Maaf, Bicara Makanan Halal dengan alasan ilmiah saja tidak cukup….


halal-060715

To the point saja, kita sudah tidak bisa bilang di depan orang Jepang atau non-muslim manapun bahwa kita tidak makan babi karena babi itu tidak sehat, kotor, bla..bla…bla… Alasan seperti itu hanya menunjukan dua hal: 1. Kalian TIDAK mengikuti perkembangan ilmu pengetahun terbaru, 2. Kalian mungkin BELUM pernah (dan pastinya males) berkunjung ke peternakan babi terutama yang ada di Jepang.

“Mon, gaya hidup lo udah hancur… lo kok bisa ngomong kayak gini?”

Mata saya terbuka lebar ketika saya berkunjung ke salah satu peternakan di kawasan Chiba, Jepang. Saya menyadari bahwa bahkan Babi di Jepang mandi lebih sering dibandingkan saya. Kandang mereka dibersihkan secara rutin, dan saat saya berkunjung ke pusar penelitian pertanian di Tsukuba, saya mengetahui  bahwa karena ilmuwan kini tahu masalah cacing pita dan aneka parasit lainnya dan mungkin aneka “threat” lainnya. Proses quality control-nya pun kini sudah sangat modern, dan please kawan… saya bisa menjamin, at least di Jepang si pork dsb ini layak dan sehat untuk dikonsumsi. Why? Am I say something wrong?

index.jpg

Babinya bersih dan lucu kan :’)

Selain itu, semakin saya belajar masak memasak dan pada akhirnya membaca buku “The Science of cooking”, masakan Jepang banyak yang memakai alkohol dalam proses penyajiannya, yaaaa karena itu untuk mematikan bakteri. Orang sini kan sering makan yang mentah-mentah including ikan. Hal serupa untuk masakan eropa, kok steak aja harus disiram wine atau aneka minuman beralkohol lainnya? Ya karena mereka banyak yang makan setengah mateng dagingnya… jadi alkohol itu membantu membunuh para parasit dan semacamnya yang mungkin masih boboks di situ. Logika yang sama ketika kenapa masakan timur tengah dan asia selatan kok rempahnya terlalu strong ya…. Karena mereka banyak mengkonsumsi mutton, daging kambing….! Kolestrol brow, nah untuk meminimalisir itu… maka dimasukanlah seluruh spices and herbs. Semacam itu.

Untuk meyakinkan apa yang telah saya baca, saya langsung menanyakan kepada dua orang sahabat saya yang notabenenya satu orang berlatar belakang dokter hewan dan satu lagi pentolan teknologi pangan.

Apa yang saya dapatkan…
Dari kubu dokter hewan “Mon, lo mending cuman diri lo yang mempertanyakan. Gw di depan professor-professor ahli hewan ditanya kenapa Muslim gak makan babi. Gue gak bisa jawab macem-macem. Yah ini mah perkara komitmen sama Islam aja lah. Lo udah milih jadi Muslim ya udah, manut”

Dari kubu teknologi pangan “Mon, gue… gue… gue suka banget wangi wine, dan gue rasanya mau banget nyicip. Please, wine itu secara kandungan gizi menyehatkan ya, Mon. Gue mau minta minum wine di surga nanti.”

Dan setahu saya, sake, arak, dsb dsb dsb… dalam dosis yang terbatas mereka memang menyehatkan dan kalau kalian berada di negara yang dingin, bisa untuk menghangatkan badan. Cuman ya, kan khamr ya… Allah mungkin tahu kita probably ketagihan, terus mabuk, hilang kesadaran, dan bisa bikin macem-macem yang mungkin tidak hanya membahayakan kita tapi juga orang lain.

Begitu pula daging,  kandungan protein daging Babi itu bagus loh. Sumber protein, jika Muslim boleh mengkonsumsi babi, saya yakin peternakan Babi akan lebih banyak daripada ternak sapi dan kambing, bahkan mungkin ayam.

Jadi jika kalian mau bilang “Iyaaaa… ini diharamkan karena tidak sehat.” Errrr…. Mungkin alasan itu sudah tidak mutu lagi. Sorry to hurt you, guys.

Atau jika mau berdalih “Kalau kebanyakan itu bisa berbahaya buat kesehatan” yah kalau itu sih, kita kebanyakan minum air putih juga bisa mati karena Hiponatraemia. So many ways to sick and die, gak perlu capek dengan minum khamr atau olahan daging babi.

Maka kembali pada kesimpulan teman-teman saya: It is a matter of COMMITMENT. Sudah memilih Muslim maka turuti aturan mainnya. Dan untuk saat ini mungkin ini alasan paling masuk akal yang bisa kita lempar ketika ada yang bertanya.

 Dari Sudut Pandang Ekonomi
“Ok, jadi mon… daging halal itu lebih murah dari yang non-halal” kata seorang teman yang pernah berusahan menjelaskan hal ini di depan saya. Dia lupa, saya ini seorang: ekonom :’)

Kalau minuman, oke lah ya. Minuman beralkohol kan prosesnya lebih panjang dibandingkan yang non-alkohol. Jadi well… make sense.

Tapi daging?
Where? Where you bought your meat? Ya daging ayam halal memang lebih murah daripada yang non-halal, di INDONESIA. Kenapa? Karena supplynya lebih banyak. Ini kan perkara kasus supply demand aja. Di negara Muslim, semua slaughterhouse akan menyembelih hewannya dengan cara yang “halal” sedangkan yang non-halal mungkin dia punya metode pemotongan yang lebih cepat, mesin jagal atau bahkan yang kejam seperti di listrik dsb, itu akan butuh capital cost yang lebih mahal. Nah, iki bener iki!

Tapi di negara non-moslim? Paling banter adalah harganya sama dengan harga daging non-halal. Dengan metode pembuktian terbalik menggunakan cara berpikir pada paragraph sebelumnya. Harga yang sama dengan daging non-halal ini bisa terjadi jika slaughterhouse di suatu negara menyadari bahwa daging halal itu bisa dikonsumsi oleh semua orang, bukan hanya Moslim. Dan ini yang menjadi celah “bisnis” untuk negara-negara seperti Brazil dan Australia misalnya. Jika kalian berada di luar negeri, pasti bisa menemukan daging halal yang diimpor dari negara-negara non-Muslim.

Untuk kesehatan daging sendiri, dari yang saya baca dari berbagai jurnal dan buku, untuk negara Eropa yang semakin parno dengan kesehatan makanan dan hajat hidup para hewan, mereka juga secara prinsip cara memotongnya sama dengan cara memotong hewan ala kita. Bedanya hanya, tidak membaca Bismillah di awal menyembelihan. Ini yang membuat daging mereka jadi tidak halal untuk kita. Namun untuk sisi kesehatan, sama daging di Indonesia sih lebih sehat daging mereka ya HAHAHAHAHHAA. Ketika mereka mulai sadar bahwa mereka cuman tinggal menambah “Bismillah”, maka saya yakin beberapa tahun kedepan pasar daging dan makanan halal di dunia akan dikuasai yaaaaah setidaknya oleh negara-negara Eropa. Yes! Europe… plus Jepang lah karena mereka kan bersih banget.

Meanwhile in Indonesia, yang lebih sibuk mikir pilkada daripada memikirkan konstelasi global. Untuk lead pasar makanan halal aja kita belum mampu. Kenapa? Karena kalau kata teman saya “Kita itu lupa, Mon…. halal itu gak cukup, tapi harus halalan tayyiban. Kualitasnya juga harus baik”

Ternak kita masih belum aman dari aneka penyakit sih, belum lagi perlakuan off-farm yang seadanya :’) belum lagi lambung kita yang sudah terbiasa dengan pewarna tekstil dan borax plus MSG dalam jumlah tinggi, rasa-rasanya tidak terlalu peduli dengan kualitas makanan yang masuk ke tubuh kita. Untuk dikonsumsi oleh Muslim, daging kita cukup ok-lah yaaa daripada lapar. Namun untuk merebut hati pasar internasional, sayangnya belum.

Mengapa saya harus menjelaskan hal ini, karena jika kalian kelak ketemu bule atau siapapun yang apesnya lebih pintar dari kalian dan bertanya “Kenapa ini haram?” lalu jawaban kalian “Oh iya, karena gak sehat”, they will turn the table and say “Lha, emang makanan di Indonesia sehat?”

Lalu Apa Alasan yang Tepat?

Dengan ilmu agama saya yang cetek, saya tidak tahu. Saya dan teman-teman saya pun beda pendapat masalah ini. Yang pasti kami hanya sepakat, rule is a rule…

Mungkin Allah sengaja mengetes komitmen kita.

Sedangkan saya, hmmm…. Untuk khamr, saya memahaminya sebagai upaya preventif. Supaya otak kita tetap waras ketika menghadapi segala sesuatu. Walau kemudian masih bisa ditimpal juga dengan “Lah kalo wine dipake buat ngerendem daging kan gak akan bikin mabok” Iya sih… makin enak pula kan ya HAHAHAHAHA. Tapi yaaa, wis lah, rule is rule.

Sedangkan untuk daging… entahlah. Ini pun susah mencari celahnya.
Semakin saya belajar di bidang lingkungan hidup, saya memahaminya sebagai the way Allah menjaga keseimbangan ekosistem. Tanpa rule ini, eksploitasi terhadap Babi mungkin akan over (karena mereka juga bagus buat penelitian kedokteran), konsumsi daging juga pasti akan meningkat, peternakan akan semakin banyak seiring dengan meningkatnya deman ternak, itu berarti rumput dan tumbuhan lainnya juga akan over exploited karena herbivor-nya pun semakin banyak.

Yah, tapi masa selebay itu sih? Iya sih… walau saya percaya kita ini sebagai manusia by default memang “rakus” jadi tanpa aneka rule kita akan maen lahap semua sumber daya di muka bumi ini. Wong ada rule aja kita masih ngerusak planet ini kok.

Mungkin dengan aturan dari Allah “Ingatlah Aku sebelum makan dan minum” melalui mekanisme halal-haram ini, kita jadi bisa sedikit mengerem nafsu konsumtif kita. Mungkin.

Namun, wallahu’alam bi shawab

Ah, namun lagi-lagi…. Yang paling utama adalah ini masalah komitmen kita pada Yang Di atas.

If I never come back, the reason is….


Jika saya harus memilih Indonesia dengan seluruh hidup saya, saya akan memilih Indonesia. I love Indonesia, the art, the culture, the beauty, everything…
Namun, jika kemudian saya tidak kembali ke tanah air, itu bukan berarti saya tidak cinta dengan negeri ini. Tapi lebih karena saya terlalu kecewa dengan beberapa hal. Saya tidak marah kepada Indonesia, again, I really love Indonesia. Walau banyak hal “meh” yang mesti diperbaiki, but who will able to forget the beauty of Indonesia? Namun, selalu ada yang membuat saya geram. Yang membuat saya terlalu marah sebagai seseorang yang terlalu fanatik mencintai negeri saya sendiri. And hei! Indonesian people, here… here… I told you why! Dan saya percaya ada banyak orang-orang yang sama seperti saya… mungkin orang-orang dengan kualitas intelektual yang lebih baik dibandingkan saya, dan jika mereka sepemikiran dengan saya, then Boom! You’ll lose tones of awesome people, Indonesia. You will!

Politik di Institusi yang seharusnya netral: A big no!

Saya percaya, bagi beberapa orang setelah membaca tulisan ini akan bilang “Marissa, you will enter the hell in no time, in Jahannam maybe” oh good, I don’t care! But I need to say this, to show you that there always a clear border between religion, education, and f***in’ politics.

Saya mendengar selentingan bahwa di salah satu kampus di Indonesia, terdapat soal ujian agama “Sebagai Muslim kita harus memilih pemimpin yang?” konon katanya jika Anda memilih “non-muslim” maka nilai Anda langsung akan drop dan terancam tidak lulus. Saya pikir ini hanya hoax. Lagipula, masa’ sih? Jadi saya pikir, yo wis lah… gosip.

Namun, lama kelamaan saya jengah juga ketika beberapa dosen yang luar biasa saya yakini intelektualitasnya, saya hormati luar biasa, saya kagumi dengan sepenuh hati, mulai berkoar masalah politik. Yang lebih saya sayangkan “Ini bukan politik, ini masalah religius, masalah agama, masalah membela Tuhan” Tuhan di posisi yang Mahaagung, maka Dia tidak perlu di bela, kita yang butuh dilindungi Tuhan, salah satunya dilindungi dari pemikiran yang sempit.

Saya kecewa karena sebagai muslim saya merasa Islam itu begitu mulia, maka saya tidak ingin masalah agama dioplos dengan politik. Saya, sebagai pecinta ilmu pengetahuan meyakini bahwa ilmu itu susah! Perlu hati yang tenang, perlu pemikiran yang jernih, ketika kemudian itu di”cemari” dengan something little things called politic… which is, I should tell you, not even your business! Except you are a political student of course…
then how you can absorb all of those precious knowledge? How? tell me how? Belajar itu tidak semudah menghapal judul FTV! Butuh konsentrasi luar biasa untuk itu. Bismillah dan sekadar shalat komplit 5 waktu plus sunnah tidak cukup untuk meyakinkan Allah untuk menjadikan kalian cerdas dan pintar dan berilmu. Nope! you need a constant commitment to keep studying. To stay away from every unimportant stuff in your life.

Pada buku Sanshiro, Natsume Soseki menjelaskan mengenai kehidupan mahasiswa di era restorasi meiji. Di bawah kondisi politik yang kental, para mahasiswa tidak serta merta concern pada kondisi perpolitikan mereka, begitu pula para professor mereka. Mereka lebih concern dalam menyerap seluruh pengetahuan barat dan kemudian menkonversi itu semua kedalam konsep yang lebih “Japaniyah.” Karena itu “jihad” para akademisi! Dan hingga hari ini, universitas adalah tempat bersih dari politik. Professor here doing research, updating their publication, thinking about gaining a nobel prize after their retire. Mahasiswa di sini, jika perlu menginap seharian di lab untuk menyelesaikan penelitan mereka. Tidak ada poster selain yang terkait dengan hal-hal ilmiah atau ehmmm free concert. Laah, kita apa? Politik juga gitu-gitu aja, ekonomi segitu-segitu aja, IPTEK yaaaa tidak ada yang signifikan banget.

Saya sampai tertawa getir ketika ada sebuah pertanyaan, “Eh, jadi kalau mau jadi petinggi kampus X salah satu syaratnya harus jadi simpatisan partai ABC ya?” can you believe that? Itu hal yang maha memalukan ketika ada pertanyaan seperti itu menodai suatu institusi pendidikan.

Listen to me, siapa pun presiden Indonesia, siapapun gubernur Jawa Barat, siapapun gubernur Jakarta, siapapun penjaga makam mbah priok, siapapun itu… Indonesia gak akan berubah jika perdebatan kita sempit dan hanya sekitar itu-itu aja. Ya! Bukankah Allah tidak akan mengubah suatu kaum jika mereka tidak mengubah dirinya sendiri. KAUM, kaum itu a big group of people…. bukan perseorangan. Jadi saya merasa kok konyol sih harus ribut-ribut dan heboh masalah pilkada, dsb?
Ketika negara-negara G20 sudah berusaha untuk membuat 0 emission growth in 2030, kita masih repot mikir pilkada, KPU, bu mega, dan segala tetek bengek yang tidak jelas faedahnya.

So, please stop!

Masjid pun mulai berpolitik….

Sahabat saya pun ada yang melapor bahwa ceramah di sekitar apartementnya pun tidak menyejukan lagi. Ya Allah, untung yang Allah itu baik… dan untungnya Allah mendelegasikan beberapa tugas kepada Malaikat yang tidak punya hawa nafsu. Jika Allah mendelegasikan tugas mengatur alam semesta kepada Marissa Malahayati misalnya, “Wah… apa ini? Loh kok sekarang parpol jadi kualifikasi masuk surga, tenggelamkan!” maka niscaya planet bumi akan lebih dipenuhi kucing dibandingkan manusia.
Maka bersyukur deh Allah tuh baaaaaaiiiiiiiiikkkkk setengah mati…
Dan saya percaya teman-teman saya yang beragama lain pun sepakat “Iya sih, kayaknya kualifikasi dekat dengan Tuhan itu bukan pandangan politik deh”
Sepakat kan?

Then stop… dunia itu semakin complicated, ketika saya ke masjid saya ingin mendengar suara adzan, Quran yang mendayu, nasehat yang membangun… kalau bisa yang membuat saya menjadi lebih “adem” dan “bijak” setelah saya melangkahkan kaki keluar masjid.

Saya rasa ulama juga harus lebih bijaksana… tidak perlu terlalu “nyeleb” lah.
Saya sangat menghargai ulama, kyai, dsb. Tapi saya merasa kok jadi off-site ya membuat mereka menjadi mata tombak untuk politik?

Logika saya tuh pemuka agama itu justru harus jadi pihak yang paling netral sehingga bisa jadi tempat kita meminta pendapat tanpa perlu ada sorot kamera.
Something like that…

Sedikit tentang pilkada…

Pertemanan di negeri kita kita diuji oleh harta, tahta, pilkada.
Okay, kalian mau dengar pendapat saya?

Listen, both of the candidate are too crazy with the “position”!
Dua-duanya punya kelemahan dan kelebihan.
Yang satu… mmm…. while I environmental economist, saya merasa reklamasi itu somehow kurang tepat. Selalu ada cara yang lebih bijaksana untuk memperbaiki alam dan udah laaah pembangunan jangan diembat semua sama Jakarta.
Yang satu, DP rumah 0% saja konsepnya tidak jelas… menghalalkan segala cara untuk meraih simpati warga. Aduh apa banget deh.
So yeah, are you blind guys? Both are not perfect, maybe asholes.
But now you need to choose who is better between those candidates.
you need to choose an asholes you can work with better.

kriterianya? Yaaa itu masing-masing pribadi kalian yang menentukan.
Kalau kamu punya alergi dengan durian kamu tidak bisa memaksa semua orang untuk tidak makan durian.
Yo wis lah, kalau menurut kamu keyakinan, suku, dsb itu kriteria utama, yaaa udah pilih yang sesuai… tidak perlu nyinyir dengan yang tidak mempersoalkan itu.

kan bisa baik-baik “Mmm, bro gw berbeda pendapat deh kayaknya. Kayaknya X lebih ok”
“Iya ya, Bro? Waaah udah masalah hati sih jadi susah ahhahahha”
Lalu marilah nikmati es kelapa muda bersama-sama… jangan lupa dengan mie ayam pangsit. Abang tukang es dan mie ayam pun kecipratan rezeki. Itu lebih signifikan efeknya.
Hidup pun lebih mudah dan sepertinya lebih damai.
Tidak hanya untuk pilkada, tapi untuk next political leap in our country.

In short….

I want Indonesia back to the previous humble country with a sensible humor.
Dan jujur ketika saya di sini, ngobrol dengan teman-teman saya di kantor, saya lelah menjawab “Marissa-san, what’s wrong with your country?”
And I have no answer for that.

Saya pernah membaca “Banyak orang yang pintar, bertalenta, dan akademisi kini enggan berurusan dengan politik…”
Jika sekolah-sekolah
universitas
bahkan masjid-masjid  sudah dipenuhi politik
maka masihkah ada tempat untuk mereka si orang yang pintar, bertalenta, dan para akademisi tersebut di tanah air yang pastinya sangat mereka cintai.

Padahal hanya ada satu kesalahan mereka, enggan berurusan dengan hal-hal yang bukan kemampuan dan keahlian mereka.

Saya meyakini… pasti di hati mereka terkesiap:
If I never come back, that’s not because I am not love this country.
But maybe because there is no place for me…

Indonesian, seriously… fix your self!

 

Sekilas kritik untuk Negeri “Cuitan”


Saya teringat salah satu tuitan Sudjiwo Tedjo (I should tell I really like his point of view)

13398994_1186105991433852_1525162985_n

“Lama-lama orang malas romantis, karena takut disebut galau. Malas peduli, takut disebut kepo. Malas mendetail, takut dibilang rempong.
Malas berpendapat, takut dibilang curhat. Malas mengubah point-of-view saat debat, takut dibilang labil”

Mungkin jika tuitan itu ditulis di masa-masa ini mungkin akan ada tambahan “Lama-lama malas mengkaji agama, karena takut dianggap menistakan agama. Lama-lama malas berpolitik karena takut masuk penjara” terus begitu hingga ladang gandum dipenuhi coklat.

Guys! Wake up… kok kita mulai memperumit segala aspek dalam kehidupan kita sih, segala aspek yang yaaaa kita-kita sendiri ini yang bikin. Bikin masalah sendiri, mengkritik sendiri, marah sendiri, loh… maunya apa?

Ratusan kilometer dari tanah air, saya merasa mengapa Indonesia kok “mumet”. Saya ingat sahabat saya sampai bilang “Ini sih, Mon…mungkin manusianya yang harus diganti.”
Maaf saja tapi menurut saya seluruh kasus yang sedang hangat di tanah air itu sebenarnya “Meh!”

Oke start from kasus penistaan agama dari pak Ahok. Sebagai muslim, well… saya harus bilang Ahok salah. Sungguh kasus keselimpet lidah Beliau sangat fatal. Apalagi di Indonesia. Loh Indonesia loh, beda “mahzab” atau “partai” antar dua keluaga saja dua sejoli bisa batal nikah kok. lha, ini bawa Al-Quran. yooo blas! Beliau salah, namun saya pribadi merasa yang terjadi kepada Beliau selanjutnya juga jadi tidak fair. Sudah diproses secara hukum kok, masih di demo, masih di caci, lah… kalau kita sibuk menyudutkan dan mengulang-ulang kesalahan Beliau, apakah itu membuat kita menjadi lebih baik dibandingkan Beliau?

Dan, mbok ya kalau tahu lawan itu cerdas maka berperanglah dengan taktik yang cerdas. Lhaaa… ini kesaksiannya cuman nonton youtube, buat laporan pun kompakan, piye? Salah pun kompakan. Lha… perang itu bukan hanya modal bismillah dan Allahuakbar, harus ada taktik, harus ada pemikiran, harus pengkajian… semua harus dilihat secara kaffah dan menyeluruh. Masih pakai demo segala. Ini logikanya dimana? Ya percayalah kepada para penegak hukum. Coba-coba-coba latihan….latihan HUSNUDZAN alias berbaik sangka.

Okay… mari kita biarkan penegak hukum bekerja secara optimal.
Eh tunggu! Memangnya bisa?

Ada yang bicara sedikit menyinggung agama, langsung dilaporkan ke polisi.. pasalnya tidak tanggung-tanggung “penistaan agama”
Ada yang update status kritik sedikit, itu juga dilaporkan ke polisi
Ada mantan pejabat iseng sedikit ngetwit, juga heboh dikomentari
Bahkan uang rupiah yang sudah didesain seindah mungkin oleh tim, dilaporkan ke polisi juga. Itu cetaknya aja udah susah. Masih baik hati BI mau mengomentari hal ini, kalau saya jadi gubernur BI sih “Yo wis lah… biarin aja mereka misuh-misuh ndak jelas.” mending ngurus harga cabe yang jelas-jelas lebih krusial dan terang inti masalahnya.

Besok-besok nasi basi pun jangan-jangan sampai ke polisi “Ini kasus penindasan rakyat oleh perusahaan rice cooker”
Besok-besok, saya yang sering salah melafakan ش, ص, ز,ذ juga akan dilaporkan ke Polres Bogor karena kasus penistaan agama “Ini loh, mbak Marissa, baca Quran-nya salah… bahasa Arab itu salah makhraj salah arti, penistaan agamaaaaaaaaa, digoreng di nerakaaaaaaa” Arggghhhhhhhh~~~
Lha, ini polisinya pun jadi capek fisik dan psikologis.
Orang-orang yang cerdas, pintar, tapi malas ribet juga akhirnya jadi mulai searching “How to change your nationality”, mulai searching biaya visa, join global online dating, dan tentunya tiket pesawat.

Mungkin saya terlalu “cuek”, terlalu liberal, terlalu cetek, apapun lah yang ingin kalian bilang. Tapi di tengah konstelasi global, ketika orang-orang bersaing untuk bekerja lintas batas. Kita? Kita masih sibuk di masalah spekulasi cuitan dan saling salah menyalahkan dibandingkan fokus menyelesaikan masalah itu sendiri. Kalian tahu gak itu seperti apa? Seperti dalam perlombaan lari, peluit sudah ditiup, yang lain sudah lari… kita? Kita masih sibuk menyalahkan sepatu “Ini gara-gara sepatunya nih, terlalu murah! Terus stripnya terlalu terang jadi bikin silau, yang jahit sepatunya pasti ingin saya celaka. Siapa? Siapa? Siapa penjahit sepatunya?
Ya Allah…

Saya selalu bilang orang Indonesia itu luar biasa baik hatinya. Dimana lagi di sudut dunia orang bisa selalu melempar senyum dan tawa even to the stranger. Cuma di Indonesia! Tapi ya kita sering kali mudah tersulut…mudah percaya… mudah terprovokasi…
Sering banget sih.

Fenomena ini kan sudah terjadi sejak lama sebenarnya. Beberapa dari kita seringkali malas membaca detil berita, tidak mencari tahu lebih dalam dari informasi yang kita dapat dari grup Whatsapp, LINE, dsb… lalu Voila! Share ke seluruh social media yang ada. Awalnya sih range kecil-kecilan, lalu lama-lama ketagihan, dan jadi ketagihan nasional… dan Bom! Sekarang masalahnya jadi besar kan? Munculah Pak Buniyani yang diikuti kasus-kasus lainnya yang sebenarnya ya gitu-gitu aja.

Saya pun heran mengapa media juga terkadang mengambi “cuitan” di sosial media sebagai literature review. Jurnal aja, jurnal akademik… kalau tidak terakreditasi masih harus diuji lagi kebenarannya, lha iki kutipan dari social media, yo ngawur ndak karuan wis. Itu sangat tidak ilmiah.

Aduh jadi capek marah-marahnya. Tapi serius, kenapa sih… kenapa kita begitu usil mengkritisi tanpa memberi solusi, mencaci dan menyalahkan tanpa saling mengingatkan. Kerajaan di Nusantara itu mayoritas bubar karena perang saudara, lha mbok ya sesekali belajar dari sejarah. Kalau tidak setuju dengan orang lain kan bisa “Witsss…. sebentar cuy! Kita agak berbeda perspektif nih bla bla bla”paparkan, jelaskan, diskusikan… ra usah misuh-misuh dikit-dikit twit, dikit-dikit curhat di socmed, dikit-dikit lapor polisi. Kan lebih sejuk.

Lalu harus bagaimana?
Mungkin sesekali kita harus matikan handphone dan TV gak usah lama-lama, setiap weekend aja, take your backpack and umbrella… dan lakukan semua hobi kalian selain liat handphone.
Coba cafe baru bareng sahabat kalian,
cuci baju,
tanam cabe di pekarangan rumah atau kacang ijo di kapas dan seperti layaknya bocah lugu yang antusias menunggu mereka tumbuh, atas ketawa konyol sendiri karena mereka secara misterius gagal tumbuh.
Baca buku yang benar-benar kalian mau baca
Bantu mama nyapu rumah
Shopping… atau berburu barang vintage
Journaling
Gangguin keponakan atau anak orang yang masih cilik dan lucu-lucunya tanpa perlu sibuk ambil foto dan upload ke social media
Ke ATM, transfer some money ke yayasan
Surprise visit ke rumah kalau kalian jauh dari rumah, plus bawa oleh-oleh yang mereka suka.
There will be lots of things you can do dalam waktu 24 jam tanpa melihat TV dan handphone sementara. Bukan berarti TV dan handphone itu jelek ya, tapi terkadang kita hanya butuh sedikit detox sih dalam hidup. Go outside and see everything from another perspective.

Jalan dan ngobrol bareng lah sama orang yang wawasannya luas dan menyenangkan, berdebat secara sehat… lalu ketawa bareng. Belajar untuk saling menghargai pendapat bahwa beda pendapat itu oke loh, menambah alternatif sudut pandang, dan itu membijaksanakan kita karena kita jadi “ngeh” oh iya yaaa pandangan gw belum tentu sama dengan orang lain.

Dan yang lebih penting lagi… sebelum klak klik submit atau share berita/komen/opini/foto/dsb. Baca dan liat lagi, kenceng-kenceng kalau perlu… pikir dan renungkan dengan otak dan nurani yang udah Tuhan kasih kepada kita apakah hal tersebut baik untuk disampaikan atau tidak. Kalau rupanya jelek, yaaaaa udah… delete lagi. Seberapa penting sih memang “eksis” di dunia maya? Menurut saya sih itu sesuatu yang semu dan gak penting.
Lagipula ada hadist yang berbunyi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Mengutip kata Alm. Gus Dur “Gitu aja kok repot” 🙂 iya sih pilihannya kan cuman dua diam atau say something good.

 

Super Short Trip to Hiroshima (and a small tips if you plan to go there ;) )


Setelah di timpuk aneka PR (dan masih menumpuk) karena dikejar deadline submit jurnal Maret ini, dengan gegap gempita seorang Marissa memutuskan untuk kabur ke Hiroshima. Jumat 23 Desember adalah hari libur nasional di Jepang, jadi yo wis lah… 1-2 hari juga ndak apa yang penting libuuuur. Karena niatnya memang “kabur” jadi yaaa ndak bilang-bilang sama Sensei kalau akan ciao ke Hiroshima. Walhasil Beliau dengan ceria dan senyumnya yang manis langsung memberikan “hadiah” berupa PR untuk programming dan research progress. Dengan senyum manis tersungging, kami mah ngangguk-ngangguk aja, sambil mikir “Waduuh harus gotong laptop nih”

Namun memang ya bocah-bocah durhaka. Saya sih bawa laptop, tapi alhamdulillah tidak disentuh. Saya kira saya yang paling malas dan durhaka dan akan diazab Allah, rupanya “sohib-sohib” saya di lab pun serupa! Mereka malah sudah menggotong peralatan ski dan kelupaan membawa laptop mereka :’D Alhamdulillah, di tempat tujuan mereka gak bisa ski karena badai MWAHAHAHAHAHAHA. Allah juga tahu siapa yang dosanya lebih serius perihal ini.
Lucu sih karena pada akhirnya malah dapat LINE dari para mahasiswa durhaka “Marissa, how about your homework? Wait! What homework btw?” hahhaa lha piye…
absurb lah my PhD life.

Hiroshima: A Recommendation if you are a backpacker with super limited time!
Saya sudah lelah ditanya “Mon, kira-kira di Jepang harus liat apa ya? Kalau ke tempat X berapa lama? Terus bayar berapa? Di Tokyo hotel yang murah apa?”
Ada beberapa hal yang salah kaprah di sini:

1. Saya jarang jalan-jalan… Kan kalian tahu saya ini “cat person” setengah mati. Keluar rumah? Capek? Lha… di rumah anget dan banyak makanan yaaaa ngelungker di balik selimut
2. Kalau kalian tanya Tokyo, saya sendiri saja…. yang 2 tahun di Tokyo masih menahan tangis kalau liat harga hotel. Akomodasi di Tokyo itu mahaaaaaaaaaal.

Tapi kali ini saya tahu,  rekomendasi jika kalian mau backpacker, hanya 1-2 hari, dan budget agak sedikit terengah. I recommend: HIROSHIMA.
Alasannya:
1. Main attractionnya tidak saling berjauhan, jadi kalau hanya ingin explore main attractions… pasti sempat lah.
2. Penginapan dan transportation cost tidak terlalu mahal.

Minusnya, yaaaa jauh dari Tokyo. Kalian bisa naik overnight bus dari Tokyo (12 jam) , naik shinkansen (sekitar 3 jam), atau take a flight ke fukuoka airport lalu lanjut dengan kereta atau bus. Kyoto juga super recommended sih, tapi ketika musim libur datang saya merasa Kyoto jadi terlalu ramai.

Dari Hiroshima station, kalian bisa langsung jalan kaki dan berjalan ke area kuil salah satunya Hiroshima Toshogu Shrine yang letaknya di Futaba Mt. Nah satu bukit ini ke atas itu kompleks kuil, jadi jika kalian kuat nanjak, mendaki gunung melewati lembah, kalian bisa melihat banyak spots di sini. One of my favorite adalah Kinko Inari Shrine, karena jalan menuju kesana menurut saya “camera-able” karena torii dengan warna merah menyala itu nendang banget di kamera

Image and video hosting by TinyPic

Gate ke Toshogu Shrine

Image and video hosting by TinyPic

Jalan menuju Kinko Inari Shrine

Image and video hosting by TinyPic

Pemandangan selama mendaki gunung melewati lembah

Dari situ, harus ke Miyajima lah. Ini bagus banget! Jadi jika kalian ke Hiroshima dan gak mampir ke Miyajima, aduuuuh… bye~sayang banget. Ini agenda wajib! Sebenarnya sih si pulau kecil ini official name-nya Itsukushima, nama beken-nya ya Miyajima itu. Jika ada waktu lebih banyak lagi, kalian harus menjajal naik ke Mt.Misen.

Miyajima ini terpilih sebagai salah satu UNESCO World Heritage. Awalnya sih mikir, ya ampuuun sebagus apa sih? Kuil itu mau sebagus apa lagi?
Rupanya satu komplek pulau kecil ini, shrine area yang dikelilingi gunung dan laut. Jadi scenic banget sih. Better you see this one
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Cantik kan…
Belum lagi makanan di sini yang enak banget! Kuliner khas di Miyajima adalah tiram dan belut. Untuk makan siang saya menjajal goreng tiram di sini…. dan ENAK! Ya ampuuun enak banget. Untuk menghindari kalian yang bisa ngiler, foto sengaja saya blur HAHAHAHAHA
Image and video hosting by TinyPic

Saya juga beruntung karena ketika saya datang, kota Hiroshima rupanya sedang mengadakan even light festival besar-besaran :’D dan venue illumination festival ini hanya 3 menit dari guest house tempat saya menginap HHAHAHAHAHAHA. Lucky Marissa…. untuk kalian pecinta bokeh photography, it such a heaven…
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Keesokan harinya, pastinya dong sudah sampai Hiroshima kok gak liat Hiroshima Atomic Bomb dome! Wah pelanggaran berat. Kebetulan tempat saya menginap juga dekat dengan area ini.
Nah Atomic bom dome, Memorial museum, dan Hiroshima castle itu areanya berdekatan jadi kalian bisa keliling dan lihat semua spots ini dalam satu hari dengan jalan kaki atau sewa sepeda. Itu pun kalian masih sempat jalan-jalan di tempat gaulnya Hiroshima di Hondori St.

Rekomendasi saya sih, ke Hiroshima castle dulu ya… karena dia agak jauh sedikit.
Image and video hosting by TinyPic

Dari situ enjoy Atomic bomb memorial park.
Image and video hosting by TinyPic
Saran saya, kalian HARUS masuk ke Hiroshima Peace Memorial museum karena it is open your mind banget, tiket masuk hanya 200 yen!
Image and video hosting by TinyPic
Awalnya saya ke museum juga hanya sekadar nitip tas karena lokernya gratis (HAHAHAHHA). Tapi karena penasaran, akhirnya mampir juga dan rupanya memorable banget, dan setelah keluar museum kalian pasti tergugah dan bakal bilang “No more war in this world!”

Rasanya juga mau nangis ketika membaca cerita para korban bom atom Hiroshima. Makin sedih lagi ketika melihat origami yang dilipat oleh Sadako Sasaki-san, bocah cilik yang terkena leukeumia karena efek radiasi bom atom.
Image and video hosting by TinyPic
Lebih sedih daripada film One Liter of Tears sih. Namanya bocah masih polos gitu kan, dia berharap dengan melipat 1000 origami burung bangau bisa mengantarkan doanya untuk sembuh terkabul. Aduh… aduh… gak kuat deh, it is too sad for me. Oiya ada bukunya loh, kalau gak salah terbitan Penguin publisher, judulnya Sadako and the Thousand Paper Cranes.

Budgeting!
Kalau kalian pecinta privacy, rekomendasi saya adalah menyewa kamar di Ryookan,. Ryookan ini rumah tradisional Jepang, tidurnya pun di futon alias kasur lipat. Tapi kamarnya luas, dan ada private room. Ada beberapa Ryookan di Hiroshima, jadi coba aja cari. kalau mau lebih murah lagi yang kamar di dorminatory room atau capsule hotel. Agak sakit punggung sih… dan saya kan rewel ya jadi males ahahaha.

Capsule hotel: 1500-2000 yen per night
Ryookan: 3000/4000 yen per night—–5000/6000 yen per night in peak time for private room
Hotel 3 stars      : 5000/6000 yen per night—- 6000/10000 yen per night in the peak time for private room.

Untuk transport ferry dari hiroshima city ke miyajima biasanya around 1000-2000 yen round trip. Tergantung kalian naik dari mana.

City bus dan trem 160-220 yen asal tau rutenya

Kereta 160-400 yen tergantung jarak

Just IMO sebagai mantan anak Tokyo, range harga di atas cukup rasional dan affordable.

Sekian deh laporan singkatnya.
Selamat jalan-jalan… 😉

 

Cekrek!!! Memotret slide ketika kuliah, etis kah?


“Jadi kalau kalian foto itu semua slide, kalian beneran baca?” #tanyaserius

Image and video hosting by TinyPic

Mungkin jika saya kelak jadi dosen, hal pertama yang akan saya lakukan adalah: TURN OFF PROJECTOR! karena lama-lama kasus potret memotret slide itu semakin menyebalkan. Apalagi dengan hp jepang! Ya HP jepang, yang pasti bunyi ketika shutter ditekan =.=
CEKRIK!
CEKlek!
CEKROK!
JEPREEEET!
Wooooi! berisik!

Sebenarnya saya tidak bermasalah-masalah banget sih dengan orang-orang yang mengeluarkan hp mereka dan memotret seluruh slide. Mungkin ingin menyalurkan hobi fotografi atau memang sangat antusias dan ingin segera pulang ke rumah mencetak si foto dengan ukuran A0 dan memajang foto itu di kamar agar ngelotok di otak 😀 Semua kemungkinan bisa terjadi kan? Nah, masa iya menyalurkan minat dan bakat dilarang :’D Jangan iri dengki kamu, Mon!

Tapi kok saya lama-lama risih ya? Ini murni personal opinion loh ya… jadi tidak bermaksud mendiskriditkan siapapun.
Kata sensei saya, kalau mau mengkritisi sesuatu harus menjabarkan alasannya terlebih dahulu. Yo wis! Manut ae kalau ke Cencei mah.

1. Is that the way “today’s students” appreciate their teacher?
Saya pernah jadi mahasiswa nakal! Pernah sampai dikeluarkan dari kelas. Dibandingkan kalian, mungkin saya pernah jadi mahasiswa yang lebih buandel. Namun kemudian saya belajar, seiring dengan bertambahnya usia dan uban ya hahahhaha, bahwa bukan begitu cara menghargai orang lain. Setidaknya menurut saya.

Atau mungkin, ini sih saya saja yang “baper” karena sudut pandang saya sudut pandang introvert.

Image and video hosting by TinyPic

Saya sih jujur saja, jika saya mengajar di depan kelas… kemudian terdengar bunyi CEKLAK! CEKLEK! CAKRUK! aduuh saya kan jadi gak enak, jadi kalian merasa saya ini Kim Kadarshian?
karena saya jadi mikir kalian teh merhatiin gak? Ngerti gak? Bukan slide yang perlu kalian pahami, tapi pemaparan dan penjelasan yang disampaikan oleh orang yang sudah berbusa ngomong di depan kalian semua.

Yah mungkin hak kalian sih “Ih dosen sama guru tuh ngomong di gaji tau!”
Iya, betul… saya pikir kalau dosen mau kejam sih pamer muka aja…pajang slidenya terus bilang “Yak bocaaaah! foto nih, puas-puasin. Besok kuis!” selesai! Semua pun senang! Hahahahaha.
Saya ingat pernah suatu kali salah satu dosen saya bilang “Saya itu gak butuh kalian, kalian yang membutuhkan saya” sedikit mmmm… well agak manasin kuping sih, tapi yaaa emang iya sih hahhaa. We attend a lecture to absorb something that more than we can absorb just from read books or handouts, itulah fungsinya ada tenaga pengajar di depan hidung kita.

Kemudian saya berpikir dari sudut pandang guru. Sakit gak sih kalau udah berkoar-koar di depan kelas eh point of focus murid-muridnya adalah “menyalurkan hobi fotografi”. Nah… nah… pernah belajar TEORI KEBUTUHAN MASLOW? dua puncak tertinggi kebutuhan manusia itu adalah: Aktualisasi diri dan Penghargaan. Saya pikir menjadi pengajar itu bentuk aktualisasi diri yang bisa ditempuh seseorang, namun untuk sampai si puncak ini, seseorang harus mendapatkan “Penghargaan” terlebih dahulu… saya pikir penghargaan dari seorang pengajar salah satunya adalah penghargaan dan pengakuan dari murid-murid mereka.

Nah, kita kan murid-murid nih… iya gak sih? Katakan pada saya standar penghargaan kita terhadap guru itu yang benar seperti apa sih? Saya tidak tahu, mungkin standar saya terlalu old school.

Huuuuuu…. kuno lo, Mon!

Then, ok! let’s move on to another reason

2. BERISIK!!!!!!!! dan sorry to say MENGGANGGU!
Ya udah deh, saya ngalah… memfoto slide kuliah itu memang mahapenting. Namun saya tidak tahan dengan bunyi berisik gadgetnya. Apalagi handphone Jepang…. aduuuh itu bunyinya bisa satu kelurahan dengar. Mungkin beberapa orang tidak tidak masalah ya, tapi sayangnya saya ini manusia yang mudah terdistraksi, jadi yaaaa annoyed lah. Kadang saya sampai hitung loh berapa kali bunyi CEKREK handphone yang saya dengar pada saat kuliah.

Yah gitu doang… cupu sekali Anda Marissa.

Oh, bukan itu saja, Anda tentu paham jika Anda ingin mengambil foto slide, Anda harus mengangkat tangan Anda. Dan saya, si pendek ini, yang sukanya duduk di pojokan kelas, yang lebih suka mencatat, harus sabar menunggu lambaian tangan para fotografer. CEKREK CEKREK CEKRET. Yak! Selesai sudah kalian memotret, tangan turun…. dan yak! Slide pun berpindah halaman :’)

No prob…. sudah biasa~hiks.

Begini…
Ketika kita pergi ke Masjid saja, kita diminta mematikan atau at least silent mode si telepon. Kenapa? Kan handphone juga handphone kita… suka-suka kita dong!
Perlu saja jelaskan kenapa? Karena DIKHAWATIRKAN MENGGANGGU KONSENTRASI JAMAAH!
Siapa tau juga kan, Imamnya sudah sepuh… lagi mimpin shalat baca Ar-Rahmaan, eh tiba-tiba ada handphone bunyi, waaah…. bisa aja imamnya jadi buyar terus lupa “Waduuuh, ini Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban yang ayat keberapa nih?”
Bisa aja kan?

Maka saya pribadi berkesimpulan, kode etik itu sesungguhnya jadi latihan untuk kita semua dalam menghadapi the real life.
Bukankah hal seperti itu seharusnya membuat kita berpikir “Eh iya ya, kita itu harus meminimalisir kelakuan kita yang mengganggu orang lain” iya gak sih?
Karena tidak semua orang memiliki kondisi sebaik kita. Mungkin kita memang jenius, awesome, luar biasa, punya konsentrasi tinggi. Tapi di samping kita? di depan kita? belum tentu lagi.

Aduh saya jadi ingat kakek saya pernah bilang “In your life, jika kamu tidak bisa membantu orang lain, setidaknya jangan mengganggu atau merepotkan orang lain”

3. Are you really READ your photos?
Saya ini pencatat yang buruk. Catatan saya hanya saya yang paham. Di S1, tidak ada yang mau meminjam catatan saya karena 1.) tulisan saya jelek, 2.) catatan saya itu lebih berbentuk gambar dari pada tulisan. Alhamdulillah sih jadi gak ada yang minjem AHAHAHAHAHAHAA. Masih ingat kah kalian nasib para manusia dengan tulisan bak mesin tik? Catatan mereka selalu berakhir di tukang fotokopi :’P

Image and video hosting by TinyPic

Namun apapun ceritanya, mencatat itu lebih baik untuk mengingat apa yang sudah kita pelajari. Saya misalnya, walaupun seringkali FAIL, tapi saya pasti ingat “Eh iya itu loooh…. aduuuh yang pake stabilo ijo! Aduh yang minggu lalu, gw nulis kok kalau gak salah ini deh *lalu nulis random dan mengarang bebas* ”

Tapi foto? Mau kalian apain? di pajang di Path?
Pernah suatu hari, ketika saya masih menjadi asisten dosen, murid saya curhat “Kak, catatan saya hilang”
“Hah, kenapa? kok bisa? Kehujanan?”
“Bukan, Kak…. hp saya di reset ulang gitu”
Zzzzzzzz….. =.=

Saya sih yakin beberapa di antara kalian memang by default pintar dan rajin, jadi si foto itu kalian pelajari. Tapi, ingat jika kalian ingin ngiket itu ilmu, pengen gak mau ilang, maka CATAT. Foto mah, sekali reset ilaaaaang!
Ingat deh Ikatlah Pengetahuan dengan menuliskannya”  begitu kata Sayyidina Ali bin Abi Talib.
jadi if it is possible, at least catet apa aja lah hahahhaaha :’D

demikian alasan saya.
Namun saya menyadari ini juga bukan sepenuhnya kesalahan para murid sih. Beberapa memang terpaksa karena gurunya kadang pelit berbagi literatur atau handout yang perlu dipelajari lebih lanjut. Jadi mmmm… punten loh ini Pak…. Bu….
jika boleh, izinkan kami memperoleh seluruh bahan material kuliah sebelum masuk kelas.

“Lha, emangnya kamu baca, Mon?”

hehe… gak juga sih :p kan saya kadang bandel. Tapi setidaknya itu mengurangi alasan pembenaran diri bagi kami para murid yang kadang suka keterlaluan males dan bandelnya ini :’)
Sungkem saya untuk semua guru-guru yang saya hormati  😀