Meratapi Literasi Indonesia: Karena Rakyat Indonesia berhak Mendapat Buku-Buku yang Lebih Baik


Pernah suatu hari saya geram dengan orang-orang Indonesia yang tidak gemar membaca, apalagi dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Bukannya apa-apa, Karena adik saya pun pernah seperti itu. Itu terlalu aneh Karena setahu saya sewaktu masih bocah dia cukup suka membaca dan rasanya semua orang di keluarga saya memang suka baca. Lha kok ini males banget. Untung kami belum sampai pada mufakat untuk melakukan tes DNA untuk memastikan bahwa adik saya ini tidak tertukar di rumah sakit.

Adik saya itu biasanya kalau jalan-jalan pasti berkunjung ke gram***a yang notabenenya toko buku paling kawakan di  tanah air. Sekarang? Nope
“Ki, ke gram** yuk cari buku”
“Aduuuh… gak deh kak. Bobok aja deh di rumah”
Ini kan serius, kalau anak yang suka baca saja tiba-tiba malas ke toko buku, pasti ada yang salah.

Saya pun iseng-iseng melakukan riset kecil. Ini pasti ada yang salah… pasti ada yang salah…. entah itu apa.
Saya berkali-kali mendapat isu dari sahabat dan teman saya yang suka berburu buku.
“Iya, Mon… jadi secara kuantitas sih bertambah, tapi kualitas… aduuuuh, jauh menurun”
“Aduh, Mon… lo pasti sedih lah liat buku di sini sekarang. Kurang beragam”

Saya tentu percaya teman-teman saya itu, they are limited edition in this planet dan sejauh yang saya tahu opini mereka selalu objektif dan kritis. Tapi kan penasaran dong jika kita belum liat sendiri. Saya pun memutuskan, saat kunjungan super singkat saya ke tanah air (yang pada akhirnya hanya bikin sakit punggung walau I am super duper happy to meet my family and my cats) saya bertekad untuk ke TOKO BUKU.

Sudah habis dilahap polusi dan panas matahari, kepala saya langsung pusing karena lapar karena sesampainya di toko buku saya paham kenapa orang seperti adik saya saja bisa jadi malas bertandang ke toko buku. Wanna see the reason?
“BUKUNYA TIDAK BERAGAM” and sorry to say (dan maaf jika ini menampar para penulis di tanah air) “KUALITASNYA Pfffffffftttttt…..”

Indonesia! Seriously! Are you lose your mind or what?

Mau lihat… okay! no pic= HOAX, so check this out.

Penulisnya beda-beda tapi semuanya selalu diawali “Love in…”
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Saya pikir ini diawali Mbak Illana Tan sih (eh bener gak sih, gak pernah baca soalnya)
kayaknya semuanya hanya latah ikut-ikutan, dan metode penulisannya? Entahlah mungkin gelar peta lalu lempar panah “Aha! Dapet Stockholm” lalu ditulislah “Love in Stockholm”,
Tertancap di Ottawa, tulis saja love in Ottawa
dst…
Masalah apakah alur cerita dan latar masuk akal atau tidak, oh itu belakangan… toh sekarang lagi trend pembaca-pembaca remaja dibodohi dengan angan-angan romansa walaupun itu tolol sekalipun!!!!
Pernah sahabat saya mengkritik “Ya ampun, Mon… ada loh yang nulis ‘salju menumpuk di Tokyo'” buat para pembaca blog ini, saya kasih tau ya… it is rare salju menumpuk di Tokyo. Seringnya, turun salju pun langsung cair. Mungkin kalau di utara Jepang oke lah ya.

Tapi itu sih belum seberapa, mari positif thinking, mungkin penulisnya datang ke Tokyo ketika badai salju. Who knows! Jakarta dan Bandung aja bisa hujan es kok.
Ada juga loh yang bisa-bisanya menulis, ini latarnya di Eropa utara ya… “Matahari bersinar terang dan menghangati Januari di hari itu”
Ketika membaca frase itu, saya sempat berpikir itu novel science fiction dan kejadiannya ketika global warming sudah melelehkan kutub utara. Kawan… Januari itu: MUSIM DINGIN, dan please kalau kalian ambil latar utara bumi apalagi di kawasan Eropa Utara, jangankan hangat…. matahari aja bersinarnya cuman beberapa jam.

Kalian paham “ketololan” yang terjadi? (Maaf saya terlalu kasar kali ini).  Bahkan saya bisa pastikan bahwa penulisnya, minim membaca. Mungkin terlalu sibuk dengan social media.

Saya berpikir, hmmm… okay fail with young adult mungkin mereka punya alternatif hiburan yang lain. Saya merangsek ke rak entertaiment.

Dan… tebak yang saya temukan:
Image and video hosting by TinyPic

Oh God! Damn it! What’s the point kalian khatam masalah k-pop? APAAAAAAA?
Ya ampun gila apa ya.

Saya mencoba positive thinking. Wah gimana dengan buku biografi. Mungkin ada tokoh-tokoh inspiratif yang bisa mengobati rasa sakit hati saya dengan buku-buku novel young adult. Saya merayap ke sisi buku biografi dan sejarah, yang saya temukan konspirasi ahok lah, konspirasi jokowi lah… Ya Allah, apa sih kok rasa-rasanya kepala saya penat ya melihat itu semua.

Saya berpikir lagi, saya terlalu emosional mungkin karena kurang dekat dengan Tuhan. Saya lalu mendekati buku untuk Muslim. Dan bahkan kali itu saya langsung ingin melakukan taubatan nasuha kepada Allah SWT karena this one really kill me!
Image and video hosting by TinyPic

Jadi manusia itu sibuk ibadah ke Tuhan hanya untuk masalah romance? Jika ibadah itu hanya mengurusi masalah percintaan antar lawan jenis, udah deh… bareng-bareng masuk neraka lah sekalian. Oh come on! Bisa kan ada buku Harun Yahya tentang science and Quran, Answers for daily life kayak ‘Boleh gak sih kita meluk-meluk anjing?’, ‘gimana sih cara thaharah yang baik dan benar?’, ‘Perihal alkohol pada makanan’, yang pertanyaan-pertanyaan sehari-hari seperti itu kan lebih bermutu dan berkualitas jika diserahkan kepada ahlinya dan dijawab dengan bahasa yang remaja banget, dan dijadiin buku. Saya yakin itu akan membantu sekali untuk banyak orang (nih, gw kasih ide! Biar ada yang bisa bikin buku rada bermutu)

Saya lelah marah-marah, karena saya pecinta buku non-fiksi saya menyeret bada saya ke rak buku-buku non fiksi. Well… cukup menarik. Tapi covernya suram (apa salahnya men-judge book from its cover, cover yang bagus toh salah satu cara memanjakan dan menarik pembaca), topiknya sempit, dan saya yang sudah tua ini saja agak enggan membacanya apalagi anak muda.
Image and video hosting by TinyPic

In short, pilihan buku yang cerdas, mencerahkan, menarik, dan dengan tema beragam itu sangat-sangat TERBATAS.
Dan ini: MENYEDIHKAN.

Indonesia yang tertinggal masalah literasi

Dengan lunglai, Mama saya menyambut dengan rendang andalannya dan bilang “Nah, liat kan sekarang. Bagaimana anak Indonesia bisa pintar jika ‘jendela dunianya’ saja cuman jendela yang ditutup kertas kado warna pink”

Ya! Jendela itu ada, tapi yang terlihat dari dalam hanya pink pucat, bukan dunia yang ada di luar sana. In short: FANA!

Adik saya pulang dari kuliah hanya tertawa, “Kenapa Kak? Sekarang tau kan kenapa Kiki males ke toko buku? Kiki ke perpustakaan di kampus kak sekarang karena buku jaman dulu masih jauh lebih bagus daripada yang muncul akhir-akhir ini”

Adik saya yang kini agak lebih bijak setelah masuk kuliah kemudian mengakatan “Jangan negative thinking kak,  masyarakat kita gak suka baca, mugkin bacaan yang menariknya aja yang terbatas. Orang Indonesia suka kok baca dan belajar hal-hal baru” Dengan teliti saya mendengarkan adik saya yang selalu membaca buku yang saya berikan ke kampus dan dia mengaku antrian panjang untuk ikut membaca buku-buku yang saya hadiahkan pada adik saya cukup panjang.

Miris loh, sewaktu saya masih kecil saya masih dibelikan buku-buku seri ilmu pengetahuan oleh Mama dan Ayah saya. Saya juga membaca dongeng dari seluruh dunia. Ketika saya sudah lebih mahir membaca, buku-buku novel saya naik kasta ke serial-serial misteri dan petualangan. Sebelum saya berangkat ke Jepang, saya masih bangga karena ada novel sekelas Laskar Pelangi yang ceritanya manis dan menyemangati anak-anak Indonesia. Saya percaya pada saat itu litarasi di Indonesia akan naik kelas, dan kualitasnya akan semakin baik.

Nyatanya? Saya bahkan tidak bisa menumukan buku non-fiksi populer di toko buku dengan retail terbesar di tanah air. Tidak ada buku buku seperti “what if” atau “naked statistics” atau jika memang belum ada penulis Indonesia yang cukup sakti membuat buku seperti itu, setidaknya mbok ya terjemahannya.

Ada? Tidak!

Jangan pikir saya ini tidak minder, berteman dengan orang-orang dari negeri lain seperi Jepang dan China saja sudah membuat saya “jiper”. Mereka bertanya mengapa saya tidak membawa buku teks dari Indonesia sedangkan mereka? Rak mereka penuh dengan buku-buku teks asing yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa mereka. Saya? Saya haru membeli buku-buku itu dengan uang saya sendiri… mencari di toko buku… dan mau tidak mau harus membeli versi bahasa Inggris.

Kalian pikir saya jago-jago amat, saya bahkan masih mengggunakan google translate dan kamus untuk menerjemahkan beberapa kata dan kalimat, dan itu… itu makan waktu!

Negara lain pada umumnya menerjemahkan beberapa buku teks dan karya literatur penting dan terkenal lainnya (seperti novel dsb) kedalam bahasa mereka. Alasannya? Agak mudah dipelajari dan memperluas perspektif mereka mengenai perkembangan dan sudut pandang di negara lain.

Di banyak seminar ESQ sering terdengar: lihat, tiru, modifikasi…
Apa yang dilihat?
Apa yang mau kita tiru?
Apa yang mau kita modifikasi?
Novel-novel picisan yang hanya menjual mimpi cinderalla story?

Saya ini bukan pembaca buku teenlit atau young adult loh, tapi saya bisa memastikan bahwa buku young adult asing banyak yang ceritanya menarik… bukan hanya masalah cinta kadang juga tentang persahabatan , keluarga, pokoknya lebih beragam.

Karena saya pecinta non-fiksi populer, saya masih mendapatkan buku-buku seperti itu di sini.
Image and video hosting by TinyPic

dan masih ada juga novel-novel klasik yang menurut saya kisahnya penuh makna
Image and video hosting by TinyPic

As a book lover and an avid reader, jelas negara lain lebih menarik bagi saya. Bahkan India saja bukunya lebih beragam dari kita loh! Trust me!

Sebuah Pembodohan

Jika saya begitu jahat, dan punya ambisi untuk menguasai suatu negara, saya akan menggunakan suatu ide brilian: Buat saja seluruh masyarakat di negara tersebut jadi BODOH.
Jadi punya pemikiran sumbu pendek.
Kenapa? Karena dengan itu saya bisa dengan mudah mendoktrin dan membodohi orang-orang di negara tersebut. Yah! diadu domba sedikit juga nanti perang sendiri, mulai dari perang mulut hingga ke perang otot… yang pasti tidak ada perang otak, karena otak mereka sudah kosong melompong!

Karena saya cukup “strategis” dalam berpikir maka saya terlalu gegabah jika membom negara tersebut, bom sekolah… bom perpustakaan…. aduuuh, cemen banget sih. Belum tentu berhasil masih bisa kena gugat PBB pula.

Bagaimana jika, saya susupi dengan trend?
Racuni dengan sinetron dan infotaiment tidak mutu yang hanya membahas artis dan aneka berita tidak mutu lainnya.
Jangan lupa, agar lebih mantap “kebegoan” yang akan tercipta…. di negeri ini artis harus jadi segala-galanya. Ketika ada bom nuklir di Korea Utara, tanyalah artis dangdut.
Ketika ada penemuan teknologi yang baru, jangan lupa wawancara artis sinetron striping (ssst… sinetronnya pun tiru habis drama di luar negeri, kalau ratingnya bagus… diperpanjang hingga 1 juta episode, sssttt ini rahasia kita aja ya, jagan bagi-bagi strategi ini loh).

Okay, sekarang seluruh media dari media cetak hingga online pokoknya harus sibuk memberitakan hal-hal yang gak penting tapi seru, misalnya jambak-jambakan antar dua artis ibukota dan isu nikah siri sampai tayangan langsung artis yang sedang ngeden melahirkan.
Agar lebih “cerdas” jangan lupa #sharedisocialmedia.

Lalu trend tercipta, dunia masyrakat negeri ini menjadi sempit.
Piramida penduduk negeri ini yang didominasi oleh anak muda membuat saya sadar “Well, target utama: Anak muda”
Maka, buat juga buku yang ada (in case masih ada yang mau baca buku) mendoktrin anak muda untuk trapped in the nutshell.

And yeah! Perfect! Makan waktu sih, tapi efeknya dahsyat dan dijamin anti gagal.

Karena masyarakat kemudian diperlihatkan bahwa “cinta” itu hanya sebatas dimabuk kepayang oleh lawan jenis. Maka mereka akan lupa cinta pada sesama, cinta pada orang tua, cinta pada orang yang berbeda keyakinan, cinta pada alam.
Yaaaah… biarkan saja, toh mereka nanti akan gontok-gontokan sendiri ketika ada kawannya yang beda keyakinan atau suku.
Diamkan saja, toh nanti mereka juga akan mati sendiri terkena banjir dan longsor (atau dimakan anakonda lapar) wong mereka yang rusak lingkungannya sendiri kok.

Oiya! Jangan ajarkan hubungan science dan agama, agung-agungkan saja masalah virus merah muda dan keutamaan nikah muda. Semuanya nikah muda, biar si perempuan segera hamil dan punya anak banyak…
Paling nanti sibuk mengurus anak dan akan lupa dengan pendidikan dan karirnya.
Jangan tunjukan jalan ke surga itu beragam… pokoknya jangan!
Ini juga metode yang efektif untuk membuat peperangan antara wanita karir dan Ibu rumah tangga. Padahal mereka punya keutamaan masing-masing ya, eh biarkan saja! Kalau kaum wanita sudah perang dunia, negeri ini makin mudah dikuasai.

Oiya! Karena di negeri ini sudah terlanjur “bodoh”
Sebar juga isu kalau wanita yang masih single hingga after 25 itu bakalan mandul, perawan tua, pokoknya yang jelek-jelek. Selipkan juga isu wanita yang sekolah tinggi dan berkarir itu seringkali tidak mau menurut pada pria.
So, genius women will never get married! Dan kalau wanita-wanita cerdas tidak menikah… maka tidak ada bayi-bayi yang genius pula. Ya ampuuuuuun sempurna!

Karena negeri ini sudah terlanjur “bodoh”, maka katakan juga bahwa kualitas manusia itu bisa dilihat dari fisiknya. Kalau dia gendut, hitam, pokoknya jauh dari standar artis-artis kurus tinggi langsing, itu hina banget deh!
Jangan lupa! Di bully juga… buat mereka tidak pede! Efek paling ringan:trauma dan minim percaya diri, paling berat: BUNUH DIRI.

Dan bukankah itu sempurna?
Semoga misi “pembodohan” di atas tidak terjadi di Indoenesia.

Kawan, saya tidak menjudge jika kalian nikah muda, tidak membaca buku, tidak sekolah tinggi, kalian salah. Oh no! Mana mungkin saya berani melakukan itu.
Namun saya hanya ingin mengatakan we should do more!

Jika kalian ibu-ibu muda, didik anak kalian sebaik mungkin. Carikan buku yang baik, ceritakan cerita-cerita yang berkualitas, angkat impian mereka.
Jika kalian wanita atau pria yang masih single, fokus ke pekerjaan dan pendidikan kalian
Jika kalian pelajar, maka belajar dengan giat dan konfirmasi seluruh informasi yang kalian terima.
Dan lebih dari itu semua: read a good materials.
Jika kalian tahun bahwa tontonan TV tidak bermutu… turn it off!
Bijaklah dalam menggunakan social media dan selalu konfirmasi seluruh berita yang kalian dapat, amati, dan sortir. Kalian ini sudah besar… bisa bedakan mana yang baik dan buruk.
Investasikan tabungan kalian untuk membeli buku yang bagus berdasarkan hobi dan minat kalian. Baca!
Jika kalian tidak suka buku, beli majalah yang “berbobot”… national geographic misalnya jika kalian tertarik dengan alam.
Pelajari! dan Dalami! Lalu sadarlah bahwa dunia ini luas, dan dunia ini membutuhkan kita… manusia dengan kualitas yang lebih baik.

Saya tahu, tulisan-tulisan saya banyak yang “kontroversial” dan banyak juga yang sudah terlalu sebal dengan saya. But really! I criticize for your good. Kita tidak bisa hidup dengan perspektif yang sempit.

Jika membaca buku yang berkualitas saja kita tidak tahan, bagaimana kita bertahan dalam konstelasi global?
Bagaimana? Beri saya jawaban.

Sekali lagi, kita berhak mendapat akses yang lebih baik pada hal-hal yang lebih berkualitas, salah satunya: BUKU dan bahan bacaan lainnya.

 

 

Maaf, Bicara Makanan Halal dengan alasan ilmiah saja tidak cukup….


halal-060715

To the point saja, kita sudah tidak bisa bilang di depan orang Jepang atau non-muslim manapun bahwa kita tidak makan babi karena babi itu tidak sehat, kotor, bla..bla…bla… Alasan seperti itu hanya menunjukan dua hal: 1. Kalian TIDAK mengikuti perkembangan ilmu pengetahun terbaru, 2. Kalian mungkin BELUM pernah (dan pastinya males) berkunjung ke peternakan babi terutama yang ada di Jepang.

“Mon, gaya hidup lo udah hancur… lo kok bisa ngomong kayak gini?”

Mata saya terbuka lebar ketika saya berkunjung ke salah satu peternakan di kawasan Chiba, Jepang. Saya menyadari bahwa bahkan Babi di Jepang mandi lebih sering dibandingkan saya. Kandang mereka dibersihkan secara rutin, dan saat saya berkunjung ke pusar penelitian pertanian di Tsukuba, saya mengetahui  bahwa karena ilmuwan kini tahu masalah cacing pita dan aneka parasit lainnya dan mungkin aneka “threat” lainnya. Proses quality control-nya pun kini sudah sangat modern, dan please kawan… saya bisa menjamin, at least di Jepang si pork dsb ini layak dan sehat untuk dikonsumsi. Why? Am I say something wrong?

index.jpg

Babinya bersih dan lucu kan :’)

Selain itu, semakin saya belajar masak memasak dan pada akhirnya membaca buku “The Science of cooking”, masakan Jepang banyak yang memakai alkohol dalam proses penyajiannya, yaaaa karena itu untuk mematikan bakteri. Orang sini kan sering makan yang mentah-mentah including ikan. Hal serupa untuk masakan eropa, kok steak aja harus disiram wine atau aneka minuman beralkohol lainnya? Ya karena mereka banyak yang makan setengah mateng dagingnya… jadi alkohol itu membantu membunuh para parasit dan semacamnya yang mungkin masih boboks di situ. Logika yang sama ketika kenapa masakan timur tengah dan asia selatan kok rempahnya terlalu strong ya…. Karena mereka banyak mengkonsumsi mutton, daging kambing….! Kolestrol brow, nah untuk meminimalisir itu… maka dimasukanlah seluruh spices and herbs. Semacam itu.

Untuk meyakinkan apa yang telah saya baca, saya langsung menanyakan kepada dua orang sahabat saya yang notabenenya satu orang berlatar belakang dokter hewan dan satu lagi pentolan teknologi pangan.

Apa yang saya dapatkan…
Dari kubu dokter hewan “Mon, lo mending cuman diri lo yang mempertanyakan. Gw di depan professor-professor ahli hewan ditanya kenapa Muslim gak makan babi. Gue gak bisa jawab macem-macem. Yah ini mah perkara komitmen sama Islam aja lah. Lo udah milih jadi Muslim ya udah, manut”

Dari kubu teknologi pangan “Mon, gue… gue… gue suka banget wangi wine, dan gue rasanya mau banget nyicip. Please, wine itu secara kandungan gizi menyehatkan ya, Mon. Gue mau minta minum wine di surga nanti.”

Dan setahu saya, sake, arak, dsb dsb dsb… dalam dosis yang terbatas mereka memang menyehatkan dan kalau kalian berada di negara yang dingin, bisa untuk menghangatkan badan. Cuman ya, kan khamr ya… Allah mungkin tahu kita probably ketagihan, terus mabuk, hilang kesadaran, dan bisa bikin macem-macem yang mungkin tidak hanya membahayakan kita tapi juga orang lain.

Begitu pula daging,  kandungan protein daging Babi itu bagus loh. Sumber protein, jika Muslim boleh mengkonsumsi babi, saya yakin peternakan Babi akan lebih banyak daripada ternak sapi dan kambing, bahkan mungkin ayam.

Jadi jika kalian mau bilang “Iyaaaa… ini diharamkan karena tidak sehat.” Errrr…. Mungkin alasan itu sudah tidak mutu lagi. Sorry to hurt you, guys.

Atau jika mau berdalih “Kalau kebanyakan itu bisa berbahaya buat kesehatan” yah kalau itu sih, kita kebanyakan minum air putih juga bisa mati karena Hiponatraemia. So many ways to sick and die, gak perlu capek dengan minum khamr atau olahan daging babi.

Maka kembali pada kesimpulan teman-teman saya: It is a matter of COMMITMENT. Sudah memilih Muslim maka turuti aturan mainnya. Dan untuk saat ini mungkin ini alasan paling masuk akal yang bisa kita lempar ketika ada yang bertanya.

 Dari Sudut Pandang Ekonomi
“Ok, jadi mon… daging halal itu lebih murah dari yang non-halal” kata seorang teman yang pernah berusahan menjelaskan hal ini di depan saya. Dia lupa, saya ini seorang: ekonom :’)

Kalau minuman, oke lah ya. Minuman beralkohol kan prosesnya lebih panjang dibandingkan yang non-alkohol. Jadi well… make sense.

Tapi daging?
Where? Where you bought your meat? Ya daging ayam halal memang lebih murah daripada yang non-halal, di INDONESIA. Kenapa? Karena supplynya lebih banyak. Ini kan perkara kasus supply demand aja. Di negara Muslim, semua slaughterhouse akan menyembelih hewannya dengan cara yang “halal” sedangkan yang non-halal mungkin dia punya metode pemotongan yang lebih cepat, mesin jagal atau bahkan yang kejam seperti di listrik dsb, itu akan butuh capital cost yang lebih mahal. Nah, iki bener iki!

Tapi di negara non-moslim? Paling banter adalah harganya sama dengan harga daging non-halal. Dengan metode pembuktian terbalik menggunakan cara berpikir pada paragraph sebelumnya. Harga yang sama dengan daging non-halal ini bisa terjadi jika slaughterhouse di suatu negara menyadari bahwa daging halal itu bisa dikonsumsi oleh semua orang, bukan hanya Moslim. Dan ini yang menjadi celah “bisnis” untuk negara-negara seperti Brazil dan Australia misalnya. Jika kalian berada di luar negeri, pasti bisa menemukan daging halal yang diimpor dari negara-negara non-Muslim.

Untuk kesehatan daging sendiri, dari yang saya baca dari berbagai jurnal dan buku, untuk negara Eropa yang semakin parno dengan kesehatan makanan dan hajat hidup para hewan, mereka juga secara prinsip cara memotongnya sama dengan cara memotong hewan ala kita. Bedanya hanya, tidak membaca Bismillah di awal menyembelihan. Ini yang membuat daging mereka jadi tidak halal untuk kita. Namun untuk sisi kesehatan, sama daging di Indonesia sih lebih sehat daging mereka ya HAHAHAHAHHAA. Ketika mereka mulai sadar bahwa mereka cuman tinggal menambah “Bismillah”, maka saya yakin beberapa tahun kedepan pasar daging dan makanan halal di dunia akan dikuasai yaaaaah setidaknya oleh negara-negara Eropa. Yes! Europe… plus Jepang lah karena mereka kan bersih banget.

Meanwhile in Indonesia, yang lebih sibuk mikir pilkada daripada memikirkan konstelasi global. Untuk lead pasar makanan halal aja kita belum mampu. Kenapa? Karena kalau kata teman saya “Kita itu lupa, Mon…. halal itu gak cukup, tapi harus halalan tayyiban. Kualitasnya juga harus baik”

Ternak kita masih belum aman dari aneka penyakit sih, belum lagi perlakuan off-farm yang seadanya :’) belum lagi lambung kita yang sudah terbiasa dengan pewarna tekstil dan borax plus MSG dalam jumlah tinggi, rasa-rasanya tidak terlalu peduli dengan kualitas makanan yang masuk ke tubuh kita. Untuk dikonsumsi oleh Muslim, daging kita cukup ok-lah yaaa daripada lapar. Namun untuk merebut hati pasar internasional, sayangnya belum.

Mengapa saya harus menjelaskan hal ini, karena jika kalian kelak ketemu bule atau siapapun yang apesnya lebih pintar dari kalian dan bertanya “Kenapa ini haram?” lalu jawaban kalian “Oh iya, karena gak sehat”, they will turn the table and say “Lha, emang makanan di Indonesia sehat?”

Lalu Apa Alasan yang Tepat?

Dengan ilmu agama saya yang cetek, saya tidak tahu. Saya dan teman-teman saya pun beda pendapat masalah ini. Yang pasti kami hanya sepakat, rule is a rule…

Mungkin Allah sengaja mengetes komitmen kita.

Sedangkan saya, hmmm…. Untuk khamr, saya memahaminya sebagai upaya preventif. Supaya otak kita tetap waras ketika menghadapi segala sesuatu. Walau kemudian masih bisa ditimpal juga dengan “Lah kalo wine dipake buat ngerendem daging kan gak akan bikin mabok” Iya sih… makin enak pula kan ya HAHAHAHAHA. Tapi yaaa, wis lah, rule is rule.

Sedangkan untuk daging… entahlah. Ini pun susah mencari celahnya.
Semakin saya belajar di bidang lingkungan hidup, saya memahaminya sebagai the way Allah menjaga keseimbangan ekosistem. Tanpa rule ini, eksploitasi terhadap Babi mungkin akan over (karena mereka juga bagus buat penelitian kedokteran), konsumsi daging juga pasti akan meningkat, peternakan akan semakin banyak seiring dengan meningkatnya deman ternak, itu berarti rumput dan tumbuhan lainnya juga akan over exploited karena herbivor-nya pun semakin banyak.

Yah, tapi masa selebay itu sih? Iya sih… walau saya percaya kita ini sebagai manusia by default memang “rakus” jadi tanpa aneka rule kita akan maen lahap semua sumber daya di muka bumi ini. Wong ada rule aja kita masih ngerusak planet ini kok.

Mungkin dengan aturan dari Allah “Ingatlah Aku sebelum makan dan minum” melalui mekanisme halal-haram ini, kita jadi bisa sedikit mengerem nafsu konsumtif kita. Mungkin.

Namun, wallahu’alam bi shawab

Ah, namun lagi-lagi…. Yang paling utama adalah ini masalah komitmen kita pada Yang Di atas.

If I never come back, the reason is….


Jika saya harus memilih Indonesia dengan seluruh hidup saya, saya akan memilih Indonesia. I love Indonesia, the art, the culture, the beauty, everything…
Namun, jika kemudian saya tidak kembali ke tanah air, itu bukan berarti saya tidak cinta dengan negeri ini. Tapi lebih karena saya terlalu kecewa dengan beberapa hal. Saya tidak marah kepada Indonesia, again, I really love Indonesia. Walau banyak hal “meh” yang mesti diperbaiki, but who will able to forget the beauty of Indonesia? Namun, selalu ada yang membuat saya geram. Yang membuat saya terlalu marah sebagai seseorang yang terlalu fanatik mencintai negeri saya sendiri. And hei! Indonesian people, here… here… I told you why! Dan saya percaya ada banyak orang-orang yang sama seperti saya… mungkin orang-orang dengan kualitas intelektual yang lebih baik dibandingkan saya, dan jika mereka sepemikiran dengan saya, then Boom! You’ll lose tones of awesome people, Indonesia. You will!

Politik di Institusi yang seharusnya netral: A big no!

Saya percaya, bagi beberapa orang setelah membaca tulisan ini akan bilang “Marissa, you will enter the hell in no time, in Jahannam maybe” oh good, I don’t care! But I need to say this, to show you that there always a clear border between religion, education, and f***in’ politics.

Saya mendengar selentingan bahwa di salah satu kampus di Indonesia, terdapat soal ujian agama “Sebagai Muslim kita harus memilih pemimpin yang?” konon katanya jika Anda memilih “non-muslim” maka nilai Anda langsung akan drop dan terancam tidak lulus. Saya pikir ini hanya hoax. Lagipula, masa’ sih? Jadi saya pikir, yo wis lah… gosip.

Namun, lama kelamaan saya jengah juga ketika beberapa dosen yang luar biasa saya yakini intelektualitasnya, saya hormati luar biasa, saya kagumi dengan sepenuh hati, mulai berkoar masalah politik. Yang lebih saya sayangkan “Ini bukan politik, ini masalah religius, masalah agama, masalah membela Tuhan” Tuhan di posisi yang Mahaagung, maka Dia tidak perlu di bela, kita yang butuh dilindungi Tuhan, salah satunya dilindungi dari pemikiran yang sempit.

Saya kecewa karena sebagai muslim saya merasa Islam itu begitu mulia, maka saya tidak ingin masalah agama dioplos dengan politik. Saya, sebagai pecinta ilmu pengetahuan meyakini bahwa ilmu itu susah! Perlu hati yang tenang, perlu pemikiran yang jernih, ketika kemudian itu di”cemari” dengan something little things called politic… which is, I should tell you, not even your business! Except you are a political student of course…
then how you can absorb all of those precious knowledge? How? tell me how? Belajar itu tidak semudah menghapal judul FTV! Butuh konsentrasi luar biasa untuk itu. Bismillah dan sekadar shalat komplit 5 waktu plus sunnah tidak cukup untuk meyakinkan Allah untuk menjadikan kalian cerdas dan pintar dan berilmu. Nope! you need a constant commitment to keep studying. To stay away from every unimportant stuff in your life.

Pada buku Sanshiro, Natsume Soseki menjelaskan mengenai kehidupan mahasiswa di era restorasi meiji. Di bawah kondisi politik yang kental, para mahasiswa tidak serta merta concern pada kondisi perpolitikan mereka, begitu pula para professor mereka. Mereka lebih concern dalam menyerap seluruh pengetahuan barat dan kemudian menkonversi itu semua kedalam konsep yang lebih “Japaniyah.” Karena itu “jihad” para akademisi! Dan hingga hari ini, universitas adalah tempat bersih dari politik. Professor here doing research, updating their publication, thinking about gaining a nobel prize after their retire. Mahasiswa di sini, jika perlu menginap seharian di lab untuk menyelesaikan penelitan mereka. Tidak ada poster selain yang terkait dengan hal-hal ilmiah atau ehmmm free concert. Laah, kita apa? Politik juga gitu-gitu aja, ekonomi segitu-segitu aja, IPTEK yaaaa tidak ada yang signifikan banget.

Saya sampai tertawa getir ketika ada sebuah pertanyaan, “Eh, jadi kalau mau jadi petinggi kampus X salah satu syaratnya harus jadi simpatisan partai ABC ya?” can you believe that? Itu hal yang maha memalukan ketika ada pertanyaan seperti itu menodai suatu institusi pendidikan.

Listen to me, siapa pun presiden Indonesia, siapapun gubernur Jawa Barat, siapapun gubernur Jakarta, siapapun penjaga makam mbah priok, siapapun itu… Indonesia gak akan berubah jika perdebatan kita sempit dan hanya sekitar itu-itu aja. Ya! Bukankah Allah tidak akan mengubah suatu kaum jika mereka tidak mengubah dirinya sendiri. KAUM, kaum itu a big group of people…. bukan perseorangan. Jadi saya merasa kok konyol sih harus ribut-ribut dan heboh masalah pilkada, dsb?
Ketika negara-negara G20 sudah berusaha untuk membuat 0 emission growth in 2030, kita masih repot mikir pilkada, KPU, bu mega, dan segala tetek bengek yang tidak jelas faedahnya.

So, please stop!

Masjid pun mulai berpolitik….

Sahabat saya pun ada yang melapor bahwa ceramah di sekitar apartementnya pun tidak menyejukan lagi. Ya Allah, untung yang Allah itu baik… dan untungnya Allah mendelegasikan beberapa tugas kepada Malaikat yang tidak punya hawa nafsu. Jika Allah mendelegasikan tugas mengatur alam semesta kepada Marissa Malahayati misalnya, “Wah… apa ini? Loh kok sekarang parpol jadi kualifikasi masuk surga, tenggelamkan!” maka niscaya planet bumi akan lebih dipenuhi kucing dibandingkan manusia.
Maka bersyukur deh Allah tuh baaaaaaiiiiiiiiikkkkk setengah mati…
Dan saya percaya teman-teman saya yang beragama lain pun sepakat “Iya sih, kayaknya kualifikasi dekat dengan Tuhan itu bukan pandangan politik deh”
Sepakat kan?

Then stop… dunia itu semakin complicated, ketika saya ke masjid saya ingin mendengar suara adzan, Quran yang mendayu, nasehat yang membangun… kalau bisa yang membuat saya menjadi lebih “adem” dan “bijak” setelah saya melangkahkan kaki keluar masjid.

Saya rasa ulama juga harus lebih bijaksana… tidak perlu terlalu “nyeleb” lah.
Saya sangat menghargai ulama, kyai, dsb. Tapi saya merasa kok jadi off-site ya membuat mereka menjadi mata tombak untuk politik?

Logika saya tuh pemuka agama itu justru harus jadi pihak yang paling netral sehingga bisa jadi tempat kita meminta pendapat tanpa perlu ada sorot kamera.
Something like that…

Sedikit tentang pilkada…

Pertemanan di negeri kita kita diuji oleh harta, tahta, pilkada.
Okay, kalian mau dengar pendapat saya?

Listen, both of the candidate are too crazy with the “position”!
Dua-duanya punya kelemahan dan kelebihan.
Yang satu… mmm…. while I environmental economist, saya merasa reklamasi itu somehow kurang tepat. Selalu ada cara yang lebih bijaksana untuk memperbaiki alam dan udah laaah pembangunan jangan diembat semua sama Jakarta.
Yang satu, DP rumah 0% saja konsepnya tidak jelas… menghalalkan segala cara untuk meraih simpati warga. Aduh apa banget deh.
So yeah, are you blind guys? Both are not perfect, maybe asholes.
But now you need to choose who is better between those candidates.
you need to choose an asholes you can work with better.

kriterianya? Yaaa itu masing-masing pribadi kalian yang menentukan.
Kalau kamu punya alergi dengan durian kamu tidak bisa memaksa semua orang untuk tidak makan durian.
Yo wis lah, kalau menurut kamu keyakinan, suku, dsb itu kriteria utama, yaaa udah pilih yang sesuai… tidak perlu nyinyir dengan yang tidak mempersoalkan itu.

kan bisa baik-baik “Mmm, bro gw berbeda pendapat deh kayaknya. Kayaknya X lebih ok”
“Iya ya, Bro? Waaah udah masalah hati sih jadi susah ahhahahha”
Lalu marilah nikmati es kelapa muda bersama-sama… jangan lupa dengan mie ayam pangsit. Abang tukang es dan mie ayam pun kecipratan rezeki. Itu lebih signifikan efeknya.
Hidup pun lebih mudah dan sepertinya lebih damai.
Tidak hanya untuk pilkada, tapi untuk next political leap in our country.

In short….

I want Indonesia back to the previous humble country with a sensible humor.
Dan jujur ketika saya di sini, ngobrol dengan teman-teman saya di kantor, saya lelah menjawab “Marissa-san, what’s wrong with your country?”
And I have no answer for that.

Saya pernah membaca “Banyak orang yang pintar, bertalenta, dan akademisi kini enggan berurusan dengan politik…”
Jika sekolah-sekolah
universitas
bahkan masjid-masjid  sudah dipenuhi politik
maka masihkah ada tempat untuk mereka si orang yang pintar, bertalenta, dan para akademisi tersebut di tanah air yang pastinya sangat mereka cintai.

Padahal hanya ada satu kesalahan mereka, enggan berurusan dengan hal-hal yang bukan kemampuan dan keahlian mereka.

Saya meyakini… pasti di hati mereka terkesiap:
If I never come back, that’s not because I am not love this country.
But maybe because there is no place for me…

Indonesian, seriously… fix your self!

 

Sekilas kritik untuk Negeri “Cuitan”


Saya teringat salah satu tuitan Sudjiwo Tedjo (I should tell I really like his point of view)

13398994_1186105991433852_1525162985_n

“Lama-lama orang malas romantis, karena takut disebut galau. Malas peduli, takut disebut kepo. Malas mendetail, takut dibilang rempong.
Malas berpendapat, takut dibilang curhat. Malas mengubah point-of-view saat debat, takut dibilang labil”

Mungkin jika tuitan itu ditulis di masa-masa ini mungkin akan ada tambahan “Lama-lama malas mengkaji agama, karena takut dianggap menistakan agama. Lama-lama malas berpolitik karena takut masuk penjara” terus begitu hingga ladang gandum dipenuhi coklat.

Guys! Wake up… kok kita mulai memperumit segala aspek dalam kehidupan kita sih, segala aspek yang yaaaa kita-kita sendiri ini yang bikin. Bikin masalah sendiri, mengkritik sendiri, marah sendiri, loh… maunya apa?

Ratusan kilometer dari tanah air, saya merasa mengapa Indonesia kok “mumet”. Saya ingat sahabat saya sampai bilang “Ini sih, Mon…mungkin manusianya yang harus diganti.”
Maaf saja tapi menurut saya seluruh kasus yang sedang hangat di tanah air itu sebenarnya “Meh!”

Oke start from kasus penistaan agama dari pak Ahok. Sebagai muslim, well… saya harus bilang Ahok salah. Sungguh kasus keselimpet lidah Beliau sangat fatal. Apalagi di Indonesia. Loh Indonesia loh, beda “mahzab” atau “partai” antar dua keluaga saja dua sejoli bisa batal nikah kok. lha, ini bawa Al-Quran. yooo blas! Beliau salah, namun saya pribadi merasa yang terjadi kepada Beliau selanjutnya juga jadi tidak fair. Sudah diproses secara hukum kok, masih di demo, masih di caci, lah… kalau kita sibuk menyudutkan dan mengulang-ulang kesalahan Beliau, apakah itu membuat kita menjadi lebih baik dibandingkan Beliau?

Dan, mbok ya kalau tahu lawan itu cerdas maka berperanglah dengan taktik yang cerdas. Lhaaa… ini kesaksiannya cuman nonton youtube, buat laporan pun kompakan, piye? Salah pun kompakan. Lha… perang itu bukan hanya modal bismillah dan Allahuakbar, harus ada taktik, harus ada pemikiran, harus pengkajian… semua harus dilihat secara kaffah dan menyeluruh. Masih pakai demo segala. Ini logikanya dimana? Ya percayalah kepada para penegak hukum. Coba-coba-coba latihan….latihan HUSNUDZAN alias berbaik sangka.

Okay… mari kita biarkan penegak hukum bekerja secara optimal.
Eh tunggu! Memangnya bisa?

Ada yang bicara sedikit menyinggung agama, langsung dilaporkan ke polisi.. pasalnya tidak tanggung-tanggung “penistaan agama”
Ada yang update status kritik sedikit, itu juga dilaporkan ke polisi
Ada mantan pejabat iseng sedikit ngetwit, juga heboh dikomentari
Bahkan uang rupiah yang sudah didesain seindah mungkin oleh tim, dilaporkan ke polisi juga. Itu cetaknya aja udah susah. Masih baik hati BI mau mengomentari hal ini, kalau saya jadi gubernur BI sih “Yo wis lah… biarin aja mereka misuh-misuh ndak jelas.” mending ngurus harga cabe yang jelas-jelas lebih krusial dan terang inti masalahnya.

Besok-besok nasi basi pun jangan-jangan sampai ke polisi “Ini kasus penindasan rakyat oleh perusahaan rice cooker”
Besok-besok, saya yang sering salah melafakan ش, ص, ز,ذ juga akan dilaporkan ke Polres Bogor karena kasus penistaan agama “Ini loh, mbak Marissa, baca Quran-nya salah… bahasa Arab itu salah makhraj salah arti, penistaan agamaaaaaaaaa, digoreng di nerakaaaaaaa” Arggghhhhhhhh~~~
Lha, ini polisinya pun jadi capek fisik dan psikologis.
Orang-orang yang cerdas, pintar, tapi malas ribet juga akhirnya jadi mulai searching “How to change your nationality”, mulai searching biaya visa, join global online dating, dan tentunya tiket pesawat.

Mungkin saya terlalu “cuek”, terlalu liberal, terlalu cetek, apapun lah yang ingin kalian bilang. Tapi di tengah konstelasi global, ketika orang-orang bersaing untuk bekerja lintas batas. Kita? Kita masih sibuk di masalah spekulasi cuitan dan saling salah menyalahkan dibandingkan fokus menyelesaikan masalah itu sendiri. Kalian tahu gak itu seperti apa? Seperti dalam perlombaan lari, peluit sudah ditiup, yang lain sudah lari… kita? Kita masih sibuk menyalahkan sepatu “Ini gara-gara sepatunya nih, terlalu murah! Terus stripnya terlalu terang jadi bikin silau, yang jahit sepatunya pasti ingin saya celaka. Siapa? Siapa? Siapa penjahit sepatunya?
Ya Allah…

Saya selalu bilang orang Indonesia itu luar biasa baik hatinya. Dimana lagi di sudut dunia orang bisa selalu melempar senyum dan tawa even to the stranger. Cuma di Indonesia! Tapi ya kita sering kali mudah tersulut…mudah percaya… mudah terprovokasi…
Sering banget sih.

Fenomena ini kan sudah terjadi sejak lama sebenarnya. Beberapa dari kita seringkali malas membaca detil berita, tidak mencari tahu lebih dalam dari informasi yang kita dapat dari grup Whatsapp, LINE, dsb… lalu Voila! Share ke seluruh social media yang ada. Awalnya sih range kecil-kecilan, lalu lama-lama ketagihan, dan jadi ketagihan nasional… dan Bom! Sekarang masalahnya jadi besar kan? Munculah Pak Buniyani yang diikuti kasus-kasus lainnya yang sebenarnya ya gitu-gitu aja.

Saya pun heran mengapa media juga terkadang mengambi “cuitan” di sosial media sebagai literature review. Jurnal aja, jurnal akademik… kalau tidak terakreditasi masih harus diuji lagi kebenarannya, lha iki kutipan dari social media, yo ngawur ndak karuan wis. Itu sangat tidak ilmiah.

Aduh jadi capek marah-marahnya. Tapi serius, kenapa sih… kenapa kita begitu usil mengkritisi tanpa memberi solusi, mencaci dan menyalahkan tanpa saling mengingatkan. Kerajaan di Nusantara itu mayoritas bubar karena perang saudara, lha mbok ya sesekali belajar dari sejarah. Kalau tidak setuju dengan orang lain kan bisa “Witsss…. sebentar cuy! Kita agak berbeda perspektif nih bla bla bla”paparkan, jelaskan, diskusikan… ra usah misuh-misuh dikit-dikit twit, dikit-dikit curhat di socmed, dikit-dikit lapor polisi. Kan lebih sejuk.

Lalu harus bagaimana?
Mungkin sesekali kita harus matikan handphone dan TV gak usah lama-lama, setiap weekend aja, take your backpack and umbrella… dan lakukan semua hobi kalian selain liat handphone.
Coba cafe baru bareng sahabat kalian,
cuci baju,
tanam cabe di pekarangan rumah atau kacang ijo di kapas dan seperti layaknya bocah lugu yang antusias menunggu mereka tumbuh, atas ketawa konyol sendiri karena mereka secara misterius gagal tumbuh.
Baca buku yang benar-benar kalian mau baca
Bantu mama nyapu rumah
Shopping… atau berburu barang vintage
Journaling
Gangguin keponakan atau anak orang yang masih cilik dan lucu-lucunya tanpa perlu sibuk ambil foto dan upload ke social media
Ke ATM, transfer some money ke yayasan
Surprise visit ke rumah kalau kalian jauh dari rumah, plus bawa oleh-oleh yang mereka suka.
There will be lots of things you can do dalam waktu 24 jam tanpa melihat TV dan handphone sementara. Bukan berarti TV dan handphone itu jelek ya, tapi terkadang kita hanya butuh sedikit detox sih dalam hidup. Go outside and see everything from another perspective.

Jalan dan ngobrol bareng lah sama orang yang wawasannya luas dan menyenangkan, berdebat secara sehat… lalu ketawa bareng. Belajar untuk saling menghargai pendapat bahwa beda pendapat itu oke loh, menambah alternatif sudut pandang, dan itu membijaksanakan kita karena kita jadi “ngeh” oh iya yaaa pandangan gw belum tentu sama dengan orang lain.

Dan yang lebih penting lagi… sebelum klak klik submit atau share berita/komen/opini/foto/dsb. Baca dan liat lagi, kenceng-kenceng kalau perlu… pikir dan renungkan dengan otak dan nurani yang udah Tuhan kasih kepada kita apakah hal tersebut baik untuk disampaikan atau tidak. Kalau rupanya jelek, yaaaaa udah… delete lagi. Seberapa penting sih memang “eksis” di dunia maya? Menurut saya sih itu sesuatu yang semu dan gak penting.
Lagipula ada hadist yang berbunyi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Mengutip kata Alm. Gus Dur “Gitu aja kok repot” 🙂 iya sih pilihannya kan cuman dua diam atau say something good.

 

Super Short Trip to Hiroshima (and a small tips if you plan to go there ;) )


Setelah di timpuk aneka PR (dan masih menumpuk) karena dikejar deadline submit jurnal Maret ini, dengan gegap gempita seorang Marissa memutuskan untuk kabur ke Hiroshima. Jumat 23 Desember adalah hari libur nasional di Jepang, jadi yo wis lah… 1-2 hari juga ndak apa yang penting libuuuur. Karena niatnya memang “kabur” jadi yaaa ndak bilang-bilang sama Sensei kalau akan ciao ke Hiroshima. Walhasil Beliau dengan ceria dan senyumnya yang manis langsung memberikan “hadiah” berupa PR untuk programming dan research progress. Dengan senyum manis tersungging, kami mah ngangguk-ngangguk aja, sambil mikir “Waduuh harus gotong laptop nih”

Namun memang ya bocah-bocah durhaka. Saya sih bawa laptop, tapi alhamdulillah tidak disentuh. Saya kira saya yang paling malas dan durhaka dan akan diazab Allah, rupanya “sohib-sohib” saya di lab pun serupa! Mereka malah sudah menggotong peralatan ski dan kelupaan membawa laptop mereka :’D Alhamdulillah, di tempat tujuan mereka gak bisa ski karena badai MWAHAHAHAHAHAHA. Allah juga tahu siapa yang dosanya lebih serius perihal ini.
Lucu sih karena pada akhirnya malah dapat LINE dari para mahasiswa durhaka “Marissa, how about your homework? Wait! What homework btw?” hahhaa lha piye…
absurb lah my PhD life.

Hiroshima: A Recommendation if you are a backpacker with super limited time!
Saya sudah lelah ditanya “Mon, kira-kira di Jepang harus liat apa ya? Kalau ke tempat X berapa lama? Terus bayar berapa? Di Tokyo hotel yang murah apa?”
Ada beberapa hal yang salah kaprah di sini:

1. Saya jarang jalan-jalan… Kan kalian tahu saya ini “cat person” setengah mati. Keluar rumah? Capek? Lha… di rumah anget dan banyak makanan yaaaa ngelungker di balik selimut
2. Kalau kalian tanya Tokyo, saya sendiri saja…. yang 2 tahun di Tokyo masih menahan tangis kalau liat harga hotel. Akomodasi di Tokyo itu mahaaaaaaaaaal.

Tapi kali ini saya tahu,  rekomendasi jika kalian mau backpacker, hanya 1-2 hari, dan budget agak sedikit terengah. I recommend: HIROSHIMA.
Alasannya:
1. Main attractionnya tidak saling berjauhan, jadi kalau hanya ingin explore main attractions… pasti sempat lah.
2. Penginapan dan transportation cost tidak terlalu mahal.

Minusnya, yaaaa jauh dari Tokyo. Kalian bisa naik overnight bus dari Tokyo (12 jam) , naik shinkansen (sekitar 3 jam), atau take a flight ke fukuoka airport lalu lanjut dengan kereta atau bus. Kyoto juga super recommended sih, tapi ketika musim libur datang saya merasa Kyoto jadi terlalu ramai.

Dari Hiroshima station, kalian bisa langsung jalan kaki dan berjalan ke area kuil salah satunya Hiroshima Toshogu Shrine yang letaknya di Futaba Mt. Nah satu bukit ini ke atas itu kompleks kuil, jadi jika kalian kuat nanjak, mendaki gunung melewati lembah, kalian bisa melihat banyak spots di sini. One of my favorite adalah Kinko Inari Shrine, karena jalan menuju kesana menurut saya “camera-able” karena torii dengan warna merah menyala itu nendang banget di kamera

Image and video hosting by TinyPic

Gate ke Toshogu Shrine

Image and video hosting by TinyPic

Jalan menuju Kinko Inari Shrine

Image and video hosting by TinyPic

Pemandangan selama mendaki gunung melewati lembah

Dari situ, harus ke Miyajima lah. Ini bagus banget! Jadi jika kalian ke Hiroshima dan gak mampir ke Miyajima, aduuuuh… bye~sayang banget. Ini agenda wajib! Sebenarnya sih si pulau kecil ini official name-nya Itsukushima, nama beken-nya ya Miyajima itu. Jika ada waktu lebih banyak lagi, kalian harus menjajal naik ke Mt.Misen.

Miyajima ini terpilih sebagai salah satu UNESCO World Heritage. Awalnya sih mikir, ya ampuuun sebagus apa sih? Kuil itu mau sebagus apa lagi?
Rupanya satu komplek pulau kecil ini, shrine area yang dikelilingi gunung dan laut. Jadi scenic banget sih. Better you see this one
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Cantik kan…
Belum lagi makanan di sini yang enak banget! Kuliner khas di Miyajima adalah tiram dan belut. Untuk makan siang saya menjajal goreng tiram di sini…. dan ENAK! Ya ampuuun enak banget. Untuk menghindari kalian yang bisa ngiler, foto sengaja saya blur HAHAHAHAHA
Image and video hosting by TinyPic

Saya juga beruntung karena ketika saya datang, kota Hiroshima rupanya sedang mengadakan even light festival besar-besaran :’D dan venue illumination festival ini hanya 3 menit dari guest house tempat saya menginap HHAHAHAHAHAHA. Lucky Marissa…. untuk kalian pecinta bokeh photography, it such a heaven…
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Keesokan harinya, pastinya dong sudah sampai Hiroshima kok gak liat Hiroshima Atomic Bomb dome! Wah pelanggaran berat. Kebetulan tempat saya menginap juga dekat dengan area ini.
Nah Atomic bom dome, Memorial museum, dan Hiroshima castle itu areanya berdekatan jadi kalian bisa keliling dan lihat semua spots ini dalam satu hari dengan jalan kaki atau sewa sepeda. Itu pun kalian masih sempat jalan-jalan di tempat gaulnya Hiroshima di Hondori St.

Rekomendasi saya sih, ke Hiroshima castle dulu ya… karena dia agak jauh sedikit.
Image and video hosting by TinyPic

Dari situ enjoy Atomic bomb memorial park.
Image and video hosting by TinyPic
Saran saya, kalian HARUS masuk ke Hiroshima Peace Memorial museum karena it is open your mind banget, tiket masuk hanya 200 yen!
Image and video hosting by TinyPic
Awalnya saya ke museum juga hanya sekadar nitip tas karena lokernya gratis (HAHAHAHHA). Tapi karena penasaran, akhirnya mampir juga dan rupanya memorable banget, dan setelah keluar museum kalian pasti tergugah dan bakal bilang “No more war in this world!”

Rasanya juga mau nangis ketika membaca cerita para korban bom atom Hiroshima. Makin sedih lagi ketika melihat origami yang dilipat oleh Sadako Sasaki-san, bocah cilik yang terkena leukeumia karena efek radiasi bom atom.
Image and video hosting by TinyPic
Lebih sedih daripada film One Liter of Tears sih. Namanya bocah masih polos gitu kan, dia berharap dengan melipat 1000 origami burung bangau bisa mengantarkan doanya untuk sembuh terkabul. Aduh… aduh… gak kuat deh, it is too sad for me. Oiya ada bukunya loh, kalau gak salah terbitan Penguin publisher, judulnya Sadako and the Thousand Paper Cranes.

Budgeting!
Kalau kalian pecinta privacy, rekomendasi saya adalah menyewa kamar di Ryookan,. Ryookan ini rumah tradisional Jepang, tidurnya pun di futon alias kasur lipat. Tapi kamarnya luas, dan ada private room. Ada beberapa Ryookan di Hiroshima, jadi coba aja cari. kalau mau lebih murah lagi yang kamar di dorminatory room atau capsule hotel. Agak sakit punggung sih… dan saya kan rewel ya jadi males ahahaha.

Capsule hotel: 1500-2000 yen per night
Ryookan: 3000/4000 yen per night—–5000/6000 yen per night in peak time for private room
Hotel 3 stars      : 5000/6000 yen per night—- 6000/10000 yen per night in the peak time for private room.

Untuk transport ferry dari hiroshima city ke miyajima biasanya around 1000-2000 yen round trip. Tergantung kalian naik dari mana.

City bus dan trem 160-220 yen asal tau rutenya

Kereta 160-400 yen tergantung jarak

Just IMO sebagai mantan anak Tokyo, range harga di atas cukup rasional dan affordable.

Sekian deh laporan singkatnya.
Selamat jalan-jalan… 😉