Pulih: Karena trauma itu ada dan nyata


Setelah sekian lama saya membiarkan blog dan podcast berdebu, saya kembali.
Beberapa minggu kebelakang, saya memang sedang tidak karuan, mentally.

Jika kalian melihat saya, orang yang sangat ceria, nothing to lose, selalu ketawa, menikmati hidup…. itu memang saya. Tapi di balik itu semua, saya juga manusia biasa. Punya masalah, punya hal-hal yang saya pilih untuk kubur dalam-dalam dan kalo perlu, gak usah dibuka-buka dan diinget-inget lagi deh. Belakangan, setelah banyak baca buku dan denger podcast, saya menyadari kalau jangan-jangan saya punya trauma. Dan itu menjawab begitu banyak hal “aneh” yang selama ini saya rasakan.

Saya menulis ini (atau saya bicara ini kalau kalian denger versi podcast) bukan untuk mengais-ngais belas kasihan atau simpati dari siapapun. Dengan berbagai warna-warni kehidupan, saya kuat dan bertahan sejauh ini ya. I am so damn cool! Saya berbicara ini karena mau share aja kalau permasalahan trauma atau kalau bahasa yang rada kerennya Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) itu nyata, dan mungkin dialami banyak banget orang. Tapi orang yang punya trauma ini gak ngerasa, atau gak mau tau karena itu terlalu mmmmm terlalu dark, dan sedih. Sedangkan orang-orang di sekitar si trauma gak punya persiapan apa-apa menghadapi hal-hal “ajaib” yang terjadi ketika si trauma ini tiba-tiba “meledak”, tiba-tiba triggered. Lalu akhirnya semua saling menjauh, saling sepi. Padahal, itu semua bisa diatasi. Dengan banyak kesabaran sih… banyaaaaaaak banget….
Seperti cerita saya kali ini.


Untuk yang belum tahu, saya ini walau anak mami banget, nget, nget, nget, tapi sesungguhnya saya ini anak papi banget. Sewaktu saya kecil, saya jauh lebih dekat dengan ayah saya dibandingkan Mama. Yah sama aja lah, biasanya kan anak perempuan kan memang lebih dekat dengan ayah ya. Father is always a daughter’s first love.
Sayangnya, ayah saya meninggal dunia saat saya baru menginjak SMP.

Saya nggak akan cerita detil mengenai wafatnya Beliau, tapi yang pasti Beliau sudah sakit cukup lama, dan salah satu penyebab Beliau meninggal dunia adalah jatuh.

Saya ingat betul, betul-betul ingat, saya bahkan tidak menangis sama sekali saat Beliau meninggal. Adik saya masih keciiiiiiiil sekali saat itu, dan Mama saya sedih setengah mati. Di pikiran saya saat itu “Kalo gw cengeng, kalo gw gak kuat, keluarga ini selesai. Siapa yang akan lap-in air mata Mama dan adik gw kalau gw sendiri sibuk peres sapu tangan sendiri.”

Gileeee, Emoooon…. sungguh Anda keren sekali! Saya pikir begitu. Saya pikir perkara di dunia persilatan kelar!
Dan jika kalian liat “Wah Emon itu gils ya, tangguh banget.” I am, dan itu Emon sejak h+1 jam ayah dikebumikan.

Tapi ada satu yang rupanya ikutan terkubur saat itu: Rasa percaya saya pada orang lain.


Singkat cerita, saya pun beranjak dewasa dan mulai tua ya ahahahahhahaa…
Emon terus menggila, saya gagal lebih banyak daripada saya berhasil, tapi tetap optimis dan ceria menatap masa depan. Jeng jeng jeeeeeeng!

Eits, tunggu dulu! Ada satu yang masih janggal. Saya enggan berteman dengan banyak orang.
Dulu mikirnya, karena saya memang introvert garis keras, karena saya malas dengan gosip-gosip tidak bermutu, dan sebagainya. Dan itu gak jelek-jelek amat, karena teman yang saya punya sudah pasti yang teruji dan terbukti paling top, berkualitas, dan tahan banting. Dan saya santai aja, everything seems normal lalalalalala.

Eh tapi tunggu-tunggu-tunggu… kenapa saya jomblo terus ya? Sebagai orang yang pernah di-kick dari grup mentoring, tentu saja saya bukan anggota tim Indonesia tanpa Pacaran. Saya sih bodo amat orang mau pacaran atau gak, tapi emang intimacy itu segitu pentingnya? Kalau butuh temen, kan ada temen yang lain, atau piara kucing… anjing… hamster…kura-kura…. banyak solusi.
Untuk bantuin ngerjain tugas, helooowww…. di era teknologi digital geneeee bisa keleeeus semua dicari di google.
Untuk apa sih?

Saya pikir saya mungkin terlalu mandiri, atau jangan-jangan…. aseksual?

Nah! Gak juga! Karena saya seperti remaja dan wanita ababil lainnya, pernah juga naksir-naksir orang. Saya menikmati proses berlari, mengejar, manarik, mengulur, apapun itu. MASALAHNYA, ketika kemudian objek telah terkunci lalu mendekat…. saya yang kabur, dengan kecepatan penuh.

Ini out of record ya, ada juga orang-orang bernasib malang yang kemudian bilang dengan cheesy-nya “Mon, gw tuh mau mengenal lo lebih dalam loh.” Baru mau kenal loh padahal.
Per-sekian-detik setelah itu, saya akan lari. Block kontak orang itu. Dan kalau aneka jimat bisa membuat orang itu mental dari sekitar saya, pasti saya pakai deh.

Saya tidak ingat betul alasan kenapa saya sejahat itu. Tapi setelah sekarang diingat-ingat lagi, dari dalam hati “Gak… gak boleh sayang banyak-banyak ke orang lain, nanti orang itu pergi.”

Bagi saya, lebih baik gak perlu kenal dekat dengan orang, daripada kemudian sedih kalau orang itu harus pergi.
If you can’t have it, or if you know that you will lose it, it is better to never have it.

Dan hari-hari pun berjalan seperti biasa, tanpa memperdulikan catatan kriminal yang telah saya torehkan di muka bumi.

Hingga suatu ketika negara api menyerang. Saya bertemu seseorang, di blog emonikova saya sering sebut dia “Mamas.” yes! Mamas favorit semua pembaca blog emonikova. Dia masih ada, dan kami masih bercengkrama. Hanya saja beberapa minggu lalu dia nyaris…. nyaris saja…. meninggalkan saya.
Dia sempat tidak sadarkan diri beberapa hari.

Dan kali ini saya seperti ditampar habis-habisan Tuhan.


Untuk yang belum tahu tentang Mamas, hmmmm… he is my best friend, super duper best friend.

Saya punya beberapa ekor sahabat, tapi Mamas ini spesial, karena dia sudah beberapa kali saya buat repot, dan masih cukup gigih untuk selalu ada. Oh… fyi, kami berbeda passport.

Mamas itu gimana ya? Orang yang sangat supel, easy going, tapi sulit untuk dikupas tuntas setajam sileeeet! ahahhahaha. Long story short, anehnya kami tuh bertahan untuk saling ngobrol dan tukar cerita hingga hari ini.
Lancar-lancar saja? tentu tidaaaaaak! Seperti biasanya, saya berperan jadi pemeran antagonis. Dia punya beberapa hal yang saya sebel, dan seiring dengan hubungan kami yang semakin akrab, saya jadikan itu jadi tameng.
“Aku tuh gak suka kamu gini…gini…gini…. kayaknya udahlah kita gak usah temenan lagi.”
Gileeee… kayak anak SD Inpres lagi maen bekel gak sih? childish banget!
Dan jawaban dia selalu saya “I am sorry, but calm first, I will reach you again.”

Terus begitu. Duh kok ini orang bebal banget ya.

Dia juga orang yang selalu minta kabar tentang Mama dan adik. Bahkan inget jadwal check up Mama yang saya sendiri aja sering lupa.
“How is your mom goin’? I remember she has her medcheck right? How is her leg now?”
Dan karena saya lemah dengan orang-orang yang bertanya tentang keluarga saya, maka tentu harus defensif dong! Iya dong! Maka tentu saya harus ketus “Kenapa lo harus tanya-tanya tentang keluarga guweeeeh!?”
Dan jawaban dia pasti cuman ketawa-ketawa dan “Ya gak apa-apa, emangnya salah?”

Pernah juga “Nanti kalau ke Indonesia, saya boleh ketemu Mama sama adik kamu ya?”

Pertanyaan yang mungkin bikin meleleh para wanita! Bikin baper! Tapi untuk saya, itu aroma bahaya.
Bahkan Mama dan adik saya sudah antusias loh karena mereka juga ingin kenalan langsung sama si Mamas-Mamas.
Tapi tentu saja, saya insecure ahahahhahahahaha….
Semua jurus sudah saya kerahkan “Duuuh buat apa sih?”, “Gak usah lah jauh, abis-abisin ongkos,” “Mau apa sih, di rumah tuh banyak kucing, nanti kamu alergi lah, batuk-batuk lah, perlu ke rumah sakit lagi. Duh repot!”

Mama saya sampai “Loh, mana? Katanya mau kenalan sama Mama?” Gak ada Maaaaaa…. gak usah ditunggu-tunggu lah.

Kejam gak? Saya baru sadar itu kejam sekarang.
Dan jawaban si Mamas brekele ini “Ok, but I will keep make time to meet them.”

Hingga akhirnya koronce datang. Saya yang tahu kalau international flight pasti stop hingga beberapa tahun kedepan, mulai PD “Oh ya udah, boleh kok. Orang rumah juga nanyain sih.”

Dalam hati “Lalalallalalala…. tapi pasti kamu gak mungkin mengayuh sampan bukhaaaaan…. syalalalalalalalalala.”
Dia yang udah mulai cerita-cerita tentang keluarga dia, saya cuek aja “Waaaah keren” tapi entah kenapa ada upaya defensif untuk lebih dekat lagi dengan orang ini dan seluruh hal di sekitarnya.

Lalu kemudian sebuah kecelakaan terjadi.


Beberapa minggu yang lalu, saya gelisah. Kayak merasa kok ada yang salah ya. Tiba-tiba gak mau makan, konsentrasi buyar. Apakah ini efek vaksin? Oh atau karena mau PMS kali ya? Perubahan iklim?
Gak paham, tapi yang pasti saya merasa ada yang gak beres dengan Mamas. So I tried to reach him. Dan gak ada balesan.

Karena sudah terlanjur goblok kan, saya sadar kalau saya tidak punya kontak orang-orang terdekat dia. Dan ingat, kami berbeda passport. Jadi tentu saja saya hanya terdiam, bingung, cemas, panik. Ini ada apa? Ada apa?

2 hari…. 3 hari…. seminggu…. 10 hari…. dua minggu… dua minggu lewat 2 hari

TING! Aha! Akhirnya ada balesan.

Dengan santainya dia bilang kalau dia harus bed-rest beberapa hari, tidak sadarkan diri beberapa hari, karena dia jatuh dan terkena benturan keras di kepala.
“But I am fine, hehehe”

Dan itu udah gak lucu sama sekali lagi. Semua jadi gelap….
Tiba-tiba saya ingat apa yang terjadi pada ayah, mereka ulang semua rentetan peristiwa yang ada, dan itu rasanya sakit banget.

Rupanya nangis histeris sendirian di pojokan itu gak kayak romantisasi nangis di pojokan sambil showeran. It hurts.
Rasanya gimana ya, mungkin perpaduan antara marah dan takut.
I don’t understand why I be angry, tapi yang pasti rupanya saya takut…. rupanya saya takut kehilangan Mamas keras kepala yang satu ini.

Saya yakin malam itu saya histeris, agak lupa sih…. tapi yang pasti manusia yang masih hidup itu cuma bilang “Hei, hei, it’s okay, I am fine, look I am fine.”

Rupanya selama ini, saya aja yang terlalu pengecut untuk menyayangi orang lain dengan cara yang seharusnya. I don’t want to lose this person. Dan rasa-rasanya, Tuhan bilang “Jadi gimana? Hah? Mau begini terus?”

Malam-malam selanjutnya tidak sedramatis yang kalian duga, karena mungkin HP Mamasnya udah hang karena dihujani aneka spam yang intinya cuman “Maaf.”

Dan jawaban dia selalu sama, “I understand, it’s okay. Just remember you are stronger than you think.”

Gengs, ini chessy dan geli banget sih, tapi…. gw mau pulih.


Udah sedih-sedihnya….
poin yang mau saya garis bawahi kali ini adalah, trauma itu ada. Orang yang memiliki trauma itu ada dan nyata, mungkin lebih banyak daripada yang kita kira. Mungkin orang-orang di sekitar kita yang gak pernah kita duga-duga. Akan ada saat orang itu terpuruk, layu, atau bahkan ada yang meledak. Wajar sih kalau kita yang gak tau apa-apa tiba-tiba kaget, lalu memilih pergi dan menjauh. Manusiawi…. daripada nanti kebawa-bawa kan ya.
Tapi rupanya, orang yang memilih untuk bertahan, tidak menyerah, dan terus bilang “Come on, it’s gonna be alright”, “You always have me” sangat menolong. Rupanya hal-hal kecil seperti itu bener-bener seperti plester untuk aneka luka gores. Dan seperti layiknya luka gores, beberapa luka akan terus membekas, tapi setidaknya luka itu bisa kering dan tidak sakit lagi. Dan jika luka itu di luar jangkauan tangan kita, kita butuh perawat yang sabar, ulet, dan cekatan untuk membantu mengobati luka-luka itu.

Semoga, kita menemukan perawat itu. Dan moga-moga perawat itu selalu sehat dan baik-baik saja.

Aamiin.

Catatan Akhir Ramadan


Ramadan tahun ini lagi-lagi masih kurang lengkap, karena lagi-lagi…. gara-gara pandemi… saya gagal kembali ke rumah. Untuk membuat saya terdistraksi, Allah menyibukan saya dengan komentar reviewer yang pedas, sepedas keripik Mak Icih level 100. Mungkin kalau kalian bukan peneliti, kalian tidak tahu betapa getirnya mendapat kritik reviewer. Dan kritik itu harus dibaca berkali-kali karena kalau kita mau karya kita publish, kita harus membuat komentar detil poin per poin. Membaca hal menyakitkan layiknya berzikir itu: Sakyiiiiiit!

Ramadan tahun ini, yang sulit bukan menahan lapar dan dahaga, tapi emosi yang naik dan turun.

Jangan tanya khatam Quran atau tidak, tarawih saja bolong-bolong.
Sahur saja tidak pernah, jadi modalnya Cuma minuman ion yang bisa mengganti ion tubuh dan kulit bening seperti adek-adek JKT48.
Jeleknya lagi, alih-alih ibadah yang khusyu’, kalau sudah capek saya malah marathon nonton drakor. Dari Vincenzo, Navillera, sampai Mouse. Gila! Yang kayak saya-saya gini nih yang bisa bikin drakor jadi “haram.” Bukan drakornya yang salah, saya yang dodol dan terlalu mudah luluh lantak dengan pesona Oppa Vin dan termakan penasaran gara-gara oppa Jung Ba-Reum. Tersesat oh tersesaaaaat~~~ astagfirullah!

Tapi dua minggu terakhir, saya bertekad “Gak bisa gini, Mon. Lo harus bisa merevisi sesuatu dari ibadah lo selain revisi paper lo.”
Dipikir-pikir, revisi paper, walau itu penting banget untuk karir dan tanggung jawab saya. Tapi pun ditolak (walau jangan dong please), masih bisa submit di jurnal lain. Tapi ibadah di bulan Ramadan, waduuuh… belum tentu umur sampai Ramadan tahun depan.

Tapi karena waktu sudah mepet, impian saya tidak muluk-muluk: Saya mau dengar bacaan shalat saya sendiri. Terutama saat shalat di rumah. Saya penasaran.

Ramadan hari ke-17, nuzulul Quran. Untuk kalian yang non-Muslim, jadi Ramadan hari ke-17 itu adalah saat Al-Quran diwahyukan kepada Rasulullah SAW. Pokoknya sakral banget deh.
Nah, kebetulan! Sebagai orang yang belajar music, saya tentu punya voice recorder dan clip on. Saya rekam bacaan shalat tarawih saya.

Dan setelah saya dengar lagi…. rasanya mau nangis!
Bacaannya terkesan terburu-buru, dan ayat-ayat yang dipanjatkan mandek di Al-Ikhlas dan An-Naas. Untuk Allah itu baik loh, kalau tidak! Rasanya saya sudah dapat komentar lebih pedas daripada komentar reviewer untuk paper saya.

“Gila lo, Mon… masa buat Tuhan eh lo kayak gini.”

Maka malam-malam selanjutnya saya bertekad, pokoknya pakai ayat-ayat lain dalam Quran. Pokoknya tiap rakaat shalat harus beda bacaannya.

Kalian tahu apa yang terjadi? Saya baru ngeh kalau saya sudah banyak lupa dengan ayat-ayat pendek pada Quran.

Saya loh! Saya berani diadu perkara etos kerja dan etos belajar. Pagi saya paksa diri diri saya mengerjakan riset. Malam saya belajar Bahasa. Akhir pekan? Saya belajar musik, masak, menggambar, membantuk koreksi tugas mahasiswa secara online. Saya bahkan lari dan kejar medali event-event lari!
Eh, tapi saya lupa kalau perkara ibadah itu harus dikejar juga.
Duuuuh… ayah saya penghapal Al-Quran loh, saya juga hampir sempat hapal juz 30. Tapi kemudian menunda-nunda untuk menuntaskan hapalan, eh akhirnya sampai sekarang deh.
Terlena itu rupanya memang memabukan loh.

Arghhhh…. Malu banget.
karena saya tipe yang sangat keras pada diri sendiri, saya sempat down. Saya merasa kok saya tidak pintar dunia akhirat ya. Kenapa sih, kenapa Allah harus menciptakan seorang emon dengan begitu banyak kekurangan yang meh banget. Saya sampai dengar kursus bahasa Arab online hanya karena saya merasa tengsin dengan kualitas ibadah saya sendiri.

Kalian pernah gak sih, berkontemplasi…. Terus kalian tiba-tiba sampai pada suatu poin dimana kalian tuh malu dengan kompetensi kalian sendiri. Kayak “Hei, kemana aja gue selama ini.”

Proses kontemplasi belum kelar, eh dunia heboh dengan banyak hal.
Ada feminis julid lah, ada roket jatuh lah, ada bipang lah, ada tsunami pandemi lah, kebijakan mudik gak jelas, ada pemuka agama yang sudah bagus-bagus mengayom anak muda eh tiba-tiba dihujat karena dianggap penganut aliran Islam yang berbeda.
Yang lebih panas lagi!  konflik yang kemudian meledak lagi di Palestina. Sudahlah panas, eeeeh… di negeri Nirmala masih ada yang heboh saling menyalahkan ketika ada public figure yang belum atau tidak bersuara terkait kasus ini. Mereka itu siapaaaaa? Duta perdamaian PBB? Lempar lembing cap tarkam di media sosial tidak akan menyelesaikan dan membantu apa-apa. Ada loh fund raiser-fund raiser resmi yang mengumpulkan dana untuk proyek-proyek kemanusiaan. Sisihkan sedikit tabungan kita untuk itu. Semoga semua bisa tenang di hari Idul Fitri, semoga semua manusia di muka bumi ini bisa merasakan khidmatnya hari raya.

Jujur saja, saya pribadi kayak…. “Ini manusia pada ngapain sih?”
Apa sih yang ada di benak umat manusia yang ada di planet ini sampai kemudian sibuk menciptakan konflik  dan menghujat orang lain. Yang model-model begitu, kalau muslim, apa pernah denger bacaan shalatnya sendiri? Shalat yang hanya dilakukan untuk menggugurkan kewajiban, bukan sebagai media kontemplasi, meditasi, dan memperbaiki diri. Yang jangan-jangan, arti dan maknanya apa saja tidak paham. Yang jangan-jangan kalau ditanya “Tadi baca apa pas shalat?” terus blank “Hah apa ya?”

Manusia yang sibuk merusak hubungan dengan manusia lain dan makhluk lain itu sadar gak sih kalau jangan-jangan, yang perlu dihujat itu yaaaa diri kita sendiri.

Setidaknya bagi saya, saya merasa seperti tangkai cabe rawit di bungkus gorengan. Masih begitu remeh. Jangankan energi untuk meladeni orang lain. Untuk mengurusi kekurangan diri sendiri aja masih repot. Duh ini umat manusia tuh sedang apa? Mau apa?

Perkara Idul Fitri bertepatan dengan hari kenaikan Isa Al-Masih saja heboh.

Apa sih… apa yang ada di benak manusia-manusia ribet seperti itu?

Saya jarang berbicara hal-hal terkait agama karena itu bukan kompetensi saya. Ayah saya yang hapal Quran saja selalu bilang “Ayah hanya hapal, untuk memahami dan membuat tafsir, itu ilmunya lebih tinggi lagi.” Jikalau antum-antum yang bacaannya hanya Qulhu sama An-Naas, itupun makhraj-nya blunder, percayalah bahwa kompetensi Anda begitu minim sehingga tidak sepantasnya menjustifikasi perkara dunia dan akhirat orang lain. Jangankan yang berbeda akidah, pemahaman untuk kepercayaan sendiri saja masih bobrok.

Apa jangan-jangan mengoyok-oyok orang lain itu adalah manifestasi dari ketidakpiawaan dalam berilmu dan beragama.

Saya punya teori, kenapa ada orang yang sedikit-sedikit marah meminta dihargai Ketika berpuasa, marah-marah Ketika ada warung yang buka, mengamuk Ketika ada yang beda dengan mereka.

Karena jangan-jangan keteguhan jiwa dan iman mereka ya segitu saja, namun enggan mengakui dan enggan memperbaiki diri. Kalau jiwa dan pendirian seseorang teguh, secara logika, harusnya tidak mudah goncang diterpa ujian apapun. Mengapa orang lain harus repot dengan ke-cemen-an diri kita? Kenapa?

Tapi iya sih, lagi-lagi mengeksternalkan kesalahan memang nikmat rasanya. Menjadi tidak tahu diri, memang terasa begitu ringan dan menenangkan -.-

Saya kemudian punya pertanyaan yang baru. Apa sih yang salah dengan beragam perbedaan yang ada di hadapan kita?

Kita punya impian-impian yang besar, bahkan perdamaian di muka bumi. Bahkan mimpi untuk melihat keadilan di bumi Palestina. Sebuah impian yang luar biasa mulia.
Saya pun ingin melihat suatu Ketika, kita bisa tenang berkunjung ke sana. Seluruh umat baik muslim dan non muslim bisa ibadah tenang tanpa khawatir perkara apapun.

Tapi kita bahkan belum selesai menyelesaikan konflik pada diri kita sendiri, pada metode berpikir kita. Kita bahkan belum selesai berdamai dengan konflik yang ada di sekitar kita sendiri.
Kita bahkan belum selesai berdamai dengan aneka perbedaan yang ada.

Bisakah kita memecahkan soal limit trigonometri, jikalau perkara tambah-kurang-kali-bagi saja masih sering salah. Mampukah kita menyelesaikan persoalan-persoalan yang rumit dan kompleks, ketikda permasalahan remeh temeh saja kita gelagapan?

Bisakah? Waduh saya tidak tahu dan tidak punya kapasitas untuk menjawab hal tersebut.

Sebelum saya menutup podcast kali ini, kalian tahu keputusan saya berhijab sesungguhnya karena dukungan dan perkataan teman saya yang Nasrani? Begini ceritanya.

Saya sempat kesal luar biasa dengan beberapa oknum saudara seiman saya yang bagi saya, begitu merepotkan, ribet, dan bisa membuat frustasi.

Sedikit-sedikit kristenisasi… sedikit-sedikit kafir…. Sedikit-sedikit haram… sedikit-sedikit sunni, syiah. Woi, maen jauhan dikit. Mahzab dalam Islam aja ada macem-macem. Ilmu antum kalau masih baru sampai ngetik di google sebaiknya kalem saja lah. Bayangkan! Kesal gak sih, ada sekelompok orang yang begitu percaya diri dengan pengetahuan mereka yang cetek. Itu luar biasa loh, tingkat kepercayaan diri yang patut diacungi jempol.

Puncaknya, saya begitu marah karena saya yang dulu belum berhijab, berulang kali disindir dan dibilang “Duh kalau belum berhijab kan kasihan nanti ayahnya dimasukan ke neraka.”

Saya saat itu geram! Bagi saya “Lo boleh mencaci gue, tapi jangan sekali-kali hina orang tua gue.” Saya saat itu merasa, kalau saya busuk, brengsek, apapun itu… saya berani mempertanggungjawabkan itu, bahkan jika harus dipanggang di neraka sekali pun. Oke! Jika saya yang salah, maka saya yang harus bertanggung jawab. Main yang fair lah. Kalau tidak bisa beradu argumentasi, jangan permainkan psikologis seseorang dong.

Kesal dengan itu semua, dan merasa tidak “aman” untuk curhat dengan teman sesama Muslim, saya pun akhirnya menceritakan keluh kesah saya pada teman saya yang seorang Kristen. Kenapa bukan ke sesama Muslim?  Karena saat itu saya sempat berpikir…. siapa tahu saya sial, terus malah digosipin penodaan agama. Waduuuuh, masuk koran deh.

Dengan kondisi selabil itu, teman saya bisa saja loh… bisa saja… bilang “Yok Mon, gabung klub domba tersesat.” Tapi tidak kawan… tidak. Dengan bijaknya teman saya itu bilang

“Bukan agama lo yang salah. Bukan Tuhan lo yang salah. Yang salah adalah pemahaman beberapa orang terhadap seluruh konsep agama lo yang mulia.”

Saya ingat betul, itu jawaban paling bijak yang pernah saya dengar dan ingin saya dengar. Saya ingat betul dia juga tanya

“Mon, gw bisa liat loh, lo begitu bangga pada Tuhan lo, pada agama lo. Lo cuman keliatan sewotan aja, tapi hati lo penuh kasih. Semoga lo bisa menjalani keimanan lo dengan lebih baik ya. Islam butuh orang-orang seperti lo. Dunia, butuh orang seperti lo. Semoga Tuhan menuntun jalan lo ya.”

Hal itu cemen dan sederhana banget, tapi itu hal yang saya tunggu datang dari mulut temen-temen Rohis saya. Orang-orang yang malah sibuk mengurus metode berpikir saya, yang sering dibilang, terlalu liberal.

Saya kemudian berhijab sejak 25 Desember 2012. Dan kalau kalian tanya kenapa seorang Emon begitu ambisius untuk jadi peneliti yang Go internasional dan gak kalah sama tante Agnez-Mo… Itu karena saya ingin membuktikan apa yang teman saya bilang, kalau dunia ini butuh juga manusia saya seperti saya. Saya ingin sempat memperkenalkan diri pada dunia, sebagai wanita, sebagai Indonesia, sebagai Muslimah.

Gak tau kapan… tapi itu jalan ninja yang sudah kupilih AHAHHAHAHAHAHA.

Jika saja… jika saja saya terjebak pada pola pikir sempit yang terlalu berfokus pada perbedaan. Mungkin saya tidak pernah bertemu dengan teman saya tersebut. Mungkin… saya bukanlah emon yang setangguh ini.

Semoga kalian, lebih beruntung dari saya. Menemukan hal-hal ajaib yang mengubah kita jadi lebih baik.

Saya tante emon, selama hari raya Idul Fitri. Semoga kita bertemu dengan aneka cerita di lain hari.