Mengenang Prof. Masanori Kaji: Belajar mengenai arti dedikasi


Saya kehilangan salah satu dosen favorit saya di kampus, dan rasanya sedih…
mungkin kalian berpikir “Yah, Mon…. siapa-siapa lo juga bukan” hahaha iya sih, tapi kan saya ngefans :). Selain itu ada banyak cerita di balik ini semua yang sebaiknya kalian ketahui karena bagi saya Tuhan lagi-lagi memanggil orang yang baik dari planet bumi ini. Ya! Lagi-lagi.

***

Kaji-sensei, begitu biasanya Beliau dipanggil adalah dosen sejarah sains. Beliau sebenarnya ahli kimia, tapi sepertinya ngefans berat dengan Mandeleev (yang lupa siapa gerangan Mandeleev, itu looooh yang bikin tabel periodik) Beliau kemudian mengejar Mandeleev dan menempuh jenjang doktoral Beliau di Rusia. Sebagai fans, kan saya jadi “kepo” dan saya sempat tertawa tiada henti karena seluruh foto Beliau di website pribadinya pasti di depan patung Mandeleev, oh come on… gak segitunya kali, Sensei hahahaha. Beliau kan orangnya pendiam, kalem, yah tipikal orang Solo lah kalau di Indonesia, jadi saya kan sekalinya menemukan hal-hal unik dari Beliau jadi pengen ketawa.

Saya kemudian mengetahui bahwa Beliau adalah salah satu kontributor dan salah satu editor dalam buku terbitan Oxford Press yang berjudul “Early Responses to the Periodic System”. Sebagai seorang maniak buku, saya tahu betul bahwa buku yang bisa dicetak Oxford Press itu tidak main-main, “Wah hebat juga nih, Sensei” pikir saya. Terlalu terlambat bagi saya untuk meminta tanda tangan Beliau… arrrghhh…. malu-malu kucing sih.
Image and video hosting by TinyPic

Saya baru saja selesai membaca essay yang Beliau tulis sendiri, dan lagi-lagi untuk kesekian kalinya saya baru tahu bahwa sejarah bisa begitu menarik. Pemaparan Beliau yang runut membuat kita paham bagaimana Jepang berusaha sedemikian rupa menyerap ilmu pengetahuan bahkan dari sebelum era Restorasi Meiji. Waaah… kalau kalain penasaran boleh lah pinjam buku saya 🙂 (asal jangan dibawa diaku dan gak dibalikin aja sih)
Image and video hosting by TinyPic

Saya jadi teringat banyak hal ketika Beliau menjadi dosen saya di kelas History of Environment

***

Beberapa keping memori di kelas…

Kelas History of Enviroment itu sebenarnya tidak lepas dari complain saya hahahaha…
Ini kelas yang menarik, Kaji Sensei selalu menunjukan list film dokumenter dan buku-buku menarik terkait lingkungan hidup. Karena saya pecinta film dan buku, ya saya jatuh cinta lah. TAPI…karena 3 minggu pertama film yang diputar tentang Minamata, lama-lama saya bosan juga. Saya sampai sudah sampai hapal di menit keberapa kucing yang terkena minamata menjatuhkan diri ke laut (and I hate this one so much), di tiga minggu pertama saya malah sibuk menghitung berapa kali kata “you know” keluar dari dosen pengajar lainnya yang mengajar di kelas yang sama (harap jangan ditiru).

Namun kemudian, kelas semakin menarik. Kasus lingkungan yang dipaparkan semakin beragam dan karena penelitian saya juga di bidang lingkungan jadi saya merasa “Ih ini gw banget nih.”

Saya juga jarang mengajukan pertanyaan di kelas, saya kan mahasiswa pasif hahahahhahahahaha (jangan ditiru juga ya). Tapi pernah pada akhirnya saya bertanya juga ke Beliau “Sensei, kenapa sih… kenapa semua negara kemudian harus dipaksa menjaga lingkungan? Kan gak fair! Inget loh… Jepang aja baru jaga lingkungan setelah ekonomi mereka in the peak point” <<– kira-kira begini pertanyaannya.

Dan saya ingat jawaban Beliau “…Saya paham pertanyaan kamu. Namun, itulah mengapa kita mempelajari sejarah. Sejarah kemudian telah menunjukan bahwa ada harga yang sangat mahal yang harus dibayar suatu negara ketika mereka hanya mengejar kepentingan ekonomi dan mengenyampingkan lingkungan. Itulah kenapa kita belajar saat ini agar nanti… jangan sampai ada negara lain yang merasakan bencana lingkungan lagi, apalagi jika bencana itu kemudian mengambil nyawa manusia, nyawa itu tidak bisa dibayar oleh apapun”
Saya merasa jawaban itu bijaksana banget…. dan jika saya menjadi guru, saya akan ingat jawaban ini dan menjadikannya jawaban untuk pertanyaan yang sama.

Pernah juga setelah kunjungan ke Museum Daigo Fukuryu Maru, karena saya anak kuper yang lelet, entah bagaimana ceritanya saya terpisah dari teman-teman saya DAN DI SAMPING SAYA HANYA ADA BELIAU. Kami pun satu kereta, satu gerbong, samping-sampingan, aduuuuh awkward banget, entah mau ngomong apa. Saya pernah ya awkward di depan gebetan, kalian pernah kan? pernah kan? nah  ini… ini lebih awkward lagi! Mau ngomong apa kan ya ahahahaha. Yah pokoknya garing sih, hingga akhirnya Beliau bertanya

“Rencananya setelah lulus mau kemana?”
“Oh lanjut, Sensei.”
“PhD?”
“Iya””Penelitian kamu apa? Siapa senseinya? ”
“Dampak perubahan iklim terhadap ekonomi, Masui Sensei”
“Menarik sekali. Setelah PhD mau kemana?”
“Jadi dosen mungkin… belum kepikiran sih, Sensei”
Jadi dosen yang baik ya… ketika menjadi guru itu sebenarnya bukan kita yang mengajari orang-orang di depan kita, tapi kita yang belajar dari mereka. Belajar hal-hal baru karena pengetahuan itu selalu berkembang, perilaku manusia berubah, semuanya. Jadi, jangan pernah berhenti belajar

Jika saya tahu itu nasehat terakhir seorang guru kepada saya, pasti saya sudah nangis bombay saat itu.

***

Kisah si jam tangan analog dan jam tangan pintar…
Ada satu hal lagi yang selalu membuat saya tertawa dalam hati: Jam tangan!
Beliau itu selalu menggunakan jam tangan double, yang satu jam tangan analog dan satu lagi smartwatch. Saya yang paling malas pakai kacamata ini walau penglihatan sudah semakin merabun, akhirnya membawa kacamata saya juga ke kelas karena penasaran. Saya memperhatikan kok dua jam tangan ini menunjukan dua waktu yang sama… karena tadinya saya mikir ya siapa tahu aja kan Beliau LDR sama istrinya terus supaya gak salah pas nelpon atau sms-an jadi pakai jam tangan dobel dengan dua zona waktu yang berbeda. Tapi rupanya tidak! Tidak sama sekali… semuanya sama persis! Kan otak saya jadi iseng berkonspirasi, apa sih maksud si jam tangan ini? Koleksi? atau apa?

Belakangan saya mengetahui dari sumber terpercaya (tuh kan fans sih selalu over kepo) bahwa si smartwatch itu berguna untuk mengingatkan Beliau kapan untuk minum obat. Seperti yang kita tahu fitur smartwatch kan memang untuk health reason ya. Lalu, untuk apa lagi si jam tangan analog?
Karena itu hadiah dari istri Beliau… katanya jika melihat si jam itu Beliau merasa dekat dengan istrinya.

Selesai sudah… kayaknya sih suami saya kelak juga tidak akan se so-sweet ini.

Arti sebuah dedikasi…
Yang luar biasa dari Beliau adalah, Beliau tidak terlihat seperti orang yang sakit. Saya tidak pernah mengira bahwa Beliau memiliki kanker dengan stadium yang sudah tinggi pada saat mengajar kami semua. Bahkan murid-murid Beliau di lab pun begitu.

Dari mahasiswa Beliau saya tahu bahwa hingga Maret lalu, Beliau berhasil mengadakan Simposium internasional untuk Chemical History in Tokyo. Saya juga mengetahui bahwa tiga hari sebelum Beliau wafat, Beliau masih terbang ke Singapura untuk memberikan materi pada sebuah workshop internasional. Namun mungkin kemudian Beliau terlalu lelah hingga akhirnya drop dan dipanggil Tuhan pada 18 Juli yang lalu.

Mendengar cerita ini, saya merasa hingga akhir hidupnya Beliau tetap mendedikasikan hidupnya untuk bidang keilmuan yang begitu Beliau cintai. Saya bisa menangkap bahwa cinta Beliau pada ilmu pengetahuan terutama pada bidang sejarah sains dan filosofi sains begitu kental. Saya bisa melihat Beliau membuktikan pesannya kepada saya untuk menjadi guru yang baik yang terus berbagi pengetahuan.

26 tahun saya hidup di dunia ini, beberapa kali saya melihat orang yang angkuh dengan pengetahuannya yang masih cetek. Saya tidak melihat hal tersebut dari diri Beliau. Saya bersyukur dalam hidup saya, saya lagi-lagi dipertemukan oleh orang yang hebat… diajari oleh orang yang hebat walau dalam waktu yang singkat.

Secara personal saya merasa Beliau bisa menjadi tokoh paling berpengaruh di bidang pengembangan sejarah sains karena bidang ini masih sangat langka. Namun sayangnya Beliau sudah berpulang. Mungkin kini Beliau sedang bercengkrama dengan Mandeleev, siapa tahu?
Teriring rasa terima kasih saya kepada Beliau,
semoga alam dan manusia bisa senantiasa hidup selaras dan beriringan…. semoga.
Image and video hosting by TinyPic

Death ends a life, Not a relationship: ketika keluarga kami kembali kehilangan


“As long as we can love each other and remember the feeling of love we had, we can die without ever really going away. All the love you created is still there. All the memories are still there. You live on in the hearts of everyone you have touched and nurtured while you were here. Death ends a life…. Not a relationship —-(Tuesdays with MorrieMitch Albom)

Jumat, 25 Maret 2016 sebuah berita duka kembali menerpa keluarga saya. Uwak saya meninggal dunia. Semuanya serba mendadak… saya hampir menyangka saya berhalusinasi karena sejak semalaman saya tidak bisa tidur dan sibuk mengolah data penelitian saya.Sambil membuka handphone saya berkali-kali pagi itu, saya nyaris mengetik “Ma, ini Mas Adi yang mana? tetangga kita yang lain?. Ih mama salah ketik deh”
Beberapa jam sebelum saya menyerahkan revisi data saya kepada sensei saya, saya harus menerima kenyataan bahwa benar Uwak saya tersebut sudah kembali ke sisi Sangpencipta.

Siapa yang tidak terkejut? yang saya ketahui Beliau orang yang menjaga kesehatannya dengan baik, orang yang selalu bersemangat menghadapi hari. Saya masih ingat bagaimana Beliau mengendarai mobil, memencet klakson ketika kami keluarganya yang memang mayoritas wanita ini “lelet” dan tidak kunjung beres dengan urusan kami sendiri, saya juga masih ingat karena setiap Beliau berkunjung ke rumah… Beliau pasti menjadi garda terdepan yang heboh menanyai kondisi saya dan adik saya… yang paling semangat melakukan video call ketika saya melanjutkan studi saya di Jepang (and also I still remember betapa paniknya saya ketika Beliau menelpon dan saya si mahasiswa malas ini belum mandi dan totally in a mess ketika Beliau menelpon :’P).

Saya ingat… dan tidak akan pernah lupa bahwa bagi saya dan adik saya, Beliau mungkin adalah “Ayah kedua” bagi kami setelah ayah kami meninggal dunia.

Maka sungguh ini merupakan sebuah kehilangan yang besar bagi keluarga kami…. bagi saya… bagi adik saya…. mama saya, dan tentu kehilangan maha besar bagi keluarga inti uwak saya.

Sebagai orang yang diam-diam begitu saya segani dan hormati (dan lagi-lagi saya anggap sebagai ayah kedua bagi saya dan adik saya), sometimes of course we have different opinion, but more than that saya beruntung karena dalam hidup saya saya pernah bertemu Beliau, he was one of the best man in this blue planet. Dari Beliau saya belajar untuk membantu orang lain tanpa pamrih.

Tentu saya sedih, lagi-lagi dalam hidup saya saya kehilangan seorang pria yang akan saya kabari pertama kali ketika nanti saya wisuda…
Lagi-lagi dalam hidup saya, saya kehilangan seorang pria yang saya harap akan hadir menggantikan ayah saya dalam akad nikah saya kelak.
Saya kehilangan seorang pria yang jika Beliau masih ada mungkin beberapa bulan/ tahun kedepan, Beliau akan super repot melakukan “investigasi”, “wawancara”, serta “fit and proper test” untuk calon-calon menantunya (dan mungkin melakukan hal yang sama kepada calon suami saya kelak). Oh hey you guys, if you fall in love to  my cousins… they had a great dad, you must be a high-quality man to get them 🙂 seriously.
Kami… saya dan sepupu saya kehilangan pria yang seharusnya kelak menjadi saksi pernikahan kami.
Adik saya… mungkin dia lebih “kehilangan”dibandingkan saya… he never meet his father since very young, dan Uwak Adi menjadi sosok “ayah” yang dia kenal. Mereka kadang hilang entah kemana berdua… having their great “bro time.” Mungkin dia juga merasa sepi karena kini tinggal dia pria yang tersisa dari garis keturunan Mama saya. Hey, Bro… ahahahhaa you have queens and princess to take care off 🙂 be a nice man then.

Ah sudahlah….Saya tidak akan banyak menulis hal yang menguras air mata… saya percaya siapapun tidak ingin menguras air mata orang-orang yang dicintainya ketika mereka pergi. Life must goes on, so do a nice smile….
Beliau mungkin sudah bertemu dengan ayah saya dan kakek saya disana… bersama mereka bercengkrama dan mungkin sambil menikmati masakan nenek saya yang saking enaknya mungkin Beliau juga sudah buka catering di alam sana. Ah siapa tahu kan? yang pasti orang yang baik tentu akan berada di tempat yang baik juga bukan.

Di sebuah pojok planet ini, saya berjanji kepada semua orang yang telah berjasa kepada saya, baik yang masih ada di dunia ini maupun yang sudah meninggalkan saya…
I”ll do my best… for everything.

dan satu lagi yang mungkin harus kita ingat selalu “Death ends a life…. Not a relationship
Oh yes, never 🙂

Mendefinisikan kembali makna PERTEMANAN


Saya punya satu pertanyaan krusial untuk kalian semua yang tersasar membaca kalimat ini..
“Apa makna Cinta dan Pertemanan menurut kalian?”
dan jika kemudian saya boleh melanjutkan pertanyaan ini ke jenjang yang lebih filosofis, “Sudah layakah kalian untuk mendapatkan Cinta dan Pertemanan yang tulus dari orang-orang sekitar kalian?”
“Apakah kita sudah cukup dewasa mengelola emosi dan psikis kita?”

Hah apa ini, Mon? apa?
Apa yaaa…. mmmm udah pernah liat video stand up comedy-nya Raditya Dika yang ini?

It is true… Ini fakta, kita, terutama wanita, kadang terlalu emosional ketika ngegosip. Bahkan ketika yang digosipin itu mereka sebut TEMAN sendiri!

Gak percaya? Hei… jika tidak ada pertemanan yang “sesadis” ini (maaf saya harus bilang ini memang sadis), maka kita tidak akan melihat kasus “Wanita yang tewas setelah meminum kopi bersama sahabat-sahabatnya”. Sahabat macam apa ya yang bisa saling bunuh-bunuhan? apalagi konon motifnya hanya karena “cinta segitiga”yang menurut saya ya ampuuuuun meh banget!

Jika kalian ingat lagi beberapa tahun yang lalu, sekitar awal 2014, ada kasus Ade Sara. Dua sejoli yang sebenarnya teman Mbak Ade Sara ini tega menghabisi nyawa gadis belia ini. Motifnya? Yang Cowok sakit hati karena pernah diputusin, yang cewek? Ikutan gemes karena merasa cowonya belum move on dan atas nama cinta apapun yang dilakukan si cowok akan doi support. Ini ke temen loh… TEMEN. Gila gak?

Dan saya masih punya ratusan catatan kasus kejahatan yang dilakukan seorang teman atau sahabat. Pertemanan seperti apa sih yang kalian maksud? Apa? Apa? dan Apa?

Saya hanya berpikir mungkin kasus-kasus ini bisa diminimalisir jika kita mendefinisikan pertemanan dan persahabatan dalam definisi yang lebih baik dan tentunya lebih TULUS.

===========================
Saya tidak tahu, tapi bagi saya beberapa pertemanan di lingkup sosial kita ini terlalu sadis dan kejam…

Lingkup sosial kita mulai tidak bisa mentolerir sakit hati, kekecewaan, dan kemarahan. Which is very childish in my opinion. Apalagi jika kalian sudah ada di area usia seperempat abad ke atas. Tau kan satu abad itu berapa? 100 tahun…. jika kalian udah Alhamdulillah mencapai usia ini maka bersyukurlah salah satunya dengan cara menjali hubungan yang lebih baik dengan orang sekitar.
Ini beneran, untung Allah baik, masih mau merawat kalian…
Kalau saya yang kemudian diberi kepercayaan untuk mengatur lama hidup manusia, waaaah kacau
“Aduuh… orang ini drama deh, udah ah ganti aja sama Tyranosaurus, klo sadis tuh mbok ya sekalian. Ah yang ini juga…ganti sama Panda ah lebih imut. Nah ini, wah yang ini nyebelin, ganti aja deh sama Rafflesia Arnoldi, mayaaan memperbanyak spesies bunga langka”

Ya kawan, bersyukurlah atas usia kalian.

Pernah gak sih kalian lagi ngumpul sama temen kalian… terus kalian saling ngobrol cantik. Nah, terus ada aja nih satu atau dua orang yang kemudian ngomongin aib-aib temen yang lain. Dan bener kata Raditya Dika, nanti pas yang diomongin dateng, yang ngomongin akan bertindak layaknya bidadari baik hati dari khayangan.

Atau pernah gak sih, ada temen kamu yang emang salah… banget banget salah, daaaaan selalu ada sekelompok atau beberapa kelompok yang ngomongin kesalahan itu entah sampai kapan. Prediksi saya mungkin sampai hari kiamat tiba.

Saya pernah dulu saya melakukan sebuah kesalahan fatal ke guru saya… saya akui itu. Saya salah. Personally saya kemudian belajar untuk memanage sifat rebel dan kurang ajar saya. Tapi siapa peduli dengan proses transformasi psikis lo? PFFFFTTTT BULLSHIT! Selalu ada orang yang ungkit-ungkit kesalahan saya. Saya marah? Tidak, tapi saya jengkel. Jika saya salah maka dengan segala hormat, jika Anda teman saya, mohon beri saya solusi dan nasehat sebaiknya harus bagaimana. Loh emang olok-olok itu membuat orang lain jadi  better off? Gak kan?
Sama halnya dengan apa yang seringkali saya lihat sekarang… saya pikir manusia akan berubah secara revolusioner sesuai dengan peningkatan kedewasaan, rupanya tidak! selalu ada beberapa orang yang minim toleransi terhadap kesalahan, dan sindiran… nyinyiran… dsb masih tersebar di planet bumi hingga detik ini dan mungkin akan terus berlangsung hingga anaconda betulan ditemukan di video klip Nicki Minaj.

Dan jika itu tidak menyeramkan… ah mungkin kalian belum tahu hal yang satu ini:

Listen carefully to how a person speaks about other people to you….

Yuph, jika seseorang bisa ngomong hal-hal jelek dengan tega tentang orang lain ke kalian, dia juga bisa melakukan hal yang SERUPA ke orang lain. Dan topiknya, ya tentang kamu laaah…. 😀 selamat ya, Guys.

Atau ada juga ketika kalian saling adu argumentasi dengan temen kalian… dua-duanya gak mau saling ngalah yang bisa disebabkan dua hal: dua-duanya sama sama benar, atau dua-duanya sama-sama salah, cuman beda perspektif. Alih-alih saling menghargai pendapat satu sama lain, yang ada malah terjadi puasa ngomong, puasa mutih, puasa weton, puasa daud, dan puasa-puasa lainnya. Yang kemudian bisa membuat kita berpikir “Oh kualitas pertemanan kita segini ini aja toh” beda pendapat dikit aja bisa saling diem-dieman.

Nih ini nih salah satu bukti gaul bocah-bocah era 90-an sekaligus bisa jadi pemicu konflik antar bocah-bocah kolektor Tato stiker pada masa itu (hayooo inget gak?)

Bahkan waktu TK, ketika saya kehabisan permen jagoan neon dengan hadiah tato kupu-kupu yang saya belum punya karena keduluan oleh teman saya, owwwh kami berantem dong… saya nangis sejadi-jadinya. Tapi itu paling cuman 15 menit… setelah itu kami makan es krim dan pulang bareng ke rumah dengan hati riang. Wait! Masa hal kayak gini aja kalah sama bocah TK di tahun 90-an, yang rupanya lebih cerdas secara emosional ketika menghadapi konflik saat itu. Think again, guys!

Jujur saya kecewa jika hal-hal seperti ini justru dilakukan oleh orang-orang dengan level pendidikan yang tinggi, dengan kondisi sosial ekonomi yang gak jelek, yaaah pokoknya di posisi yang perlu disyukuri lah. Salah satu sahabat saya selalu bilang begini kalau dia denger kasus-kasus macam ini “Yah, Mon… jadi kemana ilmu lo ampe mati ngerjain skripsi? Lo belajar berpikir kritis, sistematis dan runut berdasarkan fakta! Secara mental lo juga dididik gimana ngehadapin kritik dan saran pembimbing lo, gimana ngehadapin ketika lo stuck, gimana cari solusi. Kalau lo gak bisa implement itu di hidup lo, yaaaah… gak ada gunanya tuh skripsi dsb… kecuali sekadar bikin lo lulus tapi gak bikin lo jadi better human” (Yang ngerasa pernah bilang ini ke gw, ahahahha… lo emang bisa lebih antagonis dari gw ketika lo berapi-api)

Ya! Itulah mengapa menurut saya, pendidikan bukan membuat kita menjadi lebih jenius. NOPE! Pendidikan seharusnya membentuk pola sikap dan perilaku. Kita udah belajar bahwa dalam riset misalnya ada berbagai metode penelitian, dan berbagai metode itu bisa baik untuk menyelesaikan suatu permasalahan namun belum tentu baik dan bisa menyelesaikan masalah lainnya. Ya begitu… dalam kehidupan sosial kita juga akan nemu banyak-banyak masalah, dan kita harus bisa menerima kenyataan bahwa setiap orang itu punya preferensi, sikap, dan masalah yang beda-beda… dan mungkin memang pola perlakuannya harus berbeda-beda pula.

Saya pun sama, saya ini nyebelin… saya orangnya suka pukul rata, kejam, gemesan kalau liat orang yang saya kira nyebelin, kritikus, waaaah pokoknya nyebelin banget. Tapi saya sadar tidak semua orang bisa mentolerir sifat buruk saya itu. Sedikit demi sedikit sahabat-sahabat terbaik saya, nurani saya, guru-guru saya, buku-buku yang saya baca, mengikis sifat-sifat buruk saya itu. I have a brand new life… and I love it.
Saya tidak berharap apa-apa selain, saya merasa saya sudah menjadi the best version of me now… dan saya ingin seperti ini tanpa perlu mengotori hati dan pikiran saya with negativity.

Saya tidak memiliki banyak sahabat, tapi saya percaya sahabat saya adalah orang-orang terbaik dalam bidang mereka, dan mereka saya pilih bukan karena mereka perfect… tapi karena mereka NO-DRAMA. Bagi saya hal terpenting dalam suatu persahabatan adalah ketika kita bisa berargumentasi secara rasional, sehat, dan masuk akal.
===========================

Saya punya seorang sahabat, kami sering berdebat mengenai beberapa masalah, misalnya tentang jodoh. Dia lebih pada mahzab “It is better, Mon untuk gak nunda-nunda pernikahan dsb” sedangkan saya… saya lebih pada “Ahay! mumpung masih single, gw bisa keliling dan ngapa2in sendiri, selama beli tiket masih cuman buat satu orang”. Kami berdebat, kami saling mengingatkan satu sama lain, dan pada akhirnya kami malah jadi diskusi…. dan seperti biasa berakhir dengan ketawa, menertawakan kekonyolan kami masing-masing sambil kemudian nyeletuk “Yaaaah…. pantes aja kita berdua jomblo“. Pembicaraan kami yang Mahaserius bisa mendadak banting stir menjadi pembicaraan tentang wabah panu, kadas, kurap di era 90-an.

Itu yang jomblo, yang semi jomblo ada lagi. Walau sama-sama di Tokyo, tapi yaaa gak sampe kalau saya mau hang out sendiri dia harus ikut, begitu sebaliknya. Kami saling menghargai kesibukan masing-masing. Dan kalau salah satu ada yang stress, ya baru deh chattingan atau telpon-telponan sampai kuping panas. Udah gitu, ya udaaaaah…. life keeps turning on. Apa saya bilang dia sombong? Apa dia bilang saya yang sombong? Gak…
Pun kami kirim-kiriman pesan, pesan kami tuh aduuuuh…. “Mon ini ganteng kan” dan yang dia kirim adalah foto domba didikannya :’) Lalu pembicaraan kami nothing but about DOMBA dan SAPI!

Untuk yang beda gender, saya punya juga. Apa dia sempurna? Pfffft…. ya gak lah! Gak tau cara milih kado, imajinasinya minim, pengetahuan atas popular tale nyaris nol, sense fashionnya standar. Tapi dia baik! Gak pernah marah dan tersinggung walau saya bilang dia gak kreatif lah, jeansnya kegedean lah, jambangnya terlalu lebat lah,… dsb dsb dsb. Dan ketika saya marah-marah ketika curhat ke dia, dia bisa berpikir jernih dan selalu jadi orang yang menenangkan saya, yang bisa ngasih tau kalau saya salah dan memberikan solusi kira-kira saya harus bersikap seperti apa. Ketika dia gak tahu akan sesuatu dan dia merasa salah dia akan bilang itu, gak kemudian mencoba membela diri dengan aneka alibi untuk membuat dia terlihat keren, manly, dan bener. Dari dia saya belajar untuk jadi orang yang lebih humble yang berani bilang “I am really stupid in this case” dengan lapang dada.

Hal-hal yang hebat dari sahabat-sahabat saya adalah… ketika saya salah, ketika saya bermasalah, mereka gak ngomong ke orang lain… mereka langsung menghubungi saya. Complain segala hal tentang saya. Persahabatan kami sederhana namun gurih layaknya Rumah Makan Masakan Padang. Punya aneka rasa dan punya motto “Gak enak bilang ke kami, enak beri tahu yang lain”
kami saling mengkritik
saling menertawakan
saling complain
saling menyemangati
saling mendukung
saling memahami kekurangan dan kelebihan kami masing-masing.

Dan apa dunia perlu tahu segala persoalan dan keburukan kami? Gak, kawan… gak perlu.
Saya ingin kami menua bersama, mendewasa bersama.
Saya ingin anak-anak kami kelak juga memperoleh persahabatan dengan kualitas yang serupa atau bahkan lebih baik, yang anti-drama, yang siap dengan segala konsekuensi pertemanan. Yang open minded dengan perbedaan orang lain.

Saya juga percaya bahwa bahkan jika kelak saya menikah, cinta itu paling hanya bertahan beberapa bulan atau kalau beruntung beberapa tahun. Saya dan dia akan menua, getting ugly and uglier. Saya menjadi gendut setelah punya beberapa anak, jadi lebih cerewet karena harus menghandle banyak urusan rumah tangga. Suami saya… ya sama aja, setampan apapun dia saat ini, dia kemudian akan membuncit, rambutnya mulai berubah warna, kulitnya menggelap dan sedikit demi sedikit mengkeriput…. dia akan punya lebih banyak tanggung jawab dan tentunya permasalahan. Bagaimana kami bisa bertahan jika tidak ada feel “Persahabatan” diantara kami? Saya ingin menjadi sahabat terbaik untuk suami saya kelak… yang tidak peduli seberapa menyebalkannya kami masing-masing, tidak peduli sebanyak apapun kami beradu argumentasi, kami berakhir dengan saling minum kopi atau teh bersama lalu tersenyum pelan sambil bilang “Ah, everything will be alright.” Kami menua bersama, seiring menuanya cangkir kami… rumah kami… mendewasanya anak-anak kami… namun persahabatan kami tidak pernah menua. Which is perfect 🙂

Dan apakah sekarang kita bisa mendefinisikan makna pertemanan dan persahabatan yang baik menurut versi kita?
Hei… ini versi saya, apa versi kamu?

seharusnya hashtag itu #KamiBernurani


Indonesia itu unik…
Negeri cantik yang punya masalah super kompleks
Dipenuhi banyak kisah penuh motivasi dan juga kisah misteri…
Sebagai orang yang “jauh”dari tanah air saat ini, saya merasa berita di Indonesia kok ya aneh-aneh semua.

Mulai dari kasus seorang wanita cantik yang tiba-tiba meninggal dunia setelah “ngopi” yang menurut saya yang cuman liat aja (dan udah menghabiskan puluhan tahun dengan novel detektif) terlalu gak masuk akal kalau itu bukan kasus pembunuhan… lalu tiba-tiba ada pegawai resto yang nyicip kopi petaka itu. Kalau saya jadi manajer resto saya akan amankan barang bukti, dan jika saya pegawai dibanding saya sibuk icip-icip mending saya heboh nelpon ambulance atau ambil segelas air putih. Useless sih tapi namanya juga usaha. Yaaaaah tau lah… pokoknya terlalu banyak yang misterius dalam satu frame cerita. Yang pasti jika itu benar kasus “pembunuhan”pelakunya sudah pasti orang pinter dan cerdas… bisa mengelabui kamera CCTV dsb! Woowww~~~plok plok plok plok….
lalu terusssssssss cerita yang aneh-aneh muncul, ada istri yang baru sadar suaminya juga “wanita”setelah menikah beberapa bulan…. which is “huh”? kok bisa gitu… entah lah ini obrolan dewasa hahahhaa. Terus kasus malpraktik…. hingga akhirnya muncul berita paling klimaks bulan ini: Ledakan dan Penembakan di Sarinah.
Lalu muncul hastag #kamitidaktakut
Bukan masalah hastag yang keren ini… namun cara Indonesia menunjukan ketidaktakutannya yang  menurut saya “What? Seriously?

Dari yang pada selfie

Ah cemen aja lo, Mon! Suka-suka orang aja lageeee….
Iya saya memang cemen… tapi waspada dan ceroboh itu dua hal yang berbeda.
Dan selfie! I love selfie, everybody loves selfie… namun sebuah hal yang bijaksana jika kita tahu tempat dan waktu kapan harus selfie. Lah Indonesia… ada taman bagus dikit, selfie… ada jembatan baru, selfie… ada kecelakaan, selfie… hingga ada teroris, selfie!!! Come on! nanti ketika malaikat pencabut nyawa mau dateng mampir juga selfie?
Berikan saya satu penjelasan paling ilmiah, paling akurat, paling bijaksana untuk menjelaskan fenomena ini.

lalu ramai juga di twitter dsb, pedagang sate dan pedagang asongan yang stay cool aja gitu…

Subhanallah banget sih…
Tapi, saya punya sudut pandang lain. Ketika kondisi kritis dan kematian tidak menakutkan seseorang, maka mungkin mereka selama ini dekat dengan kondisi tersebut. Guys, bagaimana jika yang sebenarnya di benak mereka adalah “I am poor, if I am not sell anything today… my family can’t eat anything today!” atau “WTH with terrorist, with my condition I will be die later or soon
Saya merasa bahwa ini malah sebuah capture bisu betapa indeks gini di kota Jakarta sangat besar… rakyat kecil sudah tidak takut mati demi sesuap nasi. Hal luar biasa, namun bukan hal yang harus dibanggakan terlalu berlebihan…namun sebuah bahan renungan untuk kita semua.

Dan alih-alih peduli ada berapa korban jiwa…
Trending topic di twitter lebih ke #polisiganteng :”D yang memang polsinya ganteng…

namun entah lah… jika tetangga saya rumahnya kebakaran, lalu datang pemadam kebakaran yang rupanya guanteng buanget, tetap ganjil rasanya jika saya kemudian malah heboh “Gyaaaa, pak pemadam kebakarannya guaaanteeeengggg”  jika menurut kalian itu biasa aja ya monggo, menurut saya… mmm gak.

Dalam bertindak, kita mengenal suatu hal bernama Etika.
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) etika adalah:

etika/eti·ka/ /étika/ n ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak)

mari garis bawahi hak dan kewajiban moral. Semuanya hak kita, selfie, berpendapat, naksir cowok ganteng, main enggrang, minum kopi, guling guling, jugkir balik… semuanya! Namun apa kewajiban moral sudah terlaksana dengan baik? Itu loh yang seharusnya dipikirkan terlebih dahulu.

Mungkin saya bukan marissa yang dulu, mungkin kini saya marissa yang kolot, menyebalkan, susah diajak ngeguyon…
Namun melihat foto-foto yang bersebaran di social media, memang kata Joker “why so serious?” dan kita memang butuh guyon… namun lama kelamaan saya bertanya “Apakah nurani bangsa sudah membeku?”

Jika saya yang tergeletak di situ… dengan tertatih saya berharap ada yang menolong saya… jika harapan itu tidak ada, saya akan berdoa biarlah saya menjadi korban terakhir, saya akan berharap semoga semua orang bisa lari sejauh mungkin melarikan diri, menyelamatkan diri…. menyelamatkan nyawa yang berharga bagi dirinya dan keluarganya. Bukan blitz kamera, bukan tongkat tongsiss, bukan hashtag #Timsarganteng, bukan orang yang berseliweran di sekitar saya untuk menjajakan dagangan mereka, bukan orang-orang yang kemudian upload foto di instagram atau path “Di sini loh TKPnya, gilaaa tadi gw liat sendiri cewek berkerudung bercucuran darah”

Indonesia ini bukan panggung sandiwara…
Ini sebuah negeri dengan 200 juta lebih manusia yang punya nurani.

Untungnya dari sekian banyak berita seperti ini, ada juga berita yang cukup memberikan saya “harapan”, seorang mas tukang ojek suatu armada yang menyelamatkan seorang mbak-mbak

Mungkin masih banyak harapan berserakan di setiap sudut Jakarta, harapan mengenai manusia-manusia yang manusiawi, yang bernurani.

Dengan sejarah panjang sebagai negeri yang dilandasi gotong royong, saya mungkin akan lebih bahagia jika hashtag yang berseliweran itu adalah #kamibernurani

“Jangan Merepotkan” yang [pada akhirnya] merepotkan


“I don’t say any words, because I don’t want to disturb you” -so many people in this planet (maybe especially Indonesian)

Sungguh saya kehilangan konteks dari kalimat “Jangan bilang-bilang ya, takut ngerepotin”
dan kemudian di balik “jangan bilang-bilang”itu terselip masalah yang aduhai. Then the problem getting bigger… no one have idea what’s happened. And if you want to trust me…. when a problem getting bigger it is getting harder to solve. Bahkan dalam menyusun tesis saja, dalam menyusun riset, dalam mengerjakan persamaan matematika, kita mengenal namanya “penyederhanaan” karena pada dasarnya kita buka super human yang bisa solve everything by ourselves ALONE! kita perlu menyelesaikan sesuatu step by step…. memilah mana yang bisa diselesaikan terlebih dahulu. Itulah fungsi mengapa kita sekolah, mengapa kita bersosialisasi, mengapa kita menjalani sebuah konsep bernama kehidupan, agar bisa membentuk pola pikir seperti ini.

Namun pada kenyataannya “facts sometimes more complicated than fiction” ujar Dr.Watson.

Seorang Ibu diam-diam kepada anak-anaknya ketika dia merasa ada yang tidak beres dengan kesehatannya. Waktu bergulir, Beliau kemudian ambruk. Siapa yang tahu rupanya Beliau sudah terserah kanker stadium 4?

Di sudut lain planet ini, ada lagi seorang Ibu dengan kisah yang hampir sama, BRUK! tiba-tiba Beliau ambruk… Siapa menyangka rupanya Beliau terkena stroke dan diabetes?

Di sebuah rumah sakit di suatu hari, ada seorang ayah terkulai di rumah sakit…. kecelakaan… di rumahnya istrinya tidak pernah tahu kalau dia punya beberapa permasalahan serius di kantor.

Dan jutaan kasus serupa atau hampir sama tersebar di penjuru planet bumi dan semuanya di awali dengan sebuat mindset “Gak mau ngerepotin ah”

Benarkah kemudian itu semua tidak merepotkan?
Benarkan itu semua menunjukan rasa cinta yang luar biasa pada seseorang? Benarkan jika kita mencintai seseorang kita PERLU dan mungkin HARUS melakukan sebuah tindakan “Maha bijaksana”bernama “GAK MAU MEREPOTKAN” itu?

Saya pribadi mengatakan “TIDAK” hal paling bijaksana justru adalah dengan melakukan hal sebaliknya.

Pfffttttt……………let me give you an example

I know someone in this planet, a mom, very nice and kind but one thing she always said “I don’t want to disturb anyone”including her kids. In my opinion, she has nice kids… kids who loves her than anybody else. But even with her kids, she never said her problems…. until in one point she got sick. She knows that her kids are great, have a big dreams, not such a genius but know how to work hard to achieve something. She always ask them to go far…. to get their dreams? but can they? NO! because they can’t   leave their mom that easy. they worry about her…

One of her kids is a very nice one, have a math ability above average… but he doesn’t want to go far.
One of her kids love her very much, but somehow she got really disappointed for now. She disappointed because she fell being fooled, being untrusted,everything. She never being disappointed like this before… never.

don’t you think psycologically stuff being so serious?

What funny is… I know where I found this story. I know exactly that story… and if you ask me how does it feels. It feels hurt more than anything in this world.

Jangan tanyakan kenapa kemudian si anak dengan kecerdasan di atas rata-rata akhirnya tidak memanjangkan langkahnya, dan tidak terbesit dalam mindsetnya untuk melanjutkan sekolah setinggi-tingginya.
Jangan tanyakan kenapa kemudian si anak tidak punya waktu lagi untuk jatuh cinta apalagi membangun rumah tangganya sendiri
Jangan tanyakan mengapa mereka semua bisa tersenyum da tertawa lepas di suatu waktu namun sesaat kemudian tatapannya kosong

Dan lalu…. diantara mereka, menyimpan cerita mereka sendiri.
With the same story and the same reason “Sudahlah, biar gak ngerepotin orang lain”

Hahahahhhaa… dear genius human! Even if you have very good equation like Newton’s law… you can’t solve any mechanical problems if no one revels the problems.

Like Sigmund Freud, maybe someday I will die and bring such of question and problem in front of God just to find the answer.