Jokowi Bertanya, Marissa Menjawab: Kenapa lulusan IPB banyak yang kerja di Perbankan? Yang jadi petani siapa?


Ketika acara orasi terbuka Dies Natalis IPB, rupanya Pak Presiden resah, gelisah, gulana, dan galau karena mahasiswa Institut Pertanian Bogor, rupanya lebih banyak yang meniti karir di bidang non-pertanian. Begitu galaunya Beliau hingga pertanyaan ini muncul pada pidatonya ck…ck…ckkkk…. :’) sabar ya, Pak… biar saya bantu jawab deh, Pak sebagai alumni. Dan gak mau kalah dong sama Pak Presiden, kali ini saya juga bikin vlog! FUFUFUFUUFUFUUFUFU… biar gak kalah gaul. Tapi vlognya buru-buru jadi butut gitu :’D yo wis lah ya, yang penting niat 🙂

Saya tidak akan sesumbar ini karena kemampuan matematis alumni IPB yang aduhai, kemampuan kamu yang mudah menyelesaikan masalah, bla bla bla… aduuuh, pas sampe sekolah ke luar negeri sih kita akan sadar, alumni dari manapun kita, dengan catata kita rendah hati dan gak besar kepala, kemampuan kita itu STANDAR…. :p (sorry for being honest). Yah selalu ada sih yang over PD “Gila gw keren abis karena gw alumni X” pffft… itu hanya menunjukan orang-orang seperti itu kurang jauh pikniknya (piknik, Mas…Mbak…. yang jauhan dikit).

kapan-kapan kalau saya gak ada deadline yang mendesak, saya wawancara teman yang lain yang lebih dahsyat daripada saya atau kalau lebih luang lagi kita tanya-tanya aja langsung ke dosen2 IPB 😀 mereka kan gaul dan baik-baik. Tapi nanti yaaaa kalau saya tidak dikejar-kejar deadline-deadline yang mematikan ini.

Oke, gitu aja ^^/
Tetep bangga lah jadi mahasiswa pertanian, dan yang bukan mahasiswa pertanian… yaaah mari saling menghargai, inget loh kalau gak ada pertanian gak ada makanan fufufufufu and who doesn’t love food? 😀

Mempertanyakan Empati Bangsa


Karena kematian bukanlah bahan candaan…
Karena kematian bukanlah bahan tontontan…
Karena kesedihan bukanlah bahan lawakan…
Karena kesedihan bukanlah bahan yang perlu diumbar…
Karena manusia seharusnya tahu ini semua,
Jika manusia tidak bisa memadukan hati, ego, dan pemikirannya,
Maka masih layakan dia dinamakan “manusia” yang kepada mereka dipercayakannya perawatan alam semesta.

Agustus, 2017
—————————-
Sejak beberapa waktu yang lalu saya merasa sedih dan kecewa dengan beberapa kelompok yang terlalu mudah terbakar oleh isu. Dari kasus pengeroyokan supporter bola hingga pembakaran hidup-hidup seseorang yang diduga mencuri amplifier mushalla. Sebelumnya saya sudah mempertanyakan dimana rasa empati masyarakat, karena ketika ada kasus wanita yang secara tidak sadar bugil mengunjungin sebuah apotek di kawasan Jakarta…. tidak ada satu pun yang berusaha menutupi aurat wanita ini. Yang ada, sibuk memvideokan!

Video itu kemudian cukup “berguna” juga pada kasus tragis pembakaran hidup-hidup pria malang yang sepertinya hanya sekadar sedang berteduh di mushala. Namun, is that make sense ketika ada hal sebejat itu di depan mata… orang-orang yang mungkin merasa itu salah kemudian bungkam dan tidak berani mengambil tindakan.
Apakah masyarakat kita sudah “se-batu” itu hatinya?
Apakah masyarakat kita memang sudah segila dan seirasional itu?
Apakah masyarakat kita sudah membuang jauh-jauh hal yang bernama nurani dan empati?

Atau ada yang salah saja dengan, entahlah, pendidikan kita… atau cara berpikir kita… atau apalah…

“Ah, Mon… yang kayak begitu kan gak semuanya. Orang-orang yang pendidikannya kurang aja”

Saya berusaha untuk menerima logika itu. Ok! Pendidikan adalah kunci.
Namun, apakah pendidikan yang tinggi bisa membuat seseorang semakin “berhati”?
Saya kemudian tertawa miris sendiri.
Tidak… empati dan nurani rupanya lebih mahal dibandingkan beasiswa S3. Karena seseorang bisa saja meraih jenjang pendidikan tertinggi, namun masalah mereka punya hati nurani yang berkilau… oh itu belum tentu. That’s totally a different case.

Contoh?
Boleh….
Di Tokyo misalnya, seringkali terjadi kasus bunuh diri. Berdasarkan jurnal klimatologi, puncak “bunuh diri” (bunuh diri di sini konteksnya bisa sengaja dan tidak sengaja… yang tidak sengaja itu misalnya jatuh karena mabok dan kebanyakan minum alkohol) adalah ketika musim panas dan musim dingin. Musim dingin itu stressful kawan, dingin… dan waktu jalannya cepat karena hari pun cepat gelap, orang dengan banyak deadline akan tend to stress more di saat musim dingin. Sedangkan di musim panas, konon karena panas… jadi konsumsi bir dingin meningkat. Ada juga teori, ketika terlalu panas, kita dehidrasi, maka kita lebih mudah stress. Jadi mohon pahami, ada banyak faktor-faktor yang menyebabkan “bunuh diri” ini.

Maka jangan heran jika pada dua musim ini, kereta seringkali terlambat. Kemungkinannya ada gangguan teknis (yang agak jarang di Jepang), atau ada yang terjatuh di rel… yang bikin heboh itu jika pengumumannya karena “passenger injury”.

Disinilah cerita dimulai.
Entah mengapa di salah satu grup yang berisi mahasiswa Indonesia, ada saja yang iseng-iseng komentar.
“Aduh, kalo mau bunuh diri gak usah pas di jam sibuk kali”
“Wah kali ini bunuh dirinya di shinkansen, kreatif”
“Ih itu dendanya berapa ya?”
“Eh itu pasti badannya berceceran gitu ya”
“Eh katanya yang bunuh diri itu mahasiswa X loh”
dsb…

Apakah itu etis dan biasa saja?
Saya pikir tidak! Saya tahu, mungkin kita pun terkadang mengejar waktu dan terlalu lelah sehingga geram jika kereta terlambat. But if that’s true! Someone just died! Bukankah kematian itu sendiri sudah terlalu tragis sehingga rasa-rasanya tidak layik untuk diperbincangkan lebih jauh.
Kematian, apapun penyebabnya bukanlah sebuah joke. Jika pun itu kemudian menjadi joke, maka saya klasifikasikan itu menjadi joke picisan yang seharusnya keluar hanya dari manusia-manusia dengan mental dan nurani yang (maaf) picisan juga.

Saya, dengan teman-teman saya di kantor saya saat ini (dan saya hanya the only one Indonesian here)… terkadang kami pun berbincang masalah ini. Have we ever laugh about it? Tidak! Bahkan ketika membayangkan yang bunuh diri harus membayar denda saja sudah membuat kami miris. Itu hal yang penuh duka, kawan!

Seseorang yang melakukan bunuh diri saja, kondisinya sudah terlalu “apes” secara psikologi. I mean… orang dengan kondisi psikologis yang sehat tidak akan seputus asa itu untuk membunuh dirinya sendiri. Sampai situ saja, segala sesuatunya sudah begitu menyedihkan. Lalu, pongah sekali kita jika kemudian harus sampai komentar macam-macam mengenai kasus ini. Kenal dengan korbannya tidak, membantu juga tidak, hanya bisa komentar dan membuat joke murahan yang tidak lucu. Lalu bangga dengan kualitas diri yang seperti itu?

Dan dalam grup itu… diisi oleh orang-orang mahacerdas dengan pendidikan tinggi. Orang-orang yang kalau dibandingkan dengan saya sih, yaaaah apa sih seorang emon, hanya remah rawit di bungkus gorengan.

I am not smart, nor beautiful, nor popular, I am nothing… but at least I never make any death as my joke. I never make people sadness become my laugh.
Dan saya cukup bangga untuk itu.

Dan itu bisa menjadi bukti bahwa rupanya menjadi orang dengan empati rupanya butuh effort yang lebih tinggi dari sekadar menempuh pendidikan lanjut.

“Yah, mon… selow ae! gak bisa diajak bercanda banget sih loh”
Yuph! Karena saya punya level joke saya sendiri. Dan saya sudah cukup bahagia dengan itu.

Jika contoh itu terasa begitu berat, maka oh baiklah… bagaimana dengan contoh-contoh yang sederhana saja?
Jika kalian berada di bidang akademik seperti saya, maka kalian akan sering melihat orang yang bilang “Ih riset kamu susahnya apa sih, kan cuman tinggal gini gini gini gini”
atau “Ya riset ku sih lebih dahsyat ya, kalau kamu kan cuman persamaan linear aja tuh”
Yes! I would like to introduce you, narrow minded people!
Ketahuilah bahwa setiap bidang memiliki kesulitannya masing-masing. Riset di bidang teknologi dan science murni itu tidak mudah! Kalian harus paham betapa rumitnya kawan-kawan mafia (matematika, fisika, dan kimia) belum lagi kawan-kawan yang biologi… beberapa dari mereka pada akhirnya lulus karena bantuan doa dan dzikir kepada Allah SWT. Itu susaaaaah sekali!
Namun apa kalian pikir riset di bidang sosial itu mudah? Dealing with human itu SULIT! Kalian pikir membuat kuesioner itu mudah… itu pun butuh kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi.
Kalian pikir ilmu pertanian itu kasta terendah ilmu pengetahuan? Kalian tidak tahu kan betapa peneliti di bidang ini harus bertapa dalam jangka waktu lama di lapang. “Pasien” mereka bahkan tidak bisa bicara… mereka harus menentukan faktor-faktor eksternal apa yang mempengaruhi objek penelitian mereka, dan alam itu tidak mudah diprediski.
Bahkan untuk berempati dengan riset orang yang berlain bidang saja kadang masih belum mampu…
untuk hal kecil dan remeh temeh saja masih goyah…
bagaimana berempati dengan hal yang besar…?

Jika itu yang terjadi dengan orang-orang dengan strata sosial dan ekonomi yang lebih tinggi. Maka jangan heran ketika tingkat “bully” di kalangan grassroots ya lebih gila lagi.
Ketika mantan dari awk*rin meninggal dunia saja, bullian dari netizen kepada mbak aw-aw ini luar biasa bertubi-tubinya, padahal… padahal… pada saat itu suasana masih penuh duka. Saya saja yang memang sejak dari awal tidak suka dengan mbak aw-aw ini, merasa geram dengan kelakuan netizen yang malah terlihat kurang ajar dan tidak ada empati.

Artis x keguguran, artis y meninggal dunia… eh! masih ada yang komentar alat pembesar payudara dan obat pelangsing di kolom komentar (walau mungkin itu pun bot tapi ya please lah yaaaa).

Kemudian “kegilaan-kegilaan” kecil ini yang kemudian dibiarkan… terus menjadi-jadi… lalu semakin parah.

Bukankah sudah saatnya kita mengoreksi diri?

Apa yang salah?
Pagi ini saya mencoba mendengarkan liputan CNN Indonesia mengenai mengapa masyarakat Indonesia banyak yang “bersumbu pendek”.
Ada beberapa poin yang kemudian saya catat…

  1. Karena masyarakat sudah terlanjur sangat marah dengan hal-hal yang besar (e.g korupsi dsb), namun tidak mampu ikut campur dan tidak berdaya. Akhirnya, dilampiaskan pada hal yang kecil-kecil.
  2. Lemahnya hukum yang mengatur kasus-kasus kekerasan “kroyokan”
  3. Secara sosiologis orang Indonesia itu mudah untuk “memaklumi”… misalnya saja jika ada orang yang dikenal bertamu tengah malam, masyarakat kita akan cenderung memaklumi hal tersebut padahal secara budaya itu jelas kurang sopan. Parahnya, kita pun mulai memaklumi hal-hal yang sebenarnya tidak etis.

Untuk lebih jelasnya silakan intip di sini:

Bagi saya, pasti ada hal yang lebih dari itu…. lebih….
Karena menurut saya lack of empaty itu sudah ada di berbagai level komunitas masyarakat.

Jika generasi saya seburuk ini, jika komunitas di era saya sebobrok ini, maka mari kita akhirnya cukup hingga sampai sini saja.
Jika kalian memiliki anggota keluarga yang lebih muda, adik, anak, keponakan, maka didik mereka dengan tegas. Jelaskan yang baik itu baik, yang buruk itu buruk! Marahlah jika mereka melakukan hal yang buruk, let them cry but cry for good.

Dan kita, yuk… mari yuk jadi lebih baik lagi. Jika kita tidak bisa membantu orang lain maka setidaknya jangan merepotkan orang lain. Jika kita tidak bisa membantu orang lain, yuk mari berusaha put ourself in someone else’s shoes.
Karena, setiap orang punya pergulatan dan pertarungan batin dan psikis mereka masing-masing. Semua sedang sama-sama berjuang, mari kita saling lempar senyum dan siap mendengarkan atau mendukung satu sama lain. Jika tidak mampu, diam mungkin lebih mulia…

Di muka bumi ini, sudah banyak orang yang berotak… mungkin dunia butuh lebih banyak orang yang memiliki nurani. Namun, betapa bangganya Tuhan yang menciptakan kita ketika manusia berusaha untuk berotak dan bernurani. Membuktikan bahwa keputusan Tuhan menjadikan manusia menjadi khalifah di muka bumi itu tidaklah salah.

Surat Terbuka untuk Dek Asa Firda Inayah (Afi)


—————————–

Prolog

Pada akhirnya saya terpaksa menulis surat terbuka juga. 

Tidak! Sejak awal saya katakan saya tidak akan membully anak yang baru lulus SMA seperti Afi. Namun kakak yang baik pun kadang harus memarahi adiknya, dengan menegur, dengan sedikit nada tinggi. Saya prihatin dengan Afi karena saya punya adik yang seusia dia. 

Saya menulis ini karena saya sudah ada di titik dimana saya menempuh jenjang pendidikan tertinggi, dimana menulis menjadi hal yang begitu rumit, dimana plagiarisme menjadi tidak ada celah sedikit pun. Untuk Afi, adik saya, dan adik-adik lainnya, semoga kalian akan menyadari apa makna berjuang dan menempa diri yang sesungguhnya… dan betapa pentingnya menerima kritik. 

——————————————-

Dear, Afi

Andai kamu membaca postingan saya beberapa minggu yang lalu mengenai betapa saya berharap kamu bisa menjadi lebih baik dan menyadari kesalahan kamu begitu besar. Saya prihatin dengan aneka bully yang saya anggap terlalu keras untuk kamu. Saya tahu kamu salah! Namun remaja seringkali melakukan kesalahan dan jika kamu ingin menjadi remaja yang baik, ingin menjadi orang dewasa yang baik, maka kamu akan belajar memperbaiki kesalahan yang kamu perbuat. 

Mbak Rosiana Silalahi pun mungkin demikian hingga kamu diundang di acara TV. 

Mas Addie MS pun demikian hingga kamu di sebut dalam cuitannya

Bahkan Pak Jokowi pun hingga mengundang kamu ke Istana… padahal di saat yang sama adik kita di Aceh menemukan cara bagaimana menghasilkan listrik dari kedondong. Penelitian yang bagi  beberapa “kakak-kakaknya” dinilai cemen dan tidak applicable, tapi that’s a genius step for a young scientist. Tapi Pak Jokowi mengundang kamu, Fi! Maka logikanya kamu bisa mewakili anak-anak dan remaja berprestasi di Indonesia saat itu. 

Kamu harusnya bahagia bahwa di balik orang-orang yang mencaci kamu, beberapa warga Indonesia menyimpan harapan kepada kamu. Kami… bangga dengan keberanian kamu… bangga dengan anak daerah yang mulai mau buka suara… kami memaklumi dan memaafkan kesalahan kamu pada saat itu. Pikirkan betapa sayangnya kami pada kamu, Fi? Jika kamu di dunia Barat, cemoohan yang kamu dapat mungkin lebih tajam lagi dan tak ada maaf untuk plagiarisme dalam bentuk apapun. 

Sayangnya, rupanya kamu yang tidak sayang pada kami semua. 

Kamu yang kemudian kian menjadi dan mengubur harapan kami-kami yang tadinya berusaha memahami usaha kamu. 

Kamu terus melakukan plagiarisme… 

terus mencatut karya-karya orang lain dan menggunakan nama kamu seakan-akan itu murni hasil tulisan kamu. 

Bahkan terakhir, video kamu yang rupanya tiru habis perkataan Catherine Olek. Catherine lalu berusaha membantu kamu, tapi argh kamu kemudian mengecewakannya lagi. Padahal mbak Catherine ini foto model panas, Fi… pemikiran dia berkarakter sih, tapi ya beberapa pilihan katanya kan jadi kurang sreg dengan budaya ketimuran kita. Dan ya ampun! Itu pun kamu tiru habis. 

Kamu lalu pacaran, dan sedikit demi sedikit memperlihatkan public display affection dengan pacar kamu. Aduh makin gemas rasanya! 

Apakah itu contoh yang baik untuk remaja seusia kamu, Fi? No! A big no! 

Baiklah jika kamu tidak peduli dengan kami bangsa Indonesia, jika kamu tidak sayang dengan orang orang yang diam-diam mulai mendoakan kamu. Jika kamu tidak peduli dengan perkembangan mental remaja Indonesia yang sudah kenal mbak awka**n eh terus kenal kamu yang sayangnya belum membuktikan apa prestasi terbesar kamu untuk negeri ini. Ok! Jikapun demikian kamu harusnya sayang dengan orang tua kamu, bukan? 

Maaf saya membawa-bawa tentang keluarga kamu, namun kamu tahu persis kondisi ekonomi keluarga kamu tidak begitu baik. Ibu kamu pun tidak terlalu sehat bukan? Tapi mereka membesarkan kamu dengan luar biasa, menyekolahkan kamu, dan semunya inshaallah berkah. Kamu tahu apa harapan mereka? Agar kamu lebih baik dari mereka. 

Saya yakin mereka tidak berharap kamu sampai terkenal luar biasa, mereka berharap kamu sukses dengan karya dan usaha kamu, mereka berharap kamu terus belajar lalu menjadi orang yang baik, benar, dan semoga lebih berhasil dari mereka. 

Dan jika kamu meraih “prestasi” dengan memakai hasil karya orang lain… dengan jerih payah orang lain yang kamu aku sebagai jerih payah kamu sendiri, maka kamu tahu siapa yang paling kamu khianati dan sakiti? Yes! Your parent. Congratulation if that’s what you want in your life. Tapi ah masa’ kamu gak punya nurani sampai ke situ? 

Kamu depresi? Kamu kena bully? Saya pun pernah! Saya yang dulu mungkin berada di posisi yang lebih menyedihkan dari kamu, Fi. Ayah saya sudah meninggal dunia sejak saya SMP, mama saya sakit stroke dan diabetes. Apalagi? Bully? Saya sudah pernah merasa verbal bullying dari dibilang gendut, jelek, hingga bodoh. Tapi apa kemudian saya mencatut karya orang lain agar saya diakui? Apa saya bertindak playing victim agar orang iba kepada saya? Tidak, Fi….Saya ingin membuat orang tua saya bangga maka saya belajar giat, saya terima semua kritik dari guru dan teman saya. I cried a lot! Tapi kemudian bangun lagi, dan berjuang lebih keras lagi. Saya ingin menjadi contoh untuk adik saya. Saya ingin meraih impian saya… dan saya paham itu semua butuh proses yang sangat lama. Butuh jatuh berkali-kali, butuh gagal berkali kali, butuh sakit hati berkali-kali. Tapi itu semua menempa saya menjadi saya hari ini, dan saya merasa damai dengan diri saya sendiri karena saya merasa “Wow, I did it! Pasti bisa melanjutkan segala hal dengan lebih baik lagi.” Itu semua yang melatih saya untuk bangkit setiap kali jatuh, menjadi pribadi yang tidak lembek ketika menghadapi sesuatu. Dan menjadi peneliti yang bukan hanya kritis, namun juga bermoral dan berkarakter. 

Dan itu membuat saya merasa nyaman dengan kehidupan saya saat ini. Saya tidak perlu memuaskan persepsi orang lain, saya hanya butuh melakukan sesuatu yang benar… dan baik. 

Maka Afi, mari kita sudahi permainan ini. 

Belum terlambat untuk memperbaiki diri, lalu menekan tombol “reset”. Minta maaflah dengan tulus, setulus-tulusnya, kepada seluruh warga Indonesia, akui seluruh kesalahan yang kamu perbuat. Beberapa akan mencaci kamu, tapi setidaknya kamu sudah bertindak ksatria dengan meminta maaf. Dunia sesaat akan membenci kamu, tapi bukankah kamu punya orang tua dan keluarga yang kamu banggakan? Mereka akan tetap bangga pada kamu, Fi. Keluarga akan selalu bersama kamu. 

Minta maaflah kepada orang-orang yang sudah kamu catut karyanya, akui bahwa kamu salah (and I am sure they will forgive you), tapi mereka pun menanti kesadaran kamu untuk secara fair mengakui kesalahan. 

Lalu jika kamu depresi dengan caci maki yang ada, tutup saja media sosial kamu. Jangan buka hingga kondisi mereda, fokus pada perbaikan diri kamu, perbaikan kualitas berpikir, perbaikan kualitas menulis. 

Kami akan memaafkan kamu, Fi… jika dan hanya jika kamu mau secara lapang dada mengakui kesalahan kamu. Dan percayalah kebencian kepada kamu akan meningkat jika kamu tidak kunjung menyadari dan mengakui kesalahan kamu. 

Dan… Saya gak terlalu peduli sih orang mau pacaran atau gak atau whatever. Jika “mamas” kamu orang yang benar2 baik, dia akan menjadi orang yang mensupport kamu bahkan ketika kamu tidak terkenal lagi sekalipun. Jika rupanya Mamasnya putus kontak dan menjauh, well… setidaknya kamu akan tahu mencari teman yang benar-benar baik dan tulus itu susah kan. Dan rasa-rasanya kami, warga Indonesia, tidak butuh kisah cinta kamu dengan Mamas kamu, itu sangat tidak penting… jadi kami pun tidak butuh pamer lemparan panggilan sayang yang kalian sebar di sosial media. Dan titip salam loh ke Mamas kamu, saya mengecek tulisan dia tentang anti pacaran dsb, lalu kemudian dia melanggarnya sendiri, kami tidak usil dengan kalian mau pacaran atau tidak… tapi inkonsistensi yang terjadi membuat kami super ilfil. 

Meminta maaf lah, Afi dengan segala kerendahan hati. 

Dan pergilah sejenak dari dunia maya, karena mungkin kamu perlu belajar lebih banyak hal dari dunia nyata. 

Kamu bisa lebih baik dan bijaksana, kamu bisa! Namun apa kamu mau? Kami menanti jawaban itu. 

Jangan-Jangan kita menciptakan phobia baru: Non-Moslem-phobia


CAUTION: Beberapa dari kalian mungkin tidak setuju dengan saya, but this is just my personal opinion. So, you no need to read nor agree for this one.

Sering gak sih kalian gabung komunitas-komunitas akhwat atau ikhwan atau apapun lah. Lalu ujung-ujungnya selalu ada cerita-cerita parno seperti
“Ya ampun, iya negara X tuh non-muslim semua sih. Mereka itu jahat sama Muslim”
“Ih, gak mau ke sana deh, negara kafir.”
“Oh mainly orang di negara itu kan Jewish, ya ampun pasti picik”

Jika kalian belum pernah, percayalah saya sudah berpengalaman perihal ini. Bukan hanya Indonesian loh, forum internasional pun begitu. Waaah, jangan kira semua orang itu “open minded”, kagaaaaak.

Jadi ceritanya, saya punya beberapa sahabat pena… dan ada yang menggagas “Eh bikin komunitas sahabat pena yang Muslimah yuk”, saya pikir well… why not. Saya pikir kami akan membicarakan hal-hal berfaedah semacam kalau puasa di UK tuh gimana sih? di Afrika gimana sih? In fact? Not really….
Saya mulai malas ketika mereka cerita tentang pengeboman yang terjadi di beberapa tempat di Eropa, dan mereka jadi parno dan merasa semua orang yang non-Muslim itu staring at them and pointed their nose. Well… mungkin, tapi saya pikir ya yang baik toh masih banyak. Kok gitu aja pusing. Hidup suudzan itu capek loh, kawan.

Puncaknya saya akhirnya “meledak” juga, karena saya kurang enak badan… banyak deadline, dan baca hal-hal kurang mutu kok jadi emosi ya. Beberapa orang dari grup tersebut berangkat jalan-jalan ke Jepang. Terus mereka mulai mengoceh “Ih kok kayaknya orang-orang ngeliatin karena saya pakai hijab ya?”, “Ih repot banget sih harus kemana-mana bawa botol air buat wudhu”, “Ih iya, waktu kesana anak kecil juga suka tanya-tanya kenapa saya pake hijab”

my question is, “THEN, SO WHAT?”

You couldn’t deal with that? Then, never go abroad! As simple as that.
Dan saya menyayangkan keparnoan mereka (dan banyak orang yang serupa), really?… really?… really they staring at you because you use hijab? really? because you are Moslem? So, what do you want… people close their eyes when looking at you?
Saya pikir untuk kasus di Jepang,  Japanese merasa grogi aja ketemu foreigners karena they simply can’t speak english well! Mereka bakal liatin kalian karena mikir “Aduuuh mampir ke sini gak ya? Aduuuuh nanti harus ngomong apa? Mereka ngerti nihongo gak ya?”

Lalu apa yang salah dengan anak kecil yang kepo? Saya selalu senang ketika ada anak kecil yang bertanya pada saya. Kenapa saya memakai hijab? I will tell them kalau di Islam memang diwajibkan. Kalau lanjut lagi kenapa, yaaaa apa susahnya sih ngejelasin ini semacam identitas kalau kita ini muslim. Dan mau tau gak yang gila itu apa? Hal-hal seperti ini sudah dijabarkan di dalam Quran dengan lugas dan baik. Masa’ harus ribet mikir mau jawab apa… dan mikir “Wah ini nanya pasti karena punya bad intention nih.” Then if you can’t explain this kind of thing kepada anak kecil dengan cara yang baik dan sederhana dan mudah dimengerti… wow! welcome to the club, mungkin kita sama-sama cuman baca Quran aja tapi gak ngerti artinya.

Kalau ditanya, “Panas dong kalau pas summer?” saya sih jawab aja “Iya…” apa susahnya jujur. Apa susahnya bilang “Tapi rule of the game-nya begini, jadi mau gimana”

Dan apa lagi? Masih ngeluh harus bawa botol aer kemana-mana buat wudhu, ya ampun… first, shalat itu KEWAJIBAN, second, kita harus menyadari kita ini MINORITAS! and Third, lo bisa tayamum kalau rupanya Jepang adalah daerah gurun tanpa air. Bisa shalat di taman dengan cuek aja udah subhanallah loh. Kalau kalian ke Paris, polisinya tuh bawa senjata semua, lo mau shalat di taman juga jiper. Jadi, bagi saya sih Alhamdulillah banget lah di Jepang, cukup nikmat untuk beribadah.

Sorry, guys! You might be really mad on me, blacklisted me from your “friend-to-be” list, but let me tell you: Bagaimana kita bisa berdakwah dengan teman-teman non-muslim kita jika kita sendiri REMPONG! Jika kita bahkan belum selesai dengan keresahan-keresahan yang kita buat sendiri? Ya! Saya tekankan di sini…. keresahan yang kita buat sendiri!

Selalu Ada Tempat di Bumi Allah untuk kita Muslim dan Non-Muslim
Merujuk kepada perjalanan saya ke Paris awal bulan ini… it was great. Hal paling menyebalkan adalah masalah copet dan karena banyak migran dan turis jadi kotanya agak kotor. Are they hate, Moslem? Ah kayaknya gak segitunya deh.

Beberapa yang tua memang agak “parno” dengan keberadaan Muslim, terutama yang berasal dari kawasan mediteran. Karena beberapa dari mereka migran, yang miskin, dan jadi homeless di Paris… when people get hungry they will get evil, dan beberapa juga ada yang menjadi pencopet dsb. Tapi sedengar saya sih kayaknya itu hanya terjadi pada generasi yang lebih tua dan lebih kolot.

I welcomed alot in Paris. Saya bahkan sering dapat croissant gratis dan beberapa kali dapat bonus di toko hahahahhaa (ini kok agaknya saya aja yang doyan makan dan belanja). But they really nice! Di tempat conference, saya bahkan banyak mendapat bantuan dari banyak peneliti dan berbagai negara. Mereka sangat helpful. No problem at all! At all!!!! Saya melihat ada masa depan yang cerah untuk toleransi antar suku, agama, dan ras kedepannya… at least from what I saw in Paris. Kini masalahnya, apa kita akan mengajarkan anak-cucu kita toleransi hingga ke level itu?

Jangan-jangan itu masih lama…..!

Di Paris, saya sengaja datang ke Notre-Dame Chatedral di hari minggu pagi…. duduk di pojokan dengar gimana sih misa mereka. Dan rupanya cantik banget, dengan gegap gempita saya hubungi teman-teman saya yang Nasrani dan bilang “Lo harus ke sini, gw gak ngerti sih senandung misa-nya apa artinya, but it might be something good… dan baguuuuus bgt!” dan mereka seneng-seneng aja… “Thank you, Mon” dan saya bahkan bilang hal ini ke teman-teman baru saya di Paris dan mereka seneng banget, “Really, you come there? Thank you so much”
Ketika saya iseng lempar ini ke teman saya yang Muslim, dan lupa mereka bukan sahabat dekat saya yang pasti tidak akan membully saya hanya untuk masalah ini (mereka sudah tahu betul I love everything related to art), saya malah diterkam komentar “Ya ampun, Mon… istigfar… semoga dijauhkan dari syirik” kan jadi ngeri. Bagaimana? bagaimana kalian bisa menasehati saya yang rebell ini jika kalian “mengerikan”. How? tell me?

Dan btw, there always a prayer space! Dan itu berarti… sebenarnya siapapun tidak dilarang beribadah, maupun berdoa. Permasalahan sebenarnya adalah, how we dealing with so many different situation, culture, knowledge.

Masalahnya apa kita mau berbagi? Apa kita mau toleran? Apa kita bisa berkompromi dengan perbedaan? Dengan ketidaktahuan orang lain? Dengan diri kita sendiri?

Memahami “Pencilan Minor”
Kalau kita belajar statistik, maka kita akan belajar ada sesuatu bernama “pencilan minor”, yaaaa di terpencil aja gitu beda dari trend yang terdistribusi normal. Dan itulah hidup! Yang sebel dan parno dengan Islam itu ada… mungkin banyak… tapi kawan yang baik itu LEBIH BANYAK!

Saya berbicara dengan teman saya dari Brazil, dan dia bilang “I was horrified with Moslem, really! And that’s because the media always… yeah! You know the news are. But then I started to meet Moslem in Indonesia and everyone are very friendly. Then I meet some Moslem in another countries, they also very nice. Then I realize Moslem are awesome and teach about peace. But, yeah… sometimes there also some Moslem who don’t even want to try to talk with us.”
See the problem? Beberapa hanya masalah lack of communication aja.

Kembali ke masalah pencilan minor lagi. Jika kalian benar dalam “mengaji” statistik, kalian akan paham bahwa yang namanya pencilan minor yaaaa abaikan saja. Gunakan populasi data yang terdistribusi normal. Then yes, no matter what… no matter where… orang yang bueeeeennnnciiiiii sama kalian dan juga Islam itu pasti ada, namun mungkin jumlah manusia yang bisa berpikir NORMAL lebih banyak daripada yang jahat-jahat itu.

Kita harus melawan para manusia-manusia jahat yang melabrak kebebasan kita beragama. Tapi percaya deh, kita tidak bisa sendiri. Dan jangan-jangan kita membutuhkan bantuan teman-teman non-Muslim kita untuk perjuangan besar semacam ini.

Kalau capek negative thinking dengan semua non-muslim di sekitat kita… repot menunjuk hidung orang lain dengan cap kafir dsb….
Maka, selamat deh… kayaknya perdamaian duni baru dicapai….mmmm… bentar itung dulu…. aha! Setelah ladang gandung dipenuhi coklat dan jadi C*co Crun*h, dan itu kayaknya setelah hari kiamat sih.

Ya, dibandingkan kalian mungkin ilmu agama saya mah remah rengginang di kaleng Kh*ng G*an…
I love music
I love art
I do drawing…
I do singing…
I have no problem with people who sing “despacito”, because they even can’t spell the lyric well -.-
I upload my selfie on social media…
I love cats, I scare of dogs… but I feel dogs are cute and I feel jealous with “dog-people”
I also think pig are so cute, especially Japan pig…
I also love to have deep conversation with my non-Moslem friend.

Dan saya tahu beberapa dari kalian sebel banget dengan those facts.
Maka jika saya boleh meminta satu permintaan terakhir, maka hal itu adalah: Please stop rempong, be positive!
Masa buat open minded dikit aja susah sih? dikit loh padahal… gak minta banyak-banyak. heu!

 

Fenomena “Afi” dan minimnya budaya literasi Indonesia 


Sebenernya gw males komentar hal ini, tapi gw  merasa baik yang mengidolakan dan mengkritisi Afi keduanya sudah kelewatan…. yo wis lah kali ini saatnya emonikova menyampaikan pendapatnya. 

Checkidot! 

1. Tanggapan tentang fenomena Afi?
 “Well… gimana ya? Menurut gw sih untuk anak daerah mulai berani menyuarakan suaranya, then it is good ? Inget loh, dia itu anak daerah, anak SMA, dan dari keluarga yang kondisi ekonominya tidak begitu baik. Jadi, dari sisi gw waaaah keren hahahha. Waktu gw seusia dia, gw kayaknya sibuk nonton doraemon sama spongebob ?

Tapi yaaaa gw sih gak ngefans, biasa-biasa aja. Masih banyak kekurangan di tulisan-tulisan doi… apalagi sekarang ada dugaan plagiarism dsb. Tapi ya namanya juga remaja, masih banyak ilmu yang perlu diraih, masih perlu banyak pengalaman dan pengetahuan untuk menstabilkan pola pemikiran dan sikap. Namun, terlepas dari segala kekurangan itu… mari kita apresiasi bakat dik afi ini.  

Gw selalu merasa bahwa beberapa orang di negeri kita terlalu nyinyir dalam menanggapi potensi, dan menurut gw itu yang lebih bahaya dari sekadar status-status yang beredar di social media. Afi, she made some mistakes… tapi apa susahnya sih mengapresiasi keberanian dia dalam menyampaikan opini, she just need a good teacher yang kelak bisa mengajari dia how write, how to deliver opinion. Hey Indonesia! What’s your problem? Belum minum aq*a? 

2. Tanggapan yang beredar tentang Afi: fans+haters?

Dari haters dulu deh, bukan haters sih lebih ke para kontraers.

Gw iseng sih baca2 yang kontra… salah satu yang paling viral itu tulisan mas-mas yang kuliah di Jepang juga. Karena saya gak gaul, jadi saya gak kenal mas ini. Tapi saya mah ketawa aja… tanggapan doi sih cerdas, kritis, subhanallah, tapi lupa kalau lawan bicaranya anak baru lulus SMA. Dengan pola diksi yang super pedas seperti mak icih level 100, yaaaa… keren, keren sih. Bener, mmm… okay! Tapi klo gw jadi Afi sih gw merasa “meh”. Mas ini menurut gw (maaf loh, Mas) kayak nembak nyamuk dengan rudal…hit the point sih, tapi yaaa too much! Bahasa anak gaulnya nih: Lebay.

Mungkin Masnya terlalu banyak berkutat dengan jurnal, jadi lupa beberapa detil salah satunya sisi psikologis manusia. Klo semua orang mengkrtitisi kayak Mas ini, kayak om Felix, dsb dsb…. Anak-anak remaja yang lagi “labil-labilnya” dan lagi “membangkang-membangkangnya” bakal males mengkaji lebih jauh permasalahan. Gitu sih.

Yaaaa okelah kalian mau kontra, tapi kalian punya kakak dong? Punya adik dong? Atau punya keluarga yang usianya lebih muda dari kita kan? Mau keluarga kita dikritisi seperti itu? Karena adik saya kira-kira seumuran afi, saya sih ngamuk kalau ada yang tiba-tiba membully adik saya although dia melakukan kesalahan… kan bisa menasehati baik baik dan berdikusi terlebih dahulu. Saya pikir, bully yang muncul buat dik afi ini udah too much, saya aja yang gak kenal dan gak ngefans sama nih anak jadi ikutan sebel. ERRGHHHHHH… 

3. Terus buat fans?

Nah ini juga menarik, menurut gw orang Indonesia itu suka maen like and share tanpa “mikir” dulu. Banyak kekurangan yang ada pada tulisan Afi ini, apalagi (inget) sourcenya social media. Bisa bener, bisa salah, bisa ngawur, bisa macem-macem, belum jelas lagi sourcenya. Saya sih lebih senang jadi orang yang baca, terus “oh ya bagus…bagus” tapi boleh dong gak setuju dengan beberapa hal. Ya udah… gitu aja, kemudian hidup berjalan sebagaimana adanya. Gak usah maen share… share…share…

jadi menurut gw lebay juga mengagung-agungkan tulisannya afi. Memang seluruh paragraph dan opini doi sepenuhnya shahih? Apa benar itu 100% pemikiran doi? Jika tidak dan rupanya dapat dari google… she will get trouble karena masih kurang dalam mencantumkan sumber (dan sekarang udah liat kan masalah itu). Lagian socmed! Helow! Kalau jurnal ilmiah mending ya di share karena sudah melalui tahapan review dsb. Status socmed? Oh D*mN!

4. Jadi menurut lo, Mon… permasalahannya dimana? 

Menurut gw, ini bukan masalah afi dan seluruh fenomena yang terjadi setelahnya. Menurut gw hal yang lebih memprihatinkan adalah, betapa masih dangkalnya pemahaman kita. Betapa masih ceteknya pola prilaku kita. Bahan bacaan kita adalah status-status di social media… hal-hal yang meng-gerak-an kita adalah hal-hal yang menarik di facebook, twitter, dsb. Kita ini miskin! Miskin daya nalar, miskin budaya literasi. Di muka bumi ini tersebar banyak riset yang lebih menarik dan lebih penting… misalnya how to builda good farmer’s market untuk memotong rantai distribusi pangan dan mensejahterakan petani sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca. Tau gimana caranya? Gak kan… krn gak ada di status fb. Temen social media kita kebanyakan sibuk share something yang menarik tapi gak krusial2 banget dalam kehidupan. Masih mending yang share resep masakan sih :’D that’s really help!

Ada juga yang share BPJS itu haram, asuransi itu haram… well ok! Good… tau mekanisme BPJS seperti apa? Mekanisme asuransi seperti apa? Lalu pembedanya dengan (misalnya) mekanisme penyaluran ZIQWAF seperti apa? Jika kemudian ada asuransi super mikro yang diberikan oleh BMT itu gimana? Pembangunan system finansial yang baik seperti apa? Tau jawaban untuk itu? Ya belum tentu…. Wong kitabnya Al-facebukniyyah dkk.

Diskusi kita lebih banyak pada debat cap pepesan kosong di social media. Berdebat tanpa mencari jalan tengah, kalau opini gw benar maka gw benar yang lain salah. Persetan dengan opini orang lain dan jalan tengah. Dan lempar-lemparan botol, sandal, kaleng, itu semua terjadi di kolom komentar yutub, tercipta pada twitwar, and bajir komentar di facebook. Itu keren? Itu namanya: alay!  

Dan kalau kalian gak percaya sama omongan gw, nih sesekali gw kasih data! Dalam publikasi “World’s Most Literate Nations”, dari 61 negara yang disurvey berdasarkan tingkat literasi (tingkat literasi itu bukan berapa banyak yang bisa baca ya, tapi lebih ke literate behaviours kayak berkunjung ke perpustakaan, baca buku yang berkualitas, baca koran, dsb cekidot at http://www.ccsu.edu/wmln/) . Indonesia ada di peringkat 60! HANYA SATU LEVEL DI ATAS BOTSWANA. Kalau adik saya bilang “Itu sih syukur cuman 61 negara yang disurvey, kalau 100 kayaknya tetep 99 dan jauh juga dari Thailand, laen kali mending gak usah ikut survey.” 

Jujur gw setuju pas pak Jokowi bilang “Negara lain sudah mikir gimana ke luar angkasa”, and that’s true! Kita terbiasa mencari short-cut dalam berpikir, gak mau capek.

Yang harus diperbuat?

Yaaah jangan gampang panasan lah menanggapi suatu isu. Apalagi kalau lo udah berpendidikan punya karir bagus, harusnya pola pikir lo juga naek beberapa level. Kalau lo punya keluarga, punya adik, punya kakak, lo juga tau dong gimana cara memposisikan diri lo terhadap mereka, dan jika lo baik dalam itu lo juga harusnya bisa memperlakukan orang lain dengan baik. Inget kawan, klo bawa-bawa agama nih, tugas kita itu habluminannas, hubungan sesama MANUSIA. Lo tau kan definisi manusia? Maka berbuat baiklah kepada sesama manusia.

Lo belum tentu selalu benar maka jangan paksakan opini lo. Orang lain juga tidak selalu benar, maka kaji setiap opini melalui berbagai perspektif. Kalau lo gak bisa memilah mana yang baik, lo gak bisa bijak dalam bersikap, lo gak bisa melihat masalah dari berbagai perspektif, terus kualitas apa yang bisa lo banggakan dalam hidup lo?

Sabar, Mon… jadi pesan lo? 

Pesan gw, udah lah gak usah ribut hal-hal yang remeh. Berhenti mendewakan seluruh mahzab Al-Facebukniyah. Lihat masalah dari berbagai perspektif. Bijak… dan stop nyinyir-nyinyir.

Dan untuk Afi, untuk anak-anak Indonesia lainnya. Tetep berkarya, berusaha memberikan yang terbaik, belajarlah dari aneka kesalahan. Saya berdoa semoga kalian mendapat pengajar yang baik, yang berilmu. Semoga kelak kalian bertemu kakak-kakak dan teman-teman yang asik diajak diskusi. Kita selalu melakukan kesalahan, dan bersamaan dengan itu kita selalu punya kesempatan untuk memberbaikinya, and ssssttt… this is a secret: itu yang akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik.  

Eh btw, gak semua juga yang bereda di dunia maya itu benar, namanya juga dunia maya… termasuk tulisan gw ? gak usah misuh-misuh ye, gw juga gak minta lo setuju sama gw fufufufufu.  

Lots of love,

Marissa