Social Media Diet: Karena kalian tidak perlu mengkomparasi kebahagiaan kalian dengan kebahagiaan orang lain :)


Be happy for this moment. This moment is your life.”— Omar Khayyam

Dan seorang manusia kuper bernama Marissa akhirnya memutuskan untuk membersihkan handphone-nya. Dia memutuskan untuk DIET! bukan sembarang diet, tapi diet sosial media. Huh? Apa lagi itu?
Saya meng-uninstall beberapa social media yang menurut saya gak perlu-perlu banget dan mungkin yang terlalu additive. Bukan apa-apa, saya kan semakin uzur dan sepertinya saya semakin mudah tersulut iri dengki *haish*. No, actually, I just get bored and I want to focus with something I really passionate about and of course my research.
Saya menguninstall facebook dan Path dari HP tercinta saya. Facebook?… karena kalau saya butuh, saya bisa buka via PC. Path? I don’t know… I just have a hate-love relationship with Path. Seiring dengan rontoknya rambut saya, usia yang makin menua, tulang yang semakin sering encok, saya merasa Path dan beberapa social media lain terkadang mengubah  standar kebahagiaan saya.

Bahagia ala social media seringkali adalah:
Ketika harus check in di semua tempat baru…ah, bukan hanya check in! Jangan lupa tag juga pasangan kamu 😉 apa? kamu sendirian? ih cacian deh… :p
Ketika kamu baca buku dan harus update sudah halaman berapa yang kamu baca dengan detil, jangan lupa tulis di mana kamu baca buku itu? di sebuah cafe sophisticated? kurang lengkap tanpa skrinsut dengan caffe latte yang sudah ditata ciamik.
Ketika kamu dimarahi atasan kamu, atau sekadar unmood dengan seorang atau beberapa orang yang menjengkelkan, lalu tulis “Sabaaar, biar Tuhan yang balas” lalu semua orang memberi jempol atau seutas senyum “ih ada apa? sabar ya… cerita dong” Dan percakapan pun menjadi mahapanjang hanya untuk membicarakan orang lain. Ingat! Kamu mungkin benar, tapi ingat juga kamu mungkin salah… semesta ini sudah bekerja sesuai dengan hukum Newton sebab=akibat bahkan sebelum Newton mencetuskan teori itu.  You don’t need to complain about everything on social media! Apalagi sampai tambah dosa jadi ngomongin orang. You need someone you really trust to and talk to them…. you need your God to inspire you… Find God when you need solution, not when you want to talk bad about something or someone. Bukankah Tuhan adalah Dzat Mahasuci yang layiknya disebut dalam hal-hal yang baik dan penuh keagungan?

Oh come on stop being fake! be real!

Jadi lo hapus akun?
Gak! Akun saya ada… ada banget, gak saya hapus kok… saya bahkan masih melink-an blog saya dengan path dan facebook, but I don’t want to scroll them every single time! Perkara kalian ingin membaca blog saya atau tidak, that’s your business 🙂 dan saya selalu bahagia menyambut semua pembaca saya di blog. This is the real me… I no need to do any drama on my blog.

Namanya masih diet level 1, saya toh masih jadi silent reader di twitter (and I think it still the best buat baca-baca berita terbaru), instagram (I love photography dan sedang kerajingan pamer hasil fotografi saya, selain itu saya punya sahabat pena yang hanya bisa saya hubungi via instagram), dan pinterest (karena banyak ilmu-ilmu baru yang seru). Saya hanya meninggalkan hp saya di rumah selama saya di lab. Bye cellphone, I’ll be back… dan dia pun menunggu dengan manis di sofa.

And here I am… happy, safe, and sound!
Saya kembali menjadi Marissa yang so easy to be happy…

My real happiness :’D

Saya kembali menyentuh seluruh jurnal dan merangkum mereka satu per satu untuk tesis.
Saya kembali menyusun jurnal harian saya, mencatat semua pengetahuan baru yang saya dapat.
Saya kembali menulis planner dan buku harian saya dengan teratur. Saya bahkan membuat part yang saya tulis dengan bahasa Jepang. Saya memutuskan setelah lulus master, saya harus berhasil lulus tes JLPT setidaknya level 3! Cupuuuuuuuu cuman level 3! 2 kek.. 1 kek… apaan tuh level 3? Pffft…. Bodo amat lah, ahahahaa… yang penting senyum :’D
Saya kembali membaca buku dengan bahagia, tidak peduli buku apa yang sedang trend saat ini… seberapa cepat saya membaca… seberapa terkenal penulisnya… I don’t care, I love it then I read it.

Saya kembali menggambar dan menulis surat…  I make new friends…

I write and draw something again :’D

Ketika saya punya masalah atau sekadar ingin ketawa, saya masih bisa menghubungi sahabat-sahabat saya ketika mereka dan saya sedang luang. Dan jika kemudian mereka sedang sibuk, no prob… I have lots of things to do too. So, live couldn’t be easier then.

Image and video hosting by TinyPic

Akun Instagram saya… fotonya sekarang agak slightly better setelah mendapat banyak masukan dari kakek-kakek fotografer yang suka gak sengaja ketemu di taman terus kayaknya gatel ngajarin fotografer newbietol macam saya

Saya kembali jalan kali atau naik si “Tengsin” (nama skuter saya, namanya tengsin karena kalau dipake aduuuh kayak masa kecil kurang bahagia gitu) sambil membawa kamera saya lalu menjepret semua pemandangan keren di sekitar saya. Berkenalan dengan kakek-kakek yang kameranya biasanya lebih canggih daripada saya, dengan pemahaman nihongo yang seiprit, saya terkadang kecipratan ilmu dari mereka. If you see my photography skill increase… itu semua salah satunya karena jasa mereka (makasih loh kek :’] )

Kemarin, 9 Maret 2016, gerhana matahari total dan nyepi bagi umat Hindu. Salah satu sahabat saya yang “trapped in Ubud” pun kemudian ikut “menyepi” and I am glad when she shown me her water color painting this morning :’) I mean… she really talented on it. Harus berapa nyepi dia lewati hingga dia bisa optimalize skillnya itu?

Jadi apa, Mon? Lo maksa kita-kita buat uninstall social media kayak lo juga? Cih… kalo kuper gak usah ngajak-ngajak.

Oh c’mon! Are you kidding on me? of course not! Saya justru menganjurkan kalian untuk menjadi diri kalian. If social media is something “really you are”, you love it, you enjoy it, you become better because of it… then go ahead! Lanjut gan! Namun jika ada social media yang kemudian merenggut “the real you are”, yang membuat kamu sedih ketika jomblo… ketika LDR… ketika hujan…. ketika berketombe… yaaah pokoknya kalau banyak mudharatnya yaaaa kurangi, kalau perlu tinggalkan.

Berbahagialah dengan cara yang paling membuat kalian bahagia. Jalan-jalan tanpa perlu pusing ketinggalan tongsis dan power bank (tapi harus pusing sih kalau gak bawa kamera, atau bawa kamera eh gak ada baterenya =.= wassalam).
Baca buku sambil menikmati rintik hujan dan segelas teh hangat tanpa perlu ada kewajiban lapor sudah sampai halaman berapa, chapter berapa, dsb.
Nikmati waktu dengan orang yang kalian sayang, tertawa dan berbagi cerita sedih kalian secara mendalam… nikmati setiap kisah manisnya hingga kisah bodohnya. Jika kalian merindukan seseorang, lalu yang dirindukan tidak segera membalas pesan… leave them alone for a while, mungkin dia sibuk and hei! Do something productive too. Akan tiba detik dimana rindu tidak bisa terbendung dan percayalah TRING “Ah, maaf baru baca. Tadi lagi beresin draft untuk kerjasama klien besok. Gak apa kan?”
Itu mungkin lebih manis daripada rentetan di timeline:
“… sebel cuman delivered aja tapi gak di read-read” 10 minutes ago
“kamu dimana sih kok gak bales-bales?“-with Entahlahsiapa 5 minutes ago
“Aduh hp kamu rusak ya”-with Entahlahsiapa 1 minutes ago

Nikmati setiap detik ketika kamu sendiri, ketika kamu bersama orang lain, ketika luang, ketika sibuk, ketika sedih, ketika rapuh, ketika marah… semuanya.
Karena kisah-kisah itu yang bakal jadi cerita gurih layaknya gurame asam-manis yang ikannya digoreng kriuk dan akan dinikmati oleh kita dan orang-orang yang antusias mendengar cerita kita kelak.
Oh… I know, saya juga sempat alay, jangan sok suci ente, Mon! Iya… iya… tapi boleh dong saya tobat dan memilih jalan versi saya sendiri 🙂

Tahukah kalian? karena tidak ada yang bisa mendikte kebagiaan kalian. Kalian yang menentukan definisi bahagia kalian sendiri.

========================
Once upon a time between two planet
Earth: Do you know,Mars… I think if I really really really like someone I’ll never need anything else because I have someone to be spamed until their cellphone get hang and blank. Not that crazy, but I mean why should spread satelites all around if then it just for complaining?

Mars: ahahahaha… really? But you know what? The most important thing is nothing can define happiness, except yourself. Unfortunately, human usually define their happiness to other people happiness. And eh! If there is no satelite, Earth I am sure we can’t communicate then :p Just enjoy it.
========================

Masakan ala mahasiswa: catatan bisu impian, passion, dan kondisi budget


Saya memang punya ambisi untuk sekolah hingga ke jenjang paling tinggi. Kalau ada sampai S5, niscaya saya akan hajar sampai S5. Saya ini bodoh kawan-kawan, makanya saya senang belajar dan sekolah. Namun, jauh di balik itu semua saya juga menyimpan obsesi tertinggi dalam hidup saya “Jadi Mama yang sempat memasak untuk keluarga kecil saya,” dan saya punya alasan tersendiri untuk itu, sebuah cerita cukup panjang.

it’s okay kalau semua makhluk-makhluk di rumah sibuk. Saya sibuk sendiri dengan penelitian saya (I really want to be a researcher), anak saya sekolah dan semoga dia lebih gaul daripada Mamanya kelak, dan suami saya mencari sekarung berlian, go ahead…! Tapi saya ingin memastikan mereka sehat dan gak lapar :’D. Keluarga saya mini-sized sekali, entah kenapa Allah senang sekali memanggil keluarga saya lebih dulu. Setelah saya perhatikan semuanya nyaris sama, died by delicious food.  Keluarga saya itu semuanyaaaaaa pecinta kuliner yang enak, aduh jangan tanya deh gak bisa kalau makan gak enak. Dan yaaaah begitu kan, ada yang diabetes, ada yang kanker, dan mama saya terserang diabetes paket combo dengan stroke hingga sakit seperti sekarang. Ini harus dihentikan! Saya tidak mau ini terjadi lagi, dinasti harus terus berlanjut. So here I am, di sebuah titik dimana saya ingin keluarga saya kelak: SEHAT! I will cook for you sweet hearts!

Saya, bagaimanapun…
selalu ingin jadi orang yang membuka pintu ketika suami dan anak-anak saya pulang dan tanya “How’s life? Tea or Juice? Sudah makan? Makan dulu yuk”
Mungkin semua sibuk, tapi biarkan meja makan menjadi sebuah tempat berkumpul paling efektif untuk hanya sekadar menertawakan beberapa hal dalam hidup, menjadi spot yang lebih seru daripada wi-fi spot.

Jadi, sebagai orang dengan impian seperti itu, saya punya beberapa prinsip mendasar dalam masak: 1. Minimalisir sampah, usahakan makanan gak ada yang mubazir, 2. Semua tempat boleh berantakan kecuali: DAPUR!, 3. usahakan semuanya sesehat mungkin.

Sayangnya sebagaimana kurva indiferen yang selalu terkendala garis anggaran, saya juga punya beberapa masalah:
1. I am not good in cooking :’D
2. masakan yang sehat memang rasanya gak senendang makanan yang gak sehat. Inget! Gorengan yang digoreng sama minyak item dan udah bercampur sama plastik bekas minyaknya konon lebih enak daripada yang digoreng rumahan.

Jangan bandingkan saya dengan beberapa sahabat saya. Allah begitu peduli dengan saya, hingga entah mengapa kalau saya punya sahabat, mereka bisa masak…. *lalu komat-kamit semoga nanti kalau punya suami juga jago masak, please Ya Allah…please!*

But well, namanya juga usaha! Mari kita lihat masakan ala mahasiswa ini.

1. NASI GORENG

Nasi Goreng Jabrik….

Perjuangan luar biasa bikin nasi goreng dengan jenis beras jepang yang pulennya keterlaluan itu. Konon katanya harus di masukin freezer dulu… preet saya sudah coba aneka cara, tetep aja gak bisa nyamain berasa ras Oryza javanica. Tapi yo wis lah, sungguh nasi goreng saya dengan nasi goreng tek tek enakan nasi goreng tek tek hahhahahaa #yangpentingjujur.

Sebagai penganut mahzab makanan harus sehat, saya biasanya pakai garam sedikiiit banget. Maklum saya agak trauma dengan garam, mengingat Mama saya punya darah tinggi jadi yaaaa begitulah. Terus, rasanya sungguh terlalu jika saya punya anak cuman dikasih nasi berbumbu kecap kayak gitu doang… jadi biasanya saya campur aneka sayuran dan potong udang kecil-kecil. Lainnya? terima kasih pada seluruh keluarga bawang yang menciptakan rasa gurih tersendiri :’D

2. NASI UDUK
Image and video hosting by TinyPic
Ini nih signature dish kebanggaan saya, hanya terjadi jika saya lagi rajin dan menakar santan dengan tingkat akurasi tinggi. Pernah gagal, bukannya jadi nasi uduk malah jadi lontong.
Ya amploppp….

Biasanya sih makannya sama telor aja, saya penggemar telur setengah matang jadi biasanya pakai telur setengah matang, plus selada, plus sambel terasi. Huhuhuhuhu semacam masakan kalau kangen rumah tingkat akut. Sekarang udah tau dimana beli kacang dan gula merah, jadi kadang bikin sambel kacang juga. Tapi apapun itu… harus ada sayur! Ingat! Sayuuuuur!

3. MIE INSTANT [yang diusahakan agak sehat sedikit]
Image and video hosting by TinyPic
Kalau kamu mahasiswa dan gak makan mie instan! Ahahahaha… itu bagaikan petani yang belum merasakan beceknya sawah.
Bro! Mie instan itu adalah saksi bisu perjuangan mahasiswa dalam menghadapi hidup, Bro mwahahhahaa.

Kalau di rumah dulu, Mama selalu nanya anaknya yang pada lagi mahsyuk belajar “Laper gak?” dan biasanya sih jawaban kami “Iya maaaa….” terus tiba-tiba akan muncul semangkok mie kuah dengan cabe rawit dan potongan sayur entah itu buncis, kol, toge, apapun lah itu. Dan kami pun bahagia seperti biasa.

Kalau lagi males masak yang ini nih makanan saya, si mie instan. Berusaha menandingin bikinan mama. Cemplungin bawang bombang (atau bawang merah), sayur, cabe rawit. Kadang saya pakai kimchi juga biar makin seger. Cuman emang ya, masakan yang ditambah bumbu cinta lebih enak. Bahkan mie instan bikinan Mama aja masih terasa lebih enak dari mie manapun apalagi bikinan saya huhuhuhu. Mom, I love you.

4. KARE AYAM
Image and video hosting by TinyPic
Nah, kalau ada bumbu instan (ehmmmm….) terus lagi agak kaya sedikit, bolehlah masak kare ayam. Berhubung semakin mudah nyari ayam halal, si kare ini bisa jadi pilihan bagi mahasiswa yang pengen makan agak mewah. Kalau saya, kalau sudah pakai bumbu instan gak akan pakai garam apalagi mecin lagi juga penyedap rasa. Lainnya paling tambah aneka bawang dan sayur yang match kayak wortel, kentang (kentang sayur bukan sih?), dan karena saya penggemar kembang kol yah masukin aja. Pokoknya asal bahan makanan di kulkas gak ada yang mubazir.

5. CHICKEN TERIYAKI
Image and video hosting by TinyPic
Kalau mau masakan ayam yang lebih gampang yaaaah tinggal bikin masakan jepang lah! Chicken Teriyaki! Kalau mau gampang abis tinggal marinade sama saos teriyaki. kalau kalian yang punya saos teriyaki, saya sih bikin resep iseng sendiri marinade ayam dengan soyu (cari yang halal ya 🙂 ), sedikit kecap manis, dan perasan jahe. Mungkin rasa gak bakal sama tapi yaaaah daripada gigit sandal.

Setelah di marinade, biasa tumis si ayam dengan aneka bawang-bawangan 🙂 nanti kalau udah mateng tinggal tabur daun bawang, makan pas lapar dan nasi hangat. Insha Allah, walau rasa biasa aja terasa enak mwahhhahahaha.

6. IKAN BAKAR
Image and video hosting by TinyPic
Nah.. ini, dijamin halal dan bikin happy. Ikan bakar.
Thanks buat sobat Amel yang udah menginspirasi.
Intinya si ikan yang perawakannya meyakinkan untuk di bakar digulingin di kecap ikan, kecap manis, bawang2an, cabe, dan oh iya lemon (I love lemon). terus biarkan sejenak, ampe kira-kira bumbu meresap kali ya. Terus bakar dia! Bisa pakai microwave atau goreng tanpa minyak di teflon, atau di bakar aja pakai margarin. Yaaaah gitu lah pokoknya.

Lalu makan dengan penuh rasa syukur.

7.ANEKA PANCAKE
Saya ini tidak suka manis, jadi sebenernya agak pusing mau bikin apa buat kue-kue an. Lalu ting! Ada ide! Pancake.
Hingga hari ini saya tidak tahu sebenarnya rasa pancake yang shahih itu seperti apa karena selama ini saya bikin pancake dari barang-barang yang tersisa di kulkas…

Saya ini benci setengah mati dengan pisang! Jadi please temen-temen kalau bawain buah ke rumah jangan pisang. Tapi tiba-tiba saya cerdas! Terbesitlah untuk membuat PANCAKE PISANG. Ini gak pake tepung loh, hanya pisang dihancurin terus campur telur. Goreng! Kasih mample syrup…. cukup berhasil membuat saya makan pisang banyak

Image and video hosting by TinyPic

Terima kasih pada teknik fotografi, rasa pancakenya sih kayak pisang goreng mwahahaha.

Terus saya juga pernah beli wortel kebanyakan…. jadi saya rebus si wortel, haluskan dan jadiin pancake wortel :’D Subhanallah sekali sodara-sodara… Yaaaah seperti biasa walau gosong, tabur aja serbuk gula dan maple syrup…. lalu makan dengan penuh rasa syukur.

Image and video hosting by TinyPic

Pancake wortel yang agak gosong namun diupayakan tetap indah

Misi selanjutnya! Beli tepung pancake! harus tau gimana sebenarnya rasa pancake itu :’D

Daaaaaan demikianlah catatan mahasiswa yang baru belajar masak ini, yaaah gitu-gitu aja ahahahaha. Jelek-jelek begini obsesi saya untuk jadi Mama yang masak untuk keluarganya masih besar fufufuufu.
Ya udah, yang penting niat.
Nanti kalau udah punya keluarga sendiri, dengan senyum paling manis yang saya punya…saya akan bilang “Hehehe… hargai inner beauty ya” *sambil nyodorin masakan yang agak gosong :’P

Perbedaan, Kesempurnaan, dan Rubik’s Cube: Just my notes before Ramadhan :)


Tahukah kalian bahwa hanya karena sebuah “perbedaan” dua orang yang saling mengenal baik kemudian bisa berpisah dan bertemu kembali menjadi orang yang asing sama sekali

Ah masa sih segitunya?
Iya segitunya kok.

“Heh, kamu puasa ini udah sampe juz berapa?”
“Yah, aku baru juz 1 nih”
“Idih, ngapain aja sih? Gw dong udah 15 juz”
[lo pikir baca Quran lomba estapet?]

Tentu tidak afdhal jika belum update status dulu di socmed
“Alhamdulillah sekarang udah sampai juz 29”
“Aduuuuh… sekarang lagi dateng bulan nih, syebel deh”
dsb
dsb
[Gw berharap semoga malaikat pencatat amal sekarang udah lebih canggih, jadi mereka bisa baca amalan-amalan di social media 😛 iya kan? mwahahaha]

“Gw pulang kerja langsug taraweh dong”
“Aduh gw pas nyampe rumah udah keburu abis tarawehnya”
“Ih parah abis lo, diusahain dong. Itu sih lo aja yang males”
[Apes kan… udah capek, gak sempet tarawih jamaah, eh dibilang males. JACKPOT VRO!]

dan begitu terus,
begitu lagi.

Kalian jengkel gak sih?
Saya rasa saya pernah jadi orang yang nyebelin kayak gitu, harus diakui… masa-masa alay itu ada. ADA BANGET! Tapi kemudian beberapa kisah terjadi. Semua kisah diatas rasa-rasanya sudah saya rasakan. Beberapa orang kalau dikasih kalimat sarkas emang cepat tersulut, mungkin saya salah satunya.

Tapi hei! tunggu! Memangnya kita hebat-hebat banget sampai perlu membandingkan kualitas ibadah kita dengan orang lain, dan idih ngerasa yang paling oke pula. Sok iye banget gak sih. Mukyaaaaaaaa….

Saya harus mengakui bahwa keimanan saya dan keislaman saya cetek banget. Apalah Marissa, pakai jilbab aja inspirasinya dari temannya yang nasrani (just fyi if you haven’t know it yet. Tanpa mendengar nasehat dia, saya masih pamer rambut ikal saya yang mempesona hingga saat ini :p ). Tapi kenapa sih gak positive thinking gitu, mungkin yang telat khatam Quran itu bukannya males, tapi diam-diam dia ngehapalin ayat per ayat, mencoba memahami tajwidnya, mencoba mentadaburi maknanya. Jika iya, maka apalah kalian yang cuman baca Quran tanpa tahu apa-apa? Sama halnya kalau ujian kemudian ada mahasiswa yang cuman baca slide dan asal cepet dengan yang baca slide perlahan lalu mengecek tiap kalimat ke buku teks. Kualitasnya beda, bray! Iya gak sih? Atau gw aja yang mikir gitu. Yo wis lah.

Terus apa lagi ya…
Entahlah, socmed membawa banyak kesakithatian akhir-akhir ini. Jadi gw memang sensi dengan socmed.

Entahlah,
Intinya dalam pemahaman gw, MEMOTIVASI dengan MEMOJOKAN orang itu dua konteks yang jaaaaaauuuuuuuuuuuhhhhh banget. Mau tau bedanya?
Contohnya, ini contooooooh:
“Yah… gw masa seminggu puasa cuman dapet 2 juz ya”
MEMOJOKAN: Yah, lo gimana? Tau gak 1 juz itu paling beres subuh aja beres tau. Lo aja kali kebanyakan molor. Gak niat. Gw aja udah dapet 10 juz
MEMOTIVASI: Great! At least you read it 😀 kenapa memang? Sibuk ya… gak apa, pelan-pelan aja. Nanti ketemu momen yang asik buat lo baca dan memahami Quran. Insya Allah.

Coba, mana yang lebih adem?
Iman itu bagi saya jurinya hanya 1, Allah SWT
Allah menilai berdasarkan seluruh pantuan CCTV, interview, rekam jejak forensik, dsb dsb dsb yang telah dikumpulkan oleh para malaikat.
And it’s okay if you haven’t good yet…. you can try to be better.
Tapi sayangnya beberapa orang ada yang ingin orang lain langsung sempurna.

Dan jika kalian tahu, hal seperti bisa berdampak buruk. Salah satunya adalah patah hati berkepanjangan :p
Nah penting kan hal ini diketahui para jomblo.

Tersebutlah kisah…. Dua orang yang berbeda pendapat.

“Ih, bentar aku perhatiin kamu sering banget deh ngebandingin Islam A sama Islam B, biarin aja lagi. Kalau misalnya kamu grup A dan B salah, kamu juga gak bener2 banget, siapa tau masuk neraka bareng grup B. Tengsin lagi bro”

“Masya Allah, perkataan saya itu berdasarkan bukti yang nyata”

“Mungkin mereka sedang mencari jalan yang benar dengan cara mereka. Beberapa orang harus nyasar dulu sebelum menemukan jalan yang benar”

“Tapi itu sudah jelas salah, tidak ada kompromi untuk itu. Kamu, kalau kamu misalnya jatuh cinta dengan orang yang seperti itu, bagaimana?”

“Ya semoga dia orang yang tidak saklek ketika diajak berdiskusi. Kamu ngerti gak sih kenapa rubik’s cube itu seru. Karena dia belum solved! Kalau udah perfect sih gak menantang lagi. Apa hebatnya ngajak anak rohis misalnya buat ngaji di masjid? Yang hebat itu kan kalau kamu bisa mengubah pola pikir bocah-bocah bandel tiba-tiba mau lepas sepatu futsal mereka, ambil wudhu, dan shalat di masjid. Think dong, think!”

“Ya udahlah terserahlah” kata si ikhwan ini berlalu. Dan beberapa bulan kemudian dia menikah dengan rubik’s cube yang sudah solved :’D yang pengetahuan agamanya jauh kemana mana saya teman debatnya itu. Beberapa hari sebelum itu TRING, hp si teman debat berdering “Saya mungkin memang tidak sehebat yang kamu bilang. Oiya ini undangan pernikahan saya” lalalalalala yeyeyeyeyeye.

Tinggalah si teman debat ini gigit rubik’s cube, eh maksudnya gigit segenggam ceker ayam di dalam semangkok mie ayam.

Suatu hari dia bertemu dengan rubik’s cube yang rasanya bener-bener belum solved semua sisinya. Dan mungkin pertemuan yang jauh lebih nyaman.

“Hah apa? Kamu gak ngelakuin ini????  Hah ini juga… ih kamu sekte apa sih?????”
“Haahahaaa”
“Ih ketawa lagi. Eh, bener… kenapa sih”
“Ya gak tau aja. Gimana sih, dari kecil saya diajarinnya begini, gak boleh ini, gak boleh itu”
“Waw…”
“Kamu juga kan, hish gak usah ngasih tau kalau sendirinya masih suka ngawur”
“Haahahha… iya”
“Gak apa kan?”
“Apa?”
“Beda”
“Gak apa kok….hahhahahaa”
“Kok ketawa?”
“Hhhahhaa… gak apa, cuman inget seseorang yang suka perfect rubik’s cube aja”
“Huh?”
“Forget it. Lalu impian kamu apa?”
“Semuanya berjalan baik-baik aja… kalau bisa semua orang bisa damai, kalau bisa semua orang bisa lebih terbuka menerima perbedaan”
“Fuufufufu”
“Kok ketawa lagi”
“Nothing, kamu jadi orang baik ya. Jangan jadi penjahat. Semoga waktu menjaga kamu sebaik-baiknya penjagaan”
“Ih ngomong apa sih?”
“Gak apa, tapi mungkin orang yang mikir begitu gak banyak”
“Kita kan beda….”
“Haahahaahha… But I always prefer unsolved rubik’s cube ;] Selalu ada jalan entah serumit apa untuk kelak menyempurnakan seluruh sisi rubik’s cube itu”
“???????? Ada apa sih sama rubic cube”

[Entah lah rasanya adegan selanjutnya gw pengen nyanyi “Take my hands let’s see where we wake up tomorrow……” hadeeeuh, mulai gaje]

Diam-diam dalam doa gw, gw hanya berdoa para unsolved rubik’s cubes [termasuk unsolved rubik’s cube versi gw] bisa segera menemukan orang-orang yang bisa menyempurnakannya, membantu untuk menemukan warna dan bentuk sesungguhnya.

Diam-diam… sambil menyeracau gak jelas, gw berdoa semoga setiap harapan mulia dari semua orang, seberbeda apapun dia, seaneh apapun dia, bisa dipertimbangkan untuk dikabulkan.

Diam-diam, di setiap lipitan sel abu ini gw berpikir, mengapa kita tidak lebih fleksibel dan sabar dalam menghadapi perbedaan?

Jadi serius nih, kita lebih suka solved rubik’s cube?
Ah masa sih?
Yo wis…

Selamat menyiapkan diri sebelum puasa :]

CHANGE! Are you ready for it?


キミは今何してる? Kimi wa ima nani shiteru?
月がボクたちを見ている Tsuki ga bokutachi wo mite iru
[What are you doing now?
The moon is watching us
]

“Do you know what? Wherever we are… no matter how far we separated… we see the same moon”
Kira-kira begitulah yang pernah disampaikan seseorang pada saya. Kira-kira begitulah yang selalu saya baca di buku-buku dengan genre roman. Tapi hei! Ini bukan masalah perbintangan, astronomi, atau apapun lah itu. Ini masalah: PERUBAHAN. perubahan ruang, waktu, sikap, pemikiran. Saya akan mulai dari perubahan yang paling ketara dulu: USIA. Siapa sangka perubahan usia rupanya bisa “lebih” daripada sekadar pertambahan tanggal di kalender. “Lebih” dari sekadar cerita avatar ketika negara api menyerang.

===============================
Untuk intermezzo, saya selipkan dulu cerita ini.

“Kak, kakak lebih senang di mana? Di Bogor atau di Tokyo?” Tanya wanita paling baik hati sedunia, Mama saya.
“Mmmm… kalau gak ada Mama dan kiki, saya lebih senang di Tokyo, Ma”
“Kok gitu”
“Soalnya teman saya di sini yaaaa cuman Mama, kiki, kucing-kucing di rumah. Teman saya di Jepang lebih banyak ma. Di sini semua sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Terus, saya kayaknya udah gak nyambung gitu,Ma kalau ngomong sama beberapa orang. Mama tau kan,saya ini musuh-able banget sama beberapa orang. Yaaaah kalo Mama bisa dibawa ke Tokyo, ya jelas Tokyo lah,Ma. Pokoknya semua kerasa deh, Ma… semua berubah”
“Mmm… Mama ngerti sih.”
“Makanya mama yang bener-bener sehat gitu loh, biar bisa lari, saya bawa naik pesawat, kita jalan-jalan bareng. You no need to speak japanese,Mom.trust me”
“Mama belum tau sih negara lain seperti apa, tapi di sini banyak yang masih membutuhkan Mama. Iya gak?”
“Iya sih… Ma. Terus saya bagaimana?”
“Kalau sekarang yang membutuhkan kakak lebih banyak di Tokyo, kalau kakak di sana bisa merasa lebih bahagia, lebih berkembang, yaaaa udah di Tokyo dulu aja. Doa Mama selalu untuk kakak”

Dan sungguh, tiada kata paling bijak selain kata-kata Mama.
Tapi kan dunia ini dipenuhi oleh berbagai karakter manusia. Gak semuanya gitu kan. Gak semuanya memahami kita seperti orang tua kita sendiri, seperti diri kita sendiri.

===============================

Ehmmm….

Di usia saya yang sudah semakin menua ini, saya masih punya beberapa ambisi. Yang paling utama “KELILING DUNIA SEBAGAI AKADEMISI”
Apa sih salah saya? Apa salah saya ketika saya punya ambisi kalau:
Wanita itu harus cerdassss banget, jadi it’s awesome kalau wanita bisa berjuang untuk meraih jenjang pendidikan tertinggi.
Saya ingat seseorang bilang “Wanita itu harus pintar, Marissa. Karena mereka yang akan mendidik generasi-generasi selanjutnya. Anak-anak mereka.” celakanya saya jadi naksir kan sama yang mengeluarkan gagasan ini.

Apa sih salah saya, ketika saya begitu mencintai buku dan ilmu pengetahuan. Mungkin secinta saya pada kucing-kucing saya, buku-buku saya, pada sahabat-sahabat saya.
Jika matematika, ekonometrika, atau fisika itu seorang pria, maka saya akan langsung lepas masa lajang buat mereka. Mereka itu misterius, gak mudah ditebak, butuh analisis mendalam. Ihhh ngegemesin gak sih.
Saya begitu belajar, mempelajari hal baru itu eksotis. Seperti memberi vitamin pada otak.

Apa salah saya jika saya suka sekolah, suka belajar, umur sudah seperempat abad, lalu kemudian saya jomblo, dan tentu beberapa orang baik dalam beberapa hal dan buruk dalam beberapa hal yang lain, saya? Saya sangat buruk dalam menjalin komunikasi dengan “orang baru” dan I am not easily impressed with someone. Can you guys understand what I mean? Can you get it?

No? Oh okay… let’s make it clear and clearer.

Ketika saya pulang ke Bogor sebelum conference di Bali, saya sengaja menonaktifkan telepon selular saya, alasannya satu: Saya tidak mau dikontak terlalu banyak orang! Hanya keluarga dan beberapa orang yang bisa menghubungi saya.

Kenapa?

Why? Simple…. Saya ingin benar-benar fokus dekat Mama dan adik saya, dan saya merasa I am not getting along lagi dengan beberapa orang.
“Ih sombong banget lo, Mon”

Iya kali ya…
tapi daripada kalian bilang saya sombong, kalian lebih berpikir betapa sedihnya saya.
Saya merasa, saya sudah tidak bisa berbaur dengan teman-teman seangkatan saya yang concernnya sekarang ke keluarga mereka, anak mereka, pacar mereka, mungkin juga karir. Lha saya?
bayangkan saya berada di forum dimana semua orang sudah secara homogen sudah punya visi misi mengenai karir dan pasangan hidup mereka. Saya? Saya sedang gemes-gemesnya lagi dengan Computer General Equilibrium dan pembuktian berbagai Lemma pada mikroekonomi.
“Eh… ada yang mau ikut pelatihan GAMS for environmental economics gak? Ada loh gratis di kampus gw?”
Hahahahahaha… mungkin yang terdengar suara jangkrik yang bernyanyi nyanyi. Krik…krik…krik…

Ketika yang lain upload foto bayinya, foto usg, foto kencannya, saya? Bagaimana kalau saya upload “Call for Paper”? Kan meh gitu ya. Anti mainstream sih, tapi… apa? Apa? Apa?

Dan lagi-lagi seseorang bilang pada saya “If it is disturbing you, unactivied all of your social media! It is no use!” ya gak seekstrim itu juga, social media kan connecting me to the world. Udah saya gak gaul, non aktifin semua network itu malah membuat saya makin “terkucil” walau kadang saya mikir “Ih, brilian! Bener banget loh, socmed it useless” but forget it, mungkin itu karena saya terbawa naksir sama yang ngomong (hadeuh).

Itulah mengapa saya bilang saya lebih punya banyak teman baik di Jepang, sahabat saya lebih banyak di Jepang dibandingkan di Indonesia. Trust me! Mungkin karena masih ada yang “nyambung” ya ketika diajak beradu argumen dan bertukar pikiran.
Jujur saya tuh udah gak peduli gitu
Tentang piala kawinan bergilir, aduh udah lah mau dapet mau gak… that’s not my business, dan kalau bisa nikahan saya juga gak usah repot-repot banget lah. Mama saya kan gak terlalu fit, saya mau acara yang compact, khidmat, dan gak lama.
Tentang siapa mau nikah sama siapa, mau pacaran sama siapa, mau tugas dimana, mau sekolah dimana, oh come on! Itu kan pilihan hidup masing-masing orang, biar…. biar semua orang meraih apa yang membuat mereka sepenuhnya bahagia.
Tentang si A tajir, si B tempat kerjanya enak, si C resign, si D udah beli rumah, ya udah lah ya… jodoh, rezeki, maut itu tuh udah Allah tulis dari jaman kapan tau, then so what? Rezeki kita gak akan ketuker
Saya jadi super cuek ya sepertinya.

“Mon, lalu bagaimana jika kemudian orang berpikir hal serupa ‘Emon? Ah bodo amat dia ada dimana dsb dsb dsb’?”
Then so what? Saya sudah sering merasakan hal yang serupa. Saya pikir saya hanya perlu membagi kehidupan saya dengan orang-orang yang manis-manis aja ke saya, yang gak neko-neko, yang punya pemikiran terbuka. Sahabat juga gak butuh banyak-banyak banget kalau kata saya, butuh beberapa tapi yang high quality.

Saya berubah!
Saya semakin tua, semakin dingin untuk beberapa hal, semakin mencintai ilmu pengetahuan dan merasa “This is my way! This is my life!”
Seiring dengan itu semua orang disekitar saya juga berubah.
kalian tahu, kapan perubahan itu terasa begitu “kejam”?
ketika kalian berubah ke arah yang tidak sejalan dengan orang-orang di sekitar kalian.

Flashback ke belakang, beberapa orang bilang kalau saya tidak akan menikah, tidak akan ada cowok yang suka, dan tragisnya gak akan jadi orang kaya karena bidang yang mau saya tekuni adalah bidang penelitian.
Saya sih gak apa, beneran deh.
Ya udah… jadi tua, kesepian, dan gak kaya-kaya banget juga gak semenderita itu. Mungkin behind the scene banyak melakukan kegiatan sosial, banyak belajar, banyak melakukan hal-hal baik lain yang orang gak perlu tau dan gak perlu juga dipublish kemana-mana. What? Bukan saya mau jadi kayak begitu ya, ya gak lah. Tapi please, jangan mengotak-ngotakan “kebahagian” dengan kebahagian ideal versi kita masing-masing. Semua orang punya standar bahagia masing-masing.

Dan mohon diingat, saya itu punya Mama yang sensitif banget. Jadi kalau denger kata-kata yang kayak gitu buat tuan putrinya ini, Mama suka nangis gitu kan. Oh come on! Kalau dunia ini mau tega ke saya, mungkin saya kuat-kuat aja, tapi please jangan buat seorang sebaik mama saya nangis, can you see her? Mama saya… maling aja dikasih biskuit dan teh manis loh! Kasian kan, Mama saya itu stroke loh, emosinya harus stabil kalau gak ya kambuh. Mbok ya kalau mau ngomong macem-macem ke saya aja gitu loh. Masa ada yang bilang saya gendut, kayak ibu-ibu, gak ada manis-manisnya, di depan mama saya hanya untuk PROMOSI PRODUK (Ini nyebelin banget gak sih?).

Gimana saya gak lebih happy di Tokyo?
Ketika pemikiran dan karya saya lebih dihargai?
Ketika saya bisa belajar dengan nikmat dan tenang?
Ketika saya punya teman-teman yang baik dan sepaham?
dsb
dsb
dsb

Lalu sekarang, banyak yang nyinyir “Tuh kan, orang Indonesia itu tuh, kalau udah jadi mahasiswa asing, atau kerja di luar, jadi berlagak! Gak mau pulang”

That’s insane! Gak mau pulang? Siapa yang gak mau pulang? Tidak ada makanan seenak makanan Indonesia! Keluarga juga gak bisa dinilai dengan apapun. Alam Indonesia juga widiiih sedap banget.
Tapi bayangkan… bayangkan… jika rupanya ada loh ada orang-orang yang jadi “kesepian di tengah keramaian” ketika mereka kembali ke negara mereka. Ada loh orang-orang yang rupanya, RUPANYA, begitu mencintai negeri Indonesia Raya ini… tapi merasa sendirian. Ada orang yang secara moril dan psikologis begitu mencintai negerinya, lebih dari apapun, tapi secara sosial dan intelektualitas dia merasa terasing di negerinya dan merasa “Ah… mending di negara tempat gw sekolah deh” dsb dsb dsb.

Jadi manusia itu tidak siap dengan perubahan?
Siap! Di pelajaran Biologi kita belajar kan manusia itu makhluk yang paling baik dalam beradaptasi.
Tapi perubahan macam apa?
Itulah mengapa kemudian muncul TEORI KEBUTUHAN MASLOW yang bisa kita temui dalam ilmu psikologi atau sosiologi atau ilmu sosial apapun. Apa itu TEORI KEBUTUHAN MASLOW (dikasih huruf gede terus biar pada inget)? teori yang menjelaskan apa siiiiihhh yang sesungguhnya dibutuhkan manusia?
TADAAAAAA!!!!!

Nih ini teori Kebutuhan Maslow

Manusia manapun kemudian akan mikir untuk memenuhi kebutuhan mereka step by step.
bayangkan seseorang yang pindah ke tempat lain sebutlah neverland untuk beberapa lama, kemudian dia balik lagi ke tempat semula dan dia merasa asing karena dia tidak dikenal siapapun dan orang merasa dia orang aneh karena ide dan pemikiran dia berbeda, buangeeeet. Walau gak salah cuman gak lazim aja. Naaaaaahh….. Dia kan jadi gak dapet tuh love, self esteem, dan self actualization. Lalu bagaimana? Ya jelas lah dia balik lagi ke Neverland dimana dia merasa piramida kebutuhannya bisa lebih lengkap.

It is scientifically proven! Bukan seorang emon ya yang ngomong, tapi science!

Jangan-jangan…
Ini jangan-jangan,
ketika kita ngerasa “Ih dunia kok berubah jadi makin gak karuan begini ya”
Rupanya… kita yang sebenarnya “GAK KARUAN”

Loh siapa tau kan?
*Sambil baca berita tentang suara sangkakala misterius. Hayooo…. gimana kalau rupanya malaikat mulai gregetan pengen tiup terompetnya”

P.S: I love you


Pernah nonton film atau baca novel P.S I love you? I am rarely read romance, but when I do… waduuuh terlalu romantis. Very romantic one, menurut saya film dan novel roman yang paling menyentuh. Kalian yang belum nonton atau baca novelnya mungkin harus iseng-iseng menelisik kisah ini deh.

Ada apa sih, Mon tiba-tiba ngomongin ini?

Ada apa ya? Gak ada apa-apa. Tapi saya sedang memikirkan betapa mencintai dan dicintai itu rupanya tidak semudah yang kita bayangkan [haisssh]

Ada yang bercanda gini, “Tau gak sih, Mon… kalau deket sama lu ya, semua orang pasti jadi jomblo!” dan saya selalu ketawa, ya ampun…ya ampun… masa sih? Lalu belakangan saya menyadari “Loh ini apaan sih, kok sohib-sohib gw jomblo ya? Waduh jangan-jangan”

Sebagai teman, sebagai wanita, dan juga sebagai penulis blog kelas kacang, sayang sering mendapat message dari pembaca saya. Ada satu e-mail menarik, menasehati saya karena saya dinilai terlalu mandiri, terkadang seakan-akan mengajak wanita untuk over-mandiri dan yaaah you know lah.  Dia merasa kalau tulisan-tulisan saya menunjukan saya seseorang yang “gak butuh cowok” hahhahaa to be honest mungkin untuk saat ini iya. Tapi tunggu sebentar, saya tidak seangkuh itu juga sih. Ah, kita butuh obrolan panjang untuk ini. Mungkin di poin kedua pada posting kali ini.

Begini! Bolehkah saya sesekali melakukan pembelaan? Ya sesekali saja.

Pertama, teman-teman saya adalah orang2 terkeren yang pernah saya temui.  saya tidak punya terlalu banyak teman. I don’t need it. Saya hanya butuh beberapa yang bisa memahami saya as a whole package. Ketika saya punya sahabat, maka percayalah mereka orang-orang “terpilih” yang sudah melewati fit and proper test rumit ala otak saya, dan mereka… orang-orang yang sangat baik.

Tapi mayoritas pada jomblo, Mon…
Pffft… and then so what? Karena pengaruh gw geetoooh terus mereka jomblo? Mungkin iya hahhahaha.
Saya tahu ketika mereka jatuh cinta, saya tahu ketika mereka suka dengan seseorang, tapi mereka punya impian yang sangat luas dan setiap kali ada yang kemudian cerita “Mon, impian gw A,B,C, D, dst dst dst, tapi gw ragu keluarga cowok yang gw suka gak mengizinkan gw kuliah tinggi-tinggi, gak suka kalau gw ngejar karir X, bla…bla…bla” lagu lama banget gak sih?

Saya tahu perjuangan mereka, tahu sisi spesial mereka, tahu hal-hal luar biasa mereka, melihat mereka beberapa kali tertawa lepas, dan tidak jarang nangis sesenggukan. Dengan perjuangan dan kehidupan sekeras itu, seluar biasa itu, maka hal terbijak yang bisa saya katakan adalah “Go ahead, reach your dreams, you have already fight for it for a long time” dan masalah cinta mereka yang mungkin terancam, well dalam ekonomi kita belajar bahwa “life is choice” sumber daya kita selalu terbatas untuk keinginan kita yang tidak terbatas, maka itulah mengapa kemudian kita mengenal kata “pengorbanan”, ya selalu ada hal yang harus dikorbankan. Apa yang sudah dilakukan oleh para sahabat-sahabat saya, bukan hal yang murah untuk dilepas begitu saja.

Namun diam-diam, saya selalu mendoakan mereka… sederhana “Semoga mereka semua bahagia”
Saya menanti mereka meraih gelar akademis yang mereka perjuangkan
Saya menanti mereka tersenyum bangga menceritakan karir yang mereka rintis susah payah
Saya menanti masa ketika ada  messages yang masuk “Mon, gw akan menikah. Gak ganteng-ganteng banget sih, Mon.. but he accept me just the way I am” dan saya pasti ketawa cekikikan baca itu semua.
Saya sedikit tidak sabar menunggu masa-masa seperti itu, tapi itu loh yang namanya cinta secara aneh saya kemudian begitu sabar untuk MENANTI.

2. I need man and love -.- of course! Gak se-freak itu kali seorang Marissa Malahayati a.k.a emon ini. Pfffttttt…. parah abis. What if I told you that I fall in love. Tapi ya udah lah ya, udah gak muda lagi buat ber alay-alay ria hahaha. Saya sudah seperempat abad, dan tau dong satu abad itu berapa? 100 tahun! hahahahaha. Sekali lagi saya lebih suka mencintai seseorang dalam diam, while I am also very busy now. Saya sudah berhutang banyak pada banyaaak orang maka saya harus menjaga prestasi akademis saya dengan baik, so almost no time for love. I need time for my research :’D sedih banget gak sih.

Sambil diam-diam jatuh cinta, saya juga sering ketawa ketika sahabat saya ada ajaaaa yang merasa gelagat saya aneh hahahaha:
“Pokoknya! Pokoknya! kalau kamu jadi sama dia, aku minta tiket PP aja” Sambil tertawa cekikikan, saya mengiyakan… sambil kemudian bertaruh pada waktu “Dear, world… kita lihat berapa probabilitas hal ini terjadi.” secara matematis sih kayaknya probabilitynya kecil, tapi yaaaaah promise is promise, saya sudah mencatat ini di buku harian dan blog saya hahahaha. Semua hal toh bisa menjadi terlalu menarik dan terlalu mengejutkan… harus nabung juga nih hahahaha

Ada lagi yang sudah membayangkan “Anak lu mungkin nanti mukanya jutek gitu ya, Mon kayak lu.” hahahahhaa…. saya sih berharap jangan nurun hal itunya deh. Semoga anak saya lebih ramah :’D

“Mon, tau gak… kalau lu nikahan ya. Gw akan bilang ke suami lu ‘thank you very much, take care of her very well’ terus kalo perlu gw siapin satu gulung kertas panjang buat nulis pesan-pesan gw ke dia” hahahahhaa…. ya ampun, terus suami gw kelak jadi mikir “Ini kok temen-temen istri gw freak semua” :’D

Banyak banget celetukan teman-teman saya yang bener-bener “unbelievable”! Mikirnya itu loh udah juaaaauuuuh banget.
Tapi sebagai wanita konservatif toh saya mencatat itu semua di buku harian saya. Jangan khawatir… I note everything! Kalian tidak perlu khawatir saya lupa.

Tapi bagaimana dengan saya?

Saya ingin menyelesaikan pendidikan saya hingga jenjang tertinggi. No wonders, saya setuju bahwa wanita harus pintar. Mungkin itu aja ya ambisi tertinggi saya. Selanjutnya? Saya ingin menjadi penulis dan mungkin dosen atau guru atau. Alasannya, I want to inspire the world. Bukan itu aja sih, kenapa ingin jadi penulis… karena saya bukan wanita romantis, saya ingin menulis novel untuk suami saya kelak. Trust me I plan for it! Saya sudah siapkan konsepnya, sudah siapkan apa yang harus saya tulis, semuanya!

So I wrote everything in my life.. very conservative

So I wrote everything in my life.. very conservative

kayaknya saya udah berkali-kali menulis tentang ini. Tapi saya ingin saya yang gak romantis ini bisa bilang ke dia “Actually, I love you. Maybe more than you know” Saya ingin dia tahu bahwa saya memperhatikan dia setiap detik, dan semoga terus begitu hingga pigmen di tubuhnya sudah semakin sedikit diproduksi kemudian rambutnya jadi beruban. Semoga dia akan tahu bahwa saya senang sekali ketika dia senang, sedih ketika dia marah atau murung lalu tidak menjelaskan alasannya, tapi cinta itu membuat seseorang menjadi sabar, dan apapun yang terjadi maka tugas saya untuk senantiasa menemani dia.

Kalau saya tidak ada dia mungkin bisa baca itu kan? Dan karena tulisan itu lebih abadi, apalagi kalau tulisanya bagus dan berkualitas dan published (ini penting), mungkin orang lain bisa belajar dari pengalaman saya. Who knows?

Jadi penulis keren, jadi guru, mungkin tidak terlalu sibuk… saya harap begitu, sehingga saya selalu punya waktu untuk mengejar kereta sebelum rush hour, pulang lebih cepat dari matahari yang tenggelam, supaya bisa membukakan pintu ketika suami dan anak-anak saya pulang, menanyakan kabar mereka pada hari itu, membuat teh hangat atau mungkin kopi *but I don’t really like coffee*, menyaksikan setiap detik dan menit mereka. I don’t want to missed any moment.

Sebenarnya sesederhana itu.

Saya lebih menyukai mencintai sesuatu sesederhana mungkin dan gak perlu berisik-berisik banget.

Dan untuk suami saya, simple.. saya hanya butuh orang yang menghargai saya dan keputusan saya. Mengoreksi baik-baik jika saya memang salah… menyayangi keluarga saya dengan baik dan tulus, dan saya? saya akan sangat senag jika  saya punya ayah lagi, punya tambahan Mama yang baik, jika beruntung semoga juga dapat adik perempuan atau laki-laki, saya pasti begitu bahagia dan akan merawat mereka dengan antusias seperti saya menjaga Mama, seperti apa yang Mama pesankan pada saya. Ketika kemudian saya memutuskan untuk jatuh cinta yang begitu serius hingga TARAAA akhirnya menikah, maka saya berharap kami bisa saling mengingatkan untuk menjadi hamba Allah yang baik, yang membuat banyak orang tersenyum dan bahagia.

I need another, people…
I also need love…
tapi, tidak mau sedangkal cinta di roman picisan.

Itu aja sih. Boleh kan ya? :] yaaaa… bahkan jika kalian pikir ini terlalu idealis.