Kisah Seekor Beruang: Sebuah Fabel



A life learner....Books, movies, and glorious foods lover. Have a big dreams... but wanna \\\"bigger\\\" than her dreams.  A life learner... Love books, glorious foods, and great movies. Proud to be a woman, daughter, sister, and best friend. A dreamer! I am the one who want to be bigger than my dreams. Future researcher and writer.


Beruang

Source: Wikipedia

Di sebuah hutan, terdapat seekor beruang madu betina. Dia tinggal di dekat sarang dengan seekor beruang jantan yang baik hati. Waktu berjalan, kedua beruang ini kemudian menjadi sangat dekat. Si beruang jantan sangat baik hati, begitu loyal, dia selalu membagi buah-buahan yang dia dapat kepada si beruang betina.

Suatu hari, si Beruang jantan menatap sebuah pohon yang sangat tinggi.
“Apa yang kamu lihat?” Kata si Beruang Betina tiba-tiba
“Hahaha…. lucu ya, kita ini beruang madu tapi kita malah selalu makan buah-buahan saja. Kamu lihat pohon tinggi ini, ada banyak rumah tawon yang sangat besar dan tentu banyak sekali madu di sana … hmmm rasanya aku ingin mencicipi bagaimana rasanya madu itu”
“Kalau begitu kenapa tidak mencoba?”
“Hahahaha… pohonnya terlalu tinggi… untuk apa memanjat terlalu tinggi?”
“Ya untuk mendapat madu itu, kamu menginginkannya kan? Kalau iya… maka ayo kita ambil! AKu temani ya!”
“Hahahahaha… bercanda kamu, selama ini toh kita masih hidup dengan memakan yang ada tanpa perlu repot memanjat terlalu tinggi”
“hei… jadi begitu saja? Kamu yang bilang sendiri kan kamu ingin merasakan jadi beruang madu yang sesungguhnya… lagipula apa kamu tidak mau agar keluargamu juga merasakan madu? Hei ayoooo…. aku sudah bersemangat dan penasaran dengan madu itu”
“Haaaah… sudahlah, tadi hanya menyeracau saja. Ayo kita makan buah lagi… pasti lapar kan?”

Lalu mereka pun kembali ke sarang mereka masing-masing.

Keesokannya si beruang betina bertekad jika dia yang akan mengambil madu dari pohon yang tinggi itu. Ia pun menemui si beruang jantan.
“Aku ingin memanjat pohon tinggi itu, kalau kamu tidak bisa… biar aku saja. Nanti aku bagi madunya denganmu ya. Bagaimana? adil kan! Anggap saja sebagai tanda terima kasih karena kebaikanmu selama ini”

“Hahahahaha… kenapa jadi seserius itu. Kita terbiasa mencari buah bukan memanjat pohon setinggi itu. Lagipula kita masih hidup kan dengan seperti ini?” kata si beruang jantan sambil tertawa

“Tapi kita beruang madu, Tuhan menciptakan kita sebagai beruang madu…. kita pasti bisa mendapatkan madu. Kita hanya perlu… mmmm…. sedikit mencoba mungkin. Maksudku… kita tidak akan tahu kan kalau belum mencoba?”

“Hahahaha… kamu saja yang coba sendiri, aku sudah berkali-kali memanjat pepohonan untuk mengambil buah. Untuk yang tidak terlalu tinggi saja aku masih suka terjatuh apalagi yang setinggi itu. Otak kamu dimana? Apa ini karena kamu terlalu banyak bergaul dengan beruang madu lain? Yang cuman bisa berpikiran sempit bahwa kehidupan beruang madu harus berlimang madu? begitu?”

“Aku tidak bilang begitu, tapi kamu benar… sebagai beruang madu kita belum mencicipi madu sama sekali. Bukan aku merasa tidak cukup… tapi bukankah mencoba saja bukan hal yang salah. Dan hei! Aku mau kamu tahu bagaimana rasa madu itu.”

“Ah aku paling tidak suka berdebat”

“Tapi….ah baiklah” Kata si beruang betina sedikit kecewa, “Bagaimana jika aku melihat saja pohon itu lebih dekat? Tidak apa ya? Siapa tahu rupanya si pohon itu tidak terlalu tinggi” tanya si beruang betina, namun tak ada jawaban.

Kesal dan sedikit kecewa si Beruang betina itu kemudian berlari sendirian ke arah pohon tinggi yang telah membuatnya penasaran. Dia berlari tanpa arah, sesekali menabrak tumpukan ranting kering, namun rasa penasarannya mengalahkan rasa sakit apapun yang menimpanya.

Dia lalu sampai di bawah pohon tinggi tersebut, namun betapa terkejutnya dia ketika melihat seekor beruang hitam sedang bergelantungan di pohon tersebut… mencoba menyusuri dahan demi dahan.

“Hei… beruang hitam” Sapa beruang madu betina.
“Ah yaaaa… heeeei… kau si beruang betina yang tinggal di dekat pohon buah-buahan dekat sungai kan?”

“Ah kau rupanya! Kita pernah bertemu kan…mmmm…. ah rasanya lama sekali. Sebelum keluargamu pindah ke hutan pinus di atas sana, benar kan? Si beruang hitam yang agak sombong dan menyebalkan itu”

“Hei… beraninya! Baru bertemu bilang begitu. Sini keatas… kita selesaikan secara jantan, aku tidak segan-segan loh walau kamu betina”

“Kejaaaaam… apa yang kau lakukan di atas sana? Mencari madu ya? Kau kan beruang hitam, untuk apa mencari madu?”

“Aku mencari segala-galanya di sini… madu hmmm ide bagus, akan aku coba. Apa lebih lezat dari petualangan? Tapi aku kesini untuk mencapai langit. Tahukah kamu bahwa pohon ini adalah pohon tertinggi di hutan ini”

“Ah mengapa harus jauh-jauh ke atas, kau tidak puas di bawah sini?”

“Entahlah… aku hanya ingin melihat hutan ini dari titik tertinggi di hutan ini. Aku hanya ingin melihat hal-hal yang sebelumnya belum aku lihat. Menarik bukan?”

“Hal yang tidak pernah kita lihat?”

“Iya, hal-hal yang akan mengubah cara pandang kita terhadap keseluruhan hutan ini… ayo… susul aku jika berani!”

“Tapi… mmmm… aku harus minta izin pada keluargaku dulu dan mmmm…. entahlah aku bisa atau tidak”

“Jika benar-benar ingin… maka laksanakanlah. Aku tunggu di pohon ini, pergilah dan selesaikan urusanmu terlebih dahulu. Jangan bebani hati dan pikiranmu dengan hal-hal yang membuatmu tidak fokus nantinya”

“Mmm. baik… tunggu di situ!” Si beruang madu betina lalu lari sekencang-kencangnya… menemui keluarganya lalu mengutarakan keinginannya. Keluarga sedikit cemas, namun melihat tekad dan cahaya mata si beruang betina tersebut mereka kemudian mengizinkannya.

Tidak lupa di beruang betina kemudian memberi tahukan niatnya tersebut kepada beruang madu jantan.
“Tekadku sudah bulat, aku ingin memanjat pohon tinggi itu dan mengambil madu untukku… untuk semuanya”

“Berapa kali aku bilang itu tidak perlu lagi, kenapa sih kamu begitu keras kepala?”

“Berapa kali pula kamu bilang bahwa kita beruang madu, maka kita harus mendapatkan madu itu. Kalau kamu tidak mau, biar aku yang mendapatkannya. Duduk di sini lalu lihatlah aku pasti bisa”

“Ya selamat berjuang, tidak pernah ada gunanya memang bicara dengan beruang yang tidak bisa diatur. Kamu tidak puas dengan apa yang kita miliki sekarang. Jika beruang madu hanya bisa mengambil buah dari pohon-pohon pendek memang salah? terserah kamu saja!”

“Kalau begitu bagaimana jika kamu yang memanjat, dan biarkan aku menjagamu dari bawah jika kamu khawatir akan terjatuh”

“Aku tidak mau madu itu, titik! Jika kamu mau… ambil saja sendiri. Sudah selamat tinggal… aku lelah hari ini”

Saat ini si beruang betina sedih sekali, bagaimana mungkin salah satu beruang yang paling dekat dengannya pun tidak terlalu peduli dengan apa yang akan dia lakukan. Namun dia tetap melangkah…. tekadnya untuk memanjat pohon tertinggi di hutan itu sudah bulat.

Sesampainya di bawah pohon tinggi, si beruang betina mencari-cari si beruang hitam. “Heiiiii…hitam… kau dimana?”

“Heeeei… aku disini” teriak beruang hitam, rupanya dia sudah mencapai ranting yang lebih tinggi daripada ketika mereka pertama kali bertemu.

“Waaaah… tinggi sekali. Kau meninggalkanku ya? Hei bagaimana aku naik… aku biasa memungut buah-buahan bukan memanjat pohon. Bisa kau turun dan mengajari aku?”

“Kamu yang terlalu lama tadi jadi aku memutuskan naik lebih dulu, kukira kau tidak akan kemari lagi. Apaaaa? mengajarimu memanjat… tidaaaaaak akaaaaan”

“Kejam sekali… hei, kemari ajari aku dulu. Kenapa kau begitu kejam sih? Dasar… beruang hitam.. pantas saja spesiesmu hampir punah”

“Karena aku percaya kamu bisa melakukannya sendiri. Bukankah kamu bahkan sudah mengalahkan keraguan dirimu sendiri? Ah… ketinggian pohon ini belum seberapa dibandingkan keraguan yang ada di diri kita. Sudahlah… ayo naik. Gunakan saja instingmu”

Si beruang betina mulai memeluk batang pohon tersebut, memejamkan matanya, lalu entah keajaiban apa tiba-tiba dia bisa perlahan-lahan memanjat pohon tersebut walau masih sangat perlahan.

“Hei… lihat aku bisa!”

“Apa kubilang, kamu tidak terlalu buruk. Baiklah… ayo susul aku. Lihat-lihat… aku bisa melihat banyak rumah tawon di atas sini. Aaaaah… sayang sekali jika kamu tidak kesini.”

“Iya… tunggu… aku kan masih belajar”

“Hah… payah sekali sih. Rasanya butuh ribuan tahun hingga kau bisa menyusulku”

Lalu  langkah si beruang betina terhenti, dia menatap kosong ke bawah.

“Eh, aku menyinggung ya? maaf… aku tidak sungguh-sungguh kok” Kata beruang hitam

“Tidak apa, aku sudah mulai terbiasa dengan sifatmu itu. Bukan itu…”

“Masih ragu meninggalkan yang di bawah? Kembalilah… nanti aku bawakan madu untukmu. Tapi kalau aku ingat ya”

“hahahaha… tidak… tidak… aku tidak akan mengganggu impianmu mencapai puncak pohon ini. Hanya saja…”

“Hanya saja apa?”

“Hanya saja… rupanya tidak terlalu menyenangkan ketika tidak semua orang mendukung kepergianku ini… rupanya mmm… tidak terlalu nyaman juga ketika meninggalkan semuanya padahal aku juga belum memberikan kesan yang baik pada semuanya”

“Jika begitu… maka turunlah. Aku sudah bilang kan, perjalanan kita akan sulit…. kita tidak bisa setengah-setengah”

“Aku juga sudah berjalan sejauh ini… aku tidak mau berhenti.” Kata si beruang betina. “Ah… apa kamu lihat beruang madu yang giat itu? Iyaaa itu yang sarangnya di samping sarangku! Lihat tidak?”

“Yaph, mataku tidak buruk… beruang madu yang rajin sekali. Kenapa?”

“Aku ingin dia bisa memanjat pohon ini juga, bagaimana menurutmu… dia potensial kan? Aku juga berpikir begitu.”

“Ah… kalau begitu kita ajak saja. Tapi sepertinya orangnya sedikit alot, entahlah… sepertinya begitu”

“Baginya aku yang alot. Aku tahu dia ingin mencicipi madu dari rumah tawon di pohon ini… tapi dia tidak terlalu percaya diri dengan kemampuannya”

“Hmmm… begitu.”

“Iya… sebelum aku menaiki pohon ini, kami sedikit mmmm… berselisih pendapat.”

“Mungkin dia khawatir… kau kan beruang betina aneh yang tidak pernah naik pohon hahahahahaha”

“Tidak… dia tidak khawatir.”

“Darimana kau begitu yakin, betina sok tahu!”

“Kalau dia peduli… dia akan kemari. Dia bahkan tidak menoleh sedetik pun dan mendengarkan kata-kataku tadi.”

“Aku turut prihatin, apa aku perlu turun tangan?”

“Tidak… tidak… dia tidak salah. Ketika aku menaiki pohon ini… dari satu ranting ke ranting lainnya… aku merasa bahwa aku memang benar-benar mengingkan ini. Tidak masalah melihat kau dari belakang karena langkahku yang masih pelan, tapi di setiap ranting aku menemukan pengalaman baru dan rupanya aku senang melakukan ini. Karena senang aku melakukannya terus… dengan bersungguh-sungguh. Aku tidak peduli ketika jari-jariku tertusuk ranting-ranting kering, atau aku terpeleset lumut dan air hujan… aku menyukainya… maka aku terus melakukan ini”

“Aku senang kau sudah bisa mengambil keputusan, lalu si Beruang madu itu? tidak apa?”

“Satu-satunya penyesalanku adalah… aku mungkin terlalu keras padanya tadi. Jika dia tidak kesini… berusaha mencoba meraba tiap permukaan pohon ini… mungkin memang dia benar-benar tidak ingin melakukan ini. Melihatnya begitu giat di bawah sana… mungkin memang dia bahagia di sana. Kenapa aku malah menekannya… pilihan semua beruang toh berbeda-beda.”

Beruang hitam lalu tersenyum tipis, “Jadi masih mau lanjut menuju puncak pohon ini? Yakin tidak akan mundur? Aku sudah melihatmu terengah-engah loh, belum terlambat untuk menyerah”

“Ya Tuhan… apakah ada ranting besar untuk menutup mulutmu itu agar berhenti sombong sebentar saja?”

“Hahahahaha… ayo aku perlambat jalanku, aaaaah… masih butuh 1500 abad sepertinya hingga kau menyusulku”

“Hei, jangan meremehkan aku… beberapa ranting lagi akan aku lalui lalu menyusulmu. Jangan besar kepala”

“Kau tahu? aku beruang yang menyebalkan loh… benar tidak akan turun dulu?”

“Tidak… aku kan sudah bilang aku sudah terlanjur sejauh ini. Aku akan buktikan pada semuanya bahwa aku akan menjadi beruang madu yang hebat. Aku juga akan membawa madu yang banyaaaaak sekali ke bawah nanti, tentu satu buah untuk si beruang madu keras kepala itu hahahaha. Sementara ini, aku rasanya sudah cukup siap bertualang dengan beruang menyebalkan berwarna hitam di atasku ini. Ah iya… aku juga akan menjadi beruang yang lebih baik darimu… hahahahahahhaha”

“Ya ampuuuun… banyak bicara sekali. Sampai kapan ya kau akan melihat bokongku terus menerus dari bawah sana hahahaha. Hah sudah ayoooo… kita sudah kehabisan banyak waktu”

“Awas saja… akan aku cari ranting panjang untuk menjitakmu nanti hahahahaha….”

Lalu si beruang madu betina pun memutuskan untuk melanjutkan petualangannya mengumpulkan madu dan mencapai puncak pohon tersebut untuk melihat keindahan seantero hutan bersama dengan si beruang hitam. Petualangan mereka semua terus berlanjut dan dikarenakan tingginya pohon tersebut, belum ada yang mengetahui bagaimana akhir kisah petualangan mereka *errrr endingnya gak banget*

——————————-

Hiyaaaaa…. ahahhahaa… baru kali ini bikin fabel :p semoga gak jelek-jelek banget hahahahahhaha

 

Comments

Love is stupid? No… stupid is yours -.- :sebuah catatan penuh tanda tanya
What we should know about climate change ^^b

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: