Pelecehan seksual dan Bullying: Hal yang “tidak biasa” yang dianggap “biasa”


Image and video hosting by TinyPic

Yak, puasa sudah lewat, weekend telah tiba, dan saatnya emonikova menggebrak logika-logika ajaib yang ada di sekitar kita. Ini penting sodara-sodara! Karena saya ingin pembaca emonikova tidak kalah dengan followers om Dedy Corbuzier yang disebut “smart people” itu. * OOT: Ufufufufufuufufu… Eh tapi lama-lama gw pun malas loh sama om Dedy hahahaha kadang dia doyan clickbait juga :p*

Jadi topik kita kali ini adalah pelecehan seksual dan bullying.
Siapa yang pernah jadi korban dua hal di atas, angkat tangaaaaan! Well… saya mungkin korban kedua-duanya.
Bullying jelas! Saya yang dulu gendut dan gak pernah make-up dan gak pinter juga sudah makan asam garam per-bully-an. “Ya ampun, Mon… udah jelek, gendut, lo gak pinter apa-apa pula.” |
“Eh kalau liat muka lo, lo kayak pembantu gitu ya” Well… mungkin yang ngomong gak pernah liat sinetron Inem Pelayan Seksi yang mukanya bening itu fufufufufufu. Semoga akhirnya dia mampu membeli TV di rumah, aamiin!!!!!!.
dan sebagainya yang kalau diinget-inget lagi rasanya nelongso.
Saya ada di posisi dimana saat ini saya begitu menyayangi semua orang, gak mau mencari alasan-alasan untuk mengingat masa lalu yang kelam kayak gitu.

Lalu pelecehan seksual? Oh pernah juga!
Salah satu yang paling kamfret adalah ketika saya masih menjadi assisten dosen di kampus. Saya ingat saat itu bulan ramadan dan yang menelpon saya beberapa kali lalu mengirim teks
“Kak, saya murid responsi kakak, telpon saya kak. Maafkan saya kak, teringat suara kakak saya hari ini jadi batal puasa.”
Perpaduan antara asdos yang masih polos dengan bumbu-bumbu kebegoan yang kuat saat itu, saya berpikir “Lha, apa urusannya inget gw kok batal puasa? Gw mirip donat?” Saya pikir anak ini mau ngeledek saya bulat dan ndut kayak donat. Ya akhirnya bodo amat, kebal aing mah kalo cuman dibilang gendut. Eh btw, di sekitar kampus IPB ada donat yang legendaris banget! Kalian harus coba deh kalau mampir ke IPB. Sumpah tuh donat enak banget!

Back to the topic!
Nah! hebohnya terjadi ketika saya cerita ke dosen pembimbing saya karena kami ini dekaaaaaat sekali, jadi kalau ada apa-apa ya cerita ke Beliau. “Ya Allah emooooooooooon! Kok kamu diem aja sih? Itu ngeri tauuuuuuuuu! Itu pelecehan seksual. Ihhh, jangan pulang malem-malem ah setelah ini.”
Owh… okay. Dan baru setelah sadar ngerasa serem dan keringet dingin. Jadi ngeri kalau pulang pas udah gelap.

Pelecehan seksual lainnya adalah ketika saya masih kerja di kemenkoperekonomian. Saya seringkali pulang larut karena bos saya saat itu memang “On” saat matahari terbenam. Jadilah burung hantu ini harus mencari ojek karena tidak ada angkot ke desa saya jika sudah malam. Jaman dulu belum ada ojek online ya. Naiklah saya ke ojek, entah doi ngira saya wanita macam apa, pak supir ojek malah bilang “Ngapain ke rumah, semalem aja yuk di hotel!” Ya saya gaplok juga si Bapak pakai botol aq*a bekas meeting, harusnya sih galon ya, lain kali bawa itu lah. Dan saya terpaksa harus setengah meloncat dari ojek tsb. Alasan mengapa saya akhirnya memilih kembali ke kampus untuk bekerja saat itu.

Saya yakin, bukan hanya saya yang mengalami kejadian seperti ini. Mungkin kalian juga pernah! Bahkan pedangdut macam Via Vallen!

Dan saya juga yakin, karena masih rendahnya kepedulian akan permasalahan ini, kita kadang tidak sadar jika sedang dilecehkan atau bahkan melecehkan! Oleh karena itulah, emonikova kali ini iseng tanya-tanya beberapa teman (yang saya sengaja samarkan namanya dsb karena mereka orang-orang baik dan cerdas yang kayaknya gak perlu berurusan dengan para netijen apapun alasannya -.-) dan bertanya mengenai perilaku bullying dan pelecehan.

Saya mengambil kasus via vallen karena menurut saya ini kasus unik. Perpaduan antaraย  Cyber Sexual Harrashment sekaligus Cyber Bullying! Nah ini! Ini penting untuk didalami lebih lanjut.

Mari kita mulai dari kasus pelecehan seksual itu sendiri, bener gak sih jika kita mengalami pelecehan seksual kita harus speak up?

Ini beberapa opini keren dari teman-teman saya. Aduh kok mereka keren-keren banget ya. Ini nih kenapa kalau nyari temen harus yang menyenangkan dan kepalanya “ngisi” jadi enak diajak ngobrol.

First of all, kita harus sepakat bahwa seseorang punya hak bicara ketika mereka mengalami hal yang tidak mengenakan
Image and video hosting by TinyPic

Dan entah kenapa ya, di Indonesia speak up, apalagi kalau berkaitan dengan pelecehan seksual itu terasa taboo di masyarakat kita? Parahnya lagi kadang kita pun gak ngeh kena pelecehan atau gak.

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Yang lebih bikin males lagi, di tanah air masih ada “keanehan”. Kalau kita korban, pasti nama,TTL, status, foto terbaru, pokoknya semuanya di publish. Lha, yang jadi pelaku? Udah mah muka ditopengin, di blur, suara disamarkan, nama jadi inisial. Walau mungkin pihak terkait ingin melindungi mereka dari amukan masa, tapi kan yang korban juga tengsin ya tiba-tiba menjadi pembicaraan banyak orang, apalagi kalau yangย  diomongin masalah aib! Waduuuh…

Image and video hosting by TinyPic

 

Nah tapi lanjut komen terakhir di atas,ย  ada beberapa yang bilang, kalau mau speak up yaaaa jangan di media sosial karena media sosial penuh dengan netijen julid. Hal paling bener adalah, kalau ada bukti-bukti, langsung bawa ke komnas anak dan perempuan atau bahkan kepolisian. Saya yang gak suka rame-rame juga sebenarnya lebih cenderung ke pilihan ini. Soalnya kita kan awam ya masalah seperti ini.

Nah untuk kalian, boleh nih jaga-jaga untuk mencatat kontak yang bisa dihubungi jika kalian mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan dari orang lain. Catet loh, ini puenting sangat!
Kalau rupanya mereka no action dan lama dan malah bikin makin jengkel…
Yaaaa media sosial pilihan terakhir, rasakan kecaman-kecaman netijen!!!!

No darurat polisi : 110
Komnas perempuan : 021-390 3963
Komnas perlindungan anak (kalau kasus terkait anak-anak): 021-319 015 56

Dan ehmm… karena di postingan via vallen ada yang belain mas-mas bule yang katanya “Aduh emang orang sana mah itu biasa aja kali, mereka kan ceplas-ceplos. Lagian cowoknya ganteng.” please ya, foreigner juga gak terima kali dibilang gak sopan :’D Jika kalian pembaca setia emonikova, dan pernah baca mengenai artikel investigasi tanda parkir, pasti kenal sama Mamas Smiley. Nah, kali ini emonikova juga mengganggu Mas Smiley untuk menjawab emang kalau orang Barat maennya langsung nyosor kayak gitu?
Dan jawaban doi sih kira-kira.

A: “That man is simply stupid or crazy. Nothing else.”
Q: “But people said this man is handsome, so… the girl is want to show off that…”
A: “That someone handsome likes her? Well, handsome but stupid. So, your people is stand for someone just because their look? If a man smart enough, he’ll not take a risk by do catcalling to a woman in social media and this woman is an artist “

Gak berani lawan deh kalau pertanyaannya udah sefilosofis itu.

Saya pikir pun begitu. Ya kalo gak kenal dan gak pernah ada hubungan sama sekali sebelumnya mah mau bule mau bukan gak akan berani ngelakuin serendah itu ke perempuan. Mereka juga punya emak kali di rumah. Jadi kalau ada cowok yang melakukan pelecehan seksual maka yaaaa mesum dan bandel aja.

Yah kalau ganteng dan pinter mah dia gak usah gangguin perempuan juga kali, yang ada perempuan bertekuk lutut menunggu segera disuguhi lagu payung teduh (baca: akad). Kalau ganteng dan pinter mah gak perlu cara-cara murahan, wong di tahajud para wanita aja nama doi sudah diperebutkan. Iya gak sih? Yah sudahlah, kita tinggalkan Mas Smiley. Kalau kangen nanti kita tanya-tanya dia lagi untuk topik lainnya ya ๐Ÿ˜‰

Yo wis, lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka? Setidaknya beberapa waktu yang lalu CNN Indonesia memberikan beberapa tips untuk membantu korban pelecehan.

Ya intinya mungkin yang salah adalah: KITA.
Kita yang gak peduli dengan orang lain hingga kita sendiri yang merasakannya. Mungkin bully orang lain lebih gampang dan nikmat ya daripada berusaha menjadi pendengar yang baik atau orang yang bisa menghargai dan toleran. Ya, secara science wajar sih kalau banyak yang begitu, karena kalau mau bully, maki-maki, mendengki, dan nyinyir kan gak perlu pakai hati dan otak ya, jadi wajar lah jika kalori yang terpakai lebih minim. Dan layiknya badan yang gak pernah diajak olah-raga dan langsung encok pegel linu ketika sekali dipakai lari satu keliling lapangan bola, hati kita yang tidak biasa dilatih peka juga mungkin jadi kaku, keras, dan keseleo sekalinya dipakai berlatih untuk menjadi pribadi yang bijaksana. Mungkin kita menyerah untuk melembutkan hati yang kaku kaku itu, dan lambat laun memutuskan untuk tidak perlu melatih hati itu lagi.

Mungkin…
Mungkin…
Mungkin…

Lalu hatinya berkapur…
Dan terlalu terlambat untuk melembutkannya lagi.

Ah semoga saya salah memberi perumpamaan.

Beberapa waktu yang lalu ada berita mengenai orang utan yang menghalangi pembukaan hutan untuk kebun kelapa sawit. Saat itu saya mikir, “Wah, orang utan aja sekarang udah punya awarenees yang bagus nih.”
Jika kemudian kita tidak bisa punya “feel” untuk berbuat baik pada sesama dan lingkungan…. Well, mungkin pantas malu bahkan pada hewan sekalipun.

Meratapi Literasi Indonesia: Karena Rakyat Indonesia berhak Mendapat Buku-Buku yang Lebih Baik


Pernah suatu hari saya geram dengan orang-orang Indonesia yang tidak gemar membaca, apalagi dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Bukannya apa-apa, Karena adik saya pun pernah seperti itu. Itu terlalu aneh Karena setahu saya sewaktu masih bocah dia cukup suka membaca dan rasanya semua orang di keluarga saya memang suka baca. Lha kok ini males banget. Untung kami belum sampai pada mufakat untuk melakukan tes DNA untuk memastikan bahwa adik saya ini tidak tertukar di rumah sakit.

Adik saya itu biasanya kalau jalan-jalan pasti berkunjung ke gram***a yang notabenenya toko buku paling kawakan diย  tanah air. Sekarang? Nope
โ€œKi, ke gram** yuk cari bukuโ€
โ€œAduuuhโ€ฆ gak deh kak. Bobok aja deh di rumahโ€
Ini kan serius, kalau anak yang suka baca saja tiba-tiba malas ke toko buku, pasti ada yang salah.

Saya pun iseng-iseng melakukan riset kecil. Ini pasti ada yang salah… pasti ada yang salah…. entah itu apa.
Saya berkali-kali mendapat isu dari sahabat dan teman saya yang suka berburu buku.
“Iya, Mon… jadi secara kuantitas sih bertambah, tapi kualitas… aduuuuh, jauh menurun”
“Aduh, Mon… lo pasti sedih lah liat buku di sini sekarang. Kurang beragam”

Saya tentu percaya teman-teman saya itu, they are limited edition in this planet dan sejauh yang saya tahu opini mereka selalu objektif dan kritis. Tapi kan penasaran dong jika kita belum liat sendiri. Saya pun memutuskan, saat kunjungan super singkat saya ke tanah air (yang pada akhirnya hanya bikin sakit punggung walau I am super duper happy to meet my family and my cats) saya bertekad untuk ke TOKO BUKU.

Sudah habis dilahap polusi dan panas matahari, kepala saya langsung pusing karena lapar karena sesampainya di toko buku saya paham kenapa orang seperti adik saya saja bisa jadi malas bertandang ke toko buku. Wanna see the reason?
“BUKUNYA TIDAK BERAGAM” and sorry to say (dan maaf jika ini menampar para penulis di tanah air) “KUALITASNYA Pfffffffftttttt…..”

Indonesia! Seriously! Are you lose your mind or what?

Mau lihat… okay! no pic= HOAX, so check this out.

Penulisnya beda-beda tapi semuanya selalu diawali “Love in…”
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Saya pikir ini diawali Mbak Illana Tan sih (eh bener gak sih, gak pernah baca soalnya)
kayaknya semuanya hanya latah ikut-ikutan, dan metode penulisannya? Entahlah mungkin gelar peta lalu lempar panah “Aha! Dapet Stockholm” lalu ditulislah “Love in Stockholm”,
Tertancap di Ottawa, tulis saja love in Ottawa
dst…
Masalah apakah alur cerita dan latar masuk akal atau tidak, oh itu belakangan… toh sekarang lagi trend pembaca-pembaca remaja dibodohi dengan angan-angan romansa walaupun itu tolol sekalipun!!!!
Pernah sahabat saya mengkritik “Ya ampun, Mon… ada loh yang nulis ‘salju menumpuk di Tokyo'” buat para pembaca blog ini, saya kasih tau ya… it is rare salju menumpuk di Tokyo. Seringnya, turun salju pun langsung cair. Mungkin kalau di utara Jepang oke lah ya.

Tapi itu sih belum seberapa, mari positif thinking, mungkin penulisnya datang ke Tokyo ketika badai salju. Who knows! Jakarta dan Bandung aja bisa hujan es kok.
Ada juga loh yang bisa-bisanya menulis, ini latarnya di Eropa utara ya… “Matahari bersinar terang dan menghangati Januari di hari itu”
Ketika membaca frase itu, saya sempat berpikir itu novel science fiction dan kejadiannya ketika global warming sudah melelehkan kutub utara. Kawan… Januari itu: MUSIM DINGIN, dan please kalau kalian ambil latar utara bumi apalagi di kawasan Eropa Utara, jangankan hangat…. matahari aja bersinarnya cuman beberapa jam.

Kalian paham “ketololan” yang terjadi? (Maaf saya terlalu kasar kali ini).ย  Bahkan saya bisa pastikan bahwa penulisnya, minim membaca. Mungkin terlalu sibuk dengan social media.

Saya berpikir, hmmm… okay fail with young adult mungkin mereka punya alternatif hiburan yang lain. Saya merangsek ke rak entertaiment.

Dan… tebak yang saya temukan:
Image and video hosting by TinyPic

Oh God! Damn it! What’s the point kalian khatam masalah k-pop? APAAAAAAA?
Ya ampun gila apa ya.

Saya mencoba positive thinking. Wah gimana dengan buku biografi. Mungkin ada tokoh-tokoh inspiratif yang bisa mengobati rasa sakit hati saya dengan buku-buku novel young adult. Saya merayap ke sisi buku biografi dan sejarah, yang saya temukan konspirasi ahok lah, konspirasi jokowi lah… Ya Allah, apa sih kok rasa-rasanya kepala saya penat ya melihat itu semua.

Saya berpikir lagi, saya terlalu emosional mungkin karena kurang dekat dengan Tuhan. Saya lalu mendekati buku untuk Muslim. Dan bahkan kali itu saya langsung ingin melakukan taubatan nasuha kepada Allah SWT karena this one really kill me!
Image and video hosting by TinyPic

Jadi manusia itu sibuk ibadah ke Tuhan hanya untuk masalah romance? Jika ibadah itu hanya mengurusi masalah percintaan antar lawan jenis, udah deh… bareng-bareng masuk neraka lah sekalian. Oh come on! Bisa kan ada buku Harun Yahya tentang science and Quran, Answers for daily life kayak ‘Boleh gak sih kita meluk-meluk anjing?’, ‘gimana sih cara thaharah yang baik dan benar?’, ‘Perihal alkohol pada makanan’, yang pertanyaan-pertanyaan sehari-hari seperti itu kan lebih bermutu dan berkualitas jika diserahkan kepada ahlinya dan dijawab dengan bahasa yang remaja banget, dan dijadiin buku. Saya yakin itu akan membantu sekali untuk banyak orang (nih, gw kasih ide! Biar ada yang bisa bikin buku rada bermutu)

Saya lelah marah-marah, karena saya pecinta buku non-fiksi saya menyeret bada saya ke rak buku-buku non fiksi. Well… cukup menarik. Tapi covernya suram (apa salahnya men-judge book from its cover, cover yang bagus toh salah satu cara memanjakan dan menarik pembaca), topiknya sempit, dan saya yang sudah tua ini saja agak enggan membacanya apalagi anak muda.
Image and video hosting by TinyPic

In short, pilihan buku yang cerdas, mencerahkan, menarik, dan dengan tema beragam itu sangat-sangat TERBATAS.
Dan ini: MENYEDIHKAN.

Indonesia yang tertinggal masalah literasi

Dengan lunglai, Mama saya menyambut dengan rendang andalannya dan bilang “Nah, liat kan sekarang. Bagaimana anak Indonesia bisa pintar jika ‘jendela dunianya’ saja cuman jendela yang ditutup kertas kado warna pink”

Ya! Jendela itu ada, tapi yang terlihat dari dalam hanya pink pucat, bukan dunia yang ada di luar sana. In short: FANA!

Adik saya pulang dari kuliah hanya tertawa, “Kenapa Kak? Sekarang tau kan kenapa Kiki males ke toko buku? Kiki ke perpustakaan di kampus kak sekarang karena buku jaman dulu masih jauh lebih bagus daripada yang muncul akhir-akhir ini”

Adik saya yang kini agak lebih bijak setelah masuk kuliah kemudian mengakatan “Jangan negative thinking kak,ย  masyarakat kita gak suka baca, mugkin bacaan yang menariknya aja yang terbatas. Orang Indonesia suka kok baca dan belajar hal-hal baru” Dengan teliti saya mendengarkan adik saya yang selalu membaca buku yang saya berikan ke kampus dan dia mengaku antrian panjang untuk ikut membaca buku-buku yang saya hadiahkan pada adik saya cukup panjang.

Miris loh, sewaktu saya masih kecil saya masih dibelikan buku-buku seri ilmu pengetahuan oleh Mama dan Ayah saya. Saya juga membaca dongeng dari seluruh dunia. Ketika saya sudah lebih mahir membaca, buku-buku novel saya naik kasta ke serial-serial misteri dan petualangan. Sebelum saya berangkat ke Jepang, saya masih bangga karena ada novel sekelas Laskar Pelangi yang ceritanya manis dan menyemangati anak-anak Indonesia. Saya percaya pada saat itu litarasi di Indonesia akan naik kelas, dan kualitasnya akan semakin baik.

Nyatanya? Saya bahkan tidak bisa menumukan buku non-fiksi populer di toko buku dengan retail terbesar di tanah air. Tidak ada buku buku seperti “what if” atau “naked statistics” atau jika memang belum ada penulis Indonesia yang cukup sakti membuat buku seperti itu, setidaknya mbok ya terjemahannya.

Ada? Tidak!

Jangan pikir saya ini tidak minder, berteman dengan orang-orang dari negeri lain seperi Jepang dan China saja sudah membuat saya “jiper”. Mereka bertanya mengapa saya tidak membawa buku teks dari Indonesia sedangkan mereka? Rak mereka penuh dengan buku-buku teks asing yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa mereka. Saya? Saya haru membeli buku-buku itu dengan uang saya sendiri… mencari di toko buku… dan mau tidak mau harus membeli versi bahasa Inggris.

Kalian pikir saya jago-jago amat, saya bahkan masih mengggunakan google translate dan kamus untuk menerjemahkan beberapa kata dan kalimat, dan itu… itu makan waktu!

Negara lain pada umumnya menerjemahkan beberapa buku teks dan karya literatur penting dan terkenal lainnya (seperti novel dsb) kedalam bahasa mereka. Alasannya? Agak mudah dipelajari dan memperluas perspektif mereka mengenai perkembangan dan sudut pandang di negara lain.

Di banyak seminar ESQ sering terdengar: lihat, tiru, modifikasi…
Apa yang dilihat?
Apa yang mau kita tiru?
Apa yang mau kita modifikasi?
Novel-novel picisan yang hanya menjual mimpi cinderalla story?

Saya ini bukan pembaca buku teenlit atau young adult loh, tapi saya bisa memastikan bahwa buku young adult asing banyak yang ceritanya menarik… bukan hanya masalah cinta kadang juga tentang persahabatan , keluarga, pokoknya lebih beragam.

Karena saya pecinta non-fiksi populer, saya masih mendapatkan buku-buku seperti itu di sini.
Image and video hosting by TinyPic

dan masih ada juga novel-novel klasik yang menurut saya kisahnya penuh makna
Image and video hosting by TinyPic

As a book lover and an avid reader, jelas negara lain lebih menarik bagi saya. Bahkan India saja bukunya lebih beragam dari kita loh! Trust me!

Sebuah Pembodohan

Jika saya begitu jahat, dan punya ambisi untuk menguasai suatu negara, saya akan menggunakan suatu ide brilian: Buat saja seluruh masyarakat di negara tersebut jadi BODOH.
Jadi punya pemikiran sumbu pendek.
Kenapa? Karena dengan itu saya bisa dengan mudah mendoktrin dan membodohi orang-orang di negara tersebut. Yah! diadu domba sedikit juga nanti perang sendiri, mulai dari perang mulut hingga ke perang otot… yang pasti tidak ada perang otak, karena otak mereka sudah kosong melompong!

Karena saya cukup “strategis” dalam berpikir maka saya terlalu gegabah jika membom negara tersebut, bom sekolah… bom perpustakaan…. aduuuh, cemen banget sih. Belum tentu berhasil masih bisa kena gugat PBB pula.

Bagaimana jika, saya susupi dengan trend?
Racuni dengan sinetron dan infotaiment tidak mutu yang hanya membahas artis dan aneka berita tidak mutu lainnya.
Jangan lupa, agar lebih mantap “kebegoan” yang akan tercipta…. di negeri ini artis harus jadi segala-galanya. Ketika ada bom nuklir di Korea Utara, tanyalah artis dangdut.
Ketika ada penemuan teknologi yang baru, jangan lupa wawancara artis sinetron striping (ssst… sinetronnya pun tiru habis drama di luar negeri, kalau ratingnya bagus… diperpanjang hingga 1 juta episode, sssttt ini rahasia kita aja ya, jagan bagi-bagi strategi ini loh).

Okay, sekarang seluruh media dari media cetak hingga online pokoknya harus sibuk memberitakan hal-hal yang gak penting tapi seru, misalnya jambak-jambakan antar dua artis ibukota dan isu nikah siri sampai tayangan langsung artis yang sedang ngeden melahirkan.
Agar lebih “cerdas” jangan lupa #sharedisocialmedia.

Lalu trend tercipta, dunia masyrakat negeri ini menjadi sempit.
Piramida penduduk negeri ini yang didominasi oleh anak muda membuat saya sadar “Well, target utama: Anak muda”
Maka, buat juga buku yang ada (in case masih ada yang mau baca buku) mendoktrin anak muda untuk trapped in the nutshell.

And yeah! Perfect! Makan waktu sih, tapi efeknya dahsyat dan dijamin anti gagal.

Karena masyarakat kemudian diperlihatkan bahwa “cinta” itu hanya sebatas dimabuk kepayang oleh lawan jenis. Maka mereka akan lupa cinta pada sesama, cinta pada orang tua, cinta pada orang yang berbeda keyakinan, cinta pada alam.
Yaaaah… biarkan saja, toh mereka nanti akan gontok-gontokan sendiri ketika ada kawannya yang beda keyakinan atau suku.
Diamkan saja, toh nanti mereka juga akan mati sendiri terkena banjir dan longsor (atau dimakan anakonda lapar) wong mereka yang rusak lingkungannya sendiri kok.

Oiya! Jangan ajarkan hubungan science dan agama, agung-agungkan saja masalah virus merah muda dan keutamaan nikah muda. Semuanya nikah muda, biar si perempuan segera hamil dan punya anak banyak…
Paling nanti sibuk mengurus anak dan akan lupa dengan pendidikan dan karirnya.
Jangan tunjukan jalan ke surga itu beragam… pokoknya jangan!
Ini juga metode yang efektif untuk membuat peperangan antara wanita karir dan Ibu rumah tangga. Padahal mereka punya keutamaan masing-masing ya, eh biarkan saja! Kalau kaum wanita sudah perang dunia, negeri ini makin mudah dikuasai.

Oiya! Karena di negeri ini sudah terlanjur “bodoh”
Sebar juga isu kalau wanita yang masih single hingga after 25 itu bakalan mandul, perawan tua, pokoknya yang jelek-jelek. Selipkan juga isu wanita yang sekolah tinggi dan berkarir itu seringkali tidak mau menurut pada pria.
So, genius women will never get married! Dan kalau wanita-wanita cerdas tidak menikah… maka tidak ada bayi-bayi yang genius pula. Ya ampuuuuuun sempurna!

Karena negeri ini sudah terlanjur “bodoh”, maka katakan juga bahwa kualitas manusia itu bisa dilihat dari fisiknya. Kalau dia gendut, hitam, pokoknya jauh dari standar artis-artis kurus tinggi langsing, itu hina banget deh!
Jangan lupa! Di bully juga… buat mereka tidak pede! Efek paling ringan:trauma dan minim percaya diri, paling berat: BUNUH DIRI.

Dan bukankah itu sempurna?
Semoga misi “pembodohan” di atas tidak terjadi di Indoenesia.

Kawan, saya tidak menjudge jika kalian nikah muda, tidak membaca buku, tidak sekolah tinggi, kalian salah. Oh no! Mana mungkin saya berani melakukan itu.
Namun saya hanya ingin mengatakan we should do more!

Jika kalian ibu-ibu muda, didik anak kalian sebaik mungkin. Carikan buku yang baik, ceritakan cerita-cerita yang berkualitas, angkat impian mereka.
Jika kalian wanita atau pria yang masih single, fokus ke pekerjaan dan pendidikan kalian
Jika kalian pelajar, maka belajar dengan giat dan konfirmasi seluruh informasi yang kalian terima.
Dan lebih dari itu semua: read a good materials.
Jika kalian tahun bahwa tontonan TV tidak bermutu… turn it off!
Bijaklah dalam menggunakan social media dan selalu konfirmasi seluruh berita yang kalian dapat, amati, dan sortir. Kalian ini sudah besar… bisa bedakan mana yang baik dan buruk.
Investasikan tabungan kalian untuk membeli buku yang bagus berdasarkan hobi dan minat kalian. Baca!
Jika kalian tidak suka buku, beli majalah yang “berbobot”… national geographic misalnya jika kalian tertarik dengan alam.
Pelajari! dan Dalami! Lalu sadarlah bahwa dunia ini luas, dan dunia ini membutuhkan kita… manusia dengan kualitas yang lebih baik.

Saya tahu, tulisan-tulisan saya banyak yang “kontroversial” dan banyak juga yang sudah terlalu sebal dengan saya. But really! I criticize for your good. Kita tidak bisa hidup dengan perspektif yang sempit.

Jika membaca buku yang berkualitas saja kita tidak tahan, bagaimana kita bertahan dalam konstelasi global?
Bagaimana? Beri saya jawaban.

Sekali lagi, kita berhak mendapat akses yang lebih baik pada hal-hal yang lebih berkualitas, salah satunya: BUKU dan bahan bacaan lainnya.

 

 

Sekilas kritik untuk Negeri “Cuitan”


Saya teringat salah satu tuitan Sudjiwo Tedjo (I should tell I really like his point of view)

13398994_1186105991433852_1525162985_n

“Lama-lama orang malas romantis, karena takut disebut galau. Malas peduli, takut disebut kepo. Malas mendetail, takut dibilang rempong.
Malas berpendapat, takut dibilang curhat. Malas mengubah point-of-view saat debat, takut dibilang labil”

Mungkin jika tuitan itu ditulis di masa-masa ini mungkin akan ada tambahan “Lama-lama malas mengkaji agama, karena takut dianggap menistakan agama. Lama-lama malas berpolitik karena takut masuk penjara” terus begitu hingga ladang gandum dipenuhi coklat.

Guys! Wake up… kok kita mulai memperumit segala aspek dalam kehidupan kita sih, segala aspek yang yaaaa kita-kita sendiri ini yang bikin. Bikin masalah sendiri, mengkritik sendiri, marah sendiri, loh… maunya apa?

Ratusan kilometer dari tanah air, saya merasa mengapa Indonesia kok “mumet”. Saya ingat sahabat saya sampai bilang “Ini sih, Mon…mungkin manusianya yang harus diganti.”
Maaf saja tapi menurut saya seluruh kasus yang sedang hangat di tanah air itu sebenarnya “Meh!”

Oke start from kasus penistaan agama dari pak Ahok. Sebagai muslim, well… saya harus bilang Ahok salah. Sungguh kasus keselimpet lidah Beliau sangat fatal. Apalagi di Indonesia. Loh Indonesia loh, beda “mahzab” atau “partai” antar dua keluaga saja dua sejoli bisa batal nikah kok. lha, ini bawa Al-Quran. yooo blas! Beliau salah, namun saya pribadi merasa yang terjadi kepada Beliau selanjutnya juga jadi tidak fair. Sudah diproses secara hukum kok, masih di demo, masih di caci, lah… kalau kita sibuk menyudutkan dan mengulang-ulang kesalahan Beliau, apakah itu membuat kita menjadi lebih baik dibandingkan Beliau?

Dan, mbok ya kalau tahu lawan itu cerdas maka berperanglah dengan taktik yang cerdas. Lhaaa… ini kesaksiannya cuman nonton youtube, buat laporan pun kompakan, piye? Salah pun kompakan. Lha… perang itu bukan hanya modal bismillah dan Allahuakbar, harus ada taktik, harus ada pemikiran, harus pengkajian… semua harus dilihat secara kaffah dan menyeluruh. Masih pakai demo segala. Ini logikanya dimana? Ya percayalah kepada para penegak hukum. Coba-coba-coba latihan….latihan HUSNUDZAN alias berbaik sangka.

Okay… mari kita biarkan penegak hukum bekerja secara optimal.
Eh tunggu! Memangnya bisa?

Ada yang bicara sedikit menyinggung agama, langsung dilaporkan ke polisi.. pasalnya tidak tanggung-tanggung “penistaan agama”
Ada yang update status kritik sedikit, itu juga dilaporkan ke polisi
Ada mantan pejabat iseng sedikit ngetwit, juga heboh dikomentari
Bahkan uang rupiah yang sudah didesain seindah mungkin oleh tim, dilaporkan ke polisi juga. Itu cetaknya aja udah susah. Masih baik hati BI mau mengomentari hal ini, kalau saya jadi gubernur BI sih “Yo wis lah… biarin aja mereka misuh-misuh ndak jelas.” mending ngurus harga cabe yang jelas-jelas lebih krusial dan terang inti masalahnya.

Besok-besok nasi basi pun jangan-jangan sampai ke polisi “Ini kasus penindasan rakyat oleh perusahaan rice cooker”
Besok-besok, saya yang sering salah melafakan ุด, ุต, ุฒ,ุฐ juga akan dilaporkan ke Polres Bogor karena kasus penistaan agama “Ini loh, mbak Marissa, baca Quran-nya salah… bahasa Arab itu salah makhraj salah arti, penistaan agamaaaaaaaaa, digoreng di nerakaaaaaaa” Arggghhhhhhhh~~~
Lha, ini polisinya pun jadi capek fisik dan psikologis.
Orang-orang yang cerdas, pintar, tapi malas ribet juga akhirnya jadi mulai searching “How to change your nationality”, mulai searching biaya visa, join global online dating, dan tentunya tiket pesawat.

Mungkin saya terlalu “cuek”, terlalu liberal, terlalu cetek, apapun lah yang ingin kalian bilang. Tapi di tengah konstelasi global, ketika orang-orang bersaing untuk bekerja lintas batas. Kita? Kita masih sibuk di masalah spekulasi cuitan dan saling salah menyalahkan dibandingkan fokus menyelesaikan masalah itu sendiri. Kalian tahu gak itu seperti apa? Seperti dalam perlombaan lari, peluit sudah ditiup, yang lain sudah lari… kita? Kita masih sibuk menyalahkan sepatu “Ini gara-gara sepatunya nih, terlalu murah! Terus stripnya terlalu terang jadi bikin silau, yang jahit sepatunya pasti ingin saya celaka. Siapa? Siapa? Siapa penjahit sepatunya?
Ya Allah…

Saya selalu bilang orang Indonesia itu luar biasa baik hatinya. Dimana lagi di sudut dunia orang bisa selalu melempar senyum dan tawa even to the stranger. Cuma di Indonesia! Tapi ya kita sering kali mudah tersulut…mudah percaya… mudah terprovokasi…
Sering banget sih.

Fenomena ini kan sudah terjadi sejak lama sebenarnya. Beberapa dari kita seringkali malas membaca detil berita, tidak mencari tahu lebih dalam dari informasi yang kita dapat dari grup Whatsapp, LINE, dsb… lalu Voila! Share ke seluruh social media yang ada. Awalnya sih range kecil-kecilan, lalu lama-lama ketagihan, dan jadi ketagihan nasional… dan Bom! Sekarang masalahnya jadi besar kan? Munculah Pak Buniyani yang diikuti kasus-kasus lainnya yang sebenarnya ya gitu-gitu aja.

Saya pun heran mengapa media juga terkadang mengambi “cuitan” di sosial media sebagai literature review. Jurnal aja, jurnal akademik… kalau tidak terakreditasi masih harus diuji lagi kebenarannya, lha iki kutipan dari social media, yo ngawur ndak karuan wis. Itu sangat tidak ilmiah.

Aduh jadi capek marah-marahnya. Tapi serius, kenapa sih… kenapa kita begitu usil mengkritisi tanpa memberi solusi, mencaci dan menyalahkan tanpa saling mengingatkan. Kerajaan di Nusantara itu mayoritas bubar karena perang saudara, lha mbok ya sesekali belajar dari sejarah. Kalau tidak setuju dengan orang lain kan bisa “Witsss…. sebentar cuy! Kita agak berbeda perspektif nih bla bla bla”paparkan, jelaskan, diskusikan… ra usah misuh-misuh dikit-dikit twit, dikit-dikit curhat di socmed, dikit-dikit lapor polisi. Kan lebih sejuk.

Lalu harus bagaimana?
Mungkin sesekali kita harus matikan handphone dan TV gak usah lama-lama, setiap weekend aja, take your backpack and umbrella… dan lakukan semua hobi kalian selain liat handphone.
Coba cafe baru bareng sahabat kalian,
cuci baju,
tanam cabe di pekarangan rumah atau kacang ijo di kapas dan seperti layaknya bocah lugu yang antusias menunggu mereka tumbuh, atas ketawa konyol sendiri karena mereka secara misterius gagal tumbuh.
Baca buku yang benar-benar kalian mau baca
Bantu mama nyapu rumah
Shopping… atau berburu barang vintage
Journaling
Gangguin keponakan atau anak orang yang masih cilik dan lucu-lucunya tanpa perlu sibuk ambil foto dan upload ke social media
Ke ATM, transfer some money ke yayasan
Surprise visit ke rumah kalau kalian jauh dari rumah, plus bawa oleh-oleh yang mereka suka.
There will be lots of things you can do dalam waktu 24 jam tanpa melihat TV dan handphone sementara. Bukan berarti TV dan handphone itu jelek ya, tapi terkadang kita hanya butuh sedikit detox sih dalam hidup. Go outside and see everything from another perspective.

Jalan dan ngobrol bareng lah sama orang yang wawasannya luas dan menyenangkan, berdebat secara sehat… lalu ketawa bareng. Belajar untuk saling menghargai pendapat bahwa beda pendapat itu oke loh, menambah alternatif sudut pandang, dan itu membijaksanakan kita karena kita jadi “ngeh” oh iya yaaa pandangan gw belum tentu sama dengan orang lain.

Dan yang lebih penting lagi… sebelum klak klik submit atau share berita/komen/opini/foto/dsb. Baca dan liat lagi, kenceng-kenceng kalau perlu… pikir dan renungkan dengan otak dan nurani yang udah Tuhan kasih kepada kita apakah hal tersebut baik untuk disampaikan atau tidak. Kalau rupanya jelek, yaaaaa udah… delete lagi. Seberapa penting sih memang “eksis” di dunia maya? Menurut saya sih itu sesuatu yang semu dan gak penting.
Lagipula ada hadist yang berbunyi

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุจูุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุขุฎูุฑู ููŽู„ู’ูŠูŽู‚ูู„ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑุงู‹ ุฃู‹ูˆู’ ู„ููŠูŽุตู’ู…ูุชู’ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุจูุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงู’ู„ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุขุฎูุฑู ููŽู„ู’ูŠููƒู’ุฑูู…ู’ ุฌูŽุงุฑูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุจูุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุขุฎูุฑู ููŽู„ู’ูŠููƒู’ุฑูู…ู’ ุถูŽูŠู’ููŽู‡ู

[ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู…]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunyaย (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Mengutip kata Alm. Gus Dur “Gitu aja kok repot” ๐Ÿ™‚ iya sih pilihannya kan cuman dua diam atau say something good.

 

Cekrek!!! Memotret slide ketika kuliah, etis kah?


“Jadi kalau kalian foto itu semua slide, kalian beneran baca?” #tanyaserius

Image and video hosting by TinyPic

Mungkin jika saya kelak jadi dosen, hal pertama yang akan saya lakukan adalah: TURN OFF PROJECTOR! karena lama-lama kasus potret memotret slide itu semakin menyebalkan. Apalagi dengan hp jepang! Ya HP jepang, yang pasti bunyi ketika shutter ditekan =.=
CEKRIK!
CEKlek!
CEKROK!
JEPREEEET!
Wooooi! berisik!

Sebenarnya saya tidak bermasalah-masalah banget sih dengan orang-orang yang mengeluarkan hp mereka dan memotret seluruh slide. Mungkin ingin menyalurkan hobi fotografi atau memang sangat antusias dan ingin segera pulang ke rumah mencetak si foto dengan ukuran A0 dan memajang foto itu di kamar agar ngelotok di otak ๐Ÿ˜€ Semua kemungkinan bisa terjadi kan? Nah, masa iya menyalurkan minat dan bakat dilarang :’D Jangan iri dengki kamu, Mon!

Tapi kok saya lama-lama risih ya? Ini murni personal opinion loh ya… jadi tidak bermaksud mendiskriditkan siapapun.
Kata sensei saya, kalau mau mengkritisi sesuatu harus menjabarkan alasannya terlebih dahulu. Yo wis! Manut ae kalau ke Cencei mah.

1. Is that the way “today’s students” appreciate their teacher?
Saya pernah jadi mahasiswa nakal! Pernah sampai dikeluarkan dari kelas. Dibandingkan kalian, mungkin saya pernah jadi mahasiswa yang lebih buandel. Namun kemudian saya belajar, seiring dengan bertambahnya usia dan uban ya hahahhaha, bahwa bukan begitu cara menghargai orang lain. Setidaknya menurut saya.

Atau mungkin, ini sih saya saja yang “baper” karena sudut pandang saya sudut pandang introvert.

Image and video hosting by TinyPic

Saya sih jujur saja, jika saya mengajar di depan kelas… kemudian terdengar bunyi CEKLAK! CEKLEK! CAKRUK! aduuh saya kan jadi gak enak, jadi kalian merasa saya ini Kim Kadarshian?
karena saya jadi mikir kalian teh merhatiin gak? Ngerti gak? Bukan slide yang perlu kalian pahami, tapi pemaparan dan penjelasan yang disampaikan oleh orang yang sudah berbusa ngomong di depan kalian semua.

Yah mungkin hak kalian sih “Ih dosen sama guru tuh ngomong di gaji tau!”
Iya, betul… saya pikir kalau dosen mau kejam sih pamer muka aja…pajang slidenya terus bilang “Yak bocaaaah! foto nih, puas-puasin. Besok kuis!” selesai! Semua pun senang! Hahahahaha.
Saya ingat pernah suatu kali salah satu dosen saya bilang “Saya itu gak butuh kalian, kalian yang membutuhkan saya” sedikit mmmm… well agak manasin kuping sih, tapi yaaa emang iya sih hahhaa. We attend a lecture to absorb something that more than we can absorb just from read books or handouts, itulah fungsinya ada tenaga pengajar di depan hidung kita.

Kemudian saya berpikir dari sudut pandang guru. Sakit gak sih kalau udah berkoar-koar di depan kelas eh point of focus murid-muridnya adalah “menyalurkan hobi fotografi”. Nah… nah… pernah belajar TEORI KEBUTUHAN MASLOW? dua puncak tertinggi kebutuhan manusia itu adalah: Aktualisasi diri dan Penghargaan. Saya pikir menjadi pengajar itu bentuk aktualisasi diri yang bisa ditempuh seseorang, namun untuk sampai si puncak ini, seseorang harus mendapatkan “Penghargaan” terlebih dahulu… saya pikir penghargaan dari seorang pengajar salah satunya adalah penghargaan dan pengakuan dari murid-murid mereka.

Nah, kita kan murid-murid nih… iya gak sih? Katakan pada saya standar penghargaan kita terhadap guru itu yang benar seperti apa sih? Saya tidak tahu, mungkin standar saya terlalu old school.

Huuuuuu…. kuno lo, Mon!

Then, ok! let’s move on to another reason

2. BERISIK!!!!!!!! dan sorry to say MENGGANGGU!
Ya udah deh, saya ngalah… memfoto slide kuliah itu memang mahapenting. Namun saya tidak tahan dengan bunyi berisik gadgetnya. Apalagi handphone Jepang…. aduuuh itu bunyinya bisa satu kelurahan dengar. Mungkin beberapa orang tidak tidak masalah ya, tapi sayangnya saya ini manusia yang mudah terdistraksi, jadi yaaaa annoyed lah. Kadang saya sampai hitung loh berapa kali bunyi CEKREK handphone yang saya dengar pada saat kuliah.

Yah gitu doang… cupu sekali Anda Marissa.

Oh, bukan itu saja, Anda tentu paham jika Anda ingin mengambil foto slide, Anda harus mengangkat tangan Anda. Dan saya, si pendek ini, yang sukanya duduk di pojokan kelas, yang lebih suka mencatat, harus sabar menunggu lambaian tangan para fotografer. CEKREK CEKREK CEKRET. Yak! Selesai sudah kalian memotret, tangan turun…. dan yak! Slide pun berpindah halaman :’)

No prob…. sudah biasa~hiks.

Begini…
Ketika kita pergi ke Masjid saja, kita diminta mematikan atau at least silent mode si telepon. Kenapa? Kan handphone juga handphone kita… suka-suka kita dong!
Perlu saja jelaskan kenapa? Karena DIKHAWATIRKAN MENGGANGGU KONSENTRASI JAMAAH!
Siapa tau juga kan, Imamnya sudah sepuh… lagi mimpin shalat baca Ar-Rahmaan, eh tiba-tiba ada handphone bunyi, waaah…. bisa aja imamnya jadi buyar terus lupa “Waduuuh, ini Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban yang ayat keberapa nih?”
Bisa aja kan?

Maka saya pribadi berkesimpulan, kode etik itu sesungguhnya jadi latihan untuk kita semua dalam menghadapi the real life.
Bukankah hal seperti itu seharusnya membuat kita berpikir “Eh iya ya, kita itu harus meminimalisir kelakuan kita yang mengganggu orang lain” iya gak sih?
Karena tidak semua orang memiliki kondisi sebaik kita. Mungkin kita memang jenius, awesome, luar biasa, punya konsentrasi tinggi. Tapi di samping kita? di depan kita? belum tentu lagi.

Aduh saya jadi ingat kakek saya pernah bilang “In your life, jika kamu tidak bisa membantu orang lain, setidaknya jangan mengganggu atau merepotkan orang lain”

3. Are you really READ your photos?
Saya ini pencatat yang buruk. Catatan saya hanya saya yang paham. Di S1, tidak ada yang mau meminjam catatan saya karena 1.) tulisan saya jelek, 2.) catatan saya itu lebih berbentuk gambar dari pada tulisan. Alhamdulillah sih jadi gak ada yang minjem AHAHAHAHAHAHAA. Masih ingat kah kalian nasib para manusia dengan tulisan bak mesin tik? Catatan mereka selalu berakhir di tukang fotokopi :’P

Image and video hosting by TinyPic

Namun apapun ceritanya, mencatat itu lebih baik untuk mengingat apa yang sudah kita pelajari. Saya misalnya, walaupun seringkali FAIL, tapi saya pasti ingat “Eh iya itu loooh…. aduuuh yang pake stabilo ijo! Aduh yang minggu lalu, gw nulis kok kalau gak salah ini deh *lalu nulis random dan mengarang bebas* ”

Tapi foto? Mau kalian apain? di pajang di Path?
Pernah suatu hari, ketika saya masih menjadi asisten dosen, murid saya curhat “Kak, catatan saya hilang”
“Hah, kenapa? kok bisa? Kehujanan?”
“Bukan, Kak…. hp saya di reset ulang gitu”
Zzzzzzzz….. =.=

Saya sih yakin beberapa di antara kalian memang by default pintar dan rajin, jadi si foto itu kalian pelajari. Tapi, ingat jika kalian ingin ngiket itu ilmu, pengen gak mau ilang, maka CATAT. Foto mah, sekali reset ilaaaaang!
Ingat deh Ikatlah Pengetahuan dengan menuliskannya”ย  begitu kata Sayyidina Ali bin Abi Talib.
jadi if it is possible, at least catet apa aja lah hahahhaaha :’D

demikian alasan saya.
Namun saya menyadari ini juga bukan sepenuhnya kesalahan para murid sih. Beberapa memang terpaksa karena gurunya kadang pelit berbagi literatur atau handout yang perlu dipelajari lebih lanjut. Jadi mmmm… punten loh ini Pak…. Bu….
jika boleh, izinkan kami memperoleh seluruh bahan material kuliah sebelum masuk kelas.

“Lha, emangnya kamu baca, Mon?”

hehe… gak juga sih :p kan saya kadang bandel. Tapi setidaknya itu mengurangi alasan pembenaran diri bagi kami para murid yang kadang suka keterlaluan males dan bandelnya ini :’)
Sungkem saya untuk semua guru-guru yang saya hormatiย  ๐Ÿ˜€

 

Kajian Eksklusif: Sedikit Berbincang Tentang Rokok


“Jadi, Mon, lo kan sekarang udah master di environmental economics… jadi harga rokok itu perlu naik gak?”

Waduh, sekalinya ada yang nanya ke saya kok ya berat-berat banget hahaha. Saya tidak bisa menyimpulkan secara akurat ya, ini sih perlu kajian lebih mendalam terutama masalah elastisitas permintaan and penawaran rokok itu sendiri. Kalau misalnya permintaan rokok itu relatively inelastis, yaaa sampai ladang gandum dipenuhi cokelat sih menurut saya masyarakat tetap cuek dan akan terus mengkonsumsi rokok walau harganya naik. Yaaah nanti lah ya saya terangkan kurvanya.

Tapi supaya tidak penasaran, ya udah mari kita bandingkan fenomena rokok di Indonesia dan di negara lain terutama di Jepang. Biar gak penasaran kan ;D.

Let’s check this out!

Rokok di Indonesia
Image and video hosting by TinyPic

Bangsa Indonesia itu smokers by culture. Sama halnya seperti mengapa makanan di jawa tengah kok relatively manis-manis? Karena dulu ketika kita masih dijajah daerah Jawa Tengah adalah sentra perkebunan tebu. Naaaah! Sama seperti tembakau, ketika kita dijajah, petani harus menanam tenaman perkebunan bernilai tinggi mulai dari rempah-rempah sampai tembakau. Yaaaa kita kan gak dijajah sebentar, tanaman perkebunan itu menjadi bagian dari kultur masyarakat kita. Kalau ada hajatan, pasti ada rokok…. kalau ada kenduri di kampung-kampung, biasanya sih ada suguhan rokok… mau bangun rumah dan mempekerjakan orang, harus ada uang rokok… yang lebih kasihan lagi sih rokok juga menjadi bagian dari sesajen :’D agak kasian sih sama roh halus yang pasti zonk cuman kebagian rokok siapa tahu kan mereka sebenarnya rindu nasi liwet atau rawon hangat.

Dari sudut pandang sosial sih jujur aja menurut saya ini pekerjaan maha dahsyat menurunkan konsumsi rokok di Indonesia. Gak cukup, yo wis ekonomi lah sedikit.ย  Sewaktu saya turun lapang ke daerah Jember, Jawa Timur, petani-petani banyak yang beralih dari menanam tanaman pangan menjadi menanam tembakau karena harganya lebih stabil (dan tentu lebih tinggi) dibandingkan harga tanaman pangan. Kalau sudah begini kan pemerintah juga tidak bisa larang, kecuali pemerintah melakukan regulasi pasar dan menstabilkan harga hasil tanaman pangan. Kalau gak bisa? Ya susah juga sih ๐Ÿ™

Belum lagi ada yang pernah bilang ke saya “Kebohongan seseorang yang paling dusta itu ‘gw akan berhenti merokok‘”, karena rokok itu membuat ketergantungan dan addiction. Perokok mulutnya asem dan bisa-bisa keliatan sakaw kalau tidak merokok. Perokok sejati itu kalau sudah addict kayaknya hanya maut atau cinta sejati yang bisa menghentikan mereka merokok deh. Yang lebih LUAR BIASA lagi, masyarakat miskin Indonesia juga ada yang merokok, dan mereka lebih memilih merokok daripada makan. Kita sih yang bukan perokok mah bisa aja bilang “Kalau uangnya dipake buat beli batako daripada beli rokok, udah jadi tuh satu rumah” tapi kalau sudah kadung kecanduan rokok mah, gak mikir lagi :’D

Apa-apaan ini, Mon! Lo mendukung produksi rokok… lo…lo…lo bener-bener keterlaluan

Sabar-sabar… saya sih anti rokok, saya punya masalah di saluran pernafasan jadi jangankan rokok, debu pun saya anti. Tapisaya pikir kita harus melihat masalah ini dengan mata yang dibuka lebar-lebar. Sebenarnya apa sih yang paling annoying dari rokok? Pertama menurut saya adalah ASAP-nya dan konsumsi rokok bagi anak dan remaja di bawah umur.
Jika kita belum mampu lawan si industri rokok yang guedeeee ini, lawan hal-hal yang masuk akal bisa kita lawan dulu deh.

Beberapa dari kita masih terlalu baik hati pada perokok, bahkan jika asap rokok itu memapar ke diri kita bahkan anak-anak di sekitar kita.
Beberapa dari masyarakat kita juga bahkan ada yang membiarkan anak mereka merokok hanya agar mereka “gak rewel”
Kita masih masa bodoh ketika ada anak-anak yang membeli rokok di warung-warung.
Masih ada orang tua yang merokok di depan anak-anaknya.

Saya berpikir mungkin kita perlu lebih “galak” untuk masalah ini. Bakal keliatan bawel dan nyebelin bagi beberapa orang sih, tapi yaaa harus.

Rokok di Jepang

Dengan penghasilan minimum masyarakat Jepang yang 200rb yen/ bulan (sekitar 25 juta IDR) harga rokok yang sekitar 400 yen sih sepertinya receh banget.
Image and video hosting by TinyPic

Sepengetahuan saya sih perokok di Jepang juga banyak, bedanya di Indonesia: 1. Tidak ada yang merokok sembarangan, dan 2. Tidak ada perokok di bawah umur. Salah satu cara meminimalisir perokok di bawah umur (di bawah 20 tahun) adalah dengan adanya IC card bernama TASPO (Tobacco Passport). Tanpa keberadaan Taspo ini kalian gak bisa beli rokok di vending machine.
Image and video hosting by TinyPic
Cara yang paling gampang untuk membeli rokok ya di convenient store. Kalau kalian mukanya boros dan keliatan lebih dari 20 tahun sih kalian akan lolos beli rokok hehehehe, tapi tentu petugas convenient store tidak akan memberikan si rokok kepada anak-anak.

Selain itu, orang Jepang itu entah kenapa ya kok taat-taat aja gitu sama peraturan. Mereka tidak akan merokok di tempat selain tempat-tempat yang disediakan untuk merokok (smoking area).
Image and video hosting by TinyPic
Mungkin gak segitu tulus-tulusnya sih mentaati peraturan :p karena kalau mereka kepergok melanggar peraturan dan merokok sembarangan, hal terapes yang mungkin terjadi adalah terkena denda double: denda karena merokok sembarangan dan denda buang sampah sembarangan karena hitungannya lempar abu rokok dan putung rokok sembarangan :’D dendanya tentu lebih mahal dari rokoknya.

Perokok di Jepang juga sebenarnya relatively “lebih sehat” dibandingkan perokok lainnya di dunia karena mereka punya “detox culture”, makannya ikan… minumnya teh hijau… yaaa kedetox deh itu si para racun dari rokok dan rokok mereka semuanya berfilter pula. Belum lagi banyak aturan dimana-mana. Selain itu sebagai negara maju yang makin sadar betapa mahalnya sehat… kesadaran untuk mengurangi konsumsi rokok muncul sendirinya. Yang lebih lucunya lagi, konon (ini konon)…. pernah ada survey yang dilakukan oleh sebuah universitas di Jepang dan mereka bikin survey “Apakah kalian mau menikahi pria perokok?” dan lebih dari 50% menjawab NO! Ahahahahhaa kalau itu benar….ย  maka menjadi JOMBLO rupanya lebih mengerikan daripada bahaya rokok :’D ini bisa ditiru loh.

Sudut Pandang Ekonomi

Jadi gimana si rokok ini dari sudut pandang ekonomi?
Sekali lagi, saya tidak tahu elastisitas permintaan dari rokok… namun jika saya benar saya asumsikan bahwa elastisistas permintaan rokok di Indonesia ini relatif INELASTIS, hal ini didasarkan pada laporan BPS bahwa bagi beberapa masyarakat Indonesia rokok adalah “kebutuhan pokok”.

Barang-barang dengan permintaan yang inelastis itu “Perubahan permintaan lebih sedikit dibandingkan perubahan harga.” Artinya, jika harganya berubah sekalipun, orang cenderung akanย  tetap membeli barang tersebut. Jika itu benar, maka kalau harga rokok mau naik misalnya sampai 50 rb sekalipun… orang tetap akan membeli rokok. Industri rokok akan semakin happy. Penerimaan cukai rokok pun aman.
Saya pribadi merasa kita semua “dibegoin” saja dengan isu kenaikan harga rokok yang hits akhir-akhir ini. Dengan diisukan harga rokok akan naik, para perokok akan langsung berbondong-bondong menimbun rokok :’D eh rupanya gak… ahahahah kecele deh.

Beda cerita jika rokok itu rupanya elastis. Ketika harga berubah, demand juga langsung berubah drastis. Ketika harga rokok naik menjadi 50rb misalnya, orang-orang jadi enggan membeli rokok. Karena saya pembenci rokok sih, ya alhamdulillah ya hhhahaha.ย Lalu bagaimana dengan cukai dan para petani tembakau, dan para buruh rokok? Nah di sini peran pemerintah diperlukan. Harus ada sektor lain yang bisa mengalihkan daya tarik industri rokok. Apa itu? Lagi-lagi saya pikir harus ada penelitian yang mendalam untuk ini. Tapi karena saya pernah ke lapang, petani itu mau loh menanam tanaman pangan dan tanaman perkebunan lain kalau harganya stabil. Ini kan petani ada yang convert ke tembakau karena ketika mereka menanam tanaman pangan harganya jatuh setengah mati ketika panen raya.

Begitu pula para pekerja di industri rokok. Industri rokok kita itu menyerap tenaga kerja lumayan tinggi loh, apalagi untuk yang rokok linting. Jika ada industri yang bisa menawarkan lapangan kerja dan upah yang gak kalah dari industri rokok, saya rasa mereka pun rela untuk pindah.

Ini kan masalah perut. Dan ingat juga! Supply itu ada ketika ada demand. Industri rokok tidak akan berkibar jika permintaan rokok di negeri kita tidak tinggi.

Dan masalah nyali pemerintah juga, benar-benar ikhlas tidak kehilangan industri rokok? Benar-benar serius tidak memerangi rokok? PD tidak dengan sektor lain yang bisa memberikan penghasilan lebih daripada rokok dan tembakau? Butuh keikhlasan loh membuat perusahaan besar macam Phill*p M*rris dkk untuk hengkang dan mencari tempat kekuasaan lain. Mereka itu pindaaaaah dari Amerika ke Indonesia karena indutri rokok di negeri mereka sudah tidak menguntungkan dan penuh regulasi… dan mereka liat di Indonesia regulasinya sedikit, ya happy lah mereka usaha di sini.
Terserah pemerintah deh sekarang.

Kalau kemudian itu masih susah dan kita juga hanya punya dua tangan dan uang pas-pasan untuk melawan industri rokok. Maka kita hanya bisa menasehati perokok untuk merokok di tempatnya. Dan sayangi anak-anak deh, jangan sampai mereka terpapar asap rokok. Asap rokok itu bukan hanya buruk untuk kesehatan bisa menurunkan tingkat kecerdasan juga loh. Didik juga anak-anak hal-hal yang lebih useful misal nyapu, ngepel, dan nyetrika biar bisa bantu-bantu misal science dan hal-hal keren lainnya dibandingkan disuruh membeli dan mengkonsumsi rokok.

Yo wis lah jika kalian merokok, tapi bertanggungjawablah atas perilaku tersebut. Merokok di tempat merokok, dan jangan ganggu orang lain yang tidak merokok dengan asap rokok tersebut.

Gitu lah ya ๐Ÿ™‚