak, jadi lebih cerewet karena harus menghandle banyak urusan rumah tangga. Suami saya… ya sama aja, setampan apapun dia saat ini, dia kemudian akan membuncit, rambutnya mulai berubah warna, kulitnya menggelap dan sedikit demi sedikit mengkeriput…. dia akan punya lebih banyak tanggung jawab dan tentunya permasalahan. Bagaimana kami bisa bertahan jika tidak ada feel “Persahabatan” diantara kami? Saya ingin menjadi sahabat terbaik untuk suami saya kelak… yang tidak peduli seberapa menyebalkannya kami masing-masing, tidak peduli sebanyak apapun kami beradu argumentasi, kami berakhir dengan saling minum kopi atau teh bersama lalu tersenyum pelan sambil bilang “Ah, everything will be alright.” Kami menua bersama, seiring menuanya cangkir kami… rumah kami… mendewasanya anak-anak kami… namun persahabatan kami tidak pernah menua. Which is perfect 🙂

Dan apakah sekarang kita bisa mendefinisikan makna pertemanan dan persahabatan yang baik menurut versi kita?
Hei… ini versi saya, apa versi kamu?

seharusnya hashtag itu #KamiBernurani


Indonesia itu unik…
Negeri cantik yang punya masalah super kompleks
Dipenuhi banyak kisah penuh motivasi dan juga kisah misteri…
Sebagai orang yang “jauh”dari tanah air saat ini, saya merasa berita di Indonesia kok ya aneh-aneh semua.

Mulai dari kasus seorang wanita cantik yang tiba-tiba meninggal dunia setelah “ngopi” yang menurut saya yang cuman liat aja (dan udah menghabiskan puluhan tahun dengan novel detektif) terlalu gak masuk akal kalau itu bukan kasus pembunuhan… lalu tiba-tiba ada pegawai resto yang nyicip kopi petaka itu. Kalau saya jadi manajer resto saya akan amankan barang bukti, dan jika saya pegawai dibanding saya sibuk icip-icip mending saya heboh nelpon ambulance atau ambil segelas air putih. Useless sih tapi namanya juga usaha. Yaaaaah tau lah… pokoknya terlalu banyak yang misterius dalam satu frame cerita. Yang pasti jika itu benar kasus “pembunuhan”pelakunya sudah pasti orang pinter dan cerdas… bisa mengelabui kamera CCTV dsb! Woowww~~~plok plok plok plok….
lalu terusssssssss cerita yang aneh-aneh muncul, ada istri yang baru sadar suaminya juga “wanita”setelah menikah beberapa bulan…. which is “huh”? kok bisa gitu… entah lah ini obrolan dewasa hahahhaa. Terus kasus malpraktik…. hingga akhirnya muncul berita paling klimaks bulan ini: Ledakan dan Penembakan di Sarinah.
Lalu muncul hastag #kamitidaktakut
Bukan masalah hastag yang keren ini… namun cara Indonesia menunjukan ketidaktakutannya yang  menurut saya “What? Seriously?

Dari yang pada selfie

Ah cemen aja lo, Mon! Suka-suka orang aja lageeee….
Iya saya memang cemen… tapi waspada dan ceroboh itu dua hal yang berbeda.
Dan selfie! I love selfie, everybody loves selfie… namun sebuah hal yang bijaksana jika kita tahu tempat dan waktu kapan harus selfie. Lah Indonesia… ada taman bagus dikit, selfie… ada jembatan baru, selfie… ada kecelakaan, selfie… hingga ada teroris, selfie!!! Come on! nanti ketika malaikat pencabut nyawa mau dateng mampir juga selfie?
Berikan saya satu penjelasan paling ilmiah, paling akurat, paling bijaksana untuk menjelaskan fenomena ini.

lalu ramai juga di twitter dsb, pedagang sate dan pedagang asongan yang stay cool aja gitu…

Subhanallah banget sih…
Tapi, saya punya sudut pandang lain. Ketika kondisi kritis dan kematian tidak menakutkan seseorang, maka mungkin mereka selama ini dekat dengan kondisi tersebut. Guys, bagaimana jika yang sebenarnya di benak mereka adalah “I am poor, if I am not sell anything today… my family can’t eat anything today!” atau “WTH with terrorist, with my condition I will be die later or soon
Saya merasa bahwa ini malah sebuah capture bisu betapa indeks gini di kota Jakarta sangat besar… rakyat kecil sudah tidak takut mati demi sesuap nasi. Hal luar biasa, namun bukan hal yang harus dibanggakan terlalu berlebihan…namun sebuah bahan renungan untuk kita semua.

Dan alih-alih peduli ada berapa korban jiwa…
Trending topic di twitter lebih ke #polisiganteng :”D yang memang polsinya ganteng…

namun entah lah… jika tetangga saya rumahnya kebakaran, lalu datang pemadam kebakaran yang rupanya guanteng buanget, tetap ganjil rasanya jika saya kemudian malah heboh “Gyaaaa, pak pemadam kebakarannya guaaanteeeengggg”  jika menurut kalian itu biasa aja ya monggo, menurut saya… mmm gak.

Dalam bertindak, kita mengenal suatu hal bernama Etika.
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) etika adalah:

etika/eti·ka/ /étika/ n ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak)

mari garis bawahi hak dan kewajiban moral. Semuanya hak kita, selfie, berpendapat, naksir cowok ganteng, main enggrang, minum kopi, guling guling, jugkir balik… semuanya! Namun apa kewajiban moral sudah terlaksana dengan baik? Itu loh yang seharusnya dipikirkan terlebih dahulu.

Mungkin saya bukan marissa yang dulu, mungkin kini saya marissa yang kolot, menyebalkan, susah diajak ngeguyon…
Namun melihat foto-foto yang bersebaran di social media, memang kata Joker “why so serious?” dan kita memang butuh guyon… namun lama kelamaan saya bertanya “Apakah nurani bangsa sudah membeku?”

Jika saya yang tergeletak di situ… dengan tertatih saya berharap ada yang menolong saya… jika harapan itu tidak ada, saya akan berdoa biarlah saya menjadi korban terakhir, saya akan berharap semoga semua orang bisa lari sejauh mungkin melarikan diri, menyelamatkan diri…. menyelamatkan nyawa yang berharga bagi dirinya dan keluarganya. Bukan blitz kamera, bukan tongkat tongsiss, bukan hashtag #Timsarganteng, bukan orang yang berseliweran di sekitar saya untuk menjajakan dagangan mereka, bukan orang-orang yang kemudian upload foto di instagram atau path “Di sini loh TKPnya, gilaaa tadi gw liat sendiri cewek berkerudung bercucuran darah”

Indonesia ini bukan panggung sandiwara…
Ini sebuah negeri dengan 200 juta lebih manusia yang punya nurani.

Untungnya dari sekian banyak berita seperti ini, ada juga berita yang cukup memberikan saya “harapan”, seorang mas tukang ojek suatu armada yang menyelamatkan seorang mbak-mbak

Mungkin masih banyak harapan berserakan di setiap sudut Jakarta, harapan mengenai manusia-manusia yang manusiawi, yang bernurani.

Dengan sejarah panjang sebagai negeri yang dilandasi gotong royong, saya mungkin akan lebih bahagia jika hashtag yang berseliweran itu adalah #kamibernurani

“Jangan Merepotkan” yang [pada akhirnya] merepotkan


“I don’t say any words, because I don’t want to disturb you” -so many people in this planet (maybe especially Indonesian)

Sungguh saya kehilangan konteks dari kalimat “Jangan bilang-bilang ya, takut ngerepotin”
dan kemudian di balik “jangan bilang-bilang”itu terselip masalah yang aduhai. Then the problem getting bigger… no one have idea what’s happened. And if you want to trust me…. when a problem getting bigger it is getting harder to solve. Bahkan dalam menyusun tesis saja, dalam menyusun riset, dalam mengerjakan persamaan matematika, kita mengenal namanya “penyederhanaan” karena pada dasarnya kita buka super human yang bisa solve everything by ourselves ALONE! kita perlu menyelesaikan sesuatu step by step…. memilah mana yang bisa diselesaikan terlebih dahulu. Itulah fungsi mengapa kita sekolah, mengapa kita bersosialisasi, mengapa kita menjalani sebuah konsep bernama kehidupan, agar bisa membentuk pola pikir seperti ini.

Namun pada kenyataannya “facts sometimes more complicated than fiction” ujar Dr.Watson.

Seorang Ibu diam-diam kepada anak-anaknya ketika dia merasa ada yang tidak beres dengan kesehatannya. Waktu bergulir, Beliau kemudian ambruk. Siapa yang tahu rupanya Beliau sudah terserah kanker stadium 4?

Di sudut lain planet ini, ada lagi seorang Ibu dengan kisah yang hampir sama, BRUK! tiba-tiba Beliau ambruk… Siapa menyangka rupanya Beliau terkena stroke dan diabetes?

Di sebuah rumah sakit di suatu hari, ada seorang ayah terkulai di rumah sakit…. kecelakaan… di rumahnya istrinya tidak pernah tahu kalau dia punya beberapa permasalahan serius di kantor.

Dan jutaan kasus serupa atau hampir sama tersebar di penjuru planet bumi dan semuanya di awali dengan sebuat mindset “Gak mau ngerepotin ah”

Benarkah kemudian itu semua tidak merepotkan?
Benarkan itu semua menunjukan rasa cinta yang luar biasa pada seseorang? Benarkan jika kita mencintai seseorang kita PERLU dan mungkin HARUS melakukan sebuah tindakan “Maha bijaksana”bernama “GAK MAU MEREPOTKAN” itu?

Saya pribadi mengatakan “TIDAK” hal paling bijaksana justru adalah dengan melakukan hal sebaliknya.

Pfffttttt……………let me give you an example

I know someone in this planet, a mom, very nice and kind but one thing she always said “I don’t want to disturb anyone”including her kids. In my opinion, she has nice kids… kids who loves her than anybody else. But even with her kids, she never said her problems…. until in one point she got sick. She knows that her kids are great, have a big dreams, not such a genius but know how to work hard to achieve something. She always ask them to go far…. to get their dreams? but can they? NO! because they can’t   leave their mom that easy. they worry about her…

One of her kids is a very nice one, have a math ability above average… but he doesn’t want to go far.
One of her kids love her very much, but somehow she got really disappointed for now. She disappointed because she fell being fooled, being untrusted,everything. She never being disappointed like this before… never.

don’t you think psycologically stuff being so serious?

What funny is… I know where I found this story. I know exactly that story… and if you ask me how does it feels. It feels hurt more than anything in this world.

Jangan tanyakan kenapa kemudian si anak dengan kecerdasan di atas rata-rata akhirnya tidak memanjangkan langkahnya, dan tidak terbesit dalam mindsetnya untuk melanjutkan sekolah setinggi-tingginya.
Jangan tanyakan kenapa kemudian si anak tidak punya waktu lagi untuk jatuh cinta apalagi membangun rumah tangganya sendiri
Jangan tanyakan mengapa mereka semua bisa tersenyum da tertawa lepas di suatu waktu namun sesaat kemudian tatapannya kosong

Dan lalu…. diantara mereka, menyimpan cerita mereka sendiri.
With the same story and the same reason “Sudahlah, biar gak ngerepotin orang lain”

Hahahahhhaa… dear genius human! Even if you have very good equation like Newton’s law… you can’t solve any mechanical problems if no one revels the problems.

Like Sigmund Freud, maybe someday I will die and bring such of question and problem in front of God just to find the answer.

RIP my lovely cat… and a little note about why people should aware more about what’s around :'(


Why does my heart go on beating?
Why do these eyes of mine cry?
Don’t they know it’s the end of the world?
It ended when you said goodbye
-The End of The World, The Carperters-

Ask me about how does it feels when someone lose her pet
Ask me why nobita cried so loud when doraemon left him
Because I know exactly how does it feels.

So yesterday, my lovely cat died. If you are not animal lover you may not understand why I can’t stop crying. If you don’t know me and my family, you may say it is ridiculous a whole family crying just because their cat DIED. But trust me, for someone who already consider their pet as family, losing a pet is really the saddest moment in life.

A motorcycle hit my cat, and the driver even have no responsibility… maybe he only thought it was yeaaah cat =.= and surprisingly there were also some of my neighbor saw it, but no one even try to help or if they didn’t want to help they could tell my mom, I mean… everyone know that was our cat! Oh come on who’s care with animal….

Fortunately we could find Kuning, our poor cat, and buried him in our yard a place where he usually play. I try so hard for not cry, but I can’t…. I cried a whole day in my lab… and it was getting harder when my mom sad that Item (Kuning’s brother) don’t want to eat anything! And keep miaw-ing in Kuning’s cemetery. Even I am not in Indonesia now, I can imagine how sad it is, and if we still have a heart it is impossible for not to cry :(.

It is not the first time happened.
Several years ago my brother’s cat, Temtem, died poisoned because some people try to kill rats and use high-doses of rats poison. It was pollute groundwater then. Yes! Massive death of rats happened, but in the same time some cats are also died, and some grass are dried it self.

Before I have Uning, I also have another yellow cat. It also died because an accident… again someone who can’t drive well hit my cat.

When I was in Senior High School, my family safe  a cat, very beautiful cat, we named her Kutchan. When we safe her, Kutchan was very thin, dirty, had traces of blows everywhere, and she lost all of her teeth. We guess that some people tortured her very much. She couldn’t breath well, but however after we take care of her, she can survive quite long but after that she got sick again.

As an animal lover, in my country, I felt that I have no place to complain! Where I should complain about groundwater pollution? Where I should complain about people who can’t drive and kill my pets? Where I should complain about the right for animal? Yes for animal…

Come on Marissa, it just an animal!

Exactly! But in the world with too much excuse, people will learn to make excuse again and again and not to find proper solution! Come on, it is like diving in football game.
And let me make it clear, if you think that animal life is just “a small life”….okay then, but can you appreciate “greater life” if you even never learn how to appreciate “small life”
You don’t need to be a vegetarian…
You don’t need to not eat anything…
What you should do is only do kindness to everything in this planet. I mean, we are human, as my knowledge is the most perfect creature in this planet. We have heart, we have brain, we have complete nerve system, awesome! Then please at least remember that God create human in this planet to take care this planet.

Arrrghhh…. what? You ask me when this planet will free from war and stuff? Hahahaha… don’t make me laughing. Even human exploit nature around them without thinking about further impact. Maybe some of today’s people already in the level where they even don’t know their neighbor can eat food or not today or not.

it is about
AWARENESS!
Why we are, as human, felt like we have everything in this world? We have no heart when exploit nature..
no guilty feeling when hurt animal…
If I become a tree, I will stop supply Oxygen for human…
If I become a bee, I will stop pollinate flowers….
If I become a cow, I will ask all of my friends around the world to stop supply milk and stop to eat everything….
Gotcha! You will die human!

To be honest, in my country, there is still lack education about how to care and love nature and environment. how to take care animal? how to love every trees and flowers? Even parent usually scare their kids and babies with animal when they don’t want to hear their parent. It makes some people scare and hate animal very much, in their mindset animals are such cruel creatures in the Earth… similar  story with trees and other creature.

if this happen again again again again again and again…
In the future, you will meet your grandchild… and they will ask you very interesting question “Granny, what is this green stuff and this fluffy cute thing” while they pointing the picture of trees and cat.
Hei… maybe you want that kind of future, but sorry… I don’t want to :'(

Dilarang Jatuh Cinta pada Pria Terlalu Baik…! Aduuuh… kok susah ya


Image and video hosting by TinyPic

Ini ayah saya waktu masih muda… sedih loh adik saya pajang foto ini jadi profile picture dulu katanya karena dia gak punya foto bareng ayah. Ah… 🙁

Saya punya ayah yang baik. Besar di Curahlele, Jember [silakan cari-cari di peta] tidak membuat doi tulalit. Siapa bilang anak daerah itu lemot! Oh guys, come on! Ayah saya baik dalam matematika tapi juga fasih dan hapal Quran, mohon jangan bandingkan dengan anak-anaknya yang meh banget. Keterima di 2 PTN sekaligus dengan tanpa tes. Ahh… kalau kita yang muda-muda ini loyo berjuang mah malu dah. Ayah saya bilang sewaktu sekolah di Curahlele dulu Beliau suka nyambi dagang dan ngangon kambing sambil sekolah. Gila, kalau saya sih kayaknya boro-boro jadi pinter, cuman dapet kucel doang.  Sebagai anak perempuan dan anak sulung saya tentu akan bilang My Dad almost perfect… yeah almost! Tapi ada dua kekurangan Beliau: 1. Beliau terlalu baik, bagi Beliau semua orang itu BAIK!, dan 2. Beliau meninggalkan dunia ini terlalu cepat.

Sudah punya ayah yang seperti itu, mama saya juga tidak kalah jauh. Adik saya malah pernah bilang “Kak, kalau mau dapet cowok kayak ayah… liat dong, kakak harus sebaik Mama” which is almost impossible. Sekadar pemberitahuan aja, Mama saya maling aja dikasih teh anget sama biskuit! “Yah kak, kan kasian. Mama liat mereka kehujanan gitu, nanti masuk angin. Ya udah mama perbolehin masuk dan mama kasih cemilan. Mana tau mereka tega maling” kata Mama saya sambil bercucuran air mata. Saya dan adik saya? Kami sih hobinya ketawa aja. Aduuuuh…. Alhamdulillah deh, mungkin kiamat belum cepet-cepet dateng karena masih ada orang semacam Mama di planet ini.

Sebenarnya saya ingin melupakan ayah saya. Tapi layaknya setiap gadis yang seringkali merindukan cinta pertamanya…. Saya juga begitu. Kadang saya rindu ayah saya. If he still alive, maybe I will never need social media. Tapi ketika ayah saya meninggal dunia, lalu saya beranjak dewasa… Mama saya pernah bilang “Pokoknya nanti jangan jatuh cinta sama orang yang persis banget kayak ayah kamu deh. Kebaikan… orang baik entah kenapa meninggalkan dunia cepet juga”
Saya lalu berjanji… okay, Mom. Hmmmpppph… sumpah palapa dah pokoknya.

Tahun berganti… dan seperti biasanya saya kadang kangen dengan ayah saya. Kadang saya mempertanyakan kok gen sabar ayah dan mama saya gak nurun ya ke saya…. Kadang saya berpikir kalau ayah masih ada mungkin saya ajak mama dan ayah saya tes DNA, ini beneran saya sama adik saya gak ketuker di rumah sakit? Karena kami berdua aduuuuuh ampun deh gak sabarannya. Saya yang sekarang sih lumayan jarang ngamuk, waktu saya SD kalau saya jengkel dengan orang lain bisa saya gigit =.= LITERALLY gigit! Untungnya saya anak yang bandel tapi jujur, saya akan lapor ke ayah…. Kalau ke mama pasti kena omel “Masya Allah… anak orang digigit, emang kamu kira ayam goreng”, lebih baik ke ayah yang gak pernah marah tapi nasehatnya selalu sama “Ya udah, dia nyebelin kan. Kalau kamu balas dendam apa bedanya kamu sama dia. Sama nyebelinnya dong. Mau kayak gitu?” Huwaaaaa gak,Yah. Biasanya setelah itu saya langsung ambil mukena, terus minta maaf ke Allah… terus dengan doa polos ala bocah “Allah, aku gak akan gigit orang lagi… tapi dia jangan deket-deket aku ya kalau nyebelin terus. Aamiin”
Aduh rindu ya masa-masa bloon lugu kayak gitu.

“Ayah… ayah waktu kecil bandel gak?”
“bandel lah… semua juga bandel waktu kecil”
“Saya boleh dong jadi anak bandel. Kan keren, Yah”
“Boleh… tapi tetep harus jujur ke Mama sama Ayah ya.”
“Loh kenapa?”
“Supaya kalau kamu salah Mama sama Ayah bisa kasih tau yang benar apa”
“Oh gitu…”
“Iya, sebenarnya semua anak baik kok, mereka bandel karena belum tau aja yang benar seperti apa”
“Ooooo”
dan saya tetap bahagia jadi anak bandel waktu kecil dulu… yang manjat pohon, nyoba-nyoba ngetapel jambu air tetangga, berantem sampai codet… SEMUANYA. Tapi selalu diakhiri pengakuan dosa ke Mama dan Ayah. Akhirnya bosen sendiri jadi anak yang bandel.

Tapi skemanya sudah jelas. Forget it… jangan sampe kepincut orang kayak doski…
Aduh FTV banget dah.

Hingga malam ini… saya sukses gagal move on.
Uhuk!
Begini…begini…ceritanya saya punya “teman curhat” sekarang. Hahahaha…
Baik gitu, apapun cerita saya… dia dengar. Dan awalnya sih ya udah lah ya… happy aja punya teman seperti itu, hampir bikin tumpeng sih… edaaaan emon nambah juga temennya kan. Hingga pada akhirnya saya menyadari satu hal: Sifatnya mirip dengan ayah saya!
Okay… tarik nafas marissa.. tenang… move on…. Move on perlahan…
Tapi saya terlanjur bergantung sama dia, hingga saya kemudian cerita saya sedang sebeeeeeeeel banget sama beberapa orang. Gilanya jawabannya “Kalau kamu marah, terus membalas mereka… kamu akan sama seperti mereka. Let it go and moving on”
Saya melongo… ya ampun ya ampun ya ampun… 25 tahun saya hidup, baru detik ini saya menemukan orang yang memberikan jawaban serupa dengan ayah saya. I shouldn’t be fall in love with him. Gak boleh gak boleh…. Ini terlalu berbahaya.
Ini dia! Ini dia kenapa saya tiba-tiba deket dengan orang ini, baiknya… jawabannya… cara dia menjawab… ya ampun, itu semua rasanya baru saya temukan dua kali di planet ini. Pada Ayah dan pada dia. Mukyaaaaaaaaaa….. tutup buku emon… tutup buku….

Ih kenapa sih, Mon! Majuuuu… Serbu….Seraaaang…. Terjaaaaaaaang!

Ih kenapa ya… gak tau… parno aja. Namanya juga parno…

But more you try to forget… more you remember.
Dan rasanya malah makin bergantung dan makin gak bisa lupa.
Ya sudahlah mau bagaimana lagi… lalu saya ambil mukena dan bilang “Aduh ya Allah… kok ditemuin sama yang model begini lagi sih. Hamba pasrah. Tapi jika boleh ada beberapa request, jaga dia baik-baik, dekatkan dia pada jalan yang Kau ridhai, dan dia orang yang baik jadi hamba mohon dia bisa hidup lama di planet ini”

Ya begitu saja….
kalau mama saya tahu, Beliau pasti akan parno dan panik “Aduuuh… tuh kan, mama sudah duga”
Yaaaa gimana lagi, Ma… hahahhahahaaha