Tentang Mama…


Ngomongin tentang Mama…. namanya anak, saya dan adik saya itu tetep aja doyan bikin Beliau kesal. Namanya anak juga, kami sering sekali ngomel karena Beliau itu susah sekali diminta untuk diet. Tapi dibalik itu semua, we love her so much… and we admit she is a great mom ever. Ditengah pro-kontra ibu karir vs ibu rumah tangga, izinkan saya untuk menceritakan bahwa hal terhebat dari seorang Ibu mungkin lebih besar daripada yang bisa kita lihat. Bahwa perjuangan seorang Ibu, lebih luar biasa dari yang kita sadari. So, there always a reason why we should give our best love for her.

Banyak yang tidak tau kan kalau saya ini punya banyak masalah hahahha. Kalian mungkin mengenal saya sebagai emon yang doyan ketawa, jarang keliatan serius, biasa-biasa aja, galak malah.So many things. Tapi jauh dari itu semua, saya waaaah…. saya punya banyak kekurangan.

Sahabat-sahabat saya dan adik saya tahu bahwa ide terburuk di muka bumi ini salah satunya adalah: Tanya arah dan waktu kepada saya. Kawan…. saya ini sulit sekali membedakan kanan dan kiri. Saya juga kadang tertukar antara angka 6 atau 9, angka 4 dan huruf A, dan sebagainya. Dulu saya pikir itu hal yang lucu-lucu aja, tapi setelah saya sampai di Jepang dan sempat bertemu dokter, saya disah-kan menderita dyslexia walau gak parah-parah banget, jadi masih parsial. Itu juga alasan kenapa saya selalu pakai jam tangan. Jam tangan bagi saya bukan cuman penanda waktu, tapi juga penanda arah :’D sedih lah pokoknya.

Tapi, jauh sebelum itu… Mama dan Ayah saya mungkin sudah menyadari hal ini. Saya terlambat membaca sewaktu saya di TK, saya selalu kabur dari kelas membaca! Ayah saya juga geram karena saya selalu tertukar antara huruf “ja” dan “kha” ketika membaca Quran. Ketika mengerjakan matematika pun saya sering tertukar antara angka-angka yang mirip. Parahnya lagi, kalau pergi kemana-mana, Mama dan ayah saya tidak bisa bilang “belok kiri terus ke kanan ya”, dijamin saya nyasar! tapi lebih jadi “Tau rumah Pak X kan? Nah dari situ jalan lurus, liat rumah cat warna hijau… nah itu tempatnya!”. In short, for a kid, I was stupid! Tidak heran nilai saya saat TK itu “K” loh! Level yang lebih nista daripada “F”! Adik saya paling happy ketika melihat nilai saya di bangku TK dan selalu bilang “What you have done! It is terrible, kak.” Prestasi saya sewaktu kecil jauhlah dari standar cerdas, makanya gak pernah ikut lomba bayi berbakat atau sebagainya :’D

Jaman baheula sih kayaknya dyslexia gak ngetop ya, apalagi di Indonesia. Tapi Mama dan Ayah saya sepakat there was something wrong with me, dan harus ada “pendidikan spesial” untuk saya walau mungkin gak terlalu ngeh bahwa itu adalah gejala dyslexia. Saya pun baru tahu secara resmi di sini kok. Β  Oiya, kalau kalian belum pernah denger tentang dyslexia, bisa diliat di sini ya (https://www.dyslexia.com/about-dyslexia/signs-of-dyslexia/test-for-dyslexia-37-signs/). Siapa tahu kalian nemu orang-orang di sekitar kalian yang punya ciri seperti itu. Jangan di bully loh ya, mereka cuman butuh extra kesabaran.

Dahulu saya sempat bertanya-tanya mengapa Mama harus berhenti dari tempat kerjanya dan memutuskan jadi IRT. Dulu jawabannya sih diplomatis “Iya, abis kamu harus ditemenin sih hahahhaha”. Lalu saya sadar… saya mungkin tidak akan bisa membaca dengan baik jika Mama saat itu tidak berhenti bekerja. Menyadari saya yang tidak happy belajar di sekolah, Mama yang kemudian mengajari saya perlahan di rumah. Dan mungkin karena lebih paham keterbatasan dan masalah saya, Beliau lebih oke punya dalam mengajari saya dibandingkan sekolah. Mengejar ketertinggalan saya di TK (yang pada akhirnya totally useless krn saya cuman jadi ahli mabal dan gigit orang), saya akhirnya berhasil lancar membaca saat SD dan mengatasi beberapa hal yang selama ini jadi masalah saya. I did good during elementary school, walau selalu ditinggal kalau lomba upacara karena masih salah tentang kanan dan kiri, tapi lainnya? I did very well.

Saat SMP, ayah saya meninggal dunia. Saya tahu masa itu merupakan masa terberat untuk Mama. Apalagi Mama kan tidak punya pekerjaan tetap saat itu. Saya tau sih, pasti diam-diam ada juga yang nyinyir “Tuh gitu tuh kalau istri 100% jadi Ibu rumah tangga.” Banyak lah, macem-macem. Apalagi saat itu Mama harus menanggung dua orang anak.

Life is tough, tapi Mama nyaris gak pernah complain di depan kami. Sok kuat sih kayaknya, padahal mungkin behind the scene cengeng.

Berkali-kali juga saya pernah dibilang bodoh, untalented, gak bisa masuk universitas negeri kalau bukan pakai jalur khusus, sampai pernah teman saya di depan mata saya sendiri bertanya “Eh, gimana sih rasanya punya temen yang lebih pinter daripada lo?”. Walau emang gak pinter-pinter banget, tapi… ya sedih juga sih kalau digituin.

Lain saya, lain pula adik saya. Adik saya ini doyan adu otot. Terkenal sebagai preman komplek karena kalau dia sebel sama orang, dia sih gak perlu adu mulut… adu otot aja sekalian.

Sudahlah bokek, punya dua anak yang macemnya model kayak gini kan =.= kok sedih ya kisah Mama saya itu hahahaha.

Tapi setiap saya pulang dengan muka cemberut dan hati berduka *halah*, Mama selalu bilang “Oh come on! Mama tuh yang tau kalia dari sejak kalian ada di dunia sampai hari ini. Kenapa harus denger orang-orang yang cuman mengenal kalian hitungan hari? Come on! Kalian bisa kok meraih yang kalian mau”

Saya pun move on, menjalani hari, dan mulai bisa menerima “Jadi bodoh gak apa kok, yang penting mau belajar… dan hey! Mom trust me! Everything will be alright”

Adik saya kemudian menjadi atlet Taekwondo atas ide Mama “Udah lah ya daripada mukulin orang, mending mukulin apa kek gitu… batako kek, biar puas”
Oiya! Kalau saya punya dyslexia! Adik saya beda lagi. Dia punya kecenderungan malas sekali basa-basi.
Adik saya lebih aneh lagi, misal ada pertanyaan “Dapatkah kamu menceritakan ulang paragraf di atas, jika ya tuliskan kembali?” dia akan jawab “Tidak”
Saya pikir masalah itu cuman ketidaksengajaan, rupanya cara berpikir dia memang kelewat taktis.
Rupanya masih terjadi juga sampai kuliah. Kalau gak salah pernah juga dia sampai pada menjawab “Tuliskan kalimat syahadat” dan dia bener-bener nulis SYA-HA-DAT dalam bahasa arab. Bukan dua kalimat syahadat yang dimaksud soal.
Adik saya memang parah kalau harus melihat soal-soal yang terlalu panjang, dan itu yang membuat dia jauh lebih baik membaca buku teks dalam bahasa Inggris dibandingkan Bahasa Indonesia. Saya sih sebenarnya curiga jangan-jangan di punya gejala kelainan lain :p dan mungkin baru ketahuan yaaa seperti saya ini ketika ketemu dokternya di luar negeri. Semoga sih gak =.= jadi orang yang rada “aneh” itu capek juga sih jelasinnya.

Aneh-aneh kan?
Tapi lagi-lagi, walau kadang geram juga dan selalu bilang “Kalian tau gak, mama tuh punya dua anak, dan dua-duanya unik gitu. Beda pula karakternya”,tapi at last Mama selalu percaya pada kami, dan itu saja cukup.

—————————————-

Rupanya perjalanan saya dan adik saya gak jelek-jelek banget untuk perkara akademik. Adik saya, yang sudah di ujung tanduk dan mulai bersiap saya kirim ke pesantren di curahlele karena gagal dalam PMDK, terlalu kere untuk jalur khusus, gagal ujian akhir salah satu sekolah dinas, dan tinggal bersandar pada SBMPTN. Itupun sudah gak PD, dan saya cuman asal bilang “udah deh kalo buntu, lingkarin C aja lah ahahhahahaha” Dan saya ingat adik saya sempat kesal dengan jawaban saya. Tapi alhamdulillah kini dia happy karena berhasil kuliah di salah PTN. Kalau niat sih dia sebenernya oke :”D mungkin khawatir juga diasingkan ke curahlele.

Saya juga, yaaaa… gak jelek-jelek bgt lah πŸ™‚ Dari seorang yang susah banget baca jadi seorang penggemar buku dan sampai pada point sekolah sejauh ini kan alhamdulillah banget.

Tapi, semakin hari saya semakin sadar…. Kalau saja, KALAU… Mama saya menyerah pada saya ketika menyadari bahwa saya punya banyak masalah saat masih kecil. Sudah sering sakit, lambat pula belajarnya, waaah kan nyebelin! Jika saja pada saat itu Mama mikirnya “Ya nasib, anak perempuan ini kok ya biasa-biasa aja”. I’ll never be in this point. NEVER.

Kalau saja saya tidak punya Mama yang bisa berpikir “Gini loh kak, Mama sama Ayah dulu sudah pernah sekolah sampai sini loh…. masa’ kamu gak bisa lebih? Kamu harus lebih dari Mama. Caranya bagaimana ya harus cari sendiri tapi kamu harus lebih dari Mama”
Mungkin saya juga tidak akan sampai sejauh ini….

Saya yang bandel ini sadar, saya bukan siapa-siapa kalau saja Mama tidak ada.

—————————————-

Saya sering sekali marah-marah ke mama saya karena sekarang Beliau terkena diabetes dan juga pernah terkena stroke. Mama itu susah banget disuruh diet, susah banget diajak jalan-jalan keluar, susah banget diajak foto karena gak PD. Parahnya lagi sejak sakit, Beliau jadi super moody. Kadang kalau kita omelin dikit, nangisnya kayak bocah kena bully satu kampung =.=

Dipikir-pikir adik saya mungkin lebih penyabar dibanding saya (padahal! Inget loh waktu kecil adik saya kan ahli baku hantam! Kini ia hanya menjadi mahasiswa bermuka garang tapi nangis pas nonton Lion KingΒ  dan terisak di pemakaman kucingnya ).

Tapi dalam hati, we really love her. Really grateful about her.
Saya ingat adik saya pernah bilang “Ya kadang pengen ngomel juga sih ke Mama, but I really love her. Kiki mau Mama terus ada sampai lihat kita berdua sukses”

Dua anak bandel mama yang nyebelin ini rupanya punya satu kesepakatan “Kali ini, kami yang tidak akan pernah menyerah untuk Mama, apapun alasannya”

=====================================
Image and video hosting by TinyPic
Selamat ulang tahun, Ma… terima kasih untuk terus bertahan menghadapi kami. Jangan bandel-bandel lagi ya, jaga kesehatan, you have no reason to get sick anymore soalnya kayaknya anak mama lumayan baik-baik deh :’p

We love you.

 

Super Short Trip to Hiroshima (and a small tips if you plan to go there ;) )


Setelah di timpuk aneka PR (dan masih menumpuk) karena dikejar deadline submit jurnal Maret ini, dengan gegap gempita seorang Marissa memutuskan untuk kabur ke Hiroshima. Jumat 23 Desember adalah hari libur nasional di Jepang, jadi yo wis lah… 1-2 hari juga ndak apa yang penting libuuuur. Karena niatnya memang “kabur” jadi yaaa ndak bilang-bilang sama Sensei kalau akan ciao ke Hiroshima. Walhasil Beliau dengan ceria dan senyumnya yang manis langsung memberikan “hadiah” berupa PR untuk programming dan research progress. Dengan senyum manis tersungging, kami mah ngangguk-ngangguk aja, sambil mikir “Waduuh harus gotong laptop nih”

Namun memang ya bocah-bocah durhaka. Saya sih bawa laptop, tapi alhamdulillah tidak disentuh. Saya kira saya yang paling malas dan durhaka dan akan diazab Allah, rupanya “sohib-sohib” saya di lab pun serupa! Mereka malah sudah menggotong peralatan ski dan kelupaan membawa laptop mereka :’D Alhamdulillah, di tempat tujuan mereka gak bisa ski karena badai MWAHAHAHAHAHAHA. Allah juga tahu siapa yang dosanya lebih serius perihal ini.
Lucu sih karena pada akhirnya malah dapat LINE dari para mahasiswa durhaka “Marissa, how about your homework? Wait! What homework btw?” hahhaa lha piye…
absurb lah my PhD life.

Hiroshima: A Recommendation if you are a backpacker with super limited time!
Saya sudah lelah ditanya “Mon, kira-kira di Jepang harus liat apa ya? Kalau ke tempat X berapa lama? Terus bayar berapa? Di Tokyo hotel yang murah apa?”
Ada beberapa hal yang salah kaprah di sini:

1. Saya jarang jalan-jalan… Kan kalian tahu saya ini “cat person” setengah mati. Keluar rumah? Capek? Lha… di rumah anget dan banyak makanan yaaaa ngelungker di balik selimut
2. Kalau kalian tanya Tokyo, saya sendiri saja…. yang 2 tahun di Tokyo masih menahan tangis kalau liat harga hotel. Akomodasi di Tokyo itu mahaaaaaaaaaal.

Tapi kali ini saya tahu,Β  rekomendasi jika kalian mau backpacker, hanya 1-2 hari, dan budget agak sedikit terengah. I recommend: HIROSHIMA.
Alasannya:
1. Main attractionnya tidak saling berjauhan, jadi kalau hanya ingin explore main attractions… pasti sempat lah.
2. Penginapan dan transportation cost tidak terlalu mahal.

Minusnya, yaaaa jauh dari Tokyo. Kalian bisa naik overnight bus dari Tokyo (12 jam) , naik shinkansen (sekitar 3 jam), atau take a flight ke fukuoka airport lalu lanjut dengan kereta atau bus. Kyoto juga super recommended sih, tapi ketika musim libur datang saya merasa Kyoto jadi terlalu ramai.

Dari Hiroshima station, kalian bisa langsung jalan kaki dan berjalan ke area kuil salah satunya Hiroshima Toshogu Shrine yang letaknya di Futaba Mt. Nah satu bukit ini ke atas itu kompleks kuil, jadi jika kalian kuat nanjak, mendaki gunung melewati lembah, kalian bisa melihat banyak spots di sini. One of my favorite adalah Kinko Inari Shrine, karena jalan menuju kesana menurut saya “camera-able” karena torii dengan warna merah menyala itu nendang banget di kamera

Image and video hosting by TinyPic

Gate ke Toshogu Shrine

Image and video hosting by TinyPic

Jalan menuju Kinko Inari Shrine

Image and video hosting by TinyPic

Pemandangan selama mendaki gunung melewati lembah

Dari situ, harus ke Miyajima lah. Ini bagus banget! Jadi jika kalian ke Hiroshima dan gak mampir ke Miyajima, aduuuuh… bye~sayang banget. Ini agenda wajib! Sebenarnya sih si pulau kecil ini official name-nya Itsukushima, nama beken-nya ya Miyajima itu. Jika ada waktu lebih banyak lagi, kalian harus menjajal naik ke Mt.Misen.

Miyajima ini terpilih sebagai salah satu UNESCO World Heritage. Awalnya sih mikir, ya ampuuun sebagus apa sih? Kuil itu mau sebagus apa lagi?
Rupanya satu komplek pulau kecil ini, shrine area yang dikelilingi gunung dan laut. Jadi scenic banget sih. Better you see this one
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Cantik kan…
Belum lagi makanan di sini yang enak banget! Kuliner khas di Miyajima adalah tiram dan belut. Untuk makan siang saya menjajal goreng tiram di sini…. dan ENAK! Ya ampuuun enak banget. Untuk menghindari kalian yang bisa ngiler, foto sengaja saya blur HAHAHAHAHA
Image and video hosting by TinyPic

Saya juga beruntung karena ketika saya datang, kota Hiroshima rupanya sedang mengadakan even light festival besar-besaran :’D dan venue illumination festival ini hanya 3 menit dari guest house tempat saya menginap HHAHAHAHAHAHA. Lucky Marissa…. untuk kalian pecinta bokeh photography, it such a heaven…
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Keesokan harinya, pastinya dong sudah sampai Hiroshima kok gak liat Hiroshima Atomic Bomb dome! Wah pelanggaran berat. Kebetulan tempat saya menginap juga dekat dengan area ini.
Nah Atomic bom dome, Memorial museum, dan Hiroshima castle itu areanya berdekatan jadi kalian bisa keliling dan lihat semua spots ini dalam satu hari dengan jalan kaki atau sewa sepeda. Itu pun kalian masih sempat jalan-jalan di tempat gaulnya Hiroshima di Hondori St.

Rekomendasi saya sih, ke Hiroshima castle dulu ya… karena dia agak jauh sedikit.
Image and video hosting by TinyPic

Dari situ enjoy Atomic bomb memorial park.
Image and video hosting by TinyPic
Saran saya, kalian HARUS masuk ke Hiroshima Peace Memorial museum karena it is open your mind banget, tiket masuk hanya 200 yen!
Image and video hosting by TinyPic
Awalnya saya ke museum juga hanya sekadar nitip tas karena lokernya gratis (HAHAHAHHA). Tapi karena penasaran, akhirnya mampir juga dan rupanya memorable banget, dan setelah keluar museum kalian pasti tergugah dan bakal bilang “No more war in this world!”

Rasanya juga mau nangis ketika membaca cerita para korban bom atom Hiroshima. Makin sedih lagi ketika melihat origami yang dilipat oleh Sadako Sasaki-san, bocah cilik yang terkena leukeumia karena efek radiasi bom atom.
Image and video hosting by TinyPic
Lebih sedih daripada film One Liter of Tears sih. Namanya bocah masih polos gitu kan, dia berharap dengan melipat 1000 origami burung bangau bisa mengantarkan doanya untuk sembuh terkabul. Aduh… aduh… gak kuat deh, it is too sad for me. Oiya ada bukunya loh, kalau gak salah terbitan Penguin publisher, judulnya Sadako and the Thousand Paper Cranes.

Budgeting!
Kalau kalian pecinta privacy, rekomendasi saya adalah menyewa kamar di Ryookan,. Ryookan ini rumah tradisional Jepang, tidurnya pun di futon alias kasur lipat. Tapi kamarnya luas, dan ada private room. Ada beberapa Ryookan di Hiroshima, jadi coba aja cari. kalau mau lebih murah lagi yang kamar di dorminatory room atau capsule hotel. Agak sakit punggung sih… dan saya kan rewel ya jadi males ahahaha.

Capsule hotel: 1500-2000 yen per night
Ryookan: 3000/4000 yen per night—–5000/6000 yen per night in peak time for private room
Hotel 3 stars Β Β Β Β  : 5000/6000 yen per night—- 6000/10000 yen per night in the peak time for private room.

Untuk transport ferry dari hiroshima city ke miyajima biasanya around 1000-2000 yen round trip. Tergantung kalian naik dari mana.

City bus dan trem 160-220 yen asal tau rutenya

Kereta 160-400 yen tergantung jarak

Just IMO sebagai mantan anak Tokyo, range harga di atas cukup rasional dan affordable.

Sekian deh laporan singkatnya.
Selamat jalan-jalan… πŸ˜‰

 

Belajar menjadi manusia seutuhnya: Catatan seorang PhD newbie


Tidak pernah terlintas dalam hidup saya bahwa saya akan menjadi seorang PhD candidate. Sampai bisa sekolah master di luar negeri saja sudah begitu “Wah” untuk saya. Wong saya ini anak ndeso kok! Lahir boleh di Jakarta, tapi sekolah SD di Leuwiliang… namanya saja tidak bonafid!
Setelah itu pindah dan tinggal di kawasan Ciomas… lagi-lagi namanya kok ya agak ndeso gitu ya, dan memang ndeso karena pizza h*t saja enggan delivery ke kampung ini :’) untungnya sekarang sudah ada g*jek dkk… jadi tidak terpencil-pencil banget lah. Tapi tetap angkot 32 hanya mau mengantar sampai ke “dusun” saya pada jam kerja. Jangan harap dapat angkot yang mengantarkan Anda ke area dusun saya jika sudah lewat jam 6 sore.

Kuliah pun di kampus IPB Dramaga. Wuaduuuh rek! Boleh lah kampus ini jadi salah satu kampus terbaik di Indonesia,tapi posisi si Dramaga ini jauh dari peradaban. Sungguh, kami para mahasiswa kere ini sesungguhnya memendam keirian mendalam pada kampus diploma dan pasca sarjana yang punya posisi lebih elit. Namun kami pun sadar, kalau toh kampus kami dipindah ke daerah yang lebih elit, sesungguhnya uang jajan kami yang hanya cukup untuk beli nasi uduk plus telor penyet (itu pun masih mencari warung yang paling murah) tentu tidak akan sanggup menggapai kemewahan pusat kota. Yo wis lah mau bagaimana lagi.

Belum lagi saya ini orangnya kuper. Hobi: Tidur, makan, dan uwel-uwel kucing.
Bahasa Inggris saya juga yaaaah gitu-gitu aja. Bahasa Jepang cuman bisa kore-kore. Bahasa perancis, cuman bisa baca, listening dan speaking sih wassalam  :’D.
Kemampuan matematis so-so
Kemampuan menghapal lebih parah
Loooh, mau jadi apa toh, Nduk?

Ketika saya terbang dan menempuh studi di Jepang,di Tokyo Institute of Technology pula, banyak pesan yang masuk ke mailbox saya. Beberapa tentu memberi selamat. Beberapa ada yang keceplosan “Kok bisa, Mon?” sampai “Lo beneran sekolah? Bukan exchange? pasti pake uang lo sendiri kan?”
Saya kok paham kenapa banyak yang bilang begitu hahahhahaa.

Saya berangkat bukan serta merta membawa senyuman loh kawan-kawan. Saya membawa beban berat. Mungkin Allah menyeret saya dengan cara yang cukup ekstrim. Sebelum saya berangkat, saya sudah menuai banyak kontroversi (Hish! Bukan Pak Super aja yang bisa menuai kontroversi, gw juga!). Saya dianggap cukup “durhaka” meninggalkan mama saya yang memang kondisi kesehatannya tidak se-fit dulu dan meninggalkan adik kecil saya yang masih sekolah. Saya dianggap sombong… dan jangan salah, ada juga loh yang sampai bilang saya bakal “seret jodoh” itu agak sedih sih.

Di tengah konflik batin itu, tiba-tiba Dosen saya menawarkan saya untuk studi di luar negeri. Tiba-tiba juga LPDP mengabulkan permohonan perpindahan universitas saya yang sebelumnya sudah ditolak mentah-mentah. Dan pada puncaknya adik saya yang dingin, tidak romantis, garing, dsb dsb dsb “datang dan bilang “Kak, you should go! Study hard there, and I want to see you happy”
Karena sesungguhnya tiada hal paling romantis selain kata-kata sweet dari orang yang dingin!
Pernah suatu saat adik saya membawa celengan kesayangannya “Kak, tell me how much you should pay to go abroad?”
Mungkin… ini mungkin… jika saya tidak memiliki adik seperti adik saya, saya tidak akan ada di sini. Di posisi ini.

Saya… si anak “biasa-biasa” ini kemudian terbang ke Jepang. Sekolah lagi! Di Tokyo Institute of Technology hahahaha asa keren ada technology-nya hahahah anak dusun jadi lebih “melek” teknologi

Image and video hosting by TinyPic

Menempuh jenjang master di luar negeri itu pun tidak semudah yang kalian bayangkan. Selfie mungkin cantik dan ceria, namun di balik itu? Saya shock karena saya merasa otak saya kosong!  Saya shock dengan kendala bahasa, saya putus asa karena mata kuliah yang ingin saya kuasai dalam bahasa Jepang, saya kaget dengan budaya kerja di negeri ini yang tidak kenal ampun. Saya lelah… saya lapar… dan sesampainya di rumah? Di apato mungil saya hanya ada kulkas kosong. Ketika emosi, saya menjadi garang dan membunuh para kecoa dengan membabi buta. Pernah suatu hari petugas dari Tokyo Gas sampai datang ke rumah karena alarm gas saya berbunyi… padahal itu hanya efek saya menghabiskan satu kaleng insektisida untuk memusnahkan para kecoa hingga ke anak, cucu, dan cicit.
Yah tapi  alhamdulillah lulus juga :’D

Image and video hosting by TinyPic

Namun di balik itu semua, saya menemukan hidup yang baru.
Saya bekerja sama dengan Sensei-sensei yang humble dan bijaksana.
Saya menemukan teman-teman baru.
Saya melihat tempat-tempat baru.
Saya jatuh cinta.
dan yang pasti saya mulai menemukan diri saya yang sebenarnya. Sebuah sisi manusiawi yang paling nyaman saya “kenakan” saat ini.

Lalu kemudian saya sampai di titik yang sekarang. Saya menempuh jenjang doktoral.
Sungguh tidak ada yang mahakeren dari ini semua. Menjadi seorang PhD mungkin hanya sebuah cara yang tidak biasa untuk menjadi lebih manusiawi dan rendah hati.

Marissa, si PhD candidate ini toh masih jadi orang yang wara-wiri ke semua orang hanya untuk revisi proposalnya yang masih busuk (dan ditolak LPDP hahaha #curhat).
masih menjadi orang yang kikuk ketika bicara tentang orang asing,
masih menjadi orang yang bermasalah dengan percaya diri namun kemudian berusaha untuk lebih menerima diri sendiri, untuk tidak terlalu keras kepala terhadap diri sendiri.
Masih menjadi mahasiswa bloon yang kena omel sensei “Loh… ini loooh kok ndak dibaca. Udah berapa kali saya bilang” hehe
Masih bodoh di matematika dan pada akhirnya semakin muka tebal mengunjungi anak bachelor dan master untuk di ajari matematika :’D ini kisah nyata loh.
Saya tetap mahasiswa ngirit yang pergi ke toko sayur pun hanya jelalatan melihat sayuran diskon.

Beberapa kali saya katakan kepada setiap orang, sungguh tidak pantas pendidikan yang tinggi membuat kita menepuk dada terlalu keras. Pertama, karena itu kan sakit ya, Bok. Pertama, karena sesungguhnya pendidikan yang semakin tinggi membuat kita semakin sadar bahwa kita ini yaaa belum tau apa-apa. Kedua, pendidikan yang semakin tinggi membuat kita sadar bahwa kita butuh bantuan orang lain. Pada intinya, pendidikan membuat kita sadar bahwa kita adalah MANUSIA.

Kepada kalian pembaca blog ini, terutama yang masih muda-muda, adik-adik saya….
Kalian masih muda, you are still young! Jadi berkelanalah jemput impian-impian kalian. Bumi Allah ini luas, maka explore bumi ini. Temukan pengalaman dan teman-teman baru. Jangan takut dengan kelemahan-kelemahan yang kalian punya. Saya toh bukti nyata dan hidup kalau si manusia dusun yang biasa-biasa saja ini bisa lohhh sampai ke level ini. Kalian mungkin akan ragu, minder, takut, tapi jangan lupa tetap maju…hanya dengan melangkah maju kita bisa tahu apakah kita bisa mengatasi setiap kelemahan kita. Semoga setiap langkah itu membuat kalian, kita semua, menjadi manusia yang jauh lebih kuat dan lebih mengenal diri kita sendiri. Insha Allah πŸ™‚ * Kalau udah umur segini emang omongannya lebih emak-emak*

Kepada teman-teman yang sedang melanjutkan studinya semoga Allah melimpahkan kekuatan dan berkah dari ilmu yang kalian tuntut. Hingga kelak kalian bisa memastikan ilmu kalian berguna bagi khalayak banyak. Dan semoga Allah juga melindungi kita dari sifat sombong. Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk πŸ™‚ Okay.

Terima kasih kepada keluarga dan guru-guru saya, saya tidak bisa membalas apa-apa namun semoga setiap jerih payah saya kali ini dan kelak akan menjadi alasan kecil untuk membuat mereka semua tersenyum

Terima kasih kepada teman-teman saya, hidup ini sepi loh tanpa kalian… dan apapun alasannya, tetap perlakukan seorang Marissa seperti Marissa yang biasa πŸ˜€ seorang pecinta kucing sejati.

Dan mungkin terima kasih kepada semesta dan Sangpencipta semesta… karena caranya untuk mengajarkan saya tentang banyak hal begitu Indah.

Selamat hari raya Idul Fitri, dunia….


Image and video hosting by TinyPic

mes chers amis, Joyeux AΓ―d El Fitr πŸ™‚

Selamat hari raya Idul Fitri ya semuanya.
Maafkan kesalahan saya yang memang suka aneh-aneh ini. Maafkan saya yang suka menyendiri bersembunyi dari keramaian…
Maafkan saya yang kalau BT mukanya sulit dikontrol…
Maafkan saya yang lebih suka ngobrol dengan kucing daripada manusia ketika under pressure Pokoknya maafkan segala ke-absurd-an saya baik yang sengaja maupun disengaja.

Maafkan blog emonikova ya sementara berdebu.. ini maaf loh, saya sedang dibantai deadline karena saya sidang tangga 3 Agustus. Aduh gondrong lah pokoknya.
Menulis dalam bahasa Inggris rupanya tidak semudah ngehapal lirik lagu.
Belum lagi emang basically otak ini gak bright-bright bgt jadi memang harus dipacu seoptimal mungkin.

Yo wis, baik2 ya kawan.
Semoga Allah mengizinkan kita menjadi orang yang semakin baik dari hari ke hari.

Sincerely,
marissa πŸ™‚

 

Di balik warung-warung bertirai di bulan Ramadhan


Jadi, konflik nilai memang hak dunia. Makin Anda menciptakan konflik nilai, manusia makin memperoleh peluang untuk bermutu kemuliaan hidupnya.
Kalau tak ada makanan di sekeliling, lantas Anda puasa, betapa berkualitas puasa Anda! Jadi, jangan maki-maki orang berjualan pada bulan Ramadhan, justru supaya pahala puasa Anda makin tinggi.”(Dikutip dari “Dan Tuhan pun Cemburu-Emha Ainun Nadjib)

Beberapa hari lalu postingan ini sudah menjadi draft, namun blog saya maintenance… draft terposting, dan saya hapus segera -.-b mohon maaf atas kesalahan teknis yang terjadi.
Saya membaca berita tentang perda pelarangan rumah makan buka di bulan ramadhan, kalau tidak salah di Serang ya… dan katanya ada di beberapa tempat lain namun tidak ada detail dimana. Kasus Serang ini heboh karena ada rumah makan seorang nenek yang ditutup paksa oleh aparat Satpol PP. Wajah sang nenek yang nelangsa membuat kita jadi “gemas” dengan aparat. Lagipula, kok lebay banget sih sampai harus “segitunya”

Maaf, namun saya juga orang yang merasa perda seperti itu tidak perlu dilakukan, karena yaaaa lebay! Iya sih memang…memang…. suatu hal yang super menyebalkan ketika kita, di Indonesia, negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, eh pas bulan puasa ada yang santai aja gitu makan di warteg, dengan guyuran kuah sayur nangka, sambel goreng kentang, tempe orek, tumis paria, ayam goreng, sambel bawang, sop sayur kaya mecin tapi kok ya enak :p, tak lupa dengan kerupuk bwahahahahahaha, belum lagi panas-panas eh pada minum es teh manis…. suegerrrrr rek! Oiya, es jeruk manis juga enak banget tuh.
Aduuh… tergoda gak sih, saya ngetik ini aja jadi laper :p terdengar enak loh itu….

Namun, apa iya iman kita se-cemen itu?Apa iya kualitas puasa kita masih level anak balita yang baru belajar berpuasa? sampai-sampai harus ada aturan yang melindungi kita dari godaan-godaan level newbie seperti itu? oh come on, guys!

Mengutip perkataan walikota Bogor, Pak Bima Arya, “Saya tidak akan menutup rumah makan karena itu namanya menutup rezeki orang, yang tidak puasa kan juga ada. Namun sebaiknya diberikan tirai untuk menghormati yang berpuasa”

Nah, sepertinya kita fine dengan aturan default seperti itu.

Lalu saya kembali bertanya-tanya, sudah trennya manusia semakin cuek dengan aturan-aturan yang tidak tertulis. Jika tahun depan atau beberapa tahun yang akan datang rumah makan yang buka tidak menggunakan tirai, apakah kita akan marah? Apakah satpol PP akan masuk dan menutup paksa rumah makan tersebut? Apakah kita juga semakin mudah membatalkan puasa kita?

Apa?

Ibadah adalah suatu hubungan Maharomantis antara kita dan Sang Pencipta. Kita meyakini bahwa Tuhan begitu baik kepada kita, maka kita melakukan seluruh perintahnya. Rule is a rule! Kita yakini itu dan berjanji akan manaatinya. Menjadi hamba berarti dengan sepenuh hati manut kepada Tuhannya.

Jika rule is rule, maka kita akan mentaati hal tersebut. Tuhan kemudian begitu baik karena memberikan beberapa “kemudahan” untuk hamba-Nya. Misalnya dalam puasa “Ini loooh wahai hamba-hambaKu yang baik, kalau kalian sakit, dalam perjalanan, lemah, yo wis lah ndak apa-apa ndak puasa. Tapi nanti kalau udah sehat dan kuat ganti ya puasanya. Kalau ndak bisa juga… yo wisss bayar fidyah aja” dst… dst… karena Allah tahu kita ini yaaaaa manusia, ada aja error-nya, ada aja lemahnya. Tapi dengan asumsi cateris paribus Allah yakin kalau “Guys, you can make it!”. Saya teringat teman saya yang bukan non-muslim pernah bertanya “Agama itu bukannya harus memudahkan ya, kok jadi repot” loh sebenarnya sih gak serepot itu, Tuhan itu sudah paham bataas kemampuan kita sampai mana, rulenya jelas dan terukur. Yang error kan manusianya aja kadang suka menyepelekan dan selalu ada juga yang memperumit.

Nah kembali lagi. Jika kita marah melihat orang disekitar kita makan, buka warung makan, minum teh manis, dsb-dsb-dsb…. dan malah merusak ibadah yang sudah kita komitmenkan sebelumnya, aduh jadi cemen dong.

Bumi ini luas, baru di Indonesia… kalau kelak terbang ke negeri lain dan kita menjadi minoritas, ya masa’ iya kita misuh-misuh gak jelas hanya karena orang lain tidak seperti kita, hanya karena orang lain tidak beribadah seperti kita. Hei, who are you… jangan macam-macam.

Ibadah itu yaaa memang gampang-gampang susah. Susah karena kita juga harus menahan untuk tidak ngegosip seusai shalat tarawih. Menahan untuk gak nyinyir ketika ada yang tilawahnya tidak sehebat kita. Belum lagi harus menahan diri berlebih-lebihan ketika berbuka puasa. Sulit, iya… loh tapi kan katanya mau jadi hamba Tuhan yang teruji dan tahan banting! harus kuat dong. Di sini ini loh seninya!

Musuh terbesar kita rupanya bukan setan, iblis, atau manusia lain yang menurut kita nyebelin banget… musuh kita ya ini loooh diri kita sendiri. Yang paling susah dikontrol ya… diri kita sendiri. Sudahlah, menunjuk hidung orang lain itu menghabiskan waktu dan tenaga, bagaimana kalau mulai menunjuk hidung sendiri “Apa gw udah bener-bener banget? ”

Lab saya super heboh ketika tahu saya berpuasa,
yang lucu…. entah mengapa mereka enggan makan dan minum di lab pada bulan ini, saya kemudian bertanya “Loh, kenapa toh? Nggak apa lagi”
Jawabannya “Gak apa sih, tapi kami ingin menghargai saja πŸ™‚ ”
AHA! Ini dia, menghargai…. sebuah bentuk toleransi.

Bayangkan, mereka non-muslim loh, bahkan kalau ditanya agamanya saja mungkin pusing harus jawab apa. Namun mereka rupanya lebih aware perkara saling harga-menghargai (alhough I think it is not needed :’) thank you actually). Mindset “menghargai” orang lain yang kemudian menjadi kontrol diri mereka.

Sekarang, jika di bulan suci di tanah air semakin marak orang yang tidak malu-malu makan minum, yang tidak malu-malu bercumbu di tengah khalayak ramai, yang sudah tidak bisa menghandle kebiasaan buruknya bahkan hanya untuk satu bulan….
Masalah utamanya mungkin berada pada diri kita sendiri, mungkin kita sudah semakin dididik dan mendidik diri kita untuk tidak sepeka dahulu kala. Kita sudah semakin terbiasa untuk tidak menghargai seseorang sebagaimana mestinya, lebih menekankan “My life is my rule and who’s care with others rules”, melupakan bahwa hak kita itu TIDAK tak terbatas karena dibatasi oleh kewajiban dan hak orang lain.

Mungkin kita hanya mulai lupa beberapa hal paling krusial yang kita pelajari saat SD.

Tidak perlu lah para aparat repot-repot menutup rumah makan, ormas menutup tempat-tempat hiburan, polisi menggiling ratusan botol miras, jika kita hidup di masyarakat yang bukan hanya religius namun juga toleran. Semuanya akan teratur secara otomatis. Lha, masalahnya rupanya kita tidak setoleran itu.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana mewujudkan Indonesia yang kembali toleran?
kembali peduli satu sama lain dan moga-moga tidak nyinyir satu sama lain. Kita kan menjelma semakin nyinyir dari hari ke hari yang pada akhirnya membuat banyak orang berpikir:
“Mau sih peduli dengan sekitar, tapi ah takut-takut nanti malah dikira caper…. ah takut-takut nanti malah dikira kepo. Sebodo amat lah”

Kalau begini terus, Indonesia akan tetap begini hingga ladang gandum dipenuhi coklat dan jadilah C*c* crunch!

Yo wis lah, gak usah banyak mikir kalau mau berbuat baik. Kita toh sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Inget loh, di Quran aja misalnya Allah udah bilang

β€œAllah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah [60]: 8-9)

Berbuat baik itu ndak ada yang larang, jadi berbuat baik aja… lalu lupakan dan tutup kuping :p you don’t need human to give you any grades for your kindness, never!
Ibadah juga, yo wis… ibadah aja, sebaik yang kalian bisa. Gak perlu woro-woro kemana-mana, toh pengujinya juga Tuhan.
Gak usah lebay juga jika kalian merasa “Oh my God, I think I am much better than anybody else” atau “Aduh… gila bagus banget puasa gw, kayaknya perlu nih terbang ke Denmark biar lebih manteb puasanya lebih lama” (believe it or not, I met someone who told me this, aduuuh first itu lebay, second klo gw sih jujur aja ogah MWAHAHAHHA)… nanti kalau kelak kalian mati dan pas di surga ketemu bareng orang yang kalian anggap lebih “meh” ih tengsin tau! Inget think twice, it is another day for you and me in paradise kata Phil Collins.

Yuk ah…. puasa…. puasaaaaaaa yang makin bener πŸ˜€