Sekilas kritik untuk Negeri “Cuitan”


Saya teringat salah satu tuitan Sudjiwo Tedjo (I should tell I really like his point of view)

13398994_1186105991433852_1525162985_n

“Lama-lama orang malas romantis, karena takut disebut galau. Malas peduli, takut disebut kepo. Malas mendetail, takut dibilang rempong.
Malas berpendapat, takut dibilang curhat. Malas mengubah point-of-view saat debat, takut dibilang labil”

Mungkin jika tuitan itu ditulis di masa-masa ini mungkin akan ada tambahan “Lama-lama malas mengkaji agama, karena takut dianggap menistakan agama. Lama-lama malas berpolitik karena takut masuk penjara” terus begitu hingga ladang gandum dipenuhi coklat.

Guys! Wake up… kok kita mulai memperumit segala aspek dalam kehidupan kita sih, segala aspek yang yaaaa kita-kita sendiri ini yang bikin. Bikin masalah sendiri, mengkritik sendiri, marah sendiri, loh… maunya apa?

Ratusan kilometer dari tanah air, saya merasa mengapa Indonesia kok “mumet”. Saya ingat sahabat saya sampai bilang “Ini sih, Mon…mungkin manusianya yang harus diganti.”
Maaf saja tapi menurut saya seluruh kasus yang sedang hangat di tanah air itu sebenarnya “Meh!”

Oke start from kasus penistaan agama dari pak Ahok. Sebagai muslim, well… saya harus bilang Ahok salah. Sungguh kasus keselimpet lidah Beliau sangat fatal. Apalagi di Indonesia. Loh Indonesia loh, beda “mahzab” atau “partai” antar dua keluaga saja dua sejoli bisa batal nikah kok. lha, ini bawa Al-Quran. yooo blas! Beliau salah, namun saya pribadi merasa yang terjadi kepada Beliau selanjutnya juga jadi tidak fair. Sudah diproses secara hukum kok, masih di demo, masih di caci, lah… kalau kita sibuk menyudutkan dan mengulang-ulang kesalahan Beliau, apakah itu membuat kita menjadi lebih baik dibandingkan Beliau?

Dan, mbok ya kalau tahu lawan itu cerdas maka berperanglah dengan taktik yang cerdas. Lhaaa… ini kesaksiannya cuman nonton youtube, buat laporan pun kompakan, piye? Salah pun kompakan. Lha… perang itu bukan hanya modal bismillah dan Allahuakbar, harus ada taktik, harus ada pemikiran, harus pengkajian… semua harus dilihat secara kaffah dan menyeluruh. Masih pakai demo segala. Ini logikanya dimana? Ya percayalah kepada para penegak hukum. Coba-coba-coba latihan….latihan HUSNUDZAN alias berbaik sangka.

Okay… mari kita biarkan penegak hukum bekerja secara optimal.
Eh tunggu! Memangnya bisa?

Ada yang bicara sedikit menyinggung agama, langsung dilaporkan ke polisi.. pasalnya tidak tanggung-tanggung “penistaan agama”
Ada yang update status kritik sedikit, itu juga dilaporkan ke polisi
Ada mantan pejabat iseng sedikit ngetwit, juga heboh dikomentari
Bahkan uang rupiah yang sudah didesain seindah mungkin oleh tim, dilaporkan ke polisi juga. Itu cetaknya aja udah susah. Masih baik hati BI mau mengomentari hal ini, kalau saya jadi gubernur BI sih “Yo wis lah… biarin aja mereka misuh-misuh ndak jelas.” mending ngurus harga cabe yang jelas-jelas lebih krusial dan terang inti masalahnya.

Besok-besok nasi basi pun jangan-jangan sampai ke polisi “Ini kasus penindasan rakyat oleh perusahaan rice cooker”
Besok-besok, saya yang sering salah melafakan ش, ص, ز,ذ juga akan dilaporkan ke Polres Bogor karena kasus penistaan agama “Ini loh, mbak Marissa, baca Quran-nya salah… bahasa Arab itu salah makhraj salah arti, penistaan agamaaaaaaaaa, digoreng di nerakaaaaaaa” Arggghhhhhhhh~~~
Lha, ini polisinya pun jadi capek fisik dan psikologis.
Orang-orang yang cerdas, pintar, tapi malas ribet juga akhirnya jadi mulai searching “How to change your nationality”, mulai searching biaya visa, join global online dating, dan tentunya tiket pesawat.

Mungkin saya terlalu “cuek”, terlalu liberal, terlalu cetek, apapun lah yang ingin kalian bilang. Tapi di tengah konstelasi global, ketika orang-orang bersaing untuk bekerja lintas batas. Kita? Kita masih sibuk di masalah spekulasi cuitan dan saling salah menyalahkan dibandingkan fokus menyelesaikan masalah itu sendiri. Kalian tahu gak itu seperti apa? Seperti dalam perlombaan lari, peluit sudah ditiup, yang lain sudah lari… kita? Kita masih sibuk menyalahkan sepatu “Ini gara-gara sepatunya nih, terlalu murah! Terus stripnya terlalu terang jadi bikin silau, yang jahit sepatunya pasti ingin saya celaka. Siapa? Siapa? Siapa penjahit sepatunya?
Ya Allah…

Saya selalu bilang orang Indonesia itu luar biasa baik hatinya. Dimana lagi di sudut dunia orang bisa selalu melempar senyum dan tawa even to the stranger. Cuma di Indonesia! Tapi ya kita sering kali mudah tersulut…mudah percaya… mudah terprovokasi…
Sering banget sih.

Fenomena ini kan sudah terjadi sejak lama sebenarnya. Beberapa dari kita seringkali malas membaca detil berita, tidak mencari tahu lebih dalam dari informasi yang kita dapat dari grup Whatsapp, LINE, dsb… lalu Voila! Share ke seluruh social media yang ada. Awalnya sih range kecil-kecilan, lalu lama-lama ketagihan, dan jadi ketagihan nasional… dan Bom! Sekarang masalahnya jadi besar kan? Munculah Pak Buniyani yang diikuti kasus-kasus lainnya yang sebenarnya ya gitu-gitu aja.

Saya pun heran mengapa media juga terkadang mengambi “cuitan” di sosial media sebagai literature review. Jurnal aja, jurnal akademik… kalau tidak terakreditasi masih harus diuji lagi kebenarannya, lha iki kutipan dari social media, yo ngawur ndak karuan wis. Itu sangat tidak ilmiah.

Aduh jadi capek marah-marahnya. Tapi serius, kenapa sih… kenapa kita begitu usil mengkritisi tanpa memberi solusi, mencaci dan menyalahkan tanpa saling mengingatkan. Kerajaan di Nusantara itu mayoritas bubar karena perang saudara, lha mbok ya sesekali belajar dari sejarah. Kalau tidak setuju dengan orang lain kan bisa “Witsss…. sebentar cuy! Kita agak berbeda perspektif nih bla bla bla”paparkan, jelaskan, diskusikan… ra usah misuh-misuh dikit-dikit twit, dikit-dikit curhat di socmed, dikit-dikit lapor polisi. Kan lebih sejuk.

Lalu harus bagaimana?
Mungkin sesekali kita harus matikan handphone dan TV gak usah lama-lama, setiap weekend aja, take your backpack and umbrella… dan lakukan semua hobi kalian selain liat handphone.
Coba cafe baru bareng sahabat kalian,
cuci baju,
tanam cabe di pekarangan rumah atau kacang ijo di kapas dan seperti layaknya bocah lugu yang antusias menunggu mereka tumbuh, atas ketawa konyol sendiri karena mereka secara misterius gagal tumbuh.
Baca buku yang benar-benar kalian mau baca
Bantu mama nyapu rumah
Shopping… atau berburu barang vintage
Journaling
Gangguin keponakan atau anak orang yang masih cilik dan lucu-lucunya tanpa perlu sibuk ambil foto dan upload ke social media
Ke ATM, transfer some money ke yayasan
Surprise visit ke rumah kalau kalian jauh dari rumah, plus bawa oleh-oleh yang mereka suka.
There will be lots of things you can do dalam waktu 24 jam tanpa melihat TV dan handphone sementara. Bukan berarti TV dan handphone itu jelek ya, tapi terkadang kita hanya butuh sedikit detox sih dalam hidup. Go outside and see everything from another perspective.

Jalan dan ngobrol bareng lah sama orang yang wawasannya luas dan menyenangkan, berdebat secara sehat… lalu ketawa bareng. Belajar untuk saling menghargai pendapat bahwa beda pendapat itu oke loh, menambah alternatif sudut pandang, dan itu membijaksanakan kita karena kita jadi “ngeh” oh iya yaaa pandangan gw belum tentu sama dengan orang lain.

Dan yang lebih penting lagi… sebelum klak klik submit atau share berita/komen/opini/foto/dsb. Baca dan liat lagi, kenceng-kenceng kalau perlu… pikir dan renungkan dengan otak dan nurani yang udah Tuhan kasih kepada kita apakah hal tersebut baik untuk disampaikan atau tidak. Kalau rupanya jelek, yaaaaa udah… delete lagi. Seberapa penting sih memang “eksis” di dunia maya? Menurut saya sih itu sesuatu yang semu dan gak penting.
Lagipula ada hadist yang berbunyi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Mengutip kata Alm. Gus Dur “Gitu aja kok repot” 🙂 iya sih pilihannya kan cuman dua diam atau say something good.

 

Dear media and netizen, kindly stop HOAX! : Mengenai kasus bocah yang diduga mengalami gangguan jiwa karena terlalu diforsir


Singkat saja sebelum saya kembali ke lab.
Jadi hari ini saya melihat berita ini di berbagai social media yang mendadak saya buka kembali -.- sebuah keputusan tidak bijak karena seperti yang saya duga rasanya saya mau ngomel2 setiap melihat social media berlebihan. Berita hari ini yang saya lihat adalah, ini:

ya tentang anak kecil yang diduga mengalami gangguan kejiwaan karena terlalu diforsir les aneka rupa.
Image and video hosting by TinyPic
Aduuh silakan deh di search sendiri di google.

Saya sih udah jengah ya dengan berita di media, saya bahkan tidak percaya dengan hasil penelitian saya ahahahhaha apalagi berita di media yang menurut saya butuh further confirmation.

Penasaran dengan kebenaran berita ini, saya mengecek ke google DAN RUPANYA, berita yang serupa sudah ada sejak tahun 2014.
Gak percaya? ini diaaaa!
Image and video hosting by TinyPic

dan kemudian dikonfirmasi pada tahun yang sama di republika kalau ini HOAX!
Image and video hosting by TinyPic

Saya tidak cut yaaaa link dan tanggalnya, jadi bisa kalian cek sendiri.

Baiklah, kita jadi belajar ya jangan memforsir anak-anak kita. Jangan terlalu ambisius lah intinya.

namun lebih dari itu, saya merasa berita kali ini sangat kejam! SANGAT KEJAM! Dan saya sangat kecewa kepada media yang tidak cek and ricek dalam menulis berita ini.

1. Foto anak kecil dalam berita ini; ini kejahatan paling luar biasa! first, kalian bisa lihat bahwa latar foto ini bukan di rumah sakit jiwa. Ini di sebuah supermarket saya rasa. Second, sangat disayangkan foto anak ini tidak diburamkan. Eh! Anak ini punya privacy! Terbayang tidak jika orang melihat anak ini kemudian langsung menjudge “Ih ini anak yang gangguan jiwa itu kan?”
Dan jika saya orang tuanya, saya akan sangat sakit hati dan tersinggung. Saya berani menggunakan jalur hukum untuk menggugat kalau saya bisa membuktikan bahwa ini semua hoax!

Ini kejem banget loh. Coba kalian, misalnya kalian udah jadi mommy nih… punya anak imut, kalian hobi share foto doski. Nah suatu hari kamu share foto kalian lagi meneteskan air mata karena pada saat itu adalah saat pertama anak kamu mengucapkan kata “Mama” misalnya.
Eh, tiba2 ada orang yang tidak bertanggung jawab menggunakan foto yang sesungguhnya bahagia itu, untuk berita “Seorang Ibu tak berhenti menangis karena anaknya terkena gangguan jiwa”
Ih kalau saya… saya sih bakal sakit hati banget!!!!! Itulah kenapa saya bilang, kalau saya jadi ibu di foto itu… saya tuntut media melalui jalur hukum.

2. Diksi! Jika dan hanya jika berita ini misalnya benar… saya menyesalkan penggunaan diksi beberapa media dan netizen yang bilang anak ini “Gila”. Saya pikir kita terlalu kejam ya dengan orang yang mengidap gangguan kejiwaan. Jika penyakit ini benar terjadi, saya pikir yang terjadi adalah semacam schizophrenia. Tapi orang dengan gangguan seperti itu bukan untuk digosipin loh, tapi harus diobati.Kalian tahu John Nash? Dia terkena schizophrenia… tapi dia bisa menemukan teori Nash Equilibrium. Beruntunglah Nash, karena dia bukan berada di Indonesia saat itu, kalau di Indonesia jangan-jangan daripada menemukan Nash Equlibrium, Beliau malau dilempar sandal dan di bilang orang gila. Jadi saya pikir, aduh pakai hati sedikit deh dalam memilih kata…

3. Minimnya kaji fakta oleh beberapa media dan netizen. Saya masih bisa memaklumi netizen yang khilaf dalam menshare berita yang rupanya hoax. Tapi media? Saya pikir bekerja di media adalah sebuah pekerjaan terhormat, berbagi informasi relevan pada khalayak. Ini? Kok bisa-bisanya beberapa media asal tulis sesuatu yang trend di social media? Loh… kajian Anda di mana? Anda sudah bertemu sumbernya langsung? Bagaimana Anda tahu itu benar atau tidak?

Oh Marissa… inhale~~ exhale~~~

Kembali saya teringat pada perkataan teman saya, “Kalau misalnya sudah sampai at least bikin skripsi aja… kan pola pikir kita harusnya sudah one step ahead berpikir ‘oh kalau bikin sesuatu itu harus base on data dan fakta ya’ kayak gitu loh”

Saya juga teringat seorang teman saya bilang “Ih, Mon… kelak kalau gw jadi Ibu nih, kayaknya gw ogah banget nyebar foto anak gw too much di social media. We never know apa yang orang lain pikir di luar sana. Kita gak tau apa yang orang bisa lakukan dengan foto itu”

Jadi bagaimana ya…
Okay begini, yuk… kita bijaksana dalam memilah berita. Cek and ricek apakah ini benar, gunakan 5W 1H. Apa sumber berita itu jelas? Apa berita ini relevan? Apa masuk akal?

Dan *oh I know you will say bagaimana bisa jomblo akut ini bisa bilang seperti ini*
Jangan terlalu banyak share foto anak kalian di social media.
Bahaya, kawan….
Saya paham kok betapa bahagianya kalian punya baby kan, saya juga kalau saya punya nanti kayaknya memory card camera abis deh. Tapi mulai pilah mana yang harus jadi koleksi pribadi dan di share ke social media apalagi jika social media kalian juga dipenuhi akun orang yang kalian gak kenal atau gak terlalu kenal. Bukan suudzon, tapi mungkin kita harus lebih waspada. Tidak semua orang baik hati bukan? Iya… jangan-jangan saya juga tidak sebaik yang kalian kira :p so, it is better to be careful.

Waspadalah…
Waspadalah…

Udah ah saya balik lagi ke lab ya~ Dadagh!!!!!

Love,
Marissa

Yang annoying di social media… Grrrrrr!


Haiiiiisssssh…. ini kok saya nulis minggu ini kok penuh complain ya hahahahaha. Maaf ya pembaca yang baik hati. Habis kalau bukan saya yang complain, siapa lagi? Biarlah citra saya yang selama ini emang rada ketus untuk beberapa hal disekaligusin aja lah, tanguuuuung bro! Hahahahahaha….

Baik apa pembahasan kita kali ini? Kita akan bahas hal-hal annoying di social media! Hiyaaaaaa…. saya sendiri kadang kalau BT banget dan udah bikin emosi, langsung saya sindir atau saya unfollow sekalian hahahaha. Jahat banget ya? Memutus tali silaturahim gak sih? Tapi saya gak nggak butuh juga mengetahui segala kehidupan personal orang tersebut.

Hah? kehidupan personal? maksud lo, Mon? Haiiiiisssh….. baik deh kalo gitu, baca dulu sampai abis ya.

Ini dia hal-hal annoying di social media yang telah saya rangkum seenaknya:

1. Public Display of Affection (PDA)  di Social Media
Apa itu Public Display of Affection? Secara sederhana itu adalah pamer kemesraan di depan umum, supaya dunia tahu bahwa lu sama pasangan lu adalah pasangan terbaik di muka bumi! Kalau udah nikah sih masih mending lah ya boleh lah sesekali, tapi kalau masih pada level pacaran dan masih ada peluang putus mah yaaaah jangan aneh-aneh deh, yang ada kalau bikin jengkel kan orang-orang jadi doa ya “Ya Allah… semoga putus aja deh, abis mereka kampungan sih” ahahahha atau saya aja ya yang mikir gitu hahahhaa…

PDA di dunia nyata sendiri sudah sangat nyebelin, bahkan sampai ada yang bikin videonya loh! Gila kan… puja puji kepada yang bikin video ini, bener-bener saya dukung dengan sepenuh hati.

Tragis kan? kebanyakan dari kita *mungkin yang baca blog ini aja sih* biasanya jadi orang ketiga dalam video ini huhuhuhu. Saya sih jelas selaluuuuu jadi orang ketiga dengan tragisnya. Tapi jangan sampai deh saya jadi orang pertama dan kedua hahahaha… norak.

Nah, kalau di socmed tentu gak kalah annoying! tanda-tandanya biasanya diawali dengan MENGGANTIKAN FUNGSI HP DENGAN SOCIAL MEDIA! aduuuuh demi apa deh, ini bener-bener malesin banget.

Derpina: @Derp Sayang kamu udah makan belum?

Derp:     Belum sayang, aku agak pusing, kayakny aku masuk angin deh RT @Derp Sayang kamu udah makan belum?

Derpina:  Ya ampun,semangat sayang. Kamu harus minum obat RT @Derp Belum sayang, aku agak pusing, kayakny aku masuk angin deh

Derp:     Iya sayang,prhatian kamu udah obat buat aku RT @Derpina Ya ampun,semangat sayang. Kamu harus minum obat

Derpina: Tp kamu harus sehat. Klo kmu sakit aku sedih 🙁 RT @Derp Iya sayang,prhatian kamu udah obat buat aku

Dst….
Ya Allah… kampungan banget gak sih? Jujur aja, apa urusan saya sebagai pengguna social media untuk tahu ayangnya si Derpina masuk angin? untuk apa juga saya tahu kalau mereka saling sayang dan si Derpina hancur berkeping-keping ketika Derp masuk angin. Jujur aja saya GAK NANYA dan GAK MAU TAHU. Koreksi saya jika saya salah atau saya begitu bodoh, hal seperti itu bisa mereka lakukan dengan pakai sms, whatsapp, line, atau hal-hal lainnya yang bersifat lebih privat kan? Iya gak? Yang merasa gak sreg dengan kritik saya ayo caci saya, maki saya, tapi setidaknya saya masih cukup pintar membedakan fungsi alat komunikasi dan social media. Kadang saking geramnya saya sampai mau ngirim pulsa sms ke muda-mudi tipe norak seperti ini… untung Allah membuat kantong saya gak tebal *tebal sih sama kertas gak jelas* jadi hal ini nggak terlaksana.

Yang bikin geram lagi kalau dua sejoli ini pamer kemesraan di social media, kayak:a. Upload foto mereka berdua setiap hari, atau lusinan foto dalam satu hari penuh! –> Kalau satu-dua sih saya gak terganggu ya. Tapi kalau sampai buanyaaaaaak banget…. diupload tiap beberapa menit sekali… atau upload foto mereka tiap hari, jujur aja bagi saya itu konyol. Buat apa saya liat foto mereka setiap saat? Apakah bernilai seharga cek miliaran rupiah? Nggak juga? Gak guna kan? oh bye… mereka bilang kalau saya complain saya gak usah liat. I do it! Beberapa sudah saya unfollow -.- setelah di unfollow saya kena cerca juga katanya gak ngerti cinta sejati… sirik karena saya masih jomblo… I proud to be jomblo selama saya gak terlihat bodoh.

b. Salah pakai istilah –> “Happy anniversary yang ke 10 sayang….” *tentu ditambah upload foto mesra mereka berdua dong*. Widiiiih, keren banget anniversary yang ke 10, saya kan takjub ya… sambil mikir, wah masa sih? pas di cek lagi “Happy anniversary yang ke 10 sayang…. senang sudah menjalani ini semua bersama kamu 10 bulan terakhir ini” Owalaaaaaaah…. mungkin ya kalau mau mesra juga harus agak ilmiah sedikit. Namanya juga anniversary, anniversary itu buat tahunan bukan buat bulanan! Gak percaya?

Cek kata om Wiki:
An anniversary is a day that commemorates or celebrates a past event that occurred on the same date of the year as the initial event. For example, the first event is the initial occurrence or, if planned, the inaugural of the event. One year later would be the first anniversary of that event. The word was first used for Catholic feasts to commemorate saints.

c. Nulis/ Kuote kata-kata galau atau romantis terus di cc ke-pasangannya –> lagi-lagi, satu atau dua masih bisa ditolerir, tapi kalau full tiap detik hal yang dilakukan itu. Oh my… saya udah gak sanggup lagi. Ampun…. ampun… ampun… please jangan siksa saya lagi. Beneran deh, socmed kan bukan punya kalian aja.

2.Pamer kekayaan *Iyaaaa deh yang tajir*
” Alhamdulillah… rekening sekarang udah dua digit 🙂 “
” Untunglah… gaji saya lumayan dulu, 4 kali di atas UMR jakarta” <– jujur aja langsung saya itung loh hahahaha
“Sekarang saatnya beli tanah dan properti, Alhamdulillah” <– siapa? Siapa yang nanya? hahahahaha.
“Sudah pakai aypong 5 nih… horeeeee”
Dsb
Dsb

Paman Gobeeeerrrrr :D

Paman Gobeeeerrrrr 😀

Ini apa saya yang kelamaan nongkrong di socmed ya? Kok sampe saya baca juga status-status gak mutu kayak gitu. Jika menurut Anda nggak masalah, saya pun begitu. Tapi bukankan ketika kita bertindak harus ada kode etiknya? Saya turut bahagia ketika kalian sudah punya pendapatan yang Alhamdulillah… atau sudah mampu beli ini itu sendiri. Tapi pernah gak… sediiiiikiiit aja kepikiran bahwa tidak semua orang di sekitar kita itu seberuntung kita. Ada dua kemungkinan, Anda memang ada di lingkungan yang mapan *sehingga hal kayak gitu adalah hal yang biasa, yaaah maklum lah tajir gitu loh* atau kalian tidak tahu sepenuhnya kondisi rekan-rekan kalian. Apa kalian ngeh ada teman kalian yang mungkin sedang pusing dengan masalah finansial mereka? Apa kalian peduli?

Yaaaa kalau kalian kaya sih, hak Anda ya… toh uang juga uang Anda. Tapi entahlah… kalian masih punya hati atau gak. Hahahahahhaha…..
Harta itu titipan lagi, itu punya Allah… kalau ada orang yang murka dan sebel ke kalian, complain ke Allah… lalu Allah acc complain orang tersebut, bisa-bisa harta kalian ditarik! Mau? Saya sih ogah… hahahhaha. Eh bukan nakut-nakutin loh, sok mangga kalau mau nyoba sih :p

Saya penggemar Paman Gober sejak saya kecil, sebel sih karena dia pelit. Tapi coba deh baca… walau kaya dia masih berusaha tampil sederhana dan kalau mau pamer paling juga ke Donal Duck yang notabenenya keluarga sendiri. Gak ke orang lain kan? Yaaah mungkin Paman Gober jauh lebih baik daripada yang suka tukang pamer di socmed hahaha.

3. Pamer Penderitaan
Kenapa kita harus bangga ketika kita menderita ya? Putus cinta… disakitin orang… bos yang nyebelin… kehidupan yang sulit… kerjaan yang belum beres-beres… dsb!
Saya pernah loh pamer penderitaan kayak gini, sering malah kayaknya hahahahaha… tuh kan saya ngaku! Saya mah kalo emang pernah norak ngaku kok. Tapi setelah saya pikir-pikir, lha kok gw bangga ya sama penderitaan gw? Owalah…..!

Saya lalu mulai berdiam diri, lalu menatap timeline, memandang orang-orang yang melakukan kesalahan yang serupa. Rupanya nyebelin banget ya. Ya kalau mood kita lagi baik sih mungkin biasa aja, tapi kalau lagi mood lagi jelek…. liat orang ngeluh di socmed, aduuuuuh rasanya DHUAAAAAR… rasanya pengen datengin langsung orangnya terus bilang “Heh! Bukan lu manusia yang paling menderita di muka bumi ini! Masih banyak yang kehidupannya lebih berat dari lu”

Buat yang udah terlanjur melakukan hal ini… sudahlah, pintu taubat masih terbuka hahahaha. Cara pertama, ibadah! Curhat ke Tuhan. Kalau saya biasanya ke masjid dan berdiam diri sejenak. Oiya, jangan baca socmed dulu selama berdiam diri ya. Kedua, curhat ke orang terdekat. Kalau saya punya “korban” yang selalu kenaaaa aja kalau saya uring-uringan *huhuhu, maaf ya 🙁 * kasihan sekali. Tapi biasanya itu membuat lebih baik. Ketiga, make your self happy! Kalau saya… obat kegalauan saya ada makan dan baca buku. Jadi selama ada es krim, makanan enak, dan buku yang seru…. insya Allah otak rada cling lagi. Keempat, solve your problem! Masalah bukan buat dicaci maki, tapi buat diselesaikan. But never make decisions when you’re mad… tunggu tenang… tunggu udah rada happy… baru deh solve your problem.

4. Reklame kampanye
Menjelang 2014… beberapa simpatisan partai politik mulai heboh berkampanye ria. Dan jujur, saya pikir spanduk kampanye hanya menjengkelkan karena merusak pemandangan alam, rupanya juga merusak pemandangan timeline social media kita.

“Ya ampuuuun, Pak XX, penuh prestasi selama menjabat… layak jadi presiden Indonesia”
“Subhanallah… partai XX memang yang terbaik dan istiqomah membela kebenaran”
“Pak XX, mantap nih kalau jadi presiden gak akan malu-maluin”
“Kalau Indonesia dipimpin sama pimpinan partai XX, pasti deh bakalan maju”

Ya ampuuuun… tim sukses jangan nyebelin dong. Jujur aja tuh saya gak peduli dengan pandangan politik kalian! NGGAK PEDULI SAMA SEKALI… apalagi kalau udah menjurus ke narsistik dan mulai ngejelekin pihak lain, aduh… minta diketok

“Memang banyak yang memfitnah partai kita, tapi mereka tidak melihat Indonesia maju karena jasa kita selama ini. Biarlah Allah memberi hidayah kepada mereka semua yang tidak memahami eksitensi kita bla bla bla”

Eh… permisi, emang Allah peduli dengan Partai Anda. Masuk surga juga gak akan ditanya kita partai apa hahahahaha… cabe deh.

Jika Anda baik, percayalah dunia yang akan menilai Anda. Selesai!

5. Terlalu banyak upload foto selfie
OTW ke Bandung —> upload foto selfie
Mau ke Kantor –> upload foto selfie
Di Malang, brrrrr dingin —> upload foto selfie
Indahnya Indonesia Raya –> upload foto selfie lagi

Huwaaaaduuh!
Saya ada penggemar fotografi. Saya juga gak bermasalah dengan foto selfie… saya bahkan sering juga melakukannya tapi gak semuanya di upload, hanya dipilih yang bener-bener representatif untuk profile picture. Wajar lah manusia suka difoto…
Tapi kalau tiap saat upload foto selfie waduh! Gak apa sih… cuman kadang suka gak ada keterkaitan antara judul foto dengan fotonya. Lagi cerita otw di pameran bunga misalnya eh terus foto yang diupload foto dia, lha bunganya mana? atau dia adalah produk yang dipamerkan?

Lagian sejujurnya aja, maaf karena saya harus mengatakan kenyataan pahit ini, kayaknya orang lain juga gak butuh foto selfie kita banyak-banyak deh hahahahahaha… iya kan?

Dunia fotografi itu menarik banget. Saya bahkan sampai rela mau beli tongsis hahahaha… buat apa? Buat foto selfie dong! tapi apa semuanya mau diupload ke socmed? hahahaha… gak deh… gak PD. beberapa aja yang memang oke. Lainnya, hmmm mungkin orang lain ingin benar-benar menikmati hasil jepretan kita yang indah… bertema…. dan penuh makna. Picture speaks more than words! really? think again! Kalau semua picturenya selfie sih mmmm kayaknya gak begitu ya hehehe.

Huwaaaaaa demikian….
Udah ah, capek ngetiknya.
Jangan pada ngamuk ya… jika ada kemiripan dengan beberapa pembaca blog ini, saya mohon maaf karena saya toh tidak sengaja. Mungkin saya juga termasuk yang annoying di socmed hahahaha… ah mana saya tahu, tapi semoga saja tidak 🙂

Salam semangat di hari hujan…