Memilah dan Memilih Kebahagiaan…


Tiga hari lagi, tepat saya satu bulan di Jepang. Suhu semakin dingin… beberapa hari ini Tokyo hanya berkisar antara 19-13 derajat Celcius, itupun hujan sehingga real feel-nya bisa mencapai hanya 8 derajat Celcius. Bagi manusia yang menghabiskan lebih dari dua puluh tahun hidupnya di sebuah negara kepulauan di sekitar khatulistiwa suhu itu sudah terlalu dingin, setidaknya untuk saya yang tidak suka dingin sejak dulu. Tapi itu semua dapat ditutupi karena rupanya menjadi saksi hidup perubahan warna daun adalah hal yang sangat menyenangkan. Tempat baru, teman baru, budaya baru, pelajaran baru, semuanya luar biasa…ah tapi tidak semuanya berjalan begitu lancar.

Dari sad stories dulu, hal paling menyedihkan terjadi di bulan ini adalah saya diusir dengan hormat dari kelas statistika karena tidak bisa bahasa Jepang. That’s not that hurt, tapi si dosen bilang “You can see that everyone in this class are Japanese, you also must know that statistic is such basic knowledge and everyone here should have comprehensive understanding for it, moreover mathematics also a language. I can’t teach this class with english, because if I do majority students here will not gain comprehensive understanding and also the should learn another language again: english…, beside in this semester I don’t have time to provide any materials in english” jujur hati saya sebenarnya hancur hahhahaa…butuh satu minggu untuk kemudian totally happy lagi. Tapi sahabat saya datang dari Kyoto and we do sooooo many ridiculous things, bahkan ketemu sohib dari Tsukuba juga jadi happy lagi.

Tiada juga yang lebih menyedihkan selain kendala bahasa, oh yes… jadi di negeri secanggih dan semaju jepang orang-orang pada gak bisa ngomong bahasa inggris.Padahal tahun 2022 ini negara mau jadi tuan rumah olimpiade, hahahhaa selamat menikmati aja deh para turis kalau gak bisa boso jepang.  Bogor, gitu-gitu masyarakatnya lebih berani angkat bicara dalam bahasa Inggris walau belepotan. Hadeuuuh… rempong pokoknya. Lainnya… kangen Mama, kiki, pingku, mpus, semuanya di tanah air.  Tapi biarlah yang sedih-sedih itu berlalu.

Bahagianya… gak macet, transportasi di sini nyaman, masyarakat Jepang sangat rapi dan teratur jadi kayaknya gak ada masalah birokrasi yang belibet di sini, mmmm untuk muslim ikan juga banyak jadi buat saya sih gak masalah-masalah banget sama makanan, cuman kangen sama masakan mama. Oiya… jalan kaki di Jepang walau capek tapi nyaman, terus… taman-tamannya mungkin tidak seheterogen di Indonesia tapi semuanya tertata rapi dan bersih banget.

Bahkan taman deket dorm aja rapiiiii banget, gak ada sampah sama sekali, dan semua orang bisa secara leluasa menikmati secara graaaatissss

Walau udah maju banget, di jepang juga banyaaaaak banget festival budaya. Dari yang kecil-kecilan sampai yang besar-besaran. Pokoknya kalau kalian suka fotografi udah lah abis satu rol deh.

Kalo udah mau ada festival, semua kendaraan lain harus ngalah :p tapi itu gak terlalu masalah karena jumlah kendaraan pribadi sedikit jadi yo wis lah ya

Di sini, kuil-kuil juga dijaga dengan baik. Walau kata Sensei saya orang Jepang itu tidak jelas agamanya karena terlahir sebagai Shinto, menikah sebagai Kristiani, dan wafat dengan upacara keagamaan Budha. Tapi semua fasilitas keagamaan sejauh ini sangat dihargai. Bahkan pengalaman terakhir ke Masjid Camii Tokyo, ada beberapa orang Jepang yang datang ke dalam masjid untuk menghayati kesyahduan dan kekhusyuan di dalam masjid. Jadi TOP banget lah.

Kuil sekecil apapun…. dijaga selaras dengan alam… gak tau kenapa, tapi sejauh ini kalau saya perhatiin di sekitar kuil pasti selalu ada pohon-pohon rimbun. Ada kakek-kakek yang cerita, tapi sayang saya gak paham nihongo

Komunitas muslim di Jepang juga makin berkembang, jadi muncul beberapa masjid di beberapa daerah. Dan itu menyenangkan banget. Walau masih jadi minoritas [banget] tapi insya Allah muslim dan Islam sudah semakin familiar bagi masyarakat Jepang. Hopefully, semua muslim bisa bertindak dan berlaku baik biar semakin mengangkat nama Islam ke posisi yang lebih baik 🙂

Pokoknya kalau masalah public facility, aman tenteram dan nyaman banget deh. Oiya sebagai penggemar kereta, hidup di Tokyo sebenarnya lumayan asyik karena semua spot-spot seru terhubung dengan kereta. Keretanya juga nyaman, yaaaaah kalau udah kegencet di kereta jabodetabek mah mau masuk kereta api di Jepang pas rush hour juga sepele banget lah.

Dengan kenikmatan public facility ini, tiba-tiba Sensei saya kemarin bertanya “Japan is very nice isn’t it? Which one do you like Japan or Indonesia” That’s simple question… tapi otak saya yang memang dari dulu agak tumpul ini mikir juga untuk pertanyaan sesedehana itu. Iya ya… apa coba enaknya Indonesia, kalau ke Bogor… macet, kotor, berantakan, mmmm…. yang diliat angkot lagi angkot lagi. Tapi terjadi konflik dan perdebatan yang sangat seru antara otak dan hati nurani. Secara logis saya mengakui pemerintah Jepang cukup memanjakan masyarakatnya dengan sistem yang ada dan yaaa… masyarakat Jepang sangat mudah diatur. Mungkin karena mayoritas masyarakatnya golongan darah A.

Kalau masalah ketertiban, Indonesia harus belajar mati-matian ke Jepang. Di sini orang gak ada yang nekad nerobos rel kalau udah ada suara sirine, bahkan lampu merah pun masih diturutin walaupun udah gak ada kendaraan di kiri kanan depan belakang…. such an amazing things buat saya hahahha.

Tapi hati ini…. hati ini yang paling gak bisa bohong, dan dengan tegas dan pasti dia menjawab “INDONESIA! karena aku lebih bahagia di Indonesia” Otak mengalah, ok fine… tapi karena sudah sifatnya yang selalu ingin tahu maka otak terus mencari alasan, alasan paling rasional yang menentukan level kebahagiaan.

Kini otak ini mulai menemukan jawabannya…
Setidaknya menurut pengamatan saya, Jepang khususnya Tokyo, mungkin memang kota yang megah, semua ada, semua lengkap, cantik, rapi, for me… almost perfect selain jumlah tangganya yang kebanyakan di beberapa stasiun dan jujur kadang bikin kaki kayak mau copot. Tapi bahagia bukan hanya masalah kesempurnaan rupanya. Di kota sebesar ini, ramai… tapi sepi. Setiap orang menjadi sangat mandiri dan sangat sibuk dengan urusan mereka masing-masing, kadang bertegur sapa tapi hanya sekenanya, setelah itu semua berlalu. Di Jepang, komposisi penduduknya adalah piramida terbali, jadi jumlah orang tua lebih banyak dibandingkan generasi mudanya. No wonder, di sini orang sehat-sehat karena pada rajin olah raga, dan kalo gak suka olah raga karena gak ada angkot jadi kemana-mana pakai sepeda atau jalan kaki. Makanan di sini juga bersih dan sehat-sehat, susu murah, jus murah, teh hijau dan minuman sehari-hari…. yaaaa jarang lah ya yang mati muda kecuali sakit parah atau bunuh diri. Tapi di masa tua mereka, mereka sendiri… melakukan hobi sendiri, jalan-jalan sendiri, kadang nyasar di suatu tempat dan gak ada yang nganter mereka, ada juga yang udah sepuh banget dan tinggal sendiri untuk jalan pun susaaaaaah banget dan saya amaze karena tidak ada satu orang pun yang seakan-akan melihat hal itu!

Jepang itu indah… sempurna… tapi kurang hangat. Setidaknya menurut saya.

Di Indonesia, seruwet apapun Indonesia… seruweeeeet apapun itu… sebuah keluarga yang bahagia saling bercengkrama. Orang tua bisa melihat anaknya dari saat mereka lahir hingga kemudian menikah dan punya anak, menimang cucu mereka bahkan seringkali merawat cucu mereka karena anak mereka harus bekerja. Di suatu lingkungan, semua orang saling bercengkrama dari hal yang sebenarnya gak penting hingga pergulatan politik tanah air yang sebenarnya gak ngerti-ngerti banget juga sih. Bahkan di Indonesia, percakapan dalam sekelompok orang di sekitar tukang sayur pun bisa begitu menyenangkan.

Di Indonesia, semua orang mudah tertawa lepas. Kesal dengan tagihan listrik yang naik terus tapi tetap byar pret dan ketika mati listrik semua di rumah kemudian tertawa “Ya ampuuuun…. please deh nih Perusahaan Lilin Negara, udah abis stok lilin niiiih”. Bahkan kita bisa tertawa lepas ketika melihat ada kucing kampung yang kemudian jatuh cinta dengan kucing angora dan kemudian membuat aneka kebisingan sehingga membuat anjing di komplek jengkel dan terus menggonggong tapi tidak digubris oleh si kucing yang sedang kasmaran. Begitu hangatnya Indonesia, sehingga kita semua mudah tersenyum dan tertawa.

Dalam kelas filosofi ada yang bertanya seberapa penting agama dan Tuhan dalam pendidikan dan kehidupan. Ah… mereka belum bertandang ke Indonesia…Ketika ada seorang pria lusuh begitu lelah sepulang dari kantor, lalu bercerita kepada istrinya “Aku hari ini kacau banget di kantor”, lalu dengan senyum hangat si istri bilang “Ya udah, nanti aja ceritanya, makan dulu ya terus shalat biar Allah yang selesaikan semuanya”. Atau ketika seorang anak menangis “Maaaaa…. besok ujian, saya belum bisa deh kayaknya” lalu dengan senyum hangat Mamanya menjawab “Udah belajar kan? Ya udah sekarang shalat, terus istirahat…. nanti malam tahajud, biar Allah bantu ujiannya besok” dan seketika hati terasa lebih tenang. Tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah, tapi menenangkan hati, dan ketenangan hati ada modal awal menyelesaikan masalah.

Maka wajar bukan, jika majalah TIME pernah menyebut bahwa Indonesia bukan salah satu negara yang paling makmur, tapi jelas salah satu negara yang paling bahagia.

Terpisah ruang dan waktu dengan orang-orang yang saya cintai sepenuhnya mengasah tiap lipatan otak saya semakin menemukan jawaban bahwa bahagia bukan masalah memperoleh kesempurnaan tapi masalah mensyukuri dan menikmati apa yang kita miliki.

Sulit dicerna maksud saya?
Ah… begini.
Mengapa kita mencintai seseorang? Karena dia sempurna? Oh tidak kawan…
Ada banyak alasan… tapi salah satu alasannya adalah karena orang tersebut bisa menerima kita apa adanya dan kita tetap bersyukur dalam menjalani berbagai kondisi bersamanya.
Saya tidak sempurna, saya gendut, pemalas, dan suka tidur… Nobody will love me kalau semua orang mencintai orang lain karena kesempurnaan. Saya ingin dihargai bukan karena fisik namun karena ada gagasan di balik timbunan lemak ini. Dan saya bersyukur ada orang-orang yang bisa menghargai dan menerima saya sebagaimana saya apa adanya. Accepted me as a whole package.
Saya juga tidak memilih bergaul atau menyukai seseorang karena dia sempurna, tapi lebih  karena saya menyukai orang-orang yang mengakui kekurangannya secara rendah hati, menyelipkan sedikit humor dalam setiap hal, namun kemudian dengan kepala tegak mengakui “Well, I’m not perfect… but life goes on, so I’m moving on” Ketika saya bertanya kepada ayah saya kenapa mau menikah dengan mama saya, he answered “Ayah menyukai mama dan menerima mama dari negatif tak hingga sampai positif tak hingga, Mama bukan yang paling sempurna, tapi mau menerima ayah dan menyempurnakan ayah”

I love my country…
I love my family…
I love my teachers…
I love my friends…
Not because they are perfect, but because they are perfect me.

Terima kasih, semuanya 🙂
Dari pelosok Tokyo yang makin dingin, 20.57 JST

Pamit…


Pamit: /pa·mit/ v permisi akan pergi (berangkat, pulang); minta diri;

Saya bertanya-tanya mengapa definisi pamit pada KBBI salah satunya adalah “minta diri”
Bukankan diri kita adalah hak kita, untuk apa kita meminta diri kita sendiri? Eits…tidak… tidak seperti itu.

Saya pernah membaca bahwa mungkin setiap orang, berada di suatu tempat…di suatu waktu… karena mereka dipercaya Tuhan untuk menyelesaikan sesuatu di saat itu, di tempat itu, tentu dengan orang-orang yang ada pada waktu dan tempat tersebut. Jika tugas sudah diselesaikan, maka mereka akan dipercaya Tuhan untuk meloncat ke ruang dan waktu yang lain, bertemu orang-orang yang berbeda pula… begitu seterusnya…. seterusnya… seterusnya… hingga seluruh tugas selesai maka Tuhan akan memanggil mereka satu per satu.

Ada dua implikasi jika hal tersebut [mungkin] benar. 1. Seseorang tidak akan pernah melompat, mengambil level yang lebih lanjut dalam stage kehidupannya jika dia belum menyelesaikan stage sebelumnya. Maka terima saja terjebak di ruang dan waktu tersebut. 2. Jika tugas di suatu ruang dan waktu sudah selesai, maka bersiaplah jika harus dipercaya untuk mencicipi ruang dan waktu yang lain dan bertemu orang-orang baru.

24 tahun saya hidup… saya sudah terikat dengan orang-orang yang begitu berarti untuk saya. Mama… adik saya… keluarga saya… guru-guru saya…. teman-teman saya… semuanya. Kalian tahu? selama 24 tahun saya belajar untuk bangkit berkali-kali ketika jatuh, saya belajar untuk tidak terlalu cengeng menjalani sesuatu, saya menyaksikan betapa banyak orang demi seorang Marissa Malahayati sudah melakukan dan mengorbankan banyak hal.

Saya melihat Mama saya sejak Beliau masih sehat, hingga kini jalannya yang sedikit pincang karena pernah terkena stroke. Rambutnya yang tebal semakin banyak yang rontok dan sedikit demi sedikit mulai menjadi abu dan putih.

Saya melihat adik saya, sejak dia masih bayi… saya bermain bersama dia, belajar beberapa hal bersama, ngomel-ngomel ketika dengan puppy eyes dia meminta saya mengerjakan tugas keseniannya [dan tetap saya kerjakan juga], hingga kini dia sudah kelas 2 SMA… sedikit lagi mengecap bangku kuliah… sebentar lagi menghadapi dunia yang saya hadapi saat ini.

Saya mengenal ayah saya… mendengar cerita-cerita Beliau… dimarahi habis-habisan karena salah tajwid ketika membaca Al-Quran, hingga Beliau akhirnya meninggalkan saya dan saya yang sekarang hanya berusaha mengingat-ngingat apa yang pernah Beliau katakan, membaca ulang buku-buku koleksinya, dan berjuang menjadi anak perempuan baik yang selama ini Beliau idamkan

Selama 24 tahun saya hidup, saya melihat segala sesuatu banyak yang berubah.
Saya sendiri berjuang untuk mengubah diri saya menjadi lebih baik, membuat orang-orang bisa menjadi bangga pada saya yang sepertinya tidak melakukan hal luar biasa yang begitu signifikan untuk mereka. Saya berjuang… kadang menangis… tapi setiap saya menyadari bahwa orang lain mungkin telah berjuang lebih keras untuk saya, rasanya terlalu tidak sopan untuk menyerah terlalu dini.

Hingga akhirnya Allah merestui saya untuk meloncat ke ruang dan waktu lain bertemu orang-orang baru, saya diizinkan untuk melanjutkan studi saya ke JEPANG.

Untitled

Sesungguhnya, saya sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk setiap orang yang berarti yang akan saya tinggalkan sementara di tanah air, akan tetapi saya tidak tahu apakah segala usaha tersebut juga dirasa baik untuk mereka. Maka izinkan saya, melalui tulisan ini “minta diri” untuk melakukan perjalanan jauh kali ini. Genapkan kesempatan yang diberikan Allah ini dengan doa dan izin dari kalian semua.

Marissa akan tetap menjadi orang yang sama.
Masih menjadi pecinta kucing, masih akan senang menggambar, masih akan menjajal rasa penasarannya terhadap fotografi, masih malas untuk membuka selimut dan bangkit dari kasur setiap kali bangun tidur, masih tidak suka melihat anak-anak kecil yang memberi jasa ojek payung harus kehujanan karena meminjamkan payungnya untuk orang lain, masih suka lagu-lagu jadul, masih suka bicara sendiri dengan boneka, masih suka memeluk Mama setiap kali ingin dimasakan sesuatu, masih suka jadi Ms. complain, dsb… dsb… dsb…

Yang seharusnya berubah adalah kedewasaannya, kemandiriannya, dan pola pikirnya.

Sekali lagi, terima kasih untuk kalian semua, dan sekali lagi pula… izinkan saya berpamitan dengan kepala tegak kepada kalian semua.
Biarkan perjalanan ini membuat saya bisa menghargai sesuatu lebih baik dari sebelumnya,
biarkan pelajaran yang saya peroleh menjadikan saya seseorang yang memiliki gagasan dan pemikiran yang lebih lugas dan cerdasbiarkan semua hal yang akan saya hadapi nanti membuat saya tertawa dan meringis dan kemudian menjadi saya menjadi seseorang yang lebih kuat dalam menghadapi segala hal.

Rasanya tidak tahu terima kasih sekali jika perjalanan ini saya sia-siakan.

ketika saya pulang nanti, ketika tiba waktu kalian menggerinyitkan dahi dan berpikir beberapa menit “Ini siapa ya? perasaan kenal” lalu mengingat saya sepersekian menit berikutnya “Oiyaaaa…. inget….inget!”, saya harap ketika hari itu tiba saya memang menjadi seseorang yang pantas untuk kalian ingat dan kalian kenal…

Sebagai satu partikel kecil diantara jutaan bahkan milyaran partikel-partikel lainnya di planet ini yang setiap saat berdoa dan memuji Sang Pencipta, saya tentu harus tahu diri bahwa jika tidak melakukan apa-apa maka saya hanya sekadar membuat sesak planet ini dan huuuftttt… apa yang bisa saya banggakan pada Allah nanti. Maka dengan ini, dengan rasa terima kasih yang teramat sangat, saya berjanji untuk melaksanakan tugas-tugas saya dengan sebaik-baiknya. Terima kasih Ya Allah…

dan untuk semuanya yang saya kenal… saya mohon doa kalian semua dan tentu saya mohon pamit beberapa waktu dari tanah air tercinta ini. Sekali lagi, terima kasih.

 

A little notes from Japan: Part 3 (last part); Welcome to science city, Tsukuba….


Sewaktu saya masih kecil, hingga saya sebesar ini hobi saya adalah nonton film kartun, dan salah satu kartun favorit saya adalah ASTRO BOY. Saking gilanya saya sampai punya tuh binder, kontak pensil, dan aneka pernak pernik astro boy. Ya ampunnn parah banget kan -.-

kalau kalian berada pada masa kecil yang serupa dengan saya, jika kalian juga generasi beruntung yang waktu kecil suguhan kartunnya berkualitas banget, dijamin pasti pernah nonton Astro Boy… apalagi astro boy 2003 yang nyanyi soundtracknya duo favorit saya Chemistry! Arggggghhhhh~~~~ Keren parah! Adik saya aja sampai ngefans banget sama astro boy yang versi Jepang tentunya.

Dalam film itu, diceritakan kalau Atom (pemeran utama di astro boy) itu tinggal di sebuah kota yang full with science banget…namanya Metro City.

Memandang Metro City

Saya selalu membayangkan, ada gak yaaa kota di Jepang yang se-science Metro city di film ini. Dasar bocah, kayaknya waktu itu saya sempat komat-kamit “Ya Allah… bawa hamba ke Metro City” hahahahaha bocaaaaaah! Ampuuun!

Mungkin karena pas itu doa-nya masih polos-polosnya kali ya, lalu diijabah… taraaaaa, Allah lalu memberikan saya kesempatan untuk ke science city-nya Jepang: Tsukuba.

Memang belum seheboh yang ada di film astro boy, tapi Tsukuba benar-benar sebuah kota yang secara default di setting scientific banget. bahkan di pedestarian area aja ada robot zone! Wuaduuuuh….!

Image and video hosting by TinyPic

Hargailah hak para robot!

 

Tsukuba sendiri menurut keterangan dari dosen saya merupakan kota di Jepang yang rasio antara doktor dan rakyat jelatanya 4:1. Jadi dari setiap 4 orang penduduk di Tsukuba, 1 orang pasti doktor. Sisa 3-nya lagi, mayoritas master atau lagi lanjut master, dsb. Keren kan?

Selain itu, mayoritas research center di Jepang itu ada di Tsukuba. Kalau di Tokyo nyawa transportasinya adalah kereta, kalau di Tsukuba pakai bus. Hati-hati juga kalau naik bus, salah naik… salah juga tujuan kita. Dan Tsukuba ini isinya research center semua, jadi kalau kalian ke sini mohon ingat baik-baik seluruh informasi mengenai tujuan kalian, jangan cuman inget “Pokoknya gw mau ke research center..” Huwaaaaa ada buaaaanyak banget di sini hahaha… tiap renteng jalan pasti ada research center.

Saya sendiri menginap di sebuah hotel di Tsukuba center.
Di depan hotel saya mall-mall berderet rapi hahaha. Tapi rupanyaaaaa…. Mall ini kalau jam 8 malem ditutup. Ya amploooop! Jadi pas jam 8 kurang 15 aja udah kena usir kalau main-main cuci mata ke si mall hahaha. Tapi Alhamdulillah sempet beli jam tangan… lumayan, 1000 yen! Segitu kan standar ya untuk jam tangan, dan betapa kagetnya saya ketika Mbak Kasirnya juga ngasih kartu garansi segala buat jam tangan saya. Haaah… ya ampun, 1000 yen kan paling 100 ribuan ya, pakai garansi segala :’D sungguh mengharukan hehehe.

Saya suka pemandangan Tsukuba di pagi hari. Walau musim dingin, tapi pas saya datang alhamdulillah cukup cerah. Cerah kaaaan? Ceraaaah… tapi anginnyaaaaa Ya Allah…. gak kuat deh. Dingin banget. Hari pertama datang suhunya -2 derajat celcius. Padahal saya udah happy melihat matahari yang cerah tersenyum, errrr… tricky sunshine.

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

Saya sendiri diundang pelatihan oleh Sensei saya di National Institute of Environmental Studies (NIES), tempat sensei saya bekerja. Huwaaaaa…. ya ampun kurang baik apa sih Beliau. Kalau kelak saya sekolah terus jadi anak bodoh kayaknya Mega Combo durhaka deh sama Beliau.

Image and video hosting by TinyPic

Tempat kerja Sensei saya…. tempat berkumpulnya scientist-scientist pintar yang super duper ramah! Nice place for work

 

Jujur saya jiper banget ikut pelatihan ini. Yang ikut dua dosen saya. Pak dosen dari ITB malah kepala departemen pula. Terus dari negara lain, waduuuuh ada anak S3, ada orang dari kementerian lingkungan hidup…. Ya Allah… mana laptop saya hang! Ihhh kaco pisan lah.
Tapi senang karena saya jadi belajar banyaaaaaaak hal dari mereka.
Hufffttt I should study hard… harder… hardest!
Diantosan ya, Sensei…
Sebenarnya bukan masalah sih kalau saya mau seenaknya aja dalam hidup ini, tapi lagi-lagi… menerima begitu banyak kebaikan dari banyak orang baik, rasanya saya gak tega tuh untuk tidak melakukan yang terbaik untuk mereka. Hanya itu kan yang bisa saya lakukan! Eh eh… jadi curcol. Mari lupakan hahahha.

Kembali ke scientific-nya Tsukuba hahahaha… sebagai penyuka bunga, saya kemudian ngeh juga kalau di beberapa spot publik, mayoritas tanamannya di kasih tag keterangan. Jadi kita bisa tau ini pohon apa aja.
Image and video hosting by TinyPic

Saya tidak tahu apa di semua tempat seperti itu, tapi di sekitar kantor sensei saya sampai di pinggir jalan pun semua pohonnya dikasih name tag. Waduuuh keren banget. Saking cintanya dengan tanaman, bahkan katanya ada tanaman yang “di amankan” dulu selama musim dingin di rumah kaca dan baru akan ditanam lagi pas musim semi atau panas.

Hal unik lainnya, banyak lampu di tempat publik yang baru nyala kalau ada orang di sekitar area tersebut. Pas orangnya sudah gak ada… si lampu mati. Di suatu malam saya sempat iseng melototin lampu jenis ini di sebuah tempat pemarkiran sepeda di depan hotel saya, sampai sekarang saya masih bingung si lampu itu pakai sensor apa. Mungkin sensor gerak *Iyaaaah… sok tau deh gw ahahahaha*

Karena siang full pelatihan, maka jalan-jalan cuman bisa pas malam. Dan itu pun terbatas karena lagi-lagi: Mall tutup jam 8 malam, ada beberapa yang buka sampai jam 9 malam tapi hufffttt jarang. Eh tapi ada juga loh yang buka 24 jam hehehe tapi yaaaa 1-2 toko. Alasan ini yang membuat saya jadi gak bisa bertemu teman saya di Tsukuba, padahal pengen banget! Secara dia pasti lebih paham kan tentang ke-oke-an si Metro City eh… Tsukuba city hehehe.

Image and video hosting by TinyPic

Hiyaaaa Narsis… :p lumayan lah…

Image and video hosting by TinyPic

Ini masih satu set medium boneka Hinamatsuri

Jadi kalau mau narsis juga bisanya malem hahahaha….

Oiya…. kalau jeli, di beberapa tempat kalian bisa liat toko atau hotel majang hiasan boneka satu set lengkap. kayak begini nih:

Itu adalah boneka Hinamatsuri….Ini penjelasannya
Image and video hosting by TinyPic

Kebetulan tanggal 3 Maret akan dilaksanakan hari Hinamatsuri itu, makanya banyak yang pasang hiasan boneka ini.
Sensei saya sempat bercerita sedikit tentang Hinamatsuri. Katanya hari anak perempuan ini doanya simple, supaya si anak perempuan di keluarga tumbuh sehat dan menjadi anak yang baik. Naaaah, si boneka ini biasanya gak beli tapi memang warisan turun menurun.

Kalau kalian ngerasa “Wah kece berat nih dipajang di rumah gw, beli ah… satu set” Waaaah… boleh banget, tapi siap-siap rogoh kocek agak dalam. Harga boneka ini minimal sekitar 90.000 Yen, itu minimal yaaaa… MINIMAL! hahaha…. yaaaah 9 juta-an. Ih kalau saya mending beli laptop baru hahahaha. Tapi memang worthed sih. Mungkin ini juga jawaban kenapa boneka ini gak gampang rusak walau udah diwariskan turun menurun.
Hmmmmm…. menarik.

Image and video hosting by TinyPic

And Indonesia welcoming me again!

Saya pikir cukup sekian dari saya hehehe…
Capek juga ngetiknya.
See you in another posting. Sebenarnya cerita ttng Tsukuba masih puaaaaanjaaaaang banget tapi sudahlah, gak beres-beres kalau saya cerita hahaha.
Hmmmm… semoga kita bisa bertemu lagi Jepang 😀 I Love you so much!

See you!

A little notes from Japan: Part 1, arrived in Japan–> go to ueno


And life is a road and I want to keep going
Love is a river I want to keep flowing
Life is a road, now and forever
Wonderful journey
-At the beginning; Donna Lewis-

Hmmm… I have very limited time to write this blog actually, so I make it in several parts 😀

For some reasons, I think I’m very lucky because surrounded by very kind people. Kind family, kind friends, kind lecture, and kind future sensei hehehe.

Loh ini kok jadi pakai bahasa inggris, okay, let’s use bahasa hehehehe.
Tepat tanggal 22 Februari kemarin, dengan pesawat Japan Airlines JL 726, saya dan dua orang dosen saya (satu dari IPB which is my lovely undergraduate supervisor, dan satu lagi adalah dosen ITB…) membelah awan lalu terbang menuju Tokyo. Kalau ada yang mau tanya seoke apa sih Japan Airlines…. well sebenarnya sih biasa aja, gak se-wah apa gitu… cuman mereka sangat tepat waktu. Makanannya enak (dipesenin moslem meal… nyummm enak). Di samping kami duduk ada anak ITB yang ramah dan baik hati yang rupanya anak nuklir yang akan ikut conference yang diadakan TIT (Tokyo Institute of Technology). Seperti biasa saya sih pendiam hahahha dan gak pernah ngomong, tapi saya suka aja sama anak itu karena dia sopan, kalau ditanya membalas dengan senyuman, apa karena di sampingnya dosen ya ahahahaha… Lupa nanya siapa namanya, but I wish him a good luck.

Yang mau tanya kenapa kok saya bisa terdampar begitu saja dibawa ke Jepang… 1. Karena sensei saya baik hati. Rasanya mau meneteskan air mata kalau inget kebaikan Beliau huhuhuhu. Beliau mengundang saya ikut pelatihan karena my future research will be related to it, jadi biar dapet basic knowledgenya. Coba…. coba…. ada gak sih guru sebaik itu. 2. Of course karena saya juga beruntung punya bos yang baik hati dan dosen yang baik hati juga. Siapa coba yang rela mengizinkan anak ingusan seperti saya boleh ke Jepang begitu saja hahahaha…. 3. Saya punya keluarga yang baik, punya Mama yang rajin puasa dan shalat malam…. wuusssshhh langsung lancar deh segala urusan. Plus uwak saya yang untuk keberangkatan saya yang singkat aja preparationnya udah standar keberangkatan kunjungan kenegaraan. Huwaaaaa I love my family. 4. Allah baik banget, makin kesini saya merasa segala sesuatu yang berkaitan dengan studi saya rasanya selalu dilancarkan…. Subhanallah.

Setuju kan, how lucky I am….

Sampai di Narita pagi buta, jam 6 pagi  JST (Japan Standard Time)….berarti 04.00 WIB.
Check in di Tsukuba baru bisa jam 14.00 JST. Akhirnya dosen saya yang notabene-nya alumni Todai ngajak saya ngeliat-liat tokyo dulu. Biar mata rada terbuka gitu.

Agak takjub dengan Jepang, public transportationnya integrated banget. Bandara Narita rupanya integrated dengan bus dan kereta… jadi mau kemana-mana gampang.
Sesampainya di Narita, yang duluan dicari adalah: TOILET hahahaha…. adik saya udah dari jauh hari bilang “Kak, nanti liatin toilet di Jepang, bener gak seheboh kayak di film Cars 2?” Hahahahhaa… aduuuh nasib deh, gini ceritanya kalau kakak sama adik kebanyakan nonton film kartun -.-
But I check! hahahahah Ya Allah… kurang kerjaan banget kan? Eh tapi biar kalian tau juga.
Toilet di Jepang itu ada dua macem, ada yang western style *macam toilet duduk kita* dan yang japan style. Naaaah…. sebenarnya sih sama-sama aja, cuman….seperti kayak di film cars2… memang toilet di Jepang banyak tombol2nya hehehehe. Tapi gak heboh-heboh banget sih… biasa aja. Gak tau kalau ada yang lebih canggih lagi. Tapi yang saya temui sejauh ini yaaa standar lah. Oiya itu ada flushing sound, mohon jangan mengira sound yang keluar adalah lagu-lagu barat atau lagu klasik… apalagi lagu dangdut hahahhaa! Gak gak… itu cuman untuk menyamarkan suara kalau kita lagi flushing atau apa lah itu. Aduh please masa harus saya bahas juga :p

Image and video hosting by TinyPic

Dasar Jepang, semuanya well prepared. Di beberapa toilet ada juga yang disediakan tempat khusus buat gantiin popok bayi. Bahkan ada juga yang nyediain tempat duduk buat balita hehehe.

Image and video hosting by TinyPic

Kalau yang udah pada punya baby… bisa nih disimpen di sini dulu baby-nya sambil digantiin baju/ popoknya 😀 seru kan

Ah kok jadi ngomongin toilet hahahaha, come on, Mon!

Dengan nenteng koper segonjreng *koper gw sih… errrr….hahahhaa* berangkatlah kami ke Ueno. Ueno itu apa ya, mungkin kalo di commuter line JABODETABEK kayak stasiun Jakarta Kota kali ya. Tapi gak bisa disamain sih, ini lebih…lebih… lebih waaaaah!. Jujur aja, saya yang udah khatam dan fasih dengan rute Commuter Line Jabodetabek dan udah berani dijajal mau berangkat kemana pun pakai kereta di Indonesia, di tokyo mah…. bubye hahahhaha…. rutenya banyak bangeeeeet dan di mata saya kayak sphagetti hahahaha. Kalau sekarang disuruh ngulang lagi sendiri kayaknya masih lieur deh, salah gate dan sebagainya salah arah dan tujuan….

Gak percaya? Oh boleh-boleh…. monggo disaksikan…. hahahaha

Image and video hosting by TinyPic

Aduuuuh… lewat mana ya…mmmmm….

Pusing kan? Pusing kan? hahahhaha….
Okay, I should find very nice and great friend for next trip (Ayo…ayo… yang di Tokyo, Tsukuba, Kyoto, mohon bantuannya nanti buat jadi guide :D).
Oiya… semuanya pake mesin loh ya.
Beli tiket pake mesin…
Beli minum juga pake mesin…

Image and video hosting by TinyPic

Kesan saya pada semua mesin-mesin itu adalah “Whoaaaa pintar banget si mesin.” Habis mereka bisa ngitung juga kembalian dan sebagainya dengan tepat hahahahha sumpah saya lebay banget. Tapi saya sih jujur aja agak pusing dengan receh di Jepang. Apalagi ukuran 10 yen lebih gede dari 100 yen dan 50 yen hahahaha, jadi kalau ke toko saya suka give up dan bilang “sumimasen… so many coins” *sambil dengan noraknya mengeluarkan semua koin yang ada… terus biarkan kasirnya yang ngitung hahahahha. Eh tapi tenang, di Jepang mah pada jujur… jadi gak masalah lah. Pernah beberapa kali di toko 100 yen, kasirnya sampai ketawa cekikikan ngeliat saya ngitungin receh. Abis sayang juga kan mecahin uang kertas, pasti di balik tawanya si kasir bilang “Ya ampun pelit banget nih si mbak-mbak” hahahhaa…

Tapi ini mengagumkan banget, mereka tetep berusaha berkomunikasi walau jelas tatapan mata saya kosong dan gak ngerti apa yang mereka bicarakan. Berlajar bahasa jepang bertahun-tahun, sampai di Jepangnya mah teori tinggalah teori hahahahaha… pada cepet banget ngomongnya. Terus karena kemampuan saya baca kanji itu nol besar, kalau ada yang gak bisa dibaca kanjinya bisa juga minta tolong dibacain sama kasirnya hahahaha… terutama kalau makanan kan, naaah buat yang muslim kan suka heboh tuh sama komposisi di kemasannya, daripada super rempong nelpon ke perusahaannya kan, selama masih punya mulut dan sedikit kemampuan nerka-nerka mah tanya aja ke kasirnya… bilang aja “Watashi wa kanji wo wakaranai bla bla bla…” terus tunjuk bagian komposisi dan pake gesture dan bahasa isyarat yang kece. Saya sempet iseng nanya komposisi kitkat green tea soalnya, fiuuuh… dan terjawab  tanpa berkicau terlalu banyak :’D

Ueno sendiri kata dosen saya adalah Asian Market di Jepang, jadi di sini saya beli toppoki (rice cake) buat acara masak-masak bareng saudara sepupu saya nanti. Di Ueno karena stasiun gede, maka kami nitip koper dulu di loker. Eh lokernya juga pake mesin hahahaha *yaeyalah,Mon…* untuk yang ukuran jumbo harganya 500 yen buat seharian penuh. ya murah lah daripada ngejinjing itu kemana-mana. Eh jangan lupa sediakan koin hahahaha… itu penting! catat.. itu penting! kalo bisa sih si koin 100 yen kumpulin yang banyak. Gak kayak receh 100 perak di Indonesia, 100 yen di Jepang itu berharga hahahhaa…. mesin-mesin agak lahap memakan koin. Kalau yang receh 1 yen, 5 yen, naaah itu sih kalau bisa dibelanjain kapanpun ada kesempatan… mesin-mesin pada gak suka makan tuh receh -.-.

Dari Ueno, kami berangsut dulu ke shibuya… nah di sini yang seru.
Tapi BERSAMBUNG….
I should go to the office soalnya, nanti lanjut ya ^O^/
hehehehe….
2 Part lagi menyusul…

BANZAAAAAI!!!!!

A letter from Kyoto….


hari ini ada sebuah amplop besar sampai ke rumah saya, taraaaa inilah amplop itu

Image and video hosting by TinyPic

Isinya? Isinya adalah LoA dari salah seorang profesor di Teknik Lingkungan di Universitas Kyoto. Universitas impian saya selama ini…! Kyodai (Kyoto Daigaku) mungkin kalah pamor dengan Universitas Tokyo, tempatnya juga gak di pusat kota tapi peraih nobel di Asia paling banyak lahir dari universitas ini! Huwaaaaaaa….. kayak mimpi deh. Nobel loh nobel! Sewaktu masih SD saya pernah menulis di buku harian saya ingin salaman dengan peraih nobel… terus menjadi peraih nobel dari Indonesia.

Calon profesor saya pun juga peraih nobel loh, biarlah skrinsut yang bicara…

Buat yang belum liat sertifikat nobel, jangan khawatir saya juga baru liat sekarang hahahahahaha.
Nobel itu ada macam-macam, pada tahun 2007 Nobel Peace prize jatuh pada IPCC, sensei saya tergabung dalam penelitian IPCC jadi terhitung termasuk yang memperoleh nobel. Yang lebih kerennya lagi, Beliau sudah mengabdikan 20 tahun hidupnya untuk membangun model ekonomi energi se Asia-Pasifik! Asia Pasifik loh…. bukan cuman Darmaga atau Ciomas -.- Ya Allah…. keren dan rajin banget. Kalau saya sih ngebayangin aja udah bosen hahahaha, 20 tahun bangun model doang kan pusing ya. Istiqamah sekali Beliau ini.

Itu manis-manisnya…
Sekarang getirnya!
Permohonan pergantian universitas saya ditolak! Artinya beasiswa saya tidak bisa turun. Kenapa? karena LoA saya masih LoA profesor. Kalau bahasa kerennya LoA conditional. Saya masih harus lulus tes masuk universitas kyoto. Kabar sedihnya lagi, ujian masuknya adalah ke Fakultas Teknik dan jelas-jelas background saya ekonomi. Kisah sedih ketiga.. saya gak punya budget yang cukup *untuk saat ini* untuk berangkat tes kesana T^T huwaaaaaaaa sedih banget gak sih.

Jangan berisik lalu bilang “Kenapa gak ambil kelas internasional aja…. bla…bla…bla…” ya karena sensei saya di departemen teknik lingkungan itu… dan itu gak ada kelas internasional. Ya Allah… Beliau mau berbagi ilmu ke manusia bukan orang jepang aja udah subhanallah…. berbagi ilmunya ke saya lagi yang dari awal udah bilang I blind about energy economics. Beliau sampai rela loh gak pensiun dulu demi menunggu satu orang anak Indonesia bergelar emon ini berguru kepadanya. Tentu saja ini berkat perjuangan keras dan luar biasa dari promotor-promotor saya yang sabar Pak Rizaldi Boer dan Ibu Luky. Eh…. buat yang belum tau, Bapak Rizaldi Boer juga peraih nobel loh :p cari-cari di google ya. Heran deh IPB gak pasang baliho mahagede buat gembar-gembor masalah ini. Sudahlah kembali pada kisah sedih saya.

Mungkin memang susah juga ya jadi low middle income person…. tinggal dikit aja jadi mikir-mikir masalah uang. Belum cukup sampai situ, masih banyak manusia Indonesia yang memojokan keinginan saya…
“aduuuuh ngapain sih sekolah aja yang dipikirin”
“Kerja dulu aja kali, emang punya uang?”
bla
bla
bla
memang saya nggak punya… lalu mau apa?

Membantu tidak…
Mendukung tidak…
Menenangkan tidak juga…
Bikin stress iya!
Hal yang saya butuhkan saat ini adalah saran-saran yang solutif! Bukan menyalahkan segala keinginan saya.
Mungkin gak pernah kebayang ya… anak dengan kepintaran pas-pasan, kumel, acak-acakan, dan secara ekonomi juga gak banget bisa kemudian memperoleh kesempatan seperti ini. Ya nggak kebayang berarti kan bukan berarti hal yang mustahil.

Rasanya kadang jengkel sendiri….
Kadang mau marah ke ayah… dateng ke makamnya… terus bilang “See… this is what happened because you leave us so fast”
Kadang mau marah ke mama…”Kenapa sih, Ma…. gak pernah mau denger pas saya bilang jaga kesehatan baik-baik dari dulu”
Tapi ini bukan kesalahan mereka. Kalian tau? kalian tidak akan pernah melihat orang tua sehebat Mama dan Ayah saya. Sejak saya kecil saya bebas meraih apa yang saya suka. Mereka berhasil mendidik dua anak mereka. Saya dan adik saya mungkin bukan dari keluarga terpandang, tapi kami punya tekad untuk berjuang mati-matian untuk segala hal. Jika orang-orang melihat saya dan adik saya manusia-manusia bahagia yang Alhamdulillah gak ribet masalah akademis dan melihat keluarga kami always cheerful… kalian gak pernah liat betapa banyak hal dan rintangan yang kami hadapi bersama. Kami berjuang untuk banyak hal… seharusnya bumi ini lebih fair untuk menghargai kami, termasuk saya, dalam berbagai hal.

Saya lalu ingin marah… dan kemarahan terbesar saya adalah pada diri saya sendiri “What will you do!” sambil membentak ke arah cermin.

Bisakah dunia diam sejenak… biarkan saya berpikir jernih, menanyakan jalan terbaik kepada orang-orang yang saya anggap berkompeten dan tunda dulu segala komentar yang menyudutkan saya. Saya juga sedang berjuang dan berpikir… tapi saya butuh waktu dan sedikit ketenangan.

Jika saya seorang anak konglomerat apakah orang-orang akan diam?
Tidak juga kan?
Saya tidak pernah berkomentar masalah orang lain… mengapa orang lain harus repot berkomentar tentang urusan saya? kehidupan saya? segalanya! Mohon dengarkan saya terlebih dahulu, pahami…. lalu beri masukan. Diam sejenak, lalu biarkan saya mengambil keputusan.

Sudahlah biarkan saja…

Di atas lembar LoA saya terselip sebuah sticky notes kuning dengan tulisan dari sekretaris profesor saya. Rasanya ingin ketawa sekaligus mau nangis. Tulisannya “Dear Marissa-san hope it works well” Lalu ada smiley-nya. Unfortunately it hasn’t work well yet… but there will be a time 🙂
Image and video hosting by TinyPic
Saya kira cukup…!
Apapun keputusan saya nanti, semoga semua bisa menghargai dengan baik.
Jika saya memilih sekolah lagi… semoga alasan-alasan saya bisa diterima. Orang setega apa sih yang tega menyia-nyiakan kebaikan orang lain? Orang lainnya beda negara lagi.

Perjuangan saya masih panjang… masih harus belajar gila-gilaan
dan menempa hati. Udah mencoba menjadi gak cengeng… tapi kadang kalau denger yang kejam-kejam masih belum kuat.

huhuhuhu….

Special thanks:
* Mama… the best mom in the universe. Apa perlu semua Mama di muka bumi belajar dari Mama? Biar mereka bisa menghargai dengan baik pilihan dan keinginan anak-anak mereka?

* Pak Boer dan Bu Luky... terima kasih telah memperkenalkan saya dengan orang-orang hebat. It’s a pleasure. Terima kasih juga sudah berheboh-heboh karena saya

*My lovely brother... yang bilang “Be yourself! No matter what they say!” hahahha kita memang English Man in New York banget deh

*Tiko…. Rupanya kisah hidup kita hampir serupa. Bahagia punya sahabat baru yang bisa berbagi pikiran. Apapun yang terjadi semoga gw jadi ya ke Kyodai.

*Solih… Paling tau masalah gw, tapi pada akhirnya jadi orang yang paling heboh mendukung gw. Kaget loh tiba-tiba so sweet hahahaha. terima kasih… terima kasih sudah mengenal gw dan menganggap gw sebagai diri gw sendiri. Keren banget… :’D

*Habib… terima kasih telah menyemangati juga beberapa jam sebelum tulisan ini diposkan. Go! pergi kemana aja yang kamu mau! Nekad kan? Insya Allah aku bantu dengan… doa :p Oleh-oleh dari KL masih belum turun nih, mohon segera diproses -,-

Demikian…

bangun! wujudkan mimpi2 walau masih ngantuk banget! 🙂 salam juang!