Belajar menjadi manusia seutuhnya: Catatan seorang PhD newbie


Tidak pernah terlintas dalam hidup saya bahwa saya akan menjadi seorang PhD candidate. Sampai bisa sekolah master di luar negeri saja sudah begitu “Wah” untuk saya. Wong saya ini anak ndeso kok! Lahir boleh di Jakarta, tapi sekolah SD di Leuwiliang… namanya saja tidak bonafid!
Setelah itu pindah dan tinggal di kawasan Ciomas… lagi-lagi namanya kok ya agak ndeso gitu ya, dan memang ndeso karena pizza h*t saja enggan delivery ke kampung ini :’) untungnya sekarang sudah ada g*jek dkk… jadi tidak terpencil-pencil banget lah. Tapi tetap angkot 32 hanya mau mengantar sampai ke “dusun” saya pada jam kerja. Jangan harap dapat angkot yang mengantarkan Anda ke area dusun saya jika sudah lewat jam 6 sore.

Kuliah pun di kampus IPB Dramaga. Wuaduuuh rek! Boleh lah kampus ini jadi salah satu kampus terbaik di Indonesia,tapi posisi si Dramaga ini jauh dari peradaban. Sungguh, kami para mahasiswa kere ini sesungguhnya memendam keirian mendalam pada kampus diploma dan pasca sarjana yang punya posisi lebih elit. Namun kami pun sadar, kalau toh kampus kami dipindah ke daerah yang lebih elit, sesungguhnya uang jajan kami yang hanya cukup untuk beli nasi uduk plus telor penyet (itu pun masih mencari warung yang paling murah) tentu tidak akan sanggup menggapai kemewahan pusat kota. Yo wis lah mau bagaimana lagi.

Belum lagi saya ini orangnya kuper. Hobi: Tidur, makan, dan uwel-uwel kucing.
Bahasa Inggris saya juga yaaaah gitu-gitu aja. Bahasa Jepang cuman bisa kore-kore. Bahasa perancis, cuman bisa baca, listening dan speaking sih wassalam  :’D.
Kemampuan matematis so-so
Kemampuan menghapal lebih parah
Loooh, mau jadi apa toh, Nduk?

Ketika saya terbang dan menempuh studi di Jepang,di Tokyo Institute of Technology pula, banyak pesan yang masuk ke mailbox saya. Beberapa tentu memberi selamat. Beberapa ada yang keceplosan “Kok bisa, Mon?” sampai “Lo beneran sekolah? Bukan exchange? pasti pake uang lo sendiri kan?”
Saya kok paham kenapa banyak yang bilang begitu hahahhahaa.

Saya berangkat bukan serta merta membawa senyuman loh kawan-kawan. Saya membawa beban berat. Mungkin Allah menyeret saya dengan cara yang cukup ekstrim. Sebelum saya berangkat, saya sudah menuai banyak kontroversi (Hish! Bukan Pak Super aja yang bisa menuai kontroversi, gw juga!). Saya dianggap cukup “durhaka” meninggalkan mama saya yang memang kondisi kesehatannya tidak se-fit dulu dan meninggalkan adik kecil saya yang masih sekolah. Saya dianggap sombong… dan jangan salah, ada juga loh yang sampai bilang saya bakal “seret jodoh” itu agak sedih sih.

Di tengah konflik batin itu, tiba-tiba Dosen saya menawarkan saya untuk studi di luar negeri. Tiba-tiba juga LPDP mengabulkan permohonan perpindahan universitas saya yang sebelumnya sudah ditolak mentah-mentah. Dan pada puncaknya adik saya yang dingin, tidak romantis, garing, dsb dsb dsb “datang dan bilang “Kak, you should go! Study hard there, and I want to see you happy”
Karena sesungguhnya tiada hal paling romantis selain kata-kata sweet dari orang yang dingin!
Pernah suatu saat adik saya membawa celengan kesayangannya “Kak, tell me how much you should pay to go abroad?”
Mungkin… ini mungkin… jika saya tidak memiliki adik seperti adik saya, saya tidak akan ada di sini. Di posisi ini.

Saya… si anak “biasa-biasa” ini kemudian terbang ke Jepang. Sekolah lagi! Di Tokyo Institute of Technology hahahaha asa keren ada technology-nya hahahah anak dusun jadi lebih “melek” teknologi

Image and video hosting by TinyPic

Menempuh jenjang master di luar negeri itu pun tidak semudah yang kalian bayangkan. Selfie mungkin cantik dan ceria, namun di balik itu? Saya shock karena saya merasa otak saya kosong!  Saya shock dengan kendala bahasa, saya putus asa karena mata kuliah yang ingin saya kuasai dalam bahasa Jepang, saya kaget dengan budaya kerja di negeri ini yang tidak kenal ampun. Saya lelah… saya lapar… dan sesampainya di rumah? Di apato mungil saya hanya ada kulkas kosong. Ketika emosi, saya menjadi garang dan membunuh para kecoa dengan membabi buta. Pernah suatu hari petugas dari Tokyo Gas sampai datang ke rumah karena alarm gas saya berbunyi… padahal itu hanya efek saya menghabiskan satu kaleng insektisida untuk memusnahkan para kecoa hingga ke anak, cucu, dan cicit.
Yah tapi  alhamdulillah lulus juga :’D

Image and video hosting by TinyPic

Namun di balik itu semua, saya menemukan hidup yang baru.
Saya bekerja sama dengan Sensei-sensei yang humble dan bijaksana.
Saya menemukan teman-teman baru.
Saya melihat tempat-tempat baru.
Saya jatuh cinta.
dan yang pasti saya mulai menemukan diri saya yang sebenarnya. Sebuah sisi manusiawi yang paling nyaman saya “kenakan” saat ini.

Lalu kemudian saya sampai di titik yang sekarang. Saya menempuh jenjang doktoral.
Sungguh tidak ada yang mahakeren dari ini semua. Menjadi seorang PhD mungkin hanya sebuah cara yang tidak biasa untuk menjadi lebih manusiawi dan rendah hati.

Marissa, si PhD candidate ini toh masih jadi orang yang wara-wiri ke semua orang hanya untuk revisi proposalnya yang masih busuk (dan ditolak LPDP hahaha #curhat).
masih menjadi orang yang kikuk ketika bicara tentang orang asing,
masih menjadi orang yang bermasalah dengan percaya diri namun kemudian berusaha untuk lebih menerima diri sendiri, untuk tidak terlalu keras kepala terhadap diri sendiri.
Masih menjadi mahasiswa bloon yang kena omel sensei “Loh… ini loooh kok ndak dibaca. Udah berapa kali saya bilang” hehe
Masih bodoh di matematika dan pada akhirnya semakin muka tebal mengunjungi anak bachelor dan master untuk di ajari matematika :’D ini kisah nyata loh.
Saya tetap mahasiswa ngirit yang pergi ke toko sayur pun hanya jelalatan melihat sayuran diskon.

Beberapa kali saya katakan kepada setiap orang, sungguh tidak pantas pendidikan yang tinggi membuat kita menepuk dada terlalu keras. Pertama, karena itu kan sakit ya, Bok. Pertama, karena sesungguhnya pendidikan yang semakin tinggi membuat kita semakin sadar bahwa kita ini yaaa belum tau apa-apa. Kedua, pendidikan yang semakin tinggi membuat kita sadar bahwa kita butuh bantuan orang lain. Pada intinya, pendidikan membuat kita sadar bahwa kita adalah MANUSIA.

Kepada kalian pembaca blog ini, terutama yang masih muda-muda, adik-adik saya….
Kalian masih muda, you are still young! Jadi berkelanalah jemput impian-impian kalian. Bumi Allah ini luas, maka explore bumi ini. Temukan pengalaman dan teman-teman baru. Jangan takut dengan kelemahan-kelemahan yang kalian punya. Saya toh bukti nyata dan hidup kalau si manusia dusun yang biasa-biasa saja ini bisa lohhh sampai ke level ini. Kalian mungkin akan ragu, minder, takut, tapi jangan lupa tetap maju…hanya dengan melangkah maju kita bisa tahu apakah kita bisa mengatasi setiap kelemahan kita. Semoga setiap langkah itu membuat kalian, kita semua, menjadi manusia yang jauh lebih kuat dan lebih mengenal diri kita sendiri. Insha Allah ๐Ÿ™‚ * Kalau udah umur segini emang omongannya lebih emak-emak*

Kepada teman-teman yang sedang melanjutkan studinya semoga Allah melimpahkan kekuatan dan berkah dari ilmu yang kalian tuntut. Hingga kelak kalian bisa memastikan ilmu kalian berguna bagi khalayak banyak. Dan semoga Allah juga melindungi kita dari sifat sombong. Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk ๐Ÿ™‚ Okay.

Terima kasih kepada keluarga dan guru-guru saya, saya tidak bisa membalas apa-apa namun semoga setiap jerih payah saya kali ini dan kelak akan menjadi alasan kecil untuk membuat mereka semua tersenyum

Terima kasih kepada teman-teman saya, hidup ini sepi loh tanpa kalian… dan apapun alasannya, tetap perlakukan seorang Marissa seperti Marissa yang biasa ๐Ÿ˜€ seorang pecinta kucing sejati.

Dan mungkin terima kasih kepada semesta dan Sangpencipta semesta… karena caranya untuk mengajarkan saya tentang banyak hal begitu Indah.

Sedikit Mengintip Kehidupan di Lab.: Karena hidup kami tidak seindah foto-foto selfie kami


Kadang gemes juga ya kalau ada yang bilang “Aduuuuh….enak banget sih sekolah di luar, selfie terus… fotonya bagus-bagus. Kayaknya happy-happy semua ya?” ahahahhahaa iya sih, namun tak jarang di balik layar kami semua hampa dan galau. Yang ngomong gitu tuh belum tau rasanya ketika stuck, sensei bilang lo harus ulang semuanya dari awal, pusing, laper, lembur di lab, nyampe rumah yang menyapa cuman seonggok kulkas kosong! That’s hurt, Bray! huhuhuhuhu… jauh dari rumah, apalagi untuk family person seperti saya ini sesungguhnya berat bgt. Saya kan tuan putri manja, kalau ada apa-apa di Indonesia pasti nguwel-nguwel adik saya dan curhat macem-macem ke Mama. Di sini? Gak ada, bahkan kucing pun gak ada. Ada kucing tetangga, tapi gak bisa ngomong bahasa Indonesia. Hiks.

Walau gak seburuk itu sih, saya happy dan bersyukur juga karena banyak hal ๐Ÿ™‚ Tapi kalau dibilang “Wah sepele banget ya rupanya sekolah di luar” wowowowowow…. hold on a second! Baiklah, karena saya sering nginep di lab. pada kesempatan kali ini saya akan perkenalkan isi lab saya ๐Ÿ˜€ semoga bisa menjawab rasa penasaran kehidupan ngelab di Jepang ini seperti apa. Mumpung lagi gak ada siapa-siapa.

Waktu menunjukan jam 4 subuh
Image and video hosting by TinyPic

Entah kebetulan atau bagaimana, namun memang di lab saya ini seperti ada zona Ikhwan-Akhwat ahahahaha…. ada zona terpisah antara mahasiswa cowok dan cewek. Gak sengaja sih. Cuman ini juga karena pertimbangan anak-anak lab kan suka pada tidur atau bahkan nginep di lab, nah kan gak kece kalau kita yang cewek ngiler keliatan yang cowok-cowok begitu pula sebaliknya fufufufufufu.

Untuk yang belum tahu, saya ini mengidap dyslexia ringan… Saya tidak bisa membedakan dengan cepat antara kanan dan kiri, plus saya susah banget menghapal nama orang. Untuk memudahkan saya, dibuatlah denah tempat duduk ini. Karena saya iseng, jadi sekalian saya tambah doodle buatan saya ahahahhaaa…. sengaja biar saya ingat sifat dan hobi masing-masing teman saya di lab ini ๐Ÿ™‚

Image and video hosting by TinyPic

Zona cowok memang lebih chaos hahahaha… tentu karena mereka lebih sering menginap di lab daripada kami para wanita-wanita lugu ini.
Di bagian tengah sih rapi…apalagi zona ini didominasi oleh pria-pria rapi.
Image and video hosting by TinyPic
tapi di bagian pojok…. pffffft :p kasur lipat, sleeping bag, dan selimut merajalela
Image and video hosting by TinyPic

Dan asal tahu saja, tiap laci penuh! Penuh dengan cemilan. Bukan untuk gempa atau bencana alam, tapi lebih untuk bertahan ketika begadang.

Untuk zona akhwat…uhuk…. ambil sudut pandang agak jauh lah biar gak malu. Lihat kursi paling berantakan dan penuh bantal itu? Naaaah itu meja saya! hahahahaha berantakaaaan. Kalau para pria punya kasur dan sleeping bag, saya punya bantal. Salah satu bantal bisa dibuka dan jadi selimut… kadang bisa jadi sajadah juga. terus si kucing item bisa jadi bantal. Jadi peralatan perang saya sesungguhnya tidak kalah lengkap.
Image and video hosting by TinyPic

dan karena kadang pengen ngopi (atau dapat voucher starbuck gratis), maka koleksi tumblr saya pun siap sedia di lab. Siapa tau khaaaaan…. rezeki nomplok.
Image and video hosting by TinyPic

Nah… di sebuah lab, selalu ada Asisten Professor yang menurut saya lebih intens berkomunikasi dengan mahasiswa dibandingkan dengan professornya sendiri. Saya punya asprof yang baiiiiiik banget (over malah), dan setiap kali kami stuck dan buntu… doski akan siap membantu. Kalau kemudian Beliau juga stuck… oh ne vous inquiรฉtez pas ๐Ÿ˜€ Dia akan langsung mengecek literatur yang ada… widiiiih, cek dulu dong rak buku Beliau, cadazzzz!
Image and video hosting by TinyPic

Sedangkan kami, pemuda-pemudi negeri….
Ketika kami stuck, lemah, tak berdaya, dan gak ngerti harus apa… kami juga baca buku. Buku komik :p ya habis bagaimana, daripada semakin menggila kan ๐Ÿ˜€ tapi buku non fiction juga banyak kok di meja masing-masing.
Image and video hosting by TinyPic

Asprof saya juga beberapa kali bilang, minat baca pemuda Jepang menurun. Pffttt… belum ke Indonesia aja doi ahahhaahaha… lebih parah lagi :p

Lab itu semacam rumah kedua bagi mahasiswa di sini, apalagi untuk anak-anak yang menggunakan eksperimen untuk penelitiannya… wah handuk, sikat gigi, sabun, juga mungkin udah pindah semua ke lab. Saya juga ke lab sampai semalam ini karena saya agak malas bertemu manusia di siang hari hahhahaa. Some people love to work alone. Rasanya lebih baik bekerja saat malam hari di banding siang entah kenapa. Tapi jangan terlalu ditiru sih, kelak di dunia kerja bakal repot.

Kadang menginap di lab itu karena faktor kepraktisan juga sih… sudah menyimpan semua data dan sudah merun program semuanya di komputer lab, jadi kagok kalau harus menyambungnya dengan laptop di rumah ๐Ÿ™‚ tapi saya juga pernah punya teman yang tidak bisa lepas dari laptopnya, dan sekalinya dia lupa bawa kabel, dia pun langsung pulang “My life is not complete without my laptop” dan orang macam ini asal memeluk laptopnya dia sudah happy dan bisa kerja.

Semua orang punya style masing-masing dalam mengerjakan penelitiannya. Saya pribadi sih paling males ya mengomentari “Ih si A kok jarang ke lab….”, “Eh si B kok gini ya…” bla bla bla…
Kita tidak pernah tahu seberapa keras seseorang berjuang di balik layar.
Biasanya saya pula setelah shalat subuh dan setelah mengecek jadwal kereta ๐Ÿ™‚
Hal paling keren yang bikin saya betah kerja malam sampai pagi adalah: lihat matahari pagi.
Semua orang mungkin melihat matahari tenggelam dari jendela lab mereka hampir setiap hari, tapi tidak semua melihat matahari yang terbit dan perlahan menyorot Honkan ๐Ÿ™‚
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

selain itu karena saya cinta banget star gazing, kalau mulai mengantuk dan bosan saya bisa keluar dan lihat bintang, and no one disturb me, no one said I am weird… I am alone, me and nature. Terakhir kali saya melihat bintang sebebas ini adalah ketika ayah masih ada, jadi ketika kesempatan seperti ini datang lagi, I can’t miss it.

Di balik dinding universitas….
Di balik dinding lab…
Tersimpan impian dan harapan mahasiswa-mahasiswa yang sedang berjuang menempuh pendidikan mereka.
Di balik dinding ini semua, saya mengalunkan doa-doa terbaik yang saya miliki, meyakinkan Tuhan bahwa Dia tidak salah mengamanahi saya untuk berada di sini.

Dan percayalah, semuanya sedang berjuang sebaik yang kami bisa dengan cara kami masing-masing ๐Ÿ™‚

Social Media Diet: Karena kalian tidak perlu mengkomparasi kebahagiaan kalian dengan kebahagiaan orang lain :)


Be happy for this moment. This moment is your life.”— Omar Khayyam

Dan seorang manusia kuper bernama Marissa akhirnya memutuskan untuk membersihkan handphone-nya. Dia memutuskan untuk DIET! bukan sembarang diet, tapi diet sosial media. Huh? Apa lagi itu?
Saya meng-uninstall beberapa social media yang menurut saya gak perlu-perlu banget dan mungkin yang terlalu additive. Bukan apa-apa, saya kan semakin uzur dan sepertinya saya semakin mudah tersulut iri dengki *haish*. No, actually, I just get bored and I want to focus with something I really passionate about and of course my research.
Saya menguninstall facebook dan Path dari HP tercinta saya. Facebook?… karena kalau saya butuh, saya bisa buka via PC. Path? I don’t know… I just have a hate-love relationship with Path. Seiring dengan rontoknya rambut saya, usia yang makin menua, tulang yang semakin sering encok, saya merasa Path dan beberapa social media lain terkadang mengubahย  standar kebahagiaan saya.

Bahagia ala social media seringkali adalah:
Ketika harus check in di semua tempat baru…ah, bukan hanya check in! Jangan lupa tag juga pasangan kamu ๐Ÿ˜‰ apa? kamu sendirian? ih cacian deh… :p
Ketika kamu baca buku dan harus update sudah halaman berapa yang kamu baca dengan detil, jangan lupa tulis di mana kamu baca buku itu? di sebuah cafe sophisticated? kurang lengkap tanpa skrinsut dengan caffe latte yang sudah ditata ciamik.
Ketika kamu dimarahi atasan kamu, atau sekadar unmood dengan seorang atau beberapa orang yang menjengkelkan, lalu tulis “Sabaaar, biar Tuhan yang balas” lalu semua orang memberi jempol atau seutas senyum “ih ada apa? sabar ya… cerita dong” Dan percakapan pun menjadi mahapanjang hanya untuk membicarakan orang lain. Ingat! Kamu mungkin benar, tapi ingat juga kamu mungkin salah… semesta ini sudah bekerja sesuai dengan hukum Newton sebab=akibat bahkan sebelum Newton mencetuskan teori itu.ย  You don’t need to complain about everything on social media! Apalagi sampai tambah dosa jadi ngomongin orang. You need someone you really trust to and talk to them…. you need your God to inspire you… Find God when you need solution, not when you want to talk bad about something or someone. Bukankah Tuhan adalah Dzat Mahasuci yang layiknya disebut dalam hal-hal yang baik dan penuh keagungan?

Oh come on stop being fake! be real!

Jadi lo hapus akun?
Gak! Akun saya ada… ada banget, gak saya hapus kok… saya bahkan masih melink-an blog saya dengan path dan facebook, but I don’t want to scroll them every single time! Perkara kalian ingin membaca blog saya atau tidak, that’s your business ๐Ÿ™‚ dan saya selalu bahagia menyambut semua pembaca saya di blog. This is the real me… I no need to do any drama on my blog.

Namanya masih diet level 1, saya toh masih jadi silent reader di twitter (and I think it still the best buat baca-baca berita terbaru), instagram (I love photography dan sedang kerajingan pamer hasil fotografi saya, selain itu saya punya sahabat pena yang hanya bisa saya hubungi via instagram), dan pinterest (karena banyak ilmu-ilmu baru yang seru). Saya hanya meninggalkan hp saya di rumah selama saya di lab. Bye cellphone, I’ll be back… dan dia pun menunggu dengan manis di sofa.

And here I am… happy, safe, and sound!
Saya kembali menjadi Marissa yang so easy to be happy…

My real happiness :’D

Saya kembali menyentuh seluruh jurnal dan merangkum mereka satu per satu untuk tesis.
Saya kembali menyusun jurnal harian saya, mencatat semua pengetahuan baru yang saya dapat.
Saya kembali menulis planner dan buku harian saya dengan teratur. Saya bahkan membuat part yang saya tulis dengan bahasa Jepang. Saya memutuskan setelah lulus master, saya harus berhasil lulus tes JLPT setidaknya level 3! Cupuuuuuuuu cuman level 3! 2 kek.. 1 kek… apaan tuh level 3? Pffft…. Bodo amat lah, ahahahaa… yang penting senyum :’D
Saya kembali membaca buku dengan bahagia, tidak peduli buku apa yang sedang trend saat ini… seberapa cepat saya membaca… seberapa terkenal penulisnya… I don’t care, I love it then I read it.

Saya kembali menggambar dan menulis surat…ย  I make new friends…

I write and draw something again :’D

Ketika saya punya masalah atau sekadar ingin ketawa, saya masih bisa menghubungi sahabat-sahabat saya ketika mereka dan saya sedang luang. Dan jika kemudian mereka sedang sibuk, no prob… I have lots of things to do too. So, live couldn’t be easier then.

Image and video hosting by TinyPic

Akun Instagram saya… fotonya sekarang agak slightly better setelah mendapat banyak masukan dari kakek-kakek fotografer yang suka gak sengaja ketemu di taman terus kayaknya gatel ngajarin fotografer newbietol macam saya

Saya kembali jalan kali atau naik si “Tengsin” (nama skuter saya, namanya tengsin karena kalau dipake aduuuh kayak masa kecil kurang bahagia gitu) sambil membawa kamera saya lalu menjepret semua pemandangan keren di sekitar saya. Berkenalan dengan kakek-kakek yang kameranya biasanya lebih canggih daripada saya, dengan pemahaman nihongo yang seiprit, saya terkadang kecipratan ilmu dari mereka. If you see my photography skill increase… itu semua salah satunya karena jasa mereka (makasih loh kek :’] )

Kemarin, 9 Maret 2016, gerhana matahari total dan nyepi bagi umat Hindu. Salah satu sahabat saya yang “trapped in Ubud” pun kemudian ikut “menyepi” and I am glad when she shown me her water color painting this morning :’) I mean… she really talented on it. Harus berapa nyepi dia lewati hingga dia bisa optimalize skillnya itu?

Jadi apa, Mon? Lo maksa kita-kita buat uninstall social media kayak lo juga? Cih… kalo kuper gak usah ngajak-ngajak.

Oh c’mon! Are you kidding on me? of course not! Saya justru menganjurkan kalian untuk menjadi diri kalian. If social media is something “really you are”, you love it, you enjoy it, you become better because of it… then go ahead! Lanjut gan! Namun jika ada social media yang kemudian merenggut “the real you are”, yang membuat kamu sedih ketika jomblo… ketika LDR… ketika hujan…. ketika berketombe… yaaah pokoknya kalau banyak mudharatnya yaaaa kurangi, kalau perlu tinggalkan.

Berbahagialah dengan cara yang paling membuat kalian bahagia. Jalan-jalan tanpa perlu pusing ketinggalan tongsis dan power bank (tapi harus pusing sih kalau gak bawa kamera, atau bawa kamera eh gak ada baterenya =.= wassalam).
Baca buku sambil menikmati rintik hujan dan segelas teh hangat tanpa perlu ada kewajiban lapor sudah sampai halaman berapa, chapter berapa, dsb.
Nikmati waktu dengan orang yang kalian sayang, tertawa dan berbagi cerita sedih kalian secara mendalam… nikmati setiap kisah manisnya hingga kisah bodohnya. Jika kalian merindukan seseorang, lalu yang dirindukan tidak segera membalas pesan… leave them alone for a while, mungkin dia sibuk and hei! Do something productive too. Akan tiba detik dimana rindu tidak bisa terbendung dan percayalah TRING “Ah, maaf baru baca. Tadi lagi beresin draft untuk kerjasama klien besok. Gak apa kan?”
Itu mungkin lebih manis daripada rentetan di timeline:
“… sebel cuman delivered aja tapi gak di read-read” 10 minutes ago
“kamu dimana sih kok gak bales-bales?“-with Entahlahsiapa 5 minutes ago
“Aduh hp kamu rusak ya”-with Entahlahsiapa 1 minutes ago

Nikmati setiap detik ketika kamu sendiri, ketika kamu bersama orang lain, ketika luang, ketika sibuk, ketika sedih, ketika rapuh, ketika marah… semuanya.
Karena kisah-kisah itu yang bakal jadi cerita gurih layaknya gurame asam-manis yang ikannya digoreng kriuk dan akan dinikmati oleh kita dan orang-orang yang antusias mendengar cerita kita kelak.
Oh… I know, saya juga sempat alay, jangan sok suci ente, Mon! Iya… iya… tapi boleh dong saya tobat dan memilih jalan versi saya sendiri ๐Ÿ™‚

Tahukah kalian? karena tidak ada yang bisa mendikte kebagiaan kalian. Kalian yang menentukan definisi bahagia kalian sendiri.

========================
Once upon a time between two planet
Earth: Do you know,Mars… I think if I really really really like someone I’ll never need anything else because I have someone to be spamed until their cellphone get hang and blank. Not that crazy, but I mean why should spread satelites all around if then it just for complaining?

Mars: ahahahaha… really? But you know what? The most important thing is nothing can define happiness, except yourself. Unfortunately, human usually define their happiness to other people happiness. And eh! If there is no satelite, Earth I am sure we can’t communicate then :p Just enjoy it.
========================

Masakan ala mahasiswa: catatan bisu impian, passion, dan kondisi budget


Saya memang punya ambisi untuk sekolah hingga ke jenjang paling tinggi. Kalau ada sampai S5, niscaya saya akan hajar sampai S5. Saya ini bodoh kawan-kawan, makanya saya senang belajar dan sekolah. Namun, jauh di balik itu semua saya juga menyimpan obsesi tertinggi dalam hidup saya “Jadi Mama yang sempat memasak untuk keluarga kecil saya,” dan saya punya alasan tersendiri untuk itu, sebuah cerita cukup panjang.

it’s okay kalau semua makhluk-makhluk di rumah sibuk. Saya sibuk sendiri dengan penelitian saya (I really want to be a researcher), anak saya sekolah dan semoga dia lebih gaul daripada Mamanya kelak, dan suami saya mencari sekarung berlian, go ahead…! Tapi saya ingin memastikan mereka sehat dan gak lapar :’D. Keluarga saya mini-sized sekali, entah kenapa Allah senang sekali memanggil keluarga saya lebih dulu. Setelah saya perhatikan semuanya nyaris sama, died by delicious food.ย  Keluarga saya itu semuanyaaaaaa pecinta kuliner yang enak, aduh jangan tanya deh gak bisa kalau makan gak enak. Dan yaaaah begitu kan, ada yang diabetes, ada yang kanker, dan mama saya terserang diabetes paket combo dengan stroke hingga sakit seperti sekarang. Ini harus dihentikan! Saya tidak mau ini terjadi lagi, dinasti harus terus berlanjut. So here I am, di sebuah titik dimana saya ingin keluarga saya kelak: SEHAT! I will cook for you sweet hearts!

Saya, bagaimanapun…
selalu ingin jadi orang yang membuka pintu ketika suami dan anak-anak saya pulang dan tanya “How’s life? Tea or Juice? Sudah makan? Makan dulu yuk”
Mungkin semua sibuk, tapi biarkan meja makan menjadi sebuah tempat berkumpul paling efektif untuk hanya sekadar menertawakan beberapa hal dalam hidup, menjadi spot yang lebih seru daripada wi-fi spot.

Jadi, sebagai orang dengan impian seperti itu, saya punya beberapa prinsip mendasar dalam masak: 1. Minimalisir sampah, usahakan makanan gak ada yang mubazir, 2. Semua tempat boleh berantakan kecuali: DAPUR!, 3. usahakan semuanya sesehat mungkin.

Sayangnya sebagaimana kurva indiferen yang selalu terkendala garis anggaran, saya juga punya beberapa masalah:
1. I am not good in cooking :’D
2. masakan yang sehat memang rasanya gak senendang makanan yang gak sehat. Inget! Gorengan yang digoreng sama minyak item dan udah bercampur sama plastik bekas minyaknya konon lebih enak daripada yang digoreng rumahan.

Jangan bandingkan saya dengan beberapa sahabat saya. Allah begitu peduli dengan saya, hingga entah mengapa kalau saya punya sahabat, mereka bisa masak…. *lalu komat-kamit semoga nanti kalau punya suami juga jago masak, please Ya Allah…please!*

But well, namanya juga usaha! Mari kita lihat masakan ala mahasiswa ini.

1. NASI GORENG

Nasi Goreng Jabrik….

Perjuangan luar biasa bikin nasi goreng dengan jenis beras jepang yang pulennya keterlaluan itu. Konon katanya harus di masukin freezer dulu… preet saya sudah coba aneka cara, tetep aja gak bisa nyamain berasa ras Oryza javanica. Tapi yo wis lah, sungguh nasi goreng saya dengan nasi goreng tek tek enakan nasi goreng tek tek hahhahahaa #yangpentingjujur.

Sebagai penganut mahzab makanan harus sehat, saya biasanya pakai garam sedikiiit banget. Maklum saya agak trauma dengan garam, mengingat Mama saya punya darah tinggi jadi yaaaa begitulah. Terus, rasanya sungguh terlalu jika saya punya anak cuman dikasih nasi berbumbu kecap kayak gitu doang… jadi biasanya saya campur aneka sayuran dan potong udang kecil-kecil. Lainnya? terima kasih pada seluruh keluarga bawang yang menciptakan rasa gurih tersendiri :’D

2. NASI UDUK
Image and video hosting by TinyPic
Ini nih signature dish kebanggaan saya, hanya terjadi jika saya lagi rajin dan menakar santan dengan tingkat akurasi tinggi. Pernah gagal, bukannya jadi nasi uduk malah jadi lontong.
Ya amploppp….

Biasanya sih makannya sama telor aja, saya penggemar telur setengah matang jadi biasanya pakai telur setengah matang, plus selada, plus sambel terasi. Huhuhuhuhu semacam masakan kalau kangen rumah tingkat akut. Sekarang udah tau dimana beli kacang dan gula merah, jadi kadang bikin sambel kacang juga. Tapi apapun itu… harus ada sayur! Ingat! Sayuuuuur!

3. MIE INSTANT [yang diusahakan agak sehat sedikit]
Image and video hosting by TinyPic
Kalau kamu mahasiswa dan gak makan mie instan! Ahahahaha… itu bagaikan petani yang belum merasakan beceknya sawah.
Bro! Mie instan itu adalah saksi bisu perjuangan mahasiswa dalam menghadapi hidup, Bro mwahahhahaa.

Kalau di rumah dulu, Mama selalu nanya anaknya yang pada lagi mahsyuk belajar “Laper gak?” dan biasanya sih jawaban kami “Iya maaaa….” terus tiba-tiba akan muncul semangkok mie kuah dengan cabe rawit dan potongan sayur entah itu buncis, kol, toge, apapun lah itu. Dan kami pun bahagia seperti biasa.

Kalau lagi males masak yang ini nih makanan saya, si mie instan. Berusaha menandingin bikinan mama. Cemplungin bawang bombang (atau bawang merah), sayur, cabe rawit. Kadang saya pakai kimchi juga biar makin seger. Cuman emang ya, masakan yang ditambah bumbu cinta lebih enak. Bahkan mie instan bikinan Mama aja masih terasa lebih enak dari mie manapun apalagi bikinan saya huhuhuhu. Mom, I love you.

4. KARE AYAM
Image and video hosting by TinyPic
Nah, kalau ada bumbu instan (ehmmmm….) terus lagi agak kaya sedikit, bolehlah masak kare ayam. Berhubung semakin mudah nyari ayam halal, si kare ini bisa jadi pilihan bagi mahasiswa yang pengen makan agak mewah. Kalau saya, kalau sudah pakai bumbu instan gak akan pakai garam apalagi mecin lagi juga penyedap rasa. Lainnya paling tambah aneka bawang dan sayur yang match kayak wortel, kentang (kentang sayur bukan sih?), dan karena saya penggemar kembang kol yah masukin aja. Pokoknya asal bahan makanan di kulkas gak ada yang mubazir.

5. CHICKEN TERIYAKI
Image and video hosting by TinyPic
Kalau mau masakan ayam yang lebih gampang yaaaah tinggal bikin masakan jepang lah! Chicken Teriyaki! Kalau mau gampang abis tinggal marinade sama saos teriyaki. kalau kalian yang punya saos teriyaki, saya sih bikin resep iseng sendiri marinade ayam dengan soyu (cari yang halal ya ๐Ÿ™‚ ), sedikit kecap manis, dan perasan jahe. Mungkin rasa gak bakal sama tapi yaaaah daripada gigit sandal.

Setelah di marinade, biasa tumis si ayam dengan aneka bawang-bawangan ๐Ÿ™‚ nanti kalau udah mateng tinggal tabur daun bawang, makan pas lapar dan nasi hangat. Insha Allah, walau rasa biasa aja terasa enak mwahhhahahaha.

6. IKAN BAKAR
Image and video hosting by TinyPic
Nah.. ini, dijamin halal dan bikin happy. Ikan bakar.
Thanks buat sobat Amel yang udah menginspirasi.
Intinya si ikan yang perawakannya meyakinkan untuk di bakar digulingin di kecap ikan, kecap manis, bawang2an, cabe, dan oh iya lemon (I love lemon). terus biarkan sejenak, ampe kira-kira bumbu meresap kali ya. Terus bakar dia! Bisa pakai microwave atau goreng tanpa minyak di teflon, atau di bakar aja pakai margarin. Yaaaah gitu lah pokoknya.

Lalu makan dengan penuh rasa syukur.

7.ANEKA PANCAKE
Saya ini tidak suka manis, jadi sebenernya agak pusing mau bikin apa buat kue-kue an. Lalu ting! Ada ide! Pancake.
Hingga hari ini saya tidak tahu sebenarnya rasa pancake yang shahih itu seperti apa karena selama ini saya bikin pancake dari barang-barang yang tersisa di kulkas…

Saya ini benci setengah mati dengan pisang! Jadi please temen-temen kalau bawain buah ke rumah jangan pisang. Tapi tiba-tiba saya cerdas! Terbesitlah untuk membuat PANCAKE PISANG. Ini gak pake tepung loh, hanya pisang dihancurin terus campur telur. Goreng! Kasih mample syrup…. cukup berhasil membuat saya makan pisang banyak

Image and video hosting by TinyPic

Terima kasih pada teknik fotografi, rasa pancakenya sih kayak pisang goreng mwahahaha.

Terus saya juga pernah beli wortel kebanyakan…. jadi saya rebus si wortel, haluskan dan jadiin pancake wortel :’D Subhanallah sekali sodara-sodara… Yaaaah seperti biasa walau gosong, tabur aja serbuk gula dan maple syrup…. lalu makan dengan penuh rasa syukur.

Image and video hosting by TinyPic

Pancake wortel yang agak gosong namun diupayakan tetap indah

Misi selanjutnya! Beli tepung pancake! harus tau gimana sebenarnya rasa pancake itu :’D

Daaaaaan demikianlah catatan mahasiswa yang baru belajar masak ini, yaaah gitu-gitu aja ahahahaha. Jelek-jelek begini obsesi saya untuk jadi Mama yang masak untuk keluarganya masih besar fufufuufu.
Ya udah, yang penting niat.
Nanti kalau udah punya keluarga sendiri, dengan senyum paling manis yang saya punya…saya akan bilang “Hehehe… hargai inner beauty ya” *sambil nyodorin masakan yang agak gosong :’P

Perbedaan, Kesempurnaan, dan Rubik’s Cube: Just my notes before Ramadhan :)


Tahukah kalian bahwa hanya karena sebuah “perbedaan” dua orang yang saling mengenal baik kemudian bisa berpisah dan bertemu kembali menjadi orang yang asing sama sekali

Ah masa sih segitunya?
Iya segitunya kok.

“Heh, kamu puasa ini udah sampe juz berapa?”
“Yah, aku baru juz 1 nih”
“Idih, ngapain aja sih? Gw dong udah 15 juz”
[lo pikir baca Quran lomba estapet?]

Tentu tidak afdhal jika belum update status dulu di socmed
“Alhamdulillah sekarang udah sampai juz 29”
“Aduuuuh… sekarang lagi dateng bulan nih, syebel deh”
dsb
dsb
[Gw berharap semoga malaikat pencatat amal sekarang udah lebih canggih, jadi mereka bisa baca amalan-amalan di social media ๐Ÿ˜› iya kan? mwahahaha]

“Gw pulang kerja langsug taraweh dong”
“Aduh gw pas nyampe rumah udah keburu abis tarawehnya”
“Ih parah abis lo, diusahain dong. Itu sih lo aja yang males”
[Apes kan… udah capek, gak sempet tarawih jamaah, eh dibilang males. JACKPOT VRO!]

dan begitu terus,
begitu lagi.

Kalian jengkel gak sih?
Saya rasa saya pernah jadi orang yang nyebelin kayak gitu, harus diakui… masa-masa alay itu ada. ADA BANGET! Tapi kemudian beberapa kisah terjadi. Semua kisah diatas rasa-rasanya sudah saya rasakan. Beberapa orang kalau dikasih kalimat sarkas emang cepat tersulut, mungkin saya salah satunya.

Tapi hei! tunggu! Memangnya kita hebat-hebat banget sampai perlu membandingkan kualitas ibadah kita dengan orang lain, dan idih ngerasa yang paling oke pula. Sok iye banget gak sih. Mukyaaaaaaaa….

Saya harus mengakui bahwa keimanan saya dan keislaman saya cetek banget. Apalah Marissa, pakai jilbab aja inspirasinya dari temannya yang nasrani (just fyi if you haven’t know it yet. Tanpa mendengar nasehat dia, saya masih pamer rambut ikal saya yang mempesona hingga saat ini :p ). Tapi kenapa sih gak positive thinking gitu, mungkin yang telat khatam Quran itu bukannya males, tapi diam-diam dia ngehapalin ayat per ayat, mencoba memahami tajwidnya, mencoba mentadaburi maknanya. Jika iya, maka apalah kalian yang cuman baca Quran tanpa tahu apa-apa? Sama halnya kalau ujian kemudian ada mahasiswa yang cuman baca slide dan asal cepet dengan yang baca slide perlahan lalu mengecek tiap kalimat ke buku teks. Kualitasnya beda, bray! Iya gak sih? Atau gw aja yang mikir gitu. Yo wis lah.

Terus apa lagi ya…
Entahlah, socmed membawa banyak kesakithatian akhir-akhir ini. Jadi gw memang sensi dengan socmed.

Entahlah,
Intinya dalam pemahaman gw, MEMOTIVASI dengan MEMOJOKAN orang itu dua konteks yang jaaaaaauuuuuuuuuuuhhhhh banget. Mau tau bedanya?
Contohnya, ini contooooooh:
“Yah… gw masa seminggu puasa cuman dapet 2 juz ya”
MEMOJOKAN: Yah, lo gimana? Tau gak 1 juz itu paling beres subuh aja beres tau. Lo aja kali kebanyakan molor. Gak niat. Gw aja udah dapet 10 juz
MEMOTIVASI: Great! At least you read it ๐Ÿ˜€ kenapa memang? Sibuk ya… gak apa, pelan-pelan aja. Nanti ketemu momen yang asik buat lo baca dan memahami Quran. Insya Allah.

Coba, mana yang lebih adem?
Iman itu bagi saya jurinya hanya 1, Allah SWT
Allah menilai berdasarkan seluruh pantuan CCTV, interview, rekam jejak forensik, dsb dsb dsb yang telah dikumpulkan oleh para malaikat.
And it’s okay if you haven’t good yet…. you can try to be better.
Tapi sayangnya beberapa orang ada yang ingin orang lain langsung sempurna.

Dan jika kalian tahu, hal seperti bisa berdampak buruk. Salah satunya adalah patah hati berkepanjangan :p
Nah penting kan hal ini diketahui para jomblo.

Tersebutlah kisah…. Dua orang yang berbeda pendapat.

“Ih, bentar aku perhatiin kamu sering banget deh ngebandingin Islam A sama Islam B, biarin aja lagi. Kalau misalnya kamu grup A dan B salah, kamu juga gak bener2 banget, siapa tau masuk neraka bareng grup B. Tengsin lagi bro”

“Masya Allah, perkataan saya itu berdasarkan bukti yang nyata”

“Mungkin mereka sedang mencari jalan yang benar dengan cara mereka. Beberapa orang harus nyasar dulu sebelum menemukan jalan yang benar”

“Tapi itu sudah jelas salah, tidak ada kompromi untuk itu. Kamu, kalau kamu misalnya jatuh cinta dengan orang yang seperti itu, bagaimana?”

“Ya semoga dia orang yang tidak saklek ketika diajak berdiskusi. Kamu ngerti gak sih kenapa rubik’s cube itu seru. Karena dia belum solved! Kalau udah perfect sih gak menantang lagi. Apa hebatnya ngajak anak rohis misalnya buat ngaji di masjid? Yang hebat itu kan kalau kamu bisa mengubah pola pikir bocah-bocah bandel tiba-tiba mau lepas sepatu futsal mereka, ambil wudhu, dan shalat di masjid. Think dong, think!”

“Ya udahlah terserahlah” kata si ikhwan ini berlalu. Dan beberapa bulan kemudian dia menikah dengan rubik’s cube yang sudah solved :’D yang pengetahuan agamanya jauh kemana mana saya teman debatnya itu. Beberapa hari sebelum itu TRING, hp si teman debat berdering “Saya mungkin memang tidak sehebat yang kamu bilang. Oiya ini undangan pernikahan saya” lalalalalala yeyeyeyeyeye.

Tinggalah si teman debat ini gigit rubik’s cube, eh maksudnya gigit segenggam ceker ayam di dalam semangkok mie ayam.

Suatu hari dia bertemu dengan rubik’s cube yang rasanya bener-bener belum solved semua sisinya. Dan mungkin pertemuan yang jauh lebih nyaman.

“Hah apa? Kamu gak ngelakuin ini????ย  Hah ini juga… ih kamu sekte apa sih?????”
“Haahahaaa”
“Ih ketawa lagi. Eh, bener… kenapa sih”
“Ya gak tau aja. Gimana sih, dari kecil saya diajarinnya begini, gak boleh ini, gak boleh itu”
“Waw…”
“Kamu juga kan, hish gak usah ngasih tau kalau sendirinya masih suka ngawur”
“Haahahha… iya”
“Gak apa kan?”
“Apa?”
“Beda”
“Gak apa kok….hahhahahaa”
“Kok ketawa?”
“Hhhahhaa… gak apa, cuman inget seseorang yang suka perfect rubik’s cube aja”
“Huh?”
“Forget it. Lalu impian kamu apa?”
“Semuanya berjalan baik-baik aja… kalau bisa semua orang bisa damai, kalau bisa semua orang bisa lebih terbuka menerima perbedaan”
“Fuufufufu”
“Kok ketawa lagi”
“Nothing, kamu jadi orang baik ya. Jangan jadi penjahat. Semoga waktu menjaga kamu sebaik-baiknya penjagaan”
“Ih ngomong apa sih?”
“Gak apa, tapi mungkin orang yang mikir begitu gak banyak”
“Kita kan beda….”
“Haahahaahha… But I always prefer unsolved rubik’s cube ;] Selalu ada jalan entah serumit apa untuk kelak menyempurnakan seluruh sisi rubik’s cube itu”
“???????? Ada apa sih sama rubic cube”

[Entah lah rasanya adegan selanjutnya gw pengen nyanyi “Take my hands let’s see where we wake up tomorrow……” hadeeeuh, mulai gaje]

Diam-diam dalam doa gw, gw hanya berdoa para unsolved rubik’s cubes [termasuk unsolved rubik’s cube versi gw] bisa segera menemukan orang-orang yang bisa menyempurnakannya, membantu untuk menemukan warna dan bentuk sesungguhnya.

Diam-diam… sambil menyeracau gak jelas, gw berdoa semoga setiap harapan mulia dari semua orang, seberbeda apapun dia, seaneh apapun dia, bisa dipertimbangkan untuk dikabulkan.

Diam-diam, di setiap lipitan sel abu ini gw berpikir, mengapa kita tidak lebih fleksibel dan sabar dalam menghadapi perbedaan?

Jadi serius nih, kita lebih suka solved rubik’s cube?
Ah masa sih?
Yo wis…

Selamat menyiapkan diri sebelum puasa :]