Death ends a life, Not a relationship: ketika keluarga kami kembali kehilangan


“As long as we can love each other and remember the feeling of love we had, we can die without ever really going away. All the love you created is still there. All the memories are still there. You live on in the hearts of everyone you have touched and nurtured while you were here. Death ends a life…. Not a relationship —-(Tuesdays with MorrieMitch Albom)

Jumat, 25 Maret 2016 sebuah berita duka kembali menerpa keluarga saya. Uwak saya meninggal dunia. Semuanya serba mendadak… saya hampir menyangka saya berhalusinasi karena sejak semalaman saya tidak bisa tidur dan sibuk mengolah data penelitian saya.Sambil membuka handphone saya berkali-kali pagi itu, saya nyaris mengetik “Ma, ini Mas Adi yang mana? tetangga kita yang lain?. Ih mama salah ketik deh”
Beberapa jam sebelum saya menyerahkan revisi data saya kepada sensei saya, saya harus menerima kenyataan bahwa benar Uwak saya tersebut sudah kembali ke sisi Sangpencipta.

Siapa yang tidak terkejut? yang saya ketahui Beliau orang yang menjaga kesehatannya dengan baik, orang yang selalu bersemangat menghadapi hari. Saya masih ingat bagaimana Beliau mengendarai mobil, memencet klakson ketika kami keluarganya yang memang mayoritas wanita ini “lelet” dan tidak kunjung beres dengan urusan kami sendiri, saya juga masih ingat karena setiap Beliau berkunjung ke rumah… Beliau pasti menjadi garda terdepan yang heboh menanyai kondisi saya dan adik saya… yang paling semangat melakukan video call ketika saya melanjutkan studi saya di Jepang (and also I still remember betapa paniknya saya ketika Beliau menelpon dan saya si mahasiswa malas ini belum mandi dan totally in a mess ketika Beliau menelpon :’P).

Saya ingat… dan tidak akan pernah lupa bahwa bagi saya dan adik saya, Beliau mungkin adalah “Ayah kedua” bagi kami setelah ayah kami meninggal dunia.

Maka sungguh ini merupakan sebuah kehilangan yang besar bagi keluarga kami…. bagi saya… bagi adik saya…. mama saya, dan tentu kehilangan maha besar bagi keluarga inti uwak saya.

Sebagai orang yang diam-diam begitu saya segani dan hormati (dan lagi-lagi saya anggap sebagai ayah kedua bagi saya dan adik saya), sometimes of course we have different opinion, but more than that saya beruntung karena dalam hidup saya saya pernah bertemu Beliau, he was one of the best man in this blue planet. Dari Beliau saya belajar untuk membantu orang lain tanpa pamrih.

Tentu saya sedih, lagi-lagi dalam hidup saya saya kehilangan seorang pria yang akan saya kabari pertama kali ketika nanti saya wisuda…
Lagi-lagi dalam hidup saya, saya kehilangan seorang pria yang saya harap akan hadir menggantikan ayah saya dalam akad nikah saya kelak.
Saya kehilangan seorang pria yang jika Beliau masih ada mungkin beberapa bulan/ tahun kedepan, Beliau akan super repot melakukan “investigasi”, “wawancara”, serta “fit and proper test” untuk calon-calon menantunya (dan mungkin melakukan hal yang sama kepada calon suami saya kelak). Oh hey you guys, if you fall in love to  my cousins… they had a great dad, you must be a high-quality man to get them 🙂 seriously.
Kami… saya dan sepupu saya kehilangan pria yang seharusnya kelak menjadi saksi pernikahan kami.
Adik saya… mungkin dia lebih “kehilangan”dibandingkan saya… he never meet his father since very young, dan Uwak Adi menjadi sosok “ayah” yang dia kenal. Mereka kadang hilang entah kemana berdua… having their great “bro time.” Mungkin dia juga merasa sepi karena kini tinggal dia pria yang tersisa dari garis keturunan Mama saya. Hey, Bro… ahahahhaa you have queens and princess to take care off 🙂 be a nice man then.

Ah sudahlah….Saya tidak akan banyak menulis hal yang menguras air mata… saya percaya siapapun tidak ingin menguras air mata orang-orang yang dicintainya ketika mereka pergi. Life must goes on, so do a nice smile….
Beliau mungkin sudah bertemu dengan ayah saya dan kakek saya disana… bersama mereka bercengkrama dan mungkin sambil menikmati masakan nenek saya yang saking enaknya mungkin Beliau juga sudah buka catering di alam sana. Ah siapa tahu kan? yang pasti orang yang baik tentu akan berada di tempat yang baik juga bukan.

Di sebuah pojok planet ini, saya berjanji kepada semua orang yang telah berjasa kepada saya, baik yang masih ada di dunia ini maupun yang sudah meninggalkan saya…
I”ll do my best… for everything.

dan satu lagi yang mungkin harus kita ingat selalu “Death ends a life…. Not a relationship
Oh yes, never 🙂

sekadar curhat tengah malam…


Jadi ceritanya tahun sudah mau berganti… lembar agenda, kalender, dan usia juga.
Malam ini entah  kenapa rasanya belum bisa tidur dan tiba-tiba berpikir “Tahun depan mau ngapain ya?”
Jadi, Mon tahun depan mau ngapain?
Nyelesein riset, lanjut S3, mungkin lanjut jadi peneliti selama-lamanya. Seorang cowok nyebelin bersikeras bilang suatu hari seorang marissa harus dapat nobel. 2015 Malala, siapa tahu kan 2025 Malahayati. Ah that crazy man, I will kill him for making me miss him so much. Seseorang yang telah membawa Marissa menjadi lebih baik di tahun 2015… hey, thank you 🙂 *oh come on he even will never read this one*

tapi jauh dari itu semua masih banyak yang belum kesampaian….
Tahun depan saya mau mmmm… melihat adik kecil kesayangan saya masuk kuliah. I am waiting this moment for years. Saya selalu bersama Kiki sejak dia bayi sampai sebentar lagi kuliah. Kami punya hobi yang sama, film kesukaan yang sama, tapi tetep paling sering berantem. Rasanya saya ingin membuat robot Baymax, yang super ndut dan super baik buat jagain si bocah ini kemana-mana. He will be okay, but just to make sure everything will be 100% okay, it is better a baymax take care of him.

This is how I want to hug my brother….

Seperti di kartun-kartun, kami sayang satu sama lain, kadang kalau jalan gandengan sampai dikira pacaran padahal umur beda 8 tahun. Saya sih gak macem-macem, saya cuman mau bilang “Ki, you know what… for many reasons I am so proud of you”
banget…
Makasih ya untuk berusaha jadi cowok yang keren walau kamu bahkan gak punya foto bareng ayah karena ayah ninggalin kamu sejak kecil. Makasih juga sudah berjuang untuk jadi cowok baik, yang gak rewel walau mama gak selincah dulu lagi karena stroke. Kalian tahu seberapa hebat adik saya? He decided to study near our house…. padahal dengan kemampuan otaknya yang diatas rata-rata, tes IQnya yang selalu di bawah tipis dari Jenius (walau malesnya juga di atas rata-rata; Nak please sesekali optimumkan karunia Allah itu :’D aduuuuh gak sanggup deh bayangin kemalesan doi) saya yakin dia bisa kemana aja. Kemanaaaa aja yang dia mau. “Gak ah, Kiki mau deket Mama aja”
Suatu hari juga sempet loh dia bilang dia mau masuk jurusan gizi atau teknologi pangan,
“Loh kenapa?’
“Kenapa? Yaaah biar kiki bisa ngatur pola makan Mama jadi Mama gak sakit lagi” Untuk yang belum tahu, Mama saya terserang diabetes dan stroke, dan itu karena pola makan (plus keturunan). Singkat kata keluarga kami memang banyak yang lebih dulu berpulang karena masalah pola makan.
“Mama aja?”
“Ya udah Mama kita, Mama yang lain juga lah… biar gak ada Mama yang sakit lagi di Indonesia. Then everybody will be happy, world will be ended in very happy ending”
But trust me he is bad on that field, he hates chemistry very much and biology, he will never make it :p
Akhirnya dia memutuskan mau masuk Statistik atau Matematika, alasannya karena dia suka math daripada pelajaran lainnya.
“Udah kakak sekolah di Jepang aja yang bener, Mama buat Kiki dulu ya. Tunggu aja nanti suatu hari Kiki nyusul kakak”

Mungkin biasa aja, tapi perlahan saya merasa… “Is he do these for me? Supaya kakaknya happy?” and if this is true, then after my mom… I will got diabetes, because that’s too sweet for me.  Really….

In the same time I am also feel happy…. suatu hari dengan kepala tegak saya bisa bilang ke ayah saya “He just better than we expected… more than anybody else expected” Adik saya yang super cuek itu, diam-diam jadi salah satu pria paling romantis yang pernah saya kenal.

Kiki..kiki… kiki…. awas aja kalau kamu mengecewakan kakak kamu ini loh… awas aja. Udah sampe ditulis di blog loh.

Mama dan Kiki itu dua orang yang mungkin paling mengkhawatirkan saya. I am okay, since I know they are okay there, Bahkan khawatir juga karena belum terlihat khilal saya bakal menemukan jodoh saya yang sebenarnya saya juga males memikirkan itu,

But let me make this clear…. saya mau menikah, mau…. dan siapa yang gak?
Salah satu impian terbesar saya adalah jadi Mama yang bukain pintu untuk setiap anggota rumah. Sama seperti adik saya, saya juga ingin masak…. masak yang super sehat, supaya tidak ada lagi yang sakit. Supaya bisa mempertinggi rekor life expectacy rate di dinasti keluarga saya (ahahahhha dinasti….). Gak perlu jadi seluarga yang super wah, mewah, bergelimang harta, tapi cukup keluarga yang setiap hari saling ketawa. Boleh saling marah tapi selesaikan dalam waktu max 1×24 jam. Saya ingin menghabiskan hidup saya dengan seorang cowok yang meruntuhkan segala kesombongan saya, yang bisa saya hargai dan hormati, yang bisa saya banjiri handphonenya dengan semua foto-foto jepretan saya. Saya dan adik saya juga butuh bocah yang bisa dibentuk sedemikian rupa agar suka nonton kartun, suka baca, suka liat bintang, nerd, suka kucing, dan gampang ketawa.

But you can’t hurry love isn’t it? at least I can’t.

“But Marissa, you can’t do so many calculation on it!”
I know… but…. how can you are not “calculate”it, I mean… it is about a man who will always I see beside me every time I open my eyes, and hopefully he will be available for me until I closed my eyes. which means, it will be a forever contract. Dan itu hal yang sulit… kalau saya ini angkot (aduuuh imajinasi guweh….) mungkin si jodoh udah ada, cuman yaaaa kelewat aja jadi harus retreat mundur lagi, atau memang masih jauh. Bagaimanapun hingga seorang Marissa sampai mendarat di Tokyo pasti bukan main-main, ada alasan yang pasti dan insha Allah terbaik dari semua ini. So, Mom… Kiki… semuanya, I just want to say… I am okay and I am happy.

Overall….
Semakin lama saya hidup di muka bumi ini, saya semakin bisa bilang betapa bangga dan bersyukurnya saya dengan kesempatan hidup sekarang ini.
Punya adik yang nyebelin tapi sebenarnya romantis
Mama yang keterlaluan baiknya sampai maling pun dikasih teh manis
kucing-kucing yang se-Taman Pagelaran tahu kalau mereka kucing yang paling baik dan paling nurut sekomplek
Almarhum Ayah yang bijaksana tapi sayang terlalu cepat pergi.
Almarhumah Nenek yang jago masak dan super talented
Alhamhum Kakek yang kayak ensiklopedia berjalan
semuanya….
Semuanya…
Mohon doanya ya semoga saya bisa membuat kalian senyum terus…. selamanya….
I don’t have any idea how, but I will…

and promise is promise.

CHANGE! Are you ready for it?


キミは今何してる? Kimi wa ima nani shiteru?
月がボクたちを見ている Tsuki ga bokutachi wo mite iru
[What are you doing now?
The moon is watching us
]

“Do you know what? Wherever we are… no matter how far we separated… we see the same moon”
Kira-kira begitulah yang pernah disampaikan seseorang pada saya. Kira-kira begitulah yang selalu saya baca di buku-buku dengan genre roman. Tapi hei! Ini bukan masalah perbintangan, astronomi, atau apapun lah itu. Ini masalah: PERUBAHAN. perubahan ruang, waktu, sikap, pemikiran. Saya akan mulai dari perubahan yang paling ketara dulu: USIA. Siapa sangka perubahan usia rupanya bisa “lebih” daripada sekadar pertambahan tanggal di kalender. “Lebih” dari sekadar cerita avatar ketika negara api menyerang.

===============================
Untuk intermezzo, saya selipkan dulu cerita ini.

“Kak, kakak lebih senang di mana? Di Bogor atau di Tokyo?” Tanya wanita paling baik hati sedunia, Mama saya.
“Mmmm… kalau gak ada Mama dan kiki, saya lebih senang di Tokyo, Ma”
“Kok gitu”
“Soalnya teman saya di sini yaaaa cuman Mama, kiki, kucing-kucing di rumah. Teman saya di Jepang lebih banyak ma. Di sini semua sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Terus, saya kayaknya udah gak nyambung gitu,Ma kalau ngomong sama beberapa orang. Mama tau kan,saya ini musuh-able banget sama beberapa orang. Yaaaah kalo Mama bisa dibawa ke Tokyo, ya jelas Tokyo lah,Ma. Pokoknya semua kerasa deh, Ma… semua berubah”
“Mmm… Mama ngerti sih.”
“Makanya mama yang bener-bener sehat gitu loh, biar bisa lari, saya bawa naik pesawat, kita jalan-jalan bareng. You no need to speak japanese,Mom.trust me”
“Mama belum tau sih negara lain seperti apa, tapi di sini banyak yang masih membutuhkan Mama. Iya gak?”
“Iya sih… Ma. Terus saya bagaimana?”
“Kalau sekarang yang membutuhkan kakak lebih banyak di Tokyo, kalau kakak di sana bisa merasa lebih bahagia, lebih berkembang, yaaaa udah di Tokyo dulu aja. Doa Mama selalu untuk kakak”

Dan sungguh, tiada kata paling bijak selain kata-kata Mama.
Tapi kan dunia ini dipenuhi oleh berbagai karakter manusia. Gak semuanya gitu kan. Gak semuanya memahami kita seperti orang tua kita sendiri, seperti diri kita sendiri.

===============================

Ehmmm….

Di usia saya yang sudah semakin menua ini, saya masih punya beberapa ambisi. Yang paling utama “KELILING DUNIA SEBAGAI AKADEMISI”
Apa sih salah saya? Apa salah saya ketika saya punya ambisi kalau:
Wanita itu harus cerdassss banget, jadi it’s awesome kalau wanita bisa berjuang untuk meraih jenjang pendidikan tertinggi.
Saya ingat seseorang bilang “Wanita itu harus pintar, Marissa. Karena mereka yang akan mendidik generasi-generasi selanjutnya. Anak-anak mereka.” celakanya saya jadi naksir kan sama yang mengeluarkan gagasan ini.

Apa sih salah saya, ketika saya begitu mencintai buku dan ilmu pengetahuan. Mungkin secinta saya pada kucing-kucing saya, buku-buku saya, pada sahabat-sahabat saya.
Jika matematika, ekonometrika, atau fisika itu seorang pria, maka saya akan langsung lepas masa lajang buat mereka. Mereka itu misterius, gak mudah ditebak, butuh analisis mendalam. Ihhh ngegemesin gak sih.
Saya begitu belajar, mempelajari hal baru itu eksotis. Seperti memberi vitamin pada otak.

Apa salah saya jika saya suka sekolah, suka belajar, umur sudah seperempat abad, lalu kemudian saya jomblo, dan tentu beberapa orang baik dalam beberapa hal dan buruk dalam beberapa hal yang lain, saya? Saya sangat buruk dalam menjalin komunikasi dengan “orang baru” dan I am not easily impressed with someone. Can you guys understand what I mean? Can you get it?

No? Oh okay… let’s make it clear and clearer.

Ketika saya pulang ke Bogor sebelum conference di Bali, saya sengaja menonaktifkan telepon selular saya, alasannya satu: Saya tidak mau dikontak terlalu banyak orang! Hanya keluarga dan beberapa orang yang bisa menghubungi saya.

Kenapa?

Why? Simple…. Saya ingin benar-benar fokus dekat Mama dan adik saya, dan saya merasa I am not getting along lagi dengan beberapa orang.
“Ih sombong banget lo, Mon”

Iya kali ya…
tapi daripada kalian bilang saya sombong, kalian lebih berpikir betapa sedihnya saya.
Saya merasa, saya sudah tidak bisa berbaur dengan teman-teman seangkatan saya yang concernnya sekarang ke keluarga mereka, anak mereka, pacar mereka, mungkin juga karir. Lha saya?
bayangkan saya berada di forum dimana semua orang sudah secara homogen sudah punya visi misi mengenai karir dan pasangan hidup mereka. Saya? Saya sedang gemes-gemesnya lagi dengan Computer General Equilibrium dan pembuktian berbagai Lemma pada mikroekonomi.
“Eh… ada yang mau ikut pelatihan GAMS for environmental economics gak? Ada loh gratis di kampus gw?”
Hahahahahaha… mungkin yang terdengar suara jangkrik yang bernyanyi nyanyi. Krik…krik…krik…

Ketika yang lain upload foto bayinya, foto usg, foto kencannya, saya? Bagaimana kalau saya upload “Call for Paper”? Kan meh gitu ya. Anti mainstream sih, tapi… apa? Apa? Apa?

Dan lagi-lagi seseorang bilang pada saya “If it is disturbing you, unactivied all of your social media! It is no use!” ya gak seekstrim itu juga, social media kan connecting me to the world. Udah saya gak gaul, non aktifin semua network itu malah membuat saya makin “terkucil” walau kadang saya mikir “Ih, brilian! Bener banget loh, socmed it useless” but forget it, mungkin itu karena saya terbawa naksir sama yang ngomong (hadeuh).

Itulah mengapa saya bilang saya lebih punya banyak teman baik di Jepang, sahabat saya lebih banyak di Jepang dibandingkan di Indonesia. Trust me! Mungkin karena masih ada yang “nyambung” ya ketika diajak beradu argumen dan bertukar pikiran.
Jujur saya tuh udah gak peduli gitu
Tentang piala kawinan bergilir, aduh udah lah mau dapet mau gak… that’s not my business, dan kalau bisa nikahan saya juga gak usah repot-repot banget lah. Mama saya kan gak terlalu fit, saya mau acara yang compact, khidmat, dan gak lama.
Tentang siapa mau nikah sama siapa, mau pacaran sama siapa, mau tugas dimana, mau sekolah dimana, oh come on! Itu kan pilihan hidup masing-masing orang, biar…. biar semua orang meraih apa yang membuat mereka sepenuhnya bahagia.
Tentang si A tajir, si B tempat kerjanya enak, si C resign, si D udah beli rumah, ya udah lah ya… jodoh, rezeki, maut itu tuh udah Allah tulis dari jaman kapan tau, then so what? Rezeki kita gak akan ketuker
Saya jadi super cuek ya sepertinya.

“Mon, lalu bagaimana jika kemudian orang berpikir hal serupa ‘Emon? Ah bodo amat dia ada dimana dsb dsb dsb’?”
Then so what? Saya sudah sering merasakan hal yang serupa. Saya pikir saya hanya perlu membagi kehidupan saya dengan orang-orang yang manis-manis aja ke saya, yang gak neko-neko, yang punya pemikiran terbuka. Sahabat juga gak butuh banyak-banyak banget kalau kata saya, butuh beberapa tapi yang high quality.

Saya berubah!
Saya semakin tua, semakin dingin untuk beberapa hal, semakin mencintai ilmu pengetahuan dan merasa “This is my way! This is my life!”
Seiring dengan itu semua orang disekitar saya juga berubah.
kalian tahu, kapan perubahan itu terasa begitu “kejam”?
ketika kalian berubah ke arah yang tidak sejalan dengan orang-orang di sekitar kalian.

Flashback ke belakang, beberapa orang bilang kalau saya tidak akan menikah, tidak akan ada cowok yang suka, dan tragisnya gak akan jadi orang kaya karena bidang yang mau saya tekuni adalah bidang penelitian.
Saya sih gak apa, beneran deh.
Ya udah… jadi tua, kesepian, dan gak kaya-kaya banget juga gak semenderita itu. Mungkin behind the scene banyak melakukan kegiatan sosial, banyak belajar, banyak melakukan hal-hal baik lain yang orang gak perlu tau dan gak perlu juga dipublish kemana-mana. What? Bukan saya mau jadi kayak begitu ya, ya gak lah. Tapi please, jangan mengotak-ngotakan “kebahagian” dengan kebahagian ideal versi kita masing-masing. Semua orang punya standar bahagia masing-masing.

Dan mohon diingat, saya itu punya Mama yang sensitif banget. Jadi kalau denger kata-kata yang kayak gitu buat tuan putrinya ini, Mama suka nangis gitu kan. Oh come on! Kalau dunia ini mau tega ke saya, mungkin saya kuat-kuat aja, tapi please jangan buat seorang sebaik mama saya nangis, can you see her? Mama saya… maling aja dikasih biskuit dan teh manis loh! Kasian kan, Mama saya itu stroke loh, emosinya harus stabil kalau gak ya kambuh. Mbok ya kalau mau ngomong macem-macem ke saya aja gitu loh. Masa ada yang bilang saya gendut, kayak ibu-ibu, gak ada manis-manisnya, di depan mama saya hanya untuk PROMOSI PRODUK (Ini nyebelin banget gak sih?).

Gimana saya gak lebih happy di Tokyo?
Ketika pemikiran dan karya saya lebih dihargai?
Ketika saya bisa belajar dengan nikmat dan tenang?
Ketika saya punya teman-teman yang baik dan sepaham?
dsb
dsb
dsb

Lalu sekarang, banyak yang nyinyir “Tuh kan, orang Indonesia itu tuh, kalau udah jadi mahasiswa asing, atau kerja di luar, jadi berlagak! Gak mau pulang”

That’s insane! Gak mau pulang? Siapa yang gak mau pulang? Tidak ada makanan seenak makanan Indonesia! Keluarga juga gak bisa dinilai dengan apapun. Alam Indonesia juga widiiih sedap banget.
Tapi bayangkan… bayangkan… jika rupanya ada loh ada orang-orang yang jadi “kesepian di tengah keramaian” ketika mereka kembali ke negara mereka. Ada loh orang-orang yang rupanya, RUPANYA, begitu mencintai negeri Indonesia Raya ini… tapi merasa sendirian. Ada orang yang secara moril dan psikologis begitu mencintai negerinya, lebih dari apapun, tapi secara sosial dan intelektualitas dia merasa terasing di negerinya dan merasa “Ah… mending di negara tempat gw sekolah deh” dsb dsb dsb.

Jadi manusia itu tidak siap dengan perubahan?
Siap! Di pelajaran Biologi kita belajar kan manusia itu makhluk yang paling baik dalam beradaptasi.
Tapi perubahan macam apa?
Itulah mengapa kemudian muncul TEORI KEBUTUHAN MASLOW yang bisa kita temui dalam ilmu psikologi atau sosiologi atau ilmu sosial apapun. Apa itu TEORI KEBUTUHAN MASLOW (dikasih huruf gede terus biar pada inget)? teori yang menjelaskan apa siiiiihhh yang sesungguhnya dibutuhkan manusia?
TADAAAAAA!!!!!

Nih ini teori Kebutuhan Maslow

Manusia manapun kemudian akan mikir untuk memenuhi kebutuhan mereka step by step.
bayangkan seseorang yang pindah ke tempat lain sebutlah neverland untuk beberapa lama, kemudian dia balik lagi ke tempat semula dan dia merasa asing karena dia tidak dikenal siapapun dan orang merasa dia orang aneh karena ide dan pemikiran dia berbeda, buangeeeet. Walau gak salah cuman gak lazim aja. Naaaaaahh….. Dia kan jadi gak dapet tuh love, self esteem, dan self actualization. Lalu bagaimana? Ya jelas lah dia balik lagi ke Neverland dimana dia merasa piramida kebutuhannya bisa lebih lengkap.

It is scientifically proven! Bukan seorang emon ya yang ngomong, tapi science!

Jangan-jangan…
Ini jangan-jangan,
ketika kita ngerasa “Ih dunia kok berubah jadi makin gak karuan begini ya”
Rupanya… kita yang sebenarnya “GAK KARUAN”

Loh siapa tau kan?
*Sambil baca berita tentang suara sangkakala misterius. Hayooo…. gimana kalau rupanya malaikat mulai gregetan pengen tiup terompetnya”

Pamit…


Pamit: /pa·mit/ v permisi akan pergi (berangkat, pulang); minta diri;

Saya bertanya-tanya mengapa definisi pamit pada KBBI salah satunya adalah “minta diri”
Bukankan diri kita adalah hak kita, untuk apa kita meminta diri kita sendiri? Eits…tidak… tidak seperti itu.

Saya pernah membaca bahwa mungkin setiap orang, berada di suatu tempat…di suatu waktu… karena mereka dipercaya Tuhan untuk menyelesaikan sesuatu di saat itu, di tempat itu, tentu dengan orang-orang yang ada pada waktu dan tempat tersebut. Jika tugas sudah diselesaikan, maka mereka akan dipercaya Tuhan untuk meloncat ke ruang dan waktu yang lain, bertemu orang-orang yang berbeda pula… begitu seterusnya…. seterusnya… seterusnya… hingga seluruh tugas selesai maka Tuhan akan memanggil mereka satu per satu.

Ada dua implikasi jika hal tersebut [mungkin] benar. 1. Seseorang tidak akan pernah melompat, mengambil level yang lebih lanjut dalam stage kehidupannya jika dia belum menyelesaikan stage sebelumnya. Maka terima saja terjebak di ruang dan waktu tersebut. 2. Jika tugas di suatu ruang dan waktu sudah selesai, maka bersiaplah jika harus dipercaya untuk mencicipi ruang dan waktu yang lain dan bertemu orang-orang baru.

24 tahun saya hidup… saya sudah terikat dengan orang-orang yang begitu berarti untuk saya. Mama… adik saya… keluarga saya… guru-guru saya…. teman-teman saya… semuanya. Kalian tahu? selama 24 tahun saya belajar untuk bangkit berkali-kali ketika jatuh, saya belajar untuk tidak terlalu cengeng menjalani sesuatu, saya menyaksikan betapa banyak orang demi seorang Marissa Malahayati sudah melakukan dan mengorbankan banyak hal.

Saya melihat Mama saya sejak Beliau masih sehat, hingga kini jalannya yang sedikit pincang karena pernah terkena stroke. Rambutnya yang tebal semakin banyak yang rontok dan sedikit demi sedikit mulai menjadi abu dan putih.

Saya melihat adik saya, sejak dia masih bayi… saya bermain bersama dia, belajar beberapa hal bersama, ngomel-ngomel ketika dengan puppy eyes dia meminta saya mengerjakan tugas keseniannya [dan tetap saya kerjakan juga], hingga kini dia sudah kelas 2 SMA… sedikit lagi mengecap bangku kuliah… sebentar lagi menghadapi dunia yang saya hadapi saat ini.

Saya mengenal ayah saya… mendengar cerita-cerita Beliau… dimarahi habis-habisan karena salah tajwid ketika membaca Al-Quran, hingga Beliau akhirnya meninggalkan saya dan saya yang sekarang hanya berusaha mengingat-ngingat apa yang pernah Beliau katakan, membaca ulang buku-buku koleksinya, dan berjuang menjadi anak perempuan baik yang selama ini Beliau idamkan

Selama 24 tahun saya hidup, saya melihat segala sesuatu banyak yang berubah.
Saya sendiri berjuang untuk mengubah diri saya menjadi lebih baik, membuat orang-orang bisa menjadi bangga pada saya yang sepertinya tidak melakukan hal luar biasa yang begitu signifikan untuk mereka. Saya berjuang… kadang menangis… tapi setiap saya menyadari bahwa orang lain mungkin telah berjuang lebih keras untuk saya, rasanya terlalu tidak sopan untuk menyerah terlalu dini.

Hingga akhirnya Allah merestui saya untuk meloncat ke ruang dan waktu lain bertemu orang-orang baru, saya diizinkan untuk melanjutkan studi saya ke JEPANG.

Untitled

Sesungguhnya, saya sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk setiap orang yang berarti yang akan saya tinggalkan sementara di tanah air, akan tetapi saya tidak tahu apakah segala usaha tersebut juga dirasa baik untuk mereka. Maka izinkan saya, melalui tulisan ini “minta diri” untuk melakukan perjalanan jauh kali ini. Genapkan kesempatan yang diberikan Allah ini dengan doa dan izin dari kalian semua.

Marissa akan tetap menjadi orang yang sama.
Masih menjadi pecinta kucing, masih akan senang menggambar, masih akan menjajal rasa penasarannya terhadap fotografi, masih malas untuk membuka selimut dan bangkit dari kasur setiap kali bangun tidur, masih tidak suka melihat anak-anak kecil yang memberi jasa ojek payung harus kehujanan karena meminjamkan payungnya untuk orang lain, masih suka lagu-lagu jadul, masih suka bicara sendiri dengan boneka, masih suka memeluk Mama setiap kali ingin dimasakan sesuatu, masih suka jadi Ms. complain, dsb… dsb… dsb…

Yang seharusnya berubah adalah kedewasaannya, kemandiriannya, dan pola pikirnya.

Sekali lagi, terima kasih untuk kalian semua, dan sekali lagi pula… izinkan saya berpamitan dengan kepala tegak kepada kalian semua.
Biarkan perjalanan ini membuat saya bisa menghargai sesuatu lebih baik dari sebelumnya,
biarkan pelajaran yang saya peroleh menjadikan saya seseorang yang memiliki gagasan dan pemikiran yang lebih lugas dan cerdasbiarkan semua hal yang akan saya hadapi nanti membuat saya tertawa dan meringis dan kemudian menjadi saya menjadi seseorang yang lebih kuat dalam menghadapi segala hal.

Rasanya tidak tahu terima kasih sekali jika perjalanan ini saya sia-siakan.

ketika saya pulang nanti, ketika tiba waktu kalian menggerinyitkan dahi dan berpikir beberapa menit “Ini siapa ya? perasaan kenal” lalu mengingat saya sepersekian menit berikutnya “Oiyaaaa…. inget….inget!”, saya harap ketika hari itu tiba saya memang menjadi seseorang yang pantas untuk kalian ingat dan kalian kenal…

Sebagai satu partikel kecil diantara jutaan bahkan milyaran partikel-partikel lainnya di planet ini yang setiap saat berdoa dan memuji Sang Pencipta, saya tentu harus tahu diri bahwa jika tidak melakukan apa-apa maka saya hanya sekadar membuat sesak planet ini dan huuuftttt… apa yang bisa saya banggakan pada Allah nanti. Maka dengan ini, dengan rasa terima kasih yang teramat sangat, saya berjanji untuk melaksanakan tugas-tugas saya dengan sebaik-baiknya. Terima kasih Ya Allah…

dan untuk semuanya yang saya kenal… saya mohon doa kalian semua dan tentu saya mohon pamit beberapa waktu dari tanah air tercinta ini. Sekali lagi, terima kasih.

 

Kata maaf yang tidak akan pernah cukup…


Saya ingat, beberapa tahun yang lalu, ketika Ayah saya masih ada. Saya pernah lari tunggang langgang ke luar rumah ketika akan di tes mengaji. Sayangnya saya kurang beruntung, saya tertangkap basah pagi itu. Saya harus membaca Quran surat Ar-Rahman dengan tartil, namun apa daya saya selalu melakukan kesalahan…. saya haru mengulang membaca ayat 1-13 berkali-kali hingga saking lelahnya saya menangis histeris lalu berteriak “Ayah, saya capek… kenapa sih… biarin aja mau 6 harakat… 4 harakat… 2 harakat… yang penting kan saya tau itu panjang atau gak, ayah kejaaaaaaam” tak pernah saya duga bahwa beberapa bulan kemudian pria yang mengajari saya mengaji dengan cukup keras tersebut kini tidak akan pernah mengajari anak-anaknya mengaji lagi. Parahnya, saya belum sempat mengatakan maaf atas kesalahan saya tersebut.

Saya ingat, berkali-kali saya memarahi Mama saya, “Mama… kalau di ekonomi ya, inflasi itu udah tinggi, Mama hemat dong…ngapain sih beli macem-macem buat saya” bak ekonom paling hebat di muka bumi saya menceremahi Mama saya. Lalu saya menyadari, selama ini, seluruh uang yang saya berikan kepada mama saya, seluruh uang yang mama saya miliki, semuanya untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Hingga kini Beliau yang sudah semakin tua dan sudah tidak sesehat dulu lagi, masih berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya dengan kualitas terbaik. Dan saya ingat, saya masih sering membantah perintahnya, bahkan pernah beberapa kali pura-pura tidur ketika Beliau minta tangannya diberi pijatan kecil.

Saya ingat, saya pernah memarahi adik saya habis-habisnya ketika ulangannya mendapat nilai yang kurang memuaskan “Kamu itu, belajar yang benar…. buku mahal-mahal dijadiin apa? bantal? gak ada di buku, ada kan internet. Mau jadi apa kamu kalau males begitu” tanpa saya sadari saya hanya bisa mengomel dan mengomel… saya bahkan tidak mengajarinya secara jelas dan komprehensif tentang stoikiometri dan trigonometri. Saya bahkan mungkin tidak bisa juga mengerjakan soal ujiannya yang semakin lama semakin sulit dan bahkan lebih sulit dibandingkan soal di jaman saya bersekolah dulu.

Saya ingat, pernah suatu hari,lama sekali… seorang  teman yang paling baik hati meng-sms saya “Mon, lu dimana, gw udah nunggu di perpus” lalu 2 jam kemudian saya membalas smsnya “Hah? di perpus? Ih gw di rumah… ini baru bangun tidur. Lu ngapain? masih di sana?” TING sms balasan datang “Iya, masih. Oh dikirain jadi ke perpus” beberapa tahun kemudian… kekejaman saya masih sama “Aduuh, lu itu harus gini loh…. harusnya gitu loh… betah stagnan gini-gini aja?” dan senyumnya masih sama seperti dulu. Tanpa saya ketahui, dia mungkin berusaha keras mewujudkan apa yang saya katakan padanya, berjuang untuk impian-impiannya, masa depannya, keluarganya, semuanya. Saya ingat, dia masih selalu ada untuk saya bahkan ketika saya ada untuk orang lain.

Saya ingat, keangkuhan saya membatasi saya dengan pergaulan yang lebih luas. “Ih… males ah gaul sama si A… si B… si C… yang diomongin cuman masalah fashion, high heels, pacarnya gimana, emangnya urusan gw tau segala macam tentang doi termasuk foto selfienya sama pacarnya dan kapan doi putus”, dan saya ingat beberapa dari mereka yang saya jauhi tersebut kemudian mendekat pada saya, lalu menceritakan segala masalah mereka “Mon, gw percaya… lu kan orangnya logis, gw percaya sudut pandang lu yang beda dengan orang lain”, saya tidak menyangka bahwa rupanya masalah mereka lebih besar daripada yang saya kira, tidak menyangka bahwa mereka butuh banyak masukan, dan tidak menyangka bahwa mereka menghargai keberadaan dan pendapat saya.

Saya ingat, saya tidur ketika kuliah… merasa bosan dengan materi yang dibawakan oleh dosen saya. bahkan di luar kelas saya masih sempat komentar bahwa slide Beliau bikin sakit mata dan bisa membuat minus mata bertambah. Saya juga ingat sekali saya sampai tidak membaca buku teks di rumah karena saya sudah putus asa dengan pengajaran dosen saya yang saya pikir membuat materi semakin sulit. Siapa sangka, materi-materi yang saya abaikan itu kemudian menjadi materi-materi krusial yang harus saya kuasai di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Saya ingat ketika bos saya mengirim sms di hari libur, saya membiarkannya berdering… lalu tidak mengangkatnya… lalu saya tinggal tidur. Saya tidak peduli pada saat yang sama Beliau sedang galau habis-habisan dengan data yang sudah saya olah… saya tidak peduli bahwa pada saat itu yang Beliau butuhkan hanya diingatkan bahwa e-mail sudah saya kirimkan.

Saya ingat bahwa saya senantiasa melakukan kesalahan…
Saya memang tidak bisa mengingat satu per satu kesalahan dan dosa saya, tapi saya ingat bahwa dalam perjalanan hidup saya ini saya senantiasa melakukan kesalahan. Hebatnya, begitu cintanya Allah pada saya, hingga semua orang masih bersedia membantu dan menyayangi saya bahkan ketika saya melakukan kesalahan pada mereka tiap hari, tiap menit, tiap detik.
Maaf saja tidak akan pernah cukup untuk menebus segala kesalahan saya.

Saya hanya memohon izinkan saya, menjadi wanita yang lebih dewasa….
Izinkan saya dalam perjalanan panjang yang akan saya jalani bisa membuat saya menjadi wanita yang bisa membuat kalian bangga karena telah mengenal saya. Saya mungkin tidak akan pernah mengurangi segala kesalahan saya, tapi saya pasti bisa menambah hal-hal baik yang bisa membuat kalian semua bahagia.

Terima kasih.

Marissa Malahayati

——————————————————————————–

Selamat hari raya Idul Fitri..
Image and video hosting by TinyPic