Pulih: Karena trauma itu ada dan nyata



A life learner....Books, movies, and glorious foods lover. Have a big dreams... but wanna \\\"bigger\\\" than her dreams.  A life learner... Love books, glorious foods, and great movies. Proud to be a woman, daughter, sister, and best friend. A dreamer! I am the one who want to be bigger than my dreams. Future researcher and writer.


Setelah sekian lama saya membiarkan blog dan podcast berdebu, saya kembali.
Beberapa minggu kebelakang, saya memang sedang tidak karuan, mentally.

Jika kalian melihat saya, orang yang sangat ceria, nothing to lose, selalu ketawa, menikmati hidup…. itu memang saya. Tapi di balik itu semua, saya juga manusia biasa. Punya masalah, punya hal-hal yang saya pilih untuk kubur dalam-dalam dan kalo perlu, gak usah dibuka-buka dan diinget-inget lagi deh. Belakangan, setelah banyak baca buku dan denger podcast, saya menyadari kalau jangan-jangan saya punya trauma. Dan itu menjawab begitu banyak hal “aneh” yang selama ini saya rasakan.

Saya menulis ini (atau saya bicara ini kalau kalian denger versi podcast) bukan untuk mengais-ngais belas kasihan atau simpati dari siapapun. Dengan berbagai warna-warni kehidupan, saya kuat dan bertahan sejauh ini ya. I am so damn cool! Saya berbicara ini karena mau share aja kalau permasalahan trauma atau kalau bahasa yang rada kerennya Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) itu nyata, dan mungkin dialami banyak banget orang. Tapi orang yang punya trauma ini gak ngerasa, atau gak mau tau karena itu terlalu mmmmm terlalu dark, dan sedih. Sedangkan orang-orang di sekitar si trauma gak punya persiapan apa-apa menghadapi hal-hal “ajaib” yang terjadi ketika si trauma ini tiba-tiba “meledak”, tiba-tiba triggered. Lalu akhirnya semua saling menjauh, saling sepi. Padahal, itu semua bisa diatasi. Dengan banyak kesabaran sih… banyaaaaaaak banget….
Seperti cerita saya kali ini.


Untuk yang belum tahu, saya ini walau anak mami banget, nget, nget, nget, tapi sesungguhnya saya ini anak papi banget. Sewaktu saya kecil, saya jauh lebih dekat dengan ayah saya dibandingkan Mama. Yah sama aja lah, biasanya kan anak perempuan kan memang lebih dekat dengan ayah ya. Father is always a daughter’s first love.
Sayangnya, ayah saya meninggal dunia saat saya baru menginjak SMP.

Saya nggak akan cerita detil mengenai wafatnya Beliau, tapi yang pasti Beliau sudah sakit cukup lama, dan salah satu penyebab Beliau meninggal dunia adalah jatuh.

Saya ingat betul, betul-betul ingat, saya bahkan tidak menangis sama sekali saat Beliau meninggal. Adik saya masih keciiiiiiiil sekali saat itu, dan Mama saya sedih setengah mati. Di pikiran saya saat itu “Kalo gw cengeng, kalo gw gak kuat, keluarga ini selesai. Siapa yang akan lap-in air mata Mama dan adik gw kalau gw sendiri sibuk peres sapu tangan sendiri.”

Gileeee, Emoooon…. sungguh Anda keren sekali! Saya pikir begitu. Saya pikir perkara di dunia persilatan kelar!
Dan jika kalian liat “Wah Emon itu gils ya, tangguh banget.” I am, dan itu Emon sejak h+1 jam ayah dikebumikan.

Tapi ada satu yang rupanya ikutan terkubur saat itu: Rasa percaya saya pada orang lain.


Singkat cerita, saya pun beranjak dewasa dan mulai tua ya ahahahahhahaa…
Emon terus menggila, saya gagal lebih banyak daripada saya berhasil, tapi tetap optimis dan ceria menatap masa depan. Jeng jeng jeeeeeeng!

Eits, tunggu dulu! Ada satu yang masih janggal. Saya enggan berteman dengan banyak orang.
Dulu mikirnya, karena saya memang introvert garis keras, karena saya malas dengan gosip-gosip tidak bermutu, dan sebagainya. Dan itu gak jelek-jelek amat, karena teman yang saya punya sudah pasti yang teruji dan terbukti paling top, berkualitas, dan tahan banting. Dan saya santai aja, everything seems normal lalalalalala.

Eh tapi tunggu-tunggu-tunggu… kenapa saya jomblo terus ya? Sebagai orang yang pernah di-kick dari grup mentoring, tentu saja saya bukan anggota tim Indonesia tanpa Pacaran. Saya sih bodo amat orang mau pacaran atau gak, tapi emang intimacy itu segitu pentingnya? Kalau butuh temen, kan ada temen yang lain, atau piara kucing… anjing… hamster…kura-kura…. banyak solusi.
Untuk bantuin ngerjain tugas, helooowww…. di era teknologi digital geneeee bisa keleeeus semua dicari di google.
Untuk apa sih?

Saya pikir saya mungkin terlalu mandiri, atau jangan-jangan…. aseksual?

Nah! Gak juga! Karena saya seperti remaja dan wanita ababil lainnya, pernah juga naksir-naksir orang. Saya menikmati proses berlari, mengejar, manarik, mengulur, apapun itu. MASALAHNYA, ketika kemudian objek telah terkunci lalu mendekat…. saya yang kabur, dengan kecepatan penuh.

Ini out of record ya, ada juga orang-orang bernasib malang yang kemudian bilang dengan cheesy-nya “Mon, gw tuh mau mengenal lo lebih dalam loh.” Baru mau kenal loh padahal.
Per-sekian-detik setelah itu, saya akan lari. Block kontak orang itu. Dan kalau aneka jimat bisa membuat orang itu mental dari sekitar saya, pasti saya pakai deh.

Saya tidak ingat betul alasan kenapa saya sejahat itu. Tapi setelah sekarang diingat-ingat lagi, dari dalam hati “Gak… gak boleh sayang banyak-banyak ke orang lain, nanti orang itu pergi.”

Bagi saya, lebih baik gak perlu kenal dekat dengan orang, daripada kemudian sedih kalau orang itu harus pergi.
If you can’t have it, or if you know that you will lose it, it is better to never have it.

Dan hari-hari pun berjalan seperti biasa, tanpa memperdulikan catatan kriminal yang telah saya torehkan di muka bumi.

Hingga suatu ketika negara api menyerang. Saya bertemu seseorang, di blog emonikova saya sering sebut dia “Mamas.” yes! Mamas favorit semua pembaca blog emonikova. Dia masih ada, dan kami masih bercengkrama. Hanya saja beberapa minggu lalu dia nyaris…. nyaris saja…. meninggalkan saya.
Dia sempat tidak sadarkan diri beberapa hari.

Dan kali ini saya seperti ditampar habis-habisan Tuhan.


Untuk yang belum tahu tentang Mamas, hmmmm… he is my best friend, super duper best friend.

Saya punya beberapa ekor sahabat, tapi Mamas ini spesial, karena dia sudah beberapa kali saya buat repot, dan masih cukup gigih untuk selalu ada. Oh… fyi, kami berbeda passport.

Mamas itu gimana ya? Orang yang sangat supel, easy going, tapi sulit untuk dikupas tuntas setajam sileeeet! ahahhahaha. Long story short, anehnya kami tuh bertahan untuk saling ngobrol dan tukar cerita hingga hari ini.
Lancar-lancar saja? tentu tidaaaaaak! Seperti biasanya, saya berperan jadi pemeran antagonis. Dia punya beberapa hal yang saya sebel, dan seiring dengan hubungan kami yang semakin akrab, saya jadikan itu jadi tameng.
“Aku tuh gak suka kamu gini…gini…gini…. kayaknya udahlah kita gak usah temenan lagi.”
Gileeee… kayak anak SD Inpres lagi maen bekel gak sih? childish banget!
Dan jawaban dia selalu saya “I am sorry, but calm first, I will reach you again.”

Terus begitu. Duh kok ini orang bebal banget ya.

Dia juga orang yang selalu minta kabar tentang Mama dan adik. Bahkan inget jadwal check up Mama yang saya sendiri aja sering lupa.
“How is your mom goin’? I remember she has her medcheck right? How is her leg now?”
Dan karena saya lemah dengan orang-orang yang bertanya tentang keluarga saya, maka tentu harus defensif dong! Iya dong! Maka tentu saya harus ketus “Kenapa lo harus tanya-tanya tentang keluarga guweeeeh!?”
Dan jawaban dia pasti cuman ketawa-ketawa dan “Ya gak apa-apa, emangnya salah?”

Pernah juga “Nanti kalau ke Indonesia, saya boleh ketemu Mama sama adik kamu ya?”

Pertanyaan yang mungkin bikin meleleh para wanita! Bikin baper! Tapi untuk saya, itu aroma bahaya.
Bahkan Mama dan adik saya sudah antusias loh karena mereka juga ingin kenalan langsung sama si Mamas-Mamas.
Tapi tentu saja, saya insecure ahahahhahahahaha….
Semua jurus sudah saya kerahkan “Duuuh buat apa sih?”, “Gak usah lah jauh, abis-abisin ongkos,” “Mau apa sih, di rumah tuh banyak kucing, nanti kamu alergi lah, batuk-batuk lah, perlu ke rumah sakit lagi. Duh repot!”

Mama saya sampai “Loh, mana? Katanya mau kenalan sama Mama?” Gak ada Maaaaaa…. gak usah ditunggu-tunggu lah.

Kejam gak? Saya baru sadar itu kejam sekarang.
Dan jawaban si Mamas brekele ini “Ok, but I will keep make time to meet them.”

Hingga akhirnya koronce datang. Saya yang tahu kalau international flight pasti stop hingga beberapa tahun kedepan, mulai PD “Oh ya udah, boleh kok. Orang rumah juga nanyain sih.”

Dalam hati “Lalalallalalala…. tapi pasti kamu gak mungkin mengayuh sampan bukhaaaaan…. syalalalalalalalalala.”
Dia yang udah mulai cerita-cerita tentang keluarga dia, saya cuek aja “Waaaah keren” tapi entah kenapa ada upaya defensif untuk lebih dekat lagi dengan orang ini dan seluruh hal di sekitarnya.

Lalu kemudian sebuah kecelakaan terjadi.


Beberapa minggu yang lalu, saya gelisah. Kayak merasa kok ada yang salah ya. Tiba-tiba gak mau makan, konsentrasi buyar. Apakah ini efek vaksin? Oh atau karena mau PMS kali ya? Perubahan iklim?
Gak paham, tapi yang pasti saya merasa ada yang gak beres dengan Mamas. So I tried to reach him. Dan gak ada balesan.

Karena sudah terlanjur goblok kan, saya sadar kalau saya tidak punya kontak orang-orang terdekat dia. Dan ingat, kami berbeda passport. Jadi tentu saja saya hanya terdiam, bingung, cemas, panik. Ini ada apa? Ada apa?

2 hari…. 3 hari…. seminggu…. 10 hari…. dua minggu… dua minggu lewat 2 hari

TING! Aha! Akhirnya ada balesan.

Dengan santainya dia bilang kalau dia harus bed-rest beberapa hari, tidak sadarkan diri beberapa hari, karena dia jatuh dan terkena benturan keras di kepala.
“But I am fine, hehehe”

Dan itu udah gak lucu sama sekali lagi. Semua jadi gelap….
Tiba-tiba saya ingat apa yang terjadi pada ayah, mereka ulang semua rentetan peristiwa yang ada, dan itu rasanya sakit banget.

Rupanya nangis histeris sendirian di pojokan itu gak kayak romantisasi nangis di pojokan sambil showeran. It hurts.
Rasanya gimana ya, mungkin perpaduan antara marah dan takut.
I don’t understand why I be angry, tapi yang pasti rupanya saya takut…. rupanya saya takut kehilangan Mamas keras kepala yang satu ini.

Saya yakin malam itu saya histeris, agak lupa sih…. tapi yang pasti manusia yang masih hidup itu cuma bilang “Hei, hei, it’s okay, I am fine, look I am fine.”

Rupanya selama ini, saya aja yang terlalu pengecut untuk menyayangi orang lain dengan cara yang seharusnya. I don’t want to lose this person. Dan rasa-rasanya, Tuhan bilang “Jadi gimana? Hah? Mau begini terus?”

Malam-malam selanjutnya tidak sedramatis yang kalian duga, karena mungkin HP Mamasnya udah hang karena dihujani aneka spam yang intinya cuman “Maaf.”

Dan jawaban dia selalu sama, “I understand, it’s okay. Just remember you are stronger than you think.”

Gengs, ini chessy dan geli banget sih, tapi…. gw mau pulih.


Udah sedih-sedihnya….
poin yang mau saya garis bawahi kali ini adalah, trauma itu ada. Orang yang memiliki trauma itu ada dan nyata, mungkin lebih banyak daripada yang kita kira. Mungkin orang-orang di sekitar kita yang gak pernah kita duga-duga. Akan ada saat orang itu terpuruk, layu, atau bahkan ada yang meledak. Wajar sih kalau kita yang gak tau apa-apa tiba-tiba kaget, lalu memilih pergi dan menjauh. Manusiawi…. daripada nanti kebawa-bawa kan ya.
Tapi rupanya, orang yang memilih untuk bertahan, tidak menyerah, dan terus bilang “Come on, it’s gonna be alright”, “You always have me” sangat menolong. Rupanya hal-hal kecil seperti itu bener-bener seperti plester untuk aneka luka gores. Dan seperti layiknya luka gores, beberapa luka akan terus membekas, tapi setidaknya luka itu bisa kering dan tidak sakit lagi. Dan jika luka itu di luar jangkauan tangan kita, kita butuh perawat yang sabar, ulet, dan cekatan untuk membantu mengobati luka-luka itu.

Semoga, kita menemukan perawat itu. Dan moga-moga perawat itu selalu sehat dan baik-baik saja.

Aamiin.

Melawan Radikalisme Sekte Covidiotism

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: