Sedikit Mengintip Kehidupan di Lab.: Karena hidup kami tidak seindah foto-foto selfie kami


Kadang gemes juga ya kalau ada yang bilang “Aduuuuh….enak banget sih sekolah di luar, selfie terus… fotonya bagus-bagus. Kayaknya happy-happy semua ya?” ahahahhahaa iya sih, namun tak jarang di balik layar kami semua hampa dan galau. Yang ngomong gitu tuh belum tau rasanya ketika stuck, sensei bilang lo harus ulang semuanya dari awal, pusing, laper, lembur di lab, nyampe rumah yang menyapa cuman seonggok kulkas kosong! That’s hurt, Bray! huhuhuhuhu… jauh dari rumah, apalagi untuk family person seperti saya ini sesungguhnya berat bgt. Saya kan tuan putri manja, kalau ada apa-apa di Indonesia pasti nguwel-nguwel adik saya dan curhat macem-macem ke Mama. Di sini? Gak ada, bahkan kucing pun gak ada. Ada kucing tetangga, tapi gak bisa ngomong bahasa Indonesia. Hiks.

Walau gak seburuk itu sih, saya happy dan bersyukur juga karena banyak hal 🙂 Tapi kalau dibilang “Wah sepele banget ya rupanya sekolah di luar” wowowowowow…. hold on a second! Baiklah, karena saya sering nginep di lab. pada kesempatan kali ini saya akan perkenalkan isi lab saya 😀 semoga bisa menjawab rasa penasaran kehidupan ngelab di Jepang ini seperti apa. Mumpung lagi gak ada siapa-siapa.

Waktu menunjukan jam 4 subuh
Image and video hosting by TinyPic

Entah kebetulan atau bagaimana, namun memang di lab saya ini seperti ada zona Ikhwan-Akhwat ahahahaha…. ada zona terpisah antara mahasiswa cowok dan cewek. Gak sengaja sih. Cuman ini juga karena pertimbangan anak-anak lab kan suka pada tidur atau bahkan nginep di lab, nah kan gak kece kalau kita yang cewek ngiler keliatan yang cowok-cowok begitu pula sebaliknya fufufufufufu.

Untuk yang belum tahu, saya ini mengidap dyslexia ringan… Saya tidak bisa membedakan dengan cepat antara kanan dan kiri, plus saya susah banget menghapal nama orang. Untuk memudahkan saya, dibuatlah denah tempat duduk ini. Karena saya iseng, jadi sekalian saya tambah doodle buatan saya ahahahhaaa…. sengaja biar saya ingat sifat dan hobi masing-masing teman saya di lab ini 🙂

Image and video hosting by TinyPic

Zona cowok memang lebih chaos hahahaha… tentu karena mereka lebih sering menginap di lab daripada kami para wanita-wanita lugu ini.
Di bagian tengah sih rapi…apalagi zona ini didominasi oleh pria-pria rapi.
Image and video hosting by TinyPic
tapi di bagian pojok…. pffffft :p kasur lipat, sleeping bag, dan selimut merajalela
Image and video hosting by TinyPic

Dan asal tahu saja, tiap laci penuh! Penuh dengan cemilan. Bukan untuk gempa atau bencana alam, tapi lebih untuk bertahan ketika begadang.

Untuk zona akhwat…uhuk…. ambil sudut pandang agak jauh lah biar gak malu. Lihat kursi paling berantakan dan penuh bantal itu? Naaaah itu meja saya! hahahahaha berantakaaaan. Kalau para pria punya kasur dan sleeping bag, saya punya bantal. Salah satu bantal bisa dibuka dan jadi selimut… kadang bisa jadi sajadah juga. terus si kucing item bisa jadi bantal. Jadi peralatan perang saya sesungguhnya tidak kalah lengkap.
Image and video hosting by TinyPic

dan karena kadang pengen ngopi (atau dapat voucher starbuck gratis), maka koleksi tumblr saya pun siap sedia di lab. Siapa tau khaaaaan…. rezeki nomplok.
Image and video hosting by TinyPic

Nah… di sebuah lab, selalu ada Asisten Professor yang menurut saya lebih intens berkomunikasi dengan mahasiswa dibandingkan dengan professornya sendiri. Saya punya asprof yang baiiiiiik banget (over malah), dan setiap kali kami stuck dan buntu… doski akan siap membantu. Kalau kemudian Beliau juga stuck… oh ne vous inquiétez pas 😀 Dia akan langsung mengecek literatur yang ada… widiiiih, cek dulu dong rak buku Beliau, cadazzzz!
Image and video hosting by TinyPic

Sedangkan kami, pemuda-pemudi negeri….
Ketika kami stuck, lemah, tak berdaya, dan gak ngerti harus apa… kami juga baca buku. Buku komik :p ya habis bagaimana, daripada semakin menggila kan 😀 tapi buku non fiction juga banyak kok di meja masing-masing.
Image and video hosting by TinyPic

Asprof saya juga beberapa kali bilang, minat baca pemuda Jepang menurun. Pffttt… belum ke Indonesia aja doi ahahhaahaha… lebih parah lagi :p

Lab itu semacam rumah kedua bagi mahasiswa di sini, apalagi untuk anak-anak yang menggunakan eksperimen untuk penelitiannya… wah handuk, sikat gigi, sabun, juga mungkin udah pindah semua ke lab. Saya juga ke lab sampai semalam ini karena saya agak malas bertemu manusia di siang hari hahhahaa. Some people love to work alone. Rasanya lebih baik bekerja saat malam hari di banding siang entah kenapa. Tapi jangan terlalu ditiru sih, kelak di dunia kerja bakal repot.

Kadang menginap di lab itu karena faktor kepraktisan juga sih… sudah menyimpan semua data dan sudah merun program semuanya di komputer lab, jadi kagok kalau harus menyambungnya dengan laptop di rumah 🙂 tapi saya juga pernah punya teman yang tidak bisa lepas dari laptopnya, dan sekalinya dia lupa bawa kabel, dia pun langsung pulang “My life is not complete without my laptop” dan orang macam ini asal memeluk laptopnya dia sudah happy dan bisa kerja.

Semua orang punya style masing-masing dalam mengerjakan penelitiannya. Saya pribadi sih paling males ya mengomentari “Ih si A kok jarang ke lab….”, “Eh si B kok gini ya…” bla bla bla…
Kita tidak pernah tahu seberapa keras seseorang berjuang di balik layar.
Biasanya saya pula setelah shalat subuh dan setelah mengecek jadwal kereta 🙂
Hal paling keren yang bikin saya betah kerja malam sampai pagi adalah: lihat matahari pagi.
Semua orang mungkin melihat matahari tenggelam dari jendela lab mereka hampir setiap hari, tapi tidak semua melihat matahari yang terbit dan perlahan menyorot Honkan 🙂
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

selain itu karena saya cinta banget star gazing, kalau mulai mengantuk dan bosan saya bisa keluar dan lihat bintang, and no one disturb me, no one said I am weird… I am alone, me and nature. Terakhir kali saya melihat bintang sebebas ini adalah ketika ayah masih ada, jadi ketika kesempatan seperti ini datang lagi, I can’t miss it.

Di balik dinding universitas….
Di balik dinding lab…
Tersimpan impian dan harapan mahasiswa-mahasiswa yang sedang berjuang menempuh pendidikan mereka.
Di balik dinding ini semua, saya mengalunkan doa-doa terbaik yang saya miliki, meyakinkan Tuhan bahwa Dia tidak salah mengamanahi saya untuk berada di sini.

Dan percayalah, semuanya sedang berjuang sebaik yang kami bisa dengan cara kami masing-masing 🙂

Tribute to Ada Apa Dengan Cinta: Terima kasih karena setidaknya sudah mengajarkan kami romantisnya puisi


Saya belum nonton AADC 2, adik saya pun bilang berkali-kali “Ya ampuuun… nanti juga ada di TV. Lagian kenapa sih Indonesia begitu heboh dengan pertemuan Cinta dan Rangga, oh come on!”
ya sudah, jadi saya menulis lebih ke AADC secara umum.

Iya ya… kenapa AADC itu begitu dalam tertanam di sanubari generasi 90-an?
Padahal ceritanya kan standar… ya ampuuun, standar banget.
Ah! Saya tahu! Saya sedikit bangga dengan film ini karena setidaknya film ini mengajarkan bahwa romantisme itu bisa muncul dari buku sastra sekaliber “Aku” karangan Sjuman Djaya. Membuat orang penasaran perjalanan hidup sastrawan sekaliber Chairil Anwar. Pada masa itu, setidaknya puisi “Aku” selalu jadi puisi utama yang manggung dalam perlombaan-perlombaan puisi. Setidaknya kita jadi sedikit tahu mengenai romantisme kususasteraan.

AADC juga meninggikan standar orang yang layak “Ditaksir” jaman itu….
cowok kece itu yaaaa seperti Rangga, cool, tidak banyak bicara, pintar, jago menulis puisi, dan hey! Sekolah di luar negeri.
cewek kece yaaaa seperti Cinta, easy going, setia kawan, bisa seni, dan supel.

AADC mengajarkan kita untuk jatuh cinta dan galau dengan cara yang sederhana dan tidak lebay.
Tidak seperti sinetron era masa kini yang…. ah sudahlah males bahasnya.

Seiring dengan rasa terima kasih saya terhadap film ini, izinkan saya menyanyikan salah satu OST AADC, Bimbang:

“Ku peluk semua indah hidupku
Hikmah yang ku rasa sangat tulus
Ada dan tiada cinta bagiku tak mengapa
Namun ada yang hilang separuh
Diriku”

Ketika kemudian AADC 2 muncul, mempertemukan kembali Cinta dan Rangga setelah 14 tahun….
sebenarnya kalau dipikir-pikir iya ya, berpisah selama 14 tahun rasanya ajaib ketika semuanya masih sama-sama single dan masih sama-sama cinta. Walaupun tentu kita tidak bisa mendebat masalah rasa dan takdir dalam dunia nyata.
Namun yang pasti, kitalah yang dipertemukan dengan harapan untuk melihat film yang sederhana dan tidak murahan seperti AADC. Ya! Setelah 14 tahun 🙂

Weddingnomics ala Indonesia: Mengapa Menikah di Indonesia itu “relatively” mahal?


Saya tergeletak di rumah hari ini karena sakit perut, yo wis mari menulis blog.
Yak Sodara-Sodara… izinkan saya yang belum menikah ini dan hingga Ramadhan 2016 hilal mengenai jodoh saya belum terlihat (yang terlihat adalah deadline proposal penelitian yang semakin mendekat) berbicara mengenai apakah nikah itu harus mahal? Pernikahan seperti apa sih yang ideal? dsb..dsb…dsb….

Entah ada angin apa, saya tergerak untuk men-search biaya paket pernikahan kemarin malam. Sungguh jomblo optimis, belum ada bayangan pun sudah melihat paket2an ahahahaha. Jadi nih ya buat kamu yang sama-sama Jomblo dan bloon masalah beginian, rupanya layaknya level di MLM paket nikahan juga ada yang bronze, silver, gold, sampai platinum! Namanya juga mahasiswa modal ngepas dong, saya lirik lah paket pernikahan bronze di sebuah cafe di Bogor, yang KATANYA sedang promosi. Sungguh mencengangkan…. total 30 juta!!! Uhuk…. bisa bayar satu semester kuliah di kampus saya loh ini. Dan itu untuk makan 300 pax (berarti sekitar 150 undangan). %^%**%^%$%$#$#^&%*(^&%^$%$
Rasanya pengen langsung mencurahkan isi hati pada Allah SWT, “lapangkan rizki hamba Ya Allah….”

Semakin gatal untuk menulis lebih detail mengenai hal ini ketika di socmed viral sebuah foto yang ini nih:

Mungkin bagi kalian ini biasa aja, namun sebagai pakar sosial media dan penulis blog semi-senior (ahahahaha ngaku-ngaku), hal ini jadi super seru!
Para jomblo yang masih kere tentu berkoar-koar dengan semangat 45 #SETOOODJOOOEEE
Para pasangan yang sudah menikah dan ehmmm… budgetnya cukup tinggi plus nikahnya di gedung apalagi yang kebetulan tinggal di kontrakan, kemudian angkat bicara “Heh… nikah sederhana sih oke, tapi GAK USAH NYINYIR WOY!”
Pasangan yang baru menikah dengan budget seadanya belum terlihat melakukan argumentasi berarti di social media, mungkin mereka sedang asik menikmati waktu dengan pasangan masing-masing #JanganIriYa

Dan Indonesia pun tetap ramai seperti biasa 🙂

Okay… mari kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin.

Berdasarkan teori, pernikahan itu sebenarnya gak perlu mahal, bahkan dianjurkan sederhana.Dalam Islam misalnya, pentingnya ada walimahan adalah untuk woro-woro ini looooh si A udah nikah dengan si B. Sebagai bentuk syukur yaaa ngundang orang masa sih gak disuguhin makanan? Namun makanan itu sendiri yaaa semampunya pengantin, kalau hanya bisa menyediakan jagung bakar yang jangan maksa nyediain Burger Kong. Gitu loooooh~ simple kan. Namun tentu pada praktiknya tidak semudah itu.

Jadi berdasarkan analisis culun saya, mengapa biaya pernikahan di Indonesia bisa begitu mahal? Ada dua komponen utama yang super mahal: 1. Catering, 2. Sewa gedung
Saya tidak akan melakukan perlawanan pada poin pertama. CATERING! a.k.a makanan. Camkan ini baik-baik, apapun acara yang akan kalian gelar nanti pastikan makanan kalian harus ENAK dan CUKUP. Pernah suatu hari saya datang ke undangan pernikahan mahamewah, namun 5 menit setelah tamu undangan keluar dari gedung, kebanyakan mengeluh “Gila…! Semangka aja gw gak dapet, Bray! Ludes semua!”, “Eh iya loh… gw juga cuman kebagian aquo gelas, mayan lah daripada gigit sendal”

Ya! bukan indahnya tenda apalagi perkara cantiknya atau gantengnya pengantin, yang pertama kali tamu Indonesia kritisi dalam sebuah pesta pernikahan adalah MAKANAN!
Bahkan, Kalian yang scientist mungkin gak tau hal ini, namun dalam ilmu hitam Indonesia… dukun di Indonesia menyediakan service khusus untuk membalas sakit hati Anda kepada pasangan yang meninggalkan Anda kawin dengan orang lain dengan cara membuat seluruh makanan catering BASI!
Yaaaa… makanan, adalah faktor paling krusial :’D

Sebagai ekonom, pemerhati ilmu sosial, dan penggiat makanan… saya setuju mengenai mahalnya biaya catering. Namun, jika saya boleh saran… pangkaslah biaya di penggunaan es ukir yang setinggi puncak Mahameru! Iya sih cantik, tapi useless… kecuali setelah acara resepsi, Mamang tukang es serut kemudian memboyong si es untuk kemudian disulap jadi es serut, “Mang… es serut satu, Mang!”

Sudahlah…. makanan sih makanan aja gitu loh, pastikan makanannya enak dan gak apa lah kalau kelebihan sedikit. Jika ada kelebihan, bungkus jadi beberapa nasi kotak, bagikan ke orang-orang kecil di sekitar. Pak satpam, tukang sapu, dsb…dsb…dsb…
Mari kita case closed masalah makanan. Mari berjuang untuk menyediakan makanan yang murah namun tidak murahan untuk para tamu undangan kita nanti, Allahuakbar!

Lalu masalah gedung…Nah ini yang setelah baca listnya, saya semakin dekat kepada Allah SWT karena senantiasa melafalkan “Astagfirullah”
Namun kita tidak bisa menyalahkan para pengguna gedung untuk resepsi, kenapa? karena beres-beres rumah itu bisa bikin gila! Saya, saya harus jujur bahwa saya pasti akan memilih resepsi di gedung atau out door, bye rumah! Kenapa? 1. Mama saya kan sakit ya, terlalu kejam jika kemudian membuat Beliau terlalu kelelahan secara fisik dan psikis melihat rumah yang super berantakan setelah resepsi. 2. Rumah saya itu di pinggir jalan, yaaaa masa iya saya mau memblokir jalan. That’s super annoying thing.
Saya percaya di luar sana banyak orang yang memiliki alasan serupa dengan saya

Maka… mengatakan nikah di gedung itu sebuah dosa merupakan sebuah kesalahan besar. Kita semua punya argumen kuat untuk membantah itu.
Namun, haruskah gedungnya super mewah? Waaaah…. ini sih lain cerita.

My dream wedding itu yang super sederhana di sebuah taman atau kalau hujan ya terpaksa di gedung, yang dateng gak perlu banyak tapi orang-orang yang saya kenal. Semua orang bisa makan di kursi dan meja, termasuk saya dan suami saya…. yaaa gila aja, masa kalian tega sih saya kan pasti udah diet tuh biar gaun muat kan, terus rela berdiri dan tersenyum pas foto, mungkin suami saya juga kelak kemudian (dan menurut prediksi dia pasti lebih rewel karena males hal-hal seremonial), mana mungkin kami juga harus rela menahan haus dan dahaga….. TIDAAAAAAAAKKKK~~~~~ bring my foods!
Adik saya juga sudah memberikan statement: “Kiki and Mom, we are on the foods stall side. Period”
karena saya berharap biaya resepsi saya sepenuhnya ditanggung saya dan suami saya kelak, tamu undangan yang gak perlu banyak, dan hiburan terbesar adalah makanan enak… tentu saya tidak butuh gedung mahamewah. Bukan tidak mau, tapi tidak sanggup dan mubazir :p gak usah muna deh, siapaaaaa….siapaaaaaa yang nolak kalau nikah di gedung mewah itu gratis? Gak akan ada ahahahaha.

Lha… tapi itu kan Marissa. Siapalah Marissa, remah-remah rawit di bungkus gorengan.
Beda cerita ketika yang jadi manten atau orang tua mereka memegang peranan khusus di masyarakat. Ada yang pejabat, bussinessman, macem-macem lah pokoknya. Nah, resepsi itu kemudian bukan hanya sekadar acara selamatan atau woro-woro terjadi pernikahan,namun juga sebuah media networking, ya masa iya orang-orang dalam lingkup network tersebut gak diundang? Waaah bisa kacau dunia persilatan, keluarga itu bisa dibilang “sombong” dsb… walaupun mungkin maksudnya bukan begitu. Kata teman saya “Nikahan di Indonesia itu, Mon…. bukan hajatan mantennya, tapi hajatan orang tuanya”
Nah! Ini yang harus kalian ketahui. Bukan hal yang aneh ketika nikahan di Indonesia, pasangan pengantin tidak tahu siapa tamu yang datang menyalami mereka… why? Karena itu bukan tamu mereka! Itu tamu orang tua mereka. Salah? Tentu tidak…
Ini harga sebuah budaya dan tradisi.
Masih ingatkah kita ketika Pak Jokowi mengadakan pernikahan anaknya? Pernikahannya cukup sederhana untuk seorang anak presiden. Banyak tanggapan positif dari masyrakat, namun nyinyirers tetaplah nyiyirers… ada juga yang bilang “Yah, masa’ anak presiden ngirit-ngirit banget nikahannya”

Di negeri seheterogen Indonesia, melangkah kemanapun pasti ada pro dan kontra.

Jadi mari kita berikan senyuman tulus kita pada pasangan-pasangan yang menikah baik di gedung yang seadanya dan yang mewah….
hargai bahwa di balik kursi mempelai, banyak pertimbangan-pertimbangan yang kita sendiri mungkin tidak ketahui. Kita diundang untuk mengucap doa, bukan untuk menjadi auditor biaya pernikahan.

Saya memang orang yang bermahzab nikahan yang super simple, gak lama, dan budget yang ada lebih baik buat nabung… kasih ke panti asuhan…. dan keliling dunia.
Saya juga orang yang tidak pro dengan Pre-wedding photography, walau saya suka foto setengah mati. Alasannya… mungkin budget foto bisa dialihkan buat makanan (hiyaaaa makanan lagi). Seriously, pre wedding bagi saya itu ribet… harus pose lah, harus cari tempat, alamat… udahlah ya after wedding photo aja lah, sini gw foto ampe Memory card penuh.
Saya juga bermimpi pernikahan saya kelak, EO-nya sahabat-sahabat saya dan ide adik saya plus geng-gengnya… yang mengatur makanan, rekomen tempat, yang nyanyi, yang angkat panci, beresin taplak meja, dsb… terlihat kejam kan, memang ahahahahha *disinyalir setelah ini sahabat-sahabat saya langsung pergi tanpa jejak*, tapi saya merasa semuanya jadi lebih personal :]

tapi kan semua orang tidak seperti saya, tidak semua berada pada kondisi psikis, emosional, ekonomi, sosial, dan budaya seperti saya.
lebih tepatnya lagi: KITA SEMUA BERBEDA
dan alangkah menyenangkannya menghargai perbedaan yang ada.

Pernikahan yang mewah? Saya gak kontra tuh…. saya senang malah apalagi kalau di undang, terus ada gubuk makanan yang WOW! Ahahahahha…
Pernikahan yang sederhana? Saya juga suka… tidak ada yang lebih menetramkan hati melihat resepsi pernikahan dengan kesan humble dan apa adanya. Rasanya gak mau berhenti senyum dan bilang “Oh guys! You made it, very well”
Masalah mereka mau tinggal dimana setelah menikah… kontrakan, apartemen, hotel, rumah kardus… hahahahahhaa, who’s care? Pertama, itu bukan urusan kita semua. Kedua, kini mereka punya sepasang tangan untuk menutup telinga mereka masing-masing, hanya perlu ketulusan hati dan sebuah kalimat singkat “Hei… mari kita jalani kehidupan kita bersama hingga rambut kita memutih nanti”

Udah ah, jangan baper.

Why Indonesia [probably] will fail in Implementing “Paid Plastic Bag” Policy? : A Casual Economics Review


Caution: It will be a long article, so I draw some illustration. However, still boring but mmm maybe not in a deathly level 🙂

Happy Earth Day, Planet Earth!
Earth Day special, I want to look like a real “Green-Economist” and based on some requests I will write about Paid-Plastic Bag Policy in Indonesia. I don’t want to stress you with crazy creepy economics terms, so I tried my best to make it as casual as possible.Ah! And sorry, in English… while I want to do “more” with the Indonesian version.

Well, here the news! Based on a paper written by Jambeck, et al (2015) [1], Indonesia became the second biggest plastic waste contributors in the ocean, just below China which was in the first place. Is it serious problem? Definitely, yes! Indonesia already experienced a huge drop in fish harvesting because of unsustainable fish-catching (e.g. using bomb, poison, etc), climate change, and now: waste, to be precise plastic waste. The details summarized in the graph below:

Every book, including history books, noted that environmental problem usually happened in lower-middle income countries which try to transform their economic structure. But who want to be trapped in the same trap? Indonesia also learns from the past.  We love popularity but not as plastic waste contributor in this blue planet! Then, started from February 2016, Indonesia tries to implement “paid plastic bag” policy in 22 cities. Such an out-of-dated policy for some countries, but it is very new in my lovely country. How the policy works? In brief, you should pay 200 IDR (around 2 JPY or 0,02 USD) / plastic bag every time you do shopping in any modern retail stores. 

Then what happened all around Indonesia? Lots of people reject this policy. Of course if I am a policy maker, I will realize that my policy will gain some critiques and that’s not my business to please everyone. My jobs are increase people wealth and create environment sustainability. Haters always gonna be haters, but haters sometimes give their most objective critics, so let’s analyze their critics points.

After 2 months, there is no significant reduction of plastic waste in Indonesia. Probably, it is even more plastic waste than anybody can predict!

I remember, once in television, my favorite writer Arswendo Atmowiloto said “Indonesia people made their own economics theories.” As economist I will give standing applause for this quote. Leave your economics textbook, because it is beyond our imagination.

To counter this point I just can say: This is too early to judge that this policy totally failed. Still 2 months! What you can do in 2 months? Like a baby, they just already started to see his parent clearly. In business terms it still “test the water” part.

But, can that point come true? unfortunately, I should say  “Yes”.

I have several reasons:

First, we haven’s accustomed yet. No further explanation needed.

Second, There are no efforts from the shops to reduce the use of plastic bag. If today you go to any random retail store or supermarket in Indonesia and buy something there. Maybe you will find the cashier simply totaling your groceries plus your plastic bag even if you only buy a can of cola. “Oh, but I don’t want to use plastic bag” upss… sorry, but it’s already counted.

Third, Indonesian never really interested in collecting small change. Huh? Is it related to the topic? I will give you long explanation for this one.

In Japan, I really hate 1 yen and 5 yen in my pocket. But the good news is at least here I can make ATM machine busy enough to count and save my coins. Also all groceries are in prices which need 1 yen and 5 yen nominal.
Image and video hosting by TinyPic

In Indonesia? Nope! We even face difficulties to save our coins to the bank. Indonesia’s smallest nominal is 100 IDR. When I was kid I still can buy a candy with 100 IDR or using payphone, but today there are almost none with that nominal. So, if you have lots of 100 IDR coins, maybe you can keep it in your piggy bank, but it is also bring another problem. Once, my friend tried to bring her coins saving to the bank, she already counted that and she had around 500.000 IDR (around 50 USD or 5000 JPY) and this value is consisted by 5000 shinny 100 IDR coins!!! yes! around 5000 coins, maybe more.
Image and video hosting by TinyPic
Money is money, she confident that Bank will be kind enough to accept her coins. She came to the Bank and TADAAAAA…Bank rejected it. With a sad face she just asked me “What should I do with this? Make it for weight-lifting?” Trust me, that’s a true story. If you don’t trust me you can read another story here [Indonesian only]

This physiological tendency  then used by some supermarket and convenient store to ask “Do you want to make donation with your small changes? “ and with a lazy tone, almost all of us just simply said “Ok” without even ask where that exchange will go (another reason why recently there are high report about “small corruption” by the cashier).

Thanks to “paid-plastic bag” policy, trend will be slightly changed then!
Image and video hosting by TinyPic
If, for example, the exchange is 400 IDR, then an Indonesian see there are many things she already bought, of course it is rational decision for her to pay for 2 plastic bags than should donate it somewhere she never know. Even if she just needs one plastic bag, she still chooses to buy 2 plastic bags, one for her stuff, another one? Well… she will need it (although in fact no one ever re-use it, who need lots of plastic bag?). Even! If she don’t need plastic bag at all but then she heard the exchange will be, for example, 200 IDR! She probably say “Mmm…Oh okay, with one plastic bag please!” and she will feel she made a genius deal! How stingy Indonesian! Oh, no… that’s the most rational economic decision everyone probably take. In behavioral economics there is a statement that we, human, prefer something that gives exact utility for ourselves in the near future. We looking a way to fulfill our needs first before other people’s needs, even that’s a silly thing called plastic bag.

If this thing always happened then plastic industry will be so happy, yes! Why? 1. While there is no clear explanation where the money goes, let’s assuming it goes back to plastic bag producer, probably it can cover their production cost.  2. While demand of plastic bag are not changing (or even accidentally increased!) and there are no specific requirement from the government about plastic bag price, then voila! It is a great business for plastic company (sst… don’t say it to plastic company, please). I want to look cool here, let me draw you a curve to explain it.
Image and video hosting by TinyPic

Using the curve above, assuming accidentally plastic bag demand increases (say because the price is very affordable and the increase of income of Indonesian) .Economy start in EQUILIBRIUM state and  give us price of plastic bag in in Peq and quantity sold in Qeq. If the demand INCREASE (D shifted to the right become D’) then Qeq become Q’. If government kept the price of plastic bag still in Peq,  capturing the opportunities in the market, plastic company will INCREASE supply  of plastic bag (S shifted to the right become S’).

In the other words, plastic company will produce more plastic bag to fulfill market’s need. It is also means an increase in plastic waste. It is undeniable. Of course maybe it is “too extreme” case. However, I want to show that as long as the price is below or same with equilibrium price, plastic bag still promising product for the plastic company.

So, what should we do if we want to decrease the quantity of plastic sold by the market?
Again, economist should draw a lot of curves!
Image and video hosting by TinyPic

Assume we want to decrease Quantity sold until Q”, in economics one variable that can be modified is Price! Let’s make government firm enough to regulate the Price on P” which is above Peq. Supply curve always sticky enough to be changed (I mean we can’t force the company to reduce their benefit? Remember, in classical theory, company never care anything except maximizing their profit). But we, consumer… we sensitive with price :D. Consumer will think twice to buy that plastic bag, why should we waste money for such low quality plastic? Ewww…Go away plastic, our wallet really hate you! Right after that  comes into consumer mind, demand will decrease until D”. Plastic bag also will not profitable enough for the company and for sure they will decrease their production. What a news! we save the planet then!

Enough with curve,  still some points to explain.

Forth, “Monthly shopping” culture. If you go to Indonesia… you probably will see that people will buy huge amount of groceries! In our culture (based on my experience as 100% Indonesian!) we buy something for monthly needs. Here in Tokyo, I found that people buy groceries for weekly or daily so one small or medium size shopping bag will be enough.  I can show you how small Japan’s shopping bag is:

This is my shopping bag, I compare the size with B5 size book. Very compact (and fashionable). People can buy the bigger one than this, however the size is not really different with this one.

in Indonesia? Using shopping bag? Haha…No way!
Image and video hosting by TinyPic

Once a high-middle income families go to supermarket they will buy everything! One sack of rice, 5 boxes of noodles, soap, cooking oil, sandals, clothes, pencil, hairdryer, Venus, Mars, Jupiter, Saturn, everything! How many shopping bags do we need then? Even me, researcher on climate change field and also an economist, I will pay for plastic bag for this. While the plastic bags also cheap! Only 200 IDR… and based in the news I conclude that this price is below equilibrium price. Then we face excess demand of plastic!

“Hei! But who can beat custom and even culture?.” This one is a difficult part.
But I remember, I am such a bookworm, and can’t help with it. Every time I go to the bookstore, I can empty my wallet and buy a mountain of books, some of them are very thick. Then I realize one thing… here in Japan, no matter how heavy my books are, they will provide me with paper bags. At first I am really worry about it, and the only English sentence written there was “This bag made by recycled paper”. I thought it will be broken just 3 steps after I left the book store. However, I went around Tokyo bringing that paper bag with full books inside and it kept my books safe until home. I don’t know exactly about total production cost of “strong” recycled paper bag is, but if it is cheap enough I hope Indonesia can try to that’s one.

Fifth, No garbage separation policy in Indonesia. In Indonesia, you can throw any garbage anytime (and anywhere). Some places already try to separate garbage into organic and non-organic, however that’s “useless” because there are no separated garbage truck between organic and non-organic garbage. So, why Indonesian should separate it if then it will mix again on the truck? Why? Tell me…WHY!?

Hey! But why is it related to the number of plastic waste? Before answer that, let me tell you my story.

I am living in a town where there is no policy about paid-plastic bag. So, every time I buy my groceries (while I am Indonesian, I love to buy something for at least for two weeks ahead :p),  I get lots of plastic bag. But only in a week, there are no plastic bag left in my home.

Why? Because here, I am struggling to separate waste!  On “Recyclable garbage” day I should separated them into 8 type of garbage: Newspaper, leaflet/books/magazine, cans, pet bottles, card boxes, milk/ beverages boxes, food tray, and glasses jar. Assume there is a day I have all of these Recycled garbage types, then I need 8 plastic bags to separate them!

This is example from Meguro-ku (I took it from internet), in my place (Oota-ku) Recyclable waste should be separated into 8 types 🙂 different town, different policy but overall you should do lots of efforts for this. (photo credit: https://travelfoodguru.wordpress.com)

In another day, there will also “burnable garbage day” and “Non-burnable garbage” day… of course I need another plastic bag to separate them carefully. Bye plastic bag…
I can assure you that my home is free from any form of plastic waste.
I also can’t randomly throw my garbage without following the rule; the truck will never take your garbage if the garbage is not fit with the schedule. Such a hassle, but we happy because no garbage everywhere and ministry of environment  also happy while it is easier for them to process all garbage.
I think plastic consumption in Tokyo is higher than any other place in Japan, but the waste management is very good also so it is not such a big burden for Japan.

Back to Indonesia… as I told you before, we love buying something in huge amount for monthly stock, then we get lots of plastic bags and have no idea what we can do with them after that. Some people keep it and assume they will need it later; some people just throw it away. But in another month we do the same thing again… again… and again…

The story will different if Indonesia has a good waste management system. I think it is too early (and too crazy) to follow Japan waste separation system (they start to apply this system from Meiji period actually). Maybe try to separate organic and non-organic waste will be a good start. In that time, at least Indonesia can recycle the garbage better! Not only pile everything on the landfills!

To be honest! I think the main reason why there are lots of plastic waste in Indonesia is not only because we use so many plastics in our daily life, but also because government still have no idea what should they do with all of the waste!

Personally (really… this is personal thought), without any disrespect to Indonesian government efforts in reducing plastic waste, applying paid plastic bag policy before applying good waste management system is like learn how to make an airplane before learn basic physics. Or if you are an economist, it is like learn applied econometric before learn math. I mean, it is possible to work but will take time… so much time! It is possible, but somehow not efficient.

Well, that’s it…
I hope I give a friendly explanation about everything and give you some idea how to criticize this topic smartly 🙂

Good luck, Indonesia.
Good luck, all Indonesian.
let’s make Jambeck et al  revise their research result soon 🙂

=====================================

[1] Jenna R. Jambeck, Roland Geyer, Chris Wilcox, Theodore R. Siegler, Miriam Perryman, Anthony Andrady, Ramani Narayan,  Kara Lavender Law, Science  13 Feb 2015: Vol. 347, Issue 6223, pp. 768-771.

Karena kita menggali ilmu untuk mendewasakan pemikiran kita: Membongkar salah kaprah dalam melanjutkan studi


Jadi kalian kuliah itu ingin apa? -Saya-

Setiap menuju akhir pekan, saya mengecek blog saya… dan saya tertarik dengan search terms yang banyak muncul di blog saya… eng ing eng take a look!
Image and video hosting by TinyPicBahkan kalau di scroll kebawah lagi ada:
“IPB bubar”
“apa IPB bagus”
dsb….

Cieeee… pada nyari tentang IPB ya? Baiklah akan saya paparkan apa yang menjadi rasa penasaran kalian. Saya, walau alumni… tapi saya akan paparkan segalanya dengan seobjektif mungkin.

Masuk IPB susah? Gak kok, tinggal naik angkot 05 jurusan Dramaga bilang turun di IPB, terus masuk deh. Oh seriously, Marissa.
Yaaa layiknya masuk ke PTN ya, susah-susah gampang. Saingan kalian manusia-manusia pintar dan juga manusia-manusia dengan tekad baja. Pintar aja gak cukup harus banyak puasa sunnah dan tahajud :p

Kuliah di IPB susah? Jujur susah… susah buaaaaaangggeeeet…. kampret sekampret-kampretnya. IPB itu tega! Kalau kalian ngulang, bakal ada tanda bintang di transkrip yang mengindikasikan kalian ngulang. Jangan tanya kuliahnya… beuuuh, selalu ada mata kuliah killer di setiap fakultas. Karena saya anak yang biasa-biasa aja, yaaaah kenalan lah sama rantai karbon C, awalnya shock lama-lama sujud syukur karena Alhamdulillah lolos. Tapi yang dapat IPK 4.00 juga buaaaanyaaaak… jadi apakah kuliah dan dapat nilai bagus di IPB susah? tergantung kalian sendiri sih.

Apakah alumni IPB mudah mendapatkan pekerjaan yang layak? So far yang karirnya lebih bright dibanding saya buanyaaak banget. Kementerian, bank, jurnalistik, bisnis, semuanya ada….! complete!

Hal yang kayak begini sebenarnya bukan sesuatu yang perlu disearch di google, tapi ditelisik ke dalam diri sendiri, diajukan dalam setiap doa ke Tuhan. Yaaaah guys! Blog emonikova ini apa coba? yang ada saya malah mau ngomel-ngomel, nah nyesel kan…

Memangnya kenapa kalau kuliah itu susah?
Memangnya kenapa kalau jurusan yang kalian minati itu “Aneh” dan kayaknya kurang “hits”?
Kenapa? kalian mau mundur? Oh mundurlah karena dunia tidak butuh manusia cemen dan lembek.
Hei! Mana ada pelaut yang handal karena berlayar di sungai air tawar? Itu sih ternak ikan di karamba…. Pelaut handal itu handal karena mereka berani berlayar melawan ombak seganas apapun itu! Majuuuu! Serbuuuuu! Seraaaang! Terjaaaaang!

Jujur sebenarnya saya diterima di beberapa PTN di Indonesia, namun saya memilih IPB kemudian. Jangan pikir saya tidak tertekanya awalnya ketika saya masuk IPB…. ada banyak komentar miring
Ih… kok yang dipilih IPB sih, itu kan buangan aja buat anak SMAtop1 (menyamarkan nama sebuah SMA hits di Bogor)”
Ih kok yang dipilih IPB sih, kan susah dapet kerja sama beasiswa” Dan saya ingat betul yang mencetuskan ini adalah guru saya sendiri di SMP.
Kalau gw sih ya, Mon… gak ada hasrat sama sekali dengan tuh dengan IPB
dan ratusan hal lainnya…
Iya sih, saya kan biasa-biasa aja ya, garis rakyat jelata di SMA, mungkin jika saya masuk Oxford pun standar Oxford akan turun karena “Ih emon aja bisa masuk.” Waduh! kalau begini saya harus sungkem ke kampus….
But I study abroad now, nothing is wrong with my university, my teacher, everything! Everything are fine.

Kampus saya mungkin tidak perfect,
Nilai saya di kampus juga aduuuh gak usah tanya deh… :’D standar
Saya tertawa, menangis, jungkir balik, gila, bahagia, dan merasakan aneka perasaan nano-nano lainnya.

Namun, saya akan tulis hal penting ini denga ukuran jumbo dan bold:

Kesuksesan kalian adalah hasil tekad dan kerja keras kalian sendiri!

stop blaming the university,  the teachers, the subjects, your parents, your friends, your God. Satu-satunya orang yang perlu kalian marahi adalah orang yang wajahnya muncul di kaca ketika kalian bercermin. Oh yes! you.. just yourself.

Apa kalian akan lebih keren dibandingkan teman-teman kalian yang kuliah di univ.X ketika kalian diterima kuliah di univ. Y?
Apa kalian akan lebih jenius dengan kuliah di univ Y dibandingkan X?
dsb
dsb
dsb

Lupakan semua pemikiran mahadangkal dan bodoh itu. Jangan merendahkan diri kalian sendiri dengan menganggap kalian lebih hina ketika terdampar di suatu universitas bukan di universitas lain yang lebih “wah”. Jangan pula terlalu angkuh ketika kalian diterima di univ.impian yang luar biasa berat dan top and think that nobody in this universe can beat you! Think that you are the best and the smartest people in this blue planet. Bukan berarti saya menyuruh kalian untuk leyeh-leyeh gak berjuang ke univ unggulan, aduuuuh gak lah… kalian malah harus berjuang gila-gilaan untuk itu.

Oh please… please… please…
Jangan merendahkan harkat “pendidikan” dengan perspektif yang sempit….

Dalam Islam saja, sampai ada hadist (aduh masa’ harus gw yang ingetin):
The Prophet Muhammad (peace be upon him) said:  “The seeking of knowledge is obligatory for every Muslim.” – Hadist Al-Tirmidhi

Kenapa sih, kenapa mencari ilmu itu wajib? Kerena pengetahuan yang akan membijaksanakan kalian… membuat pola perilaku kalian tidak “kosong”

Ketika saya kuliah di IPB misalnya, lebih dari sekadar nilai… saya bertemu dengan orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia, dengan berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan kultur. Setiap orang kemudian punya cerita mereka masing-masing,punya masalah dan kompleksitas hidup mereka masing-masing. Sebagai jembatan dari masa labil ala anak SMA menjadi dewasa, level S1 lebih menjadi sebuah media yang mengajarkan bagaimana kita harus bersikap menghadapi orang dengan latar yang berbeda-beda tersebut.

Saya juga belajar mata kuliah yang lebih kompleks dibandingkan ketika SMA, menghadapi dosen dengan aneka karakter dan aneka rupa cara mengajar yang tentu lebih beragam daripada ketika SMA. Nah, disitu kita berlatih untuk mencerna berbagai informasi dari beragam cara penyampaian.

Bahkan ketika nanti kalian lanjut ke jenjang yang lebih tinggi (S2/S3 misalnya), kita bisa nangis loh liat persoalan di depan mata kita… air mata terkuras. Selfie sih dengan senyum tapi hati teriris meringis. Lalu kita sadar “Oh dalam hidup ada yang permasalahan yang kompleks buanget” lalu kalian akan belajar how to solve itu semua. Di kelas mikroekonomi misalnya, waaaah jangan tanya susahnya macam apa (pakai nihongo pula), ada equation yang puaaaaanjaaaaaang banget… dan kemudian untuk dipecahkan, rupanya equation itu harus dipecah jadi beberapa equation… lalu pecahkan satu persatu. Nilai mungkin pecah-pecah, tapi itu kemudian melatih pola pikir kalian “Wah ada hal yang rumit nih! Oh baiklah mari runut satu per satu dan pecahkan semuanya step by step.” Bukankah pendidikan semacam itu sesungguhnya lebih mendidik kita untuk jadi orang yang gak ngotot dan lebih humble?

Kita belajar sesuatu dengan lebih fokus terhadap satu permasalah. Kita dilatih untuk memilah fact and hoax dengan cara yang lebih scientific. Memilah mana yang penting untuk dianalisa lebih lanjut di sel abu-abu dan mana yang tidak.

Beberapa dari kita juga mungkin akan tinggal jauh untuk pertama kalinya dari orang tua. Kita belajar untuk bertanggung jawab, memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Belajar bertanggung jawab dengan amanah dan doa orang tua kita yang pastinya gila-gilaan menyekolahkan kalian agar kelak kalian menjadi orang yang lebih baik.

Ketika kalian memutuskan untuk menjadi MAHAsiswa, maka camkan dalam benak kalian bahwa kalian punya tanggung jawab yang MAHAbesar.
Jika mental kalian terlalu cemen untuk mengemban tanggung jawab itu, silakan mundur…

Jika kalian punya impian, jika kalian benar-benar ingin belajar sesuatu, jika kalian ingin menjadi manusia yang lebih baik… detik ini tetapkan kalian mau masuk univ apa, jurusan apa, dan bertekadlah untuk berusaha luar biasa di bidang itu. Jika kelak kalian dapat nilai yang jelek, sedih… nangis… luapkan… tapi jangan terlalu lama, segera bangkit setelah itu! Belajar! cari dimana kesalahan kalian… jangan batasi ilmu kalian sebatas nilai di transkrip.
Jika kemudian kalian lulus, dan kemudian kalian ingin mencari pekerjaan dan membahagiakan orang tua kalian… carilah… sejauh mungkin! Kalian mungkin aka gagal ratusan kali, tapi ingat orang tua kalian tidak pernah menyerah ketika menyekolahkan kalian. Sebelum kalian menyerah, ingatlah untuk selalu mencoba lagi sebelum menyerah.

Kalian hanya perlu melakukan hal terbaik untuk hal yang benar-benar kalian suka dan kalian yakini.
It is like fall in love, no matter how hard it will be… no matter how crazy it will be… you’ll never give up on it.

And NEVER LISTEN ANY NEGATIVE THINGS AROUND!
Please juga untuk para “motivator” di kampus-kampus terutama motivator wirausaha biasanya… stop talking “Bill Gates juga dulunya drop out dari sekolah” are you stupid or what? Dia drop out dari Harvard! HARVARD!!!! bukan sekolah abal-abal! Kalian tau persaingan masuk Harvard itu macam apa? Aduuuuh…. by default otak dia sudah bright ya adek-adek sekalian. Lagian apa salahnya sih kalau kalian pintar, punya track record pendidikan yang baik, lalu punya bisnis? Oh come on don’t be stupid. Memotivasi orang tuh mbok ya yang membawa hikmah… otak pas-pasan lulus kuliah aja dapet kerja susah, apalagi kalau drop out? rezeki memang di tangan Allah tapi yaaaa kan semua juga gak cuman modal bismillah lalu life goes on dengan lancar.

Tuhan dan semesta ini sudah mendukung kita untuk melakukan hal yang baik, and the ace is on your hand now. Kalian mau sukses… mau gagal…. mau cupu… mau keren… itu semua kalian yang memutuskan.
Hei kalian, jangan menyerah ya kalau kalian merasa hal yang akan kalian lalui adalah yang terbaik untuk kalian dan untuk orang-orang sekitar kalian.
Seperti motto boneka Daruma: 七転び八起き (Nana korobi yaoki):Fall seven times, stand eight times…
Dan ah, bertanggungjawablah pada Tuhan yang sudah mengizinkan untuk mengabulkan doa kalian dan doa orang-orang terdekat kalian.