Mengenang Prof. Masanori Kaji: Belajar mengenai arti dedikasi


Saya kehilangan salah satu dosen favorit saya di kampus, dan rasanya sedih…
mungkin kalian berpikir “Yah, Mon…. siapa-siapa lo juga bukan” hahaha iya sih, tapi kan saya ngefans :). Selain itu ada banyak cerita di balik ini semua yang sebaiknya kalian ketahui karena bagi saya Tuhan lagi-lagi memanggil orang yang baik dari planet bumi ini. Ya! Lagi-lagi.

***

Kaji-sensei, begitu biasanya Beliau dipanggil adalah dosen sejarah sains. Beliau sebenarnya ahli kimia, tapi sepertinya ngefans berat dengan Mandeleev (yang lupa siapa gerangan Mandeleev, itu looooh yang bikin tabel periodik) Beliau kemudian mengejar Mandeleev dan menempuh jenjang doktoral Beliau di Rusia. Sebagai fans, kan saya jadi “kepo” dan saya sempat tertawa tiada henti karena seluruh foto Beliau di website pribadinya pasti di depan patung Mandeleev, oh come on… gak segitunya kali, Sensei hahahaha. Beliau kan orangnya pendiam, kalem, yah tipikal orang Solo lah kalau di Indonesia, jadi saya kan sekalinya menemukan hal-hal unik dari Beliau jadi pengen ketawa.

Saya kemudian mengetahui bahwa Beliau adalah salah satu kontributor dan salah satu editor dalam buku terbitan Oxford Press yang berjudul “Early Responses to the Periodic System”. Sebagai seorang maniak buku, saya tahu betul bahwa buku yang bisa dicetak Oxford Press itu tidak main-main, “Wah hebat juga nih, Sensei” pikir saya. Terlalu terlambat bagi saya untuk meminta tanda tangan Beliau… arrrghhh…. malu-malu kucing sih.
Image and video hosting by TinyPic

Saya baru saja selesai membaca essay yang Beliau tulis sendiri, dan lagi-lagi untuk kesekian kalinya saya baru tahu bahwa sejarah bisa begitu menarik. Pemaparan Beliau yang runut membuat kita paham bagaimana Jepang berusaha sedemikian rupa menyerap ilmu pengetahuan bahkan dari sebelum era Restorasi Meiji. Waaah… kalau kalain penasaran boleh lah pinjam buku saya 🙂 (asal jangan dibawa diaku dan gak dibalikin aja sih)
Image and video hosting by TinyPic

Saya jadi teringat banyak hal ketika Beliau menjadi dosen saya di kelas History of Environment

***

Beberapa keping memori di kelas…

Kelas History of Enviroment itu sebenarnya tidak lepas dari complain saya hahahaha…
Ini kelas yang menarik, Kaji Sensei selalu menunjukan list film dokumenter dan buku-buku menarik terkait lingkungan hidup. Karena saya pecinta film dan buku, ya saya jatuh cinta lah. TAPI…karena 3 minggu pertama film yang diputar tentang Minamata, lama-lama saya bosan juga. Saya sampai sudah sampai hapal di menit keberapa kucing yang terkena minamata menjatuhkan diri ke laut (and I hate this one so much), di tiga minggu pertama saya malah sibuk menghitung berapa kali kata “you know” keluar dari dosen pengajar lainnya yang mengajar di kelas yang sama (harap jangan ditiru).

Namun kemudian, kelas semakin menarik. Kasus lingkungan yang dipaparkan semakin beragam dan karena penelitian saya juga di bidang lingkungan jadi saya merasa “Ih ini gw banget nih.”

Saya juga jarang mengajukan pertanyaan di kelas, saya kan mahasiswa pasif hahahahhahahahaha (jangan ditiru juga ya). Tapi pernah pada akhirnya saya bertanya juga ke Beliau “Sensei, kenapa sih… kenapa semua negara kemudian harus dipaksa menjaga lingkungan? Kan gak fair! Inget loh… Jepang aja baru jaga lingkungan setelah ekonomi mereka in the peak point” <<– kira-kira begini pertanyaannya.

Dan saya ingat jawaban Beliau “…Saya paham pertanyaan kamu. Namun, itulah mengapa kita mempelajari sejarah. Sejarah kemudian telah menunjukan bahwa ada harga yang sangat mahal yang harus dibayar suatu negara ketika mereka hanya mengejar kepentingan ekonomi dan mengenyampingkan lingkungan. Itulah kenapa kita belajar saat ini agar nanti… jangan sampai ada negara lain yang merasakan bencana lingkungan lagi, apalagi jika bencana itu kemudian mengambil nyawa manusia, nyawa itu tidak bisa dibayar oleh apapun”
Saya merasa jawaban itu bijaksana banget…. dan jika saya menjadi guru, saya akan ingat jawaban ini dan menjadikannya jawaban untuk pertanyaan yang sama.

Pernah juga setelah kunjungan ke Museum Daigo Fukuryu Maru, karena saya anak kuper yang lelet, entah bagaimana ceritanya saya terpisah dari teman-teman saya DAN DI SAMPING SAYA HANYA ADA BELIAU. Kami pun satu kereta, satu gerbong, samping-sampingan, aduuuuh awkward banget, entah mau ngomong apa. Saya pernah ya awkward di depan gebetan, kalian pernah kan? pernah kan? nah  ini… ini lebih awkward lagi! Mau ngomong apa kan ya ahahahaha. Yah pokoknya garing sih, hingga akhirnya Beliau bertanya

“Rencananya setelah lulus mau kemana?”
“Oh lanjut, Sensei.”
“PhD?”
“Iya””Penelitian kamu apa? Siapa senseinya? ”
“Dampak perubahan iklim terhadap ekonomi, Masui Sensei”
“Menarik sekali. Setelah PhD mau kemana?”
“Jadi dosen mungkin… belum kepikiran sih, Sensei”
Jadi dosen yang baik ya… ketika menjadi guru itu sebenarnya bukan kita yang mengajari orang-orang di depan kita, tapi kita yang belajar dari mereka. Belajar hal-hal baru karena pengetahuan itu selalu berkembang, perilaku manusia berubah, semuanya. Jadi, jangan pernah berhenti belajar

Jika saya tahu itu nasehat terakhir seorang guru kepada saya, pasti saya sudah nangis bombay saat itu.

***

Kisah si jam tangan analog dan jam tangan pintar…
Ada satu hal lagi yang selalu membuat saya tertawa dalam hati: Jam tangan!
Beliau itu selalu menggunakan jam tangan double, yang satu jam tangan analog dan satu lagi smartwatch. Saya yang paling malas pakai kacamata ini walau penglihatan sudah semakin merabun, akhirnya membawa kacamata saya juga ke kelas karena penasaran. Saya memperhatikan kok dua jam tangan ini menunjukan dua waktu yang sama… karena tadinya saya mikir ya siapa tahu aja kan Beliau LDR sama istrinya terus supaya gak salah pas nelpon atau sms-an jadi pakai jam tangan dobel dengan dua zona waktu yang berbeda. Tapi rupanya tidak! Tidak sama sekali… semuanya sama persis! Kan otak saya jadi iseng berkonspirasi, apa sih maksud si jam tangan ini? Koleksi? atau apa?

Belakangan saya mengetahui dari sumber terpercaya (tuh kan fans sih selalu over kepo) bahwa si smartwatch itu berguna untuk mengingatkan Beliau kapan untuk minum obat. Seperti yang kita tahu fitur smartwatch kan memang untuk health reason ya. Lalu, untuk apa lagi si jam tangan analog?
Karena itu hadiah dari istri Beliau… katanya jika melihat si jam itu Beliau merasa dekat dengan istrinya.

Selesai sudah… kayaknya sih suami saya kelak juga tidak akan se so-sweet ini.

Arti sebuah dedikasi…
Yang luar biasa dari Beliau adalah, Beliau tidak terlihat seperti orang yang sakit. Saya tidak pernah mengira bahwa Beliau memiliki kanker dengan stadium yang sudah tinggi pada saat mengajar kami semua. Bahkan murid-murid Beliau di lab pun begitu.

Dari mahasiswa Beliau saya tahu bahwa hingga Maret lalu, Beliau berhasil mengadakan Simposium internasional untuk Chemical History in Tokyo. Saya juga mengetahui bahwa tiga hari sebelum Beliau wafat, Beliau masih terbang ke Singapura untuk memberikan materi pada sebuah workshop internasional. Namun mungkin kemudian Beliau terlalu lelah hingga akhirnya drop dan dipanggil Tuhan pada 18 Juli yang lalu.

Mendengar cerita ini, saya merasa hingga akhir hidupnya Beliau tetap mendedikasikan hidupnya untuk bidang keilmuan yang begitu Beliau cintai. Saya bisa menangkap bahwa cinta Beliau pada ilmu pengetahuan terutama pada bidang sejarah sains dan filosofi sains begitu kental. Saya bisa melihat Beliau membuktikan pesannya kepada saya untuk menjadi guru yang baik yang terus berbagi pengetahuan.

26 tahun saya hidup di dunia ini, beberapa kali saya melihat orang yang angkuh dengan pengetahuannya yang masih cetek. Saya tidak melihat hal tersebut dari diri Beliau. Saya bersyukur dalam hidup saya, saya lagi-lagi dipertemukan oleh orang yang hebat… diajari oleh orang yang hebat walau dalam waktu yang singkat.

Secara personal saya merasa Beliau bisa menjadi tokoh paling berpengaruh di bidang pengembangan sejarah sains karena bidang ini masih sangat langka. Namun sayangnya Beliau sudah berpulang. Mungkin kini Beliau sedang bercengkrama dengan Mandeleev, siapa tahu?
Teriring rasa terima kasih saya kepada Beliau,
semoga alam dan manusia bisa senantiasa hidup selaras dan beriringan…. semoga.
Image and video hosting by TinyPic

Belajar menjadi manusia seutuhnya: Catatan seorang PhD newbie


Tidak pernah terlintas dalam hidup saya bahwa saya akan menjadi seorang PhD candidate. Sampai bisa sekolah master di luar negeri saja sudah begitu “Wah” untuk saya. Wong saya ini anak ndeso kok! Lahir boleh di Jakarta, tapi sekolah SD di Leuwiliang… namanya saja tidak bonafid!
Setelah itu pindah dan tinggal di kawasan Ciomas… lagi-lagi namanya kok ya agak ndeso gitu ya, dan memang ndeso karena pizza h*t saja enggan delivery ke kampung ini :’) untungnya sekarang sudah ada g*jek dkk… jadi tidak terpencil-pencil banget lah. Tapi tetap angkot 32 hanya mau mengantar sampai ke “dusun” saya pada jam kerja. Jangan harap dapat angkot yang mengantarkan Anda ke area dusun saya jika sudah lewat jam 6 sore.

Kuliah pun di kampus IPB Dramaga. Wuaduuuh rek! Boleh lah kampus ini jadi salah satu kampus terbaik di Indonesia,tapi posisi si Dramaga ini jauh dari peradaban. Sungguh, kami para mahasiswa kere ini sesungguhnya memendam keirian mendalam pada kampus diploma dan pasca sarjana yang punya posisi lebih elit. Namun kami pun sadar, kalau toh kampus kami dipindah ke daerah yang lebih elit, sesungguhnya uang jajan kami yang hanya cukup untuk beli nasi uduk plus telor penyet (itu pun masih mencari warung yang paling murah) tentu tidak akan sanggup menggapai kemewahan pusat kota. Yo wis lah mau bagaimana lagi.

Belum lagi saya ini orangnya kuper. Hobi: Tidur, makan, dan uwel-uwel kucing.
Bahasa Inggris saya juga yaaaah gitu-gitu aja. Bahasa Jepang cuman bisa kore-kore. Bahasa perancis, cuman bisa baca, listening dan speaking sih wassalam  :’D.
Kemampuan matematis so-so
Kemampuan menghapal lebih parah
Loooh, mau jadi apa toh, Nduk?

Ketika saya terbang dan menempuh studi di Jepang,di Tokyo Institute of Technology pula, banyak pesan yang masuk ke mailbox saya. Beberapa tentu memberi selamat. Beberapa ada yang keceplosan “Kok bisa, Mon?” sampai “Lo beneran sekolah? Bukan exchange? pasti pake uang lo sendiri kan?”
Saya kok paham kenapa banyak yang bilang begitu hahahhahaa.

Saya berangkat bukan serta merta membawa senyuman loh kawan-kawan. Saya membawa beban berat. Mungkin Allah menyeret saya dengan cara yang cukup ekstrim. Sebelum saya berangkat, saya sudah menuai banyak kontroversi (Hish! Bukan Pak Super aja yang bisa menuai kontroversi, gw juga!). Saya dianggap cukup “durhaka” meninggalkan mama saya yang memang kondisi kesehatannya tidak se-fit dulu dan meninggalkan adik kecil saya yang masih sekolah. Saya dianggap sombong… dan jangan salah, ada juga loh yang sampai bilang saya bakal “seret jodoh” itu agak sedih sih.

Di tengah konflik batin itu, tiba-tiba Dosen saya menawarkan saya untuk studi di luar negeri. Tiba-tiba juga LPDP mengabulkan permohonan perpindahan universitas saya yang sebelumnya sudah ditolak mentah-mentah. Dan pada puncaknya adik saya yang dingin, tidak romantis, garing, dsb dsb dsb “datang dan bilang “Kak, you should go! Study hard there, and I want to see you happy”
Karena sesungguhnya tiada hal paling romantis selain kata-kata sweet dari orang yang dingin!
Pernah suatu saat adik saya membawa celengan kesayangannya “Kak, tell me how much you should pay to go abroad?”
Mungkin… ini mungkin… jika saya tidak memiliki adik seperti adik saya, saya tidak akan ada di sini. Di posisi ini.

Saya… si anak “biasa-biasa” ini kemudian terbang ke Jepang. Sekolah lagi! Di Tokyo Institute of Technology hahahaha asa keren ada technology-nya hahahah anak dusun jadi lebih “melek” teknologi

Image and video hosting by TinyPic

Menempuh jenjang master di luar negeri itu pun tidak semudah yang kalian bayangkan. Selfie mungkin cantik dan ceria, namun di balik itu? Saya shock karena saya merasa otak saya kosong!  Saya shock dengan kendala bahasa, saya putus asa karena mata kuliah yang ingin saya kuasai dalam bahasa Jepang, saya kaget dengan budaya kerja di negeri ini yang tidak kenal ampun. Saya lelah… saya lapar… dan sesampainya di rumah? Di apato mungil saya hanya ada kulkas kosong. Ketika emosi, saya menjadi garang dan membunuh para kecoa dengan membabi buta. Pernah suatu hari petugas dari Tokyo Gas sampai datang ke rumah karena alarm gas saya berbunyi… padahal itu hanya efek saya menghabiskan satu kaleng insektisida untuk memusnahkan para kecoa hingga ke anak, cucu, dan cicit.
Yah tapi  alhamdulillah lulus juga :’D

Image and video hosting by TinyPic

Namun di balik itu semua, saya menemukan hidup yang baru.
Saya bekerja sama dengan Sensei-sensei yang humble dan bijaksana.
Saya menemukan teman-teman baru.
Saya melihat tempat-tempat baru.
Saya jatuh cinta.
dan yang pasti saya mulai menemukan diri saya yang sebenarnya. Sebuah sisi manusiawi yang paling nyaman saya “kenakan” saat ini.

Lalu kemudian saya sampai di titik yang sekarang. Saya menempuh jenjang doktoral.
Sungguh tidak ada yang mahakeren dari ini semua. Menjadi seorang PhD mungkin hanya sebuah cara yang tidak biasa untuk menjadi lebih manusiawi dan rendah hati.

Marissa, si PhD candidate ini toh masih jadi orang yang wara-wiri ke semua orang hanya untuk revisi proposalnya yang masih busuk (dan ditolak LPDP hahaha #curhat).
masih menjadi orang yang kikuk ketika bicara tentang orang asing,
masih menjadi orang yang bermasalah dengan percaya diri namun kemudian berusaha untuk lebih menerima diri sendiri, untuk tidak terlalu keras kepala terhadap diri sendiri.
Masih menjadi mahasiswa bloon yang kena omel sensei “Loh… ini loooh kok ndak dibaca. Udah berapa kali saya bilang” hehe
Masih bodoh di matematika dan pada akhirnya semakin muka tebal mengunjungi anak bachelor dan master untuk di ajari matematika :’D ini kisah nyata loh.
Saya tetap mahasiswa ngirit yang pergi ke toko sayur pun hanya jelalatan melihat sayuran diskon.

Beberapa kali saya katakan kepada setiap orang, sungguh tidak pantas pendidikan yang tinggi membuat kita menepuk dada terlalu keras. Pertama, karena itu kan sakit ya, Bok. Pertama, karena sesungguhnya pendidikan yang semakin tinggi membuat kita semakin sadar bahwa kita ini yaaa belum tau apa-apa. Kedua, pendidikan yang semakin tinggi membuat kita sadar bahwa kita butuh bantuan orang lain. Pada intinya, pendidikan membuat kita sadar bahwa kita adalah MANUSIA.

Kepada kalian pembaca blog ini, terutama yang masih muda-muda, adik-adik saya….
Kalian masih muda, you are still young! Jadi berkelanalah jemput impian-impian kalian. Bumi Allah ini luas, maka explore bumi ini. Temukan pengalaman dan teman-teman baru. Jangan takut dengan kelemahan-kelemahan yang kalian punya. Saya toh bukti nyata dan hidup kalau si manusia dusun yang biasa-biasa saja ini bisa lohhh sampai ke level ini. Kalian mungkin akan ragu, minder, takut, tapi jangan lupa tetap maju…hanya dengan melangkah maju kita bisa tahu apakah kita bisa mengatasi setiap kelemahan kita. Semoga setiap langkah itu membuat kalian, kita semua, menjadi manusia yang jauh lebih kuat dan lebih mengenal diri kita sendiri. Insha Allah 🙂 * Kalau udah umur segini emang omongannya lebih emak-emak*

Kepada teman-teman yang sedang melanjutkan studinya semoga Allah melimpahkan kekuatan dan berkah dari ilmu yang kalian tuntut. Hingga kelak kalian bisa memastikan ilmu kalian berguna bagi khalayak banyak. Dan semoga Allah juga melindungi kita dari sifat sombong. Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk 🙂 Okay.

Terima kasih kepada keluarga dan guru-guru saya, saya tidak bisa membalas apa-apa namun semoga setiap jerih payah saya kali ini dan kelak akan menjadi alasan kecil untuk membuat mereka semua tersenyum

Terima kasih kepada teman-teman saya, hidup ini sepi loh tanpa kalian… dan apapun alasannya, tetap perlakukan seorang Marissa seperti Marissa yang biasa 😀 seorang pecinta kucing sejati.

Dan mungkin terima kasih kepada semesta dan Sangpencipta semesta… karena caranya untuk mengajarkan saya tentang banyak hal begitu Indah.

A romance from Postal stuff (and I suggest you to try it ;) )


I made it as a secret for years…
but yes, I am philatelist… I am continuing my grandfather and my mom’s hobby. I love postal things! But when I am in Indonesia, finding stamps is getting harder, post office usually far from my home, and…. my hobby is kind of out-of-date hobby. So, well okay… I tried to forget about it.
I also love receiving letter and postcard. I remember, when I was kid… while my grandfather had lots of penpals… I always excited checking the mailbox, and felt so happy every time I found letters, cards, or postcards on it. But then my grandfather passed away, and there are no letters or postcards anymore to my house.
And in Japan, TADAAAAAAAA….. my home and my campus is near post office! Post box everywhere! so many cute postcards in every corner….. HUWAAAAAA I am back! I am back postal stuff! I am absolutely back!
If you ask me what’s great from letter, postcards, and stamps, I tried to draw it for you:
Image and video hosting by TinyPic

You can add some if you already try it 😉

Actually this hobby came back on me because my mom always ask me to send her any postcards from every place I visited. So, she can frame it and she will know how far her daughter already goes. Another reason why I also prefer to travel alone or together with my very best friends who already know me very well, because I will take time somewhere to find postcard and post box :p This is all for my mom! I love her….
She can’t travel far because she suffered by stroke and diabetes so receiving postcards is another way for her to travel with me. I really really really love her….
Sometimes I also send her pop up card or some letter with small gift inside, I know I can’t repay all kindness of her, but I think it is nice to give her some small surprise and make her smile a lot….
Image and video hosting by TinyPic

Who needs boyfriends or whatever if you can write and send something sweet to your mom? 🙂 It reduce my stress also

I am addicted, and I think I want to make more people to smile 🙂
Then I decided to follow join postcrossing website

And if you haven’t know what is postcrossing website? It is a website where you can exchange postcards to everyone across the globe. You will send your postcards and stories to stranger and then you will receive another also from stranger… who are they? Just wait and ready to be surprised ^^

When you will receive your postcards? Only God and Postman will know. But you will receive it…
If you are not “patient-type” person, you can visit this website forum and there is also a room in that forum for you who interested in finding Penpal or Postcard Pal. Happy searching 🙂
If you still not patient enough…. well well well…. mmmm, do you have instagram account? If yes you can search search with #Penpalwanted or #Postcrossing and you will find some people with the same interest.

And what’s fun I already got so far… oh there are a lot, I pick some for you:

Of course I got some beautiful cards and letters from all around the world!
Image and video hosting by TinyPic

Some of them also send me their favorite tea, so I can taste awesome tea from all around the world too… it is like find a small-simple-awesome treasure.
Image and video hosting by TinyPic

And while I also can find person who have same interest with me, I also can completing my collection. Let me show you one of my collection: Islamic countries on stamps…. and I have another theme, but still have no time to organize that.
Image and video hosting by TinyPic

And I am also happy for having new friends….
friends from various country, age, culture, occupation, everything! And feel glad because they are very open minded and I don’t know why they are very kind on me :’D
I always get small gift, nice words, and sometimes small recipes :’D everything!
And I learn soooooo many things from them.
Every time I read my letter and postcard, I can smile and deep inside my heart I say “Oh there are still lots of nice people in this planet, there are lots of hope in this planet”

I also learn how to write and how to behave better. One of my postcard friend ask me to help her send a random postcard to a foundation which works in cancer treatment for kids. “Marissa, we haven’t got any postcard from Asia yet… you can send one if you want to. Kids here will be very happy”
I never did that before, so I don’t know how to wrote it. “Marissa… don’t forget this one: Kindly don’t write ‘Get well soon or something like that 🙁 that’s a small things but very sensitive sometimes”
Yes… there are several rules in writing, the most important thing is: See the condition of people you write.
That’s important… and somehow it is good because it trains you to be more tolerant, wiser, patient, and humble 🙂

Lots of things I can’t explain one by one from every postal stuff I got.
Good isn’t it….
Well… well… well…. so far I have no reason to stop. I think I will continue again…again… and again…
Image and video hosting by TinyPic

And I hope, I can put smile to many people forever although it is only from a small thing like a simple letter and a small postcard.

sedikit ulasan dari ceramah DR. Zakir Naik di Tokyo


Pada akhirnya saya lihat DR. Zakir Naik juga! Alhamdulillah..
Yes! di Tokyo!
selama ini cuman heboh kepo di youtube channel aja. Akhirnya kali ini live bro… live.
Ada request supaya saya menuliskan sedikit laporan dari TKP.  So here we are:

Bertempat di Tiara Koto Big hall (Koto-ku Community Center) Sumiyoshi 2-28-36, Koto-ku, Tokyo tanggal & November 2015, Beliau menyampaikan topik yang menarik. Saya gak bisa menjabarkan semuanya karena saya kedinginan terus tertidur selama kurang lebih 20 menit pertama *haish*
Antriannya subhanallah… panjang banget. Pesertanya bukan hanya muslim Tokyo, bahkan non muslim pun rela ngantri! Untuk yang tanggal 7 November ini memang untuk umum, sedangkan yang tanggal 8 November khusus untuk orang Jepang. Kapasitas gedung sendiri lebih dari 1000 orang tapiiii…. in fact masih ada aja yang ngampar dan gak kebagian tempat duduk.

Oiya sebenarnya gak boleh ambil gambar, tapi seperti peserta lain yang pada bandel saya ikutan bandel.

Foto terlarang sih, tapi Alhamdulillah finally I can see you Dr. Zakir…. :’D

Insya Allah pengambilan gambar dengan cara yang gak annoying, silent shutter, plus kamera tele jadi gak harus berdiri-berdiri heboh ngalangin orang,  karena di depan saya malah ada ibu-ibu yang mau ngerekam full dan tangannya ngehalangin orang lain, terus hpnya bunyi… lagu dangdut =.= guys! Please… kalau nyebelin jangan sampe bikin malu juga.

Materi yang dipaparkan
Sepertinya DR Zakir memahami kalau masyarakat Jepang itu pada umumnya tidak memeluk agama tertentu dan masih pada proses nyari-nyari Tuhan itu apa. Konfucu sendiri menurut DR Zakir bukan agama namun kode etik dalam berprilaku. Hal yang luar biasa dari masyarakat Jepang adalah mereka sangat baik dalam melaksanakan kode etik tersebut tapiii sayangnya tidak punya pegangan yang jelas karena tidak ada Tuhannya.

Nah, jadi… DR. Zakir menekankan bahwa jika ingin mencari Tuhan, ingin mempelajari agama, maka pelajari kitab suci yang ada, baca maknanya. Bandingkan semua, renungkan mana kiranya yang benar-benar sesuai dengan nurani dan logika… cari yang benar-benar merupakan sabda Tuhan.

Nah kemudian, Beliau memaparkan berbagai bukti mengenai keajaiban Quran dari sisi scientific…
Tatoeba (sebagai contoh):

1.Tentang sidik jari… yang udah dipakai seluruh polisi di dunia, CSI, FBI, semuanya untuk menentukan identitas seseorang karena tidak ada satu orang pun yang memiliki sidik jari yang serupa dan sebelum FBI tahu masalah ini, bro…. Quran sudah memberik clue lebih dahulu di Q.S Al Qiyaamah (75): 3-4.


Kece khan

2. Bahwa Allah menciptakan segala sesuatu itu berpasang-pasangan. Bahkan…. taneman aja bro, pasti ada tuh komponen male and female…
jadi kalian para jomblo sudahlah, jangan khawatir insya Allah jodoh kalian tuh menunggu kok, yaaah belum kedetek radar aja *mulai ngelantur*


Hah mana, Mon…
bentar guys…. bentar… nyatet nih gw…
Q.S Yaasin: 36

سبحان الذي خلق الازواج كلها مما تنبت الارض ومن انفسهم ومما لا يعلمون
Exalted is He who created all pairs – from what the earth grows and from themselves and from that which they do not know.

Ada yang baru ngeh…
gak apa, saya juga baru ngeh ahahhahaaa…. aduuuh parah, saya sih jujur aja kayaknya Yaasin lewat aja gitu cuman dibaca pas tahlilan. Maaf ya Allah… itu juga pacepet-cepet jadi gak baca artinya juga 🙁 Biarlah, guw mah gitu orangnya bloon tapi jujur.

Subhanallah loh… saya jadi bolak-balik baca Quran. Ini jangan-jangan ada yang belum ketahuan aja nih bisa jadi bahan buat dapet piala nobel :’D #Masihterobsesidapetnobel #padahalotakmasihharusdikinclongin.

3. tentang lebah!
Iya lebah… hewan yang paling sering muncul di foto-foto saya pas lagi moto bunga-bunga di Tokyo ini.
Apa katanya…
first, lebah pekerja itu bukan jantan tapi betina… exactly…. jadi film hachi harus dipertanyakan keabsahannya apakah benar hachi adalah lebah pekerja, atau dia hanya sekadar lebah yang sebatang kara pergi mencari ibunya :p
But here it is:

Ampuni saya yang gak bisa bahasa arab, tapi berbeda dengan bahasa Indonesia, bahasa arab itu mengenal kata benda jantan dan betina (sama lah kayak bahasa Jerman dan Perancis). Nah Quran menuliskan lebah dalam kata benda bentuk femina alias female gender.

dan masiiiiih banyaaaaak lagi….
Intinya, jika berpikir secara logika saja…. masa iya Quran yang turun di masa Rasulullah SAW bisa menjelaskan berbagai fenomena sains di masa kini padahal jaman baheula kan boro boro ada teleskop, mikroskop, laptop, wifi, internet, google. Siapa yang begitu Mahatahu sampai bisa menuliskan ini semua? Sang Pencipta semesta lah.

Kira-kira begitu…
Kebenaran itu datang dari Allah, salah ngutip dan bahasa yang ngawur itu murni kesalahan emon yang sibuk menghilangkan kantuk.

My Opinion
Ada dua hal yang bikin saya sedikit “yaaaah… sayang banget”
1. Brother fotografer yang kayaknya harus dapet penataran dari Mas Joko Tokodai (kenalin ini fotografer kawakannya tokodai, saya fans lah pokona mah)… aduuuuh kamera sih boleh DSLR yaaaa, tapiiii wallahu’alam yang terjadi mungkin dia gak punya lensa tele. Bahkan dia sampe naek panggung, guling-guling buat ambil foto DR.Zakir. Ya kena tegur lah sama DR.Zakir-nya. Saya aja fotografer newbie rasanya pengen minjemin kamera. Kamera prosumer saya kayaknya masih sanggup moto dari jarak manusiawi untuk dapet gambar jelas =.=b please jangan tanya kenapa foto-foto yang beredar di socmed terkait ceramah Dr. Zakir di Jepang pada burem-burem… huhuhuhuhuhu…. brother oh brother…

2. DR. Zakir gak perlu lah ceramah panjang-panjang. Beneran deh… ceramah beliau ada kali 2 jam, 1/2 jam tanya jawab. Ceramah dua jam itu pun udah plus-plus negur fotografer sama orang-orang yang pada berisik. Arghhhh come on…. pak…pak…. yang haus mau nanya banyak banget loh, Pak.
gak percaya….

Oke… nih, fotografer newbie tunjukin:
Image and video hosting by TinyPic

Dan menurut saya, DR.Zakir lebih mantap ketika sesi tanya-jawab.

Tapi lainnya, subhanallah…. bener-bener gak nyesel dateng dan ngantri-ngantri cuman buat masuk hall doang! Ngantri yang subhanallah kayak ngantri konser.

Seperti yang saya duga, mayoritas pertanyaan orang Jepang lebih kepada eksistensi Tuhan. Tuhan itu apa, kenapa kami harus punya Tuhan, mengenal Tuhan. Ada yang bertanya kenapa Tuhan kok tega-teganya membuat evolusi yang kemudian dijawab DR.Zakir kalau itu kan teori, Darwin sendiri menyebutkan di teori itu ada “missing link.” Saya juga pusing kenapa pertanyaan seperti ini selalu muncul, di sebuah kelas, profesor saya sampe pernah nanya vis-a-vis “Marissa, are you study evolution?” dan dengan enteng saya jawab “Yes… why not?” terus Beliau kaget…. dan saya cuman jawab, apa anehnya sih itu kan teori… pelajari aja, masalah percaya atau gak yaaah suka-suka kita.

Ada yang nanya juga kalau Tuhan ada kok dia memberi manusia aneka masalah… Ya, supaya manusia jadi manusia yang lebih baik. Ujian membuat manusia “naik level”, kalau gak diuji yang manusia bakalan gitu-gitu aja. Setidaknya begitu yang bisa saya tangkap.

Dan ini kali pertama saya melihat orang Jepang memutuskan masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ngeliat di youtube aja ngerasa “wah banget” ini live… dan dengan cengengnya saya nangis gitu. Untung sendirian…. kalo gak gengsi guweh mwahahhahaa.

Ini dia, thank you for “Islam in Japan” page.

Dari sini gw nulis pake bahasa Inggris ya sedikit
I am really proud when I saw this Japanese woman convert to Islam. She even already prepared to use hijab! To be honest, I used hijab on 25 December 2012. One year after I graduated. I know that using hijab is a must, but I am really a stubborn girl in that time. I used hijab when my friend, a Cristian ask me “Do you proud with your religion? If you do… then there is no excuse for not to obey your religion rules” and yes that’s why I used hijab on Christmas, so I can remember all of this things. Sister, I know maybe you will never read my blog, maybe we will never meet each other, but however I pray for every best things for you…. for happiness… for nice life… for strong determination in your belief. Together, with all Moslem in this planet, we learn to be better day by day. Insha Allah.

Nulisnya sampe berkaca-kaca nih. Ih saya malu loh… beneran saya ini beneran Muslim yang nyaci maki Allah pun saya pernah, banget. Parah kan ahahhaaa…
Saya mah gak bener-bener banget, tapi untungnya Allah baik loh saya dikelilingi orang-orang yang baik 🙂 dan rasanya saya bahagia dengan segala ketetapan Allah apapun itu.

Dulu teman saya pernah bilang “Mon, insha Allah kelak kamu akan bilang ‘Ohhh gini toh, pantesan Allah ngatur begini’ dan di saat itu kamu akan senyum-senyum geli sendiri sambil bersyukur atas segala ketetapan yang ada

Wallahu a’lam bissawab

 

UPDATE:
Nih udah ada rekaman ceramah Beliau hari ini, selamat menikmati:

Karena Bahagia itu Sederhana, Asal…..: Mari sedikit bijaksana dalam menulis di media sosial


Bahagia itu milik kita
Aku raja dan engkau ratunya
Walau cuma kita berdua yang tahu
Aku dan kamu kita berdua bahagia
Sederhana……

Dan mari sedikit menyanyikan lagu sederhana ini, ini sekaligus permintaan maaf terdalam untuk beberapa salah kata dan perbuatan yang saya lakukan, hahaha sumbang tapi yang penting niat:

Ya! Seperti lagu itu… saya percaya bahwa kebahagian itu sederhana
Bahkan jika hanya ada dua insan yang saling mengetahui mereka saling bahagia. Atau bahkan jika hanya insan itu dan Tuhan yang tahu.

Saya tahu diri juga, mungkin saya terlihat seperti nenek lampir garis ektrim yang terlalu ekstrim mengkritik beberapa hal di media sosial. Sungguh saya menyadari kesalahan saya dengan segenap hati, saya sadar saya bukan tipe penyabar, hahaha tidak pernah. Namun seiring dengan permintaan maaf saya yang sederhana ini, diiringi lagu yang sumbang, izinkan saya menyampaikan alasan saya mengenai beberapa kata pedas yang terkadang saya lontarkan di media sosial dan mungkin grup.

Saya bahagia ketika saya melihat orang lain bahagia,
mungkin begitu pula dengan kalian…
Tapi seberapa dosis kebahagiaan yang perlu kita publikasikan agar tidak menjadi over dosis dan kemudian malah mematikan?
Ya! Mematikan!
mematikan kebahagiaan orang lain.

Here is one case:
Di usia saya yang sudah tidak muda banget lagi ini, udah seperempat abad, bok! Saya sadar bahwa teman-teman saya sudah berkeluarga atau setidaknya sudah punya tunangan. Yeaaaah… emangnya gw yang jomblo! Mwakakakaka. Saya senang loh kalau ada kabar teman saya menikah, tunangan, hamil, punya anak. Ya ampun bahagia lah! Hei… pada periode kehidupan saya, saya menjadi saksi perubahan fase kehidupan manusia lain, subhanallah banget gak sih?

Siapa tidak paham kebahagiaan orang lain…
Tapi tiba-tiba banyak juga yang kemudian terlalu too much in sharing
“Sayang aku sayang kamu” with —– abang AAAA
“Ih hubby kamu dimana sih” with—– mas BBBB
Sebuah hal yang seharusnya sih bisa banget dilakukan dengan menggunakan media komunikasi semacam yang modern seperti skype, whatsapp, LINE, hingga media yang agak purba bernama SMS dan MMS.

belum lagi foto bayi, printout foto USG, dan foto selfie yang yaaaah mungkin kalau hanya 1-2 x boleh lah, ini… bisa beberapa kali dalam satu hari!

Atau ada juga yang nyindir cantik seperti:
“Subhanallah, istri yang shalehah memang yang seperti kamu sayang” with—-Ukhti UUUU
“[ARTIKEL] Antara Karir dan Bakti pada Suami”

Dan pada suatu hari saya mendapat chat dari seorang teman saya, tiba-tiba sekali…

“Mon, aku keguguran”
“Hah! Innalillahi, kenapa? Mungkin kecapean… udah gak apa insya Allah diganti nanti.”
“Doain ya, Mon. Katanya kandungan aku lemah gitu.”
“Hei… come on. Kalau kata Allah mah `kun fayakun` udah..udah..jangan mikir macem-macem. Makan yang banyak makanya *solusi gw selalu berkisar pada makan =.=”
“Aku konyol deh, aku suka sedih gitu kalau liat temen-temen lain pada update foto-foto bayi… foto USG mereka… rasanya pengen aku unfriend semua. Aku salah apa ya?”

JEDEEEER!

Nah kan! Diam-diam korban “over dosis” sebar kebahagiaan itu ada… dan pasti ada…
Mari kita tinggalkan kisah teman saya itu. Eh ngomong-ngomong doain ya semoga doi cepet lah punya bayi yang lucu.

Sebuah pertanyaan kecil dari saya, apa kita setega itu? Setega itu untuk diam-diam mengiris perasaan orang lain? Mungkin Anda tega, saya tidak.

Kalau kata teman saya, sungguh indah dunia jika
Yang sudah menikah menjaga perasaan yang belum menikah
Ibu rumah tangga menjaga perasaan Ibu yang berkarir dan sebaliknya
yang sudah punya pacar menjaga perasaan yang jomblo
yang sudah punya anak menjaga perasaan yang belum dianugerahi keturunan
ya! hal yang terdengar mudah bernama: SALING MENJAGA PERASAAN dan bukankah akan menjadi lebih tenteram jika dunia diganti dengan hal bernama: SALING MENDOAKAN

Sosial media itu seharusnya menjadi sebuah media untuk menyalin silaturahim bukan?
Bukan ajang riya` apalagi media pengganti SMS #hadeuh =.=
Tahukah kalian bahwa kata adil berasal dari bahasa Arab yang berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus, dan tulus.Maka sesuatu itu harus adil, berada di tengah-tengah, tidak terlalu berlebihan. Go ahead! share everything to the world! tapi ingat selalu ada batas antara apa yang bisa dan tidak bisa kita share. Kelola pemikiran kita terlebih dahulu sebelum memposting sesuatu.

Saya meyakini pembaca blog saya mayoritas sudah diatas 20 tahun.
Usia yang sudah cukup matang dan dewasa.
Tua itu pasti tapi dewasa belum tentu, dan saya pikir kita semua ingin memutuskan menjadi seseorang yang dewasa. Seseorang yang memiliki kualitas sikap dan tingkah laku yang kompeten untuk kelak menjadi teladan yang baik untuk generasi-generasi kita selanjutnya.
Memilih untuk memiliki kualitas yang mumpuni untuk menjadi insan yang bahagia dan membahagiakan orang lain.
Maka bukankah itu semua perlu dimulai dari mengkoreksi diri sendiri?
Makan bukankah itu semua perlu dimulai dari hanya sekadar memilah mana yang sangat buruk, buruk, baik, dan terbaik? Itulah gunanya pemikiran kita mendewasa, agar level pemilahan kita terhadap segala sesuatu meningkat

Mudah? Hahahaha… yang jelas tidak lah!

tapi setidaknya kita tidak akan pernah bisa jika tidak pernah mencoba, dari sekarang
waktu yang akan menempa kita.
Insya Allah 🙂

Jadi semoga kebahagiaan kita yang sederhana akan menjadi lebih indah ketika kita juga bisa membahagiakan orang lain…
Semoga kebahagiaan kita yang sederhana bisa mendapat ridha-Nya dengan cara-cara yang manis dan penuh surprise, seperti biasa 😉