[Emonikova Investigasi] Tidak perlu marah-marah ke Bloomberg: Membaca hasil kalkulasi Bloomberg terkait penyelesaian kasus Covid di Indonesia


Saya sungguh tidak percaya bahwa harus secepat ini mengeluarkan artikel Emonikova Investigasi. Tadinya tuh mau ngobrol santai tentang buku atau film seru yang bisa dicoba menemani hari. Atau bahas tentang pelajaran Bahasa saya yang mentok-mentok itu. Eh… ada berita Bapak Moeldoko yang sepertinya tersinggung dengan hasil perhitungan Bloomberg yang memprediksikan Pandemi di Indonesia akan berakhir kurang lebih setelah 10 tahun.

Saya kemudian mencari-cari publikasi yang dimaksud, dan membacanya seteliti mungkin. Sebagai peneliti, saya rasa tidak perlu ada yang tersinggung, apalagi menyuruh Bloomberg untuk belajar ke negeri oki dan Nirmala.

Justru kita yang harus belajar cara membaca hasil suatu penelitian.

Saya percaya Pak Moeldoko begitu sibuk mengurus negara yang indah ini,  mana sempat membaca semua hasil riset di muka bumi ini. Saya juga jadi agak sebal dengan jurnalis, yang saya bayangkan pertanyaannya berkisar “Pak, kata Bloomberg, Indonesia baru beres pandemi 10 tahun, Pak. Bagaimana menurut Bapak?”
Ya Bapaknya langsung kaget lah, dan respon yang wajar sih menurut saya. saya juga kalau jadi Beliau bakalan misuh-misuh, apa maksudnya Bloomberg ngomong gitu. Apalagi Bapaknya dulu orang militer. Ya darah menggelegak lah.

Tapi rupanya Bloomberg tidak berbicara SEGITUNYA loh Sodara-Sodara!

Seperti biasa, saya tidak bisa membiarkan masyarakat Indonesia, emm setidaknya followers saya di media sosial, tidak teredukasi dengan baik, maka saya yang akan menerjemahkan hasil penelitian Bloomberg agar lebih mudah dimengerti oleh kita semua. Supaya kita gak gampang emosi, dan malah menurunkan imun tubuh.

Untuk kalian yang kepo, kalian bisa mengunjungi hasil perhitungan Bloomberg terkait pemberian vaksin ini di internet. Cukup ketikan kata kunci covid vaccine tracker global distribution Bloomberg di mesin pencarian kalian. Nah pasti ketemu tuh.

covid

Laman tersebut hanya memberikan hasil perhitungan Bloomberg terkait sebaran dan kecepatan pemberian vaksin di seluruh dunia. Dengan data tersebut, Bloomberg memproyeksikan seberapa lama sih vaksinasi ke 75% populasi seluruh negara bisa tercapai, dan seberapa lama suatu negara bisa meraih herd immunity.

Nah penjelasan pendukungnya, bisa dibaca di artikel lainnya yang terkait.
Saya membaca prognosis “When will life return to normal? In 7 years at today’s vaccine rates.”

covid2

Karena biasa membaca jurnal, membaca artikel ini sih respon saya hanya “Ooooooooh….” Karena Bloomberg toh membeberkan keterbatasan studi mereka

“Bloomberg’s calculator provides a snapshot in time, designed to put today’s vaccination rates into perspective. It uses the most recent rolling average of vaccinations, which means that as vaccination numbers pick up, the time needed to hit the 75% threshold will fall. “

Bloomberg Covid-19 Tracker

Mereka juga bilang

“The calculations will be volatile, especially in the early days of the rollout, and the numbers can be distorted by temporary disruptions.”

Tom Randall- When Will Life Return to Normal? In 7 Years at Today’s Vaccine Rates (Bloomberg)

Nih kalau gak paham Bahasa Inggris, kebiasaan orang Indonesia juga kan suka males kalau artikel tuh bukan Bahasa Indonesia. Artinya, rate ini dihitung linear saja, dengan menggunakan rate vaksinasi saat ini. Ya wajar lah hasilnya sampai bertahun-tahun, wong semua negara masih dalam tahap awal vaksinasi. Ya kan?

Karena data yang terbatas, ada beberapa negara yang rate vaksinasi hariannya mengalami trend stagnan bahkan penurunan. Makanya kemungkinan over-estimated-nya gede banget. Contoh untuk perhitungan Canada, mereka juga diprediksi jika masyarakatnya mencapai herd immunity itu sekitar 7 tahun. Nah gak jauh beda sama Indonesia toh? Kenapa? Karena pada saat periode perhitungan, Canada sempat mengalami kendala logistik.

Nih biar kebayang, misalnya sample yang diambil selama 1 minggu nih. Nah pas lagi periode observasi di Canada, di 3 hari pertama vaksinasi lancar jaya, eh 4 hari kemudian eeeh ada longsor, badai salju, dsb gak ada vaksinasi toh? Masa ada yang mau vaksin pas badai salju.

Jika kemudian jumlah vaksinasi Canada sebenarnya 100 dosis perhari, maka kalau 1 minggu idealnya mencapai 700 dosis toh (termasuk weekend, jadi 7 x 100). Naah gara-gara gangguan logistic, dalam seminggu itu Canada cuman berhasil kasih vaksin 300 dosis (karena efektif ngasih vaksin selama 3 hari). Namanya statistik, ya gak pake tendeng aling-aling, tetep aja yang diambil nilai rata-rata pemberian vaksin selama waktu observasi. Ya jadinya kecil banget ratenya. Yang harusnya 100 dosis/ hari eh jadi kehitung sebagai 42.9 dosis perhari. Jauh toh? Ya iya… memang! Dan itu sudah disebutkan oleh Bloomberg sebagai keterbatasan mereka.

Namun apakah Pak Justin Trudeau ngamuk ke Bloomberg dan bilang, “…Bloomberg, sini sampeyan belajar dulu ke Canada.” Kan gak… karena memang bukan hal yang perlu diperdebatkan. Jadikan bahan muhasabah aja, “Oh iya juga ya, kalau pace kita segini keteter sih emang sih.”, “Duh kalau ada gangguan logistik lagi, kelar sih kita.”

Kalau misalnya kemudian tiap negara bisa mempercepat pacenya, ya Alhamdulillah…. Itu yang diharapkan kita semua, termasuk Bloomberg.

Selain itu, mereka menyebutkan, tidak memperhitungkan populasi yang punya natural immunity karena sempat terserang covid, anak-anak, dan lansia. Jadi dipukul total rata aja total populasi.
Walhasil rate vaksinasi berbanding lurus dengan jumlah populasi, iya toh?

Nah ini gimana nih Indonesia. Kok ya bisa 10 tahun? Dari data Bloomberg. Sejauh ini, baru 0,3% populasi yang dapat vaksin dosis pertama, dan 0.1% yang dapet dosis kedua. Populasi Indonesia ada 270 juta orang. Coba ya kita hitung kasar, kalau ratenya vaksinnya 0.1% per hari aja. Yang kelar vaksinasi butuh 1000 hari, itu udah hampir 3 tahunan gak sih? Nah….itu belum nunggu sampe ngebentuk immunitynya. Emangnya setelah divaksin langsung jadi iron man gitu? Kalau mau kayak gitu makan odading mang Oleh aja.

Ini juga salah kaprah tentang vaksin, vaksin tidak membuat kita jadi manusia kebal virus. Gak, gak gitu ceritanya… masih bisa kena, hanya saja, mungkin tidak se-fatal jika tanpa diberikan vaksin. Saya gak berani ngomong banyak, that’s not my field. Tapi konsep utamanya seperti itu.

Jadi nanti kalau kalian di vaksin, eh terus beres itu jorok lagi, yaaaaa masih bisa terserang virus. Bahkan mungkin virus strain baru. Jadi protocol Kesehatan wajib terus diresapi hingga kapanpun.

Balik lagi ke drama kumbara “Bloomberg” ini. Selain itu, rasanya kita sudah berkali-kali mengolok-olok “warning” dari para peneliti ya. Dulu pas ada ilmuwan yang bilang berdasarkan hasil perhitungannya covid harusnya udah menclok di Indonesia, eeeeh… malah diketawain, malah diejek-ejek. Padahal kalau kemudian dulu didengar, dan dipikir “Oh iya ya, wah harus waspada nih.” Mungkin kita udah bisa happy-happy seperti teman-teman kita di Vietnam.

Maksud penelitian itu baik loh, ingin memberikan warning. Itu saja.

Sudah saatnya, pemerintah dan masyarakat untuk belajar. Belajar mendengarkan. Jadi peneliti itu sulit loh. Belajarnya lama, dapat karir yang pas dengan expertisenya juga sulit, nulis hasil riset juga kena reject berkali-kali. Eh, pas niat baik mau mengedukasi masyarakat malah dijulidin.

Jadi kalau kalian tidak menghargai mereka…yang kalian lakukan itu jahat….
Menghargai itu bukan selalu harus selalu setuju loh. Disagree juga gak apa, tapi jangan diolok. Kalau dalam dunia kami, aturan silatnya adalah, kalau mau tidak setuju, maka lawan dengan bikin paper lagi. Nah itu! Elegan… tidak saling menyakiti. Perangnya pakai bukti ilmiah.

Dan untuk media, tolong lah lain kali kalau mau wawancara policymaker juga baca dulu bahannya dengan teliti, agar punya pertanyaan yang lebih jitu dan cerdas.  Saya rasa akan lain sekali ceritanya ya jika pertanyaannya adalah “Pak, menurut proyeksi Bloomberg, penanganan covid-19 akan lebih menantang untuk negara-negara yang memiliki kendala logistik. Untuk negara kepulauan seperti Indonesia, apalagi dengan jumlah populasi yang besar, hal-hal apa saja yang sudah dipersiapkan pemerintah untuk mempercepat distribusi vaksin?”

Kan enak…. Cerdas… keliatan udah baca. Pak Moeldoko itu ya sibuk, gak bisa baca semua paper, jurnal, berita… maka pertanyaan yang baik harus setidaknya memberikan rangkuman “Ini loh Pak tantangannya ini.  Bagaimana tanggapan Bapak?”

Maka adem, tenang, gemah ripah lohjinawi. Semuanya dapat informasi. Masyarakat dapat literasi dan tambahan ketenangan “Oh pemerintah gw siap nih. kereeeen.”

Begitu, gak semua harus diterjemahkan dengan urat :’D

Saya tante emon, dan semoga gak sering-sering ada case yang saya harus jelaskan ya :’D cappppeeeeek~~~

Jika emonikova berakustik ria….:p *selamat mendengarkan*


Hahahahahha… bingung mau nulis apa.
Tapi kalian, pengunjung setia blog emonikova belum pernah mendengar saya nyanyi kan?
Hahahahaha… beberapa hari ini rasanya capek banget, keliling-keliling Jakarta, beresin kerjaan yang pada belum beres, hujan yang bikin cucian pada nggak kering dan bikin bergantung pada jaket, naaaah untuk menghilangkan sedikit penat saya berkaraoke ria deh, entah apa yang saya pikirkan saya juga merekamnya hahahahahaha agak alay ya? atau alay banget? hahahaha boleh deh sesekali… Tadinya mau saya kirim buat seseorang untuk menghibur dirinya yang tengah gundah gulana, cuman saya khawatir nanti pas dia denger dia makin pusing dan tidak sadarkan diri, bukan sombong ya… tapi memang efek suara saya konon beda tipis dengan sonata-sonata karya mozart (yang partiturnya dibalik :p ). Jadi biarkan buat kalian aja deh :p

Nah, special for all of you guys.
CAUTION! kalau mau iseng denger pastikan siap jasmani dan rohani ya hehehehehe
suara saya itu range vokalnya pendek banget dan karena jarang olahraga nafasnya makin pendek… waktu SD sih kayaknya nyanyi pupuh yang nadanya tinggi masih nyampe… sekarang? Huwaaa fals banget hehehehe, bodo ah… yang penting eksis 😀

Happy listening for all of you who “iseng” enough buat ngedengerin hahahahaha
Noisenya agak banyak, karaokenya pas hujan deres :p hehehehehe just check this out. Perahu Kertas ala emonikova

Perahu kertasku kan melaju
Membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila
Tapi ini adanya

Perahu kertas mengingatkanku
Betapa ajaib hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri

Hidupkan lagi mimpi-mimpi
(cinta-cinta) cita-cita
Yang lama ku pendam sendiri
Berdua ku bisa percaya

Reff:Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Tiada lagi yang mampu berdiri halangi rasaku
Cintaku padamu…

Ihiiiy… saya cukup romantis kan
Hehehe~ semoga nggak jelek-jelek banget ya
aamiin…

Udah ah, mau ngampus….Sampai jumpa lagi semuanya

The girl behind emonikova character!


Mungkin karena sudah cukup lama tidak menggunakan blog yang didesain dan digambar sendiri, akhir-akhir ini muncul banyak pertanyaan “Karakter emonikova yang kamu gambar dapat dari anime apa?”, “Ih gambarnya kok lucu, siapa yang ngegambar? Image and video hosting by TinyPic, dsb…dsb… pas dibilang “Loh itu gambar saya loh hwahahahahaha”  *dikatakan dengan sedikit bumbu narsis tapi dengan muka yang tidak yang meyakinkan* langsung pada surprise dan bilang “Haaaah? masa sih? tapi kok emonikovanya nggak keriting? kok nggak ini? kok nggak itu?” hohoho. Supaya pertanyaan seperti itu tidak muncul lagi, maka saya akan ceritakan tentang asal-usul karakter emonikova ini.

Agak mengulang postingan waktu SMA yang udah nggak jelas dimana hehehehe… karakter emonikova itu idenya yaaaaaa dari saya sendiri!Habis agak repot kalau harus neliti karakter orang. Tapi proses pembuatan karakter yang ngenaaaaa banget itu gak satu dua hari *yeaaaah skil gw juga sih yang terbatas*. Dulu waktu masih jadi anggota SKETSA (kalau nggak salah singkatan dari Sanggar Kertas SMANSA* dan dikelilingin manusia-manusia yang terlalu canggih dalam dunia gambar menggambar, huwaaaaa demi apapun gambar saya dulu cupu banget! BANGET! BANGET! BANGET! Agak jiper sih Image and video hosting by TinyPic, bayangkan ada beberapa ekor teman saya yang cuman pakai pensil dan arsir-arsir sketch book aja tiba-tiba jadi lukisan bagus banget! Hiks, minder juga  sampai kemudian ada yang bilang “Mon… nggak usah mikir ngegambar niru siapapun, fokus aja bikin gambar yang lu banget!” dikirain gampang eh rupanya susah juga loh, sempet dulu mukanya nggak simetris, badannya nggak tegak, dsb…dsb…sampai akhirnya setelah berbulan-bulan TARAAAAAAAA I got it! Emonikova, btw dulu namanya Campanella hohohoho sok Italiano gitu ya karena suka banget sama lagunya Franz Liszt yang judulnya La campanella yang artinya lonceng kecil, dan karena jaman SMA saya nggak gaul *sampai sekarang sih* pengen aja jadi karakter yang yeaaaah kecil aja tapi suaranya bisa nyaring terdengar hahahhahaha lebay!Image and video hosting by TinyPic

Tapi kemudian merasa nama karakter itu terlalu nggak familiar di kuping, jadi memutuskan harus ada nama emon-nya. Naaaah, gimana supaya rada keliatan cantik? Dulu sempet senang bahasa rusia *don’t ask me why, bagi saya bahasanya aneh aja jadi kayaknya keren* Naaaaah… berdasarkan azas nama rusia kalau cowok namanya pasti diakhiri akhiran -ickof or something like that, kalau perempuan biasanya akhirannya -ova atau -ikova atau yang deket-deket dengan itu. Maka kayaknya nggak salah dong kalah saya mengubah nama campanella menjadi emonikova. Hahahahahaha dan itu bertahan hingga sekarang.

Sebelum lanjut baca, WARNING: Narsis Detected!

Tentang mukanya emonikova, itu juga sebenernya inspired from my face sih hwahahahahaha sumpah narsis banget deh. Kok nggak kriting? Yaaaaa cuman emonikova itu memang didesain lebih imut dan dulu sih sebuah khayalan kalau saya pakai sedikit make-up natural dengan baju yang lucu dan full color. Kalau di dunia nyata kan agak ribet mewujudkan itu. But somehow saya mencoba emonikova bisa semirip mungkin dengan saya, so let’s check it out… Saya ikat rambut keriting ikal saya ke belakang jadi tinggal poni yang rada lurus, hahahahaha…
Image and video hosting by TinyPic
Not bad at all, right? Image and video hosting by TinyPic

Okey… how about the personality then?
Yaaaa karena samplenya saya jadi emonikova itu yaaaa personalitynya saya banget…
flower, blue sky,books, and cat lover.
penyendiri dan pendiam kalau belum terlalu kenal sama orang.
fans of anime, manga, and classical music.
enjoying her life very much
agak kopedh dan childish
ambisius tapi bisa galau juga
dsb
dsb
dsb
Persis sekali 🙂

Naaaaaah… Pertanyaan selanjutnya
Apakah saya akan menggambar karakter-karakter lainnya?
mmmm… entahlah, saya tipe orang yang susah menggambar kalau tidak tau karakter orang yang saya gambar dengan baik.

Mau mengkomersialisasikan emonikova?
Sepertinya tidak untuk sekarang hehehe, masih belum bisa ngegambar dengan baik… tapi kalau nanti kepepet mungkin aja hahahahha.

Tapi dipikir-pikir bagi saya ngegambar itu full with philosophy banget, saya jadi menyadari gambar terbaik itu bukan gambar hasil meniru siapapun, tapi gambar yang kita buat sendiri dan yang merupakan hasil penelaahan diri kita sendiri, sejalan dengan karakter kita sendiri.  Like life…. yang terbaik yaaaaa hidup kita sendiri, yang kita susun satu per satu dari awal sendiri, yang kita telaah dan perjuangkan sedikit demi sedikit hingga hari ini dan seterusnya. Oh… I love my hobby like I love my life :heart:

Sekian! Happy menggambar bagi yang suka menggambar ya… gambar saya juga sebenernya cupu dan terlalu bocah buat seorang yang udah lulus kuliah *hiks* tapi PD aja lageeee… yang penting eksis, boy!
Image and video hosting by TinyPic