Death ends a life, Not a relationship: ketika keluarga kami kembali kehilangan



A life learner....Books, movies, and glorious foods lover. Have a big dreams... but wanna \\\"bigger\\\" than her dreams.  A life learner... Love books, glorious foods, and great movies. Proud to be a woman, daughter, sister, and best friend. A dreamer! I am the one who want to be bigger than my dreams. Future researcher and writer.


“As long as we can love each other and remember the feeling of love we had, we can die without ever really going away. All the love you created is still there. All the memories are still there. You live on in the hearts of everyone you have touched and nurtured while you were here. Death ends a life…. Not a relationship —-(Tuesdays with MorrieMitch Albom)

Jumat, 25 Maret 2016 sebuah berita duka kembali menerpa keluarga saya. Uwak saya meninggal dunia. Semuanya serba mendadak… saya hampir menyangka saya berhalusinasi karena sejak semalaman saya tidak bisa tidur dan sibuk mengolah data penelitian saya.Sambil membuka handphone saya berkali-kali pagi itu, saya nyaris mengetik “Ma, ini Mas Adi yang mana? tetangga kita yang lain?. Ih mama salah ketik deh”
Beberapa jam sebelum saya menyerahkan revisi data saya kepada sensei saya, saya harus menerima kenyataan bahwa benar Uwak saya tersebut sudah kembali ke sisi Sangpencipta.

Siapa yang tidak terkejut? yang saya ketahui Beliau orang yang menjaga kesehatannya dengan baik, orang yang selalu bersemangat menghadapi hari. Saya masih ingat bagaimana Beliau mengendarai mobil, memencet klakson ketika kami keluarganya yang memang mayoritas wanita ini “lelet” dan tidak kunjung beres dengan urusan kami sendiri, saya juga masih ingat karena setiap Beliau berkunjung ke rumah… Beliau pasti menjadi garda terdepan yang heboh menanyai kondisi saya dan adik saya… yang paling semangat melakukan video call ketika saya melanjutkan studi saya di Jepang (and also I still remember betapa paniknya saya ketika Beliau menelpon dan saya si mahasiswa malas ini belum mandi dan totally in a mess ketika Beliau menelpon :’P).

Saya ingat… dan tidak akan pernah lupa bahwa bagi saya dan adik saya, Beliau mungkin adalah “Ayah kedua” bagi kami setelah ayah kami meninggal dunia.

Maka sungguh ini merupakan sebuah kehilangan yang besar bagi keluarga kami…. bagi saya… bagi adik saya…. mama saya, dan tentu kehilangan maha besar bagi keluarga inti uwak saya.

Sebagai orang yang diam-diam begitu saya segani dan hormati (dan lagi-lagi saya anggap sebagai ayah kedua bagi saya dan adik saya), sometimes of course we have different opinion, but more than that saya beruntung karena dalam hidup saya saya pernah bertemu Beliau, he was one of the best man in this blue planet. Dari Beliau saya belajar untuk membantu orang lain tanpa pamrih.

Tentu saya sedih, lagi-lagi dalam hidup saya saya kehilangan seorang pria yang akan saya kabari pertama kali ketika nanti saya wisuda…
Lagi-lagi dalam hidup saya, saya kehilangan seorang pria yang saya harap akan hadir menggantikan ayah saya dalam akad nikah saya kelak.
Saya kehilangan seorang pria yang jika Beliau masih ada mungkin beberapa bulan/ tahun kedepan, Beliau akan super repot melakukan “investigasi”, “wawancara”, serta “fit and proper test” untuk calon-calon menantunya (dan mungkin melakukan hal yang sama kepada calon suami saya kelak). Oh hey you guys, if you fall in love to  my cousins… they had a great dad, you must be a high-quality man to get them 🙂 seriously.
Kami… saya dan sepupu saya kehilangan pria yang seharusnya kelak menjadi saksi pernikahan kami.
Adik saya… mungkin dia lebih “kehilangan”dibandingkan saya… he never meet his father since very young, dan Uwak Adi menjadi sosok “ayah” yang dia kenal. Mereka kadang hilang entah kemana berdua… having their great “bro time.” Mungkin dia juga merasa sepi karena kini tinggal dia pria yang tersisa dari garis keturunan Mama saya. Hey, Bro… ahahahhaa you have queens and princess to take care off 🙂 be a nice man then.

Ah sudahlah….Saya tidak akan banyak menulis hal yang menguras air mata… saya percaya siapapun tidak ingin menguras air mata orang-orang yang dicintainya ketika mereka pergi. Life must goes on, so do a nice smile….
Beliau mungkin sudah bertemu dengan ayah saya dan kakek saya disana… bersama mereka bercengkrama dan mungkin sambil menikmati masakan nenek saya yang saking enaknya mungkin Beliau juga sudah buka catering di alam sana. Ah siapa tahu kan? yang pasti orang yang baik tentu akan berada di tempat yang baik juga bukan.

Di sebuah pojok planet ini, saya berjanji kepada semua orang yang telah berjasa kepada saya, baik yang masih ada di dunia ini maupun yang sudah meninggalkan saya…
I”ll do my best… for everything.

dan satu lagi yang mungkin harus kita ingat selalu “Death ends a life…. Not a relationship
Oh yes, never 🙂

Comments

Karena kita menggali ilmu untuk mendewasakan pemikiran kita: Membongkar salah kaprah dalam melanjutkan studi
And I am getting older [again]… : my birthday note

Comments

  1. Allah surely loves him more than we know.

Leave a Reply

%d bloggers like this: