Filosofi Soto dan Kebhinekaan Indonesia



A life learner....Books, movies, and glorious foods lover. Have a big dreams... but wanna \\\"bigger\\\" than her dreams.  A life learner... Love books, glorious foods, and great movies. Proud to be a woman, daughter, sister, and best friend. A dreamer! I am the one who want to be bigger than my dreams. Future researcher and writer.


Jadi begini ya saudara-saudara, jika pemahaman kalian misalnya tidak mendalam terhadap Pancasila…. jika kalian gak jago-jago banget politik…. jika kalian too lazy for difficult topic, daripada pusing dan makin gila dan kelihatan (sorry) sotoy dan antagonis, mari kita lakukan hal yang menyenangkan bernama: MAKAN. Ya! Makan… siapa tidak happy dengan makanan, dan menu kali ini: SOTO.

 

Image and video hosting by TinyPic

Sumber gambar: penabiru.com

Saya percaya sahabat-sahabat saya yang pecinta makanan akan melakukan protes luar biasa dan bilang “Ini penistaan pada makanan,Mon! Bagaimana mungkin lo bisa mencampur aduk makanan dengan masalah konstelasi politik” habis gimana lagi? Memang dijelaskan secara teoritis mempan? Toh tidak, malah makin lempar-lemparan batu. Ya mending kita ngomongin makanan lah.

Kalian tahu ada berapa jenis soto di Indonesia? Saya pun tidak tahu, tapi paling tidak kita bisa meyakini bahwa nyaris setiap daerah punya soto mereka masing-masing. Di Jawa Barat saja sudah ada soto mie Bogor dan soto Bandung. Walau sama-sama dari Jawa barat, toh rasa pun beda. Tak jauh dari Bogor, ada juga soto Betawi. Walau hanya butuh 2 jam naik kereta dari Bogor ke Jakarta, toh soto Bogor dengan Soto Betawi itu cita rasanya berbeda sekali.

Belum lagi ada soto lamongan, soto madura, soto medan, coto makassar. Ya ampun! Soto… mereka kan enak banget ya.
Tapi kalian tahu gak, kalau soto sendiri punya filosofi tersendiri. Tahukah?
Ada satu kesamaan dari seluruh soto di nusantara, dan itu adalah: Kebhinekaan a.k.a persatuan bangsa Indonesia.
“Hah…hah..hah…wow…wow…wow… tunggu dulu, Mon… masa’ segitunya sih?”
Iya… itulah mengapa prinsip dasar pembuatan soto adalah mixed every best ingredients. Soto, bukan hanya simbol kekayaan sumber daya alam suatu wilayah, tapi juga keanekaragaman kultur dan budaya di daerah yang bersangkutan.

Soto betawi kuah susu misalnya, tau dong soto betawi yang pakai susu dibandingkan santan. Konon itu karena pengaruh Belanda yang pernah membuat markas di Batavia. Masih dari Betawi, soto tangkar dulunya itu pakai iga dan tulang (sekarang banyak yang lebih sering ganti jadi daging sih daripada repot dengan tulang belulang), konon soto tangkar itu sendiri tercipta dari kreativitas masyarakat betawi di era VOC yang susah membeli daging jadi mereka mengumpulkan remah-remah tulang dan iga dari pasar.

Soto Bandung, kenapa sih kok pakai lobak? Karena Bandung itu dataran tinggi, lobak tumbuh dengan subur, cepat, dan lama-lama stok lobak pun menumpuk. Daripada pusing kan, nah… dengan kreativitas warga Bandung yang memang tidak perlu diragukan lagi, dibuatlah soto Bandung dengan aneka khas-nya sendiri.

Tidak hanya sampai situ, soto bukan hanya bicara ciri khas kewilayahan… tapi dengan sangat terbuka membuka pintu terhadap pengaruh-pengaruh positif dari luar Indonesia. Pernah dong makan soto yang ada bihunnya? Atau at least makan soto bogor dengan risoles. Nah! Nah! Bihun itu… asalnya darimana? Cina, gaes!

Pernah juga dong makan soto yang rempahnya nendang banget, pake kayu manis dsb. Lengkap dengan taburan bawang goreng. Itu mirip makanan mana sih? Yak! India… ingredient-nya nyerempet-nyerempet bumbu kari ala India.

Ada juga yang pakai perpaduan minyak samin, nyam…nyam…nyam… itu dari mana sih? Itu jelas pengaruh Arab!

Betapa luar biasanya soto karena semangkuk soto bisa dengan akur bersatu-padu, meleburkan seluruh pengaruh budaya, sampai akhirnya menonjolkan cita rasa khasnya tersendiri. Sampai kapanpun kita tetap bisa membedakan cita rasa soto setiap daerah…

Kalau mau bodoh-bodohan lagi nih, soto pun tidak pernah memaksa soto lainnya untuk meniru cita rasa mereka. Tidak ada soto yang saling berantem masalah copyright. Toh soto betawi yang punyanya ibukota tidak pernah mendikte soto lainnya untuk menjadikan cita rasanya sebagai patokan rasa soto.

Kita patut bangga pada soto, soto nusantara tidak bermasalah sama sekali.
Yang bermasalah kini adalah para penikmat soto: Kita!

Saya heran loh, kok bisa-bisanya masih adaaaaaaaaa sajaaaaaa diantara kita yang ribut-ribut lebih berkonsentrasi pada perpedaan.

“Ih dia kan China”
“Weeeeh… Arab sih gitu”
“Dia nonis sih”
bla… bla…bla…. bahkan yang “sama” aja sama “Ih ukhti yang itu kan masih belum bener Islamnya” DAMN!

Saya tahu sih pelajaran Pancasila dihapuskan bertahun-tahun yang lalu, tapi kan menjadi toleran tidak perlu jadi pintar-pintar banget ya… hanya perlu punya nurani.
Kalau teman dan tetangga kamu beda dengan kamu, then what’s the problem? Dulu… sewaktu saya masih SD, salah satu sahabat saya adalah seorang etnis Tioghoa. Keyakinan beda… suku beda… ras beda… warna kulit apa lagi kan langsung kalah flawless. Tapi no problem tuh, kadang saya masih dapat dodol maha enak handmade yang sudah dipastikan ingredientnya pasti aman dikonsumsi muslim. Ketika lebaran, kami pun makan masakan lebaran rame-rame tuh. Kami belajar bareng, main bersama, ya aman-aman aja.

Bagaimana kita bisa maju, bisa merangsek menghadapi dunia global, kalau pemikiran kita saja sempit. Iya sempit! Terbatasi stigma-stigma tentang perbedaan satu sama lain. Hello! Sehat? Udah minum Aq*a?

Jadi denger, mau kalian etnis apapun, ras apapun, mau NU, Muhammadiyah, PKS, bahkan HTI… I DON’T CARE!
Sok ajalah kalian mau berdiskusi dengan saya. Mau menyampaikan pandangan kalian kepada saya, menyampaikan bahwa sight kalian tuh yang paling wah! Well, go ahead! Why not? Kan ada kebebasan berbicara dan mengungkapkan pendapat.
Tapi saya sudah nyaman dengan diri saya hari ini, dengan keyakinan saya, dengan kebenaran-kebenaran yang sudah saya temukan sendiri.
Saya pikir orang lain pun sependapat dengan saya.
Maka jangan paksakan pandangan kalian pada orang lain!

Jika menurut kalian pakai jilbab lebar dan burqa itu yang benar, tidak perlu ngotot menjudge yang masih pakai jilbab seadanya atau jilbabnya penuh tutorial dan memaksa mereka menjadi seperti kalian. Yang jilbabnya masih standar dan yang modis, gak usah lambe nyinyir ke yang berjilbab lebar. 

Jika kalian Nasrani maka tidak perlu jor-jor-an memaksa saudara yang Muslim ganti agama, begitu pula sebaliknya.

Kalau kalian pernah kecopetan sama ibu-ibu berjilbab, maka jangan pukul rata semua yang berjilbab itu copet. Yang paling benar yang tidak berjilbab. Heloow! 

Jika kalian berpikir Pancasila itu omong kosong, ya itu sih ente aja kali… kami sih oke-oke aja tuh. Maka tidak perlu mendoktrin orang lain untuk ikut-ikutan perspektif ente. Urusan nanti ente (yang kalau misalnya benar) masuk surga sendiri, ya udah itu kan pemahaman ente… ane sih berpikir jalan ke surga itu banyak dan gak cuman nurutin ente.

Jika kalian liat Kim Jong Un kok keliatan nyebelin, terus semua yang sipit jadi terlihat seperti doi. Dan kita langsung mikir “Wah pasti jahat nih”

dsb
dsb
dsb
Hingga akhirnya kalian mulai membatasi lingkup pergaulan kalian.
Hingga akhirnya kalian membatasi pemikiran kalian sendiri.
Hingga akhirnya kita, bareng-bareng menjadi bangsa tertinggal karena kebanyakan “suudzan”, kebanyakan fokus pada hal-hal yang tidak krusial. Terlalu banyak menekankan pada perbedaan.
yah met lamet aja deh.

Kok usil banget sih ngurus hal yang kayak ginian? Paham gak bahwa kita diciptakan Tuhan kan gak bisa milih mau lahir dimana, keluarga apa, suku apa. Paham juga gak kalau semua orang itu punya proses pendewasaan dan pencarian jati diri mereka masing-masing, maka yang perlu kita lakukan itu cuman ngasih saran jika dia butuh (klo doi gak minta mah gak usah sok iye!) dan senyum. Finish… life even getting easier.
Lagian kan kita semua udah sama-sama gede, masa bodoh-bodoh banget sih sampai tidak bisa berkontemplasi mana yang terbaik untuk hidup kita dan orang-orang di sekitar kita?

Di tempat saya melakukan riset saya sekarang, saya punya seorang teman yang sempat bilang “Di Indonesia banyak suku bangsanya ya? Seru ya rich of diversity. Kelak saya mau ajak anak-anak saya untuk jalan-jalan ke sana, mungkin kalau bisa tinggal di sana supaya anak-anak saya bisa belajar masalah keragaman.” Mbak ini berasal dari Cina.

Jujur, saya sih bangga… Indonesia di mata negara lain itu seindah itu ya. Saya bangga banget loh promoting everything tentang Indonesia. 

Tapi, lihat kondisi sekarang kok saya malah ragu ya ajak teman saya ke Indonesia.

Lihat kondisi negeri ini yang malah saling gontok-gontokan sendiri, rasanya saya malu… bahkan pada semangkok soto.
Apa susahnya sih work together seperti soto… saling bekerja sama dan saling melengkapi untuk menciptakan cita rasa yang khas. Mungkin cita rasa khas itu yang selama ini kita kenal dengan istilah: Kebhinekaan.

Udahlah jangan banyak misuh-misuh, makan aja! :p Jangan mau diadu domba, domba itu enaknya dipiara, dibarbeque, disop, digule…. bukan diadu. 

Comments

Meratapi Literasi Indonesia: Karena Rakyat Indonesia berhak Mendapat Buku-Buku yang Lebih Baik
Fenomena “Afi” dan minimnya budaya literasi Indonesia 

Leave a Reply

%d bloggers like this: