[Emonikova Investigasi] Yang saru tentang Pasar Muamalah dinar-dirham: Kenapa salah? Kenapa kita perlu marah?


Minggu terakhir ini dunia persilatan sempat ramai dengan keberadaan Warung Muamalah di Depok. Gimana gak, transaksinya ceritanya pakai dinar-dirham. Konon biar lebih memudahkan dan syar’i gitu. Walaupun belakangan pihak pedagang warung ini, tentu, mengeluarkan jurus-jurus silatnya : Silat lidah !
“Gak kok ini pakai rupiah…Ini pake emas dan perak dan barter, biar lebih  flexible aja“

Tapi pokoknya, empunya pemilik ide warung ini kemudian diboyong untuk silaturahim ke kantor polisi.

Saya kira perkara selesai, dan masyarakat +62 tuh sudah cukup cerdas untuk memahami penjelasan Bank Indonesia, pihak kepolisian, dan sebagainya. Rupanya GAK! Malah rame banget. Banyak yang malah sok tahu, dan bilang pemerintah bodoh lah, tidak paham ekonomi Syariah lah, dan yang lebih parah ada yang bilang negeri ini semakin antipati pada agama tertentu. Ini bodoh, kejam, sekaligus mengerikan karena orang-orang yang beropini seperti itu lebih nyaring dibandingkan para ahli yang benar-benar ahli. Mana galak-galak lagi. Tidak memiliki kemawasan diri untuk menerima ketika dinasehati dan diperbaiki.
Itu adalah momen ketika saya sadar kalau tong kosong nyaring bunyinya itu benar, dan bunyinya senyaring speaker dangdut pantura!

Saya pikir komen-komen seperti itu hanya akan muncul pada netizen yang mungkin tidak menempuh Pendidikan tinggi. RUPANYA TIDAK SODARA-SODARA!

Namun yang mengejutkan, rupanya ada aja, ada…oknum orang-orang yang berpendidikan tinggi bahkan oknum pendidik (jadi bukan semua ya, yang beneran pinter juga banyak) yang mengeluarkan opini menyudutkan pihak pemerintah. Boleh sih mengkritik pemerintah kalau memang berisi, padahal kalau kita amati kualitas opininya, saya rasa yaaah paling baru belajar ekonomi dari kulit arinya aja. Yang mengagumkan adalah yang model begitu bisa begitu PD dan sok tahu menjudge pemerintah, khususnya Bank Indonesia, tidak paham ekonomi Syariah. Untuk yang model begitu, ANTUM BAIKNYA YANG BERMUHASABAH!  Sebaiknya antum-antum, publish dulu di jurnal Q1-Q2 INTERNASIONAL, baru deh setelah itu layak beropini. Kalau belum, diam lebih baik daripada mengatakan hal blunder. Gila ya, rupanya memang Dunning-Kruger effect itu nyata. Kalian tau Dunning-Kruger gak? Sebuah hipotesis yang menyatakan “…people with low ability at a task overestimate their ability”

Sebelum kita kupas masalah warung dinar-dirham, saya meluruskan dulu ya…. ekonomi Syariah itu tidak mudah. Memang asal baca dari google, terus langsung expert gitu? NO! Sebagai ekonom dan peneliti, saya merasa ekonomi Syariah itu, SEHARUSNYA, lebih rumit karena kita harus paham terlebih dahulu ekonomi konvensional, baru setelah itu belajar ekonomi Syariah. Dan konsep ekonomi konvensional saja sudah sangat rumit. Lha ini dobel belajarnya. Antum pikir belajar eksyar cuman bismillah, zakat, infak, shadaqah, alhamdulillah? gitu? Gak lah… gak begitu. Kalau pemahaman kalian cuman mentok di situ, maka ada baiknya coba kuliah lagi deh ya. Supaya jadi lebih humble “Oh iya… gw masih banyak belum tau ya..”

Saya juga mau mengkritik Bank Indonesia, komunikasi publiknya terlalu belibet. Terlalu Bahasa teknis. Dengan komunikasi publik yang dilakukan BI saat ini, ini mohon maaf loh… jadi ketangkepnya “Wah pemerintah gak bisa jelasin nih.“ Padahal tidak! Ini miskom aja. Memang kitanya aja belum sepintar ahli-ahli di BI. Sesederhana itu. Orang seperti saya mungkin bisa paham, wong saya sudah belajar ekonomi sampai 10 tahun lebih, and still counting ! Tapi kan tidak semua orang belajar ekonomi toh. Jika saya boleh memberi saran, bukan hanya BI tapi juga pemerintah secara umum, kedepannya mungkin bisa menerjemahkan dengan bahasa yang lebih familiar. Masyarakat tuh cuman butuh penjelasan sederhana, “Kenapa transaksi non-rupiah dilarang untuk aktivitas jual-beli sehari-hari kita?” Sesederhana itu

Karena saya juga sudah mulai jengah dan gerah melihat “kesoktahuan” beberapa oknum, dan saya tidak ikhlas orang macam itu membodohi masyarakat Indonesia. Maka saya, tante emon, akan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Mari kita jawab dulu pertanyaan inti kita ? “Mengapa transaksi non-rupiah dilarang untuk aktivitas jual-beli?”
Ada banyak jawaban, tapi  yang paling sederhana dan paling relevan untuk kasus warung muamalah ini adalah : Untuk melindungi konsumen.

HAH ? APA ? BAGAIMANA ?

Begini

Jual beli, yang baik dan benar sebenarnya berdasarkan prinsip sederhana: kelengkapan informasi antara penjual dan pembeli. Salah satu bentuk informasi yang penting adalah harga dan kualitas produk. Sebagai konsumen kita berhak untuk liat produknya dan menilai “Oh harga yang wajar untuk kualitas segini kira-kira segini.”  Nah cara kita menilai, secara default akan menggunakan tools alat tukar yang paling sering kita pakai, tentu saja dalam konteks ini:rupiah.

Mari kita ambil contoh dari kehidupan kita sehari-hari deh, ini pasti relate banget sama Ibuk-Ibuk dan anak kost.

Karena kita sudah terbiasa dengan transaksi menggunakan rupiah, kita bisa secara cepat menakar harga “Oh iya….harga telur ayam 1 kg kira-kira 25 ribuan lah….”, “Oh harga minyak satu liter biasanya 15 ribuan.”

Nah, jika suatu ketika kita lihat label harga di suatu pedagang dan merasa “Wah ini kemahalan banget nih. Gak wajar harganya”, “Loh ini ini murah banget? KW ya? Abal ya?” maka konsumen berhak untuk tidak jadi membeli atau mencari barang subsitusi. Dan itu adalah sebuah keputusan yang rasional.

Intinya! Semakin banyak informasi yang kita miliki terkait pasar, semakin rasional tindakan yang kita ambil.

Sekarang coba bayangkan kini label harganya BUKAN dalam rupiah. Tapi dengan embel-embel dinar dirham. Dinar dirhamnya tidak jelas lagi, apakah dinar-dirham yang dipakai sebagai mata uang di Timur Tengah? Atau dinar-dirham yang dikeluarkan oleh PT Aneka Tambang (ANTAM).

Belakangan diketahui bahwa dinar-dirhamnya adalah versi Antam. Okey! Let’s follow the game!

Yang perlu diingat adalah, dinar-dirham Antam BUKANLAH alat tukar, tapi dibuat Antam sebagai alat diversifikasi investasi. Jadi kalau kita nih mau nabung, tapi kalau uang kan sering menggoda untuk dihambur-hamburkan karena sangat liquid, naaaah… disediakan nih sama pemerintah beberapa instrument investasi. salah satu instrumentnya dalam bentuk logam mulia. Ada yang bentuknya koin yang kemudian disebut dinar-dirham. BUKAN mata uang. Ingat…sekali lagi BUKAN mata uang.

Balik lagi ke label harga.
Pikiran kita kini “dikelabui” karena melihat label harga dengan nominal yang seakan-akan jauh lebih rendah “Wah murah nih…” Lalu ditambah embel-embel syariah “Wah berkah nih…” Padahal? Belum tentu! Kan pakai standar harga logam mulia. Ingat, harga logam mulia itu fluktuatif juga loh. Celakanya, kita kan selalu ngecek pergerakan harga logam mulia setiap detik. Iya toh? Nah, jadi….. bisa saja sebenarnya harga yang ditetapkan itu LEBIH  MAHAL dibandingkan harga pasar.  Dan karena banyak dari masyarakat kita yang begitu mudah sekali percaya sesuatu ketika diembel-embeli label “Syar’i”, yaaa rasionalitasnya mulai bergoyang.

Butuh bukti? Oke!

Karena saya tahu banyak yang malas membacaaaaaaaaa…… apalagi menghitung, maka saya hitung konversi rupiah dari beberapa produk yang dijual di warung ini. Saya akan buktikan betapa “trik psikologis” ini mengecoh kita semua.

Saya mengumpulkan beberapa list harga barang yang terekam di media masa. Kalau kalian mendengarkan versi audio, bisa langsung liat skrinsutnya di blog emonikova ya. Produk pertama yang saya cek adalah
Roti 6 pcs seharga 1 dirham. Kebetulan kameranya sempat shoot kalau rotinya adalah roti michelle. Masalahnya saya kurang tahu ini roti yang rasa mana. Tapi setelah  melakukan proses browsing panjang, ada michelle molen pisang isi 6 harganya Rp 40.000. Emang mau roti kayak gimana lagi sih yang ngelebihin harga ini. Tapi yo wis, kita bulatkan kasar ke atas saja ya jadi Rp 50.000 lah.

1

Lalu bagaimana dengan si warung muamalah? Pertama-tama kita harus cek harga dirhamnya dulu dong.

Saya kemudian mengecek harga koin antam 1 dirham di web LM (yang merupakan anak perusahaan PT Antam) per tanggal 6 Februari jam 8 malam WIB. Nilainya 1 dirham adalah sekitar 94.973 belum termasuk pajak. Buletin ke 95.000 aja lah ya.  Ini sudah saya kasih murah banget loh! Belum dihitung PPn dinar dirham yang 10%. Kalau kalian cek di e-commerce, satu koin bisa sekitar 120-150 ribuan ya.

Jika kita menuruti logika bisnisnya warung ini, ingat selain rate dinar dirham, dia masih tambah keuntungan 2.5%.

Maka harga roti tersebut yang satu dirham adalah:
Rp 95.000+ (2.5% x Rp 95.000)=  Rp 95.000 + Rp 2.375 = Rp 97.375

dirham

Yaaaaa 100 ribu lah ya….

Beli roti molen di bakerynya langsung bisa dapet 12 loh ! Kenyang. Saya sampa cek instagram Michele bakery  loh dan di April 2020 mereka bilang kalau dengan pembelian minimum 150 ribu, kita dapet hadiah canvas bag lucu. Dengan 150 ribu bisa beli molen sampe begah dan bagi-bagi ke tetangga, plus gratis canvas bag. Roti 20 udah bisa buat bagi-bagi ke tetangga, dapet hadiah lagi. Ya mending beli ke bakery-nya langsung lah.  

2

Rasional dong ? Ya toh… tapi karena si trik psikologis ini, ya menjebak !

Ayo lanjut lagi ! Kalian pikir saya selemah itu dalam browsing. Produk kedua yang saya cek adalah VCO, alias Virgin Coconut Oil. 2 Dirham coy !
Dengan metode yang sama maka kita bisa hitung
 VCO (2 dirham) = 2 x  97.375 = 194.750

3

Yah kurang lebih 195 ribuan ya, bok.
Okay… terkesan masuk akal ya, karena saya kan gak paham harga VCO ya. Maka saya kemudian cek harga di tokped. (Gila promosi tanpa henti nih… tolong lain kali e-commerce sponsorin saya lah).

Dan tadaaaaa berdasarkan hasil penelusuran saya~~~Paling mahal itu agaknya 100 ribuan/liter ya.

Atau gak tau deh, mungkin kalau yang 2 dirham minyaknya punya fungsi khusus atau gimana.

4

Duh capek, coba ya nanti hitung sendiri yang lainnya. Intinya, bisnis ini sebenarnya rentan sekali mengecoh konsumen. Kenapa ? Karena kita… sebagai konsumen, secara default punya pengetahuan tentang harga pasar yang lebih sedikit dibandingkan pihak produsen dan distributor. Ketika kemudian digoyang dengan “konversi” mata uang yang gak lazim. Ya makin pusing.

Kok ada sih, adaaaaa yang mau dipermainkan seperti ini.

Dan kalian tau gak sih, pajak pertambahan nilai (PPn) dinar dirham ANTAM itu lebih tinggi dibandingkan pajak logam mulia murni yang batangan. Jadi secara sederhana, sebenarnya harga beli dinar-dirham ANTAM lebih tinggi dibandingkan emas batangan biasa. PPn emas batangan itu 0.45% untuk investor dengan NPWP, kalau gak punya NPWP PPn-nya 0.9%. Sedangkan pajak dinar-dirham itu 10%.

Jadi hasil perhitungan saya sebenarnya masih under value karena saya belum menambahkan PPN 10%.

Itulah mengapa kemudian “pelakunya” dibawa ke kantor polisi. Karena kemungkinan besar mereka udah menipu konsumen yang naif dan polos-polos. Gak ngerasa kena tifu tifu.

Yang membuat semuanya semakin ambyar adalah, berdasarkan salah satu pengakuan pedagang warung tersebut,  seluruh transaksinya tidak berizin. Ini membuat konsumen sebenarnya dalam posisi yang lebih tersudut lagi.

Justru karena ada transaksi logam mulia, dan ini barang investasi, barang asset, BUKAN ALAT TUKAR. Sekali lagi, BUKAN ALAT TUKAR. Sekali lagi! BUKAN ALAT TUKAR! sekecil apapun usahanya, harus ada izin. Setidaknya lapor atau tanya-tanya dulu deh. Kemana? Coba kalian tanya dulu ke Lembaga yang Namanya Bappepti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi). Supaya dapet wejangan. Bappepti ini ada di bawah Kementerian Perdagangan, kantornya ada di Senen. Gak akan ditimpuk sendal kok kalau mau nanya dan niat baik. Toh Namanya mau belajar kan.

Loh kenapa? Ini kan usaha kecil-kecilan. Ribet amat.
Karena harus ada yang mengecek keaslian dan kualitas logam mulia, serta melindungi konsumen. Ini logam mulia loh, bukan daun kelor! Harus ada yang mengawasi. Kalian gak sayang sama uang kalian?

Hitunglah kita apes-pes-pes beli dinar-dirham di warung ini, dan setelah dibawa ke pegadaian misalnya, ketahuan bahwa barangnya palsu. Atau kualitasnya gak sesuai standar. Kalian mau complain? Atas dasar apa? Punya sertifikat keaslian dinar-dirhamnya? Gak? Mau balik ke warungnya, yeeee… mana mau dia balikin, kan Anda tidak punya bukti transaksi.
Sontoloyo kan? Terus marah… terus apa? Ke pegadaian? Ke Antam? Ke BI? Lah mereka kan gak paham, bingung juga mau nolonginnya gimana. Yok… perlakukan diri kita lebih baik, dengan lebih berhati-hati dalam bertransaksi.  

Maka itulah, itulah, itulah, itulah, dibuat peraturan UU No.7/2011 “Udah deh kalau mau transaksi jual beli ya pake rupiah aja. Yang pasti-pasti aja coy!”  Ada UU-nya loh. Lumayan, kalo langgar maksimal 1 tahun penjara coy.

5

Dan perkara logam mulia, udah lah beli di tempat-tempat yang pasti-pasti aja. Di pegadaian misalnya, toko perhiasan resmi, toko logam mulia, atau di e-commerce yang sudah mendapat izin jual beli logam mulia. Kemudian simpan yang rapi di kotak perhiasan, di safety box. Ini ada catatan penting lagi, pastikan kalian tuh dapet si sertifikat keaslian logam mulia dan jelas tempat dan waktu membelinya, sehingga kalau kelak mau dijual lagi kalian bisa tenang karena keaslian produk sudah dipastikan. Kalau misal mau complain dsb, bargaining position kalian pun kuat, karena ada bukti transaksinya kok.

Jadi sekali lagi, ini bukan perkara pemerintah gak pro dengan ekonomi syariah, atau anti agama tertentu.  Ini tentang kita loh… KITA… ini pemerintah lagi mau melindungi kita semua sebaik mungkin. Maksudnya tuh baik.


Silat lidah lainnya yang cukup menggelitik adalah salah satu pedagang di warung tersebut bilang, dirham yang dipakai untuk transaksi adalah dirham zakat ke para mustahik (objek zakat), naaah mereka kan perlu belanja, makanya nanti belanjanya di warung ini nih, pake si dirham zakat tadi. YA ALLAH PELIT BANGET GAK SIH ! GAK MAU RUGI ABIS !

Kalau saya sih, dapet dirham… waaah, saya cek ke pegadaian terus saya tuker disitu :p ngapain harus ke warung kecil random, repot lagi gak buka tiap hari.

Kok ya banyak dari kita yang kemudian pasrah aja diakal-akalin hanya dengan cover agama.
Jangan begitu… Allah itu menciptakan kita pake paket lengkap loh, punya hati dan pikiran. Maka hargai pemberian itu dengan cara dirawat dan dioptimalkan sebaik-baiknya…dipakai saudara-saudara.

Banyak loh ayat-ayat di dalam Al-Quran diakhiri dengan “… Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berpikir.” Berpikir… hal yang diciptakan Sang Mahakuasa saja harus diresapi melalui proses berpikir sampai kita bisa memahami tanda-tanda kebesaran-Nya. Apalagi hal-hal yang dibuat manusia? Termasuk perkara warung-warungan ini. Masa’ gak ada upaya berpikir kritis sama sekali sih?

—-

Saya rasa tidak perlu diperpanjang lagi ya.
Saya masih berbaik sangka loh, mungkin maksud tersangka ini baik.
Semoga mempan aja sih di edukasi pemerintah dan aparat.

Saya lebih khawatir netijen julid sotoy, yang makin hari makin galaaaaaaaak :’D
Ngeri…
Oh ya, dateng ke blog saya ya, masih ada tambahan Q&A netijuliden.

Terima kasih, saya tante emon,
Kita ketemu di emonikova investigasi di lain hari.

Sebagai bonus untuk kalian yang baca blog saya! Saya mencoba membuat Q & A dari celotehan-celotehan para netijen yang aduhai :’)

Nama dan foto saya sembunyikan ya, tapi kita perlu jawab pertanyaan-pertanyaan wadidaw yang ada :

Q : Loh kalau bitcoin gimana ?

yutub

A : Loh ya sama saja. Bitcoin ini kan aset digital ya, kategori crypto Currency.  Nah, ini info juga, transaksi investasinya legal JIKA DAN HANYA JIKA perusahaannya crupto currency ini masuk list yang dilegalkan oleh Bappepti. Dan itu ada macem-macem aturannya, mumet lah pokoknya. Bisa dibaca di Peraturan Bappepti no. 5/ Tahun 2019. Kalau gak salah, perusahaan penyedia jasa cryptocurrency  yang “legal” itu harus masuk list bursa Aset Kripto terbesar di dunia, harus register ke Bappepti, dan harus bayar pajak.

Jadi inget, gak bisa yang abal-abal ya. Kenapa? karena ini kan aset digital ya, barangnya tuh harus dipantau terus. Jangan sampai kayak berasa udah punya aset gedeeeeee banget, eh pas mau ditarik zonk! Itu hal yang suka disebut “bubble” dalam ekonomi.

Jadi hati-hati loh ya, cek dulu legalitasnya di Bappepti. Dan lagi-lagi! Udahlah mending rupiah aja.

Q: Loh di Bali turis boleh bayar pake dollar. Kenapa ini si dinar dirham gak boleh.
A: Eits, Anda yang kurang jeli.
Dollar ini mata uang loh, alat tukar. Jadi dia memang bisa dipakai untuk bertransaksi.
Di kawasan pariwisata, turis bayar pakai dollar itu sesungguhnya melibatkan dua transaksi. 1. Transaksi jual beli barang, dan 2. Transaksi menukar uang, Bahasa pasarnya money exchange.

Idealnya, Kawasan pariwisata itu sudah pajang rate nilai tukar mereka pada hari itu berapa. Ketika ada turis bayar nasi goreng pakai dollar, sebenarnya turis ini pertama-tama menukarkan mata uang mereka ke rupiah, lalu membayarkan nasi goreng yang mereka beli dengan rupiah. Tapi antrian kan panjang ya bok, kalo harus saklek begitu prosesnya, bisa-bisa kasirnya kena lempar piring nasgor.  Maka boleh deh mister bayar pake mata uang mister, nanti kembaliannya pakai rupiah/ rate rupiah.

Dan transaksi ini, sesungguhnya baik untuk ekonomi, karena semakin banyak turis yang belanja-belanji dan makan-makan, maka berarti semakin banyak yang membutuhkan rupiah. Permintaan terhadap rupiah akan naik. Ingat, permintaan itu berbanding lurus dengan harga, maka harga rupiah akan naik… sesuatu yang kalau di berita kita denger “Rupiah menguat.”

Itulah yang sering kita denger di berita “Sektor pariwisata dianggap mampu menggenjot nilai rupiah.” Gituuuuuuu!

Q: Padahal kan lebih baik transaksi pakai dinar dirham / emas ya. Kalau rupiah kan bisa turun.

chathahha

A: Duh ini dosa sih berghibah. Eh tapi semua identitas kan saya samarkan. Melihat ke-PD-annya sih mungkin gak akan sadar ya dighibahin. Ini untuk belajar aja ya. Oke… oke… oke…Saya prihatin komentar seperti ini justru tercetus dari orang berpendidikan dan pendidik loh. Belajar ekonomi lagi.
Loh, siapa bilang harga emas selalu konstan (maaf ya, konstan… bukan konstanta).

Untuk sekadar informasi aja, konstanta itu adalah kata benda ya, artinya nilai yang tetap, fixed. Kita benerin secara EYD, jadi “konstant” yang merupakan verb, alias kata kerja. Maknanya kalau dalam matematika itu adalah tidak bervariasi.

Lha emas tidak bervariasi di belah mananya coba?
Mari kita lihat harga logam mulia itu tiap jam berubah loh.

emas-1

Per-minggu juga.

emas-2

Jadi sebenarnya kalau mau investasi logam mulia dalam jangka pendek, ya tetep fluktuatif.
Kecuali… kalau ingin investasi jangka panjang, dan itu baru make sense.

2 tahun

emas-3

5 tahun

emas-4

Tapi seperti yang bisa kalian lihat, nilainya tetap fluktuatif. Risiko rugi ya tetap ada.
Mengapa demikian, karena harga emas juga juga punya acuan. Harga dollar dan bursa commodity exchange (COMEX). Ya… logikanya jadi sama saja, harga selalu berubah bergantung pada supply dan demand.


Selain itu,  ada logika yang keliru di sini. Nilai tukar rupiah kan memang bergantung pada jumlah permintaan dan penawaran rupiah. Namanya juga mata uang, namanya juga open economics. Kita kan terlibat perdagangan internasional.  Ya mau gak mau nilai mata uang kita akan berfluktuasi. Dan jangan khawatir, karena sementara ini rezim yang paling sesuai untuk kita sejauh ini.  Kan kita pakai rezim nilai tukar managed floating. Bank Indonesia membiarkan nilai rupiah berubah-ubah bergantung pada tingkat permintaan dan penawaran mata uang selama tidak melewati “batas aman” yang ditetapkan.  Ini otoritas moneter mantengin terus.

Terus mau pakai apa? Fixed exchange rate? Kan dulu belajar, ketika orde lama kita mengadopsi fixed exchange rate, tapi devisa kita tidak kuat untuk membayar seluruh permintaan mata uang asing (yang paling banyak dollar). Situ yang mau bayarin? Apa pakai dinar dirham? Yakin cadangan mineral kita cukup? Atau oke lah cukup, siap kena longsor? Jepang misalnya, menghentikan mayoritas tambang mineral mereka karena mereka lebih khawatir ekosistem mereka rusak. Udah kena Minamata, kena bom atom, radiasi nuklir, masa harus ngerusak alam lagi? Untung pada baik dan pinter-pinter. Jadi invest di teknologi untuk system daur ulang yang ciamik.

Kalu semua orang mikirnya kayak oknum mereka-mereka sih, wassalam… justru makin runyam ekonomi Indonesia.

Dan itu harusnya kalau anak ekonomi S1 sih belajarnya pas semester 1 tingkat 1 🙂 karena meh banget. Semoga ya, kalian semua dijauhkan dari pendidik yang ngajar asal ceplos :’) aamiin.

Ini juga bentuk kemarahan saya. Literasi masyarakat Indonesia itu masih rendah loh, jangan kemudian di-edukasi dengan ceplas-ceplos tidak berdasar. Apalagi, apalagi, kalau kita sudah menempuh bangku Pendidikan  di universitas. Kan sudah belajar toh untuk maju sidang harus kumpulin data dulu, harus dianalisis dulu, harus diuji dulu, harus berpikir dulu… baru bisa berargumentasi!

Masa’ hal sefilosofis itu gak diimplementasikan dalam kehidupan sih? Masa’gak sayang sih menempuh Pendidikan lalu tidak mencapai kualitas critical thinking yang tajam dan kritis?

Kalian mau mengemukakan pendapat apapun, saya sih terserah. Saya kan cuek-cuek aja selama ini.
Tapi tolong…tolong… terutama untuk para civitas akademika.
pikirkan apakah argumentasi kita benar, cukup bukti atau tidak.  Jangan sampai, tanpa sadar,  kita berpartisipasi membodohi masyarakat Indonesia dengan ucapan yang bahkan tidak melalui proses kontemplasi yang panjang, serius, dan mendalam.

Gitu aja sih. Itu kan hal yang konseptual banget ya.

Sekian dari tante, semoga membantu kalian memahami apa yang sebenarnya terjadi.

[Emonikova Investigasi] Tebang Pohon, Gusur sawah gara-gara UU (?): Menelisik celah pada Pasal 122 UU Cipta Kerja


==============================================================

UPDATE! UPDATE! UPDATE! (12102020)

hari ini muncul di media terkait “final draft UU Cipta Kerja”. Agak bikin emosi sih karena masyarakat jadi mikir “Lah… kemaren yang diketok apa? draft yang belum jadi apa gimana?” tapi ya sudahlaaaaaah yaaaaaaa. Tenang….
Tapi mari mulai dari good news dulu. Setidaknya, dari pengamatan Tante, masyarakat berhasil menekan pemerintah untuk lebih berhati-hati dan gak usah maen-maen sama barisan rakyat (tentu dengan netijen di garis depan AHAHAHAHAHA). Yang pasti sih, jumlah halamannya jadi 1000++ sekarang ahahhahaha. makin tebel.
So, mari kita lihat pasal tentang lahan ya 😀

Oh ya! Naskah yang tante jadika rujukan didapatkan dari web CNBC Indonesia yang bisa kalian klik di sini. Jadi kalo ada salah-salah, marahin CNBC ya ahahahahahhaha.

Well, secara umum pasal 124 gak jauh beda ya….

IMG_4090

Tapi sepertinya untuk menenangkan para aktivis lingkungan hidup dan pengamat lingkungan, pemerintah kemudian memaparkan “lahan untuk fasilitas umum itu apa sih?” dua diantaranya adalah kawasan suaka alam/ suaka budaya dan kawan untuk lahan pangan. Jadi kayaknya kalo mau gontok-gontokan (amit-amit ya) kita yang punya kawasan lahan pertanian pangan atau masyarakat di kawasan hutan adat, bisa keukeuh bilang “Hei… lahan kami juga untuk kepentingan umum”. Yah mayan… walau tetap ada masalah karena kita masih punya PR dalam menetukan batas-batas hutan, suaka alam, dan suaka budaya. Jadi semoga pemerintah bisa selesaikan ini dulu ya. Sebenarnya bisa cepet beres sih kalau kebijakan satu peta kelar. Sayangnya, hingga tulisan ini di tulis, webnya masih sering ngelag juga :’D

IMG_4093
IMG_4092

Masih ada celah? Masih….
Salah satu yang mungkin “rentan” adalah memanfaatkan “kemudahan” perizinan untuk lahan <5 ha. Karena perizinan untuk lahan <5ha akan sangat longgar sekali ya sepertinya.

IMG_4091

Kalau yang berwenang mau “jahat” sih mungkin bisa ya beli lahan <5 ha sedikit-sedikit lalu lama-lama jadi bukit. Ahahahahaha… ah gak mau komen ah 😀 nanti dibilang ngasih ide jahat. Tapi mmmmm….. sekali lagi dari sudut pandang pengamat lingkungan hidup dan pecinta alam ya, amdal itu perlu loh, sekecil apapun lahannya. Kalau petani kecil sih ditawarin harga yang kayanya tinggi pasti langsung jual. Pemerintah gak belajar dari kawasan puncak yang akhirnya penuh sama vila? terus pas banjir di jakarta marah-marah ke kawasan puncak. Mmmm… gak lupa dong 🙂 Tante tidak anti pembangunan, I support that. Tapi manusia gak bisa fotosintesis, maka sebagai khalifah di muka bumi ini mbok ya sayang-sayang juga sama alam dan segala isinya gitu loh.

But anyway…. tante emon gak bisa selalu nulis dan nemenin kalian beropini. Tapi yang pasti, rupanya kita bisa juga ya mendesak pemerintah ketika kita punya keresahan bersama. Dan tante percaya kalau kita bisa bertindak kalau kompak. Gak perlu saling caci, cukup paparkan pemahaman kita dengan cara yang elegan dan sopan.

Sopan bukan berarti loyo! Jangan lengah! Lanjutkan dan kawal pengesahan UU ini. Tante percaya masih banyak celah yang lebih besar dari yang tante bisa temukan. Mungkin kalian yang lebih paham 😀 jadi yok… kompak kita kawal pemerintah dan omelin kalau perlu. KITA HARUS PUNYA PEMIKIRAN KRITIS! KARENA KITA GAK MAMPU BAYAR PENGACARA SEKELAS OM HOTMAN KALO KALO KESANDUNG MASALAH HUKUM! Oke!

Anyway! Crewmate! Tante bangga sama kalian!

IMG_4087

==============================================================

UPDATE! UPDATE! UPDATE! (09102020)

Pak Presiden akhirnya angkat bicara hari ini terkait UU cipta kerja.
Kita dengarkan paparannya ya gengs!

Tante emon percaya, selalu percaya, pemerintah itu sebenarnya ada itikad baik untuk kebaikan masyarakat. Di seluruh buku teori ekonomi, pemerintah selalu disebut memiliki peran untuk “Pemerataan kesejahteraan.” Mungkin… ini mungkin…. pemerintah ada baiknya memberi saluran untuk kita semua yang memiliki pertanyaan dan unek-unek terkait naskah UU yang beredar. Berikan waktu untuk kita semua memahami dan bertanya. Izinkan para ahli dan akademisi menganalisa.

Masih ada asa terhadap pemerintah, walau masih belum bisa sepenuhnya menghapus tanda tanya dan kegelisahan. Semoga kita semua berhasil dan mampu menemukan jalan tengah.

=========================================================

Kata Gus Mus, “Bicaralah hal yang merupakan bidangmu.” Maka tante emon gak berani untuk membahas seluruh rangkaian UU cipta kerja yang sedang heboh itu.

Akan tetapi sebagai peneliti yang sedang meneliti dampak kebijakan perubahan iklim dan pertanian di Indonesia, ada beberapa hal yang rasanya bisa saya telisik. Tidak berani bilang “salah” atau “benar” ya, maklum… salah-salah nanti malah tante di sidak UU ITE. Hanya rasa-rasanya kok… ruwet bin mumet gituuuu.

Selain itu kondisi tante yang mudah encok, dan mata yang udah mulai burem kalau lihat dokumen berhalaman 900++, tidak memungkinkan baca satu per satu dokumen “Dewa” tersebut. Maka mari kita bahas satu pasal saja. Pasal 122 (Bab VII. Pengadaan Tanah).  Oh iya dokumen ini diperoleh dari Tirto.id ya. Jadi kalo ada salah-salah, marahin Tirto aja (hayooo loh, To!).

Pasal 122 ini intinya sih, secara satu kalimat, atas nama “Penciptaan Kerja” konversi lahan diperbolehkan. Termasuk Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (tante singkat menjadi: LPPB).

1

Karena ada masalah pangan (dan kita mencintai pangan) maka kita loncat dulu ke poin b terkait si LPPB ini. Maka ayo kita loncat ke Pasal 124! Cerita berawal dari UU No.41/2009 yang diubah sehingga LPPB dapat dikonversi jika terkait dengan kepentingan umum maupun proyek strategis nasional (poin 2). Agak pusing sih, soalnya di poin 1 DILARANG eh di poin 2 DIPERBOLEHKAN. Ini maunya apaaaaaaaaaa? Apaaaaaaa? Apaaaa? Yah yo wis lah, lanzut!

2

“Wah! Aku ingin mengubah sawahku menjadi area komersil yang penuh remah-remah kekayaan duniawi! Apakah syarakatnya?” Syaratnya ada di point 3, yaitu:

3

Selintas terasa baik-baik saja kan? Akur?
Yes! Namun celah kebijakannya cukup besar.

Jadi semua lahan boleh jadi lahan pengganti untuk lahan yang dikonversi? Lalu bagaimana dengan lahan hutan? Lahan gambut?
Apakah alih fungsi lahan harus ada wilayah territorial yang sama? Bisa beda propinsi? Apakah tingkat kesuburannya sama?

Untuk pembacaku yang baik yang belum pernah digojlok pengantar ilmu pertanian selama satu semester dalam hidupnya. Kalau ini LAHAN PERTANIAN PANGAN… maka produktivitas lahannya harus cukup untuk kultivasi tanaman pangan dong. Iya dong? Nah kalau kemudian lahan penggantinya di area yang tidak produktif, ya petani rugi. Anda pikir mengembalikan tingkat kesuburan tanah itu mudah? Hey hey hey… anak Ilmu Tanah IPB sampe belajar redoks dan kimia tanah hanya untuk mencari cara mengembalikan produktivitas tanah. Jika lahan “pindahan” ini tidak terlalu produktif, petani harus keluar budget lagi untuk pupuk, irigasi, pembersihan lahan, dsb.

Lebih gila lagi kalau rupanya malah dikasih lahan basah dan rawa. Keluar budget lagi untuk liming (pengapuran)… nyari varietas yang sesuai, dan aneka keruwetan lainnya.

Ya masa iya mau dipindahin ke atas Gedung DPR?

Terus gimana? Nebang pohon?
Wallahu’alam… hanya yang bikin UU yang tahu. Allah juga tahu, tapi kayaknya udah ngelus-ngelus dada.

Pertanyaan yang sama berlaku untuk lahan pertanian yang dikonversi. Jadi gimana? Kalau misalkan lahan tersebut adalah area agroforestry yang sudah establish? Atau lahan pertanian itu rupanya beririsan dengan kawasan hutan yang sudah memberikan kekayaan biodiversitas dan udara yang bersih untuk Indonesia? Atau bagaimana jika kawasan tersebut ada di wilayah kaum adat?

Mau ditebang gitu? Terus lahan penggantinya dimana? Ditumplekin di atas lahan istana presiden sama Gedung DPR juga gak akan cukup.

Yang lebih rumit adalah kaum adat. Batas-batas hutan adat di Indonesia itu belum jelas, namun kawasan ini dijaga serta dimanfaatkan oleh indigenous people yang setiap merawat kawasan tersebut. Mereka memang buka sedikit-sedikit lahan pertanian, tapi duuuh segimana sih bukanya? Keciiiiil bgt. Mereka orang-orang yang menjaga lingkungan GRATIS tanpa meminta bayaran dari pemerintah. Tulus dan jiwanya murni sekali. Tante aja masih gila harta. Mereka gak… mereka ikhlas menjaga kelestarian alam dari dalam hati.

Nah… kalau misalkan proyek pemerintah lewat daerah hutan adat, mau diapain? Mau diganti apa? Diganti dengan pahala seluruh anggota DPR dan staf pemerintahan juga belum tentu cukup. Mereka menjaga kelestarian alam loh. Emang kalian mau disimpen di hutan tanpa sinyal dan harus cari makan sendiri di belantara? Tante sih tidak siap ya.
Makanya kita harus berterima kasih kepada masyarakat-masyarakat adat seperti itu. Eh eh eh… dengan adanya UU ini malah berpotensi mau digusur ☹

Tapi tante kan optimis ya “Ah masa iya… masa iya gw yang newbietol ini aja bisa aware dengan celah ini. Masa yang nulis kejem-kejem banget sih? Masa gak nyampe mikirin kawasan hutan dsb”

Maka tante pun skrol balik ke pasal di atasnya. Pasal 123 (Bagian kedua: Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum).

4

Pasal ini menambahkan beberapa poin untuk UU No. 2/ 2012. Dan… seluruh ke husnudzan ini ambyar setelah membaca pasal tambahan 19C.

5

Sampe ngucek-ngucek mata pas baca “TIDAK DIPERLUKAN LAGI”!

Well, gak mau menyimpulkan sih. Tapi kayaknya mau itu lahan gambut, hutan, mangrove, sawah, neraka Jahannam, semua bisa dialih fungsi dengan dalih untuk “penciptaan kerja dan kepentingan umum”

Ini permisi ya… apakah yang bikin UU sudah lihat statistik yang sudah disusun BPS hingga pada begadang? Pertanian (dalam definisi luas) kita masih menyerap banyak tenaga kerja, terutama di pedesaan. Jadi ini mau menciptakan atau mau menghilangkan pekerjaan? Bingung aku tuh. Arghhhh…..

Sungguh, batin ini ingin berteriak… UU ini amatlah laknatullah, karena kita diajak berputar-putar, skrol atas-bawah untuk menelisik setiap poin per pasal. Ini jangan-jangan, jangan-jangan, jangan-jangan, jangan-jangan,  masih banyak poin yang “bercelah” tapi luput karena stamina kita yang terbiasa sebagai kaum rebahan selama PSBB memang tidak kuat scroll dokumen ini terlalu lama. Ndak kuwaaaaaat, Baaaang!

Dengan segala kerendahan hati dan maaf yang sebesar-besar, namun bagi saya pasal ini sungguh memutar balik logika. Karena kemudian kontradiktif dengan banyak kebijakan lain (yang wallahu’alam mau diseriusi atau gak ya).

Kita ini loh ya, mau menurunkan emisi setidaknya 29% dari Business as Usual level di tahun 2030. Emisi kita mayoritas dari perubahan serta kebakaran lahan dan gambut. Lah… ini mau nambah-nambah kerjaan untuk konversi lahan.
Kita ini loh ya….
Padi kita, produktivitasnya sudah hampir mentok, mungkin akan mulai diminish beberapa tahun kedepan. Lah ini lahan pangan mau dikonversi? Biar bisa impor lebih banyak?
Katanya mau mengurangi impor pangan?
Belum lagi tingkat stunting kita masih sangat tinggi! Ditambah tingginya food waste and loss! Penyerapan pangan kita belum optimal, lah… lahan pangannya mau ditekan dengan adanya UU ini.
Jadi masyarakat Indonesia mau dikasih makan apa? Disuruh fotosintesis?

Jadi maunya apa?????

Apa biar tahun depan ada kerjaan jadi bisa bikin UU lagi?
Nyari aktivitas gak gitu-gitu amat kali ya ☹ Ada banyak hobi positif yang bisa dicoba loh? Belajar musik, ikut marathon, cuci tangan pakai sabun. Bukan cuci tangan kalau ada masalah (aw..aw..aw..).

Perlu gw bicara sebagai ekonom? Fine! UU ini gak untung2 banget secara ekonomis, apalagi untuk masyarakat berpenghasilan menengah kebawah. Gak usah ke sisi makroekonomi lah. Kalau segi lingkungan tidak ditelisik secara lebih teliti, maka siap-siap saja bencana alam makin sering mampir ke tanah air. Klo kena bencana alam memangnya gak rugi secara ekonomi? Itu menghilangkan kapital ya.
Oh well…paling paling kita akan literally jadi tanah air, tinggal nyisa tanah dan air :’) Ulalala…

Lemas rasanya menelaah satu pasal ini saja.
Tapi tante tuh masih berharap loh, pemerintah punya sedikit sisi welas asih di hatinya.
Pikirkan seluruh pendapat-pendapat para akademisi dan ahli.
gak perlu dengerin tante yang newbitol ini, banyak sekali cendekiawan Indonesia yang pintar luar biasa tersebar di seluruh penjuru dunia. Mereka siap kok kalau ditanya pendapatnya.

Secara pribadi, tante juga miris dengan kelakuan para angkota dewan yang kekanak-kanakan (sorry). Yang bahkan tidak memiliki kedewasaan emosional untuk mendengarkan saran, masukan, dan kritik masyarakat. Hal ini yang sangat melukai hati masyarakat.
Wahai Bapak/Ibu dewan yang terhormat, jangan lukai hati kami… karena benang-benang fibrin tak mampu menambal hati yang luka.

Atau jangan-jangan ini azab dari Allah ya? Duuuuh…
Maafkan kami ya Allah. Kami memang suka julid di internet, kami juga kadang suka iri hati dikit-dikit melihat orang lain pamer kebahagiaan. Tapi kami tidak kuat jika azabmu adalah dikaruniai pemerintahan yang ******** (micnya dimuted, tapi Tuhan dengar bahkan untuk suara semut sekalipun).

Namun sungguh pepesan kosong kalau tidak ada alternatif solusi.
Dari tante pribadi ya….

  1. AMDAL itu perlu. Terlepas dari Amdal kita yang memang masih banyak kekurangan sana-sini. Tapi itu jauh lebih baik daripada gak ada. Setidaknya ada pihak independen yang aware dengan lingkungan. Bukannya gak percaya sama pemerintah ya, tapi pihak independen juga penting untuk ikut serta untuk menjaga kepercayaan publik dan meningkatkan validitas data lingkungan.
  2. Tolonglah semua jangan dilihat dari accounting cost… lalu mengeluarkan banyak sekali social cost dari sisi lingkungan, sosial, waaah banyak.
  3. Mungkin sebelum membuat UU, pahami dulu UU yang lain sebelumnya. Jangan sampai malah overlap lalu gontok2an sendiri. Ya seperti pasal tentang lahan pangan ini.

Demikian dari tante emon.
Mohon dilanjut bagi kalian yang punya expertise yang lain. Maaf kawan, tante cuman kuat baca satu ini aja :’) lanjutken perjuangan!

Romansa Mas Kucing Abu…


Sebagai bagian dari warga Indonesia, pasti banyak yang bertanya “Ih kok udah kepala 3, masih sendiri aja.” Jika pembicaraan semakin kejam, maka akan berlanjut “Cewek lagi….nanti susah punya anak ya.” Yah gak usah jauh2… setidaknya itu yang terjadi sama Princess Syahrini :’D. Gimana kalau gw aja yang cerita kenapa…. kenapa ya beberapa orang belum bertemu jodohnya, atau sudah tapi mikirnya lamaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget! Setidaknya dari pengalaman gw. Yok, udah siap gelar tikernya? Jangan lupa jaga jarak dan pakai masker :’D 


Gw mengawali hipotesis gw dengan kata: Kaget! 
Yaph! Kaget yang membuat ambyar seluruh logika dan konsentrasi kita. Loh? Apa hubungannya? Begini….
Sebagai cewek normal, gw juga pernah dan bisa naksir2an. Tapi ya gagal beberapa kali karena banyak hal. Tapi dari sisi gw sendiri, gw mungkin tidak seperti kebanyakan teman sebaya yang secara mental siap mengarungi bahtera rumah tangga. Ya Allah, mengarungi bahtera selat Bali pake ferry aja gw mabok. 
Dari sisi gw, kesiapan emosional gw memang cemen. Gw masih sedih kalau inget tentang ayah gw. Dan wah… kadang suka random aja “Duh kalau gw nikah, suami gw meninggal muda gimana ya.” Akhirnya… seperti followers Jousk* gw kan jadi parno dan malah asik mencari dan menimbun emas berlian. BWAHAHAHHAHAHAHA! 


Iya! Serandom itu! SERANDOM ITU! Gw aja kaget! Shock, liat kaca, terus ngomong, edan… gw bisa kayak gitu juga ya. Dan jujur deh, gw sedang enjoy dengan kesendirian gw. Tinggal di apato mungil yg gw bebas acak2in dan bisa eksperimen macem macem di balkon. Gw merasa akhirnya gw menemukan jati diri gw. Huwaaaaaaa, rasanya kayak baru abis cukur rambut dan creambath! Fresh dan ringan banget. Kayaknya, klo gw bisa angkut Mama, adik, dan kucing2 gw untuk selalu bareng gw, udah sih… gw pasti mager untuk mikir mau ngapain lagi.


Eits, tapi inget… sedingin apapun orang, pasti butuh temen juga lah. Nah, gw yang memutuskan untuk gak usah punya temen banyak2 banget, karena ribet, malah berakhir jadi tempat curhat banyak orang! Mungkin karena mereka yakin rahasia mereka aman di gue, wong gw gak ada rekan gosip.
Capek juga kadang. menjaga rahasia itu berat loh. Apalagi kisah kisah yang mendarat di meja redaksi gw serba serius. Mulai dari masalah mental health, toxic family, muacem muacem! Abis kalau curhatnya ke para ukhti atau akhi cuman disuruh mendekatkan diri sama Allah, hellooowwwwww…. mereka juga tau keles gak bego bego banget untuk tahu solusi seperti itu. Mbok ya kasih moral support atau tawaran solusi yg lebih konkrit
.

Pada akhirnya, gw juga butuh curhat dong. Tapi gw harus mikir mikir juga, ke siapa ya cerita gw bisa “aman”


Jeng jeng jeng…. di sini gw mulai main api pake korek dan tabung gas melon


Gw cerita deh dengan seorang cowok, kita sebut saja Mamas. 

Nah, Mamas ini tipe favorit gw banget lah! Dieeeeeeeeeem! Gak banyak komentar, kikuk, kaku, namun baik hati. Kayak kucing abu abu yang doyan ngaso di ubin rumah sambil menikmati sepoi angin dan rintik hujan. Cuman ngeong kalau disodorin ikan sama nasi anget. Nah, kira-kira begitu. (Maaf… gw kesulitan memberikan deskripsi yg lbh manusiawi)


Dan macam cerita when Harry meets Sally, tentu pada akhirnya semua niat mulai berubah arah. Perahu mulai oleng melawan angin. Dan gw jadi sadar, rupanya kisah romansa manusia seumuran gw tidak semanis ubi madu. 
Kita menyadari bahwa hidup dan perangai kita gak keren keren amat. Banyak kekurangan sana sini. Banyak masalah yang ruwet dan uwel uwelan seperti kabel headset di dalam ransel. Jangankan menceritakan ke orang lain, nulis di buku harian terus kita baca sendiri aja rasanya pengen bakar bukunya. Setidaknya, bagi gw… ada saat ketika gw bahkan gak pede dengan eksistensi diri gw sendiri. Gw merasa banyak hal gak sempurna yang klo boleh, gw gak mau tau juga.

Lalu… lalu… lalu… entah kerasukan makhluk astral dari mana, tiba-tiba tercetus ide untuk “cek ombak”: menceritakan segala kejelekan itu ke seseorang. Entah apa guna dan mashlahatnya ya, tapi penasaran aja apakah ada orang yang tahan dengan segala keanehan gw yang wadidaw ini?
Gw pun memulai social experiment ini ke si Mamas ini. Secara mengejutkan, dia adem ayem aja. Agak zonk sih, karena ekspektasinya akan terjadi pertempuran ala ala 2 kubu di pertandingan tarkam. Namun, tidak…. tidak terjadi apa apa. Seperti kucing abu di ubin rumah, dia tetep selow menikmati angin sepoi dan hujan rintik. Mungkin tinggal tambah senja dan kopi hitam biar jadi kucing abu indie.

Oh… Mas kucing abu. 


Eits, gimana? Sejauh ini kisah Mas Kucing Abu ini adem ayem aja kan. Ya… ya… ya…tentu. Tapi bukan mendewasa jika sesuatu tanpa masalah. Kita memang doyan keributan yang memacu adrenalin. Gw pun. 


Mas kucing abu ini, diam sekali…. karena gw males dengan keributan, gw enjoy sih. Tapi, mmmm… rasanya kok gw terus ya yg menghujani Mas Kucing Abu ini dengan aneka cerita random? Sulit sekali crack up Mas kucing abu, suliiiiit sekali. Gw sih cukup PD gak ada banyak orang yang sanggup handle kucing abu ini. Hati-hati, kucing abu ini walau selow, tapi klo buntutnya keinjek, ya nyakar juga. GRAUUUUP miaawwwwrrrrrr!


Beritanya adalah, perlahan… dia mulai cerita tentang dirinya, masa lalunya, keluarganya, semuanya….
Gw kira gw siap… rupanya gw KAGET!
Menjalin hubungan, menjalin tali silaturahim aja gw mulai mikir “ hah? Apa gw mampu?”


Dibalik kebaikan dan ketenangannya, rupanya Mas kucing abu tetaplah manusia biasa dengan segala kompleksitas dan permasalahannya. Dan gw kaget aja dia menutup rapat semua itu sendiri sampe setua ini. Yah sama lah seperti kita kita, dipaksa ortu untuk milih suatu jurusan, dibanding-bandingin, dan sebagainya. 
Yang gw kasian ke dia adalah… kenapa pada akhirnya dia harus menceritakan hal hal itu ke gw!

Gw? yang secara emosional meledak ledak dan berapi api. Gw yang main bismillah, maju, serbu, serang, terjang ketika menghadapi sesuatu. Gw yang nekad dan gak sabaran. Tapi jangan lupa, gw juga cengeng. Kalau bocah, gw tipe yang kalo berantem, langsung gebug dan hajar tapi sambil nangis dan ingusan. Kalo kucing, gw tentunya representasi dari kucing oren yang gede ngeong ngeong sebelum ambil ancang-ancang nyakar. 
Wah! Gw jadi meragukan kompetensi gw sebagai teman dia. Mungkin dia gak butuh gw yang hebring ini. Atau apakah gw “guna” ya dengan personality gw yang rupanya bertolak belakang parah dengan Mas kucing abu? Duh kalian pernah liat dong kucing abu sama kucing oyen, segimana bedanya mereka? Naaaaah… itu! Kira kira begitu. 


Dan cerita atau imajinasi kita semua tentang romansa ala ala FTV ludes semua kayak martabak anget! Gw kemudian “reset” semua hal, pertanyaan gw ubah semua “Eh, kamu gak apa kan temenan sama aku?” 


Gw suka sekali… sukaaaaa sekali kucing abu ini. Beberapa kali gw bilang ke dia, kalau kami masih bocah dan dia tinggal di Leuwiliang dahulu kala (plis cek google maps ya guys letak tempat ini)… dia pasti akan gw ajak main tiap sore. Gw ajak buat bantuin gw nangkepin ayam kalau udah mau magrib (mmmm… masih agak bully sih, tapi nangkepin ayam pas sore itu sebuah kegiatan yang fun dan hits untuk anak leuwiliang di era itu). Gw tidak sembarang memilih orang loh untuk menangkap ayam-ayam gw, ayam gw butuh dekapan lembut saat ditangkap dan dimasukin ke kandang ufufuufufufufu. Hanya orang terpilih dan kredibelnyang boleh megang ayam peliharaan gw. 


intinya, Mas Kucing abu ini baik… baik sekali. Tapi gw butuh waktu menerka nerka apa yang ada dipikirannya. Gw suka sekali Mas kucing abu, tapi gw takut juga klo nowel buntutnya dia bakal nyakar gak ya? Ah masa ada kucing sejinak itu, gak mungkin dong.

duh mas kucing abu….

gw merasa gw tuh udah paling busuk masalah berteman dengan manusia, nah mas kucing abu ini lebih parah dari gw. Pokoknya banyak! Banyak hal yang bikin gw terkaget kaget. Yang bikin gw, “HAH?”
“HAH?“
“gimana…gimana?“

Terus gw akan lebih bawel dan bilang “Duuuuuh kita udah terlalu tua untuk belajar how to socialize. Masa hal seremeh itu aja gak aware sih” Geram juga… jangan2 dia berteman dengan gw karena orang lain lama lama shock juga dengan sifat-sifat ajaib di balik ketenangan Mas kucing abu. Gw tidak bisa cerita detil, tapi yang pasti… erghhhh pengen nyubit!

Tapi, seperti dia bisa menerima semua keajaiban gw yang super absurd ini. Mungkin gw harus mencoba. Lebih sabar.

ini belum apa apa loh. Gw, gw baru belajar open up dengan seseorang, dan gw baru belajar melihat cowok open up ke gw. Udah kaget, bengong, terbelalak, penuh gejolak adrenalin, pusing. Gila! Berumah tangga pasti lebih edan edan lagi ya.

mungkin proses mengenal seseorang itu adalah proses belajar seumur hidup…

klo kalian penasaran dengan Mas kucing abu, sama kok… gw juga. Gak janji ya kami bisa bareng terus. Tapi biarkan gw jadi teman Mas kucing abu. Supaya kami jadi kucing komplek yang akur dan gak saling cakar atau bikin berisik sampe dibanjur air seember sama tetangga yang galak.

fiuh… uji kesabaran ini…..

Sedikit cerita dari Tsukuba: ketika orang Jepang lebih mengimplementasikan hadist rasul dibandingkan kita semua.


“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)
 
kalau tahu himbauan itu berasal dari hadist, dalam bayangan saya seharusnya orang-orang di negara Muslim gak sulit untuk diminta diam di rumah dan tidak mudik terlebih dahulu.
 
Fun fact: Rupanya masyarakat Jepang lebih aware dalam “menerapkan hadist” ini. Setidaknya ini yang saya lihat di Tsukuba.
 

beberapa minggu terakhir, kasus Covid19 di Tsukuba meningkat cukup cepat. Sampai saat ini, setidaknya ada 7 orang yang terserang di Tsukuba. 5 orang sekeluarga, 1 orang guru dansa dari Italia, 1 orang yang bekerja di Tokyo. Pemkot Tsukuba langsung mengeluarkan imbauan untuk kami yang tinggal di Tsukuba agar tidak bepergian keluar Tsukuba dan yang tinggal di luar Tsukuba untuk tinggal di rumah hingga 2 minggu ke depan alasannya:

1. Kita tidak tahu seberapa luas virus ini sudah menyebar di Tsukuba,
2. Kita perlu khawatir jika ada yang commute dari Tokyo dan sekitarnya menuju Tsukuba malah akan menambah kasus baru.

 
Pemkot tidak melakukan lockdown, masih hanya imbauan. Tapi beberapa minggu ini, semua presiden di setiap research center langsung mengeluarkan SK tentang “karantina wilayah.” Tentunya “japanese style” jadi diperlembut dengan “Imbauan untuk tidak berpergian” (suatu yang gak akan mempan kalau di pake di Indonesia). Dan imbauan itu dikirim bisa 3x sehari ke e-mail kami masing-masing. Kenyang-kenyang deh baca si imbauan itu. Saya yang bahasa Jepang level kore-kore aja sampai mulai hapal kanji-kanji yang dipake apa!
Mantap bukan!

photo6334697361825180143

Ada yang boso Inggris juga sih, tapi langsung capek bacanya…. ada puluhan lembar wejangan dari Pemkot dsb

semua pegawai langsung dibuat sibuk dengan uji coba sistem online dsb.
Tes koneksi berkali-kali (sampai bosen dan garing).
tes koneksi ini bener-bener bikin kering loh, karena banyak peneliti yang sudah sepuh juga kan. Walhasil mereka masih gaptek, dan kadang jadi terlalu zoom mukanya…..dsb
Belum lagi di rumah mereka ada pet ada anak-anak yang masih liburan, jadi kadang “rame” karena pada gak ngeh mute suara mereka.
Banyak lah suka dukanya. Kami yang biasanya peneliti tulen tiba-tiba disuruh cobain macem-macam peranti remote meeting kan heboh juga. Jadi belajar bareng sama sekretaris dan teman-teman yang lain.Sensei saya lebih heboh lagi. Perkuliahan mulai awal april, dan tiba-tiba semua perkuliahan Beliau HARUS dilakukan secara online! Beliau tinggal di Tsukuba, dan kampus di Tokyo. Inget rulenya? Dari Tsukuba gak boleh keluar!Walhasil harus nyiapin materi kuliah online.
Sudah sip sistemnya….

Eh~~~~ banyak mahasiswa baru yang perlu self-isolate selama 2 minggu karena banyak yang baru pulang jalan-jalan selama spring break.  Akhirnya harus bikin sistem kuliah online-nya lebih mantap lagi agar bisa diakses banyak orang dari banyak tempat. Itu pun masih ada drama karena banyak mahasiswa baru yang gak punya wifi di kosan-nya m(T^T)m kalau pake kuota hp kan mahaaaal cin. Akhirnya kelas offline juga dibikin tapi tata ruangnya.

Kasian juga liat para sensei heboh ngecekin sistem kuliah online satu-satu m(T^T)m
dan please gengs, jurusan ekonomi… banyak persamaan sama kurva yang harus diturunin satu-satu.
Tapi kayaknya para sensei mulai enjoy dengan “mainan” baru mereka :’D yo wis lah.

Dan kerennya, dengan segala suka duka, semuanya nurut dan oke-oke aja demi kebaikan bersama.

 Mulai hari ini, hingga dua pekan ke depan, yang tinggal di luar tsukuba akan kerja di rumah.
KRL tsukuba express pun refund tiket langganan untuk para pejuang kereta ini.
Gak ada yang ngeyel “Loh kan belum lockdown.” semuanya lebih bilang “Yah… daripada kita menyebarkan virus kemana-mana dan gak tau. Virus kan gak keliatan.”
Masker dan hand sanitizer memang sulit, tapi makanan dsb tetap ada dan masih harga normal. Farmers market agak sepi memang karena para petani (yang pada sepuh) diminta untuk gak keluar rumah terlebih dahulu. Tapi semua patuh dengan mahzab yang sama “Khawatir tertular atau menularkan orang.”
Kadang jadi mikir, apa ekspektasi Rasulullah apa semua umat Islam bakal kayak orang Jepang, gak akan ngedablek kalau dikasih arahan atau saran?
Subhanallah, Rasul pasti baik banget sih jadi gak negative thinking…. tapi kayaknya untuk orang Indonesia, mmmm…mmm….mmm…. harus pake cara polisi India yang maeh gebug pake rotan apa ya? Hmmmm… gimana menurut kalian?

Gimana nih masyarakat yang katanya religius?  Atau memang butuh rotan untuk “efek kejut” 😀

 

Yang lebih berbahaya daripada Covid19: Kehilangan nurani kala krisis


 “Iya, tapi kan gak semua peduli. Gak semua berpikir bawa hati nurani. Kadang-kadang harus ikutan jahat gitu gak sih biar survive?”

Emon memang orang yang keliahatan super ceria dan gampang ketawa…
yang orang gak tau, seorang Emon juga gampang panik. Gampang banget.. terutama ketika kepikiran tentang Mama dan adik. Mereka adalah dua orang yang paling berharga bagi gw saat ini. Kalau tiba-tiba gw khawatir, gw bisa langsung moody dan panik. Dan saat ini, media sosial berhasil membangunkan kembali kepanikan gw yang udah hibernasi sejak gw belajar musik, dan itu semua gara-gara the most viral topic of the year: COVID-19.

Gw sesungguhnya tidak terlalu panik awalnya, karena di Jepang… walau kasusnya besar dan gw sudah mengira akan besaaaaaar banget karena ketika wabah mendera Cina, banyak turis Cina berlibur sesaat ke Jepang. Itupun karena Jepang dianggap lebih bersih, aman, stabil, dan steril (well… dan juga deket kan). Lalu BOOM! wabah merebak di negeri Sakura. Jangan kira di negara maju dan se-well prepared kayak Jepang gak ada panic buying! Ada dongs!

Masker hilang dari pasaran, tissue toilet entah mengapa makin menipis stoknya, wowowowowowo~ cukup kaget juga. Pertemuan publik di-cancel, sekolah diliburkan, banyak plan hancur berantakan. Bahkan airport pun sepi. Pesawat menuju Jepang kayak kapalnya kapten Flying Dutchman di Spongebob. Hati gw pun ambyar!

photo6296462270171032090

Narita Airport sunyi….

 

Namun setidaknya, teman-teman dan supervisor gw baik. Kami saling mengecek satu sama lain. Dan mungkin karena gw tinggal di kota yang mayoritas penduduknya peneliti, tidak ada kepanikan berarti…. “Hmmm, ini kan virus ya, pasti sudah nyebar kemana-mana ya, wong kecil gitu kok. Sekarang kita yang harus tanggung jawab menjaga diri dan orang-orang terdekat kita. Ja! Ganbarimashou!”

Sungguh, awalnya gw tidak panik. Gw memang jadi lebih waspada, tapi hidup berjalan menyenangkan… seperti biasanya.

Sampai kemudian, wabah menyebar di Indonesia. Lengkap dengan pemerintah yang terlihat sekali gelagapan mengambil keputusan dengan cepat. Jangan lupa! Semakin gurih dengan “topping” beberapa paket netijen bawel di media sosial, beberapa media yang masih hobi bikin judul clickbait,  dan beberapa paket masyarakat yang emmmm…gimana bilangnya ya… norak? alay? sungguh harus ada padanan kata yang lebih dari itu semua.

Yak! Sebuah kombinasi yang luar biasa…
luar biasa membuat panik!

Gimana gak?

Panic buying dimana-mana, harga semakin merangkak naik, belum lagi jumlah penderita yang masih saja simpang siur.
Eh masih sempat pula ada kisah “FTV” dimana seorang pasien positif yang terjangkit virus masih sempat “kabur” dari ruang isolasi.
Butuh waktu untuk mencerna informasi-informasi yang berseliweran dan bisa membuat siapapun yang baca jadi GILA!

Lalu, gw inget Mama dan adik di rumah. Oh bagaimana kabar mereka kala gw kembali ke Jepang.
Gw cek harga barang-barang macam masker, hand sanitizer, dsb. Gak lupa gw pun cek harga-harga bahan sembako.
It doesn’t make sense… harganya mulai sama bahkan lebih mahal dibandingkan di Jepang. “No, my family will be not okay under this situation.”
Padahal, kalau gw boleh jujur, Jepang pun tengah resesi. Gw juga merasa uang gw lebih cepat habis akhir-akhir ini. Tapi… kalau kemudian harga di Indonesia bisa hampir sama bahkan lebih tinggi dari di Jepang? Geng… sori buat bilang hal ini….ini jelas-jelas:  Harga barang di Indonesia melonjak jadi MAHAL BANGET!

Gw bertekad, apapun yang terjadi… semahal apapun barang yang harus dibeli… kalau memang itu buat Mama, gw jabanin deh.

Gw pun kemudian tanya baik-baik ke Mama.

Me:   Ma, liat deh… orang-orang kan pada panic buying tuh, nanti harga makin mahal loh. Yakin gak mau beli sembako, sama masker, dsb? Beneran nih?

Mom: Mmmm… gak usah kak. Mama kan gak kemana-mana. Eh paling check up ke RS, tapi kayaknya sekarang lagi gak kondusif ya. Serem ah.

Me: Iya, jangan ke RS dulu sementara. Tapi jaga makan baik-baik ya.

Mom: Iya… obat rajin diminum, sama mama puasa tiap minggu. Makannya juga sekarang udah pinter abis ditongkrongin terus sama Kiki

Me: Ma, beneran nih, gak butuh printilan-printilan yang pada lagi dibeli orang-orang? Klo perlu, beli nih walau mahal juga.

Mom: Gak usah kak, kita punya cukup kok stok buat kita aja. Jangan beli lebih dari yang kita butuhin, ikut-ikut panik, nanti harganya makin naik.

Me: Ya makanya… sebelum makin naik lagi.

Mom: Eh kok gitu. Kalau buat kita aja harga segini udah berat banget, yang ekonominya lebih sulit dari kita pasti nangis-nangis. Duh kasian, udah kita jangan ikut-ikutan dzhalim. Gak tega ah!

Me: Ya udah, masker deh… butuh gak?

Mom: Kan Kiki udah beli sabun cuci tangan, yang penting rajin cuci tangan kan? Toh kita juga wudhu sebelum shalat. Insha Allah aman. Kita juga jarang keluar rumah kalau gak penting-penting banget. Udah jangan nambah-nambahin deh, kasian nanti yang butuh masker beneran. Nanti yang sakitnya parah banget gimana? Terus yang mobilitasnya padet gimana? Mereka-mereka itu tuh yang lebih butuh dari kita. Jangan suka ambil hal yang bukan hak kita ah. Mama sama Kiki anteng di rumah main sama kucing kok, gak kemana-mana.

Dan dari semua hal brengsek yang terjadi sepanjang 2020 serta komen-komen netijen yang terkadang terlalu ajaib, perkataan Mama seperti siraman air zamzam di komplek perumahan di tengah klaster neraka jahannam! Adem banget!

Tapi… itu membuat gw sedih karena pada akhirnya gw bilang, “Iya, tapi kan gak semua peduli. Gak semua berpikir bawa hati nurani. Yeeee… emang semuanya kayak Mama? Sori la yaw”

Lalu adik gw yang memang mulutnya berbisa itu pun angkat bicara, “Loh iya, memang Kak… memang! Kalau ada apa-apa, misal Mama nih yang kena si virus, pertama-tama… orang akan jauhin kita, rumah kita akan dipasang police line. Kakak akan dihujat, kok ya anak perempuan egois, sekolah lama-lama di LN, bawa virus. Kiki juga, anak cowok gak guna… gak bisa jaga Mamanya. Kita tamat kok kalau ada apa-apa. It’s predictable”

YES! THAT’S THE POINT! Jadi gak salah dong kita berpikir strategis sebelum kita dijahatin orang. Sedih banget kalau nanti kita sakit eh masih di bully dan dikucilin. God! Sudah jatuh dilindes traktor.

Tapi Kak, kalau orang lain kehilangan akal sehat bukan berarti kita ikut-ikutan kan? Gak gitu cara mainnya. Kita harus kuat, harus sehat, harus bertahan, agar kita bisa buktikan bahwa jadi orang baik pun masih bisa loh bertahan hidup di planet ini. Action speaks more than words, Man!

Gw jadi tau sih kenapa gw agak cemen dan cengeng kalau baca dan liat hal-hal yang penuh kebencian di dunia nyata dan dunia mayaa. Karena di dalam rumah, keluarga gw gak punya hal-hal jahat sedikit pun di benak mereka. Terlalu naif, tapi… bersama mereka gw merasa sangat nyaman.
Dan emang… mereka adalah oksigen gw. Oksigen saat “polutan-polutan” menyerbu benak gw.

Saat gw menulis ini, gw baru baca berita…
Ada masa suatu aksi berdoa agar India diserang virus Korona…
Ada berita tentang ibu-ibu sosialita yang pamer belanjaannya (yang jelas2 membeli banyak sekali sembako dari supermarket).
Ada status seorang netizen yang bilang “Inilah tanda mengapa wanita harus menggunakan cadar/burqa.”
Ada tablig akbar “Syiah lebih berbahaya dari virus Korona.”
Ada aneka persepsi”Oh pemerintah lambat luar biasa.”
Ada yang antipati “Cih, pasti kebijakan ini cuma untuk cari muka.”
Ada caci maki “Hish, Cina memang cuman menolong negara-negara Syiah dan Kristen… komunis!”
Masih ada berita “Banyak yang memakai sanitizer di tempat publik untuk isi ulang.”

In short:
Bahkan di saat yang genting, rupanya ada… rupanya banyak… yang masih sempat membenci.

Padahal ini wabah karena virus loh, makhluk super kweciiiiil yang bisa menyerang siapa saja.
Apapun agama kita…
Apapun suku kita…
dan karena tidak mudah dideteksi, maka siapapun bisa terserang. Bisa saja keluarga kita.
Bisa saja diri kita sendiri.
Dan jika kita yang dapat “jackpot” tersebut, tentu kita ingin mendapat banyak dukungan. Ingin mendapat banyak pertolongan. DARI SIAPAPUN.
Secara logika, bukankah seharusnya kita peduli untuk melakukan hal serupa pada sesama? Saling dukung… saling tenggang rasa… tepa salira kalau kata buku PPKN jaman SD dulu.

Gw pernah membaca, saat ketika manusia paling jujur adalah ketika mereka ada di titik kritis, ketika mereka menduga bahwa hari akhirnya semakin dekat.
Jika wabah ini adalah titik kritis, dan jika gw merujuk kutipan tersebut…. maka apakah watak kita sebenarnya memang egois? Memang mau menang sendiri?

Ah, ya… gw pernah bilang, secara default manusia emang egois, oleh karena itu kalau di angkot yang hampir penuh,  kita yang baru naik pasti disuruh duduk di paling pojok yang paling panas.
Kita egois. Oke! Mari kita telan kenyataan ini.
Tapi yang tidak disangka-sangka, kita kurang bisa me-manage sifat egois itu. Jadi yaaaa begitu saja~
Jangan-jangan sejak era Pithecanthropus Erectus ?

Kalau saja, kalau…. semua orang bisa seperti Mama, bisa dengan ringan berkata, “… jangan ambil hal yang bukan hak kita.”
Mungkin dunia akan sedikit lebih tenteram.

Eits… Mom, wait! You are wrong, in this cruel world… people think in another direction “Grab any kind of opportunity! No matter what!”

Oh iya lupa! Konon katanya, sebelum hari akhir…. yang tertinggal memang orang-orang yang jahat 🙂 Aha! kini kita punya penjelasannya!

Mungkin memang banyak orang yang lebih memilih untuk survive hingga akhir apapun taruhannya. COVID19 memang mengguncang dunia, merubah banyak hal, kecuali satu: sifat serakah manusia.

Sedih…
Sayangnya, kenyataannya begitu.
Is it time to farewell with solidarity and humanity? Gak tau, gw sih masih punya harapan (dan doa) untuk itu. Kalau kamu?