Catatan si kuper: Alasan saya memilih kuper (namun bahagia)


Tadinya mau nulis tentang sexual harrashment di sekitar kita. Tapi sebelum itu biarkan saya curcol tengah malam.
Mama saya kadang curhat “Ya ampun Kakak, ini anak Mama cuman dua. Bagi Mama sih anak Mama baik-baik. Anak lingkungan, pecinta alam, pecinta binatang, suka anak-anak. Kan baik ya. Tapi kok ya selalu ada aja konflik sama orang lain. Kalian itu harus kepala dan hati dingin, orang kan beda-beda.”

Saya dan adik saya mungkin mirip ya. Teman dekat kami bisa dihitung dengan jari tangan. Yaaaaa paling itu-itu lagi. Sampai Mama bisa hapal sampai tanggal ulang tahun beberapa teman kami. Hapal loh! Hapal!!! “Kak, Mamas ini kan ultah ya? Udah dikasih selamat ulang tahun belum? Ih ultahnya mirip kayak kucing kita yang dulu ya”

Saya tidak tahu dengan adik saya, tapi yang pasti saya memiliki alasan dan “keterbatasan” versi saya sendiri. Pada dasarnya saya tidak suka “muncul di permukaan”, saya mungkin seperti kucing garong gendut yang hobi tidur. Tidak akan mencakar jika tidak ada yang usil mengganggu saya. Saya tidak suka keramaian, I HATE CROWD! Saya memang kurang suka kumpul-kumpul, saya lebih suka lingkaran-lingkaran yang lebih kecil namun lebih akrab dan dekat. Saya tidak suka membicarakan tentang orang lain, dan saya pun tidak terlalu happy orang lain membicarakan saya.

“Emon itu sombong gak suka gaul, sok banget ya”
“Emang prestasi Emon apa? Gak pernah kedengeran”
“Eh, dia kan gak ada hal yang wah ya, kok bisa keterima di XYZ sih?”
“Dia suka main musik gitu, gak stress kan dia”
dst
dst
dst

Ok! Mari kita berkumpul…. berkumpul yang KONON lebih berfaedah daripada tidur gak jelas di kasur yang hangat, daripada baca koleksi buku yang harusnya beli e-book aja, dan lebih berfaedah dari belajar musik yang (banyak yang bilang) haram itu.

Mari kita berkumpul!
dan beberapa orang asik memamerkan ke-riya’-an mereka masing-masing. Dan lingkaran mereka saling timpal menimpali dengan ke-riyaan juga.
Tak lupa agar riya itu semakin halal, bawalah nama Tuhan seperti “Alhamdulillah hari ini aneh dapat LALALALLALALA loh”,
“Oh iya? Ih si X juga dapet loh LALALLALALA”
Begitu terus…
Ya memang subhanallah keren sih, dan mungkin saya mual karena iri dan dengki tidak seperti mereka.
Tapi, ada sebuah titik dimana saya merasa bahwa setiap orang memiliki medan perang yang berbeda. Ambil contoh dalam bidang akademik, beberapa orang  yang biasanya dari natural science dan kerja lab akan memamerkan publikasi mereka yang setahun yaaaa ada belasan lah. Wow keren!
Ya keren! Tapi tidak semua bidang tidak bisa menelurkan jurnal sebanyak itu dalam satu tahun.
Pertanian misalnya, mau penelitian jagung saja harus at least nunggu 3 bulan! Itu pun kalau tidak ada hama… tidak ada yang maling… cuaca mendukung….
Belum lagi kalau softwarenya yang loadingnya lama. Tanyakan pada, misalnya, para pejuang ArcGIS…. vektor petanya sudah muncul saja sudah sujud syukur. Eh ada pixel yang gak muncul-muncul, reload lagi deh!
Ilmu sosial juga tidak kalah heboh, apalagi yang membutuhkan data primer. Kliring data saja kalau bisa satu bulan sudah mahasakti, dan sudah dipastikan yang melakukan itu sudah over dosis Pr*mag.
Ingat juga, untuk beberapa keilmuan, mereka adalah single fighter… mereka yang desain penelitian, yang ngumpulin data, yang bikin simulasi, yang ngetik data. Setidaknya itu yang saya ketahui  di bidang ekonomi dan sosial. Tidak ada kisah 10 orang dalam tim, lalu bikin paper bareng 10 yang cuman ganti-ganti urutan penulis -.- no way!

Ya jadi keren sih harus ya…. tapi kan menjadi toleran pun penting bukan?

“Eh, tau gak… si X kan kayaknya depresi loh. Ih gak pernah ngumpul sih jadi kita gak tau kenapa dia depresi ya”
“Ih iya, di tempat gw sampe ada yang bunuh diri segala. Karena gak ada publikasi, eh kita aja udah 500 publikasi ya tahun ini aaahhaah, masih ada 50.000 lagi belum publish”
“Eh kita harus deketin si A, dia kan posisinya bagus”

Errrrrrrr……………………………………………………………………………….

dan lalu ada pertanyaan “Kok makin banyak orang yang depresi ya?”
“Kok makin banyak orang yang gak toleran ya?”
“Kok makin banyak yang gak sopan ya?”

Satu yang kita semua gak pernah tanya “Kok kita gak pernah ngaca ya?”

Loh, ngaca? Kan udah merasa yang paling hebat dan terbaik! Jadi buat apa dong ngaca.

===================================================================================

Baiklah, mari kita berkunjung ke tempat saya saat ini. TSUKUBA!
Di sini saya merasakan puncak kebahagiaan saya selama di Jepang.
Ingin tahu alasannya?

Saya punya seorang Sensei yang sangat baik. Yang rasanya kalau boleh minta ke Allah untuk boyong manusia ke surga, mungkin Beliau akan masuk list.
Beliau yang sudah melompat dari satu negara ke negara lain yang membutuhkan ilmunya, Beliau yang tidak ambil gajinya dari kampus dan membiarkan uang itu untuk lab kecil kami dan membuat kami tidak perlu bayar jika ada lab party.
Beliau yang memayungi saya yang kroco ini ketika hujan dan inget kalau saya gampang flu.
Beliau yang sibuk menanyakan kabar Mama saya yang sakit.
Beliau yang kerapkali mengajarkan saya dari basic sampai coding yang saya betul-betul tidak paham.
Beliau yang publikasinya mungkin lebih banyak daripada ucapan dzikir saya ke Allah selama ini tapi tidak pernah banyak koar-koar.
Beliau yang hanya senyum dan bilang “So, what? There is always a first time for everything” ketika saya bilang “I never do this! I don’t think I can make it”
Beliau yang cerita kalau Beliau pun pernah nangis di depan Sensei Beliau sebelumnya karena merasa gak bisa.

Saya bertemu banyak peneliti lain, yang bahkan baru akhir-akhir ini saya ketahui kalau mereka semua masuk ke kementerian lingkungan hidup Jepang, semua orang langsung tunduk sama mereka.
Mereka! Mereka yang sibuk nyodorin tissue ketika saya terisak ketika melihat seekor kucing tertabrak mobil di sana. “Udah dong, Marissa-san, kok jadi sedih sih liat kamu nangis gitu. Udah ya, kita makan sushi nanti”

Mereka yang mengajarkan saya untuk belajar benar-benar dari nol, untuk berhenti membandingkan diri saya dengan orang lain, untuk menjadi orang yang lebih berani bertanya, meminta bantuan, menerima diri sendiri, dan yang terpenting rela membantu orang lain.

Saya berkembang, dengan ritme saya sendiri.
Jiwa saya berbunga, seperti layiknya dia seharusnya berbunga.
Saya kembali menjadi ilmuwan yang tentu masih newbie, yang terus bertanya, yang penuh rasa ingin tahu, yang perlahan mendapatkan jawaban dari setiap permasalahan yang muncul. Saya bangga pada penelitian saya, karena saya tahu seluruhnya dari embrio hingga dia perlahan tumbuh. Saya paham kegagalan-kegagalan saya, dan menjalin untuk keberhasilan-keberhasilan baru.
Saya pun kembali pada seni…
kembali bermusik…
kembali melukis…
kembali memasak…

Saya sadar, saya rupanya lebih bahagia saat ini.
Saya bahagia, melihat kebaikan-kebaikan yang tulus.
Dan kebaikan yang tulus bisa datang dari mana saja.

==============================================
Eh tapi tulisan ini bukan menyuruh kalian untuk kuper ya. Saya mungkin salah satu contoh “big failure” dalam membina network dan memperluas jaring pertemanan. Kalau mau jadi pejabat sih, kurang oke ya meniru “idealisme” saya. Saya mungkin terlalu baper dalam memilih-milih orang yang masuk dalam lingkarang pergaulan saya.

Hanya saja, bagi saya….saya yang muak dengan hal-hal “fake” yang fana dan jujur ngabisin waktu, saya lebih senang berkumpul dengan orang-orang yang jelas lebih menghargai saya dan lebih membuat saya nyaman. Saya menemukan mereka….
Saya punya keluarga yang luar biasa,
sahabat yang yaaaaah mini-size tapi lebih dari cukup,
dan kini guru dan teman-teman baru yang saya rasa menyayangi saya.

Dan saya menyayangi mereka.
Saya tahu Allah akan menyayangi mereka pula. Jaga mereka baik-baik ya Allah, buat semuanya berumur panjang, lebih dari para dinosaurus. Karena planet ini akan terbakar lebih cepat daripada karena efek rumah kaca tanpa kehadiran mereka.

In the middle of the road, Allah yang memberikan saya jalan terbaik untuk dilalui.

 

Magnet Kulkas dan Sekelumit Kisah mengenang Prof. Rina Oktaviani


Image and video hosting by TinyPic

Ini bukan hanya cerita tentang magnet kulkas, ada cerita…alasan… dan kenangan di balik ini semua. Ada kenangan yang mengingatkan saya pada salah seorang dosen saya: Ibu Rina Oktaviani

Satu kali pernah saya berkesempatan mengunjungi rumah Beliau. Saya yang memang dulu masih alay dan norak hanya bisa takjub dengan koleksi pernak pernik Beliau dari berbagai belahan dunia.
“Hehehe…Lucu ya, Mon?” Kata Beliau kemudian memecah ketakjuban saya dengan tawanya yang khas dan saya yakini membuat rindu siapapun yang pernah mengenal Beliau.
“Wah! Iya, Bu… kapan ya saya punya hahhahaha. Magnet kulkas lah ya at least. Magnet kulkas di rumah saya itu bonus Chiki coba, Bu hahahhaa”.
“Oh come on, mon! Jangan putus asa gitu lah. There’ll be your time. Waktu kamu masih panjang and the world will someday demand your skill and knowledge. There’ll be your time to start your own adventure. Dan kamu harus bisa melalui itu.Percaya deh!” Saya dulu hanya bisa tersenyum simpul dan berpikir
“Duh masa iya sih” tapi kata-kata Beliau membekas. Hingga saat ini.

Beberapa tahun kemudian, yes! I started my adventure. Saya yang biasanya malas belanja jadi girang membeli pernak-pernik kecil untuk mengingatkan saya pernah kemana saya sejauh ini. Yang paling gampang dikumpulkan ya si magnet. Tidak bermaksud koleksi, hanya untuk senyum-senyum sendiri mengingat apa yang pernah Beliau katakan pada saya. Selalu terpikir kelak berbagi cerita kepada Beliau. Mungkin sedikit pamer sambil ketawa kecil “Akhirnya saya beneran liat luar negeri loh, Bu.”

Belum sempat petualangan ini selesai,
belum sempat cerita-cerita itu terucap…Beliau berpulang.
Sedih? Jelas! Namun mengetahui Allah sudah terlanjur begitu cinta pada Beliau…. saya toh bisa bisa apa? Kelak, saya akan bagi kata-kata Beliau tersebut kepada anak-anak lugu yang nyaris putus harapan melihat dunia, yang nyaris hilang percaya diri untuk stand-out di bidang mereka. Lalu biar mereka tahu bahwa ini kata-kata dari seseorang yang hebat: Ibu Rina.
Ya… karena orang sehebat Beliau layik selalu hidup dalam kenangan setiap orang.
Terima kasih, Ibu 🙂 Bumi boleh kehilangan jasadmu, namun bukan pemikiranmu. Lagipula semua toh akan berpulang bukan? Saat kita jumpa, semoga bisa berkelakar mengenai sudah seberapa tangguh kita menghadapi dunia.

Terima kasih.

Tentang Mama…


Ngomongin tentang Mama…. namanya anak, saya dan adik saya itu tetep aja doyan bikin Beliau kesal. Namanya anak juga, kami sering sekali ngomel karena Beliau itu susah sekali diminta untuk diet. Tapi dibalik itu semua, we love her so much… and we admit she is a great mom ever. Ditengah pro-kontra ibu karir vs ibu rumah tangga, izinkan saya untuk menceritakan bahwa hal terhebat dari seorang Ibu mungkin lebih besar daripada yang bisa kita lihat. Bahwa perjuangan seorang Ibu, lebih luar biasa dari yang kita sadari. So, there always a reason why we should give our best love for her.

Banyak yang tidak tau kan kalau saya ini punya banyak masalah hahahha. Kalian mungkin mengenal saya sebagai emon yang doyan ketawa, jarang keliatan serius, biasa-biasa aja, galak malah.So many things. Tapi jauh dari itu semua, saya waaaah…. saya punya banyak kekurangan.

Sahabat-sahabat saya dan adik saya tahu bahwa ide terburuk di muka bumi ini salah satunya adalah: Tanya arah dan waktu kepada saya. Kawan…. saya ini sulit sekali membedakan kanan dan kiri. Saya juga kadang tertukar antara angka 6 atau 9, angka 4 dan huruf A, dan sebagainya. Dulu saya pikir itu hal yang lucu-lucu aja, tapi setelah saya sampai di Jepang dan sempat bertemu dokter, saya disah-kan menderita dyslexia walau gak parah-parah banget, jadi masih parsial. Itu juga alasan kenapa saya selalu pakai jam tangan. Jam tangan bagi saya bukan cuman penanda waktu, tapi juga penanda arah :’D sedih lah pokoknya.

Tapi, jauh sebelum itu… Mama dan Ayah saya mungkin sudah menyadari hal ini. Saya terlambat membaca sewaktu saya di TK, saya selalu kabur dari kelas membaca! Ayah saya juga geram karena saya selalu tertukar antara huruf “ja” dan “kha” ketika membaca Quran. Ketika mengerjakan matematika pun saya sering tertukar antara angka-angka yang mirip. Parahnya lagi, kalau pergi kemana-mana, Mama dan ayah saya tidak bisa bilang “belok kiri terus ke kanan ya”, dijamin saya nyasar! tapi lebih jadi “Tau rumah Pak X kan? Nah dari situ jalan lurus, liat rumah cat warna hijau… nah itu tempatnya!”. In short, for a kid, I was stupid! Tidak heran nilai saya saat TK itu “K” loh! Level yang lebih nista daripada “F”! Adik saya paling happy ketika melihat nilai saya di bangku TK dan selalu bilang “What you have done! It is terrible, kak.” Prestasi saya sewaktu kecil jauhlah dari standar cerdas, makanya gak pernah ikut lomba bayi berbakat atau sebagainya :’D

Jaman baheula sih kayaknya dyslexia gak ngetop ya, apalagi di Indonesia. Tapi Mama dan Ayah saya sepakat there was something wrong with me, dan harus ada “pendidikan spesial” untuk saya walau mungkin gak terlalu ngeh bahwa itu adalah gejala dyslexia. Saya pun baru tahu secara resmi di sini kok.   Oiya, kalau kalian belum pernah denger tentang dyslexia, bisa diliat di sini ya (https://www.dyslexia.com/about-dyslexia/signs-of-dyslexia/test-for-dyslexia-37-signs/). Siapa tahu kalian nemu orang-orang di sekitar kalian yang punya ciri seperti itu. Jangan di bully loh ya, mereka cuman butuh extra kesabaran.

Dahulu saya sempat bertanya-tanya mengapa Mama harus berhenti dari tempat kerjanya dan memutuskan jadi IRT. Dulu jawabannya sih diplomatis “Iya, abis kamu harus ditemenin sih hahahhaha”. Lalu saya sadar… saya mungkin tidak akan bisa membaca dengan baik jika Mama saat itu tidak berhenti bekerja. Menyadari saya yang tidak happy belajar di sekolah, Mama yang kemudian mengajari saya perlahan di rumah. Dan mungkin karena lebih paham keterbatasan dan masalah saya, Beliau lebih oke punya dalam mengajari saya dibandingkan sekolah. Mengejar ketertinggalan saya di TK (yang pada akhirnya totally useless krn saya cuman jadi ahli mabal dan gigit orang), saya akhirnya berhasil lancar membaca saat SD dan mengatasi beberapa hal yang selama ini jadi masalah saya. I did good during elementary school, walau selalu ditinggal kalau lomba upacara karena masih salah tentang kanan dan kiri, tapi lainnya? I did very well.

Saat SMP, ayah saya meninggal dunia. Saya tahu masa itu merupakan masa terberat untuk Mama. Apalagi Mama kan tidak punya pekerjaan tetap saat itu. Saya tau sih, pasti diam-diam ada juga yang nyinyir “Tuh gitu tuh kalau istri 100% jadi Ibu rumah tangga.” Banyak lah, macem-macem. Apalagi saat itu Mama harus menanggung dua orang anak.

Life is tough, tapi Mama nyaris gak pernah complain di depan kami. Sok kuat sih kayaknya, padahal mungkin behind the scene cengeng.

Berkali-kali juga saya pernah dibilang bodoh, untalented, gak bisa masuk universitas negeri kalau bukan pakai jalur khusus, sampai pernah teman saya di depan mata saya sendiri bertanya “Eh, gimana sih rasanya punya temen yang lebih pinter daripada lo?”. Walau emang gak pinter-pinter banget, tapi… ya sedih juga sih kalau digituin.

Lain saya, lain pula adik saya. Adik saya ini doyan adu otot. Terkenal sebagai preman komplek karena kalau dia sebel sama orang, dia sih gak perlu adu mulut… adu otot aja sekalian.

Sudahlah bokek, punya dua anak yang macemnya model kayak gini kan =.= kok sedih ya kisah Mama saya itu hahahaha.

Tapi setiap saya pulang dengan muka cemberut dan hati berduka *halah*, Mama selalu bilang “Oh come on! Mama tuh yang tau kalia dari sejak kalian ada di dunia sampai hari ini. Kenapa harus denger orang-orang yang cuman mengenal kalian hitungan hari? Come on! Kalian bisa kok meraih yang kalian mau”

Saya pun move on, menjalani hari, dan mulai bisa menerima “Jadi bodoh gak apa kok, yang penting mau belajar… dan hey! Mom trust me! Everything will be alright”

Adik saya kemudian menjadi atlet Taekwondo atas ide Mama “Udah lah ya daripada mukulin orang, mending mukulin apa kek gitu… batako kek, biar puas”
Oiya! Kalau saya punya dyslexia! Adik saya beda lagi. Dia punya kecenderungan malas sekali basa-basi.
Adik saya lebih aneh lagi, misal ada pertanyaan “Dapatkah kamu menceritakan ulang paragraf di atas, jika ya tuliskan kembali?” dia akan jawab “Tidak”
Saya pikir masalah itu cuman ketidaksengajaan, rupanya cara berpikir dia memang kelewat taktis.
Rupanya masih terjadi juga sampai kuliah. Kalau gak salah pernah juga dia sampai pada menjawab “Tuliskan kalimat syahadat” dan dia bener-bener nulis SYA-HA-DAT dalam bahasa arab. Bukan dua kalimat syahadat yang dimaksud soal.
Adik saya memang parah kalau harus melihat soal-soal yang terlalu panjang, dan itu yang membuat dia jauh lebih baik membaca buku teks dalam bahasa Inggris dibandingkan Bahasa Indonesia. Saya sih sebenarnya curiga jangan-jangan di punya gejala kelainan lain :p dan mungkin baru ketahuan yaaa seperti saya ini ketika ketemu dokternya di luar negeri. Semoga sih gak =.= jadi orang yang rada “aneh” itu capek juga sih jelasinnya.

Aneh-aneh kan?
Tapi lagi-lagi, walau kadang geram juga dan selalu bilang “Kalian tau gak, mama tuh punya dua anak, dan dua-duanya unik gitu. Beda pula karakternya”,tapi at last Mama selalu percaya pada kami, dan itu saja cukup.

—————————————-

Rupanya perjalanan saya dan adik saya gak jelek-jelek banget untuk perkara akademik. Adik saya, yang sudah di ujung tanduk dan mulai bersiap saya kirim ke pesantren di curahlele karena gagal dalam PMDK, terlalu kere untuk jalur khusus, gagal ujian akhir salah satu sekolah dinas, dan tinggal bersandar pada SBMPTN. Itupun sudah gak PD, dan saya cuman asal bilang “udah deh kalo buntu, lingkarin C aja lah ahahhahahaha” Dan saya ingat adik saya sempat kesal dengan jawaban saya. Tapi alhamdulillah kini dia happy karena berhasil kuliah di salah PTN. Kalau niat sih dia sebenernya oke :”D mungkin khawatir juga diasingkan ke curahlele.

Saya juga, yaaaa… gak jelek-jelek bgt lah 🙂 Dari seorang yang susah banget baca jadi seorang penggemar buku dan sampai pada point sekolah sejauh ini kan alhamdulillah banget.

Tapi, semakin hari saya semakin sadar…. Kalau saja, KALAU… Mama saya menyerah pada saya ketika menyadari bahwa saya punya banyak masalah saat masih kecil. Sudah sering sakit, lambat pula belajarnya, waaah kan nyebelin! Jika saja pada saat itu Mama mikirnya “Ya nasib, anak perempuan ini kok ya biasa-biasa aja”. I’ll never be in this point. NEVER.

Kalau saja saya tidak punya Mama yang bisa berpikir “Gini loh kak, Mama sama Ayah dulu sudah pernah sekolah sampai sini loh…. masa’ kamu gak bisa lebih? Kamu harus lebih dari Mama. Caranya bagaimana ya harus cari sendiri tapi kamu harus lebih dari Mama”
Mungkin saya juga tidak akan sampai sejauh ini….

Saya yang bandel ini sadar, saya bukan siapa-siapa kalau saja Mama tidak ada.

—————————————-

Saya sering sekali marah-marah ke mama saya karena sekarang Beliau terkena diabetes dan juga pernah terkena stroke. Mama itu susah banget disuruh diet, susah banget diajak jalan-jalan keluar, susah banget diajak foto karena gak PD. Parahnya lagi sejak sakit, Beliau jadi super moody. Kadang kalau kita omelin dikit, nangisnya kayak bocah kena bully satu kampung =.=

Dipikir-pikir adik saya mungkin lebih penyabar dibanding saya (padahal! Inget loh waktu kecil adik saya kan ahli baku hantam! Kini ia hanya menjadi mahasiswa bermuka garang tapi nangis pas nonton Lion King  dan terisak di pemakaman kucingnya ).

Tapi dalam hati, we really love her. Really grateful about her.
Saya ingat adik saya pernah bilang “Ya kadang pengen ngomel juga sih ke Mama, but I really love her. Kiki mau Mama terus ada sampai lihat kita berdua sukses”

Dua anak bandel mama yang nyebelin ini rupanya punya satu kesepakatan “Kali ini, kami yang tidak akan pernah menyerah untuk Mama, apapun alasannya”

=====================================
Image and video hosting by TinyPic
Selamat ulang tahun, Ma… terima kasih untuk terus bertahan menghadapi kami. Jangan bandel-bandel lagi ya, jaga kesehatan, you have no reason to get sick anymore soalnya kayaknya anak mama lumayan baik-baik deh :’p

We love you.

 

Mahasiswa ikut demo? Salahkan?: Mengkritisi kematangan emosional dan Politik “Kidz zaman now”


Entah mengapa sedang muncul kisruh baru di dunia persilatan mahasiswa. Adik saya geram sekali karena dia dinilai sebagai mahasiswa apatis yang setelah kuliah langsung pulang dan hanya ikut satu kepanitiaan. Kalian tidak tahu kan, adik saya cepat-cepat pulang karena harus merawat Mama kami yang baru saja menjalani operasi bedah kecil karena luka yang tidak kunjung sembuh terkait penyakit diabetes Beliau. Sama seperti adik saya, saya juga gak terlalu gila dengan organisasi… walau dulu pernah masuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), kalau saatnya pulang yaaaa saya pulang. Demo? Aduh gak deh. Bagi orang-orang seperti saya… demo itu hukumnya “makruh”, yo wis lah kalau mau pada demo, tapi gw sih ogah.

Saya tidak pernah bermasalah dengan anak-anak yang demo, itu keren juga loh semangat muda yang berkobar-kobar. Dan memang, sesekali pemerintah memang harus didemo, disentil dan diingatkan. Lagian era demokrasi loh.

Yang membuat saya kecewa…. sebagai seorang “kakak”, bukan hanya bagi adik kandung saya tapi juga bagi mahasiswa-mahasiswa zaman now, kok kesannya malah mahasiswa yang “aktivis” dan “apatis” ini jadi dua kutub yang betul-betul bersebrangan dan saling tunjuk hidung dan merasa “Gue loh yang paling bener, lo…lo…lo…salah”. Zaman saya sih, saya berteman baik dengan anak-anak yang semangat berdemonstrasi, dan yang demo pun gak pernah tuh semena-mena “Lo itu, Mon… super apatis. Lo gak peduli sama masyarakat”. Kami mengkritik kajian-kajian BEM yang menurut kami ngawur, dan BEM juga nerimo-nerimo aja sebagai masukan. Lha! beda kan biasa~ justru perbedaan pola pikir memperluas perspektif kita.

Baru-baru ini ada kasus yang melibatkan kampus saya dan mungkin beberapa kampus lainnya. Ada kisah tentang beberapa mahasiswa yang ditangkap polisi karena berdemonstrasi menuntut kebijakan Jokowi-JK yang rasa-rasanya belum berjalan baik menurut mereka. Singkatnya, ada dua kubu: Kubu pro demo, dan kubu anti demo. Yang Pro-demo ini menuntut teman-temannya segera dibebaskan “ini orba model baru, krisis demokrasi”. Yang anti-demo jadi merasa bodo amat karena merasa “Ya rasain aja, salah sendiri lo gak ikut aturan main… harusnya bubar jam 6 sore, kok jam 11 malem masih stay. Mamam tuh di kantor polisi”.

Dan namanya juga “kidz zaman now” yang menurut saya kematangan emosional, sosial, dan politiknya masih belum stabil, yaaaaa…. gontok-gontokan aja di social media.

Well, mumpung masih jadi mahasiswa S1… masih ada banyak kesempatan untuk melakukan kesalahan dan juga belajar memperbaiki itu. Lalu, dengan cara itulah kalian akan menjadi lebih dewasa.

Kepada para mahasiswa yang demo (atau mendukung yang demo)
Mulai dari para demonstran yang semangat-semangat ini ya. Yang energi mudanya luar biasa.
Adik saya men-share sebuah pernyataan unofficial yang mewakili teriakan kubu pembela demo. Untuk menghormati adik ini, saya blur yaaaa namanya 🙂 kalau kamu tahu siapa, biar hanya aku dan kamu yang sama-sama tahu (apa sih… hahahahaha).

Oh iya… disclaimer dulu. Saya mah udah ‘senior’ dibilang mahasiswa apatis yang know nothing. Yah atuh saya mah apa lah dibanding mahasiswa aktipis mah… hanya mahasiswa uzur yang lagi penelitian dan kuliah di luar negeri aja. Tau apa, tentang gini-ginian mah lah~ pret. Hahahhaa… jadi saya kebal loh kalau kalian gak setuju sama saya. Tapi saya ini seorang kakak, dan saya merasa I need to criticize this one.

Bacanya pelan-pelan lah ya, biar puas hahahahaha 😀 eh pembaca yang lain juga boleh komen loh, tapi inget yang sopan dan kalau bisa penuh humor lah. Kalau penuh hujatan, saya bisa detect IP address kalian loh ya 😉

Image and video hosting by TinyPic

Kok rada-rada politik ya, eh emang mahasiswa teh boleh ya popolitikan kieu? Beneran gak tau, soalnya kalau di Jepang sini, kampus adalah kawasan steril yang bener-bener bersih dari bau-bau politik. Selebarannya pilkada aja gak boleh terbang ke kampus. Kalau sampai ada, wah bisa heboh seantero kampus. Tapi kan saya mah apa atuh, pas kuliah S1 saya juga biasa-biasa aja, gak wow…

Dan hey! mari kita ikuti logika berpikir Sang Penulis yang luar biasa sangat berbakat ini.
Jadi masa baju kotak-kotak salah ya dengan melebihi batas demo? Banget dong!
Nah, okey… mereka salah. Jadi kalau mahasiswa melebihi batas waktu demo juga boleh dong, wong sudah ada “suri tauladan”nya. Bukan perkara hal salah atau benar…. tapi perkara sudah ada yang melakukan itu sebelumnya atau belum?

Nak! kalian itu… sorry… mahasiswa? Mahasiswa itu kaum intelektual loh, dan sebagai seorang intelektual bukankah kalian seharusnya sudah bisa membedakan mana yang benar dan salah? Jika kalian paham bahwa melewati batas waktu demonstrasi itu SALAH, no matter how much success stories bahwa ada yang berhasil dengan aman lewat masa demonstrasi adalah tetap SALAH. Iya gak sih? Atau logika matematis seperti itu harus diajarkan secara lebih serius di bangku SMA supaya metode penarikan keputusan kalian logis.

Dengan demikian, walaupun saya bisa memahami kalian berusaha kritis dan membela beberapa kepentingan negeri. Namun, maaf… masyarakat mana yang kalian wakili? Karena saya kok malah kecewa dan merasa tidak terwakili? Dan teman-teman kalian juga ada banyaaaaak sekali yang bahkan jadi berkurang respectnya dengan kalian. Kalian tahu, siapa lagi yang merasa tidak terwakili oleh kalian? Keluarga dari para polisi yang tugas jaga ketika demonstrasi kalian.

Saya mencoba seobjektif mungkin dan semanusiawi mungkin. Mengapa polisi cenderung lebih anarkis saat ini dibandingkan ketika kasus ahok misalnya? Karena mereka lelah… lapar… dan probably ngantuk. Ketika kasus ahok, walau massanya lebih masif tapi tempatnya terbagi dua bukan? Jakarta dan Depok? It means yang jaga pun terbagi, ada yang di Jakarta dan kemudian di Depok. Ketika massa bergerak ke Depok, yaaah mayan lah yang di Jakarta bisa makan dulu… meanwhile di Depok udah siap-siap dengan makan makanan bergizi dan stretching.
kasus kalian beda dek, waktu bapak-bapak polisi ini istirahat lebih terbatas. Mereka harusnya sudah bisa sedikit melemaskan otot setelah jam 6 sore. Lha, kalian lanjut sampai jam 11 malam. Berisik, capek, pegel, ngantuk, lapar… belum lagi mereka yang di garis depan itu polisi-polisi bergaji rendah loh, Dek… ya ngaaaaamuuuuuk. Itu sih sabar, kalau saya polisinya udah dari jam 7 malem kali saya jadi “liar” hahahhaa.

Saya menyayangkan kalian… mahasiswa cerdas, yang antusias memperjuangkan hal-hal makro, melupakan hal mikro bernama “berpikir dan bersikap manusiawi”. Saya akui aparat salah… iya! Itu parah sih. Tapi saya paham…mereka lelah, Dek. Jika yang jaga itu adalah ayah saya, saya akan marah sekali… marah sekali dengan kalian mahasiswa-mahasiswa yang “menahan” ayah kami begitu lama. Kalian mungkin gak paham ya, tapi sebagai seseorang yang sudah tidak memiliki ayah… saya pikir kita waktu seorang anak dengan ayahnya itu begitu berharga. Happy merebut waktu itu dari anak-anak yang menunggu bapaknya pulang?

Lanjooooot!

Image and video hosting by TinyPic

Saya sebenarnya setuju dengan paparan di paragraf selanjutnya. Mengenai keresahan mengenai ketimpangan dsb. INI KEREN! Saya tulus mengakui ini, dan itu pula yang membuat saya bilang “I have no problem sih kalau ada yang memilib berdemo”. Tapi, pemerintah itu orang-orang yang sibuk, including Pak Jokowi yang pada esensinya kalian demo…. sebelum koar-koar, bikin lah kajian yang jelas dengan data scientific dan permodelan yang jelas. Jangan demo dulu… cari kawan “apatis”
kalian yang jago nulis, buat karya tulis misalnya, sampaikan di conference, dengar masukan expert di bidang itu, dan kalau lebih hoki lagi siapa tahu kan dapat hadiah dari lomba karya tulis. Sebagai ekonom lingkungan, saya juga menentang reklamasi misalnya. Lebih ektrim dibandingkan kalian, saya juga tidak setuju dengan pembangunan pabrik semen di Kendeng, saya juga tidak setuju dengan perluasan lahan kelapa sawit. Tapi lawan kita ini juga orang-orang yang pintar! mungkin juga licin… maka kita harus lebih cerdik. Itulah alasan mengapa saya memutuskan terus belajar. Somehow, walau saya tahu kalian akan berpendapat bahwa jalan perjuangan kita yang beda, kita harus lebih pintar dibandingkan “lawan-lawan” kita itu. And have you, guys? Not yet? Then go back to the school… Seriously!

Lalu, saat kalian memiliki kajian yang kuat, kalian bisa deh datang dengan PD kepada para pemegang kebijakan. Datang baik-baik ke Ibu Sri Mulyani kek, atau ke Ibu Susi kek. Diskusi “Bu, jadi berdasarkan hasil penelitian kami dengan data time series tahun xxxx hingga xxxx, kita bisa lihat nih masalah kita A, B,C, D, etc”. Nah! Pertanyaannya, sudah berani belum jika intelejensi dan mental akademis kalian diadu dengan para ahli di pemerintahan? Saya sih gak, saya kan bodoh hahhahahaa… makanya sampai sekarang masih sekolah, itupun masih banyak salahnya. Entahlah jika ilmu kalian sudah sampai ke level itu. Kalau level kalian kira-kira masih cuman bisa complain dosen pembimbing kalian killer hingga kalia gak lulus-lulus dan penuh revisi, terus curhat di socmed…. yang perlu direformasi terlebih dahulu mungkin mental kalian.

Jika langkah-langkah tersebut sudah dijalani, DAAAAAN mentok…. hayu lah, saya dukung demo sampai kapanpun. Karena dibandingkan demonstrasi, saya merasa metode pendekatan lewat kajian, terutama untuk para akademisi (btw inget2 loh, mahasiswa itu masuk CIVITAS ACADEMICA), lebih efektif dibandingkan demonstrasi berjam-jam. Kalian juga bisa bertemu para “kunci” pemegang kebijakan. Sekarang aja kalian idealis gila-gila, tapi sebagai yang juga pernah bekerja di pemerintahan, internal pemerintahan itu juga stressful, banyak permasalahan yang menumpuk dan perlu diselesaikan satu per satu. Saya yakin, kita nyoba jadi tukang fotokopinya kementerian aja belum tentu sanggup, karena pekerjaannya sangat sulit dan tidak bisa diselesaikan dalam satu periode pemerintahan.

Saya kemudian mengkonfirmasi dan melihat media sosial BEM univ-univ terkait yang mengklaim mereka tidak bubar karena Pak Jokowi batal menemui mereka padahal dari yang mereka dapatkan “Pak Jokowi akan dapat menemui massa”
Rupanya……….. Bapaknya ada di NTB :p
Kecawi lah para pendemo.

Paham juga sih kenapa yang demo kecewa, tapi… ya mau bagaimana, toh Pak Jokowinya ke NTB juga melakukan hal yang (I am so sorry to say this, Dek) lebih berguna daripada mendengarkan massa demonstrasi. Karena, bagi saya yang mengamati dari luar, mana kajian ilmiah yang kalian gadang-gadang merupakan alasan kalian berdemonstrasi? Jangankan Pak Jokowi, kami saja menunggu loh. Kalau memang secara akademis bisa dipertanggungjawabkan, gak usah panas-panasan juga dibantuin deh menemui pihak-pihak terkait. Ya, ini sih malah opportunity cost pada akhirnya… pergi ke NTB mengurus masalah perizinan tanah lebih jelas outputnya. Kalau Beliau tidak menyelesaikan ini juga kalian marah bukan?

Well… topik demonya pun menjadi blunder, ini beneran membela rakyat?
Image and video hosting by TinyPic

Jadi ini teh demo masalah ketimpangan? Atau UU Ormas? Wow…wow…wow… mind blowing wooooow….
Pantesan Pak Jokowinya memilih ke NTB, Dek.

kalian teh paham gak fasis itu apa? Nih, lah saya kasih. Karena saya yakin kalian lebih fresh dan lebih cerdas daripada saya yang sudah aging dan bodoh ini, saya asumsikan level bahasa Inggris kalian lebih baik dari saya… ini loh ya definisinya:

fascism

noun

1.(sometimes initial capital letter) a governmental system led by a dictator having complete power, forcibly suppressing opposition and criticism, regimenting all industry, commerce, etc., and emphasizing an aggressive nationalism and often racism.

2.(sometimes initial capital letter) the philosophy, principles, or methods of fascism.

3.(initial capital letter) a political movement that employs the principles and methods of fascism, especially the one established by Mussolini in Italy 1922–43.
Saya pikir presiden kita jauh lah ya dari “Fasism”. Fasisme itu kata yang serius loh, kalau kalian ngomong ini di Jerman mungkin bisa digelepak sandal sama orang sana.

Fasis itu bukan hanya otoriter tapi menguasai seluruh sektor dan cenderung rasis. Kayaknya saya merasa tidak ada rasisme di Indonesia (yaaaa belum tahu kalau sudah ganti). Saya juga merasa kalau gak ada halangan untuk seluruh lapisan berkarya. Ketika kebebasan berinteraksi dan berekspresi itu masih ada maka itu bukan FASIS. Otoriter saja rasanya belum sampai.

Bukan saya ini pembela Jokowi, tapi bagi saya jika ingin berjuang… ingin berperang… maka elegan dan cerdas lah, apalagi membawa bendera AKADEMISI sebagai mahasiswa.
Sebagai bagian dari civitas academica, jujur saya malu dan menyayangkan ketika hal seperti ini terjadi pada mahasiswa. Dan maafkan saya… ketika saya kecewa melihat argumen-argumen pembelaan yang menurut saya lebih berbau politis daripada akademis.

Dan UU Ormas… what happened with UU ormas? Saya sampai baca loh itu si Perpu Ormas. Yang belum baca silakan deh baca di sini
Saya kan bodoh politik ya, jadi saya nanya deh, yang salah apa? Ya wajar lah, pemerintah tidak mau ormas membuat keributan dsb. Yang salah itu apaaaaaa? Ohhhhh, kalian bagian dari ormas yang kemarin dibubarkan? Ya kalau gitu jangan pakai panji-panji mahasiswa lah, silakan gunakan embel-embel ormas.

Ya udah blak-blak-an saja, saya akui masalah pembubaran HTI itu agak blunder sih, kalau mau dibubarkan kenapa gak dari dulu. Iya kaaaan? Lha… pemerintah baru menyadari pelanggaran yang dilakukan sekarang, yo wis… dibubarkan. Tidak setuju? Ya pasti ada pro dan kontra. Tapi saya sih termasuk yang setuju-setuju saja jika ormas ini dibubarkan, karena saya sudah terlalu kecewa dan marah melihat video ikrar mahasiswa untuk mendirikan negara khilafah. KE-CE-WA! Dan sempat kampus saya dahulu, citranya sedikit terganggu karena diusung-usung sentra ormas-ormas HTI. Sudah berusaha memperbaiki citra dan perlahan membaik, eeeeeh…. muncul kasus mahasiswa yang tertangkap. Jackpot!

Jika kalian mau berdebat masalah ini, saya malas lah… tapi jika dibutuhkan saya akan wawancara EKSKLUSIF ke Mas-Mas dari timur tengah mengenai konstelasi di Timur tengah dan apa kaitannya dengan ormas seperti HT? Apa pandangan mereka? Selain itu, Masnya ganteng-ganteng juga jadi bisa sekalian modus, siapa tau jodoh. Lagipula tidak semua ormas dibubarkan, bukan? Kayaknya yang adem-adem mah gak dibubarkan tuh.

Jangan sampai kalian teriak-teriak, terus eeeeh rupanya pas ditanya Fasis apa gak tau… ditanya Perpu isinya apa,eh belum baca juga. Jangan ngaku mahasiswa lah klo gitu.

Untuk Para Anti-demo

Saya gak kasih skrinsut komen-komen netijen lah ya…. alasannya karena ada beberapa yang terlalu… terlalu… wah pokoknya terlalu bukan mahasiswa lah. Yang baik dan cuman humor aja sih ada banyak juga. Tapi, yang too much juga banyak, dan capek menyensor plus malu sendiri karena jadi mikir “Damn! Ini beneran mahasiswa yang ngomong?”

Ya sudahlah yaaaa…. Di Quran untuk masalah agama saja tidak boleh ikut campur, padahal itu masalah yang paling mendasar dan krusial. Apalagi masalah demo! Mengutip pernyataan di atas “Semua orang punya jalan perjuangan masing-masing”

Ya sudah, biarkan saja. Kalau kemudian berakhir adu mulut… yang tinggalkan. Sesungguhnya hapalan rumus kalkulus lebih membutuhkan perhatian khusus dan spesial daripada debat kusir. Menkritisi aktifis dan pendemo, menurut kakak sih…. Seperti mempermasalahkan “keimanan”. Sekuat apapun argumen kita, ya sudah “iman” kok, ndak bisa ditawar-tawar.

Namun, alangkah eloknya jika semuanya bisa tetap saling berteman 🙂 ya beda pendapat kan biasa. Tapi semoga kalian bisa tetap menyebut orang yang berbeda pendapat dengan kalian sebagai “Oh! Mereka teman saya. Yaaaa beda mahzab sih, tapi temen kok” karena kelak kalian akan saling membutuhkan.
Semoga tidak perlu ada lagi hujan hujatan di media sosial… karena lagi-lagi, kalian adalah bagian dari dunia akademisi. Harapan negeri itu di tangan kita semua loh.

Kalau cuman nulis di socmed sih, yaaaah…. ya gak guna juga sih HAHHAHAHA. Iya gak sih?
Sebenarnya teman-teman yang demo itu ada kerennya juga, awareness mereka terhadap isu itu bagus. Kita-kita yang gampang encok untuk turun ke jalan, harapannya bisa menyampaikan aspirasi kita dengan cara lain yang lebih persuasif dan akademis.
yang suka ngegitar… angkat gitar kalian!
yang suka futsal… berfutsal lah sampai ke lapangan tingkat nasional!
yang suka belajar… hayuk lah, masa’ kementerian bikin lomba… mau gelontoring uang berjuta-juta bayar ide kalian, kok ya gak ada yang minat?
Ayo semuanya sibuklah dan berjuang dengan cara masing-masing.

Saya juga menyayaaaangkan sekali karena diantara kalian yang anti-demo, kata-kata yang kalian lempar juga malah kayak lempar bensin ke lokasi kebakaran di pabrik petasan. BOOOOOOM! DHUAAAAAR DHUAAAAAR! BOOOOOM!

In the end….
Di era saya, permasalahan yang saya hadapi adalah antara politisi dan akademisi seringkali sulit akur masalah penentuan kebijakan. Kadang suka diam-diam berdoa, “semoga generasi setelah gue gak usah kayak gini lah, akur-akur aja….”

Melihat kenyataan seperti ini, kok kayaknya saya meragukan kapasitas kalian untuk mewujudkan kerja sama yang baik antara akademisi dan politisi. Kayaknya malah makin jauh.

Dari negeri jauh, saya selalu promosi “Iya loh, orang Indonesia itu toleran abis lah pokoknya. Makanya dateng dong!”
rupanya? Masalah baju kotak-kotak atau tidak saja bisa mengkotak-kotakan negeri.

Terima kasih telah membuat saya kecewa (and I know you don’t care about it, karena kalian juga gak kenal sama saya kan).
Namun, kalian masih muda… masih punya banyak waktu untuk berbuat kesalahan dan memperbaikinya, dan saya masih punya harapan yang masih tinggi dan luas untuk melihat kalian semakin dewasa dan semakin baik.

Lampaui pencapaian yang telah saya raih, kalian perlu lebih hebat dari saya dan orang-orang di era saya karena masa yang akan kalian tempuh juga akan lebih menantang dibandingkan masa yang kami hadapi. Dan sebagai kakak, saya peduli pada kalian.

Maka saya tantang kalian untuk mewujudkan impian-impian baik negeri ini….
Saya tantang kalian untuk menjadi orang-orang berkualitas yang dikenal di planet bumi ini, yang ketika ditanya bisa dengan bangga bilang “Saya orang Indonesia loh”…. yaaa boleh lah narsis dan bawa pesan sponsor sedikit “Eh, dulu saya mahasiswa univ. xxxxx loh.”

Saya menantang kalian, karena begitu lah cara saya peduli kepada kalian.
Semoga kalian berbaik hati untuk tidak mengecewakan saya sekali lagi.

Semoga….

Jokowi Bertanya, Marissa Menjawab: Kenapa lulusan IPB banyak yang kerja di Perbankan? Yang jadi petani siapa?


Ketika acara orasi terbuka Dies Natalis IPB, rupanya Pak Presiden resah, gelisah, gulana, dan galau karena mahasiswa Institut Pertanian Bogor, rupanya lebih banyak yang meniti karir di bidang non-pertanian. Begitu galaunya Beliau hingga pertanyaan ini muncul pada pidatonya ck…ck…ckkkk…. :’) sabar ya, Pak… biar saya bantu jawab deh, Pak sebagai alumni. Dan gak mau kalah dong sama Pak Presiden, kali ini saya juga bikin vlog! FUFUFUFUUFUFUUFUFU… biar gak kalah gaul. Tapi vlognya buru-buru jadi butut gitu :’D yo wis lah ya, yang penting niat 🙂

Saya tidak akan sesumbar ini karena kemampuan matematis alumni IPB yang aduhai, kemampuan kamu yang mudah menyelesaikan masalah, bla bla bla… aduuuh, pas sampe sekolah ke luar negeri sih kita akan sadar, alumni dari manapun kita, dengan catata kita rendah hati dan gak besar kepala, kemampuan kita itu STANDAR…. :p (sorry for being honest). Yah selalu ada sih yang over PD “Gila gw keren abis karena gw alumni X” pffft… itu hanya menunjukan orang-orang seperti itu kurang jauh pikniknya (piknik, Mas…Mbak…. yang jauhan dikit).

kapan-kapan kalau saya gak ada deadline yang mendesak, saya wawancara teman yang lain yang lebih dahsyat daripada saya atau kalau lebih luang lagi kita tanya-tanya aja langsung ke dosen2 IPB 😀 mereka kan gaul dan baik-baik. Tapi nanti yaaaa kalau saya tidak dikejar-kejar deadline-deadline yang mematikan ini.

Oke, gitu aja ^^/
Tetep bangga lah jadi mahasiswa pertanian, dan yang bukan mahasiswa pertanian… yaaah mari saling menghargai, inget loh kalau gak ada pertanian gak ada makanan fufufufufu and who doesn’t love food? 😀