Sedikit cerita dari Tsukuba: ketika orang Jepang lebih mengimplementasikan hadist rasul dibandingkan kita semua.


“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)
 
kalau tahu himbauan itu berasal dari hadist, dalam bayangan saya seharusnya orang-orang di negara Muslim gak sulit untuk diminta diam di rumah dan tidak mudik terlebih dahulu.
 
Fun fact: Rupanya masyarakat Jepang lebih aware dalam “menerapkan hadist” ini. Setidaknya ini yang saya lihat di Tsukuba.
 

beberapa minggu terakhir, kasus Covid19 di Tsukuba meningkat cukup cepat. Sampai saat ini, setidaknya ada 7 orang yang terserang di Tsukuba. 5 orang sekeluarga, 1 orang guru dansa dari Italia, 1 orang yang bekerja di Tokyo. Pemkot Tsukuba langsung mengeluarkan imbauan untuk kami yang tinggal di Tsukuba agar tidak bepergian keluar Tsukuba dan yang tinggal di luar Tsukuba untuk tinggal di rumah hingga 2 minggu ke depan alasannya:

1. Kita tidak tahu seberapa luas virus ini sudah menyebar di Tsukuba,
2. Kita perlu khawatir jika ada yang commute dari Tokyo dan sekitarnya menuju Tsukuba malah akan menambah kasus baru.

 
Pemkot tidak melakukan lockdown, masih hanya imbauan. Tapi beberapa minggu ini, semua presiden di setiap research center langsung mengeluarkan SK tentang “karantina wilayah.” Tentunya “japanese style” jadi diperlembut dengan “Imbauan untuk tidak berpergian” (suatu yang gak akan mempan kalau di pake di Indonesia). Dan imbauan itu dikirim bisa 3x sehari ke e-mail kami masing-masing. Kenyang-kenyang deh baca si imbauan itu. Saya yang bahasa Jepang level kore-kore aja sampai mulai hapal kanji-kanji yang dipake apa!
Mantap bukan!
photo6334697361825180143

Ada yang boso Inggris juga sih, tapi langsung capek bacanya…. ada puluhan lembar wejangan dari Pemkot dsb

semua pegawai langsung dibuat sibuk dengan uji coba sistem online dsb.
Tes koneksi berkali-kali (sampai bosen dan garing).
tes koneksi ini bener-bener bikin kering loh, karena banyak peneliti yang sudah sepuh juga kan. Walhasil mereka masih gaptek, dan kadang jadi terlalu zoom mukanya…..dsb
Belum lagi di rumah mereka ada pet ada anak-anak yang masih liburan, jadi kadang “rame” karena pada gak ngeh mute suara mereka.
Banyak lah suka dukanya. Kami yang biasanya peneliti tulen tiba-tiba disuruh cobain macem-macam peranti remote meeting kan heboh juga. Jadi belajar bareng sama sekretaris dan teman-teman yang lain.Sensei saya lebih heboh lagi. Perkuliahan mulai awal april, dan tiba-tiba semua perkuliahan Beliau HARUS dilakukan secara online! Beliau tinggal di Tsukuba, dan kampus di Tokyo. Inget rulenya? Dari Tsukuba gak boleh keluar!Walhasil harus nyiapin materi kuliah online.
Sudah sip sistemnya….

Eh~~~~ banyak mahasiswa baru yang perlu self-isolate selama 2 minggu karena banyak yang baru pulang jalan-jalan selama spring break.  Akhirnya harus bikin sistem kuliah online-nya lebih mantap lagi agar bisa diakses banyak orang dari banyak tempat. Itu pun masih ada drama karena banyak mahasiswa baru yang gak punya wifi di kosan-nya m(T^T)m kalau pake kuota hp kan mahaaaal cin. Akhirnya kelas offline juga dibikin tapi tata ruangnya.

Kasian juga liat para sensei heboh ngecekin sistem kuliah online satu-satu m(T^T)m
dan please gengs, jurusan ekonomi… banyak persamaan sama kurva yang harus diturunin satu-satu.
Tapi kayaknya para sensei mulai enjoy dengan “mainan” baru mereka :’D yo wis lah.

Dan kerennya, dengan segala suka duka, semuanya nurut dan oke-oke aja demi kebaikan bersama.

 Mulai hari ini, hingga dua pekan ke depan, yang tinggal di luar tsukuba akan kerja di rumah.
KRL tsukuba express pun refund tiket langganan untuk para pejuang kereta ini.
Gak ada yang ngeyel “Loh kan belum lockdown.” semuanya lebih bilang “Yah… daripada kita menyebarkan virus kemana-mana dan gak tau. Virus kan gak keliatan.”
Masker dan hand sanitizer memang sulit, tapi makanan dsb tetap ada dan masih harga normal. Farmers market agak sepi memang karena para petani (yang pada sepuh) diminta untuk gak keluar rumah terlebih dahulu. Tapi semua patuh dengan mahzab yang sama “Khawatir tertular atau menularkan orang.”
Kadang jadi mikir, apa ekspektasi Rasulullah apa semua umat Islam bakal kayak orang Jepang, gak akan ngedablek kalau dikasih arahan atau saran?
Subhanallah, Rasul pasti baik banget sih jadi gak negative thinking…. tapi kayaknya untuk orang Indonesia, mmmm…mmm….mmm…. harus pake cara polisi India yang maeh gebug pake rotan apa ya? Hmmmm… gimana menurut kalian?

Gimana nih masyarakat yang katanya religius?  Atau memang butuh rotan untuk “efek kejut” 😀

 

Yang lebih berbahaya daripada Covid19: Kehilangan nurani kala krisis


 “Iya, tapi kan gak semua peduli. Gak semua berpikir bawa hati nurani. Kadang-kadang harus ikutan jahat gitu gak sih biar survive?”

Emon memang orang yang keliahatan super ceria dan gampang ketawa…
yang orang gak tau, seorang Emon juga gampang panik. Gampang banget.. terutama ketika kepikiran tentang Mama dan adik. Mereka adalah dua orang yang paling berharga bagi gw saat ini. Kalau tiba-tiba gw khawatir, gw bisa langsung moody dan panik. Dan saat ini, media sosial berhasil membangunkan kembali kepanikan gw yang udah hibernasi sejak gw belajar musik, dan itu semua gara-gara the most viral topic of the year: COVID-19.

Gw sesungguhnya tidak terlalu panik awalnya, karena di Jepang… walau kasusnya besar dan gw sudah mengira akan besaaaaaar banget karena ketika wabah mendera Cina, banyak turis Cina berlibur sesaat ke Jepang. Itupun karena Jepang dianggap lebih bersih, aman, stabil, dan steril (well… dan juga deket kan). Lalu BOOM! wabah merebak di negeri Sakura. Jangan kira di negara maju dan se-well prepared kayak Jepang gak ada panic buying! Ada dongs!

Masker hilang dari pasaran, tissue toilet entah mengapa makin menipis stoknya, wowowowowowo~ cukup kaget juga. Pertemuan publik di-cancel, sekolah diliburkan, banyak plan hancur berantakan. Bahkan airport pun sepi. Pesawat menuju Jepang kayak kapalnya kapten Flying Dutchman di Spongebob. Hati gw pun ambyar!

photo6296462270171032090

Narita Airport sunyi….

 

Namun setidaknya, teman-teman dan supervisor gw baik. Kami saling mengecek satu sama lain. Dan mungkin karena gw tinggal di kota yang mayoritas penduduknya peneliti, tidak ada kepanikan berarti…. “Hmmm, ini kan virus ya, pasti sudah nyebar kemana-mana ya, wong kecil gitu kok. Sekarang kita yang harus tanggung jawab menjaga diri dan orang-orang terdekat kita. Ja! Ganbarimashou!”

Sungguh, awalnya gw tidak panik. Gw memang jadi lebih waspada, tapi hidup berjalan menyenangkan… seperti biasanya.

Sampai kemudian, wabah menyebar di Indonesia. Lengkap dengan pemerintah yang terlihat sekali gelagapan mengambil keputusan dengan cepat. Jangan lupa! Semakin gurih dengan “topping” beberapa paket netijen bawel di media sosial, beberapa media yang masih hobi bikin judul clickbait,  dan beberapa paket masyarakat yang emmmm…gimana bilangnya ya… norak? alay? sungguh harus ada padanan kata yang lebih dari itu semua.

Yak! Sebuah kombinasi yang luar biasa…
luar biasa membuat panik!

Gimana gak?

Panic buying dimana-mana, harga semakin merangkak naik, belum lagi jumlah penderita yang masih saja simpang siur.
Eh masih sempat pula ada kisah “FTV” dimana seorang pasien positif yang terjangkit virus masih sempat “kabur” dari ruang isolasi.
Butuh waktu untuk mencerna informasi-informasi yang berseliweran dan bisa membuat siapapun yang baca jadi GILA!

Lalu, gw inget Mama dan adik di rumah. Oh bagaimana kabar mereka kala gw kembali ke Jepang.
Gw cek harga barang-barang macam masker, hand sanitizer, dsb. Gak lupa gw pun cek harga-harga bahan sembako.
It doesn’t make sense… harganya mulai sama bahkan lebih mahal dibandingkan di Jepang. “No, my family will be not okay under this situation.”
Padahal, kalau gw boleh jujur, Jepang pun tengah resesi. Gw juga merasa uang gw lebih cepat habis akhir-akhir ini. Tapi… kalau kemudian harga di Indonesia bisa hampir sama bahkan lebih tinggi dari di Jepang? Geng… sori buat bilang hal ini….ini jelas-jelas:  Harga barang di Indonesia melonjak jadi MAHAL BANGET!

Gw bertekad, apapun yang terjadi… semahal apapun barang yang harus dibeli… kalau memang itu buat Mama, gw jabanin deh.

Gw pun kemudian tanya baik-baik ke Mama.

Me:   Ma, liat deh… orang-orang kan pada panic buying tuh, nanti harga makin mahal loh. Yakin gak mau beli sembako, sama masker, dsb? Beneran nih?

Mom: Mmmm… gak usah kak. Mama kan gak kemana-mana. Eh paling check up ke RS, tapi kayaknya sekarang lagi gak kondusif ya. Serem ah.

Me: Iya, jangan ke RS dulu sementara. Tapi jaga makan baik-baik ya.

Mom: Iya… obat rajin diminum, sama mama puasa tiap minggu. Makannya juga sekarang udah pinter abis ditongkrongin terus sama Kiki

Me: Ma, beneran nih, gak butuh printilan-printilan yang pada lagi dibeli orang-orang? Klo perlu, beli nih walau mahal juga.

Mom: Gak usah kak, kita punya cukup kok stok buat kita aja. Jangan beli lebih dari yang kita butuhin, ikut-ikut panik, nanti harganya makin naik.

Me: Ya makanya… sebelum makin naik lagi.

Mom: Eh kok gitu. Kalau buat kita aja harga segini udah berat banget, yang ekonominya lebih sulit dari kita pasti nangis-nangis. Duh kasian, udah kita jangan ikut-ikutan dzhalim. Gak tega ah!

Me: Ya udah, masker deh… butuh gak?

Mom: Kan Kiki udah beli sabun cuci tangan, yang penting rajin cuci tangan kan? Toh kita juga wudhu sebelum shalat. Insha Allah aman. Kita juga jarang keluar rumah kalau gak penting-penting banget. Udah jangan nambah-nambahin deh, kasian nanti yang butuh masker beneran. Nanti yang sakitnya parah banget gimana? Terus yang mobilitasnya padet gimana? Mereka-mereka itu tuh yang lebih butuh dari kita. Jangan suka ambil hal yang bukan hak kita ah. Mama sama Kiki anteng di rumah main sama kucing kok, gak kemana-mana.

Dan dari semua hal brengsek yang terjadi sepanjang 2020 serta komen-komen netijen yang terkadang terlalu ajaib, perkataan Mama seperti siraman air zamzam di komplek perumahan di tengah klaster neraka jahannam! Adem banget!

Tapi… itu membuat gw sedih karena pada akhirnya gw bilang, “Iya, tapi kan gak semua peduli. Gak semua berpikir bawa hati nurani. Yeeee… emang semuanya kayak Mama? Sori la yaw”

Lalu adik gw yang memang mulutnya berbisa itu pun angkat bicara, “Loh iya, memang Kak… memang! Kalau ada apa-apa, misal Mama nih yang kena si virus, pertama-tama… orang akan jauhin kita, rumah kita akan dipasang police line. Kakak akan dihujat, kok ya anak perempuan egois, sekolah lama-lama di LN, bawa virus. Kiki juga, anak cowok gak guna… gak bisa jaga Mamanya. Kita tamat kok kalau ada apa-apa. It’s predictable”

YES! THAT’S THE POINT! Jadi gak salah dong kita berpikir strategis sebelum kita dijahatin orang. Sedih banget kalau nanti kita sakit eh masih di bully dan dikucilin. God! Sudah jatuh dilindes traktor.

Tapi Kak, kalau orang lain kehilangan akal sehat bukan berarti kita ikut-ikutan kan? Gak gitu cara mainnya. Kita harus kuat, harus sehat, harus bertahan, agar kita bisa buktikan bahwa jadi orang baik pun masih bisa loh bertahan hidup di planet ini. Action speaks more than words, Man!

Gw jadi tau sih kenapa gw agak cemen dan cengeng kalau baca dan liat hal-hal yang penuh kebencian di dunia nyata dan dunia mayaa. Karena di dalam rumah, keluarga gw gak punya hal-hal jahat sedikit pun di benak mereka. Terlalu naif, tapi… bersama mereka gw merasa sangat nyaman.
Dan emang… mereka adalah oksigen gw. Oksigen saat “polutan-polutan” menyerbu benak gw.

Saat gw menulis ini, gw baru baca berita…
Ada masa suatu aksi berdoa agar India diserang virus Korona…
Ada berita tentang ibu-ibu sosialita yang pamer belanjaannya (yang jelas2 membeli banyak sekali sembako dari supermarket).
Ada status seorang netizen yang bilang “Inilah tanda mengapa wanita harus menggunakan cadar/burqa.”
Ada tablig akbar “Syiah lebih berbahaya dari virus Korona.”
Ada aneka persepsi”Oh pemerintah lambat luar biasa.”
Ada yang antipati “Cih, pasti kebijakan ini cuma untuk cari muka.”
Ada caci maki “Hish, Cina memang cuman menolong negara-negara Syiah dan Kristen… komunis!”
Masih ada berita “Banyak yang memakai sanitizer di tempat publik untuk isi ulang.”

In short:
Bahkan di saat yang genting, rupanya ada… rupanya banyak… yang masih sempat membenci.

Padahal ini wabah karena virus loh, makhluk super kweciiiiil yang bisa menyerang siapa saja.
Apapun agama kita…
Apapun suku kita…
dan karena tidak mudah dideteksi, maka siapapun bisa terserang. Bisa saja keluarga kita.
Bisa saja diri kita sendiri.
Dan jika kita yang dapat “jackpot” tersebut, tentu kita ingin mendapat banyak dukungan. Ingin mendapat banyak pertolongan. DARI SIAPAPUN.
Secara logika, bukankah seharusnya kita peduli untuk melakukan hal serupa pada sesama? Saling dukung… saling tenggang rasa… tepa salira kalau kata buku PPKN jaman SD dulu.

Gw pernah membaca, saat ketika manusia paling jujur adalah ketika mereka ada di titik kritis, ketika mereka menduga bahwa hari akhirnya semakin dekat.
Jika wabah ini adalah titik kritis, dan jika gw merujuk kutipan tersebut…. maka apakah watak kita sebenarnya memang egois? Memang mau menang sendiri?

Ah, ya… gw pernah bilang, secara default manusia emang egois, oleh karena itu kalau di angkot yang hampir penuh,  kita yang baru naik pasti disuruh duduk di paling pojok yang paling panas.
Kita egois. Oke! Mari kita telan kenyataan ini.
Tapi yang tidak disangka-sangka, kita kurang bisa me-manage sifat egois itu. Jadi yaaaa begitu saja~
Jangan-jangan sejak era Pithecanthropus Erectus ?

Kalau saja, kalau…. semua orang bisa seperti Mama, bisa dengan ringan berkata, “… jangan ambil hal yang bukan hak kita.”
Mungkin dunia akan sedikit lebih tenteram.

Eits… Mom, wait! You are wrong, in this cruel world… people think in another direction “Grab any kind of opportunity! No matter what!”

Oh iya lupa! Konon katanya, sebelum hari akhir…. yang tertinggal memang orang-orang yang jahat 🙂 Aha! kini kita punya penjelasannya!

Mungkin memang banyak orang yang lebih memilih untuk survive hingga akhir apapun taruhannya. COVID19 memang mengguncang dunia, merubah banyak hal, kecuali satu: sifat serakah manusia.

Sedih…
Sayangnya, kenyataannya begitu.
Is it time to farewell with solidarity and humanity? Gak tau, gw sih masih punya harapan (dan doa) untuk itu. Kalau kamu?

 

Mama dan Metode Parenting yang Beliau tidak sadari


“Marissa, you don’t have any idea about how much I adore your mom. She treats everyone nicely no matter who are they? Where they come from? She is a very sweet person, that’s it.”

Setidaknya itu perkataan Mamas Smiley saat tante emon complain tentang Mama yang kadang terlalu baik.
Tentang betapa marahnya saya karena merasa Mama terlalu cepat menghabiskan uang BUKAN untuk dirinya, tapi seringkali untuk orang lain.
Untuk asisten rumah tangga kami yang anaknya dipenjara karena kepergok menjual ganja.
Untuk tukang sayur langganan kami yang gagal panen.
Untuk tukang kebun kami yang sudah terlalu tua.
Untuk kebunnya yang mulai berantakan
Untuk kucing kami yang memang lidahnya terlatih untuk makanan dengan label harga yang lebih tinggi.

Untuk orang lain!!!!

Dan seringkali lupa untuk dirinya sendiri. Mama saya itu sakit loh, pemirsa. Mama saya tidak bisa berjalan dengan baik seperti dahulu karena stroke yang menyerang mama 3x! dan juga diabetesnya!
Kadang… saya merasa “Udah deh, Ma. Gak usah mikirin yang laen-laen lagi. Yang penting Mama sehat.”
Tapi Mama tetap Mama.

Kalian yang mengenal saya, pasti tahu betul betapa logis kepala saya dan betapa meletup-letupnya emosi saya. Bahkan kepada Mama. Saya akui, bahkan jika dibandingkan dengan adik saya (yang memang pria idaman para tante saking sweetnya sama Mama), saya cukup keras dan sering ngomel ke Mama.

“She needs to think about herself before anyone else!!!!!” jawab saya pada Smiley. Tentu! Saya merasa saya benar.

Mama… Selalu begitu.
Hatinya baik tanpa Beliau sadari.

============

Ketika ayah meninggal dunia, adik saya masih kecil. Seperti yang  seringkali kita ketahui, lidak tetangga terkadang lebih tajam dari pisau jagal kurban. Banyak yang bilang, “Bu… biasanya, kalau anak hilang sosok bapaknya, suka jadi anak bandel kalau gak bodoh. Itu tuh liat tetangga kita.lalalalalalalalalala.” mungkin pada gak sengaja ya, tapi setelah saya menginjak usia “tante” seperti sekarang, saya membayangkan “Ya Allah, itu pasti sakit banget ya buat Mama. Pasti Mama khawatir banget.”

Hmmm… setelah dipikir-pikir…..

Mama layik khawatir, karena dua anaknya: KERAS KEPALA.

Saya dan adik saya adalah orang-orang yang tidak sungkan mengatakan sesuatu to the point. Beberapa kali Mama kena “tegur” tetangga karena anak-anaknya terkesan “jutek” untuk banyak orang. Padahal? Gak… kami malas basa-basi saja.
Karena kebetulan SMA saya dan adik saya sama, dan kebetulan kami kebagian “wali kelas” yang sama, Mama saya harus sempat dengan komplain salah satu wali kelas kami.
“Marissa… ya gitu, tidak bisa berkomunikasi.”
“Muflih itu tertutup ya, yaaa tidak ada yang spesial… atlet sih.”

Sungguh, Mama sebenarnya bisa saja marah besar “Kalian!!! APA YANG TERJADI???”
Well, tentu… kalau perkara akademik, Mama akan ngomel untuk beberapa jam “Kamu itu, kan sudah Mama bilang, belajar!” tapi seingat kami, itu hanya yaaaaaaah… paling lama setengah hari.
Setelah itu Mama akan tanya “Jadi sebenarnya ada apa sih? Ada yang kamu gak sreg ya?”

Sebandel-bandelnya kami, kami tidak bisa bohong ke Mama. Mama biasanya tahu kalau ada yang salah dan “beda” pada kami.

Kadang kami males juga untuk jawab, jadi ya udah lah diem aja.
Jika itu yang terjadi, Mama akan tanya “Mau makan apa hari ini?” dan setelah itu Mama akan masak atau beli makanan yang kami mau.

“Habis, anak-anak Mama itu sudah pada gak bisa mikir dan pusing kalau gak makan enak. Ya sama kayak kucing-kucingnya.” Biasanya Mama akan bilang seperti itu.

============

Mama layik khawatir, karena dua anaknya: BEDA 180 DERAJAT!!!

Teman-teman saya pasti bilang, “Adik lo tuh, ELO tapi versi cowok! Gila persis banget sifatnya!”
Sifat boleh lah mirip, bagaimanapun saya memonopoli adik saya sejak dia lahir. Sebagai orang yang susah dapat teman, adik saya adalah teman terbaik saya sejak hari pertama dia di dunia.
Tapi…… minat, bakat, hobi, dan banyak hal lainnya BEDA PARAH!!!

Adik saya yang tinggi besar punya bakat yang bikin iri hati dan dengki di bidang olah raga, terutama beladiri. Menyebalkan banget, karena bagi dia… olahraga itu dikedipin juga dia bisa.
Saya? Dengar kata “Jogging”, baru dengar loh… BARU DENGAR… rasanya sudah encok. I hate any kind of exercise. GW TIDAK SUKA OLAHRAGA. Pencapaian terbesar saya dalam bidang olah raga adalah suka dan paham ketika nonton bulu tangkis. Udah deh, itu paling mentok.

Saya lebih senang seni, kecuali seni tari, sepertinya untuk bidang seni yang lain… yaaaa bisa ngerti lah. Bukan hal yang terlalu sulit untuk saya belajar seni. Apapun itu.
Adik saya? Ufufufuufufufufufufuufufufufuufufufufufufufufu…. gak tega sih ngeledekinnya. Nilai seni rupa doski emang tinggi ya pas sekolah dulu, tapi sedikit bocoran aja… itu karena bantuan dari jiwa seni saya yang melimpah ruah. UFUFUFUFUFUFUFUFUFUFUFUFUFUFUFUFU (mohon jangan ditiru).

Saya, sebenci-bencinya dengan suatu mata pelajaran, I will tried my best untuk mempelajari itu. Saya, mungkin tidak pernah jadi yang terbaik, tapi… saya bisa pastikan bukan yang terburuk.
Adik saya? gak suka sesuatu?… ya dia tinggal :’) Dia betul-betul excellent pada suatu hal dan bener-bener busuk di suatu hal pada saat yang bersamaan.  Dia bisa dapat nilai paling tinggi di suatu mata pelajaran, dan di saat yang sama dapat nilai paling dodols di mata pelajaran lain. Intinya, dia hanya ada di dua titik ekstrim.

Coba…coba…
Kalau kalian punya dua ekor anak yang model kami-kami ini gimana rasanya?
Pasti kalian akan bilang ke saya “Liat tuh adik kamu! Olah raga, biar sehat. Kan makanya kamu gampang gendut!”
Pasti kalian bisa bilang ke adik saya “Kamu itu gimana? Mbok ya dapat nilai yang paling tinggi di semua mata pelajaran!!!” Lalu menyuruh dia untuk les ke semua tempat yang ada di muka bumi ini.

Fun fact: Mama TIDAK PERNAH melakukan itu semua pada kami.

Saya yakin sih, pada awalnya Mama pusing juga karena kok yang dua anaknya tipe nyebelin kayak gini ya. Pasti lah sempat ngomel juga ke kami. Tapi lagi-lagi, paling lama hanya setengah hari. Setelah itu… diplomasi meja makan selalu berhasil.

Adik saya menolak untuk ikut les di banyak tempat “Gak Ma, pusing kalau terlalu banyak metode belajar.”
Saya pun mengakui kalau “Ma… kakak tuh gak suka olah raga, kakak sukanya ngegambar, denger musik, nonton…..baca….”

Ya sudah…

Mama, tidak pernah membandingkan saya dan adik saya satu sama lain.
Mama juga tidak pernah membandingkan kami dengan orang lain.

“Ya gak apa,  karena Mama juga gak suka dibandingkan sama orang lain. Bikin stress tau. Dan Mama percaya Allah pasti punya alasan kalian punya bakat dan hobi masing-masing. Terserah kalian lah, asal jangan lupa shalat.”

============
Kembali lagi pada sifat Mama yang menurut saya “terlalu baik” dan jujur saja… mulai menyebalkan. Untuk menghentikan sifat Mama itu, saya punya ide gila
“Ma, ke Jepang yuk, bareng Kakak.”

“….gak deh, Kak.”

Saya tentu marah, karena tidak sedikit yang berpikir bahwa saya anak durhaka. Mama saya ditinggal lama banget loh! Kalian jangan pikir saya tidak berbusa untuk ajak Mama ke sini ya. Sudah jutaan kali.

“Duh kenapa sih, Ma!???”
“Soalnya, ada banyak orang yang mau Mama temani di sini.” kata Mama suatu ketika

Lalu saya ingat, Mama seringkali me-“rekrut” orang-orang yang “bermasalah” di sekitar kami. Ada yang janda, ada yang anaknya dipenjara, ada petani, ada orang yang sudah sangat tua dan mulai pikun tapi kepala keluarga, dan masih banyak orang lainnya yang sengaja Mama izinkan untuk membantu pekerjaan kami di rumah. Mama juga selalu menyediakan air minum dan makanan kucing di depan rumah supaya kucing liar tidak kelaparan.

“Kalau tidak ada Mama, kamu yakin orang lain bisa memperlakukan mereka sebaik kita?” begitu kata Mama.

Saya lalu menyerah. Karena jangan-jangan, di muka bumi ini, mungkin tidak banyak yang setulus Beliau.

Adik saya pernah bilang, “Kalau kakak mau dapet cowok kayak ayah, mungkin kakak harus sebaik hati Mama sih. Dan itu… susah.”

====================

Sesederhana itu.

Mama tidak pernah berubah. Semenyebalkan apapun kami, Mama selalu sabar (walau sering over-panik juga dan bikin kami kesal).
Ketika kami gagal, lalu sedih, lalu ngerasa gak guna…. Mama pasti akan bilang “Pasti ada alasan kenapa Allah kali ini bikin kamu gagal. Pasti ada rencana Allah yang lebih baik dan kita belum tahu aja.”

Saat dunia runtuh, memiliki Mama yang selalu percaya bahwa kami “BISA” sangat membantu. SANGAT MEMBANTU.

====================
Dulu…. saya tidak merasa apa yang Mama lakukan itupenting. Tapi sekarang, saya berpikir kalau Mama tidak memperlakukan kami seperti itu, mungkin saya tidak akan “smooth” untuk lulus Ph.D hingga postdoc sekarang ini. Jika Mama tidak sebijak itu, mungkin saya sudah gila… mungkin saya sudah kerapkali terobsesi untuk membandingkan pencapaian saya dengan orang lain. Mungkin saya akan kerap ragu apakah keputusan saya yang terbaik.

Tanpa kebaikan hati Mama, mungkin Allah juga sungkan memberi saya begitu banyak kebahagiaan dan kemudahan.

Mungkin seluruh pencapaian yang saya dan adik saya dapat, adalah hadiah Tuhan agar Mama senang. Agar Mama, tidak perlu sakit dan masuk rumah sakit lagi.

Mungkin begitu ya…
Ya Allah, pastikan jalan hamba dan adik hamba adalah jalan yang terbaik bagi kami, untuk banyak orang, dan pastikan itu membawa kebahagiaan untuk Mama.

Aamiin.

[Emonikova Investigasi] Mengulik Disertasi ‘Konsep Milk Al-Yamin’ dari sudut pandang metode ilmiah: Apakah cukup untuk meraih gelar doktoral?


Kali ini blog emonikova, lagi-lagi, melakukan investigasi khusus demi memperjuangkan kekepoan para netizen. Saya berupaya untuk membahas habis metode penulisan untuk disertasi Bapak AA yang beberapa pekan terakhir sempat viral serta mengguncang baik dunia nyata maupun dunia maya.

Saya dan beberapa teman saya menyepakati bahwa yang kurang dari disertasi Pak AA, setidaknya menurut kami loh ya, adalah minim serta lemahnya proses peer-review dan mungkin saja minim masukan dari para insan akademis lainnya baik yang satu keahlian dengan Beliau maupun diluar ekspertasi Beliau.

Oleh karena itu, saya Tante Emon, dibantu teman-teman yang lain, dengan sukarela, ikhlas, dan cuma-cuma, akan memberikan beberapa masukan yang mungkin bisa membantu Pak AA untuk merevisi disertasinya. Untuk diperhatikan: Pak AA berjanji bahwa Beliau akan merevisi disertasinya, sehingga yang saya review pada blog ini adalah disertasi Pak AA sebelum revisi serta dibandingkan dengan “Laporan Penelitian Individul Konsep Masadir al-Ahkam (studi komparasi antara pemikiran asy Syafii dan Muhammad Shahrur) yang bisa sempat saya temukan di web: http://eprints.iain-surakarta.ac.id/3609/1/Masadir%20al-Ahkam_LaporanLengkap_16-08-16.pdf untuk  mengecek konsistensi serta kecenderungan penulisan Pak AA. Sekali lagi, tulisan ini saya buat sebagai bentuk kritik sekaligus untuk pembelajar bersama mengenai metode penelitian yang baik dan benar.

Apakah saya orang terbaik dan terpintar dan terwadaw di muka bumi ini sehingga layik untuk mengomentari karya tulis orang lain? Tentu tidak, sama seperti yang lain… saya pun sudah melalui ratusan purnama untuk merevisi disertasi saya. Jurnal internasional lebih dahsyat lagi, saya sudah kenyang ditolak sana sini :’D saya…. seperti kalian, sama sama masih belajar. Namun sebagai insan akademis, saya punya tanggung jawab untuk berbagi pengalaman dan sudut pandang terkait penulisan akademis sehingga kualitas karya tulis kita semakin baik. Apalagi Pak AA adalah mahasiswa doktoral, dosen pula, alangkah bijaksana jika Beliau lebih Teliti lagi dalam membuat karya tulis sehingga sesuai metode ilmiah. Dan untuk UIN pun begitu, kan salah satu universitas yang cukup ternama di tanah air, mau dooooong karya ilmiah civitas academicanya lebih baik lagi. Pembaca blog emonikova juga pasti pernah tau, ketika skripsi saya dijiplak habis professor dari Algeria, itu pun karena minimnya proses peer review dan plagiarism check di sana, nah saya tidak mau ini terjadi di negara kita.

Lagi lagi dan lagi, saya tidak mau terseret UU ITE, karena tiket PP Jepang-Indonesia itu mahaaaaaal! Saya tegaskan bahwa opini ini tidak bermaksud memojokan siapapun. Dan saya, hanya akan menyinggung hal hal yang menyangkut teknis metode penelitian. Klo hal substantifnya sih waduuuuh, bukan bidang saya kawan! Makanya, saya hanya membahas disertasi ini dan kaitannya terhadap metode penulisan ilmiah

 1. Judul

Saya dengar sih judulnya memang akan diganti ya. Tapi mari kita lihat sebenarnya blunder apa yang terjadi pada “judul” disertasi ini?

KONSEP MILK AL-YAMĪN MUḤAMMAD SYAḤRŪR SEBAGAI KEABSAHAN HUBUNGAN SEKSUAL NON MARITAL

Saya nyaris meragukan kemampuan bahasa Indonesia saya karena saya benar-benar tidak tahu subjek, predikat, dan objek pada penelitian ini. Nyaris saya mengira yamin dan shahrour adalah dua orang yang berbeda!

Saya meratapi kebodohan saya ketika teman saya akhirnya buka bicara “Mon, itu yg yamin-yamin konsepnya. Bukan nama orang apalagi nama makanan.” Owalaaaaaah… andaikan yamin yg dimaksud adalah mie yamin yg  ditambah kriuk pangsit, rakyat Indonesia tentu tidak akan marah, namun gempar karena lapar.

Perkara SPOK ini rupanya bisa mengecoh kewarasan para pembaca. Saya yakin, saya tidak sendiri. Sehingga semua langsung meloncat pada “objek” penelitian ini yaitu ” keabsahan hubungan seksual non marital” ya wajar! Wong ndak ngerti subjek dan predikat sebelumnya apa. Jika saja kakek saya ditunjukan judul ini di pusaranya, saya khawatir Beliau minta izin pada Allah untuk bangkit sejenak karena begitu marah dengan ambiguitas pada judul tersebut.

Mungkin Pak AA juga fans berat Shakespeare, “Apalah arti sebuah nama?” Hingga meyakini pula “Apalah arti sebuah judul?”

Eits! Berarti dong!

Karena tidak semua orang punya waktu untuk mengkaji karya tulis yg ratusan halaman. Maka impresi pertama adalah JUDUL! Judul adalah identitas, maka judul haruslah jelas. Apalagi menulis di Indonesia, dan orang Indonesia cenderung hanya membaca judul saja.

  1. Tujuan Penelitian

sejatinya tujuan penelitian haruslah jelas dan terarah. Nah, saya mencoba memahami tujuan penelitian Pak AA pada disertasi Beliau.

Pada abstrak tertulis MENEMUKAN TEORI BARU!
IMG_0097

siapa tak terkejut! Konteks menemukan teori baru sesungguhnya adalah hal yang sangat serius dan WOW dalam dunia akademis. Sungguh, jika suatu penelitian bisa menelurkan teori baru, maka penulisnya mungkin sudah layik untuk menerima undangan untuk ngopi ngopi dengan calon penerima nobel.

Bukan menganggap remeh, tapi saya bertanya-tanya “Masa sih?”

Lalu saya pun scrolling menuju rumusan permasalahan, tidak ada sama sekali kalimat yang mengutarakan akan membuat teori baru, namun hanya sekadar yaaaaah mereview dan menelaah pemikiran Pak Shahrour saja. Tidak lebih dan tidak kurang.
IMG_0098

Mungkin literasi saya yang minim atau apa, tapi saya cukup jengah melihat rumusan tujuan penelitian ini. Penulis rasa-rasanya hardcore fans dari Pak Mohammad Shahrour, yang kita semua di Indonesia banyak yang awam mengenai tokoh tsb (dan pas liat sosmednya, doski juga gak hits-hits banget gimanaaaaa gitu), mengapa kita…. makhluk di muka bumi ini perlu menelaah pemikiran Shahrour tanpa ada pembanding dengan tokoh-tokoh lain? Apa unsur kebaruannya? Jika memang ingin melegitimasi hukum baru misalnya, maka permasalahan perlu dilihat dari berbagai sudut pandang dan pemikiran para tokoh. Entah jika standar penelitian di universitas yang bersangkutan memang “cukup segitu saja” untuk meraih gelar doktor.

Saya paham, bahwa harus ada unsur “novelty” pada penelitian S3, namun…. ya… ya apa? Kebaruannya apa? mengapa hal itu kemudian krusial?

Sampai situ saya sudah cukup lelah, dan cukup kecewa. Karena jika judul dan rumusan permasalahan saja perlu dibenahi…. maka pasti perjalanan investigasi ini masih panjaaaaaaaaaaaaang.

  1. Terlalu banyak catatan kaki yang sepertinya, gak perlu perlu banget. 

Saya memang penasaran betul dan iseng untuk mengkaji…mengapa sebuah penelitian butuh begitu banyak footnotes. pasti kompleksitasnya melebihi batas logika kita semua.

saya turut prihatin karena rupanya, Pak AA sudah gamang bahkan sejak perkara menentukan transliterasi. Tentu saya pahami kegamangannya, saya maafkan kesalahannya, namun sayangnya… saya (dan mungkin banyak orang) tidak peduli perkara transliterasi yang harus dijelaskan panjang lebar.

IMG_0100

IMG_0099

Background saya adalah ekonomi, sebagaimana yang mungkin beberapa orang tahu… ekonomi itu “nanggung” karena merupakan irisan matematika, statistika, dan ilmu sosial. Siapa tahu kan diluar keilmuan saya, pada beberapa ilmu sosial, footnotes memang boleh-boleh saja bisa lebih panjang dari konteks penelitiannya sendiri. Siapa tahu? Saya merasa tidak kompeten dalam membahas ilmu sosial, sehingga saya mencoba menghubungi kawan yang murni orang sosial. Pertanyaan saya singkat “Apa perlu footnote sampai curhat segala.”

Jawabannya?
“Pas gue skripsi sih, Mon. Pembimbing gue bilang secukupnya aja.”
“Kalau panjang bukannya sekalian aja cantumkan sebagai sumber terus simpen aja di dapus ya?”
“Hah? footnote seinget gue sih secukupnya aja, Mon”

Jelas sudah, dimanapun itu, aturan footnote rasa2nya seragam.

Karena saya memang husnudzan, anak yang baik, dan rendah hati…
Saya kembali optimis, mungkin… mungkin…… penulisan di masa kini berbeda dengan di era saya yang sudah hampir kepala 3 ini. saya pun bertanya pada adik saya yang masih duduk di bangku S1, belum lulus! Tapi udah dapat lah matkul metode penelitian. Komentarnya:
IMG_0118

Yes! Saya dan adik saya pernah di SMA yang sama di SMAN 1 Bogor, dan kebetulan kami punya guru bahasa Indonesia yang super fenomenal yang super hebat karena mengecek tugas karya tulis dan PR kami satu persatu (yang kalian tau dong, level anak SMA kan masih sampah ya tugas-tugas kartulnya), dan tiap kami salah, walau hanya koma, kami akan dapat surat cinta “ulangi lagi ya sayang” dan kami WAJIB harus mengulang PR kami dari awal. Dan itu membuat kami ngelotok jasmani rohani perkara dasar penulisan ilmiah. Berbekal pengalaman sejak SMA saja kami sudah bisa meyakini bahwa ada yang ganjil dengan metode penulisan footnote Pak AA. Masa’ penguji Pak AA kalah teliti dengan Ibu Guru saya di SMA? Harusnya lebih mata elang dong, kan penguji calon Doktor 🙂

Di bidang saya,  footnote sebisa mungkin diminimalisir kecuali untuk info yang singkat… jelas… padat. Misal, untuk konversi mata uang. Pembaca perlu tahu kira-kira 1USD itu berapa ya pada tahun X? Naaaah footnote bisa membantu. Sudah segitu saja, jika ada yang perlu dijelaskan maka jelaskan pada badan manuskrip.

Selain itu banyak footnote yang sebaiknya ditulis saja pada daftar pustaka. Saya jadi merasa gundah dan gamang, jangan-jangan Pak AA belum mengenal sebuah software luar biasa yang sangat membantu para mahasiswa bernama MENDELEY.

Maka, teriring rasa hormat kami…. saya melampirkan link untuk mengunduh software mendeley. Bisa pakai end note dan zotero juga sih. Tapi ini yang paling gampang 🙂

https://www.mendeley.com/download-desktop/Windows/

monggo monggo dicoba. Tinggal klak klik klak klik, nanti daftar pustaka jadi dengan baik sesuai format yang kita inginkan.  Oh iya! Ada web importer juga loh! Sehingga tidak sulit untuk mengutip website di internet.
Tidak suka Mendeley? Tidak apa pak, ini loh saya ada softwara lain bernama zotero. Gratis kok… gratis! 🙂

https://www.zotero.org/

Iya, sama-sama 🙂 kan kita akademisi, boleh dong saling membantu.

  1. Referensi…..wikipedia? WordPress? Bahkan grup Milis?

Jadi kalau di Indonesia itu masih boleh cite wikipedia dan wordpress untuk kartul sekelas disertasi? Atau hanya UIN Sunan Kalijaga yang memang punya syarat penulisan ilmiah yang “dinamis” dan “kontemporer.” Waduuuuh! Kenapa saya tidak masuk UIN SuKa saja kalau begitu, setidaknya lebih “enteng” lah perkara format penulisan karya tulis.

IMG_0103

IMG_0105

Seingat saya, bahkan saat saya S1, pembimbing saya akan marah bueeeesssaaaaaaaaaarrrrr jika tahu saya melakukan hal tersebut. “Emon! Kamu cite wordpress? Carilah pembimbing lain.”

Skripsi saya memang tidak sempurna, namun saya ingat betul karena pembimbing saya mencoret hampir semua lembaran draft skripsi saya termasuk daftar pustaka. Saya kaget betul karena Beliau cek dapus satu per satu “Mon, ini gak ada kok ditulis? Mon… ini salah dong! Mon, ini tidak valid sumbernya.” Itu untuk karya tulis anak ingusan loh, level S1, kalau doktoral harus lebih mantap terasa dan lebih ilmiah bukan?

bukankah begitu?
bukankah begitu?
bukankah begitu?

Saya pun sengaja kopipaste beberapa paragraf pada disertasi ybs dan mari kita lihat hasilnya! Anda akan terkesima!

Kopi….
Picture1

Paste ke google….
Picture2

Menemukan kalimat yang sama persis…Klik blognya…
Picture3

Lihat sumbernya! Sama persis cara penulisannya.
Picture4

Cari sumber utama….
Picture5

Nah pada kasus sebuah buku ada editor, maka seharusnya sihhhhh…. seharusnyaaaaa kalau mau menuliskan pada daftar pustaka (bukan di footnote ya, karena itu kan udah kopi paste abis -.-)…. maka nama editor harus dicantumkan, plus ISBN karena kodenya ada. ISBN itu penting loh untuk membedakan satu karya dengan yang lain. Dan memudahkan penelitian susulan karena jelas referensi apa yang digunakan. Memang ribet, tapi maksudnya baik kok! Bener deh 🙂

Entah siapa yang kopi paste, namun sepengetahuan saya…. PUN….PUN….PUN…. mengutip karya orang lain dan dicantumkan sumbernya, maka perlu ada proses parafrase (eh EYD gimana sih, gini kan ya? pokoknya paraphrase. Atau memang tidak ada yang punya bukunya saja :’) )
Siapa yang kopi paste?
Duh siapa ya?

Keduanya sama-sama kopipaste dari bukunya, habis blas! Tapi siapa yang duluan menuliskannya? blog? atau disertasi? rute kopi pastenya seperti apa? buku-blog-disertasi? Atau buku-disertasi-blog?

Duh sungguh misterius! Saya menyerahkan semuanya kepada kalian 😉

Eh sampai sini saya terlalu keras dan kejam tidak? Masih kuat? Kalau iya lanjuuuuuuut!

5. Data dan Metodologi Penelitian? Apa? Bagaimana? Dimana? Arghhhhh~~~
Saya jadi tertarik mengkaji metode penelitian Beliau. Dan lagi-lagi saya takjub, karena metodenya lebih plot twist dibandingkan kisah De La Cruz pada film Coco!

Jadi ada sumber primer, sekunder, dan tersier. Okay…. yang primer buku yang ditulis sendiri oleh pak Shahrour. Yang sekunder dan tersier apa? yang ditulis orang lain?
IMG_0111

terus udah gitu aja? Saya butuh penjelasan, namun apa daya saya malah mendapat penjelasan mengenai apa definisi “tokoh” kayaknya itu gak krusial krusial amat untuk audience pembaca disertasi
IMG_0110

Memang ini cara dan metode yang benar ya dalam menulis kajian pemikiran seseorang? Saya gak tau loh, karena penelitian saya lebih bersifat kuantitatif. Tapi emang begitu? Ah kok rasanya tidak begitu ya.

Pembaca yang terhormat, izinkan tante emon menunjukan Anda bagaimana menulis “review paper” dengan lebih baik 🙂 memang gak sepenuhnya sama dengan cara menulis disertasi kualitatif, tapi metodologinya akan serupa karena terkait dengan “mereview” pemikiran/ penelitian pihak lain serta membandingkan beberapa pustaka.

  • Untuk beberapa jurnal yang memang benar-benar membahas literatur review, maka penulis WAJIB mencantumkan berapa jurnal/ literatur yang mereka teliti? Keyword yang digunakan? range tahun dari kapan hingga kapan? Bagaimana metode pemilahan literatur?

IMG_0112

  • karena tante emon juga pernah menulis review paper. Pun jika ingin mereview hasil penelitian orang lain atau diri sendiri (misal, pada suatu paper secara idealnya sih hasilnya a,b,c,d, tapi akan ada kendalanya nih di dunia nyata, sedangkan jurnal sebelumnya terlalu teknis. nah ini perlu di review),  kita perlu mencantumkan paper apa yang kita review beserta metode yang digunakan pada paper yang kita review. Ini contoh paper saya yang ‘elek sih. Tapi yaaaa kira-kira begini. Intinya kita harus paparkan kenapa kita mereview? menelaah? penelitian apa yang ditelaah? Sumbernya mana? ini penting untuk memastikan pembaca tidak hilang arah dan tujuan dan menyamakan persepsi serta memperkaya pengetahuan pembaca. Jadi pembaca punya informasi yang lengkap: lagi ngomongin apa? dan mengapa perlu diomongin? pada kasus disertasi Pak AA, kita tidak tahu karya Pak Shahrour yang Beliau kaji itu apa? dimana? Sumber jurnalnya ada tidak? Kalau rupanya pemikiran Pak Shahrour rupanya OPINI PRIBADI ybs dan tidak bersifat ilmiah, yaaaaaaaa buat apa dibahas! Buang-buang waktu dan kertas.

Picture6

Bikin review paper itu sulit loh, dan biasanya KALAU melalui proses peer review, maka reviewer akan mengatakan “berikan pembanding terkait teori ini.” atau meminta literatur yang baaaaaaaaanyyyyyyyaaaaaaaaaak sekali.  Sedangkan yang saya temukan, pada disertasi pak AA, literatur pada daftar pustaka pun minim sekali 🙁 jadi gimana dong? Mau dibilang review pemikiran saja sepertinya masih butuh lebih banyak literatur, daftar pustakanya bahkan lebih sedikit dibandingkan skripsi S1 saya :'(

Lebih jauh lagi.

Saya juga tidak bisa menjawab pertanyaan pada rumusah masalah ini, bahkan setelah baca habis disertasi ini, kenapa tiba-tiba milk al yamin itu jadi hubungan antara pria wanita. Hah?

Saya sudah 5 rit loh bulak balik membaca disertasi ini? Heran? Tidak lagi, karena metodenya pun tidak jelas. Jadi wajar saja. Kita semua, termasuk saya, sudah diajak tersesat sejak awal…. mungkin sekarang sudah sampai di desa penari.

6. Kritik pada shahrour? Ada… tapiii

Tapi hanya 17 halaman! Dari total disertasi 421 halaman! saya mencatat hanya ada dari halaman 280-297

Karena saya tahu kalian malas menghitung, saya berinisiatif menggunakan metode teknologi bernama KALKULATOR untuk menghitung 17/421 itu berapa persen.
IMG_0091

Hanya sekitar 4%!

Bukan kata saya, namun kata kalkulator. Jika Anda tidak dapat menerima fakta ini, silakan gunakan kalkulator Anda masing masing, bandingkan dengan sempoa, serta Ms. Excel.

Ya pantaaaaaasssss saaaaajaaaaaaaa masyaaaaaraaaakat hebooooooooh! Dari 400++ halaman, judul fenomenal, kritik yang harusnya jadi inti penelitian hanya 4%-nya saja. Setidaknya dari disertasi versi awal. Semoga setelah direvisi jadi lebih baik ya.

Saya sih ada saran, ini kalau mau didengar loh ya. Kan ceritanya mengkaji pemikiran. Maka alangkah baiknya membahas dari sisi psikologis, antropologis, sosiologis, kultural, hingga ekonomi. Dan itu bisa panjaaaaaaaang. Masalahnya, apakah pak AA punya kerendahan hati untuk berguru pada ahli ahli bidang bidang tsb? Akan makan waktu, yes! Tapi karya yang dihasilkan akan maknyus! Dan mengedukasi masyarakat. Lulus doang sih gak susah susah amat, Pak. Tapi integritas? Nah ini yang perlu ditingkatkan lagi. Bertanya dan berguru pada ahli ahli di bidang yang berbeda dengan kita kan bukan berarti kita bodoh atau hina, tapi itu karena ilmu Allah itu luaaaaaaaaaaaas. Dunia tidak selebar buku-buku pak shahrour. Iya gak?

7.  Istilah istilah yang wadidaw, serta penerjemahan yang aduhai

Karena saya punya jam terbang untuk kasus friendzone.
Saya jadi tergeltik juga untuk membaca lalu sedikit mengomentari penerjaman dan pemahaman istilah istilah yang wadaaaaw!

Misalnya, nikah friend….(baru tau kan kalian semua ada nikah friend? ada rupanya istilah ini)
Apa salahnya kalau berteman terus nikah? Duh apa sih?
Wajar saya bingung karena istilah yang lain terdapat istilah bahasa arabnya, selain yang satu ini.
Rupanya nikah friend ini ceritanya, friendzone terus mereka wik wik wik karena sama sama suka. Mari kawan-kawan pejuang friendzone, kita rapatkan shaf mengkaji penulisan yang ngawur ini.
IMG_0116

Karena cara penulisan yang astagfirullah, penulis jadi terkesan “Ini loh jalan dan solusi untuk kalian semua wahai budak friendzone yang dibuta cinta.”
IMG_0115

Saya kaget ketika semakin scroll ke bawah saya menemukan tulisan ini
IMG_0114

Jadi nikah friend juga biar gak inses?
Ini pemikiran pak shahrour? Pemikiran pak Sadawi? Atau pemikiran pak AA sendiri?
Apakah Pak AA juga pernah terjebak friendzone?
Apakah Pak AA pernah di ghosting gebetan?

Apa sih Pak? Induksi logika pemikiran Bapak itu bagaimana?

Entahlah,  namun pasti ada alasan hingga nikah friend ini secara ajaib muncul dan perlu dibahas, dan perlu dipandang sebagai solusi.

8. Jadi kesimpulannya….

Iya jadi kesimpulannya, pak sharour ini teorinya subjektif! Bias!
Tapi ide bagus loh buat dicoba. INI APA BANGET SIH? Pemikiran filosofis apa yang terlewat oleh saya?

Ini saya yang memang bodoh, tidak sampai ilmunya, atau bagaimana?

IMG_0117

 

Saya sudah terlalu lelah hingga tidak mampu berkata kata lagi.

9. Baiklah… tapi Bapak pasti sudah terbitkan jurnal dong? Mungkin kalau manuskripnya lebih pendek saya bisa lebih paham. Iya dong! Eh tapi….

Tapi kok tidak ketemu?
Saya membandingkan disertasi yag belum direvisi serta Laporan Penelitian Individual yang bisa saya dapatkan di internet, dan menemukan bahwa Beliau mengaku sudah publish banyak sekali paper. Kita mau baca dong ya 🙂

Maka saya lacak satu per satu.
IMG_0072
Picture7

Sayangnya saya tidak bisa menemukan tulisan Beliau.

Archive terawal jurnal yang diakui sebagai tempat menulis pak AA sekitar tahun 2016 dan 2008. Sedangkan Pak AA mengaku menulis di jurnal-jurnal itu sejak tahun 2000-an.
Apa saya salah jurnal? Atau jangan2 hanya submit saja tapi belum publish?
Picture9
Picture10
Picture11

Saya tidak tahu. Tapi ini adalah hasil penelusuran saya.

Saya harap saya yang salah, saya yang terlewat dan kurang menggali google, dsb sehingga tidak menemukan tulisan Pak AA sama sekali.
Namun jika memang tidak ada….
Bukan Pak AA yang perlu meminta maaf, namun seluruh pihak terkait, termasuk promotor hingga pihak universitas sendiri.
Sangat tidak fair meloloskan disertasi yang bahkan belum teruji melalui tahap peer review.
Tahap peer review adalah tahap paling melelahkan, stress, menguras tenaga, namun itulah saat penulis belajar dan memahami apa sih kekurangan dari studi tersebut.

Lagi-lagi ini masalah kredibilitas.
Lulus S3 saja sih, gak susah susah banget…. tapi menjaga kredibilitas dan tanggung jawab dari gelar yang kelak didapat, itu amanah dari Tuhan. Katanya ber-Tuhan. Orang yang ber-Tuhan harusnya tidak mengelabui manusia lain, dengan cara apapun…termasuk mengaku sudah menulis jurnal ilmiah namun tidak terbukti.

Andai saja, andai…. setidaknya ada prosiding yang dibuat oleh Pak AA terkait dengan disertasinya. Mungkin saya masih bisa menerima. Namun, itu pun tidak saya temukan.

Saya kemudian mencoba mencari berdasarkan judul. Ada yang sedikit mirip, tapi sayangnya bukan karya Beliau 🙁
Picture12

10. Dan apakah kita perlu mencantumkan Karya Tulis yang BELUM/ TIDAK dipublikasikan

ini pun mengagetkan. Untuk apa mencantumkan karya ilmiah yang tidak dipublikasikan. Memang, pada CV… biasanya kita boleh mencantumkan beberapa karya yang masih dalam rencana/ masih dalam proses. Namun biasanya hanya 1-3 saja. Dan biasanya berkaitan erat dengan publikasi yang sudah diterbitkan. Itu pun bukan sebagai poin untuk lulus S3, namun hanya untuk menunjukan seseorang sedang dalam proyek penelitian dan dalam waktu dekat akan segera submit. Biasanya kalau dipresentasikan  bisa ditulis “to be submitted.”

Namun yang ada di list Pak AA, adalah karya sejak tahun 1995! Untuk apa? Untuk menunjukan list soft skill? Atau hanya butuh pengakuan saja.
IMG_0071

 

Saya mulai geram. Ada persamaan antara Pak AA dan Pak Shahrour idolanya: Sama-sama narsis. Lihat saja twitter Pak Mohammad Shahrour, harus repot mencantumkan DOKTOR pada akun twitternya. Padahal kalau karya Anda okesip sih, Pak, Anda mau cantumin gelar atau gak… orang akan paham dan tau.
Saya kecewa!
Patah hati!
Saya tonton betul klarifikasi dari seluruh pihak yang bersangkutan. Mengatakan bahwa seluruh metode ilmiah sudah dilalui. Namun mana buktinya? Mana? Mana wahai UIN Sunan Kalijaga??? Woi mana woi??? UIN itu Universitas Islam Negeri. Dalam Islam, kita harus bisa mempertanggungjawabkan perkataan dan perbuatan kita. Nah mana?

Saya sedih, meratapi kemampuan penyusunan karya ilmiah di dalam negeri.

Jika banyak dari kita yang tidak tahu konsep Milk al-Yamin atau tidak tahu siapa Mohammad Shahrour, mungkin wajar karena topik terkait hal ini sangat spesifik (lagian mendingan gak tau sih). Tapi, kalau sampai tidak ada yang mengkritisi metode ilmiah serta cara penulisan…? Ini baru menyedihkan karena hal ini sangat basic, dan sudah seharusnya dipelajari oleh mahasiswa setidaknya sejak S1. Jika tidak ada yang menyadari hal ini, maka… apakah kualitas penelitian ilmiah kita masih begitu rendahnya?

Saya tentu tidak bermasuksud memojokan siapapun. Saya pun tahu bahwa Pak AA berjanji akan merevisi disertasinya, namun saya harap revisi juga mencakup perbaikan metode penelitian serta pertanggungjawaban secara ilmiah terkait publikasi yang sudah ditelurkan. Publik berhak untuk mengetahui setiap komponen dari penelitian tersebut.

Semoga kita semua juga bisa belajar dari hal ini.

Namun, jika nanti Pak AA tidak mampu memperbaiki serta mempertanggungjawabkan seluruh komponen yang ia tulis pada disertasinya. Maka… tidak ada pertanyaan lain untuk Beliau, selain satu: Apakah Bapak memang sudah pantas meraih gelar doktoral?

Hingga tulisan ini saya akhiri, saya berharap Pak AA bisa melakukan revisi secara bijaksana dan cerdas.

Aamiin~~~~~

 

 

Tentang tipu-tipu online (dan tips supaya kalian bisa terhindar): Sebuah pengalaman pribadi


Seberapa panik kalian kalau tiba-tiba ada orang yang memesan kamar hotel di sebuah hotel bintang 5, di Batam dan singapura,dengan pemandangan laut! Dengan akun kalian?
satu kamar 5 juta rupiah/ orang.

Bukan hanya 1 hari tapi 3 hari. Itupun minta kasur tambahan :’D Pokoknya udah gw itung kira-kira ada lah 25 juta ++
InkedIMG_9898_LIInkedIMG_9892_LIIMG_9896

Mahasiswa misqueen pasti khawatir dan gila aja, dari mana uang 25 juta?

Ini terjadi ketika minggu lalu akun ex****a gw dipakai seseorang.
(Gw samarkan ya, karena mereka sudah melakukan solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan gw. Gw khawatir kalau gak gw samarkan nanti gw dikira pencemaran nama baik :’D nanti gak bisa maen blog lagi. Tulisan ini untuk membuat kalian lebih berhati-hati aja, karena kasus pencurian identitas itu ADA… banget)

Tapi uniknya, semua kartu kredit dan debit ADA di tangan gw dan udah jarang banget pakai karena selama di Jepang gw merasa lebih aman menggunakan e-money.
Tapi tetep dong, 25 juta siapa tak gusar. Bisa umroh, Kawan!
Untuk keamanan,gw putuskan blokir semua kartu di Indonesia. Iya dong, namanya jaga2!
Itupun setelah sungkem ke Mama dan adik. Akun gw di Indonesia biasanya gw pakai kalau ingin kirim sesuatu untuk Mama atau adik, jadi agak sedih juga hal ini terjadi.
Maaf ya, Ma.

Dan untuk case jepang, jauh lebih mudah karena semua transaksi tercatat lebih “real-time”, terutama untuk kartu kredit.
Uniknya lagi: tidak ada transaksi yang mencurigakan.

Ada yang gak beres. Tapi satu yang pasti, orang ini pakai akun Ex****a  gw, but whose identity? whose cards?.

Lemes banget, karena tidak ada gambaran apa sih yang sebenarnya terjadi.
Dan gilanya, saat kejadian itu terjadi… gw tuh lagi final presentation! Dan seminggu kemudian ada final exam. Pucet merona gak tuh kalo kalian jadi gw?

Gw kontak Ex****a  yang YA ALLAH SUSAH BANGET CARI KONTAKNYA, terutama untuk Ex****a .co.id! Akhirnya ketemu dan cuman kontak ke US -.-
Untung ada Skype! Saya pun bergerilya sejak 1 Agustus siang dan kalian mau tau gak jawaban CS-nya?
“Oh you just need to change the password!”

AING GE NYAHO! hadeuh… putus asa, saya telepon si hotel bintang 5 yang dituju si pelaku.
Mereka pun stuck, karena metode pembayaran, no telepon, dsb cuman tercantum “Ex****a ”
Saya pun bertanya, bisa gak saya reach out si pelaku yang mungkin lagi asik ngadem melihat indahnya pantai?
Saya tahu pasti akan gagal karena kebijakan privacy hotel, jadi bisa legowo pas dibilang “maaf.”

Tapi 3 tahun menempuh PhD menempa gw menjadi orang yang gak gampang nyerah.

Gw pajang aja complain gw di twitter, dan mention Ex****a .
Rupanya ini jauh LEBIH AMPUH.
Gw jelaskan lagi masalah gw, tapi pada suatu titik, seorang CS bilang (secara halus) kalo gw udah kebanyakan complainnya -,-
Ya gimana, ente pernah gambling membayangkan bakal ilang uang 25 juta? atau paling gak, gw yang dituduh maling CC orang. Iya toh?

Pagi tanggal 2 Agustus, gw akhirnya ditelepon oleh CS Ex****a , dan kali ini mbaknya baiiiiiik banget.
Jadi gw bisa lebih tenang dan gak misuh-misuh.
Dan setelah 1 hari berjuang, akhirnya gw berhasil dapat data digit terakhir kartu kredit yang si penipu gunakan.
the news is: Ada 11 kartu kredit berbeda yang digunakan, dan GAK ADA KARTU GW SAMA SEKALI.
InkedIMG_9893_LI

Ini menjawab semua pertanyaan kenapa gak ada tagihan aneh di akun gw. Tapi kan namanya debt collector kalau nagih kan gak mikir-mikir ya.
Jadi gw tetep khawatir, karena Mama gw kan post-stroke… pasti takut banget kalo tiba-tiba ada debt collector yang seringkali kasar dan gak mau tau dateng “Anak Ibu harus membayar sekian rupiah!”

Misi gw yang awalnya mau ngecek keamaan akun dan tentu KEUANGAN gw (ini penting dong, 25 juta and still counting guys!)
berubah jadi: Mari bantu Ex****a  nangkep nih maling. Mumpung di Singapura masih subuh, mereka pasti masih boboks.

Gw minta agar masalah gw ini di kasih ke bagian fraud dan juga dikomunikasikan dengan pihak berwajib di Singapura.
Klo perlu ditangkep, tangkep aja deh… soalnya ini udah masuk ranah pidana. Iya dong! Kalian juga pasti setuju lah sama gw.
Mereka setuju dan mengiyakan. Gw pun bilang, gw ini orangnya keras kepala, klo gw gak liat ada upaya untuk nangkep si pelaku, gw bisa nekad dan bisa urus semuanya sampe dapet. Wallahu’alam gw akan kemana, tapi udah sering baca komen reviewer dan revisi thesis, udah gak takut apa2 lagi.
Gw gak minta orangnya minta maaf, cuman silakan enjoy ocean view dari jeruji besi 🙂
11 kartu kredit gaes! Entah punya siapa…
Mereka pasti orang yang gak tau apa-apa.
Dan kasian ex****a juga toh, siapapun yang kartu kreditnya dicatut pasti akan complain dan gak mau bayar.
25 juta ++ cuman dari gw doang, mungkin ada emon emon lainnya. Yah ruginya ex****a bisa ratusan juta lah.
Kurang baik apa gw sampe ngingetin mereka. Makanya gw sebenarnya greget banget sama CS pada tanggal 1 Agustus yang dodols banget.
Untung akhirnya pas tanggal 2, Mbaknya baik dan helpful banget.

Akhirnya, pada hari yang sama gw dapet info kalau reservasi yang tersisa di cancel oleh pihak ex****a.
Dan rupanya memang sudah disampaikan ke pihak Transaction processing yang sepengalaman gw sih juga bagian yang ngecek masalah fraud.
Ini alasan pembatalan order.

Dear Ex****a.co.id Customer,

Your Ex****a.co.id purchase 7459566392925 has been cancelled due to one or more of the following reasons:
• We were unable to authenticate the credit card.
• We were unable to authenticate the card holder.
• The purchase was declined by the credit card company.
• Account history.
 Please reply to this e-mail if you think there may be a mistake. We are happy to work with you to rectify any discrepancy. Since we have been unable to contact you via the telephone numbers listed in your account, please reply to this e-mail with the telephone number where we can reach you and the best time to call. An Ex****a Transaction Processing Representative will contact you.
 Sincerely,

Hadeuuuuh… naha teu ti kamari.

Anyway, terima kasih banyak untuk CS Ex****a yang akhirnya serius menanggapi komplain konsumen. Maaf ya karena gw kontak terus menerus -.- Mungkin lain kali, penanganan kasus segaswat ini harus lebih cepat dan gak bertele-tele ya. Selain mereka tahan sih dengerin konsumen cerewet kayak gw.

Sejauh ini gak ada hal mencurigakan lagi :’)

Oh iya! Sebelum aku ex****a gw ke-hack, gw menyadari kalau email gw di serbu spam yang ada kali 100/jam.
Nah, kayaknya sih supaya si maling bisa “mengelabui” gw supaya gak ngeh ada email reservasi.
Selain itu, akun internet banking gw juga gak bisa login karena selalu ada tulisan “Ada upaya untuk masuk ke akun Anda.”
sampe akhirnya gw 3x salah password.

Asem!

Jadi sebenernya udah ada gejala2 yang ada muncul cuman kita gak ngeh
dan gw kan seminar yang gengs! jadi gak sempet lah curiga-curigaan gitu.

  • Cek e-mail dan seluruh akun kalian. Curiga itu penting kalau memang kalian ngerasa ada hal yang mencurigakan.
    Kalau ada akun yang udah kalian gak mau pake lagi, tutup dan hapus aja untuk menghindari dipake sama orang yang tidak berwenang.
  • Jangan menyerah!; kontak CS itu bisa susah banget soalnya mungkin mereka mikir “Yang penting uang masuk, punya siapa… bodo amat!” memang sangat mengecewakan. Tapi demi uang dan integritas sih, sampe ujung dunia juga gw kejar. Hei! Ini hak konsumen! Jadi bener deh jangan nyerah!
  • Langsung cek ke pihak bank, dan kalau mau aman ya mau gak mau blokir aja semua kartu2 kita.
    Repot? Yes! Tapi daripada ilang 25 jeti plus plus, mending repot -.-
  • Kontak CS google, sampaikan kalau kalian emang ngerasa ada hal yang aneh di akun gmail kalian.
    Tentunya kalian juga harus sigap untuk ganti password dan nambah sekuriti akun dengan 2-step- verification.
    Repot tapi aman!
    Google emang tim paling yahud di muka dunia deh, mereka respon loh complain receh gw. Dan mereka bilang mereka akan cek knp tiba2 ada hal kayak gitu. Entah gimana caranya, tapi mereka mendeteksi kalau akun gw mendaftar banyaaaaak banget milist di beberapa hari terakhir.
    Dan bener loh, dalam waktu kurang dari 24 jam, aktivitas di e-mail gw kembali seperti semula.
  • Kadang biar lebih “cepet” kita diminta beberapa web untuk save account dan info CC kita.
    Mulai dari sekarang DON’T DO THAT! Gak apa lah lama dan ribet transaksi daripada akun kita diretas.
  • Sementara, jangan banyak2 transaksi dengan menggunakan kartu selama di Indonesia.Kalau ada cash, cash aja lah.
    Gw mungkin gak akan bilang kayak gini di Jepang, tapi gw rasa kejahatan siber di tanah air lagi on peak, jadi gw sarankan sementara minimalkan transaksi yang bikin kita ngeluarin kartu2 kita.
    Oh iya! Untuk kasus ini pun, yang ke “hack” kayaknya ex****a Indonesia. padahal gw cuman pake ex****a jp atau ex****a.com. Dengan apa yang terjadi sama gw, gw yakin ada sesuatu yang terjadi di Indonesia.
  • Gw juga saran untuk cek profile kredit kita di OJK. Tadinya gw mau cuek beybeh aja, cuman setelah ada kasus ini… semua orang bisa aja jadi korban.
    Kalian mungkin ngerasa gak transaksi apapun, tapi bisa aja tiba-tiba harus bayar tagihan jutaan dan klo mangkir malah digebug debt-collector Indonesia yang jujur aja kebanyakan tidak punya tata krama -.-
    Kalo jauh, mungkin bisa bawa rekening koran dan lapor ke bank.
  • * ganti password secara rutin 🙂

EMOOOOOON~~~~~~ ribeeeeeeet banget!
Iya, tapi lo mau uang, berlian, dan barang tambang yang sudah susah payah kalian gali siang malam aman kan?
Mungkin ribet dikit gpp.

Dan jangan ragu untuk bicarakan semunya pada pihak yang bersangkutan. Alhamdulillah, untuk kasus ini akhirnya dapat CS Ex****a yang helpful banget, pihak hotel juga support banget dan ngasih saran-saran yang membangun. Dan Bank… maafkan tante emon yang selalu ngomel di awal :’D soalnya tante ada jauh di rantau dan duh bank  di Indonesia itu comelnya gak tahan deh. Gw gak tau ya kebijakan perbankan di Indonesia gimana. Tapi di Jepang, klo mau blokir sih telepon aja pihak CS, sebut alamat e-mail dan nomer hp lalu selesai -.- less than 5 minutes semua kelar.

Well, mungkin karena nomer hp di sini prabayar semua ya. Tapi gak ada tuh ditanya nama ibu kandung, alamat rumah, nomer kartu, dsb yang jujur aja klo bagi gw sih ampe itu pertanyaan kelar, yang gasak atm udah beres makan penyet ayam sama es kelapa :’D
But thank you juga untuk bank karena banyak membantu juga walau kenal omel2 dikit :’) maaf ya.

Yo wis, gitu aja….
Buat kalian, mulai sekarang jaga-jaga dan lebih hati-hati ya. Jangan sembarangan nyimpen data pribadi kalian di dunia maya!

Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!!!!!!