Yang lebih berbahaya daripada Covid19: Kehilangan nurani kala krisis


 “Iya, tapi kan gak semua peduli. Gak semua berpikir bawa hati nurani. Kadang-kadang harus ikutan jahat gitu gak sih biar survive?”

Emon memang orang yang keliahatan super ceria dan gampang ketawa…
yang orang gak tau, seorang Emon juga gampang panik. Gampang banget.. terutama ketika kepikiran tentang Mama dan adik. Mereka adalah dua orang yang paling berharga bagi gw saat ini. Kalau tiba-tiba gw khawatir, gw bisa langsung moody dan panik. Dan saat ini, media sosial berhasil membangunkan kembali kepanikan gw yang udah hibernasi sejak gw belajar musik, dan itu semua gara-gara the most viral topic of the year: COVID-19.

Gw sesungguhnya tidak terlalu panik awalnya, karena di Jepang… walau kasusnya besar dan gw sudah mengira akan besaaaaaar banget karena ketika wabah mendera Cina, banyak turis Cina berlibur sesaat ke Jepang. Itupun karena Jepang dianggap lebih bersih, aman, stabil, dan steril (well… dan juga deket kan). Lalu BOOM! wabah merebak di negeri Sakura. Jangan kira di negara maju dan se-well prepared kayak Jepang gak ada panic buying! Ada dongs!

Masker hilang dari pasaran, tissue toilet entah mengapa makin menipis stoknya, wowowowowowo~ cukup kaget juga. Pertemuan publik di-cancel, sekolah diliburkan, banyak plan hancur berantakan. Bahkan airport pun sepi. Pesawat menuju Jepang kayak kapalnya kapten Flying Dutchman di Spongebob. Hati gw pun ambyar!

photo6296462270171032090

Narita Airport sunyi….

 

Namun setidaknya, teman-teman dan supervisor gw baik. Kami saling mengecek satu sama lain. Dan mungkin karena gw tinggal di kota yang mayoritas penduduknya peneliti, tidak ada kepanikan berarti…. “Hmmm, ini kan virus ya, pasti sudah nyebar kemana-mana ya, wong kecil gitu kok. Sekarang kita yang harus tanggung jawab menjaga diri dan orang-orang terdekat kita. Ja! Ganbarimashou!”

Sungguh, awalnya gw tidak panik. Gw memang jadi lebih waspada, tapi hidup berjalan menyenangkan… seperti biasanya.

Sampai kemudian, wabah menyebar di Indonesia. Lengkap dengan pemerintah yang terlihat sekali gelagapan mengambil keputusan dengan cepat. Jangan lupa! Semakin gurih dengan “topping” beberapa paket netijen bawel di media sosial, beberapa media yang masih hobi bikin judul clickbait,  dan beberapa paket masyarakat yang emmmm…gimana bilangnya ya… norak? alay? sungguh harus ada padanan kata yang lebih dari itu semua.

Yak! Sebuah kombinasi yang luar biasa…
luar biasa membuat panik!

Gimana gak?

Panic buying dimana-mana, harga semakin merangkak naik, belum lagi jumlah penderita yang masih saja simpang siur.
Eh masih sempat pula ada kisah “FTV” dimana seorang pasien positif yang terjangkit virus masih sempat “kabur” dari ruang isolasi.
Butuh waktu untuk mencerna informasi-informasi yang berseliweran dan bisa membuat siapapun yang baca jadi GILA!

Lalu, gw inget Mama dan adik di rumah. Oh bagaimana kabar mereka kala gw kembali ke Jepang.
Gw cek harga barang-barang macam masker, hand sanitizer, dsb. Gak lupa gw pun cek harga-harga bahan sembako.
It doesn’t make sense… harganya mulai sama bahkan lebih mahal dibandingkan di Jepang. “No, my family will be not okay under this situation.”
Padahal, kalau gw boleh jujur, Jepang pun tengah resesi. Gw juga merasa uang gw lebih cepat habis akhir-akhir ini. Tapi… kalau kemudian harga di Indonesia bisa hampir sama bahkan lebih tinggi dari di Jepang? Geng… sori buat bilang hal ini….ini jelas-jelas:  Harga barang di Indonesia melonjak jadi MAHAL BANGET!

Gw bertekad, apapun yang terjadi… semahal apapun barang yang harus dibeli… kalau memang itu buat Mama, gw jabanin deh.

Gw pun kemudian tanya baik-baik ke Mama.

Me:   Ma, liat deh… orang-orang kan pada panic buying tuh, nanti harga makin mahal loh. Yakin gak mau beli sembako, sama masker, dsb? Beneran nih?

Mom: Mmmm… gak usah kak. Mama kan gak kemana-mana. Eh paling check up ke RS, tapi kayaknya sekarang lagi gak kondusif ya. Serem ah.

Me: Iya, jangan ke RS dulu sementara. Tapi jaga makan baik-baik ya.

Mom: Iya… obat rajin diminum, sama mama puasa tiap minggu. Makannya juga sekarang udah pinter abis ditongkrongin terus sama Kiki

Me: Ma, beneran nih, gak butuh printilan-printilan yang pada lagi dibeli orang-orang? Klo perlu, beli nih walau mahal juga.

Mom: Gak usah kak, kita punya cukup kok stok buat kita aja. Jangan beli lebih dari yang kita butuhin, ikut-ikut panik, nanti harganya makin naik.

Me: Ya makanya… sebelum makin naik lagi.

Mom: Eh kok gitu. Kalau buat kita aja harga segini udah berat banget, yang ekonominya lebih sulit dari kita pasti nangis-nangis. Duh kasian, udah kita jangan ikut-ikutan dzhalim. Gak tega ah!

Me: Ya udah, masker deh… butuh gak?

Mom: Kan Kiki udah beli sabun cuci tangan, yang penting rajin cuci tangan kan? Toh kita juga wudhu sebelum shalat. Insha Allah aman. Kita juga jarang keluar rumah kalau gak penting-penting banget. Udah jangan nambah-nambahin deh, kasian nanti yang butuh masker beneran. Nanti yang sakitnya parah banget gimana? Terus yang mobilitasnya padet gimana? Mereka-mereka itu tuh yang lebih butuh dari kita. Jangan suka ambil hal yang bukan hak kita ah. Mama sama Kiki anteng di rumah main sama kucing kok, gak kemana-mana.

Dan dari semua hal brengsek yang terjadi sepanjang 2020 serta komen-komen netijen yang terkadang terlalu ajaib, perkataan Mama seperti siraman air zamzam di komplek perumahan di tengah klaster neraka jahannam! Adem banget!

Tapi… itu membuat gw sedih karena pada akhirnya gw bilang, “Iya, tapi kan gak semua peduli. Gak semua berpikir bawa hati nurani. Yeeee… emang semuanya kayak Mama? Sori la yaw”

Lalu adik gw yang memang mulutnya berbisa itu pun angkat bicara, “Loh iya, memang Kak… memang! Kalau ada apa-apa, misal Mama nih yang kena si virus, pertama-tama… orang akan jauhin kita, rumah kita akan dipasang police line. Kakak akan dihujat, kok ya anak perempuan egois, sekolah lama-lama di LN, bawa virus. Kiki juga, anak cowok gak guna… gak bisa jaga Mamanya. Kita tamat kok kalau ada apa-apa. It’s predictable”

YES! THAT’S THE POINT! Jadi gak salah dong kita berpikir strategis sebelum kita dijahatin orang. Sedih banget kalau nanti kita sakit eh masih di bully dan dikucilin. God! Sudah jatuh dilindes traktor.

Tapi Kak, kalau orang lain kehilangan akal sehat bukan berarti kita ikut-ikutan kan? Gak gitu cara mainnya. Kita harus kuat, harus sehat, harus bertahan, agar kita bisa buktikan bahwa jadi orang baik pun masih bisa loh bertahan hidup di planet ini. Action speaks more than words, Man!

Gw jadi tau sih kenapa gw agak cemen dan cengeng kalau baca dan liat hal-hal yang penuh kebencian di dunia nyata dan dunia mayaa. Karena di dalam rumah, keluarga gw gak punya hal-hal jahat sedikit pun di benak mereka. Terlalu naif, tapi… bersama mereka gw merasa sangat nyaman.
Dan emang… mereka adalah oksigen gw. Oksigen saat “polutan-polutan” menyerbu benak gw.

Saat gw menulis ini, gw baru baca berita…
Ada masa suatu aksi berdoa agar India diserang virus Korona…
Ada berita tentang ibu-ibu sosialita yang pamer belanjaannya (yang jelas2 membeli banyak sekali sembako dari supermarket).
Ada status seorang netizen yang bilang “Inilah tanda mengapa wanita harus menggunakan cadar/burqa.”
Ada tablig akbar “Syiah lebih berbahaya dari virus Korona.”
Ada aneka persepsi”Oh pemerintah lambat luar biasa.”
Ada yang antipati “Cih, pasti kebijakan ini cuma untuk cari muka.”
Ada caci maki “Hish, Cina memang cuman menolong negara-negara Syiah dan Kristen… komunis!”
Masih ada berita “Banyak yang memakai sanitizer di tempat publik untuk isi ulang.”

In short:
Bahkan di saat yang genting, rupanya ada… rupanya banyak… yang masih sempat membenci.

Padahal ini wabah karena virus loh, makhluk super kweciiiiil yang bisa menyerang siapa saja.
Apapun agama kita…
Apapun suku kita…
dan karena tidak mudah dideteksi, maka siapapun bisa terserang. Bisa saja keluarga kita.
Bisa saja diri kita sendiri.
Dan jika kita yang dapat “jackpot” tersebut, tentu kita ingin mendapat banyak dukungan. Ingin mendapat banyak pertolongan. DARI SIAPAPUN.
Secara logika, bukankah seharusnya kita peduli untuk melakukan hal serupa pada sesama? Saling dukung… saling tenggang rasa… tepa salira kalau kata buku PPKN jaman SD dulu.

Gw pernah membaca, saat ketika manusia paling jujur adalah ketika mereka ada di titik kritis, ketika mereka menduga bahwa hari akhirnya semakin dekat.
Jika wabah ini adalah titik kritis, dan jika gw merujuk kutipan tersebut…. maka apakah watak kita sebenarnya memang egois? Memang mau menang sendiri?

Ah, ya… gw pernah bilang, secara default manusia emang egois, oleh karena itu kalau di angkot yang hampir penuh,  kita yang baru naik pasti disuruh duduk di paling pojok yang paling panas.
Kita egois. Oke! Mari kita telan kenyataan ini.
Tapi yang tidak disangka-sangka, kita kurang bisa me-manage sifat egois itu. Jadi yaaaa begitu saja~
Jangan-jangan sejak era Pithecanthropus Erectus ?

Kalau saja, kalau…. semua orang bisa seperti Mama, bisa dengan ringan berkata, “… jangan ambil hal yang bukan hak kita.”
Mungkin dunia akan sedikit lebih tenteram.

Eits… Mom, wait! You are wrong, in this cruel world… people think in another direction “Grab any kind of opportunity! No matter what!”

Oh iya lupa! Konon katanya, sebelum hari akhir…. yang tertinggal memang orang-orang yang jahat 🙂 Aha! kini kita punya penjelasannya!

Mungkin memang banyak orang yang lebih memilih untuk survive hingga akhir apapun taruhannya. COVID19 memang mengguncang dunia, merubah banyak hal, kecuali satu: sifat serakah manusia.

Sedih…
Sayangnya, kenyataannya begitu.
Is it time to farewell with solidarity and humanity? Gak tau, gw sih masih punya harapan (dan doa) untuk itu. Kalau kamu?

 

Tentang tipu-tipu online (dan tips supaya kalian bisa terhindar): Sebuah pengalaman pribadi


Seberapa panik kalian kalau tiba-tiba ada orang yang memesan kamar hotel di sebuah hotel bintang 5, di Batam dan singapura,dengan pemandangan laut! Dengan akun kalian?
satu kamar 5 juta rupiah/ orang.

Bukan hanya 1 hari tapi 3 hari. Itupun minta kasur tambahan :’D Pokoknya udah gw itung kira-kira ada lah 25 juta ++
InkedIMG_9898_LIInkedIMG_9892_LIIMG_9896

Mahasiswa misqueen pasti khawatir dan gila aja, dari mana uang 25 juta?

Ini terjadi ketika minggu lalu akun ex****a gw dipakai seseorang.
(Gw samarkan ya, karena mereka sudah melakukan solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan gw. Gw khawatir kalau gak gw samarkan nanti gw dikira pencemaran nama baik :’D nanti gak bisa maen blog lagi. Tulisan ini untuk membuat kalian lebih berhati-hati aja, karena kasus pencurian identitas itu ADA… banget)

Tapi uniknya, semua kartu kredit dan debit ADA di tangan gw dan udah jarang banget pakai karena selama di Jepang gw merasa lebih aman menggunakan e-money.
Tapi tetep dong, 25 juta siapa tak gusar. Bisa umroh, Kawan!
Untuk keamanan,gw putuskan blokir semua kartu di Indonesia. Iya dong, namanya jaga2!
Itupun setelah sungkem ke Mama dan adik. Akun gw di Indonesia biasanya gw pakai kalau ingin kirim sesuatu untuk Mama atau adik, jadi agak sedih juga hal ini terjadi.
Maaf ya, Ma.

Dan untuk case jepang, jauh lebih mudah karena semua transaksi tercatat lebih “real-time”, terutama untuk kartu kredit.
Uniknya lagi: tidak ada transaksi yang mencurigakan.

Ada yang gak beres. Tapi satu yang pasti, orang ini pakai akun Ex****a  gw, but whose identity? whose cards?.

Lemes banget, karena tidak ada gambaran apa sih yang sebenarnya terjadi.
Dan gilanya, saat kejadian itu terjadi… gw tuh lagi final presentation! Dan seminggu kemudian ada final exam. Pucet merona gak tuh kalo kalian jadi gw?

Gw kontak Ex****a  yang YA ALLAH SUSAH BANGET CARI KONTAKNYA, terutama untuk Ex****a .co.id! Akhirnya ketemu dan cuman kontak ke US -.-
Untung ada Skype! Saya pun bergerilya sejak 1 Agustus siang dan kalian mau tau gak jawaban CS-nya?
“Oh you just need to change the password!”

AING GE NYAHO! hadeuh… putus asa, saya telepon si hotel bintang 5 yang dituju si pelaku.
Mereka pun stuck, karena metode pembayaran, no telepon, dsb cuman tercantum “Ex****a ”
Saya pun bertanya, bisa gak saya reach out si pelaku yang mungkin lagi asik ngadem melihat indahnya pantai?
Saya tahu pasti akan gagal karena kebijakan privacy hotel, jadi bisa legowo pas dibilang “maaf.”

Tapi 3 tahun menempuh PhD menempa gw menjadi orang yang gak gampang nyerah.

Gw pajang aja complain gw di twitter, dan mention Ex****a .
Rupanya ini jauh LEBIH AMPUH.
Gw jelaskan lagi masalah gw, tapi pada suatu titik, seorang CS bilang (secara halus) kalo gw udah kebanyakan complainnya -,-
Ya gimana, ente pernah gambling membayangkan bakal ilang uang 25 juta? atau paling gak, gw yang dituduh maling CC orang. Iya toh?

Pagi tanggal 2 Agustus, gw akhirnya ditelepon oleh CS Ex****a , dan kali ini mbaknya baiiiiiik banget.
Jadi gw bisa lebih tenang dan gak misuh-misuh.
Dan setelah 1 hari berjuang, akhirnya gw berhasil dapat data digit terakhir kartu kredit yang si penipu gunakan.
the news is: Ada 11 kartu kredit berbeda yang digunakan, dan GAK ADA KARTU GW SAMA SEKALI.
InkedIMG_9893_LI

Ini menjawab semua pertanyaan kenapa gak ada tagihan aneh di akun gw. Tapi kan namanya debt collector kalau nagih kan gak mikir-mikir ya.
Jadi gw tetep khawatir, karena Mama gw kan post-stroke… pasti takut banget kalo tiba-tiba ada debt collector yang seringkali kasar dan gak mau tau dateng “Anak Ibu harus membayar sekian rupiah!”

Misi gw yang awalnya mau ngecek keamaan akun dan tentu KEUANGAN gw (ini penting dong, 25 juta and still counting guys!)
berubah jadi: Mari bantu Ex****a  nangkep nih maling. Mumpung di Singapura masih subuh, mereka pasti masih boboks.

Gw minta agar masalah gw ini di kasih ke bagian fraud dan juga dikomunikasikan dengan pihak berwajib di Singapura.
Klo perlu ditangkep, tangkep aja deh… soalnya ini udah masuk ranah pidana. Iya dong! Kalian juga pasti setuju lah sama gw.
Mereka setuju dan mengiyakan. Gw pun bilang, gw ini orangnya keras kepala, klo gw gak liat ada upaya untuk nangkep si pelaku, gw bisa nekad dan bisa urus semuanya sampe dapet. Wallahu’alam gw akan kemana, tapi udah sering baca komen reviewer dan revisi thesis, udah gak takut apa2 lagi.
Gw gak minta orangnya minta maaf, cuman silakan enjoy ocean view dari jeruji besi 🙂
11 kartu kredit gaes! Entah punya siapa…
Mereka pasti orang yang gak tau apa-apa.
Dan kasian ex****a juga toh, siapapun yang kartu kreditnya dicatut pasti akan complain dan gak mau bayar.
25 juta ++ cuman dari gw doang, mungkin ada emon emon lainnya. Yah ruginya ex****a bisa ratusan juta lah.
Kurang baik apa gw sampe ngingetin mereka. Makanya gw sebenarnya greget banget sama CS pada tanggal 1 Agustus yang dodols banget.
Untung akhirnya pas tanggal 2, Mbaknya baik dan helpful banget.

Akhirnya, pada hari yang sama gw dapet info kalau reservasi yang tersisa di cancel oleh pihak ex****a.
Dan rupanya memang sudah disampaikan ke pihak Transaction processing yang sepengalaman gw sih juga bagian yang ngecek masalah fraud.
Ini alasan pembatalan order.

Dear Ex****a.co.id Customer,

Your Ex****a.co.id purchase 7459566392925 has been cancelled due to one or more of the following reasons:
• We were unable to authenticate the credit card.
• We were unable to authenticate the card holder.
• The purchase was declined by the credit card company.
• Account history.
 Please reply to this e-mail if you think there may be a mistake. We are happy to work with you to rectify any discrepancy. Since we have been unable to contact you via the telephone numbers listed in your account, please reply to this e-mail with the telephone number where we can reach you and the best time to call. An Ex****a Transaction Processing Representative will contact you.
 Sincerely,

Hadeuuuuh… naha teu ti kamari.

Anyway, terima kasih banyak untuk CS Ex****a yang akhirnya serius menanggapi komplain konsumen. Maaf ya karena gw kontak terus menerus -.- Mungkin lain kali, penanganan kasus segaswat ini harus lebih cepat dan gak bertele-tele ya. Selain mereka tahan sih dengerin konsumen cerewet kayak gw.

Sejauh ini gak ada hal mencurigakan lagi :’)

Oh iya! Sebelum aku ex****a gw ke-hack, gw menyadari kalau email gw di serbu spam yang ada kali 100/jam.
Nah, kayaknya sih supaya si maling bisa “mengelabui” gw supaya gak ngeh ada email reservasi.
Selain itu, akun internet banking gw juga gak bisa login karena selalu ada tulisan “Ada upaya untuk masuk ke akun Anda.”
sampe akhirnya gw 3x salah password.

Asem!

Jadi sebenernya udah ada gejala2 yang ada muncul cuman kita gak ngeh
dan gw kan seminar yang gengs! jadi gak sempet lah curiga-curigaan gitu.

  • Cek e-mail dan seluruh akun kalian. Curiga itu penting kalau memang kalian ngerasa ada hal yang mencurigakan.
    Kalau ada akun yang udah kalian gak mau pake lagi, tutup dan hapus aja untuk menghindari dipake sama orang yang tidak berwenang.
  • Jangan menyerah!; kontak CS itu bisa susah banget soalnya mungkin mereka mikir “Yang penting uang masuk, punya siapa… bodo amat!” memang sangat mengecewakan. Tapi demi uang dan integritas sih, sampe ujung dunia juga gw kejar. Hei! Ini hak konsumen! Jadi bener deh jangan nyerah!
  • Langsung cek ke pihak bank, dan kalau mau aman ya mau gak mau blokir aja semua kartu2 kita.
    Repot? Yes! Tapi daripada ilang 25 jeti plus plus, mending repot -.-
  • Kontak CS google, sampaikan kalau kalian emang ngerasa ada hal yang aneh di akun gmail kalian.
    Tentunya kalian juga harus sigap untuk ganti password dan nambah sekuriti akun dengan 2-step- verification.
    Repot tapi aman!
    Google emang tim paling yahud di muka dunia deh, mereka respon loh complain receh gw. Dan mereka bilang mereka akan cek knp tiba2 ada hal kayak gitu. Entah gimana caranya, tapi mereka mendeteksi kalau akun gw mendaftar banyaaaaak banget milist di beberapa hari terakhir.
    Dan bener loh, dalam waktu kurang dari 24 jam, aktivitas di e-mail gw kembali seperti semula.
  • Kadang biar lebih “cepet” kita diminta beberapa web untuk save account dan info CC kita.
    Mulai dari sekarang DON’T DO THAT! Gak apa lah lama dan ribet transaksi daripada akun kita diretas.
  • Sementara, jangan banyak2 transaksi dengan menggunakan kartu selama di Indonesia.Kalau ada cash, cash aja lah.
    Gw mungkin gak akan bilang kayak gini di Jepang, tapi gw rasa kejahatan siber di tanah air lagi on peak, jadi gw sarankan sementara minimalkan transaksi yang bikin kita ngeluarin kartu2 kita.
    Oh iya! Untuk kasus ini pun, yang ke “hack” kayaknya ex****a Indonesia. padahal gw cuman pake ex****a jp atau ex****a.com. Dengan apa yang terjadi sama gw, gw yakin ada sesuatu yang terjadi di Indonesia.
  • Gw juga saran untuk cek profile kredit kita di OJK. Tadinya gw mau cuek beybeh aja, cuman setelah ada kasus ini… semua orang bisa aja jadi korban.
    Kalian mungkin ngerasa gak transaksi apapun, tapi bisa aja tiba-tiba harus bayar tagihan jutaan dan klo mangkir malah digebug debt-collector Indonesia yang jujur aja kebanyakan tidak punya tata krama -.-
    Kalo jauh, mungkin bisa bawa rekening koran dan lapor ke bank.
  • * ganti password secara rutin 🙂

EMOOOOOON~~~~~~ ribeeeeeeet banget!
Iya, tapi lo mau uang, berlian, dan barang tambang yang sudah susah payah kalian gali siang malam aman kan?
Mungkin ribet dikit gpp.

Dan jangan ragu untuk bicarakan semunya pada pihak yang bersangkutan. Alhamdulillah, untuk kasus ini akhirnya dapat CS Ex****a yang helpful banget, pihak hotel juga support banget dan ngasih saran-saran yang membangun. Dan Bank… maafkan tante emon yang selalu ngomel di awal :’D soalnya tante ada jauh di rantau dan duh bank  di Indonesia itu comelnya gak tahan deh. Gw gak tau ya kebijakan perbankan di Indonesia gimana. Tapi di Jepang, klo mau blokir sih telepon aja pihak CS, sebut alamat e-mail dan nomer hp lalu selesai -.- less than 5 minutes semua kelar.

Well, mungkin karena nomer hp di sini prabayar semua ya. Tapi gak ada tuh ditanya nama ibu kandung, alamat rumah, nomer kartu, dsb yang jujur aja klo bagi gw sih ampe itu pertanyaan kelar, yang gasak atm udah beres makan penyet ayam sama es kelapa :’D
But thank you juga untuk bank karena banyak membantu juga walau kenal omel2 dikit :’) maaf ya.

Yo wis, gitu aja….
Buat kalian, mulai sekarang jaga-jaga dan lebih hati-hati ya. Jangan sembarangan nyimpen data pribadi kalian di dunia maya!

Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!!!!!!

Pelecehan seksual dan Bullying: Hal yang “tidak biasa” yang dianggap “biasa”


Image and video hosting by TinyPic

Yak, puasa sudah lewat, weekend telah tiba, dan saatnya emonikova menggebrak logika-logika ajaib yang ada di sekitar kita. Ini penting sodara-sodara! Karena saya ingin pembaca emonikova tidak kalah dengan followers om Dedy Corbuzier yang disebut “smart people” itu. * OOT: Ufufufufufuufufu… Eh tapi lama-lama gw pun malas loh sama om Dedy hahahaha kadang dia doyan clickbait juga :p*

Jadi topik kita kali ini adalah pelecehan seksual dan bullying.
Siapa yang pernah jadi korban dua hal di atas, angkat tangaaaaan! Well… saya mungkin korban kedua-duanya.
Bullying jelas! Saya yang dulu gendut dan gak pernah make-up dan gak pinter juga sudah makan asam garam per-bully-an. “Ya ampun, Mon… udah jelek, gendut, lo gak pinter apa-apa pula.” |
“Eh kalau liat muka lo, lo kayak pembantu gitu ya” Well… mungkin yang ngomong gak pernah liat sinetron Inem Pelayan Seksi yang mukanya bening itu fufufufufufu. Semoga akhirnya dia mampu membeli TV di rumah, aamiin!!!!!!.
dan sebagainya yang kalau diinget-inget lagi rasanya nelongso.
Saya ada di posisi dimana saat ini saya begitu menyayangi semua orang, gak mau mencari alasan-alasan untuk mengingat masa lalu yang kelam kayak gitu.

Lalu pelecehan seksual? Oh pernah juga!
Salah satu yang paling kamfret adalah ketika saya masih menjadi assisten dosen di kampus. Saya ingat saat itu bulan ramadan dan yang menelpon saya beberapa kali lalu mengirim teks
“Kak, saya murid responsi kakak, telpon saya kak. Maafkan saya kak, teringat suara kakak saya hari ini jadi batal puasa.”
Perpaduan antara asdos yang masih polos dengan bumbu-bumbu kebegoan yang kuat saat itu, saya berpikir “Lha, apa urusannya inget gw kok batal puasa? Gw mirip donat?” Saya pikir anak ini mau ngeledek saya bulat dan ndut kayak donat. Ya akhirnya bodo amat, kebal aing mah kalo cuman dibilang gendut. Eh btw, di sekitar kampus IPB ada donat yang legendaris banget! Kalian harus coba deh kalau mampir ke IPB. Sumpah tuh donat enak banget!

Back to the topic!
Nah! hebohnya terjadi ketika saya cerita ke dosen pembimbing saya karena kami ini dekaaaaaat sekali, jadi kalau ada apa-apa ya cerita ke Beliau. “Ya Allah emooooooooooon! Kok kamu diem aja sih? Itu ngeri tauuuuuuuuu! Itu pelecehan seksual. Ihhh, jangan pulang malem-malem ah setelah ini.”
Owh… okay. Dan baru setelah sadar ngerasa serem dan keringet dingin. Jadi ngeri kalau pulang pas udah gelap.

Pelecehan seksual lainnya adalah ketika saya masih kerja di kemenkoperekonomian. Saya seringkali pulang larut karena bos saya saat itu memang “On” saat matahari terbenam. Jadilah burung hantu ini harus mencari ojek karena tidak ada angkot ke desa saya jika sudah malam. Jaman dulu belum ada ojek online ya. Naiklah saya ke ojek, entah doi ngira saya wanita macam apa, pak supir ojek malah bilang “Ngapain ke rumah, semalem aja yuk di hotel!” Ya saya gaplok juga si Bapak pakai botol aq*a bekas meeting, harusnya sih galon ya, lain kali bawa itu lah. Dan saya terpaksa harus setengah meloncat dari ojek tsb. Alasan mengapa saya akhirnya memilih kembali ke kampus untuk bekerja saat itu.

Saya yakin, bukan hanya saya yang mengalami kejadian seperti ini. Mungkin kalian juga pernah! Bahkan pedangdut macam Via Vallen!

Dan saya juga yakin, karena masih rendahnya kepedulian akan permasalahan ini, kita kadang tidak sadar jika sedang dilecehkan atau bahkan melecehkan! Oleh karena itulah, emonikova kali ini iseng tanya-tanya beberapa teman (yang saya sengaja samarkan namanya dsb karena mereka orang-orang baik dan cerdas yang kayaknya gak perlu berurusan dengan para netijen apapun alasannya -.-) dan bertanya mengenai perilaku bullying dan pelecehan.

Saya mengambil kasus via vallen karena menurut saya ini kasus unik. Perpaduan antara  Cyber Sexual Harrashment sekaligus Cyber Bullying! Nah ini! Ini penting untuk didalami lebih lanjut.

Mari kita mulai dari kasus pelecehan seksual itu sendiri, bener gak sih jika kita mengalami pelecehan seksual kita harus speak up?

Ini beberapa opini keren dari teman-teman saya. Aduh kok mereka keren-keren banget ya. Ini nih kenapa kalau nyari temen harus yang menyenangkan dan kepalanya “ngisi” jadi enak diajak ngobrol.

First of all, kita harus sepakat bahwa seseorang punya hak bicara ketika mereka mengalami hal yang tidak mengenakan
Image and video hosting by TinyPic

Dan entah kenapa ya, di Indonesia speak up, apalagi kalau berkaitan dengan pelecehan seksual itu terasa taboo di masyarakat kita? Parahnya lagi kadang kita pun gak ngeh kena pelecehan atau gak.

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Yang lebih bikin males lagi, di tanah air masih ada “keanehan”. Kalau kita korban, pasti nama,TTL, status, foto terbaru, pokoknya semuanya di publish. Lha, yang jadi pelaku? Udah mah muka ditopengin, di blur, suara disamarkan, nama jadi inisial. Walau mungkin pihak terkait ingin melindungi mereka dari amukan masa, tapi kan yang korban juga tengsin ya tiba-tiba menjadi pembicaraan banyak orang, apalagi kalau yang  diomongin masalah aib! Waduuuh…

Image and video hosting by TinyPic

 

Nah tapi lanjut komen terakhir di atas,  ada beberapa yang bilang, kalau mau speak up yaaaa jangan di media sosial karena media sosial penuh dengan netijen julid. Hal paling bener adalah, kalau ada bukti-bukti, langsung bawa ke komnas anak dan perempuan atau bahkan kepolisian. Saya yang gak suka rame-rame juga sebenarnya lebih cenderung ke pilihan ini. Soalnya kita kan awam ya masalah seperti ini.

Nah untuk kalian, boleh nih jaga-jaga untuk mencatat kontak yang bisa dihubungi jika kalian mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan dari orang lain. Catet loh, ini puenting sangat!
Kalau rupanya mereka no action dan lama dan malah bikin makin jengkel…
Yaaaa media sosial pilihan terakhir, rasakan kecaman-kecaman netijen!!!!

No darurat polisi : 110
Komnas perempuan : 021-390 3963
Komnas perlindungan anak (kalau kasus terkait anak-anak): 021-319 015 56

Dan ehmm… karena di postingan via vallen ada yang belain mas-mas bule yang katanya “Aduh emang orang sana mah itu biasa aja kali, mereka kan ceplas-ceplos. Lagian cowoknya ganteng.” please ya, foreigner juga gak terima kali dibilang gak sopan :’D Jika kalian pembaca setia emonikova, dan pernah baca mengenai artikel investigasi tanda parkir, pasti kenal sama Mamas Smiley. Nah, kali ini emonikova juga mengganggu Mas Smiley untuk menjawab emang kalau orang Barat maennya langsung nyosor kayak gitu?
Dan jawaban doi sih kira-kira.

A: “That man is simply stupid or crazy. Nothing else.”
Q: “But people said this man is handsome, so… the girl is want to show off that…”
A: “That someone handsome likes her? Well, handsome but stupid. So, your people is stand for someone just because their look? If a man smart enough, he’ll not take a risk by do catcalling to a woman in social media and this woman is an artist “

Gak berani lawan deh kalau pertanyaannya udah sefilosofis itu.

Saya pikir pun begitu. Ya kalo gak kenal dan gak pernah ada hubungan sama sekali sebelumnya mah mau bule mau bukan gak akan berani ngelakuin serendah itu ke perempuan. Mereka juga punya emak kali di rumah. Jadi kalau ada cowok yang melakukan pelecehan seksual maka yaaaa mesum dan bandel aja.

Yah kalau ganteng dan pinter mah dia gak usah gangguin perempuan juga kali, yang ada perempuan bertekuk lutut menunggu segera disuguhi lagu payung teduh (baca: akad). Kalau ganteng dan pinter mah gak perlu cara-cara murahan, wong di tahajud para wanita aja nama doi sudah diperebutkan. Iya gak sih? Yah sudahlah, kita tinggalkan Mas Smiley. Kalau kangen nanti kita tanya-tanya dia lagi untuk topik lainnya ya 😉

Yo wis, lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka? Setidaknya beberapa waktu yang lalu CNN Indonesia memberikan beberapa tips untuk membantu korban pelecehan.

Ya intinya mungkin yang salah adalah: KITA.
Kita yang gak peduli dengan orang lain hingga kita sendiri yang merasakannya. Mungkin bully orang lain lebih gampang dan nikmat ya daripada berusaha menjadi pendengar yang baik atau orang yang bisa menghargai dan toleran. Ya, secara science wajar sih kalau banyak yang begitu, karena kalau mau bully, maki-maki, mendengki, dan nyinyir kan gak perlu pakai hati dan otak ya, jadi wajar lah jika kalori yang terpakai lebih minim. Dan layiknya badan yang gak pernah diajak olah-raga dan langsung encok pegel linu ketika sekali dipakai lari satu keliling lapangan bola, hati kita yang tidak biasa dilatih peka juga mungkin jadi kaku, keras, dan keseleo sekalinya dipakai berlatih untuk menjadi pribadi yang bijaksana. Mungkin kita menyerah untuk melembutkan hati yang kaku kaku itu, dan lambat laun memutuskan untuk tidak perlu melatih hati itu lagi.

Mungkin…
Mungkin…
Mungkin…

Lalu hatinya berkapur…
Dan terlalu terlambat untuk melembutkannya lagi.

Ah semoga saya salah memberi perumpamaan.

Beberapa waktu yang lalu ada berita mengenai orang utan yang menghalangi pembukaan hutan untuk kebun kelapa sawit. Saat itu saya mikir, “Wah, orang utan aja sekarang udah punya awarenees yang bagus nih.”
Jika kemudian kita tidak bisa punya “feel” untuk berbuat baik pada sesama dan lingkungan…. Well, mungkin pantas malu bahkan pada hewan sekalipun.

Catatan si kuper: Alasan saya memilih kuper (namun bahagia)


Tadinya mau nulis tentang sexual harrashment di sekitar kita. Tapi sebelum itu biarkan saya curcol tengah malam.
Mama saya kadang curhat “Ya ampun Kakak, ini anak Mama cuman dua. Bagi Mama sih anak Mama baik-baik. Anak lingkungan, pecinta alam, pecinta binatang, suka anak-anak. Kan baik ya. Tapi kok ya selalu ada aja konflik sama orang lain. Kalian itu harus kepala dan hati dingin, orang kan beda-beda.”

Saya dan adik saya mungkin mirip ya. Teman dekat kami bisa dihitung dengan jari tangan. Yaaaaa paling itu-itu lagi. Sampai Mama bisa hapal sampai tanggal ulang tahun beberapa teman kami. Hapal loh! Hapal!!! “Kak, Mamas ini kan ultah ya? Udah dikasih selamat ulang tahun belum? Ih ultahnya mirip kayak kucing kita yang dulu ya”

Saya tidak tahu dengan adik saya, tapi yang pasti saya memiliki alasan dan “keterbatasan” versi saya sendiri. Pada dasarnya saya tidak suka “muncul di permukaan”, saya mungkin seperti kucing garong gendut yang hobi tidur. Tidak akan mencakar jika tidak ada yang usil mengganggu saya. Saya tidak suka keramaian, I HATE CROWD! Saya memang kurang suka kumpul-kumpul, saya lebih suka lingkaran-lingkaran yang lebih kecil namun lebih akrab dan dekat. Saya tidak suka membicarakan tentang orang lain, dan saya pun tidak terlalu happy orang lain membicarakan saya.

“Emon itu sombong gak suka gaul, sok banget ya”
“Emang prestasi Emon apa? Gak pernah kedengeran”
“Eh, dia kan gak ada hal yang wah ya, kok bisa keterima di XYZ sih?”
“Dia suka main musik gitu, gak stress kan dia”
dst
dst
dst

Ok! Mari kita berkumpul…. berkumpul yang KONON lebih berfaedah daripada tidur gak jelas di kasur yang hangat, daripada baca koleksi buku yang harusnya beli e-book aja, dan lebih berfaedah dari belajar musik yang (banyak yang bilang) haram itu.

Mari kita berkumpul!
dan beberapa orang asik memamerkan ke-riya’-an mereka masing-masing. Dan lingkaran mereka saling timpal menimpali dengan ke-riyaan juga.
Tak lupa agar riya itu semakin halal, bawalah nama Tuhan seperti “Alhamdulillah hari ini aneh dapat LALALALLALALA loh”,
“Oh iya? Ih si X juga dapet loh LALALLALALA”
Begitu terus…
Ya memang subhanallah keren sih, dan mungkin saya mual karena iri dan dengki tidak seperti mereka.
Tapi, ada sebuah titik dimana saya merasa bahwa setiap orang memiliki medan perang yang berbeda. Ambil contoh dalam bidang akademik, beberapa orang  yang biasanya dari natural science dan kerja lab akan memamerkan publikasi mereka yang setahun yaaaa ada belasan lah. Wow keren!
Ya keren! Tapi tidak semua bidang tidak bisa menelurkan jurnal sebanyak itu dalam satu tahun.
Pertanian misalnya, mau penelitian jagung saja harus at least nunggu 3 bulan! Itu pun kalau tidak ada hama… tidak ada yang maling… cuaca mendukung….
Belum lagi kalau softwarenya yang loadingnya lama. Tanyakan pada, misalnya, para pejuang ArcGIS…. vektor petanya sudah muncul saja sudah sujud syukur. Eh ada pixel yang gak muncul-muncul, reload lagi deh!
Ilmu sosial juga tidak kalah heboh, apalagi yang membutuhkan data primer. Kliring data saja kalau bisa satu bulan sudah mahasakti, dan sudah dipastikan yang melakukan itu sudah over dosis Pr*mag.
Ingat juga, untuk beberapa keilmuan, mereka adalah single fighter… mereka yang desain penelitian, yang ngumpulin data, yang bikin simulasi, yang ngetik data. Setidaknya itu yang saya ketahui  di bidang ekonomi dan sosial. Tidak ada kisah 10 orang dalam tim, lalu bikin paper bareng 10 yang cuman ganti-ganti urutan penulis -.- no way!

Ya jadi keren sih harus ya…. tapi kan menjadi toleran pun penting bukan?

“Eh, tau gak… si X kan kayaknya depresi loh. Ih gak pernah ngumpul sih jadi kita gak tau kenapa dia depresi ya”
“Ih iya, di tempat gw sampe ada yang bunuh diri segala. Karena gak ada publikasi, eh kita aja udah 500 publikasi ya tahun ini aaahhaah, masih ada 50.000 lagi belum publish”
“Eh kita harus deketin si A, dia kan posisinya bagus”

Errrrrrrr……………………………………………………………………………….

dan lalu ada pertanyaan “Kok makin banyak orang yang depresi ya?”
“Kok makin banyak orang yang gak toleran ya?”
“Kok makin banyak yang gak sopan ya?”

Satu yang kita semua gak pernah tanya “Kok kita gak pernah ngaca ya?”

Loh, ngaca? Kan udah merasa yang paling hebat dan terbaik! Jadi buat apa dong ngaca.

===================================================================================

Baiklah, mari kita berkunjung ke tempat saya saat ini. TSUKUBA!
Di sini saya merasakan puncak kebahagiaan saya selama di Jepang.
Ingin tahu alasannya?

Saya punya seorang Sensei yang sangat baik. Yang rasanya kalau boleh minta ke Allah untuk boyong manusia ke surga, mungkin Beliau akan masuk list.
Beliau yang sudah melompat dari satu negara ke negara lain yang membutuhkan ilmunya, Beliau yang tidak ambil gajinya dari kampus dan membiarkan uang itu untuk lab kecil kami dan membuat kami tidak perlu bayar jika ada lab party.
Beliau yang memayungi saya yang kroco ini ketika hujan dan inget kalau saya gampang flu.
Beliau yang sibuk menanyakan kabar Mama saya yang sakit.
Beliau yang kerapkali mengajarkan saya dari basic sampai coding yang saya betul-betul tidak paham.
Beliau yang publikasinya mungkin lebih banyak daripada ucapan dzikir saya ke Allah selama ini tapi tidak pernah banyak koar-koar.
Beliau yang hanya senyum dan bilang “So, what? There is always a first time for everything” ketika saya bilang “I never do this! I don’t think I can make it”
Beliau yang cerita kalau Beliau pun pernah nangis di depan Sensei Beliau sebelumnya karena merasa gak bisa.

Saya bertemu banyak peneliti lain, yang bahkan baru akhir-akhir ini saya ketahui kalau mereka semua masuk ke kementerian lingkungan hidup Jepang, semua orang langsung tunduk sama mereka.
Mereka! Mereka yang sibuk nyodorin tissue ketika saya terisak ketika melihat seekor kucing tertabrak mobil di sana. “Udah dong, Marissa-san, kok jadi sedih sih liat kamu nangis gitu. Udah ya, kita makan sushi nanti”

Mereka yang mengajarkan saya untuk belajar benar-benar dari nol, untuk berhenti membandingkan diri saya dengan orang lain, untuk menjadi orang yang lebih berani bertanya, meminta bantuan, menerima diri sendiri, dan yang terpenting rela membantu orang lain.

Saya berkembang, dengan ritme saya sendiri.
Jiwa saya berbunga, seperti layiknya dia seharusnya berbunga.
Saya kembali menjadi ilmuwan yang tentu masih newbie, yang terus bertanya, yang penuh rasa ingin tahu, yang perlahan mendapatkan jawaban dari setiap permasalahan yang muncul. Saya bangga pada penelitian saya, karena saya tahu seluruhnya dari embrio hingga dia perlahan tumbuh. Saya paham kegagalan-kegagalan saya, dan menjalin untuk keberhasilan-keberhasilan baru.
Saya pun kembali pada seni…
kembali bermusik…
kembali melukis…
kembali memasak…

Saya sadar, saya rupanya lebih bahagia saat ini.
Saya bahagia, melihat kebaikan-kebaikan yang tulus.
Dan kebaikan yang tulus bisa datang dari mana saja.

==============================================
Eh tapi tulisan ini bukan menyuruh kalian untuk kuper ya. Saya mungkin salah satu contoh “big failure” dalam membina network dan memperluas jaring pertemanan. Kalau mau jadi pejabat sih, kurang oke ya meniru “idealisme” saya. Saya mungkin terlalu baper dalam memilih-milih orang yang masuk dalam lingkarang pergaulan saya.

Hanya saja, bagi saya….saya yang muak dengan hal-hal “fake” yang fana dan jujur ngabisin waktu, saya lebih senang berkumpul dengan orang-orang yang jelas lebih menghargai saya dan lebih membuat saya nyaman. Saya menemukan mereka….
Saya punya keluarga yang luar biasa,
sahabat yang yaaaaah mini-size tapi lebih dari cukup,
dan kini guru dan teman-teman baru yang saya rasa menyayangi saya.

Dan saya menyayangi mereka.
Saya tahu Allah akan menyayangi mereka pula. Jaga mereka baik-baik ya Allah, buat semuanya berumur panjang, lebih dari para dinosaurus. Karena planet ini akan terbakar lebih cepat daripada karena efek rumah kaca tanpa kehadiran mereka.

In the middle of the road, Allah yang memberikan saya jalan terbaik untuk dilalui.

 

Magnet Kulkas dan Sekelumit Kisah mengenang Prof. Rina Oktaviani


Image and video hosting by TinyPic

Ini bukan hanya cerita tentang magnet kulkas, ada cerita…alasan… dan kenangan di balik ini semua. Ada kenangan yang mengingatkan saya pada salah seorang dosen saya: Ibu Rina Oktaviani

Satu kali pernah saya berkesempatan mengunjungi rumah Beliau. Saya yang memang dulu masih alay dan norak hanya bisa takjub dengan koleksi pernak pernik Beliau dari berbagai belahan dunia.
“Hehehe…Lucu ya, Mon?” Kata Beliau kemudian memecah ketakjuban saya dengan tawanya yang khas dan saya yakini membuat rindu siapapun yang pernah mengenal Beliau.
“Wah! Iya, Bu… kapan ya saya punya hahhahaha. Magnet kulkas lah ya at least. Magnet kulkas di rumah saya itu bonus Chiki coba, Bu hahahhaa”.
“Oh come on, mon! Jangan putus asa gitu lah. There’ll be your time. Waktu kamu masih panjang and the world will someday demand your skill and knowledge. There’ll be your time to start your own adventure. Dan kamu harus bisa melalui itu.Percaya deh!” Saya dulu hanya bisa tersenyum simpul dan berpikir
“Duh masa iya sih” tapi kata-kata Beliau membekas. Hingga saat ini.

Beberapa tahun kemudian, yes! I started my adventure. Saya yang biasanya malas belanja jadi girang membeli pernak-pernik kecil untuk mengingatkan saya pernah kemana saya sejauh ini. Yang paling gampang dikumpulkan ya si magnet. Tidak bermaksud koleksi, hanya untuk senyum-senyum sendiri mengingat apa yang pernah Beliau katakan pada saya. Selalu terpikir kelak berbagi cerita kepada Beliau. Mungkin sedikit pamer sambil ketawa kecil “Akhirnya saya beneran liat luar negeri loh, Bu.”

Belum sempat petualangan ini selesai,
belum sempat cerita-cerita itu terucap…Beliau berpulang.
Sedih? Jelas! Namun mengetahui Allah sudah terlanjur begitu cinta pada Beliau…. saya toh bisa bisa apa? Kelak, saya akan bagi kata-kata Beliau tersebut kepada anak-anak lugu yang nyaris putus harapan melihat dunia, yang nyaris hilang percaya diri untuk stand-out di bidang mereka. Lalu biar mereka tahu bahwa ini kata-kata dari seseorang yang hebat: Ibu Rina.
Ya… karena orang sehebat Beliau layik selalu hidup dalam kenangan setiap orang.
Terima kasih, Ibu 🙂 Bumi boleh kehilangan jasadmu, namun bukan pemikiranmu. Lagipula semua toh akan berpulang bukan? Saat kita jumpa, semoga bisa berkelakar mengenai sudah seberapa tangguh kita menghadapi dunia.

Terima kasih.