Kata maaf yang tidak akan pernah cukup…


Saya ingat, beberapa tahun yang lalu, ketika Ayah saya masih ada. Saya pernah lari tunggang langgang ke luar rumah ketika akan di tes mengaji. Sayangnya saya kurang beruntung, saya tertangkap basah pagi itu. Saya harus membaca Quran surat Ar-Rahman dengan tartil, namun apa daya saya selalu melakukan kesalahan…. saya haru mengulang membaca ayat 1-13 berkali-kali hingga saking lelahnya saya menangis histeris lalu berteriak “Ayah, saya capek… kenapa sih… biarin aja mau 6 harakat… 4 harakat… 2 harakat… yang penting kan saya tau itu panjang atau gak, ayah kejaaaaaaam” tak pernah saya duga bahwa beberapa bulan kemudian pria yang mengajari saya mengaji dengan cukup keras tersebut kini tidak akan pernah mengajari anak-anaknya mengaji lagi. Parahnya, saya belum sempat mengatakan maaf atas kesalahan saya tersebut.

Saya ingat, berkali-kali saya memarahi Mama saya, “Mama… kalau di ekonomi ya, inflasi itu udah tinggi, Mama hemat dong…ngapain sih beli macem-macem buat saya” bak ekonom paling hebat di muka bumi saya menceremahi Mama saya. Lalu saya menyadari, selama ini, seluruh uang yang saya berikan kepada mama saya, seluruh uang yang mama saya miliki, semuanya untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Hingga kini Beliau yang sudah semakin tua dan sudah tidak sesehat dulu lagi, masih berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya dengan kualitas terbaik. Dan saya ingat, saya masih sering membantah perintahnya, bahkan pernah beberapa kali pura-pura tidur ketika Beliau minta tangannya diberi pijatan kecil.

Saya ingat, saya pernah memarahi adik saya habis-habisnya ketika ulangannya mendapat nilai yang kurang memuaskan “Kamu itu, belajar yang benar…. buku mahal-mahal dijadiin apa? bantal? gak ada di buku, ada kan internet. Mau jadi apa kamu kalau males begitu” tanpa saya sadari saya hanya bisa mengomel dan mengomel… saya bahkan tidak mengajarinya secara jelas dan komprehensif tentang stoikiometri dan trigonometri. Saya bahkan mungkin tidak bisa juga mengerjakan soal ujiannya yang semakin lama semakin sulit dan bahkan lebih sulit dibandingkan soal di jaman saya bersekolah dulu.

Saya ingat, pernah suatu hari,lama sekali… seorang  teman yang paling baik hati meng-sms saya “Mon, lu dimana, gw udah nunggu di perpus” lalu 2 jam kemudian saya membalas smsnya “Hah? di perpus? Ih gw di rumah… ini baru bangun tidur. Lu ngapain? masih di sana?” TING sms balasan datang “Iya, masih. Oh dikirain jadi ke perpus” beberapa tahun kemudian… kekejaman saya masih sama “Aduuh, lu itu harus gini loh…. harusnya gitu loh… betah stagnan gini-gini aja?” dan senyumnya masih sama seperti dulu. Tanpa saya ketahui, dia mungkin berusaha keras mewujudkan apa yang saya katakan padanya, berjuang untuk impian-impiannya, masa depannya, keluarganya, semuanya. Saya ingat, dia masih selalu ada untuk saya bahkan ketika saya ada untuk orang lain.

Saya ingat, keangkuhan saya membatasi saya dengan pergaulan yang lebih luas. “Ih… males ah gaul sama si A… si B… si C… yang diomongin cuman masalah fashion, high heels, pacarnya gimana, emangnya urusan gw tau segala macam tentang doi termasuk foto selfienya sama pacarnya dan kapan doi putus”, dan saya ingat beberapa dari mereka yang saya jauhi tersebut kemudian mendekat pada saya, lalu menceritakan segala masalah mereka “Mon, gw percaya… lu kan orangnya logis, gw percaya sudut pandang lu yang beda dengan orang lain”, saya tidak menyangka bahwa rupanya masalah mereka lebih besar daripada yang saya kira, tidak menyangka bahwa mereka butuh banyak masukan, dan tidak menyangka bahwa mereka menghargai keberadaan dan pendapat saya.

Saya ingat, saya tidur ketika kuliah… merasa bosan dengan materi yang dibawakan oleh dosen saya. bahkan di luar kelas saya masih sempat komentar bahwa slide Beliau bikin sakit mata dan bisa membuat minus mata bertambah. Saya juga ingat sekali saya sampai tidak membaca buku teks di rumah karena saya sudah putus asa dengan pengajaran dosen saya yang saya pikir membuat materi semakin sulit. Siapa sangka, materi-materi yang saya abaikan itu kemudian menjadi materi-materi krusial yang harus saya kuasai di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Saya ingat ketika bos saya mengirim sms di hari libur, saya membiarkannya berdering… lalu tidak mengangkatnya… lalu saya tinggal tidur. Saya tidak peduli pada saat yang sama Beliau sedang galau habis-habisan dengan data yang sudah saya olah… saya tidak peduli bahwa pada saat itu yang Beliau butuhkan hanya diingatkan bahwa e-mail sudah saya kirimkan.

Saya ingat bahwa saya senantiasa melakukan kesalahan…
Saya memang tidak bisa mengingat satu per satu kesalahan dan dosa saya, tapi saya ingat bahwa dalam perjalanan hidup saya ini saya senantiasa melakukan kesalahan. Hebatnya, begitu cintanya Allah pada saya, hingga semua orang masih bersedia membantu dan menyayangi saya bahkan ketika saya melakukan kesalahan pada mereka tiap hari, tiap menit, tiap detik.
Maaf saja tidak akan pernah cukup untuk menebus segala kesalahan saya.

Saya hanya memohon izinkan saya, menjadi wanita yang lebih dewasa….
Izinkan saya dalam perjalanan panjang yang akan saya jalani bisa membuat saya menjadi wanita yang bisa membuat kalian bangga karena telah mengenal saya. Saya mungkin tidak akan pernah mengurangi segala kesalahan saya, tapi saya pasti bisa menambah hal-hal baik yang bisa membuat kalian semua bahagia.

Terima kasih.

Marissa Malahayati

——————————————————————————–

Selamat hari raya Idul Fitri..
Image and video hosting by TinyPic

ketika kesepian di tengah keramaian….


Mumpung hujan, mari ngegalau sedikit hehehe… sekaligus konferensi pers kenapa kalau ada kumpul-kumpul dengan teman lama saya jadi pendiam dan kudet banget *emmm… bukan rahasia sih, saya emang kuper :’D hahahaha hiks*

Berawal di suatu hari yang cerah, bos besar saya bercerita dengan tamunya yang dari Jepang… Beliau menceritakan sedikit tentang masa lalunya. Katanya, Beliau menikah ketika S3 itu pun sebenarnya ingin nanti-nanti aja hanya saja kemudian Beliau ngerasa semua teman-temannya sudah menikah dan taraaa setelah dipikir-pikir kok jadi sepi ya. Karena kesepian itulah akhirnya Beliau memutuskan menikah. Taraaaa the end dan happy ending.

Tapi saat dengar itu saya ketawa-ketawa, ya ampuuuuun masa sih segitunya. Masa sih sampe segalau itu dan masa sih sampe kesepian di tengah keramaian gitu. Wkwkwkwkw… oh come on, Pak.

Tapi semua berubah ketika negara api menyerang
Tapi semua berubah ketika kalian merasakan hal itu sendiri, perlahan-lahan, tapi mematikan *haish*

Ada masa ketika teman-teman lu ada di sekitar lu… ada! They totally exist and of course still become your friends, tapi lu sebagai seorang manusia yang mendadak gak nyambung dengan dunia mereka. Ah masa sih? Entahlah… mungkin saya aja sih. But let me tell you.

Saya merasa beruntung, di kantor… walau ada beberapa yang sudah berumah tangga… tapi mereka juga kebanyakan mahasiswa dan tentu kerjaan yang kami hadapi serupa. Jadi di kantor pembicaraan kami rasanya masih dalam ranah nyambung senyambung-nyambungnya. Pokoknya happy banget, suka duka semuanya bisa ditertawakan bersama.

Tapi dengan teman kuliah? Teman SMA? Dan sebelum itu…? mmmm
Ketika kalian sampai di usia seperti saya, ketika kalian dapat undangan nikahan lebih banyak dibandingkan undangan ulang tahun apalagi buka puasa bersama, kalian akan sampai pada sebuah deduksi bahwa semuanya sudah tidak sama lagi seperti dulu.

Mayoritas teman kuliah saya sudah menikah ataupun jika belum, mereka berfokus pada karir mereka yang menurut saya sudah bagus-bagus. Sungguh saya bangga pada mereka… tapi ketika harus berkumpul, saya mulai merasa saya tidak terlalu paham dengan apa yang mereka bicarakan.

Saya hanya bisa tersenyum simpul ketika para banker berkumpul, mebicarakan karir mereka, target mereka, sistem bekerja di kantor mereka masing-masing, masalah keinginan resign dan kantor lain yang akan menjadi tujuan mereka selanjutnya.

Saya hanya bisa mengerutkan dahi, ketika beberapa dari mereka sudah mulai membicarakan cicilan rumah, tabungan masa depan, pernikahan, dan lain sebagainya.

Saya hanya bisa turut bahagia ketika teman-teman saya yang sedang hamil atau yang sudah memiliki anak saling sapa dan bercengkrama di baik di dunia nyata maupun di dunia maya… ketika mereka membicarakan tentang pengalaman morning sick mereka, ngidam, test pack, kontraksi, atau perkembangan anak-anak mereka dari bulan ke bulan… dari hari ke hari.

Saya bahagia mendengar itu semua, namun sayangnya saya tidak bisa masuk dalam ruang lingkup pembicaraan mereka karena saya… saya… saya tidak paham apa-apa kecuali sebagian kecil.

Saya harus bicara apa ya? Climate change? Aduh emon -.- pasti saat saya mengajukan topik pembicaraan itu semuanya langsung gelar kasur terus tidur.

Aduuuh… paham gak sih perasaan gw? huhuhuhuu….. *peluk tembok, tembok meluk balik*

Percayalah… jokes dan pembicaraan antara orang yang sudah berkeluarga, sudah fokus pada karir, dan yang sedang sekolah itu bedaaaaaa banget… sehingga memang harus menjadi bunglon jika ingin berbaur dengan semuanya. Masalahnya saya buruk sekali masalah “membunglon” seperti itu. Ah poor you emon.

Bayangkan! Di saat orang heboh dengan ruang dan waktu mereka sendiri, saya masih heboh dengan gimana ngurus visa, gimana nanti hidup saya di negeri antah berantah, gimana memahami satu bundel tebel tentang Computer general equilibrium, variabel-variabel apa yang kelak akan masuk ke dalam penelitian saya, apa kabar kucing-kucing saya di rumah…. dsb dsb…

Bayangkan! Teman-teman saya sudah berpikir nanti nikah konsepnya mau apa…. dekor kamar anaknya mau gimana…. dan saya? Saya masih kayak bocah aja, mengurus kucing-kucing saya yang sedang naksir kucing angora tetangga, dan saat ini sedang membayangkan bagaimana anak hasil perkawinan kucing saya dengan kucing tetangga.

Luar biasa, emon….

Tapi itu bukan masalah besar, setidaknya saya berpikir demikian.
Tapi ketika sahabat-sahabat saya satu per satu mulai menapaki kehidupannya sendiri, kesepian itu semakin terasa.

Ketika salah satu sahabat saya saat SMA menikah, saya mulai berpikir ya ampuuuun dulu kan kami teman segeng yang sama-sama jomblo kekal semua, dan waaaw she finally get married. Saya terharu banget 😀

Ketika salah seorang teman baik saya memberika surat undangan “Mon, dateng ya… nikahan gw sehabis lebaran ini”, waaah banyak juga yang ngasih undangan sehabis lebaran…. lalu saya bertanya lagi kenapa kok cepet banget nikahnya dan gak bilang-bilang sejak awal “Gw juga nemu dia belum lama ini, Mon… sepertinya cocok, sudahlah gw nikah aja biar ada yang ngurus gw setiap kali pulang kerja” ah hopefully…. that’s good for you.

Bahkan ketika lu melihat salah satu sahabat terbaik lu sepertinya lebih bahagia dan lebih berbinar-binar ketika dia bergaul dengan teman-teman sebaya yang profesinya sejalan dengan dia.

Saat itu kalian akan sadar, akan tiba masa ketika teman-teman terdekat kalian saat ini akan fokus pada kehidupannya masing-masing. Mereka akan memiliki pekerjaan masing-masing, keluarga masing-masing, dsb…. dsb….mereka akan begitu sibukd engan lingkup kehidupan mereka sendiri.

Hah…. well, that escalated quickly.
Sedih? Gak terlalu sih… sedihnya dikit karena ngerasa baru sadar sekarang.
Perjalanan dan waktu toh akan mempertemukan kita dengan orang-orang baru, teman-teman baru, kerabat-kerabat baru… dan saya percaya itu.

Saya hanya merasa sedikit menyesal karena kuper, saya tidak banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman saya dulu 🙁 actually I love them, walau keliatannya saya galak dan jutek…. gendut pula…. jadi keliatan serem, but I do love them and happy for them for everything they achieve.

Ah rupanya begini kesepian di tengah keramaian :’D

Yang galak yang meracau: catatan wanita cerewet tentang kampanye di social media


Mungkin seharusnya saya ketik topik ini jauuuuuuuuh jauuuuuuuh hari. Tapi ah biarlah, saya khawatir pas saya nulis lagi agak ekstrim tiba-tiba rame, dan saya dilemparin puluhan botol air mineral. Aw…Aw…Aw… ogah ah.

Sungguh, jika kalian warga negara Indonesia atau orang Indonesia asli, mungkin kehidupan kalian akan jauh lebih baik tanpa keberadaan social media. Bagaimana tidak, menjelang pemilu presiden yang bertepatan dengan semifinal piala dunia ini everybody goin’ crazy! Kasihan otak saya dan juga rambut saya yang sudah mulai rontok dan kini mulai tumbuh uban walau paling cuman 1-2 lembar, liat TV susah cari yang netral, beralih ke sosial media wuaduuuuuhhh lebih rame lagi…..kalau dunia maya mendadak menjelma jadi dunia nyata, pasti isinya dua pihak yang lagi saling lempar. Ada yang lempar tomat busuk, piring, sandal, panci, semuanya ada! Alhasil kalau mau lewat, secara apes yang terencana, benjol tidak akan terlelakan menimpa kepala kita. Begitu pula dengan saya. Saya mungkin orang yang sebenarnya paling benci dengan kampanye membabi buta di media apapun. Kampanye itu dibutuhkan, JELAS! Tapi kalau sampai memecah negeri yang awalnya adem ayem gemah ripah lohjinawi ini menjadi dua kelompok yang saling tanduk menanduk, ahahaha… sorry deh bray.

Saya kecewa ketika ada dosen yang malah lebih berfokus memaparkan kelebihan-kelebihan salah satu capres daripada memerhatikan mahasiswa-mahasiswa mereka
Saya kecewa ketika ratusan pemuda yang konon berpotensi memiliki jutaan gagasan dan ide baru yang bisa digunakan untuk membangun bangsa, bukannya sibuk membuat inovasi-inovasi baru atau heboh berjuang dalam karir dan ilmu pengetahuan, malah sibuk perang badar di social media.
DSB
DSB
DSB

Saya terkekeh-kekeh ketika di social media, orang-orang yang sama jengkelnya dengan saya sampai menulis: Pekerjaan sia-sia: menasehati para pendukung dan simpatisan capres.
Setujuuuuu! Ada juga yang senantiasa komat-kamit meminta agar 9 Juli segera berlalu, walau mungkin banyak yang sedih juga karena itu berarti salah satu antara Jerman atau Brazil harus pulkam dari piala dunia #lohkok.

Tapi ini blog saya, rugi kalau saya gak marah-marah dan mengeluarkan semua kejengkelan saya di sini.
Hei kalian para simpatisan capres dan cawapres, jika kalian mau kampanye… setidaknya jadilah orang yang memiliki pemahaman dan tata krama yang baik terlebih dahulu. Saya tipe orang yang keras kepala, semakin saya ditentang… saya semakin galak -.- jadi permisi, sekarang giliran kalian dengar saya.

Jika kalian suka membaca hal-hal tentang sufi atau yang nyerempet-nyerempet dengan itu lah, kalian mungkin kenal atau pernah dengan nama Emha Ainun Najib, saya hapal sekali dengan Beliau karena ayah saya punya puluhan buku tulisan Beliau. Dalam salah satu sarasehan dengan orang-orang di pondok pesantren yang kebetulan pernah diliput TV, Emha pernah berkata yang kira-kira seingat saya “Apa pentingnya orang-orang kok tanya saya ini masuk partai mana, ikut mahzab mana,  lha…saya bingung jawabnya. Saya mencoba berkali-kali meminta wangsit pada Gusti Allah saya harus pilih yang mana, tapi setelah dipikir-pikir ya ndak ada gunanya…. memangnya pas masuk surga Malaikat dan Gusti Allah tanya saya ikut politik dan mahzab apa, terus pintu masuk surganya akan beda gitu? Ndak tha” yah kira-kira begitu lah…

WAINI! Yak… ini dia. Hei kalian simpatisan yang udah totally lose your mind. Memangnya dengan membabi buta memberikan dukungan kepada salah satu capres yang kalian idolakan kalian akan masuk pintu surga yang berbeda dengan simpatisan capres yang lain? Memangnya nanti di akhirat sana, malaikat iseng menanyakan pas pemilu 2014 kalian pilih 1 atau pilih 2? Memangnya dengan kampanye dengan semangat 45 di social media tanpa henti, catatan amal kalian mendadak langsung berat dan siap angkat koper ke surga. Oh come on~~~~ gak gitu keleeeeuuuuz. Justru mungkin Allah lagi jengkel sama Indonesia “Ih… ini apa-apain sih hamba-Ku bukannya ngaji dan berbuat baik pas bulan ramadhan, malah berantem dan sibuk kampanye gak jelas, awas kalian semua….” Untung Allah baik kan, kalau gak? atau kemudian Allah makin jengkel? Oh sorry saya sih gak mau ngebayangin deh. Tapi hei manusia… selama kalian masih jadi makhluk Tuhan, maka bisakah kalian sopan sedikit kepada Tuhan dengan cara berbuat baik dan sebaik mungkin dalam kehidupan?

Saya juga jengah, karena semua orang kemudian mendadak menjadi komentator, syukur Alhamdulillah kalau komentarnya sesuai dengan sisi keilmuan yang mereka miliki masing-masing, lha ini kadang asal ada yang kopipas artikel2 di internet, asal cablak, atau kalau udah gak ada ide mau kandidatnya bener atau salah… huwaaaaaaa tetap dipuja puji. Lagi-lagi, sia-sia menasehati para simpatisan capres dan cawapres.

Berbulan-bulan, negeri ini menjalani hari-hari yang useless hanya karena terlalu banyak orang yang lebih sibuk mengurusi masalah copras-copres ini. Kenapa gak ada yang mikir, bagaimana cara membuat spanduk dan baliho dengan bahan yang degradable setelah 30 hari, jadi kalau masa kampanye selesai kan si baliho2 itu bisa luruh sendiri, atau mungkin bagaimana menciptakan suatu sistem intensifikasi dan mekanisasi pertanian yang aduhai sehingga bisa mengatasi masalah keterbatasan lahan pertanian di Indonesia, kalau udah ada yang punya konsep bagus kayak gini kan siapapun yang jadi presidennya kalian bisa ngasih gagasan itu DAN HEIIIII… itu jauh lebih berguna dan membantu. Atau bisa juga kalian malah mikirin bisnis yang baru, yang lebih tahan inflasi karena pas kalian memperhatikan Indonesia rupanya fluktuasi inflasinya luar biasa, capres yang kepilih sih siapa aja tapi at least kalian jadi udah punya bisnis yang oke syukur-syukur bisa membuka lapangan pekerjaan, itu lebih memecahkan masalah kan?

Lalu… manusia-manusia di Indonesia malah banyak yang hanya asik berkampanye ria di socmed, dan taraaaaaaa…. Indonesia pun tetap gitu-gitu aja, karena effort untuk memajukan negeri ini cuman segitu-gitu aja. Wah Mon, lu su’udzon banget! Mungkin, tapi coba berikan saya bukti bahwa masyarakat Indonesia sekarang, saat ini, detik ini, sedang bersemangat membangun negeri ini dengan cara yang produktif. Kalau saya hanya diberikan screenshoot social media yang penuh kampanye baik white, black, atau grey campaign hahahaha itu sih saya mau memuji juga gak, apalagi terkesan?

Saya juga benci ketika yang berkampanye malah saling menjelek-jelekan, siapapun yang terpilih nanti dia akan memimpin kita semua, dan lu mau menjelek-jelekan orang yang akan memimpin bangsa ini? Gimana kelak ketika pemimpin itu maju dia mau peduli sama Anda-Anda… sama kita semua… kalau saat ini dia melihat calon-calon rakyatnya juga banyak yang ngejelek-jelekin dia. Ya mungkin pola pikir pemimpin sejati gak sedangkal itu sih, tapiiiii…. pemimpin juga manusia, kawan! Mereka juga bisa mengkel, bisa kesel, bisa BT, bisa sakit hati, bisa! Selama kalian masih menjadi manusia dan masih memiliki sisi manusiawi, maka saya mohon dengan sangat mari memperlakukan manusia selayaknya manusia. Kalaupun gak mikir kayak gitu, setidaknya eling-eling deh kita sebagai manusia ini Tuhan ciptakan baik-baik punya akal dan pikiran untuk menjaga bumi beserta isinya dengan baik, termasuk menjaga hubungan baik antara sesama manusia.

Saya tidak melarang kampanye,
tidak melarang kalian memiliki pandangan politik,
tapi mbok ya yang agak dewasa sedikit gitu loh cara berpikirnya.

bagi kalian yang masih khusyu’ berkampanye, ini wejangan terakhir saya. Kalian jangan egois dan jangan pernah menganggap semua orang bodoh dan begitu tolol sehingga harus kalian cekoki hal-hal yang itu-itu saja setiap saat. Semua orang sudah memiliki cukup informasi dan beri mereka ruang untuk berpikir secara jernih dan objektif. Pun jika masih ada yang swing voters, biarlah ini menjadi salah satu fase mereka untuk semakin dewasa dan bijaksana… biarkan mereka mencari jalan mereka sendiri untuk menentukan pilihan, mungkin dengan shalat istikharah… mungkin dengan cap cip cup…. mungkin dengan liat mana yang paling ganteng… mungkin liat mana yang bajunya paling oke… senyumnya paling lebar… loh biarkan saja, itu fase dimana semua orang, dimana rakyat Indonesia, sedang dididik untuk semakin dewasa dalam memecahkan masalah dan menentukan pilihan.

tapi, Mon… masa’ pemilu buat coba-coba.
Okelah! terserah! Tapi jangan coba-coba merusak mindset rakyat di negeri saya yang saya cintai ini dengan kampanye-kampanye tidak bermutu dari Anda.

Saya ngomel-ngomel terus ya, hahaha iya maklum lah jomblo #eh #malahcurhat

 

Untuk adikku… Selamat ulang tahun, Nak…


Dear adikku…Tahukah kamu 16 tahun yang lalu, di sebuah desa di Bogor, orang-orang masih terbiasa dibangunkan oleh kokok ayam yang bersahut-sahutan dengan adzan subuh.
Saat itu, anak-anak ayam disimpan pada kandang kecil yang diberi lampu bohlam sebagai penghangatnya.
Saat itu kamu masih sangat kecil, mungkin kamu tidak ingat. Tapi kita pernah memiliki banyak sekali anak ayam dalam jumlah yang cukup banyak.
Saat itu, mukena kakak masihlah mukena ukuran kecil berwarna putih dengan bordir hijau.
Kita juga punya pohon singkong dan pohon beringin kecil di depan rumah kita.
Saat itu juga, tepat 16 tahun yang lalu, ketika kamu lahir ke muka bumi ini, piala dunia juga sedang berlangsung. Jika kakak tidak salah ingat, Jerman sedang berjuang melawan Kroasia saat itu… kakak tidak sempat menonton seluruh pertandingan seperti apa yang kita lakukan sekarang, saat itu kakak sedang komat kamit berdoa agar Mama dan kamu selamat, dan dengan penuh tanda tanya terkadang mengintip ke ruang bersalin.
16 tahun yang lalu, kakak resmi menjadi seorang kakak.

Lalu waktu berjalan, dan sungguh jalanmu tidak semudah yang siapapun pikirkan.
Ketika kamu harus ditinggalkan sosok ayah ketika masih sangat kecil
Ketika kita, kakak dan kamu masih sering bertengkar karena berbagai alasan kecil yang ketika kita ingat lagi kini kita pasti akan menertawakan diri sendiri dan ingat betapa bodohnya kita.
Ketika kamu semakin besar dan mengecap sistem pendidikan yang senantiasa berbeda setiap tahun
Ketika mama kita sakit dan kakak juga belum menjadi kakak yang cukup kompeten dalam menghadapi berbagai masalah.
Ketika kamu sempat menjadi atlet dan harus menghadapi lawan yang terkadang adalah kawanmu sendiri.
Ketika semua itu bisa kamu jalani,
Ketika kakak menyadari bahwa kamu sudah tumbuh menjadi pria yang semakin lama semakin tangguh.

Adikku sayang, tiada hidup yang mudah
Semakin bertambah usia kita, semakin bertambah pula masalah kita, pada saat yang sama bertambah pula tanggung jawab kita.
Ketika kelak kamu merasa lelah dan ingin menyerah,
kembalilah mengingat seberapa jauh kamu sudah melangkah dan berjuang
kembalilah mengingat seberapa besar kami menyayangi dirimu.
Kita sebagai manusia, terlalu berharga untuk menyerah…

Selamat ulang tahun adikku…
Jadilah pria yang baik dan semakin baik

-Kakak-